Minggu, 30 Oktober 2016

Cerita Jual Beli


Cerita ini saat aku magang di bengkel mobil, hari itu aku di suruh kepala bengkel untuk membeli ban di toko, pesanan pelanggan yang ingin mengganti ban.
Kepala bengkel yang sering memanggilku jancok. Tiba-tiba memanggil ku saat aku menyeruput kopi.
KB (kepala bengkel) : " Cok " Aku : " apa bang "
KB : " tolong belikan ban di toko racik ban "
Aku : " merk dan ukurannya bang ? Terus belinya brapa ? "
KB : " GT radikal ukuran 200, 3 biji ya "
Aku : " Ban teroris dong bang "
KB : " ko malah teroris "
Aku : " la itu radikal " (dengan senyum ngejek)
KB :" kamu ini di suruh malah banyak ngomong "
Aku : " hehe santai lah bang (nada orang batak "
KB : " cepet berangkat cok udah di tunggu pelanggan "


Aku pun langsung bergegas mengengkol motor berangkat ke toko untuk beli ban.
Dengan gaya santai naik motor lihat samping kanan-kiri, mata melirik melihat body mulus cewek yang berjalan di pinggir jalan.
15 menit sampai di toko langsung ambil ban dan nota. Ban saya, taruh di depan dua di belakang dua, naik motor terus engkol motor sambil berkata " jalan ".
Sampai di lampu merah tiba-tiba ada polisi. Saat itu saya tak pakai helm. Dalam hati berkata " wah ini bisa kena polisi " tapi saya langsung berinisiatif gas motor lebih kencang. Karna terlalu kencang bawa motor saya melewati lobang yang bikin oleng motor.
Sampai di bengkel,KB (kepala bengkel) nunggu di depan bengkel dan membantu menurunkan ban.





   KB : " Loh, ban nya ko cuma 2 (dengan nada membentak) "
Aku : " perasaan tadi 3 bang (nada lirih)"
KB : " perasaan-perasaan yang benar kalo kerja "
Aku : " santai lah bang, biar saya cek lagi ke toko siapa tau ketinggalan"
Saya pun langsung kembali ke toko sambil hati penasaran di mana ban yang satu lagi. Sebelum lampu merah ada bapak-bapak yang manggil-manggil.
Bapak-bapak : " bang-bang "
Aku : " iya pak, kenapa ?"
Bapak-bapak : " yang bawa ban tadi ya "
Aku : " iya pak, ko tau bapak "
Bapak-bapak : " tadi waktu kamu lewat sini ban nya jatuh 1 "
Aku : " iya betul pak, saya tadi ngebut gara-gara saya tak pakai helm terus ada polisi di lampu merah "
Bapak-bapak : " lain kali hati-hati ya dek "
Aku : " iya pak trimakasih banyak "

Aku pun langsung kembali ke bengkel dan sangat bersyukur sekali

Kebaikan Ba Misbah


CERITA: HABIB ABDULLAH BIN SYEIKH ALAYDRUS.

Suatu hari Habib Abdullah bin Syeikh Alaydrus duduk bercakap-cakap dengan para sahabatnya. Tiba-tiba beliau bertanya, Adakah dermawan yang lebih murah hati daripada aku?. Dua kali pertanyaan ini diajukan, tetapi semua diam, tidak ada seorang pun yang berani menjawab. Namun, kemudian ada salah seorang dari mereka berkata, Ya Habib, ada yang lebih murah hati daripada engkau. Siapa dia? Tanya syeikh Alaydrus, Dia tak begitu dikenal. Kau harus memberitahukan siapa orang itu. Tak ada alas an untuk menyembunyikannya dariku. Dia seorang lelaki lemah bernama Ba Misbah, tinggal di Kholif. Apa pekerjaan laki-laki ini ? Tukang celup pakaian. Pada suatu malam, Habib Abdullah menyamar sebagai wanita, lalu pergi ke rumah Ba Misbah di Kholif. Sesampainya di sana, beliau mengetuk pintu rumah Ba Misbah. Siapa?, tanya Ba Misbah. Aku seorang syarifah Alawiyah. Aku butuh sesuatu darimu. Dengan perasaan senang, Ba Misbah segera keluar menemui beliau. Selamat datang wahai syarifah, segala puji syukur bagi Allah yang telah memilih kami untuk memenuhi kebutuhanmu, katanya setelah membuka pintu. Malam itu kebetulan adalah malam Idul Adha. Ya sayyidatiy, apakah kebutuhanmu, mintalah semua yang kau butuhkan. Hamba akan patuh kepadamu, kata Ba Misbah. Aku adalah seorang syarifah yang miskin. Anakku banyak. Aku tidak memiliki ayah, saudara maupun suami. Besok hari raya, tapi kami tak memiliki apa-apa. Marhaba Permintaan yang mudah bagi pelayanmu ini. Lalu apa yang kau inginkan ? Aku butuh makanan dan beras. Siap!, ia lalu memberikan dua karung makanan dan dua karung beras. Habib Abdullah tidak membawa barang itu pulang ke rumah, tapi beliau pergi ke belakang rumah Ba Misbah, lalu meletakkan makanan dan beras tersebut di sana. Beliau menunggu hingga Ba Misbah naik ke tingkat paling atas dari rumahnya. Setelah merasa yakin bahwa Ba Misbah telah tidur, beliau kembali ke rumah Ba Misbah, mengetuk pintunya. Siapa?, tanya Ba Misbah. Hababahmu, Syarifah yang tadi datang ke sini. Aku masih ada kebutuhan yang lupa kusampaikan kepadamu. Selamat dating sayyidatiy, puji syukur bagi Allah yang telah memilih aku untuk memenuhi kebutuhanmu. Ini sebuah nikmat yang agung Ia segera menemui Habib Abdullah dengan perasaan senang dan bahagia. Ya sayyidatiy, mintalah apa yang kau perlukan, aku adalah abdimu, milikmu, katanya setelah membuka pintu. Aku lupa, kami berempat di rumah tidak memiliki pakaian. Aku butuh pakaian. Siap, ia lalu mengambilkan empat pakaian yang telah dicelup dan bergambar. Pakaian-pakaian itu berkualitas tinggi, dan pakaian terbaik bagi wanita zaman itu adalah yang bergambar. Habib Abdullah membawa pakaian tersebut ke belakang rumah Ba Misbah dan meletakkannya di tempat yang sama. Beliau mulai takjub dengan kebaikan akhlak Ba Misbah. Sebab, meski diganggu di malam hari, ia tidak merasa susah dan jengkel Setelah merasa yakin bahwa Ba Misbah telah
tidur pulas, Habib Abdullah kembali ke rumah Ba Misbah untuk yang ke tiga kalinya. Beliau mengetuk pintu rumahnya. Ba Misbah segera bangun dan bertanya, Siapakah yang di luar?. Hababahmu, syarifah yang tadi datang ke sini. Aku lupa, masih ada satu kebutuhan lagi yang belum kusampaikan kepadamu. Selamat datang, segala puji bagi Allah yang telah memilihku untuk memenuhi kebutuhanmu. Ba Misbah segera keluar menemui Habib Abdullah dengan perasaan lebih senang dan bahagia dari sebelumya. Ia membukakan pintu seakan-akan Habib Abdullah baru pertama kali datang ke rumahnya. Ya sayyidatiy, wahai penyejuk hatiku, mintalah apa yang engkau butuhkan, pelayanmu ini akan selalu patuh. Apa gerangan kebutuhanmu sekarang? Aku butuh minyak zaitun, minyak samin, korma dan asidah. Marhaba Setiap kali kau butuh sesuatu mintalah kepadaku. Ba Misbah segera mengambilkan satu kantong minyak zaitun, satu kantong minyak samin, satu wadah korma. Ya sayyidatiy, ambillah barang-barang ini. Maafkan aku telah meyusahkanmu lantaran engkau lupa menyebutkan semua kebutuhanmu. Jika masih ada yang terlupa, kembalilah kemari Kedatanganmu ke rumahku ini merupakan nikmat terbesar yang diberikan Allah padaku. Habib Abdullah mengambil semua pemberiannya, lalu pergi ke belakang rumah Ba Misbah. Habib Abdullah takjub melihat kebaikan akhlak Ba Misbah dan mukanya tidak berubah. Beberapa saat kemudian, setelah beliau yakin bahwa Ba Misbah telah tidur pulas, beliau kembali mengetuk pintu rumahnya. Beliau ingin melihat sifat buruknya, atau perubahan wajah Ba Misbah. Ba misbah segera bangun dari tidurnya dan bertanya,Siapa itu?. Hababahmu, syarifah yang tadi datang ke sini. Masih ada keperluanku yang terlupakan. Cepatlah kemari. Ba Misbah segera keluar dengan perasaan senang dan bahagia, seakan-akan baru pertama kali syarifah itu mengetuk pintu rumahnya. Selamat dating sayyidatiy, penyejuk hatiku. Segala puji bagi Allah yang telah mengistimewakanku dengan bolak-baliknya engkau ke rumahku. Mintalah apa yang kau butuhkan. Aku adalah abdi dan pelayanmu. Dan memenuhi semua kebutuhanmu adalah puncak cita-citaku. Masih ada kebutuhan yang terlupakan olehku. Apa itu? Semua yang engkau butuhkan akan kusediakan. Jika tidak ada di sini, aku akan menjual diriku untuk membeli barang yang kau butuhkan. Aku butuh daging untuk hari raya besok. Besok hari raya, tapi kami tidak memiliki sesuatu pun. Demi Allah, di rumah pelayanmu ini tidak ada sesuatu pun kecuali satu kepala kambing untuk hari raya anak-anaknya, kata Ba Misbah sambil memegang janggutnya, Akan tetapi tidaklah benar jika anak-anak orang yang kopiahnya bau ini menikmati hari raya, sementara anak cucu Rasulullah SAW tidak berhari raya. Ambillah kepala kambing ini, dan berhari rayalah dengan anak-anakmu. Habib Abdullah membawa kepala kambing itu dan kembali meletakkannya di belakang rumah Ba Misbah. Habib Abdullah terheran-heran menyaksikan akhlak Ba Misbah. Beliau berkata dalam hatinya, Hanya seorang arifbillah saja yang akhlaknya seperti ini. Laki-laki ini sedikit pun tidak melihat basyariah seseorang.Habib Abdullah diam di sana beberapa saat. Setelah merasa yakin bahwa Ba Misbah telah tidur pulas, ia segera kembali ke rumah Ba Misbah untuk yang ke lima kalinya. Beliau ingin melihat sedikit saja perubahan dari sikap Ba Misbah, walaupun hanya sekedar perubahan raut wajah. Beliau kembali mengetuk pintu rumah Ba Misbah. Siapa itu ? Hababahmu, syarifah yang tadi datang ke sini. Aku teringat satu lagi kebutuhanku. Selamat datang wahai cucu Rasulullah. Kenikmatan apa gerangan yang diberikan Allah kepadaku di malam ini? Segala puji syukur bagi-Nya. Ia segera keluar dengan perasaan senang dan bahagia seakan-akan baru pertama kali syarifah tersebut datang ke rumahnya. Selamat dating Ya sayyidatiy, dan penyejuk hatiku. Mintalah semua yang kau butuhkan. Aku adalah abdi dan pelayanmu. Aku patuh kepadamu. Aku butuh kayu. Marhaba. Ia memanggil pembantunya, meminta kayu. Wahai hababahku, wahai pelipur hatiku, inilah kayu yang kau butuhkan. Setiap kali kau ingat suatu kebutuhan, kembalilah ke sini. Sebab, melayanimu merupakan salah satu pendekatan diri yang paling baik kepada Allah. Habib Abdullah membawa kayu itu, lalu meletakkannya di tempat yang sama. Beliau kagum menyaksikan kebaikan akhlak Ba Misbah dan kelapangan hatinya. Tak sehelai rambut pun bergerak, tak sedikit pun raut wajah berubah. Beliau duduk sejenak hingga benar-benar yakin bahwa Ba Misbah telah pulas dalam tidurnya. Beliau kembali mengetuk pintu rumahnya untuk yang ke enam kali. Dalam hati, beliau berkata, Mungkin kali ini raut wajahnya akan berubah, atau ia akan mulai menghina dan berkata kasar. Ba Misbah segera bangun dan bertanya, Siapa yang mengetuk pintu? Hababahmu, syarifah yang tadi ke sini. Masih ada satu kebutuhanku yang baru kuingat sekarang. Marhaba Wahai hababahku, tuanku dan penyejuk hatiku. Ba Misbah keluar dengan perasaan lebih senang dan bahagia dari sebelumnya. Sekan-akan baru pertama kalinya syarifah itu mengetuk pintu rumahnya. Alhamdulillaah, kenikmatan agung apa yang sedang diberikan Allah kepadaku ini. Aku tidak berhak menerima kenikmatan ini. Mintalah apa yang kau butuhkan. Wahai sayyidatiy, setiap kali kau ingat sesuatu, datanglah ke sini. Aku adalah abdi dan pelayanmu. Aku akan patuh kepadamu. Aku butuh seseorang untuk membawakan semua yang kau berikan kepadaku. Lihatlah, semua yang kau berikan kuletakkan di belakang rumahmu. Aku tidak kuat membawanya ke rumahku. Beres ! Kami akan mengantarkan barang-barang itu ke mana pun engkau suka. Ia kemudian membangunkan isteri, anak dan pembantunya. Mereka semua kemudian diperintahkannya membawa barang-barang syarifah tadi. Ya sayyidatiy, jalanlah lebih dahulu, agar kami dapat mengikutimu, kata Ba Misbah. Habib Abdullah berjalan di depan mereka. Ketika sampai di Nuwaidiroh, Habib Abdullah berhenti dan berkata, Wah, aku datang bukan dari rumahku, dan aku tidak kenal jalan ini, kecuali kalau aku memulai lagi dari rumah kalian. Mari kita kembali. Marhaba.Mereka semua kembali ke rumah Ba Misbah. Setelah sampai di sana, Habib Abdullah berkata, Sekarang aku ingat jalan menuju rumahku. Inilah jalannya. Jalanlah di muka, agar kami dapat mengikutimu. Beliau berjalan di depan, dan mereka semua mengikutinya. Sesampainya di Nuwaidiroh, beliau berhenti. Aku kehilangan arah lagi. Apakah gerangan yang terjadi ? Aku tidak dapat mengingat jalan menuju rumahku, kecuali jika kita mulai lagi dari rumah kalian. Mari kita balik ke sana. Mereka pun dengan senang hati kembali ke rumah Ba Misbah. Habib Abdullah telah menguji Ba Misbah sampai pada puncaknya. Beliau ingin melihat lelaki itu marah, namun sedikit pun sikapnya tidak berubah hingga Habib Abdullah sendiri merasa kelelahan. Fajar mulai menyingsing, Habib Abdullah berkata kepada mereka, Sekarang telah masuk waktu fajar. Bukalah pintu rumah kalian, aku ingin menunaikan salat Subuh di rumah kalian. Selamat datang. Salatmu di rumah ini adalah nikmat terbesar bagi kami. Setiap kali kau meminta sesuatu kepada pembantumu ini, ia akan menyediakannya untukmu. Meskipun kau minta semua yang ada di rumahnya, ia akan memberikannya kepadamu. Dan engkau sesungguhnya telah bermurah hati kepada kami, karena telah mengistimewakan aku untuk memenuhi kebutuhanmu. Ba Misbah lalu membuka pintu rumahnya.
Setelah memasuki rumah, Habib Abdullah membuka cadar yang menutupi wajahnya dan berkata kepada Ba Misbah, Sungguh beruntung kamu, sungguh beruntung, kuucapkan selamat atas akhlakmu yang luhur ini. Demi Allah, kau seorang dermawan sejati, lebih murah hati dariku. Aku bukanlah seorang wanita. Aku adalah Abdullah bin Syeikh Alaydrus. Tidak ada seorang manusia pun akan mampu berperilaku dengan akhlak yang luhur ini. Air mata Habib Abdullah menetes di pipi, ia berkata, Selamat selamat selamat Maafkanlah aku. Semoga Allah menambah apa yang telah Ia berikan kepadamu, dan menjadikan budi pekerti kita seperti budi pekertimu…”. Setelah berpamitan, Habib Abdullah lalu pergi sambil memuji dan mendoakannya.

Penulis Ulang : Muhammad Shulfi bin Abu Nawar bin Ahmad Al ‘Aydrus

Gus Jakfar Cerpen Gus Mus

 Profil Singkat Gus Mus
Ahmad MUSTOFA BISRI adalah seorang Kyai dan juga Dikenal sebagai seorang penyair, pelukis, cerpenis dan kolumnis.

Lahir di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944. Kiai yang akrab disapa Gus Mus ini adalah pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin Rembang.

GUS JAKFAR
Di antara putera-putera Kiai Saleh, pengasuh pesantren "Sabilul Muttaqin" dan sesepuh di daerah kami, Gus Jakfar-lah yang paling menarik perhatian masyarakat. Mungkin Gus Jakfar tidak sealim dan sepandai saudara-saudaranya, tapi dia mempunyai keistimewaan yang membuat namanya tenar hingga ke luar daerah, malah konon beberapa pejabat tinggi dari pusat memerlukan sowan khusus ke rumahnya setelah mengunjungi Kiai Saleh. Kata Kang Solikin yang dekat dengan keluarga ndalem, bahkan Kiai Saleh sendiri segan dengan anaknya yang satu itu. "Kata Kiai, Gus Jakfar itu lebih tua dari beliau sendiri," cerita Kang Solikin suatu hari kepada kawan-kawannya yang sedang membicarakan putera bungsu Kiai Saleh itu. "Saya sendiri tidak paham apa maksudnya." "Tapi, Gus Jakfar memang luar biasa," kata Mas Bambang, pegawai Pemda yang sering mengikuti pengajian subuh Kiai Saleh. "Matanya itu lho. Sekilas saja mereka melihat kening orang, kok langsung bisa melihat rahasianya yang tersembunyi. Kalian ingat, Sumini yang anak penjual rujak di terminal lama yang dijuluki perawan tua itu, sebelum dilamar orang sabrang kan ketemu Gus Jakfar. Waktu itu Gus Jakfar bilang, 'Sum, kulihat keningmu kok bersinar, sudah ada yang ngelamar ya?' Tak lama kemudian orang sabrang itu datang melamarnya." "Kang Kandar kan juga begitu," timpal Mas Guru Slamet. "Kalian kan mendengar sendiri ketika Gus Jakfar bilang kepada tukang kebun SD IV itu, 'Kang, saya lihat hidung sampeyan kok sudah bengkok, sudah capek menghirup nafas ya?' Lho, ternyata besoknya Kang Kandar meninggal." "Ya. Waktu itu saya pikir Gus Jakfar hanya berkelakar," sahut Ustadz Kamil, "Nggak tahunya beliau sedang membaca tanda pada diri Kang Kandar." "Saya malah mengalami sendiri," kata Lik Salamun, pemborong yang dari tadi sudah kepingin ikut bicara. "Waktu itu, tak ada hujan tak ada angin, Gus Jakfar bilang kepada saya, 'Wah, saku sampeyan kok mondol- mondol; dapat proyek besar ya?' Padahal saat itu saku saya justru sedang kemps. Dan percaya atau tidak, esok harinya saya memenangkan tender yang diselenggarakan Pemda tingkat propinsi." "Apa yang begitu itu disebut ilmu kasyaf?" tanya Pak Carik yang sejak tadi hanya asyik mendengarkan. "Mungkin saja," jawab Ustadz Kamil. "Makanya saya justru takut ketemu Gus Jakfar. Takut dibaca tanda-tanda buruk saya, lalu pikiran saya terganggu." *** Maka, ketika kemudian sikap Gus Jakfar berubah, masyarakat pun geger; terutama para santri kalong, orang-orang kampung yang ikut mengaji tapi tidak tinggal di pesantren seperti Kang Solikin yang selama ini merasa dekat dengan beliau. Mula- mula Gus Jakfar menghilang berminggu-minggu, kemudian ketika kembali tahu-tahu sikapnya berubah menjadi manusia biasa. Dia sama sekali berhenti dan tak mau lagi membaca tanda-tanda. Tak mau lagi memberikan isyarat- isyarat yang berbau ramalan. Ringkas kata, dia benar-benar kehilangan keistimewaannya. "Jangan-jangan ilmu beliau hilang pada saat beliau menghilang itu," komentar Mas Guru Slamet penuh penyesalan. "Wah, sayang sekali! Apa gerangan yang terjadi pada beliau?" "Ke mana beliau pergi saat menghilang pun, kita tidak tahu," kata Lik Salamun. "Kalau saja kita tahu ke mana beliau pergi, mungkin kita akan mengetahui apa yang terjadi pada beliau dan mengapa beliau kemudian berubah." "Tapi, bagaimanapun ini ada hikmahnya," ujar Ustadz Kamil. "Paling tidak, kini kita bisa setiap saat menemui Gus Jakfar tanpa merasa deg- degan dan was-was; bisa mengikuti pengajiannya dengan niat tulus mencari ilmu. Maka, jangan kita ingin mengetahui apa yang terjadi dengan gus kita ini hingga sikapnya berubah atau ilmunya hilang, sebaiknya kita langsung saja menemui beliau." Begitulah, sesuai usul Ustadz Kamil, pada malam Jum'at sehabis wiridan salat Isya, saat mana Gus Jakfar prei, tidak mengajar; rombongan santri kalong sengaja mendatangi rumahnya.

Kali ini hampir semua anggota rombongan merasakan keakraban Gus Jakfar, jauh melebihi yang sudah-sudah. Mungkin karena kini tidak ada lagi sekat berupa rasa segan, was-was dan takut. Setelah ngobrol ke sana kemari, akhirnya Ustadz Kamil berterus terang mengungkapkan maksud utama kedatangan rombongan: "Gus, di samping silaturahmi seperti biasa, malam ini kami datang juga dengan sedikit keperluan khusus. Singkatnya, kami penasaran dan sangat ingin tahu latar belakang perubahan sikap sampeyan." "Perubahan apa?" tanya Gus Jakfar sambil tersenyum penuh arti. "Sikap yang mana? Kalian ini ada-ada saja. Saya kok merasa tidak berubah." "Dulu sampeyan kan biasa dan suka membaca tanda-tanda orang," tukas Mas Guru Slamet, "kok sekarang tiba- tiba mak pet, sampeyan tak mau lagi membaca, bahkan diminta pun tak mau." "O, itu," kata Gus Jakfar seperti benar-benar baru tahu. Tapi dia tidak segera meneruskan bicaranya. Diam agak lama. Baru setelah menyeruput kopi di depannya, dia melanjutkan, "Ceritanya panjang." Dia berhenti lagi, membuat kami tidak sabar, tapi kami diam saja. "Kalian ingat, saya lama menghilang?" akhirnya Gus Jakfar bertanya, membuat kami yakin bahwa dia benar- benar siap untuk bercerita. Maka serempak kami mengangguk. "Suatu malam saya bermimpi ketemu ayah dan saya disuruh mencari seorang wali sepuh yang tinggal di sebuah desa kecil di lereng gunung yang jaraknya dari sini sekitar 200 km kea rah selatan. Namanya Kiai Tawakkal. Kata ayah dalam mimpi itu, hanya kiai-kiai tertentu yang tahu tentang kiai yang usianya sudah lebih 100 tahun ini. Santri-santri yang belajar kepada beliau pun rata-rata sudah disebut kiai di daerah masing-masing." "Terus terang, sejak bermimpi itu, saya tidak bisa menahan keinginan saya untuk berkenalan dan kalau bisa berguru kepada Wali Tawakkal itu. Maka dengan diam-diam dan tanpa pamit siapa-siapa, saya pun pergi ke tempat yang ditunjukkan ayah dalam mimpi dengan niat bilbarakah dan menimba ilmu beliau. Ternyata, ketika sampai di sana, hampir semua orang yang saya jumpai mengaku tidak mengenal nama Kiai Tawakkal. Baru setelah seharian melacak ke sana kemari, ada seorang tua yang memberi petunjuk." 'Cobalah nakmas ikuti jalan setapak di sana itu' katanya. 'Nanti nakmas akan berjumpa dengan sebuah sungai kecil; terus saja nakmas menyeberang. Begitu sampai seberang, nakmas akan melihat gubuk-gubuk kecil dari bambu. Nah, kemungkinan besar orang yang nakmas cari akan nakmas jumpai di sana. Di gubuk yang terletak di tengah-tengah itulah tinggal seorang tua seperti yang nakmas gambarkan. Orang sini memanggilnya Mbah Jogo. Barangkali itulah yang nakmas sebut Kiai siapa tadi?' 'Kiai Tawakkal.' 'Ya, Kiai Tawakkal. Saya yakin itulah orangnya, Mbah Jogo.' "Saya pun mengikuti petunjuk orang tua itu, menyeberang sungai dan menemukan sekelompok rumah gubuk dari bambu." "Dan betul, di gubuk bambu yang terletak di tengah- tengah, saya menemukan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo sedang dikelilingi santri- santrinya yang rata-rata sudah tua. Saya diterima dengan penuh keramahan, seolah-olah saya sudah merupakan bagian dari mereka. Dan kalian tahu? Ternyata penampilan Kiai Tawakkal sama sekali tidak mencerminkan sosoknya sebagai orang tua. Tubuhnya tegap dan wajahnya berseri- seri. Kedua matanya indah memancarkan kearifan. Bicaranya jelas dan teratur. Hampir semua kalimat yang meluncur dari mulut beliau bermuatan kata-kata hikmah." Tiba-tiba Gus Jakfar berhenti, menarik nafas panjang, baru kemudian melanjutkan, "Hanya ada satu hal yang membuat saya terkejut dan tgerganggu. Saya melihat di kening beliau yang lapang ada tanda yang jelas sekali, seolah- olah saya membaca tulisan dengan huruf yang cukup besar dan berbunyi 'Ahli Neraka'. Astaghfirullah! Belum pernah selama ini saya melihat tanda yang begitu gambling. Saya ingin tidak mempercayai apa yang saya lihat. Pasti saya keliru. Masak seorang yang dikenal wali, berilmu tinggi, dan disegani banyak kiai yang lain, disurati sebagai ahli neraka. Tak mungkin. Saya mencoba meyakin-yakinkan diri saya bahwa itu hanyalah ilusi, tapi tak bisa. Tanda itu terus melekat di kening beliau. Bahkan belakangan saya melihat tanda itu semakin jelas ketika beliau habis berwudhu. Gila!" "Akhirnya niat saya untuk menimba ilmu kepada beliau, meskipun secara lisan memang saya sampaikan demikian, dalam hati sudah berubah menjadi keinginan untuk menyelidiki dan memecahkan keganjialan ini. Beberapa hari saya amati perilaku Kiai Tawakkal, saya tidak melihat sama sekali hal- hal mencurigakan. Kegiatan rutinnya sehari-hari tidak begitu berbeda dengan kebanyakan kiai yang lain: mengimami salat jamaah; melakukan salat-salat sunnat seperti dhuha, tahajjud, witir,dsb.; mengajar kitab- kitab (umumnya kitab-kitab besar); mujahadah; dzikir malam; menemui tamu; dan semacamnya. Kalaupun beliau keluar, biasanya untuk memenuhi undangan hajatan atau- dan ini sangat jarang sekali- mengisi pengajian umum. Memang ada kalanya beliau keluar pada malam- malam tertentu; tapi menurut santri-santri yang lama, itu pun merupakan kegiatan rutin yang sudah dijalani Kiai Tawakkal sejak muda. Semacam lelana brata, kata mereka." "Baru setelah beberapa minggu tinggal di 'pesantren bambu', saya mendapat kesempatan atau tepatnya keberanian untuk mengikuti Kiai Tawakkal keluar. Saya pikir, inilah kesempatan untuk mendapatkan jawaban atas tanda tanya yang selama ini mengganggu saya." "Begitulah, pada suatu malam purnama, saya melihat Kiai keluar dengan berpakaian rapi. Melihat waktunya yang sudah larut, tidak mungkin beliau pergi untuk mendatangi undangan hajatan atau lainnya. Dengan hati-hati saya membuntutinya dari belakang; tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. Dari jalan setapak hingga ke jalan desa, Kiai terus berjalan dengan langkah yang tetap tegap. Akan ke mana beliau gerangan? Apa ini yang disebut semacam lelana brata? Jalanan semakin sepi; saya pun semakin berhati-hati mengikutinya, khawatir tiba- tiba Kiai menoleh ke belakang." "Setelah melewati kuburan dan kebun sengon, beliau berbelok. Ketika kemudian saya ikut belok, saya kaget, ternyata sosoknya tak kelihatan lagi. Yang terlihat justru sebuah warung yang penuh pengunjung. Terdengar gelak tawa ramai sekali. Dengan bengong saya mendekati warung terpencil dengan penerangan petromak itu. Dua orang wanita- yang satu masih muda dan yang satunya lagi agak lebih tua- dengan dandanan yang menor sibuk melayani pelanggan sambil menebar tawa genit ke sana kemari. Tidak mungkin Kiai mampir ke warung ini, pikir saya. Ke warung biasa saja tidak pantas, apalagi warung yang suasananya saja mengesankan kemesuman ini. 'Mas Jakfar!' tiba-tiba saya dikagetkan oleh suara yang tidak asing di telinga saya, memanggil-manggil nama saya. Masyaallah, saya hampir- hampir tidak mempercayai pendengaran dan penglihatan saya. Memang betul, mata saya melihat Kiai Tawakkal melambaikan tangan dari dalam warung. Ah. Dengan kikuk dan pikiran tak karuan, saya pun terpaksa masuk dan menghampiri kiai yang saya yang duduk santai di pojok. Warung penuh dengan asap rokok. Kedua wanita menor menyambut saya dengan senyum penuh arti. Kiai Tawakkal menyuruh orang disampingnya untuk bergeser, 'Kasi kawan saya ini tempat sedikit!' Lalu, kepada orang- orang yang ada di warung, Kiai memperkenalkan saya. Katanya, 'Ini kawan saya, dia baru datang dari daerah yang cukup jauh. Cari pengalaman katanya'. Mereka yang duduknya dekat serta merta mengulurkan tangan, menjabat tangan saya dengan ramah; sementara yang jauh melambaikan tangan". "Saya masih belum sepenuhnya menguasai diri, masih seperti dalam mimpi, ketika tiba-tiba saya dengar Kiai menawari, 'Minum kopi ya?!' Saya mengangguk asal mengangguk. 'Kopi satu lagi, Yu!' kata Kiai kepada wanita warung sambil mendorong piring jajan ke dekat saya. 'Silakan! Ini namanya rondo royal, tape goreng kebanggan warung ini! Lagi-lagi saya hanya menganggukkan kepala asal mengangguk." "Kiai Tawakkal kemudian asyik kembali dengan 'kawan-kawan'-nya dan membiarkan saya bengong sendiri. Saya masih tak habis pikir, bagaimana mungkin Kiai Tawakkal yang terkenal waliyullah dan dihormati para kiai lain bisa berada di sini. Akrab dengan orang-orang beginian; bercanda dengan wanita warung. Ah, inikah yang disebut lelana brata? Ataukah ini merupakan dunia lain beliau yang sengaja disembunyikan dari umatnya? Tiba-tiba saya seperti mendapat jawaban dari tanda tanya yang selama ini mengganggu saya dan karenanya saya bersusah payah mengikutinya malam ini. O, pantas di keningnya kulihat tanda itu. Tiba-tiba sikap dan pandangan saya terhadap beliau berubah." 'Mas, sudah larut malam,'tiba- tiba suara Kiai Tawakkal membuyarkan lamunan saya. 'Kita pulang, yuk!' Dan tanpa menunggu jawaban saya, Kiai membayari minuman dan makanan kami, berdiri, melambai kepada semua, kemudian keluar. Seperti kerbau dicocok hidung, saya pun mengikutinya. Ternyata setelah melewati kebon sengon, Kiai Tawakkal tidak menyusuri jalan-jalan yang tadi kami lalui. 'Biar cepat, kita mengambil jalan pintas saja!' katanya." "Kami melewati pematang, lalu menerobos hutan, dan akhirnya sampai di sebuah sungai. Dan, sekali lagi saya menyaksikan kejadian yang menggoncangkan. Kiai Tawakkal berjalan di atas permukaan air sungai, seolah- olah di atas jalan biasa saja. Sampai di seberang, beliau menoleh ke arah saya yang masih berdiri mematung. Beliau melambai. 'Ayo!' teriaknya. Untung saya bisa berenang; saya pun kemudian berenang menyeberangi sungai yang cukup lebar. Sampai di seberang, ternyata Kiai Tawakkal sudah duduk- duduk di bawah pohon randu alas, menunggu. 'Kita istirahat sebentar,' katanya tanpa menengok saya yang sibuk berpakaian. 'Kita masih punya waktu, insya Allah sebelum subuh kita sudah sampai pondok.' Setelah saya ikut duduk di sampingnya, tiba-tiba dengan suara berwibawa, Kiai berkata mengejutkan, 'Bagaimana? Kau sudah menemukan apa yang kaucari? Apakah kau sudah menemukan pembenar dari tanda yang kaubaca di kening saya? Mengapa kau seperti masih terkejut? Apakah kau yang mahir melihat tanda- tanda menjadi ragu terhadap kemahiranmu sendiri?' Dingin air sungai rasanya semakin menusuk mendengar rentetan pertanyaan beliau yang menelanjangi itu. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Beliau yang kemudian terus berbicara. 'Anak muda, kau tidak perlu mencemaskan saya hanya karena kau melihat tanda "Ahli Neraka" di kening saya. Kau pun tidak perlu bersusah- payah mencari bukti yang menunjukkan bahwa aku memang pantas masuk neraka. Karena, pertama, apa yang kau lihat belum tentu merupakan hasil dari pandangan kalbumu yang bening. Kedua, kau kan tahu, sebagaimana neraka dan sorga, aku adalah milik Allah. Maka terserah kehendak-Nya, apakah Ia memasukkan diriku ke sorga atau neraka. Untuk memasukkan hamba- Nya ke sorga atau neraka, sebenarnyalah Ia tidak memerlukan alasan. Sebagai kiai, apakah kau berani menjamin amalmu pasti mengantarkanmu ke sorga kelak? Atau kau berani mengatakan bahwa orang- orang di warung yang tadi kau pandang sebelah mata itu pasti masuk neraka? Kita berbuat baik karena kita ingin dipandang baik oleh-Nya, kita ingin berdekat-dekat dengan- Nya, tapi kita tidak berhak menuntut balasan kebaikan kita. Mengapa? Karena kebaikan kita pun berasal dari-Nya. Bukankah begitu?' Aku hanya bisa menunduk. Sementara Kiai Tawakkal terus berbicara sambil menepuk-nepuk punggung saya. 'Kau harus lebih berhati- hati bila mendapat cobaan Allah berupa anugerah. Cobaan yang berupa anugerah tidak kalah gawatnya dibanding cobaan yang berupa penderitaan. Seperti mereka yang di warung tadi; kebanyakan mereka orang susah. Orang susah sulit kau bayangkan bersikap takabbur; ujub, atau sikap- sikap lain yang cenderung membesarkan diri sendiri. Berbeda dengan mereka yang mempunyai kemampuan dan kelebihan: godaan untuk takabbur dan sebagainya itu datang setiap saat. Apalagi bila kemampuan dan kelebihan itu diakui oleh banyak pihak' Malam itu saya benar-benar merasa mendapatkan pemahaman dan pandangan baru dari apa yang selama ini sudah saya ketahui. 'Ayo kita pulang!' tiba-tiba Kiai bangkit. 'Sebentar lagi subuh. Setelah sembahyang subuh nanti, kau boleh pulang.' Saya tidak merasa diusir; nyatanya memang saya sudah mendapat banyak dari kiai luar biasa ini." "Ketika saya ikut bangkit, saya celingukan. Kiai Tawakkal sudah tak tampak lagi. Dengan bingung saya terus berjalan. Kudengar azan subuh berkumandang dari sebuah surau, tapi bukan surau bambu. Seperti orang linglung, saya datangi surau itu dengan harapan bisa ketemu dan berjamaah salat subuh dengan Kiai Tawakkal. Tapi, jangankan Kiai Tawakkal, orang yang mirip beliau pun tak ada. Tak seorang pun dari mereka yang berada di surau itu yang saya kenal. Baru setelah sembahyang, seseorang menghampiri saya. 'Apakah sampeyan Jakfar?' tanyanya. Ketika saya mengiyakan, orang itu pun menyerahkan sebuah bungkusan yang ternyata berisi barang-barang milik saya sendiri. 'Ini titipan Mbah Jogo, katanya milik sampeyan.' 'Beliau di mana?' tanya saya buru-buru. 'Mana saya tahu?' jawabnya. 'Mbah Jogo datang dan pergi semaunya. Tak ada seorang pun yang tahu dari mana beliau datang dan ke mana beliau pergi.' Begitulah ceritanya. Dan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo yang telah berhasil mengubah sikap saya itu tetap merupakan misteri." Gus Jakfar sudah mengakhiri ceritanya, tapi kami yang dari tadi suntuk mendengarkan masih diam tercenung sampai Gus Jakfar kembali menawarkan suguhannya. Rembang, Mei 2002

Menyimpan aib orang lain

Ada seorang laki-laki yang alim dia di nikahkan dengan wanita, Sampai saat akad nikah dia belum bertemu dengan calon istrinya. Setelah akad nikah selesai barulah di pertemukan antara laki-laki dan perempuan yang telah sah menjadi sepasang suami istri. Setelah dia bertemu dengan istrinya ternyata istrinya itu sudah hamil 9 bulan. Dia sempat punya firasat bahwa istriku yang sudah hamil duluan dan ini bukan anak ku, tetapi dia tidak pernah bilang kepada siapapun bahwa istri nya hamil duluan karna dia ingin menjaga nama baik istri dan keluarga. Tetapi sang suami tadi bukanya dia menjauhi istrinya ataupun punya niatan untuk menceraikan istrinya. Di saat istrinya melahirkan dia mendapatkan ide untuk di buang ke masjid, nanti kalau ada yang mengambil bayi itu pasti orang baik-baik yang akan mengurusi anak itu. Pagi-pagi menjelang subuh bayi itu di bawa ke masjid, di taruh depan masjid. Setelah selesai solat subuh orang-orang menghampiri bayi tersebut dan bertanya-tanya " bayi siapa ini " ucap jamaah subuh masjid di kampung itu. Laki-laki tadi secara tiba-tiba mendapatkan bisikan yang entah dari mana bisikan itu, " ambil bayi itu dan bilang kepada warga bahwa engkau yang akan merawatnya " Bahkan laki-laki itu berjanji akan merawat anak itu hingga dia mati nanti, dan tidak akan pernah bercerita kepada siapa pun bahwa anak itu, anak istrinya sendiri yang hamil duluan dengan orang lain dan dia juga berjanji jika aku tak merawatnya maka aku akan menceraikan istriku.. Sungguh seorang laki-laki yang luar biasa yang mampu menyembunyikan aib orang lain.. Irgi NF

Fadhilah Sholawat

RIJALUL GOIB Saat ngaji rutinan Senin (15/8/2016), pengasuh Pesantren Almuhibbin Bahrul Ulum Tambakberas Jombang KH Jamaludin Ahmad cerita tentang fadilah salawat. Saat haji, tokoh sufi Sufyan As Sauri pernah ketemu pemuda yang tiap langkahnya baca salawat. Padahal sebenarnya di tiap tempat ada doanya sendiri2. Tawaf ada doanya. Wukuf, sai, juga ada doanya. Tapi pemuda ini yang dibaca hanya salawat. "Hal laka ilmun. Apa ada ilmune lakumu ini?" tanya Sufyan pada pemuda tersebut. Pemuda itu cerita, saat masuk Mekkah, tiba2 wajah ibunya menghitam dan perutnya abuwoh. Pemuda ini sadar bahwa itu karena dosa. Pemuda ini lantas berdoa. Sehingga muncul awan dan seorang pria tampan yg mengusap wajah dan perut ibunya sehingga normal kembali. Pemuda ini lantas bertanya kepada si pria tampan. Siapa engkau? "Aku Muhammad nabimu." Berilah aku wasiat? "Jangan ngangkat kaki kecuali dg baca salawat." Kiai Jamal melanjutkan, sebelum haji tahun 1990, dia dipeseni Kiai Jalil Tulungagung agar selama haji banyak baca salawat syadziliyah. Dia pun menjalankannya. Pas di Mekkah, ternyata barengan tragedi terowongan Mina dimana ribuan orang wafat. "Alhamdulillah kulo selamet," kata Kiai Jamal. Bahkan saat hendak tersesat, selalu saja datang orang yang menunjukkan arah yang benar. Pulang haji, beliau lantas sowan kembali ke Kiai Jalil dan menanyakan siapa orang2 yg muncul tiba2 menunjukkan arah yg benar ketika akan tersesat tersebut. "Itulah rijalul goib," kata Kiai Jamal menirukan jawaban Kiai Jalil. Allahumma solli wa sallim wa barik ala sayyidina Muhammad wa ala alihi wa sohbihi ajmain

Surga Dimana

Di bawah langit yang indah ini Aku belajar melangkah untuk mencari kebahagiaan dunia Langkah-langkah yang ku lalui ku mendapat kan arah jalan untuk mencari kebahagiaan yang di gadang-gadangkan semua orang. Surga. Dari sabda-sabdanya aku mulai menemukan cara untuk mendapatkanya Satu dua langkah ku lewati Tapi aku mulai tak mengerti dengan ajaran yang ku dapat ini Banyak orang yang menghujatnya Sampai ada yang bilang Kafir, Bid'ah. Mana yang benar ? Mana yang salah ? Aku d tengah-tengah orang yang sama-sama islamnya Apakah ini islam ? Harus saling menyalahkan yang lain Untuk menghuni surga yang engkau gadang-gadangkan indah itu.

Anak Ku

Malam ini petir menggelegar Kilat putih menyambar Langit hitam memucat Semakin larut tapi kabar tak kunjung datang Rasanya malam ini aku ketakutan Terbayang wajah nya yang riang Dulu dia suka tidur di sebalah ku memeluk hangat tubuhku Kini engkau pergi Mencari ilmu untuk bekal hidup mu Anak ku ibu sangat merindukan mu dulu ibu menyuapimu tapi engkau enggan makan Tapi kini engkau jauh di sebrang Bagaimana kabar mu nak Apa engkau betah di sana Yang harus jauh dari orang tua Demi menimba ilmu Ibu selalu mendo'akan mu Apa engkau juga mendo'akan ibumu yang semakin mengkriput kulit ini Nak ibu menyayangimu Kabari ibu walau sekecap waktu. Semoga engkau baik-baik di sana nak Dan pulang lah membawa gelar strata satumu untukku Ibu sangat merindukanmu..

Nafsu

setelah hampir sepuluh tahun kami menikah, saya merasa bahwa semua wanita lebih menarik daripada istriku." Syekh itu kemudian menjawab: "Apakah engkau tahu, ada yang jauh lebih parah dari yang kau alami saat ini?" "Tidak." Jawab lelaki itu. "Seandainya, engkau menikahi seluruh wanita di dunia, tanpa terkecuali, maka engkau akan merasa bahwa anjing-anjing yang berkeliaran di jalan jauh lebih menarik bagimu daripada wanita manapun." Syekh itu melanjutkan: "Masalah sesungguhnya bukan terletak pada istrimu, tapi terletak pada hati rakusmu dan mata keranjangmu itu. Mata manusia tidak akan pernah puas, kecuali jika sudah tertutup tanah." Lalu Syekh itu bertanya kembali, "Apakah engkau ingin istrimu kembali seperti dulu, menjadi wanita terindah di dunia ini." "Iya Syekh," jawab lelaki itu dengan perasaan tak menentu. "Pejamkanlah matamu dari hal-hal yang haram.Ketahuilah, orang yang merasa cukup dengan suatu yang halal, maka dia diberikan kenikmatan yang sempurna di dalam barang halal tersebut."

Ibadah yang paling di sukai allah SWT

JANGAN BANGGA DENGAN BANYAK SHALAT, PUASA DAN ZIKIR KRN BELUM MEMBUAT ALLAH SENANG MAU TAHU APA YANG MEMBUAT ALLAH SENANG? Nabi Musa : Wahai Allah aku sudah melaksanakan ibadah. Lalu manakah ibadahku yang membuat Engkau senang ? Allah : Sholat mu itu untukmu sendiri, karena dengan mengerjakan sholat, engkau terpelihara dari perbuatan keji dan munkar. Dzikir ? Dzikirmu itu membuat hatimu menjadi tenang. Puasa ? Puasamu itu melatih dirimu untuk memerangi hawa nafsumu. Nabi Musa : Lalu apa ibadahku yang membuat hatiMu senang ya Allah ? Allah : SEDEKAH, INFAQ dan ZAKAT serta AHLAQUL KARIMAHmu. "Itulah yang membuat Aku senang, karena tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang susah, Aku hadir disampingnya. Dan Aku akan mengganti dengan ganjaran 700 kali" ( Al-Baqarah 261-262) Nah, bila kamu sibuk dengan ibadah ritual dan bangga akan itu maka itu tandanya kamu hanya mencintai dirimu sendiri, bukan Allah. Tapi, bila kau berbuat dan berkorban untuk orang lain serta melunakkan hatimu kepada orang lain maka itu tandanya kau mencintai Allah dan tentu Allah senang karenanya. Buatlah Allah senang maka Allah akan limpahkan rahmat-Nya dengan membuat hidupmu lapang dan bahagia Barokallahu fiikum.

Selasa, 25 Oktober 2016

Biarkan Aku




Biarkan ku
Biarkan aku mencintaimu dengan izin tuhanku
Walau dengan 1000 keraguanku
Biarkan ku tetap menjaga rasa cinta ini
bukan sekarang, tapi nanti
Biarkan ku merangkai seribu tulisan
Hingga kau tau, ini semua untukmu
Biarkan ku memandangmu
Dari pandangan hati yang tak kau ke tahui
Biarkan ku simpan cinta ini
Sampai nanti waktu nya tiba
Biarkan waktu yang membuatku lelah dengan sendirinya karena merindukanmu
Biarkan ku tetap disini
Menanti dirimu datang dan menerima ku
Biarkan ku tetap berdo'a
Untuk meminta cinta tulusmu.

Ungkapan wanita




Ungkapa Wanita
Tidak ada Perempuan yg ingin mengulang hubungan yang baru dengan Laki-laki yg baru lagi.
Belajar merasa nyaman lagi, memberikan pikiran & jiwanya kepada Lelaki baru lagi.
Menceritakan rahasia, pemikiran & emosi kepada Laki-laki baru.
Bertemu dengan orang tua dan berharap akan diterima seperti hubungan sebelumnya.
Melawan semua isu & percaya pada Laki-laki lagi, membuka hati & belajar mencintai sepenuh hati lagi.
Itu mengapa Perempuan bertahan dengan Laki-laki yg sedang bersama mereka sekarang.
Tidak peduli seberapa buruk itu.
Karena Laki-laki yg sedang bersama Dia itu telah melewati semua bersamanya.

Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern

  Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern Pendahuluan Ketika arus modernisasi menghujani dunia Islam, proses modern...