Jumat, 01 Desember 2017

Hujan Akhir November


Angin sore itu kencang menghembus rindangnya daun hutan srengseng. Langit gelap bisa dibilang hari itu mendung. Tapi  tak membuat aku pergi dari tempat itu, malah ku menantikan hujan turun. inginku berhujan-hujanan bersamamu di tempat ini.

Berjalan memutari hutan ini di temani canda dan tawa. Nampaknya ini cara kita untuk bahagia melepas penatnya tugas kampus dan panasnya politik kaderisasi dua organisasi di kampus kecil yang penuh dengan keributan.

Di bawah pohon beringin hujan turun deras. Aku sengaja lebih pelan jalanku. Hujan turun bukannya aku dan kamu pergi untuk berteduh tapi malah berdiri tegak menikmati hujan. Aku berbisik ketelingamu "di bawah pohon ini aku ingin menjadi pacarmu". Bagiku ini tidak penting mau pacarmu atau bukan, asalkan kita saling Cinta dan saling mengerti mahalnya menikmati kasih sayang. Nampaknya kau juga merespon apa yang ku katakan, dengan nada suara keras menembus bisingnya suara hujan "hari ini aku mau jadi pacarmu". Walaupun jawabmu itu membuatku lebih greget tapi masih ada sesuatu yang kurang jika aku belum mendapat restu dari kedua orang tuamu.

Ah terlalu jauh cara berpikirku mending kita nikmatin hujan ini. Lalu aku mengajaknya keliling jalan hutan srengseng, sembari hujan-hujanan. Di pertigaan jalan arah parkir aku mengajaknya berhenti. Dia berkata "aku sayang kamu". Dengan kebiasaanku menjawab "aku lebih sejengkal sayang kamu".

Hujan lebih deras, badanku menggigil lalu aku peluk dia. Kataku pelan di telinganya "pejamkan matamu nikmati hujan ini" dalam hatiku ingin berteriak aku mencintaimu, tak berhenti ingin mengatakan itu. Konsentrasiku mengheningkan bisingnya suara hujan dalam hatiku merasakan takut kehilangannya. Baru kali ini aku merasakan takut hingga air mataku bisa menetes hanya karna wanita. Tapi aku sembunyikan air mataku dengan air hujan, aku malu.

Tida lama kemudian hujan itu berhenti, tinggal rintik-rintik kecil, dan suara adzan terdengar. Bisa dikatakan sehari bersamanya tapi rasanya aku masih ingin menikmati hari ini lebih lama. Tapi tidaklah mungkin tempat ini sebentar lagi di tutup. Kamipun melanjutkan perjalanan menuju tempat parkir. Ada perbincangan kecil dan mengingat-ingat puisinya Sapardi Djoko Damono

AKU INGIN


"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada 

Kamis, 30 November 2017

AKU: warung angkringan


Aku: adalah sebagian dari manusia yang tidak suka ketika kamu lebih menyayangkan orang lain ketimbang aku.  Aku yang lebih mementingkanmu di atas segalanya. Aku bela kau di depan seribu temanku. Aku bela kau di depan tuhanku. Aku bela kau saat salah, aku benarkan dengam cara pandangku. 

AKU: orang yang akan kau anggap egois. Aku orang yang kau anggap jahat. Tapi itu karna aku menunjukkan sikap keberadaan cintaku sebenarnya. 
Apakah (AKU) yang salah persepsi atau memang salah dalam caraku memandang arah. Bila aku salah maka benarkan dengan alasanmu yang bisa kuterima dengan logikaku.

Aku: percaya kau benar sayang. Tapi tak menutup kemungkinan aku juga bisa tidak percya dengan ukuran waktu yang singkat. Aku bisa saja berfikir dengan lantang, aku yang hanya di anggap seperti warung angkringan yang sengaja di singgahi hanya untuk mengenyangkan perut dan di tinggal pergi saat perut mulai kenyang. 

Minggu, 26 November 2017

Alasanku


Jika aku mendengar kata cinta seolah aku ingin menghindarinya. Banyak duri dalam bermain cinta, kadang engkau harus benar-benar ihklas untuk belajar hakikat cinta, dari beberapa perjalanan cinta dalam hidupku bisa dikatakan fase kebodohan, dua kali harus merasakan pedihnya ditinggal seorang wanita yang ku cintai dan wanita itu sekarang milik orang lain, bahkan aku melihat kemesraan meraka. Sakit bukan.

Dengan adanya kejadian itu, bisa dikatan aku menjadi trauma dalam bermain asmara. Setelah beberapa tahun selalu menghindar dari perasaan cinta, sekarang malah sebaliknya aku memulai lagi bermain di ruangan yang  penuh dengan warna cinta. Ada beberapa alasan yang membuatku berani dalam mengambil keputusan untuk mengatakan bahwa ku mencintaimu. Muncul pertanyaan kenapa harus kamu yang aku pilih sebagai orang yang aku cintai, menurutku tidak ada yang spesial dalam fisikmu, jika aku bicara soal fisik namun aku tidak sama sekali menilai dari segi fisik.

Lalu apa yang menjadikanmu spesial bagiku?

Pertama, aku merasa kamu menjadi seorang wanita yang bisa diajak bercanda. Memang kalo aku pikir kedekatan kita bermula dari bercanda. Disela-sela bercanda itu rupanya aku merasa nyaman denganmu itu awalnya tapi tak mempunyai niat sedikitpun untuk memilikimu, mungkin karna aku masih kurang percaya dengan kepalsuan mulut wanita yang bilang sayang dan cinta hanya di saat ada keinginannya.

Kedua, semakin lama aku bercanda denganmu di whatsaap sedikit demi sedikit aku tau beberapa hal dari masa lalumu, katamu engkau juga merasakan pahitnya mulut cowok yang mengatakan cinta dan sayang hanya karna hasrat dan keinginannya untuk menikmatimu dan akhirnya cowok itu meninggalkanmu. Aku rasa dari kesamaan ini kita bisa saling menghargai dan mnegerti bagaimana sakitnya disakiti. Dari latar belakang ini aku mulai tertarik denganmu aku rasa engkau wanita yang pas untukku cintai dan sebagai sarana untuk terapi menghilangkan luka dimasa lalu.

Ketiga, entah kenapa semenjak aku membaca novel Dilan, dia Dilanku tahun 1990 yang di tulis ayah Pidi Baiq aku merasa menemukan dunia baru, dunia cinta yang penuh dengan kasih sayang walaupun di novel itu dilan dan milea sebagai tokoh utama berpisah tetapi aku menemukan  cara pandang yang dapat aku ambil untuk mengaplikasikan cara dilan membuat wanita menjadi bahagia hanya dengan hal yang sederhana. Entah kebawa sama isi novel ini atau memang ada kesamaan yang jelas setelah sebulan kita berjalan ada beberapa hal yang nyata terjadi bisa di bilang persis sama novel itu. Munculnya beni salah satunya.

Dari beberapa sub yang aku tulis diatas, yang jelas aku benar-benar merasakan jatuh cinta lagi dan bahagia bisa mencintaimu, entah besuk atau lusa aku tak tau. Yang penting aku menikmatinya di tahap awal langkah kita ini.

*Clumitan ini dari sudut pandangku, entah bagaimana dari sudut pandangmu.




Jumat, 24 November 2017

SOAL G30S/PKI-TENTARA, MARI BELAJAR KE TOKOH BANSER ALMAGHFURLAH MOHAMMAD ZAINUDDIN KAYUBI (1926-1983)



Mohammad Zainuddin Kayubi adalah pendiri Banser (Barisan Ansor Serba-Guna) yang berada di bawah naungan Gerakan Pemuda Ansor Nahdlatul Ulama (GP Ansor NU). Pegawai Urusan Agama Islam pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Blitar ini pernah aktif sebagai politisi Partai NU di tahun 1950-an dan Sekretaris Pengurus Cabang NU Blitar.
Lahir di Desa Pengkol, Kecamatan Sumoroto, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, pada 1 Januari 1926. Ayahnya seorang petani biasa. Kakeknya dari jalur ayah adalah seorang lurah yang disegani di kampungnya. Sementara kakek dari jalur ibu pernah menjabat sebagai wedono. Sejak kecil beliau mengenyam pendidikan di Sekolah Ongko Loro Brotonegaran hingga tamat di kelas enam pada tahun 1941. Tidak semua anak desa bisa mencapai tingkatan itu. Sebab pada jaman penjajahan Belanda pendidikan untuk anak pribumi sangat dibatasi. Di wilayah kecamatan Sumoroto saja, hanya dua anak yang bisa tamat sampai kelas enam Sekolah Ongko Loro – dan Kayubi adalah salah satunya.
Setelah itu Kayubi nyantri di Pesantren Waung, Baron, Nganjuk. Enam tahun beliau menimba ilmu di pesantren asuhan Kiai Bonondo, pakde atau pamannya sendiri. Selama di pesantren, beliau tidak jauh berbeda dengan santri-santri yang lain – tidak ada keistimewaan untuk keponakan kiai. Materi pelajaran kesukaannya di pesantren adalah ilmu nahwu dan ilmu sharaf, dan beberapa ilmu lainnya. Di tahun-tahun terakhir nyantri di pesantren, seperti halnya anak-anak santri di masa itu, Kayubi ingin masuk bergabung ke Barisan Hizbullah. Barisan Hizbullah adalah sebuah laskar rakyat yang dibentuk oleh Masyumi usai Proklamasi Kemerdekaan 1945. Namun orang tuanya tidak mengizinkan. Tapi semangat beliau tetap menyala untuk masuk berjuang ke gelanggang perang membela agama dan negara. Patriotismenya tidak pernah pupus dalam hatinya.
Sepulang dari pesantren beliau langsung mendaftar ke dalam Barisan Hizbullah di Ponorogo. Hingga sempat maju ke medan perang ketika Belanda menggelar Agresi Militer pertama di bulan Juli 1947. Tak lama kemudian dari Hizbullah, beliau bergabung ke dalam tentara reguler, bergabung ke TNI, setelah adanya perintah peleburan seluruh dewan kelaskaran ke dalam wadah tentara nasional di tahun  1947. Ketika Pemberontakan FDR/PKI di Madiun terjadi pada tahun 1948, Kayubi ikut ke dalam kancah perjuangan menumpas aktor-aktor pemberontakan dan pengkhianatan terhadap NKRI itu. Operasi militer beliau gelar dari Madiun hingga ke Magetan dan Ponorogo. Demikian pula, ketika Agresi Militer II tentara Belanda menyerang Republik Indonesia hingga masuk ke kota Madiun, Kayubi juga ikut dalam perjuangan gerilya melawan pendudukan tentara asing itu.
Usai revolusi kemerdekaan, tahun 1952 Kayubi meninggalkan dunia militer dan masuk ke dalam jajaran pegawai Departemen Agama. Awalnya beliau bertugas di Kantor Urusan Agama (KUA) Jenangan, Ponorogo, mengurus masalah-masalah pernikahan dan cerai. Pada tahun 1953 beliau pindah ke Blitar bersama keluarganya, karena dipindah-tugaskan ke Bagian Urusan Agama Islam (Urais) Kantor Departemen Agama Kabupaten Blitar. 
Selain sibuk di kantor, Kayubi juga aktif di Kepanduan Ansor NU dan juga di organisasi NU. Tidak lama kemudian beliau dipercaya sebagai Ketua Pandu Ansor NU Kabupaten Blitar, merangkap Sekretaris PCNU Blitar (1953-1955). Ketika Kwartir Nasional Pandu Ansor menggelar kegiatan perkemahan Jambore Nasional di Jakarta  pada tahun 1954, Kayubi memimpin satu rombongan mengikuti acara itu di daerah Kemayoran.  
Kayubi ikut Partai NU yang memisahkan diri dari Masyumi dan aktif berkampanye dalam Pemilu 1955. Hasilnya, Partai NU menduduki posisi ketiga secara nasional, dan mengantarkan Kayubi terpilih sebagai salah seorang anggota DPRD Kotamadya Blitar dari unsur Partai NU. Setelah Dekrit Presiden di bulan Juli 1959, beliau terpilih kembali sebagai anggota DPRD Kabupaten Blitar dari unsur Partai NU hingga tahun 1968. Tahun 1968 terpilih sebagai salah seorang anggota Badan Pemerintah Harian (BPH) Kabupaten Blitar dari unsur Partai NU. Jabatan itu diembannya hingga tahun 1977.
Di masa-masa ketegangan NU-PKI di Jawa Timur di tahun 1964-1965, Mohammad Zainuddin Kayubi memainkan peranan penting. Pada tahun 1964 beliau terpilih sebagai Ketua Pengurus Cabang GP. Ansor Blitar. Diakui, masa-masa memimpin Ansor merupakan masa yang sangat berat bagi beliau – apalagi di daerah yang merupakan basis PKI. Waktu itu Ansor harus berhadapan dengan pemuda-pemuda PKI dan BTI (Barisan Tani Indonesia). Disahkannya Undang-undang Pokok Agraria tahun 1960 dan UU Bagi Hasil Pertanian tahun 1960 mendorong pemuda-pemuda PKI yang tergabung dalam BTI  melakukan aksi-aksi sepihak menyerobot tanah-tanah masyarakat. Di Jawa Timur, tanah-tanah yang diserobot itu kebanyakan adalah tanah-tanah pesantren atau tanah milik kiai. Slogan BTI saat itu adalah “Serobot dulu, urusan belakangan”. Akhirnya bentrokan pun tak terelakkan antara kalangan Ansor dan BTI di desa-desa. Tak terkecuali di desa-desa sekitar Blitar, Kediri, Tulungagung dan Trenggalek. Tanah-tanah kiai banyak dipatok semena-mena. Bentrok fisik pun terjadi hampir setiap hari di beberapa tempat. 
Seluruh PC GP Ansor di Karesidenan Kediri melakukan rapat untuk membentuk Koordinator Daerah (Korda) atau Komando Daerah (Komda), semacam keamanan gabungan yang melibatkan beberapa unsur dalam Ansor daerah. Kayubi kemudian ditunjuk sebagai ketua Komda. Tidak lama setelah itu Komda menyepakati didirikannya lembaga semi-militer berbasis masyarakat di bawah naungan GP Ansor. Fungsinya adalah  memperkuat pengamanan tanah-tanah milik masyarakat dan pesantren. Atas dasar pemikiran itulah Kayubi berinisiatif membentuk Barisan Ansor Serbaguna (disingkat Banser). Dan Kayubi sendiri diangkat sebagai pimpinan atau “jenderal” Banser.
Selama masa genting tersebut, rumah Kayubi yang berada di Jl. Semeru (sekarang Jl. Sudancho Supriadi) disulap menjadi markas Banser. Sementara keluarganya sendiri tinggal di rumah lain. Bekas pabrik limun berukuran 8 x 25 meter itu tak ubahnyasebagai markas tentara. Ada penjagaan, sandi-sandi tertentu, tempat senjata, dapur, dan beberapa ruang rapat. Setiap hari tempat itu tidak pernah sepi dari anak-anak muda yang datang dari berbagai daerah. Rata rata mereka membawa aneka macam senjata. Memang itulah Markas Komando Banser Karesidenan Kediri, yang tidak lain adalah rumah Kayubi.
Hampir setiap hari Kayubi keliling seluruh daerah yang menjadi wilayah kerjanya untuk melakukan Kursus Kader Ansor. Meski suasana sedang genting, tidak jarang beliau datang sendirian ke pelosok-pelosok desa. Ia memang seorang pemberani. Postur tubuhnya tidak terlalu besar, tapi mentalnya benar-benar kuat bagai baja. Di setiap lokasi kursus kader Ansor, beliau selalu memompa semangat anak-anak muda Banser agar pantang mundur dalam menghadapi lawan. Saat itu hampir semua anggota Banser mendapatkan pelatihan dari tentara. Ada yang melalu Raider, Kodam, Kodim, hingga RPKAD. Kebanyakan mengikuti pelatihan selama tiga bulan. Jadilah banyak anggota Banser yang memiliki mental tentara. Sedangkan gemblengan mental spritual dilakukan oleh para kiai pengasuh pondok pesantren.
Untuk melindungi tanah-tanah rakyat dan pesantren dari aksi-aksi BTI-PKI itu, pihak Ansor dan Banser mengangkat slogan: “Pukul dulu, urusan belakangan”. Aksi-aksi ini kemudian mengundang intervensi pemerintah pusat. Pimpinan pusat GP Ansor kemudian dipanggil oleh Dr. Subandrio, waktu itu wakil perdana menteri dan kepala intelijen, yang dikenal berpihak pada PKI. Mereka dimarah-marahi, bahkan mendapat ancaman kalau GP Ansor akan dibubarkan oleh orang dekat Sukarno itu. Namun, ancaman tersebut ternyata tidak membuat pimpinan Ansor lainnya bergeming, bahkan jalan terus membela hak-hak rakyat itu. Hingga akhirnya pasca G30S/PKI di tahun 1965, PKI dan BTI hancur berantakan. Dan sebagian orang-orang BTI pun kemudian berlindung ke orang-orang NU, dan kembali  ke kiai dan pesantren.
Kayubi sendiri pernah diminta oleh Kapten Hambali dari Kodim Blitar yang meminta agar para kader GP. Ansor dan Banser bersedia direkrut dalam Operasi Trisula tahun 1968 untuk menumpas sisa-sisa perlawanan PKI di daerah Blitar selatan. Pasukan Banser diminta mengenakan pakaian Hansip seusai dengan Perintah Operasi 02/5/1968 yang di antaranya menyebut penggunaan bantuan kekuatan Hansip di wilayah Blitar selatan dan Tulungagung. Lalu, mengapa mesti Ansor dan Banser? Tanya Kayubi. Sebab Pemuda Ansor tidak diragukan lagi ke-Pancasila-annya, jawab Hambali. 
Meski Kayubi dikenal galak terhadap pemuda-pemuda PKI, namun tidak demikian dalam urusan politik. Selama menjadi anggota DPR-GR Kabupaten Blitar di tahun 1960-an, Kayubi berkawan akrab dengan para politisi PKI. Salah seorang kawan akrabnya adalah Putmainah (kini sudah berusia 84 tahun). Politisi perempuan dan anggota Fraksi-PKI di DPR-GR Kabupaten Blitar ini jarang berbeda pendapat dengan Kayubi. “Kami sering boncengan motor bersama pas masuk kantor. Pak Kayubi selalu menyapa saya dengan panggilan Mbak Yu,” tutur Putmainah, yang pernah ditahan 10 tahun oleh pemerintah Suharto karena keterlibatannya di PKI, saat ditemui di rumahnya di Desa Pakisrejo, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar. Putmainah adalah putri  KH. Mansyur (tokoh Serikat Islam Merah Blitar dan juga seorang penghafal al-Quran atau hafidz) dan juga cucu KH. Abdurrahman (mantan anggota pasukan Pangeran Diponegoro yang hijrah ke Jawa Timur). Itu sebabnya Kayubi begitu hormat pada Ketua Gerwani Blitar ini. Menurut Putmainah, setiap ada musyawarah membahas program kerja di DPRG-GR, antara dia dan Kayubi hampir selalu menemukan suara bulat. Dengan kata lain, komunikasi di antara mereka bisa berjalan mudah. Dan itu bukan hanya di dalam gedung parlemen. Dalam setiap agenda kerja turun ke bawah (turba), mereka selalu berjalan bersama untuk mencari solusi bersama dalam menghadapi persoalan yang muncul di bawah antara kader-kader kedua partai ini, seperti soal serobot tanah itu. Soalnya, bagi Putmainah, PKI-NU sama-sama memiliki spirit yang kurang lebih sama dalam menolak segala bentuk penjajahan dan penindasan satu manusia atas manusia lainnya.
Atas prestasinya yang gemilang dalam merintis dan membentuk Banser, pada tahun 1967 beliau mendapatkan penghargaan Bintang Satya Lencana Gerakan dari Pimpinan Pusat GP. Ansor. Penghargaan ini hanya dikhususkan untuk Kayubi, sang jenderal Banser ini. Pada tahun 1978 beliau pensiun dari kantor Departemen Agama Blitar. Setahun  kemudian beliau bersama keluarga kembali ke tanah kelahirannya di Ponorogo. 
Mohammad Zainuddin Kayubi wafat pada hari Rabu 2 Desember 1983 dalam usia 57 tahun dan dimakamkan di Makam Taman Arum Ponorogo.


Rujukan:

“MZ. Kayubi: Jenderal Banser yang Terlupakan”. Majalah Aula (terbitan PWNU Jawa Timur), edisi April 2009.
Solichan Arif (wartawan Koran Sindo), “Putmainah: Sekelumit Cerita tentang Hubungan PKI dengan NU”. Seputra Indonesia, 30 September 2014. 

Minggu, 19 November 2017

Sikap Bijak Mu


Sedikit cerita tentang hujan sore ini, setelah percakapan yang nampaknya kau sedang merasakan entah apa yang jelas    aku melihat ada wajah malas aku simpulkan begitu, apapun itu yang kau rasakan aku harus bijak menghadapinya. Sejam setelah itu nada whatsaap berbunyi. Iya, itu pesan darimu yang kutunggu dari tadi, pesan itu begini.

"Kalo kita bukan anak pesantren, kalo aku tinggal diluar tapi bukan dikostan yang disiplin, atau aku anak rumahan yang nggak diperhatiin sama orang tua, pasti aku udah ngajak kamu main hujan-hujanan sekarang"

Ku jawab "kamu lagi kenapa, Ayo aku mau kamu cerita. Ayolah". Jawabku yang tak menyadari keinginanmu.
Sembari menunggu pesanmu terdengar suarang kang Agil memanggilku, "iya kenapa" ku jawab. "Suruh nganter elis pulang". Aku diam tak ku jawab, rasanya memang benar capek badanku lagian aku menunggu pesan dari yunda yang dari tadi kulihat sedang mengetik terlalu lama. Dan Hari itu aku benar-benar rindu, inginku aku bisa berdua denganmu. Tidak lama kemudian nada whatsap itu bunyi lagi, isi pesan itu begini.

"Setelah kubaca pesan darimu, aku harus cerita tentang bagaimana aku duduk secara rinci. Jadi aku ceritakan saja.
Saat ini, aku sedang duduk masih lengkap dengan alat shalatku (bahkan alqur'an masih ada dlm pangkuanku) menghadap 3 wanita. 1 sedang asik menikmati makan malamnya, 1 asik mengupas buah, 1 asik berchat ria dengan handphonenya. Tentu ada obrolan menarik diantara kami. Tiba-tiba si wanita ketiga ini bilang (elis yang dia maksut) "yess aku bisa pulang" wanita ke dua tanya "jadi sama grabnya" dia jawab "enggak, mau dianter gigi". Dheg. Seketika hatiku sakit. Seharusnya biasa saja. Akunya saja yang entah kenapa tiba-tiba bergetar mendengar nama itu. Kini ku sadar. Saat ini aku sedang benar-benar rindu akanmu. Malam ini, kau benar-benar pergi dibawah rintik hujan tapi bukan bersamaku. Kuakhiri ceritaku ini karna aku tergiur dg mangga yang sudah slesai dikupas. terakhir, hati2 sayang".

Dalam setiap langkah hidupku pasti hal yang harus memaksaku untuk bisa mengambil keputusan, dan aku di posisi yang terdesak, mau tidak mau, harus mau. Iya, benar aku mengantarnya (elis yang ku maksud). Seharusnya aku menikmati momen itu bisa berdua dengan elis yang mungkin orang lain sangat menginginkannya dan aku yang sama sekali tidak ingin berdua dengannya malah bisa bareng. Sepanjang perjalanan itu pikiranku tertuju padamu, aku benar-benar khawatir keputusanku ini akan mengusik cara berpikirmu bahkan aku sangat khawatir bila kau marah.

Sepulang mengantar elis, aku menghubungimu lewat whatsapp  dan aku benar-benar mengira kau akan marah. Seharusnya malam itu kamu yang ku boceng bukan elis, tapi aku benar-benar senang kau bisa menyikapinya dengan bijak dan sederhana salah.

"Kalo kamu nggak nganter dia, kamu nggak bisa mnikmati grimis, padahal pengen banget hujan-hujanan bareng kamu, stidaknya cewek tadi anggep aja aku"

Setelah aku baca pesanmu, aku teringak pusi Sapardi djoko Damono.
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Rabu, 15 November 2017

Seklumit kegelisahan

Hemat saya, dalam menyikapi tantangan hidup kedepan denganmu ada beberapa hal yang aku ragukan. Awalnya, aku kira yang kau katakan itu sesuai apa yang aku pikirkan dan sesui yang aku inginkan. Lagi-lagi aku termakan dengan instingku sendiri dalam menyikapi sikapmu. Aku rasa ini hal bodoh yang aku lakukan dalam sekian kalinya, harus menerima rasa kecewa dalam main hati. Iya, ini hal bodoh kurasa. Dari awal memang sudah ku bayangkan berat ini berat, berbeda idiologi dan warna almet yang seharusnya itu hal yang muskil tapi entah, aku lalui ranjau itu dengan keyakinan yang pas-pasan. Aku harus berkomentar, datangnya manusia itu semua menjadi api. Aku harus membakar yang sudah matang dan menelan makanan yang sudah gosong, itu pribahasaku. Siang malam aku putar otakku untuk mencari jalan untuk membahagiakannya walau dengan gaya yang sepele dan bisa dikatakan pas-pasan. Soal materi memang aku kalah telak, kalau dia rela tidak makan hanya untuk mengenyakan perutmu. Kalau aku sebaliknya aku dulu yang harus kenyang baru kau. Dalam cara mendekati orang tuamu aku kalah waktu. Dia lebih lama untuk mengenalmu dan keluargamu. Menyikapi ini aku terobos lampu merah aku tak takut sama polisi yang menilangku bahkan aku tak takut jika harus di tabrak busway yang melintas depan simpang empat. Ku gali keyakinan ini kurobohkan rasa takutku aku ingat kata orang tuaku jangan menyerah jika kau benar dan jangan takut bila kau sala, kau harus siap untuk menanggung resikonya. Sudah ku pikirkan berkali-kali kata orang tuaku ini, inilah kekuatanku u tuk melawannya. Melihat historis kau bukan emas yang harus ku gali sampai akar untuk mendpatkanmu. Entah, apalagi kekuatanku yang bisa aku katakan kepadamu. Aku bukan ahli dalam mengolah rasa aku juga bukan laki-laki yang suka bilang "aku mencintaimu", sulit bagiku untuk mengatakan itu wanita terdekatku kecuali memang benar-benar merasakanya. Dalam situasi yang seperti ini bolehkah aku berpikir sedikit buruk tentangmu, bukan aku tak percaya, ini hanya halusinasiku atau pertanyaanku dalam diam. Begini, apa kau memanfaatka kepolosan dan rasa sayangku ini, agar kau bisa menghindari dia yang katamu selalu mengejarmu dan kau menolaknya dengan dalih kau tak suka. Ah benar ini sangat mengonyakku telingaku panas badanku panas rasanya aku ingin tonjok pelipis mata orang jahat yang memakan hak rakyat. Ulasanku itu terkalahkan dengan cinta sebab itu aku tak buru-buru mrnjauh dari telingamu. Aku masih menginginkan bibirmu bicara dan kupingku mendengar suaramu.

seklimit tentang dilan

"Aku mencintaimu.Biarlah ini urusanku.Bagaimana engkau kepadaku,terserah. Itu urusanmu"
Novel dilan sangat populer di kalangan remaja, siapa yang nggk iri dengan kisah Cinta antara dilan dan milea. Bagi yang sudah membaca novel dilan pasti paham cara dilan mendekati milea. Penggalan kalimat tadi akubambil dari novel dilan, yang di tulis sama Pidi Baiq presiden the panasdalam. Sosok dilan dalam buku itu bukan menjadi remaja yang mendahulukan emosinya untuk menghadapi permasalahan. Dilan selalu mendapat cara pandang untuk mengontrol dirinya, bahkan ia mampu menahan rasa cemburu. Itulah dilan yang mencintai milea bukan hanya sebatas dari kata-kata yang di buatnya namun bisa mempraktikkan apa yang sudah di katakan ke milea dalam bentuk puisi maupun obrolan. Seclumit penggalan crita novel dilan yang aku rangkum dalam jemariku. Sebenarnya yang ingin ku kupas ialah kalimat yang ku kutip itu. Ya, aku banyak belajar dari novel dilan, banyak hal yang bisa aku ambil mulai dari cara pandang sampai hal sederhana yang membuat mereka bahagia. Bagiku Cinta itu perlu balasan yang berlebih, aku Cinta lina katakan buat mempermudah obyeknya. Dari caraku menatapnya bisa kelihatan benar tidaknya aku mencintai. Jangan kau anggap ini hal yang aneh, aku bisa merubah keyakinanku kapan saja tentang Cinta. Gurauanku pada hatiku sendiri, au bukan termakan oleh Cinta tapi Cinta yang membuatku terkukuh pada arahmu.

Selasa, 14 November 2017

KAMPUS, PMII dan NU

M Hanif Dhakiri
(Sekjend PB IKA PMII, Menteri Ketenagakerjaan)

Meskipun pernah mengalami pasang-surut, hubungan darah antara PMII dan NU tak 
akan pernah terbantahkan dalam lembar catatan sejarah, bahwa PMII adalah anak kandung 
ideologis dan biologis NU. Sampai saat ini, PMII tidak pernah bertentang dengan NU, baik 
secara substansi perjuangan gerakan, visi kenegaraan, maupun dalam merawat tradisi 
keagamaan. PMII tetap konsisten merawat dan menjalankan tradisi sebagaimana yang 
diajarkan oleh kiai-kiai NU maupun ulama as-Salaf ash-Shalih. Para kader-kader PMII di 
seluruh Indonesia tetap konsisten menjalankan aktifitas keagamaan yang diajarkan NU 
seperti tahlil, istighosah, tawassul, dan sholawatan. NU memperjuangkan Islam rahmatan 
lil’alamin, pun demikian dengan PMII.
Salah satu kenyataan yang tak terelakkan dalam melihat hubungan antara PMII dan 
NU adalah keteguhan kedua-duanya untuk senantiasa menempatkan Islam ala Ahlussunah 
Wal-jama’ah sebagai pijakan gerakan organisasi. Bagi PMII, Ahlussunah Wal Jama’ah 
merupakan Manhaj (pola) pijakan, baik dalam membangun gagasan maupun arah 
gerakannya.
Kenyataan lain yang menjadi catatan eratnya hubungan PMII dan NU adalah 
tantangan dan persoalan kebangsaan dan keagamaan yang harus disikapi oleh PMII dan NU 
kedepan. Terus berkembangnya paham radikalisme dan fundamentalisme saat ini, merupakan 
salah satu persoalan bangsa dan keagamaan yang menjadi tantangan. Paham-paham tersebut 
hingga saat ini terus menggerogoti persatuan dan kesatuan bangsa. Bahkan, radikalisme dan 
fundamentalisme terus bermetamorfosis seiring berkembangnya peradaban dan pola hidup 
manusia, serta teknologi dan informasi.
Kampus tidak hanya dijadikan sebagai tempat untuk menimba ilmu, akan tetapi 
kampus merupakan sentral pergerakan bagi organisasi kemahasiswaan seperti PMII, 
khususnya proses kaderisasi.
Bagi PMII, kaderisasi adalah roh pergerakan dalam upaya mentraformasikan nilai-
nilai Ahlussunah Wal Jama’ah di lingkunhgan kampus. Selain untuk menanamkan nilai-nilai 
Ahlussunah Wal Jama’ah sejak dini bagi mahasiswa. Maraknya gerakan radikalisme di 
kampus seharusnya menjadi tantangan tersendiri buat kader-kader PMII untuk melakukan 
gerakan back to campus. Dengan jargon selamatkan generasi bangsa dari paham radikalisme. 
Kaderisasi PMII juga harus mampu menjawab kebutuhan kepemimpinan (leadership) dewasa 
ini dengan penguatan nilai-nilai Ahlussunah Wal Jama’ah.
Ada beberapa hal yang dibutuhkan kader PMII saat ini:
Kepemimpinan intlektual, sebagai kader pergerakan, kader PMII tidak hanya dituntut 
untuk menguasai keilmuan Ahlussunah Wal Jama’ah saja, tetapi juga dituntut untuk 
menguasai isu-isu ke-Indonesiaan juga Internasional. Dalam proses pembentukan 
kepemimpinan kader berintelektual, memperkuat kaderisasi dengan bidang-bidang keilmuan 
bisa dilakukan dengan kajian atau diskusi ditataran rayon, cabang, komisariat, bahkan tingkat 
nasional. Tradisi ngaji dan diskusi tidak bisa berhenti dalam satu tingkatan kaderisasi namun 
terus berlanjut. Selama ini, penguatan intelektual kader PMII kurang masif dan continue.

PMII harus membekali kadernya dengan kemampuan untuk mentransformasikan gagasan 
(opinion) dan mengorganisir kekuatan-kekuatan gerakan lain sehingga menjadi sebuah 
gerakan nyata (movement).
Kepemimpinan spiritual. Kecerdasan spiritual bagi kader PMII sangatlah penting 
sebagai penyeimbang gerakan. Kaderisasi PMII harus mampu memberikan kecerdasan batin 
dari pikiran dan jiwa kepada kadernya, untuk membangun diri menjadi manusia seutuhnya. 
Sehingga, kader PMII mampu berfikir positif dalam menyikapi setiap persoalan agama, 
bangsa dan negara.
Dengan jati diri semacam itu, pantaslah kita, kaum pergerakan, berbangga menjadi 
PMII. Sebab menjadi PMII adalah menjadi NU, Islam dan Indonesia. Dimanapun kader PMII 
berada ia tetaplah NU. Tradisi dan pikiran-pikiran adalah NU. Cita rasa dan cita-citanya 
adalah cita rasa dan cita-cita NU. Untuk bangsa yang jaya dan Islam yang benar. Kita tak 
akan berada sejauh ini tanpa NU, tanpa PMII.
Banggalah Jadi Mahasiswa, Banggalah Jadi Islam, Banggalah Jadi Indonesia, Banggalah
Kalian Menjadi PMII.

Jumat, 03 November 2017

Sekelumit catatan tentang jumlah


Ada pemahaman yang harus digali lebih dalam disini mengenai jumlah. Yang penulis baca dan penulis ketahui sementara ini dalam beribadah, khususnya  dalam berthoriqoh, yang di dalamnya mempunyai bacaan, wirid dan dzikir dalam jumlah dan waktu tertentu.

Penulis ingin mengaitkan dengan sholat tasbih, yang kini mulai diistiqomah di Pesantren Ekonomi Darul Uchwah, pada malam sabtu pertama awal bulan masehi menjelang manqiban rutin di malam ahadnya. mengangkat nama tasbih karena di dalamnya terdapat 300x bacaan tasbih.

Menurut penulis, jumlah yang sedemikian rupa itu adalah cara makhluk mendekat kepada penciptanya, juga tak lain merupakan bentuk kerinduan dan kecintaan kepada Dia yang dulu pernah bertemu dan menyatakan janji kepadanya.

Akan tetapi kerinduan dan kecintaan yang sebenarnya tak terletak pada 'jumlah', di balik jumlah ada makna yang lebih, yang tak lain ialah ke-terus-menerus-an.

"... Mencintai cakrawala harus menebas jarak. Mencintaimu harus menjelma aku", begitu yang ditulis Sapardi Djoko Damono dalam puisinya, mungkin juga puisi ini ditemukan Sapardi dalam sujud kedua pada bagian kedua tasbihnya.

Biarkan aku mencintaimu seperti ini; sedikit, akan tetapi tanpa jeda.

Sallim akhlukum fillah ....

_________________________________________
Jakarta, Pesantren Ekonomi Darul Uchwah, 4 November 2017.
Qqqqqlllts

Minggu, 29 Oktober 2017

PMII UNUSIA JAKARTA Memperingati Hari Sumpah Pemuda



Jakarta,  Sabtu 28 Oktober 2017 sahabat PMII Komisariat UNUSIA ikut memeriahkan hari sumpah pemuda. Dengan mengusung tema "WUJUDKAN PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA DENGAN SEMANGAT BERKARYA UNTUK KEMAJUAN BANGSA INDONESIA". Acara tersebut dihadiri sahabat Ahmad Sahid sebagai Ketua Cabang Jakarta Barat, sahabati Alfiatul Hilda, sahabati Maliza Jahrotus Tsani, Sahabat Rohmat, dan jajaran kepengurusan lainnya, selain itu sahabat dan sahabati dari Cengkareng juga ikut hadir dalam acara tersebut.  Acara tersebut di Pandu oleh sahabati Itsna dan sahabat Dimas sebagai Master of ceremony.
        Pemuda ialah individu yang bisa dilihat perkembangan fisik maupun psikis. Secara fisik pemuda lebih kuat, lebih cepat, lebih tahan banting. Dilihat segi emosionalnya pemuda lebih berapi-api. Generasi muda ilaha generasi penerus yang akan datang. Membicarakan tentang pemuda kita pasti ingat quote dari presiden Ir. Soekarno "Beri aku 10 pemuda niscaya akan kugoncangkan dunia". Kemajuan suatu Negara bisa dilihat seberapa potensialnya pemuda yang ada dinegara tersebut. Di sektor ekonomi pemuda diharapkan mampu sebagai penggerak ekonomi. Sebagai pencetus inovasi produk yang nantinya akan dijadikan kiblat negara-negara lain. Di bidang budaya sendiri pemuda diharapkan mampu menjaga dan memperkenalkan budaya sendiri terhadap Negara lain. Di hari sumpah pemuda ini tentunya kita diingatkan kembali akan semangat pemuda-pemudi zaman dulu yang begitu bersemangat mempertahankan keutuhan NKRI. Banyak juga komentar-komentar tentang peringatan hari sumpah pemuda yang sudah tidak relevan lagi di zaman now, karena pemuda-pemudi sekarang lebih kebarat-baratan, lebih sering menggunakan bahasa asing, dan lebih bersemangat mempelajari budaya lain. Namun, sebagai warga Negara yang baik relevan atau tidaknya hari sumpah pemuda, tetaplah kita junjung semangat pemuda-pemudi dengan pergerakan yang inovatif dan kreatif demi kemajuan Bangsa di masa yang akan datang.
Salam Pergerakan

Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern

  Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern Pendahuluan Ketika arus modernisasi menghujani dunia Islam, proses modern...