Rabu, 24 Oktober 2018

Penelitian Tindakan Kelas : Pengertian Populasi


Populasi berasal dari kata bahasa inggris population, yang berarti jumlah penduduk. Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2013: 117).
Menurut Nazir (1983:327) mengatakan bahwa popuasi adalah berkenaan dengan data bukan barang atau bendanya. Pengertian lainnya, diungkapkan oleh Nawawi yang menyebutkan bahwa populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai tes, atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber
data yang memiliki karaktersitik tertentu di dalam suatu penelitian. Sedangkan Ridwan (2002: 3) mengatakan bahwa populasi adalah keseluruhan dari karakteristik atau unit hasil pengukuran menjadi objek penelitian.
Menurut Margono (2010:118) populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan.
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya dalam Sugiyono (2006:117)
Menurut Muri (2007:182) secara umum dapat dikatakan beberapa karakteristik populasi adalah:
a. Merupakan keseluruhan dari unit analisis sesuai dengan informasi yang akan diinginkan.
b. Dapat berupa manusia/individu, hewan, tumbuh-tumbuhan, benda-benda atau objek maupun kejadian-kejadian yang terdapat dalam suatu area/ daerah tertentu yang telah ditetapkan.
c. Merupakan batas-batas (boundary) yang mempunyai sifa-sifat tertentu yang memungkinkan peneliti menarik kesimpulan dari keadaan itu.
d. Memberikan pedoman kepada apa atau siapa hasil penelitian itu dapat digeneralisasikan.
2.    Jenis-Jenis Populasi
Menurut Muri (2007:183) Populasi digolongkan menjadi dua jenis, yaitu:
a.    Populasi terbatas (definite) yaitu objek penelitiannya dapat dihitung, seperti luas sawah, jumlah ternak, jumlah murid, dan jumlah mahasiswa.
b.    Populasi tak terbatas (infinite) yaitu objek penelitian yang mempunyai jumlah yang tak terbatas, atau sulit dihitung jumlahnya; seperti pasir di pantai.
Disamping itu persoalan populasi bagi suatu penelitian harus dibedakan ke dalam sifat berikut ini:
a.    Populasi yang bersifat homogen, yakni populasi yang unsur-unsurnya memiliki sifat yang sama, sehingga tidak perlu dipersoalkan jumlahnya secara kuantitatif. Misalnya seorang dokter yang akan melihat golongan darah seseorang, maka ia cukup mengambil setetes darah saja.
b.    Populasi yang bersifat heterogen, yakni populasi uang unsur-unsurnya memiliki sifat atau keadaan yang bervariasi, sehingga perlu ditetapkan batas-batasnya, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
B.    Sampel
1.    Pengertian Sampel
Menurut Muri (2007:186) secara sederhana dapat dikatakan bahwa sampel adalah sebagian dari populasi yang terpilih dan mewakili populasi tersebut. Sedangkan menurut Suharsimi (2002:109), sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.
Beberapa pendapat ahli tentang pengertian sampel adalah sebagai berikut:
a.    Sax (1979: 181) mengemukakan bahwa sampel adalah suatu jumlah yang terbatas dari unsur-unsur yang terpilih dari suatu populasi, unsur-unsur tersebut hendaklah mewakili populasi.
b.    Warwick (1975:69) mengemukakan pula bahwa sampel adalah sebagian dari suatu hal yang luas, yang khusus dipilih untuk mewakili keseluruhan.
c.    Kerlinger (1973:118) menyatakan: Sampling is taking any portion of a population or universe as representative of that population or universe.
d.    Leedy (1980:111) mengemukakan bahwa sampel dipilih dengan hati-hati sehingga dengan melalui cara sedemikian peneliti akan dapat melihat karakteristik total populasi.
Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi betul-betul representatif (mewakili).
2.    Ciri-Ciri Sampel yang Baik
Berangkat dari berbagi pendapat yang telah diutarakan di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri sampel yang baik adalah:
a.    Sampel dipilih dengan cara hati-hati; dengan menggunakan cara tertentu dan benar.
b.    Sampel harus mewakili populasi, sehingga gambaran yang diberikan mewakili keseluruhan karakteristik yang terdapat pada populasi.
c.    Besarnya ukuran sampel hendaknya mempertimbangkan tingkat kesalahan sampel yang dapat ditolerir dan tingkat kepercayaan yang dapat diterima secara statistik.
3.    Alasan Sampling
Adapun alasan-alasan penelitian dilakukan dengan mempergunakan sampel menurut Sudjana (2002:161) adalah :
a.    Ukuran populasi
Dalam hal populasi tak terbatas (tak terhingga) berupa parameter yang jumlahnya tidak diketahui dengan pasti, pada dasarnya bersifat konseptual. Karena itu  sama sekali tidak mungkin mengumpulkan data dari populasi seperti itu. Demikian juga dalam populasi terbatas (terhingga) yang jumlahnya sangat besar, tidak praktis untuk mengumpulkan data dari populasi 50 juta murid sekolah dasar yang tersebar diseluruh pelosok Indonesia misalnya.

b.    Masalah biaya
Besar-kecilnya biaya tergantung juga dari banyak sedikitnya objek yang diselidiki. Semakin besar jumlah objek, maka semakin besar biaya yang diperlukan, lebih–lebih bila objek itu tersebar diwilayah yang cukup luas. Oleh karena itu, sampling ialah satu cara untuk mengurangi biaya.
c.    Masalah waktu
Penelitian sampel selalu memerlukan waktu yang lebih sedikit daripada penelitian populasi. Sehubungan dengan hal itu, apabila waktu yang tersedia terbatas, dan kesimpulan diinginkan dengan segera, maka penelitian sampel, dalam hal ini, lebih cepat.
d.    Percobaan yang sifatnya merusak
Banyak penelitian yang tidak dapat dilakukan pada seluruh populasi karena dapat merusak atau merugikan. Misalnya, tidak mungkin mengeluarkan semua darah dari tubuh seseorang pasien yang akan dianalisis keadaan darahnya, juga tidak mungkin mencoba seluruh neon untuk diuji kekuatannya. Karena itu penelitian harus dilakukan hanya pada sampel.
e.    Masalah ketelitian
Adalah salah satu segi yang diperlukan agar kesimpulan cukup dapat  dipertanggung jawabkan. Ketelitian ,dalam hal ini, meliputi pengumpulan, pencatatan, dan analisis data. Penelitian terhadap populasi belum tentu ketelitian terselengar. Boleh jadi peneliti akan menjadi bosan dlam melaksanakan tugasnya. Untuk menghindarkan itu semua, penelitian terhadap sampel memungkinkan ketelitian dalam suatu penelitian.
f.    Masalah ekonomis
Pertanyaan yang harus selalu diajukan oleh seseorang penelitian; apakah kegunaan dari hasil penelitian sepadan dengan biaya ,waktu, dan tenaga yang telah dikeluarkan? Jika tidak, mengapa harus dilakukan penelitian? Dengan kata lain penelitian  sampel pada dasarnya akan lebih ekonomis daripada penelitian populasi
4.    Keuntungan Penggunaan Sampel
Ada beberapa keuntungan jika kita menggunakan sampel, yaitu
a) Biaya menjadi berkurang
b) Lebih cepat dalam pengumpulan dan pengolahan data
c) Lebih akurat
d) Lebih luas ruang cakupan penelitian
5.    Cara Pengambilan Sampel atau Teknik Sampling
Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel. Teknik sampling pada dasarnya dikelompokan menjadi dua yaitu Probability Sampling dan Non Probability sampling. Probability sampling meliputi, simple random, proportionate stratified random, disproportionate stratified random, dan area random. Non Probability sampling meliputi sampling sistematis, sampling kuota, sampling aksidental, purposive sampling, sampling jenuh dan snowball sampling (Sugiyono, 2012:81).
a.    Probability Sampling
Probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi dipilih untuk menjadi anggota sampel. Teknik ini meliputi:
1)    Simple Random Sampling
Dikatan simple (sederhana) karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada salam populasi itu. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen.
2)    Proportionate Stratified random sampling
Teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional.
3)    Disproportionate Stratified Random Sampling
Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi berstrata tetapi kurang proporsional.
4)    Cluster Sampling (Area Sampling)
Sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila objek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, missal penduduk suatu negara, propinsi atau kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikan sumber data, maka pengambilan sampelnya berdasarkan daerah populasi yang telah ditetapkan.
Tempat sampling daerah ini sering digunakan melalui dua tahap, yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah, tahap berikutnya menentukan orang-orang yang ada pada daerah itu secra sampling juga.
b.    Nonprobability Sampling
Nonprobability Sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberikan peluang atau kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik sampel ini meliputi:
1)    Sampling Sistematis
Sampling sistematis adalah teknik pengambilan sambil berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya anggota populasi yang terdiri dari 100 orang, dari semua anggota itu diberi nomot urut yaitu nomor 1 sampai dengan nomor 100. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor ganjil saja, genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya kelipatan dari bilangan lima.
2)    Sampling Kuota
Sampling kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan. Sebagai contoh, akan melakukan penelitian tentang pendapat masyarakat terhadap pelayanan masyarakat dalam urusan izin mendirikan bangunan. Jumlah sampel yang ditentukan 500 orang. Lalu pengumpulan data belum didasarkan pada 500 orang tersebut, maka penelitian dipandang belum selesai, karena belum memenuhi kuota yang ditentukan.
3)    Sampling Insidental
Sampling insidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan/incidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.
4)    Sampling Purposive
Sampling purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Misalnya akan melakukan penelitian tentang kualitas makanan, maka sampel sumber datanya adalah orang yang ahli makanan. Sampel ini lebih cocok digunakan pada penelitian kualitatif.
5)    Sampling Jenuh
Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila populasi yang relative kecil, kurang dari 30 orang, atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil. Istilah lain sampel jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel.
6)    Snowball Sampling
Snowball sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian membesar. Ibarat bola salju yang menggelinding yang lama-lama menjadi besar. Dalam penentuan sampel, pertama-tama dipilih satu atau dua orang tetapi dengan dua  orang ini belim merasa lengkap terhadap data yang diberikan maka peneliti mencari orang yang lebih tahu dan dapat melengkapi data yang diberikan oleh dua orang sebelumnya. Penelitian kualitatif banyak menggunakan purposive dan snowball.

Senin, 22 Oktober 2018

Azaz-azaz Penelitian Tindakan Kelas


Penelitian Tindakan Kelas merupakan jenis penelitian yang masih relatif baru dalam dunia penelitian. Karena masih relatif baru, maka di sini penulis mencoba menuliskan tentang azas-azas Penelitian Tindakan Kelas. Ada sejumlah ahli yang mengemukakan azas-azas atau prinsip-prinsip Penelitian Tindakan Kelas secara berbeda yang seharusnya diperhatikan dan dipegang teguh dalam Penelitian Tindakan Kelas.
Suharsimi Arikunto (2007) mengemukakan azas atau prinsip-prinsip Penelitian Tindakan Kelas, yaitu sebagai berikut:

1.      Azas Kegiatan Nyata Dalam Situasi Rutin
Penelitian tindakan kelas hendaknya dilakukan tanpa mengubah situasi rutin sesuai dengan aslinya. Jika penelitian tindakan kelas dilakukan dalam situasi lain, maka hasilnya tidak dapat dijamin dapat diterapkan lagi dalam situasi aslinya. sebab hasil penelitian yang tidak diperoleh dari situasi rutin akan menjadi tidak wajar atau tidak alami. oleh karena itu penelitian tindakan kelas tidak perlu diadakan dalam waktu khusus, tidak perlu mengubah jadwal pembelajaran yang sudah ada, melainkan melebur dengan jadwal pembelajaran yang sudah ada sesuai dengan jadwal yang telah ada. kelebihan dari cara demikian ini adalah ketika guru melakukan penelitian tindakan kelas tidak menimbulkan kerepotan bagi kepala sekolah, wakil kepala sekolah bagian kurikulum, wali kelas dan juga siswanya sendiri karena tidak mengubah jadwal yang sudah ada.
berdasarkan azas ini maka penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh  guru harus yang terkait dengan profesi guru, yaitu yang terkait langsung dengan proses pembelajaran.

2.      Azas Kesadaran Diri untuk Memperbaiki Kinerja
           Dasar filosofi dari penelitian tindakan kelas adalah bahwa manusia itu pada dasarnya tidak senang dengan sesuatu yang bersifat statis. sesuatu yang bersifat statis itu akan cenderung membosankan sehingga manusia cenderung menginginkan sesuatu yang lebih baik. Untuk mencapai sesuatu yang lebih baik ini tentunya perlu ada upaya kegiatan yang dilakukan secara berkelanjutan dan sifatnya terus meningkat. dalam konteks penelitian tindakan kelas hendaknya guru melakukan bukan karena adanya permintaan apalagi paksaan dari pihak lain, misalnya kepala sekolah, melainkan atas dasar  kesadaran yang timbul darti dalam diri sendiri.  Dengan kesadaran diri ini berarti guru dalam melakukan penelitian


tindakan kelas dilandasi oleh kesukarelaan, senang hati, pengharapan, dan kesungguhan untuk mewujudkan proses dan hasil pembelajaran yang lebih baik daripada yang selama ini

dilakukan. Guru juga melakukan penelitian tindakan kelas karena memiliki kesadaran mendalam bahwa ada kekurangan-kekurangan yang ada pada dirinya, kinerjanya selama ini, dan didorong oleh keinginan yang kuat untuk memperbaikinya.


3.      Azaz Analisis SWOT
        SWOT merupakan singkatan dari “Strength (S), Weakness (W), Oppurtunity (O), Threat (T)”. Strength berarti kekuatan, Weakness berarti kelemahan, Oppurtunity berarti kesempatan atau peluang, dan Threat berarti ancaman. Dalam penelitian tindakan kelas, pihak yang dianalisis dengan menggunakan empat unsur SWOT harus meliputi guru  yang melaksanakan tindakan dan siswa yang dikenakan tindakan. analisis ini digunakan untuk menunjukkan bahwa penelitian tindakan kelas sesungguhnya dilakukan secara serius sejak awal perencanaan, selama pelaksanaan, dan menganalisis serta  pemaknaan terhadap hasil tindakan. Artinya dalam serangkaian penelitian tindakan kelas itu, kekuatan-kekuatan dan  kelemahan-kelemahan yang ada dari guru, siswa dan proses pembelajaran selama ini harus dianalisis secara cermat. Kesempatan/peluang serta ancaman merupakan analisis cermat terhadap factor-faktor yang diluar guru dan siswa. Artinya, guru dalam merancang suatu tindakan harus mempertimbangkan unsur-unsur yang dapat dimanfaatkan dan sebaliknya juga harus mempertimbangkan kemungkinan ancaman atau bahaya yang dapat mengganggu proses penelitian.

4.      Azas Empiris dan Sistematis
            Proses pembelajaran yang sesungguhnya merupakan suatu sistem yang mengandung dan melibatkan banyak unsur. Unsur-unsur yang terlibat dan membentuk suatu sistem pembelajaran itu sebenarnya yang  dimaksud dengan empiri pembelajaran.  Empiri  itu artinya kondisi nyata pengalaman keseharian dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu penelitian tindakan kelas harus menemu-kenali, memahami, mencermati dan menganalisis empiri pembelajaran itu sebagai suatu sistem; tidak boleh terpisah-pisah ibarat serpihan-serpihan pembelajaran. Jadi, agar penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh guru dapat memperbaiki proses pembelajaran dan pada akhirnya memperoleh hasil pembelajaran secara berkualitas, harus memperhatikan semua unsur-unsur  yang saling terkait  dalam suatu proses pembelajaran.

5.      Azas SMART dalam Perencanaan

          SMART ini merupakan singkatan dari “Spesific (S), Managable (M), Acceptable dan Achievable (A), Realistic (R), Time –Bound (T). Berikut ini penjelasan masing-masing dalam kaitannya dengan penelitian tindakan kelas.
Specific, arti katanya adalah khusus, tidak terlalu umum. Ini mengandung makna bahwa guru sebagai peneliti dalam penelitian tindakan kelas, dalam merencanakan tindakan bersifat

khusus dan tidak terlalu luas. Dengan  cara demikian, guru dalam nelakukan penelitian tindakan kelas tidak terlalu repot, tidak terlalu kesulitan, siswapun bisa lebih terfokus, dan akhirnya dapat membawa pada peningkatan hasil belajar secara maksimal.
Managable,  arti katanya adalah mudah dikelola atau mudah  dilakukan. Ini mengandung makna bahwa guru sebagai penliti dalam merencanakan penelitian tindakan kelas harus

memilih yang mudah  dilakukan, tidak menyulitkan diri sendiri, tidak berbelit-belit. Contohnya: tidak menyulitkan dalam melakukan tindakan, tidak menyulitkan dalam melaksanakan observasi  atau  pengumpulan datanya, dan tidak kesulitan dalam mengoreksi atau menganalisis  hasilnya.
Acceptable, arti katanya dapat diterima oleh lingkungan, sedangkan Achievable arti katanya dapat dicapai atau dapat di jangkau. Hal  ini mengandung makna bahwa guru sebagai peneliti dalam melakukan penelitian tindakan kelas dapat diterima oleh siswa sebagai subjek yang dikenai tindakan. Artinya siswa yang dikenai tindakan tidak mengeluh karena adanya tindakan kelas yang dilakukan  oleh guru serta tidak mengganggu lingkungan sekolah. Selain itu, tindakan yang dilakukan oleh guru dan diterima oleh siswa yang dikenai tindakan juga dapat di jangkau atau dicapai oleh guru itu sendiri maupun oleh siswa.
Realistic, arti katanya adalah sesuai dengan kemampuan atau tidak di luar jangkauan. Ini  mengandung makna bahwa guru sebagai peneliti dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas tidak terlalu muluk-muluk, tidak terlalu rumit, tidak menyimpang dari kenyataan yang ada disekolah, dan bermanfaat bagi peningkatan kualitas subjek yang dikenai tindakan. Artinya dengan melaksanakan tindakan yang tidak terlalu  rumit, tetapi dapat memperbaiki kualitas proses pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar siswa.
Time-Bound, arti katanya adalah terikat oleh waktu atau dibatasi oleh waktu. Ini mengandung makna bahwa guru sebagai peneliti dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas harus memiliki perencanaan waktu yang jelas. Batasan waktu ini sangat penting agar guru dapat merencanakan tindakan yang tepat dan hasil bagi peningkatan kualitas proses pembelajaran maupun  hasil belajar siswa bisa diperkirakan dengan jelas.


Sementara itu ahli lainnya yaitu Winter, R (1989) dalam bukunya yang berjudul “Learning From Experience: Principles and Practice in Action Research” menyatakan ada enam asas yang menuntut pelaksanaan penelitian tindakan : (1) kritik refleksif, (2) kritik

dialektis, (3) sumber daya kolaboratif, (4) resiko, (5) struktur majemuk, dan (6) teori, praktek, transformasi.

1. Kritik Refleksif
Refleksi merupakan proses berpikir yang memerlukan kemampuan untuk berpikir bolak-balik antara induksi deduksi. Dalam berpikir reflektif lebih menuntut kecerdasan dan kecakapan dalam menangkap makna dan esensi dari sesuatu. hasil kerja refleksi yang bermutu biasanya cenderung lebih dalam kebermaknaannya daripada kerja induksi atau deduksi. Oleh karena itu

menurut Muhammad Asrori (2008) azas kritik reflektif dalam penelitian tindakan kelas adalah bahwa dalam melakukan penelitian tindakan kelas seorang guru harus mampu mencermati, merenungkan dam menganalisis secara cerdas terhadap tindakan yang telah dilakukan dalam proses pembelajaran sehingga ditemukam aspek-aspek yang masih perlu dilakukan perbaikan dan peningkatan kualitasnya pada tindakan berikutnya.

Pada dasarnya prosedur membuat kritik refleksif memiliki tiga langkah : (a) mengumpulkan catatan-catatan yang telah dibuat oleh peserta penelitian tindakan atau pihak berwenang, seperti catatan lapangan, transkrip wawancara, pernyataan tertulis darai peserta, atau dokumen resmi, (b) menjelaskan dasar refleksi catatan-catatan, sehingga (c) pernyataan dapat ditransformasi menjadi pernyataan sederet alternatif yang mungkin dapat disarankan, yang beberapa penafsiran tertentu tidak terpikir sebelumnya.
Peneliti hendaknya tidak langsung mempercayai sejumlah data yang diperoleh. Peneliti hendaknya berpikir: apakah data benar-benar cocok dengan fakta? Apakah generalitas itu benar dengan memperhatikan serentetan dugaan dan penilaian yang mendasari penafsiran. Hal ini memungkinkan dibuatnya sejumlah pernyataan alternatif yang relevan (gayut) dan penting. Kritik refleksif memungkinkan dikemukakannya sederet argumen dan diskusi. Hal ini berbeda dengan penelitian tradisional yang menyatakan data harus cocok dengan fakta-fakta dan data terpercaya.

2.      Azas Kritik Dialektis
Metode positivisme menyarankan kita untuk mengamati gejala secara menyeluruh dan membatasi secara pasti agar dapat mengidentifikasi sebab dan akibatnya. Pendekatan ini mengharuskan peneliti melakukan kritik terhadap gejala yang ditelitinya. Hal ini memerlukan pemeriksaan (a) konteks hubungan secara menyeluruh yang merupakan satu kesatuan

meskipun ada pemisahan yang jelas, (b) struktur kontradiksi internal –dibalik kesatuan yang jelas- yang memungkinkan adanya kecenderungan untuk berubah meskipun ia stabil.
Kritik dialektis dapat dilakukan dengan peneliti memusatkan pada salah satu atau tiga karakteristik dari perangkat gejala tersebut, yaitu : (a) terpisah tetapi dalam konteks hubungan yang perlu ada, (b) ika tetapi bhineka; peneliti peneliti perlu mencari keikaan diantara
perbedaan yang tampak jelas dan kontradiksi yang tersembunyi dibalik keikaan yang tampak jelas, (c) cenderung berubah; peneliti menangkap isyarat bahwa sesuatu berubah di masa datang.

3.      Azas Sumber Daya Kolaboratif
Apa peran saya sebagai peneliti? Hubungan macam apa yang harus saya ciptakan dengan pimpinan sekolah, murid, teman sejawat yang tertarik, dan semua sumber data? Bagaimana saya berusaha agar obyektif? Pertanyaan tersebut merupakan cara kita untuk memahami asas ini.
Peneliti atau guru yang sedang melaksanakan penelitian harus menyadari bahwa guru atau peneliti merupakan bagian dari yang diteliti. Guru bukan hanya pengamat, tetapi terlibat langsung dalam proses situasi tersebut. Proses kerja sama kolaborasi antara anggota peneliti memungkinkan proses itu berlangsung. Kolaborasi dimaksudkan bahwa untuk melengkapi ketuntasan pemahaman terhadap situasi penelitian. Maka beberapa orang akan memberikan kelengkapan pemahaman yang lebih tuntas dibandingkan dengan pemahaman yang hanya

dilakukan oleh satu orang. Seorang guru dapat memiliki pertimbangan dan pemahaman yang lebih baik. Jika ia memperoleh pandangan dan pertimbangan dari teman atau kepala sekolah.
Kolaborasi dapat dilakukan secara efektif, jika peneliti semenjak awal telah mengadakan berbagai kesepakatan dengan berbagai pihak yang dapat membantu dalam proses penelitiannya. Berbagai sudut pandang dari berbagai orang atau pengamat akan memberikan sudut pandang yang lebih komprehensif. Penggunaan kolaborasi bukan berarti memadukan semua sudut pandang untuk memperoleh kesepakatan melalui evaluasi. Ragam perbedaan sudut pandang dan persepsi akan memperkaya sumber daya dan melalui sumber daya itulah peneliti atau guru analisanya dapat bergerak bergeser keluar dari titik awal pribadi yang terhindarkan menuju gagasan yang secara antar pribadi telah dinegosiasikan. Dengan sudut pandang guru dapat dilengkapi termasuk sudut pandang siswa.
Dengan upaya kolaboratif, keobjektifan memiliki empat pengertian, yaitu : (a) proses kolaborasi berfungsi sebagai tantangan terhadap objektivitas seseorang, (b) proses kolaboratif melibatkan pemeriksaan hubungan antar data, (c) keluaran proses tersebut adalah sederet analisis yang didasari hubungan yang melekat dan diperlukan baik logis maupun empirik, (d) keluaran proses tersebut berupa usulan praktis yang didasari pemikiran objektif.



4.      Azas Resiko
Asas ini berarti bahwa pemrakarsa penelitian harus berani mengambil resiko melalui proses penelitiannya. Salah satu resikonya adalah melesetnya hipotesis, kemungkinan adanya tuntutan melakukan transformasi, adalah (a) penafsiran sementara peneliti tentang situasinya yang sekedar menjadi sumber daya bersama-sama dengan penafsiran anggota lainnya, (b) keputusan peneliti yang terkait dengan persoalan yang dihadapi, dengan demikian tentang apa yang gayut dan apa yang tidak, (c) antisipasi peneliti terhadap urutan kejadian yang akan dilalui oleh penlitinya.

5.      Azas Struktur Majemuk
Laporan secara konvensional adalah meringkas dan menyatukan, bersifat linear dan menyajikan kronologi peristiwa atau urutan sebab akibat, disajikan dengan suara tunggal penulisnya yang mengatur bukti mendukung kesimpulannya, sehingga laporannya tampak berwenang dan meyakinkan pembaca. Struktur kesatuan ini adalah format yang cocok untuk penelitian aliran positivis.

Berbeda dengan karakteristik laporan penelitian konvensional, laporan Penelitian Tindakan Kelas memiliki struktur majemuk. Hal ini berhubungan dengan sifat penelitian tindakan yang dialektis, reflektif, mempertanyakan dan kolaboratif.
Struktur majemuk ini berhubungan dengan gagasan bahwa gejala yang diteliti harus mencakup unsur pokok agar menyeluruh. Misal; jika penelitian menyangkut murid, teman, interaksi pembelajaran. Jadi kajian situasi harus mengandung data yang berhubungan dengan semua itu, karena masing-masing hanya dapat ditafsirkan dalam konteks yang diciptakan oleh
unsur-unsur lain. Laporan majemuk ini dapat memenuhi dapat memenuhi kebutuhan berbagai kelompok pembaca.

6.      Azas Teori, Praktek, Transformasi
Terpisahnya teori dan praktik dalam penelitian konvensioanl dijembatani oleh penelitian tindakan dengan meninggalkan konsepsi-konsepsi positivis tentang penelitian tindakan. Langkah pertama menekankan bahwa teori dan praktik bukan dua dunia yang berbeda, melainkan dua tahap yang berbeda yang saling bergantung dan mendukung proses perubahan.

Pengertian Logika : Filsafat Pendidikan


Logika adalah Ilmu tentang berfikir secara rasional untuk mencari kebenaran. Bagian dari filsafat yang objek penyelidikannya adalah budi atau akal.
Budi adalah salah satu sifat yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa kepada manusia yang juga disebut sebagai hati nurani atau budi nurani. Budi nurani adalah pencerminan terbatas dari Tuhan Yang Maha Esa , maka dalam logika yang namanya Budi itu tidak hanya diselidiki tetapi juga sebagai alat.
Pengertian Logika Menurut Para Pakar:
Drs. Hasbullah. Bakry Menyatakan di dalam bukunya “Sistematika Filsafat” Logika adalah ilmu yang mengatur penelitian hukum-hukum akal manusia sehingga menyebabkan pikiran dapat mencapai kebenaran.
Logika ilmu yang mempelajari pekerjaan akal yang dipandang dari jurusan benar dan salah.
Logika adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari aturan-aturan dan cara berfikir yang dapat menyampaikan manusia kepada kebenaran
Predjowiyatna, Yang dimaksud logika adalah Filsafat Budi yang mempelajari teknik berfikir untuk mengetahui bagaimana manusia berfikir dengan semestinya atau dengan seharusnya.
Fungsi budi disini salah satu sifat yang diberikan Tuhan YME untuk mencari kebenaran, Budi teknik berfikir, hati kecil.
Drs. Soemardi Soeryabrata
Logika adalah salah satu cabang filsafat, kata logika menunjukkan berbagai arti dalam filsafat dapat dibagi menjadi 6 arti pokok :
Logika sebagai ajaran berfikir;
Logika sebagai ajaran tentang pernyataan yang tertib dan jelas;
Logika sebagai ajaran ilmu pengetahuan;
Logika sebagai teknik ilmu pengetahuan;
Logika sebagai teori pengetahuan;
Logika sebagai metafisika akal;



B. Hubungan logika dengan ilmu-ilmu lainnya

1. Hubungan logika dengan Bahasa
Bahasa Dalam Logika
Bahasa adalah alat untuk menyampaikan isi hati atau pikiran seseorang sehingga dengan bahasa, orang lain dapat mengerti tentang isi hati atau pikiran yang disampaikan, misalnya melalui bahasa isyarat , tertulis atau lisan. Jadi bahasa adalah alat komunikasi. Komunikasi dapat lancar apabila permasalahannya disusun dalam bentuk kaidah bahasa yang baik dan benar. Ini dipelajari dalam ilmu bahasa (gramatika). Ilmu bahasa menyajikan kaidah penyusunan bahasa yang baik dan benar.
Dan logika meyajikan tata cata kaidah berpikir secara lurus dan benar / bisa disebut sebagai jembatan berfikir. Oleh karena itu, keduanya saling mengisi. Bahasa yang baik dan benar dalam praktik kehidupan sehari-hari hanya dapat tercipta apabila ada kebiasaan atau kemampuan dasar setiap orang untuk berpikir logis. Sebaliknya, suatu kemampuan berpikir logis tanpa memiliki pengetahuan bahasa yang baik maka ia tidak akan dapat menyampaikan isi pikiran itu kepada orang lain. Oleh sebab itu, logika sangat berhubungan erat dengan bahasa.
2. Hubungan dengan Ilmu Psikologi
Dalam Psikologi membicarakan perkembangan pikiran tentang pengalaman melalui proses subjektif di dalam jiwa. Dengan demikian, Psikologi memberikan keterangan mengenai sejarah perkembangan berfikir. Logika sebagai cabang filsafat bertujuan membimbing akal untuk berfikir (bagaimana seharusnya). Untuk dapat berfikir bagaimana seharusnya, kita terlebih dahulu harus mengetahui tentang bagaimana manusia itu berfikir. Di sinilah letak hubungan antara Psikologi dan Logika.
Logika berfungsi memikirkan segala sesuatu tentang jiwa manusia. Maka fungsi logika adalah untuk membahas proses yang berfikir dengan kejiwaan manusia.
Psikologi memberikan keterangan mengenai sejarah perkembangan berpikir.
Psikologi memberikan gambaran bagaimana manusia berpikir.
Sementara logika adalah cabang filsafat yang bertujuan membimbing akal untuk berpikir (bagaimana seharusnya).
Contoh Kasus: Anggota DPR adalah manusia
                        Koruptor kebanyakan anggota DPR
                        Hukuman bagi koruptor sangatlah ringan
Jadi: Anggota DPR melakukan korupsi karena hukumannya ringan.
3. Hubungan dengan Ilmu Metafisika
Metafisika adalah cabang filsafat yang mempelajari hakikat realitas. Hakikat realitas dapat dicari dan ditemukan di balik sesuatu yang tampak atau nyata. Oleh sebab itu, metafisika selalu mencari kebenaran/hakikat realitas di balik yang tampak dan nyata. Sikap seperti itu adalah kritis, yaitu sikap yang selalu ingin tahu dan membuktikan segala sesuatu yang sudah atau selalu dianggap benar. Teori dalm metafisika bahwa kenyataan kebenaran/hakikat realitas bukanlah apa yang tampak, tetapi apa yang berada di balik yang tampak.
Dalil-dalil, hukum dalam logika bagi metafisika buka apa yang telah dirumuskan yang menjadi hakikat kebenaran, tetapi apa yang ada di balik rumusan tersebut. Dengan demikian bagi logika, metafisika merupakan kritik terhadap dalil dan hukum-hukumnya. Semakin erat hubungan metafisika dengan logika, kebanran logis semakin dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, kebenaran lois mendekati pada hakikat realitas, semakin mampu berpikir logis, orang tidak mudah tertipu oleh kebenaran yang tampak (Iriyanto widisuseno, 1995).
4. Hubungan dengan Epistemologi (Dasar Pengetahuan)
Epistemologi (filsafat ilmu) adalah pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Ia merupakan cabang filsafat yang membahas tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, sarana, metode atau cara memperoleh pengetahuan, validitas dan kebenaran pengetahuan. Perbedaan landasan ontologik menyebabkan perbedaan dalam menentukan metode yang dipilih dalam upaya memperoleh pengetahuan yang benar. Akal, akal budi, pengalaman, atau kombinasi akal dan pengalaman, intuisi, merupakan sarana mencari pengetahuan yang dimaksud dalam epistemologik, sehingga dikenal model‑model epistemologik seperti rasionalisme, empirisme, rasionalisme kritis, positivisme, fenomenologi dan sebagainya.
Jika seseorang ingin membuktikan kebenaran suatu pengetahuan maka cara, sikap, dan sarana yang digunakan untuk membangun pengetahuan tersebut harus benar. Apa yang diyakini atas dasar pemikiran mungkin saja tidak benar karena ada sesuatu di dalam nalar kita yang salah. Demikian pula apa yang kita yakini karena kita amati belum tentu benar karena penglihatan kita mungkin saja mengalami penyimpangan. Itulah sebabnya ilmu pengetahan selalu berubah-ubah dan berkembang. hubungan logika dengan epistemology adalah sama-sama dari cabang besar filsafat, yaitu teori pengetahuan. Epistemologi merupakan pengetahuan dari segi isinya, sedangkan logika merupakan kebenaran ditinjau dari segi bentuknya. Ini tertuang dalam cabang besar filsafat yaitu    :
a) Persoalan keberadaan atau eksistensi, yaitu metafisika.
b) Persoalan pengetahuan atau kebenaran, yaitu epistemology dan logika.
c) Persoalan nilai, yaitu etika dan estetika.

5. Hubungan Logika Dan Ilmu Agama
“Logika memberikan kepada kita cara berfikir yang benar dan logika juga memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan, sedangkan agama memberikan cinta, harapan dan kehangatan, agama juga mebawa pada revolusi spritual.
Setidaknya ada beberapa hubungan logika dan ilmu agama yaitu :
a) Unsur yang Baik
            Hubungan logika dan ilmu agama dari segi yang baik dalam arti logika memberikan     dukungan terhadap permasalahan agama, ini berkaitan dengan beberapa permasalahan diantaranya;
logika dapat berperan dalam proses pembentukan hukum ini berkaitan dengan ilmu ushul fiqh,
logika dapat membantu dalam proses perkembangan ilmu agama dalam memberikan pembaharuan dalam soal tafsir.
logika dapat berperan dalam proses pembentukan hukum ini berkaitan dengan ilmu ushul fiqh.Sebagaimana yang kita ketahui logika adalah alat analisis dalam proses berpikir, lantas pertanyannya adalah apa kegunaan logika dalam ilmu agama? Logika memiliki peran yang penting dalam penarikan kesimpulan yang dilaku oleh para ahli agama dari premis-premis atau kesimpulan yang ada dalam al-qur’an yang merupakan sumber dasar dari ahli agama,
 contohnya; dalam al-qur’an terdapat keterangan bahwa “khomer dan anggur itu haram”. Kata “khomer dan anggur itu haram” kata ini dalam logika ini namanya kesimpulan, kalau kata “khomer dan anggur itu haram” adalah kesimpulan, lalu premis mayor dan premis minornya kata apa? Ya tetunya kita buat premis manyor dan premis minornya. Karena alasan atau asbab al-nujul di haramkan khamer dan anggur itu memabukkan, jadi premis mayornya adalah “semuah yang memabukkan itu haram” dan premis minornya adalah “khamer dan anggur itu memabukkan”.
Premis Mayor : Semuah Yang Memabukkan Itu Haram
Premis Minornya : Khamer Dan Anggur Itu Memabukkan
Kesimpulanya : Khomer Dan Anggur Itu Haram
Ini merupakan contoh yang sederhana, yang menggambarkan pentingnya logika dalam hubungannya dengan ilmu agama dan masih sangat banyak peran logika dalam menganalisa kajian keagamaan. Keterangan-keterangan di atas merupakan contoh kecil dari kegunaan logika, masih banyak contoh-contoh yang lain, seperti dalam ilmu usul fiqh, ilmu hadis, kalam dan lain sebagainya.

Pengertian Administrasi Kelas


Kata “administrasi” berasal dari bahasa latin yang terdiri atas kata ad dan ministrare. Kata ad mempunyai arti yang sama dengan kata to dalam bahasa inggris, yang berarti “ke” atau “kepada”. Dan ministrare sama artinya dengan kata to serve atau to conduct yang berarti “melayani”, “membantu”, atau mengarahkan”. Dalam bahasa inggris to administer berarti pula “mengatur”, “memelihara” (to look after), dan “mengarahkan ” .
Jadi Kata “Administrasi” adalah pegangan selama mengajar, guru didalam kelas administrasi adalah perangkat pengajar menjadi guru professional yang harus dimiliki guru. Daoed Yusuf (19880).
Kesimpulannya, Guru yang profesional dalam pendidikan tidak hanya sebatas mengajar,akan tetapi juga menyangkut dengan membimbing, dan berkaitan dengan administrasi sekolah yang mencakup ketatalaksanaan bidang pengajaran dan mengelola sekolah, memanfaatkan prosedur dan mekanisme pengelolaan tersebut untuk melancarkan tugasnya, serta bertindak sesuai dengan etika jabatan.
B. Peranan Guru sebagai pemegang Administrasi Kelas

Proses pembelajaran berhasil dan mutu pendidikan dapat meningkat apabila guru mampu memahami dan menghayati profesinya dan dan tentunya guru yang memiliki wawasan pengetahuan dan keterampilan sehingga membuat proses pembelajaran aktif, Semua unsur dari Pendidkan dan tenaga kependidikan (PTK) mampu menciptakan suasana pembelajaran inovatif, kreatif, dan menyenangkan. (PTK) dalam melaksanakan tugas profesinya dihadapkan pada berbagai pilihan, seperti cara bertindak bagaimana yang paling tepat, bahan belajar apa yang paling sesuai, metode penyajian bagaimana yang paling efektif, alat bantu apa yang paling cocok, langkah-langkah apa yang paling efisien, sumber belajar mana yang paling lengkap, sistem evaluasi apa yang paling tepat, dan sebagainya. Administrasi guru mutlak diperlukan sebagai persiapan mengajar didepan kelas. Dengan adanya buku administrasi guru, sang guru akan mampu mengontrol dirinya dalam setiap sikap dan perbuatan pembelajarannya serta dapat dipertanggungjawabkan di depan publik dan komunitas pembelajaran.

C. Macam-macam Administrasi Guru

Seorang guru dituntut untuk memiliki profesionalitas yang tinggi terutama guru yang sudah memiliki sertifikat guru. Selain harus mempunyai beban mengajar 24 jam tatap muka setiap minggu, seorang guru juga dituntut memiliki perangkat administrasi dimana nantinya perangkat tersebut yang akan menunjuang proses pembelajaran.Yang termasuk dalam kelengkapan administrasi yang harus Guru miliki,perangkat Pembelajaran itu antara lain :
1. Kalender Pendidikan
2. Program Tahunan
3. Program Semester
4. Silabus
5. Analisis KI/KD
6. Prosedur Penilaian
7. RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran)
8. KBM (Ketuntasan Belajar Minimal)
9. Jurnal /Agenda Guru
10. Buku Absensi
11. Daftar Nilai
12. Buku Pegangan (Buku Paket, Buku Elektronik, Modul, LKS)
13. Bahan Ajar Berbasis ICT (Power Point)
14. Kisi-kisi Soal Ulangan
15. Kartu Soal
16. Analisis Hasil Ulangan
17. ‎Program Remidial
18. Program Pengayaan
19. Kumpulan Soal/Bank Soal
20. Penelitian Tindakan Kelas

a. Contoh mengetahui Kalender Akademik (KALDIK)
Kurikulum satuan pendidikan pada setiap jenis dan jenjang diselenggarakandengan mengikuti kalender akademik atau kalender pendidikan pada setiap tahun ajaran. Menurut peraturan menteri pendidikan nasional (permendiknas), kalender  pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran. Kalender pendidikan mencakup beberapa hal penting sebagai berikut :
1. Permulaan tahun pelajaran
Permulaan tahun pelajaran adalah waktu dimulainya kegiatan pembelajaran pada awal tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan.
2. Minggu efektif belajar
Minggu efektif belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk setiaptahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan
3. Waktu pembelajaran efektif
Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap minggu,meliputi jumlah jam pembelajaran untuk seluruh matapelajaran termasuk muatan lokal, ditambah jumlah jam untuk kegiatan pengembangan diri.
4. Waktu libur
Waktu libur adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakan kegiatan pembelajaran terjadwal pada satuan pendidikan yang dimaksud. Waktu libur dapat berbentuk jeda tengah semester, jeda antar semester, libur akhir tahun pelajaran,hari libur keagamaan, hari libur umum termasuk hari-hari besar nasional, dan hari libur khusus.

Alokasi waktu didalam kalender pendidikan disajikan pada tabel berikut :
Tabel 1. Alokasi waktu pada kalender pendidikan .
No Kegiatan Alokasi Waktu Keterangan
1 Minggu Efektif Belajar Minimum 34 minggu dan maksimum 38 minggu Digunakan untuk kegiatan pembelajaran efektif pada setiap satuan pendidikan
2 Jeda Tengah Semester Maksimum dua minggu Satu minggu setiap semester
3 Jeda Antar Semester Maksimum dua minggu Antara semester satu dan dua
4 Liburan Akhir Tahun Pelajaran Maksimum tiga minggu Digunakan untuk penyiapan kegiatan dan admisistrasi akhir dan awal tahun  pelajaran
5 Hari Libur Keagamaan Dua sampai empat minggu Daerah khusus yang memerlukan libur keagamaan lebih panjang dapat mengaturnya sendiri tanpa mengurangi  jumlah minggu efektif belajar dan waktu  pembelajaran efektif
6 Hari Libur Umum/Nasional Maksimum dua minggu Disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah
7 Kegiatan Khusus Sekolah/Madrasah Maksimum tiga minggu Digunakan untuk kegiatan yang diprogramkan secara khusus oleh sekolah/madrasah tanpa mengurangi  jumlah minggu efektif belajar dan waktu  pembelajaran efektif

b. Penetapan Kalender Pendidikan
Penetapan kalender pendidikan perlu memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
Permulaan tahun pelajaran adalah bulan juli setiap tahun dan berakhir pada bulan juni tahun berikutnya.
Hari libur sekolah ditetapkan berdasarkan keputusan menteri Pendidikan nasional, dan atau menteri Agama dalam hal yang terkait dengan hari raya keagamaan, kepala Daerah tingkat kabupaten/kota, dan/atau organisasi penyelenggara pendidikan dapat menetapkan hari libur khusus,
Pemerintah Pusat/Provinsi/kabupaten/kota dapat menetapkan hari libur serentak untuk satuan-satuan pendidikan.
kalender pendidikan untuk setiap satuan pendidikan disusun oleh masing-masing satuan pendidikan berdsarkan alokasi waktu sebagai mana tersebut pada dokumen Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang standar isi dengan memperhatikan ketentuan dari pemerintah pusat/pemerintah daerah.

c. Cara Penyusunan Kalender Pendidikan
Melihat kalender pendidikan nasional yang  telah dikeluarkan oleh pemerintah (dalam hal  ini KEMENDIKNAS No.125/U/2002 tanggal 31 juli 2002 tentang kalender pendidikan, dan mengacu pada permendiknas No 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah) sebagai acuan untuk menentukan kalender pendidikan pada masing-masing satuan pendidikan.
Menentukan minggu efektif, libur tengah semester, libur antar semester, serta libur akhir tahun dengan acuan jumlah yang telah ditetapkan.
Menyesuaikan kalender dengan keadaan hari-hari libur umum maupun agama.
Menentukan periode efektif pembelajaran dengan mempertimbangkan hari-hari yang akan tersita untuk kegiatan-kegiatan pengembangan diri, baik ekstrakulikuler maupun bimbingan dan konseling terpadu.
Menentukan bobot dan alokasi hari-hari pembelajaran efektif setelahdisesuaikan dengan hari efektif fakultatif (misal: hari-hari pembelajaran di bulan ramadlan) serta hari libur fakultatif  (misal : libur awal puasa dan libur hari raya)
Merekap kalender pendidikan selama satu tahun penuh, atau dapat pula ditambah kalender pendidikan per semester dan per bulan dengan rapi dan telah diteliti oleh tim perumus kalender pendidikan.

d. Progam Semester (Promes) Dan Progam Tahunan (Prota)
I. Pengertian promes dan prota
Progam semester adalah satuan waktu yang digunakan untuk penyelenggaraanprogram pendidikan. Kegiatan yang dilaksanakan untuk penyelenggaraanprogram pendidikan. Kegiatan yang dilaksanakan dalam semester itu ialahkegiatan tatap muka, pratikum, keraja lapangan, mid semester, ujian semesterdan berbagai kegiatan lainya yang diberi penilaian keberhasilan. Satusemester terdiri dari 19 minggu kerja termasuk penyelenggaraan tatap muka,mid semester dan ujian semester. pada umumnya program semester ini berisikan :
Identitas (satuan pendidikan, mata pelajaran, kelas/semester, tahun pelajaran)
Format isian (standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, jumlah jampertemuan (JJP), dan bulan)

Program tahunan adalah rencana penetapan alokasi waktu satu tahun untuk mencapai tujuan (SK dan KD) yang telah ditetapkan. Penetapan alokasi waktu diperlukan agar seluruh kompetensi dasar yang ada dalam kurikulum seluruhnya dapat dicapai oleh sisiwa. Penentuan alokasi waktu ditentukan pada jumlah jam pelajaran sesuai dengan struktur kurikulum yang berlaku sertakeluasan materi yang harus dikuasai oleh siswa
Program Tahunan berupa program umum setiap mata pelajaran untuk setiap kelas, berisi tentang garis-garis besar yang hendak dicapai dalam satu tahun dan dikembangkan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan.Program ini perlu dipersiapkan dan dikembangkan oleh guru sebelum tahunpelajaran dimulai, karena merupakan pedoman bagi pengembangan program-program berikutnya, yakni program semester, mingguan dan harian serta pembuatan silabus dan sistem penilaian. Komponen-komponen program tahunan meliputi identifikasi (satuan pendidikan, mata pelajaran, tahunpelajaran) standar kompetensi, kompetensi dasar, alokasi waktu dan keterangan.

e.Langkah Menyusun Promes Dan Prota
Langkah menyusun promes :
Mengidentifikasi jumlah kompetensi dasar dan indikator dalam satu tahun.
Mengidentifikasi keluasan dan kedalaman kompetensi dasar dan indikator
Melakukan pemetaan kompetensi dasar untuk tiap semester
Menentukan alokasi waktu untuk masing-masing kompetensi denganmemperhatikan pekan efektif

Langkah menyusun prota :
Mengidentifikasi jumlah kompetensi dasar dan indikator dalam satu tahun
Mengidentifikasi keluasan dan kedalaman kompetensi dasar
Melakukan pemetaan kompetensi dasar untuk tiap semester
Menentukan alokasi waktu untuk masing-masing kompetensi denganmemperhatikan pekan efektif .


Selasa, 16 Oktober 2018

Prinsip Pengembangan kurikulum


Pengembangan kurikulum adalah sebuah proses yang merencanakan, menghaslkan suatu alat yang lebih baikdengan didasarkan dengan hasil penilaian terhadap kurikulum yang telah berlaku, sehingga dapat memberikan kondisi belajar mengajar yang baik. Dengan kata lain pengembangan kurikulum adalah kegiatan untuk menghasilkan kurikulum baru melalui langkah-langkah penyusunan kurikulum atas dasar hasil penilaian yang dilakukan selama priode waktu tertentu.
Prinsip kurikulum dapat juga dikatakan sebagai aturan yang menjiwai pengembangan kurikulum. Prinsip tersebut mempunyai  tujuan agar kurikulum yang didesain atau yang dihasikan sesuai permintaan semua pihak yakni anak didik, orang tua, masyrakat, dan bangsa.
Pada umumnya ahli  kurikulum memandang kegiatan pengembangan kurikulum sebagai  suatu proses yang kontinu. Merupakan suatu siklus yang menyangkut beberapa kurikulum yaitu komponen, tujuan, bahan, kegiatan dan evaluasi. Kurikulum diindonesia mengalami perubahan dari masa kemasa sasuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tuntutan dalam masyarakat.
B. Macam-macam sumber prinsip pengembangan kurikulum
 Menurut oliva 1995:28 dalam (komaruddin dan kurniawan 2011:65) mengemukakan setidaknya ada empat sumber prinsip pengembangan kurikulum, yaitu:
1. Data empiris
2. Data exsperimen
3. Cerita atau legenda yang hidup dimsyarakat
4. Akal sehat
Data empiris merujuk pada pengalaman yang terdokumentasi dan terbukti efektif, data exsperimen menunjuk pada temuan-temuan hasil penelitian. Data hasil temuan penelitian merupakan data yang dipandang valid dan reliaple, sehingga tingkat kebenaran lebih meyakinkan untuk dijadikan prinsip dalam pengembangan kurikulum. Namun demikian fakta kehidupan data hasil penelitian itu sifatnya sangat terbatas.
Disamping itu banyak data-data laninya yang diperoleh dari hasil penelitian yang digunakan juga terbukti efektif untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan yang kompleks diantaranya yaitu adat kebiasaan yang hidup dimasyarakat dan hasil pertimbangan dan penilaian akal sehat terlebih dahulu.
C. Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum
Dalam pengembangan kurikulum terdapat banyak prinsip yang digunakan kurikulum yang diasilkan benar-benar sesuai dengan yang diinginkan dan yang diharapkan semua pihak. Prinsip-prinsip ini biasanya dibedakan dalam dua katagori yaitu pirnsip umum dan prinsp khusu.
1. Prinsip umum
Sukmadinata (2012:150-151) menjelaskan bahwa terdapat lima prinsip umum pengembangan kurikulum yaitu prinsip relevansi, fleksebelitas, kontinuitas, praktis atau efesiensi dan efektivitas.
a) Prinsip relevansi
Dalam hal ini dapat dibedakan relevansi keluar yang berarti bahwa tujuan, isi, dan proses belajar harus relevan dengan tuntunan, kebutuhan dan perkembangan masyarakat dan relevansi kedalam berarti bahwa terdapat kesesuaian atau konsistensi antara komponen-komponen kurikulum, yaitu antar tujuan, isi, proses, penyampaian dan penilaian yang menunjukan keterpaduan kurikulum.
b) Prinsip fleksibilitas
Kurikulum hendaknya bersifat fleksibilitas. Kurikulum mempersiapkan anak untuk kehidupan sekarang  dan akan datang. Disini dan ditempat lain. Bagi anak yang memiliki latar belakang dan kemampuan yang berbeda. Bahwa kurikulum harus berisi hal-hal yang solid, tetapi dalam pelkasanaanya memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan kondisi daerah, waktu maupun kemampuan dan latar belakang anak.
c) Prinsip kontinuitas
Terkait dengan perkembangan dan proses belajar anak berlangsung secara berkeseimbangan, tidak terputus-putus atau berhenti-henti. Oleh karena itu, pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum juga hendaknya berkesinambungan antara satu kelas dengan kelas lainnya, antara satu jenjang dengan jenjang lainnya, juga antara pendidikan dengan pekerjan.
d) Prinsip praktis
Mudah dilksanakan dengan alat-alat sederhana dan biayanya juga murah. Prisnsip ini juga disebut prinsip evesiensi. Idealnya suatu kurikulum kalau menurut keahlian dan peralatatan yang sangat khusus dan mahal pula biayanya, maka kurikulum dan pendidikan selalu dilaksanakan dalam keterbatasan waktu, biaya, alat, maupun personalia. Kurikulum tidak hanya ideal tetapi juga praktis.
e) Prinsip efektivitas
Berkaaitan dengan sejauh mana perencanaan kurikulum dapat sesuai dengan keingnan yang ditentukan, dalam  proses pendidikan efektifitas dapat dilihat dari dua sisi, yaitu.
Efektif mengajar pendidikan berkaitan dengan sejauh mana kegiatan belajar-mengajar yang telah direncanakan dapat dilaksanakan dengan baik.
Efektifitas belajar anak didik berkaitan dengan sejauh mana tujuan-tujuan pelajaran yang diinginkan telah dapat dicapai melalui dengan kegiatan belajar mengajar yang telah dilaksanakan.
Walaupun kurikulum tersebut sederhana tetapi keberhasilannya tetap harus diperhatikan. Keberhasilan kurikulum ini baik secara kualitas  maupun kuantitas. Keberhsilan kurikulum akan mepengaruhi kebrhasilan pendidikan.
2. Prinsip-prinsip khusus
Ada beberapa prinsip yang lebih khusus   dalam pengembangankurikulum.Prinsip-prinsip ini berkenaan dengan penyusunan tujuan, isi, pengalaman belajar, dan penilaian.
A) Pirnsip yang berkenaan dengan tujuan pendidikan
Tujuan menjadi pusat pusat dan arah semua kegiatan pendidikan. Perumusan komponen-komponen kurikulum hendaknya mengacu padatujuan pendidikan. Tujuan pendidikan mencakup tujuan yang bersifat umum atau jangka pendek. Perumusan tujuan pendidikan bersumber pada
- Ketentuan dan kebijaksanaan pemerintah, yang dapat ditemukn dlam dokumen-dokumen lembaga negara mengenai tujuan, dan startegi pembangunan termasuk didalamnya pendidikan.
- Survei mengenai perspektif orang tua atau masyarakat tentang kebutuhn mereka yang melalui angket atau wawancara dengan mereka.
- Survei tentang pandangan para ahli dalam bidang-bidang tertentu. Dihimpun melalui angket, wawan cara, obeservasi, dan dari berbagai media massa.
- Pengalaman negara-negara yang lain dalam masalah yang sama.
- Penelitian.
B) Prinsip yang berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan
Memlih isi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan yang telah ditentukan oleh para perencana kurikulum perlu empertimbangka beberapa hal.
- Perlu penjabaran tujuan pendidikan atau pengajaran bentuk perbuatan hasil belajar yang khusus dan sederhana.
- Isi bahan pelajaran harus meliputi segi pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
- Unit-unit kurikulum harus harus disusun dalam urutan yang logis dan sistematis.
C) Prinsiip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar hendaknya memperhatikan beberapa hal, yaitu:
- Apapakah metode atau teknik belajar mengajar yang di gunakan cocok..
- Apakah metode atau teknik tersebut memberikan kegiatan yang berfariasi.
- Apakah metode atau teknik tersebut memberikan urutan kegiatan yang bertingkat-tingkat.
- Apakah teknik atau metode tersebut dapat menciptakan kegiatan untuk mencapai tujuan kognitig, efektif, dan psikomotor.
- Apakah metode atau teknik tersebut lebih mengaftifkan siswa.
- Apakah metode atau teknik tersebut dapat mengembangan daya bicara siswa.
D) Prinsip berkenaan dengan pemilihan medi dan alat pengajaran.
- Alat atau media pengajaran apa yang diperlukan.
- Kalau ada alat yang harus dibuat, hendaknya memperhatikan bagaimana pembuatannya, siapa yang membuat, pembiayaanya, waktu pembuatan.
- Bagaimana pengorganisasian alat dalam bahan pelajaran, apakah dalam bentuk modul, praktek belajar dan lain-lain.
- AHasil terbaik akan diperoleh dengan menggunakan multi media.
E) Prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian
- Dalam penyususan alat penilaian hendaknya mengikuti prosedur mulai dari tujuan perumusan umum, dalam ranah-ranah kognitif, efektif, dan psikomotor.
- Selain itu terdapat beberapa hal yang perlu dicermati dalam perencanaan penilaian yang meliputi bagaimana kelas, usia, dan tingkat kemampuan kelompok yang akan ditest.
- Dalam pengolahan hasil penilaian juga perlu mempertimbangkan beberapa hal yaitu norma apa yang akan digunakan didalam pengolahan hasil test, apakah digunakan formula quesing. Standar apa yang digunakan, untuk apakah hasil-hasil test dugunakan

Jumat, 21 September 2018

Pengertian Evaluasi

Kata evaluasi sering digunakan dalam pendidikan. Dalam konteks ini, evaluasi berarti penilaian atau pengukuran. Namun, banyak dari kita yang belum memahami secara tepat arti kata evaluasi, pengukuran, dan penilaian. Bahkan, banyak orang mengartikan ketiganya dengan satu pengertian yang sama. Hal ini karena orang hanya mengidentikkan kegiatan evaluasi sama dengan menilai. Karena biasanya, aktivitas mengukur sudah termasuk di dalamnya. Pengukuran, penilaian, dan evaluasi merupakan kegiatan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain,dan dalam pelaksanaannya harus dilakukan secara berurutan.

2. Prinsip-Prinsip Evaluasi.

Prinsip tidak lain adalah pernyataan yang mengandung kebenaran hampir sebagian besar, jika tidak dikatakan benar untuk semua kasus.

Keberadaan prinsip bagi seorang guru mempunyai arti penting, karena dengan memahami prinsip evaluasi dapat menjadi petunjuk atau keyakinan bagi dirinya atau guru lain guna merealisasi evaluasi dengan cara benar.Dalam bidang pendidikan, beberapa prinsip-prinsip evaluasi dapat dilihat seperti berikut ini:

a. Evaluasi harus masih dalam kisi-kisi kerja tujuan yang telah ditentukan.
b. Evaluasi sebaiknya dilaksanakan secara komprehensif.
c. Evaluasi diselenggarakan dalam proses yang kooperatif antara guru dan peserta didik.
d. Evaluasi dilaksanakan dalam proses kontinu.
e. Evaluasi harus peduli dan mempertimbangkan nilai-nilai yang berlaku.


Selanjutnya, tentang istilah evaluasi. Secara harfiah, evaluasi berasal dari Bahasa Inggris, yaitu “evaluation”Sedangkan dalam Bahasa Arab yakni “at- taqdir”yang berarti penilaian atau penaksiran . Berikut ini beberapa pengertianevaluasi dari para ahli:
a. Menurut Cross, evaluasi meruapakan proses yang menentukan kondisi, dimana suatu tujuan telah dapat dicapai. Definisi ini menerangkan secara langsung hubungan evaluasi dengan tujuan suatu kegiatan mengukur derajat, di mana suatu tujuan dapat dicapai. Sebenarnya, evaluasi juga merupakan proses memahami, memberi arti, mendapatkan, dan mengkomunikasikan suatu informasi bagi keperluan mengambil keputusan.

b. Stufflebeam, mendefinisikan evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk merumuskan suatu alternatif keputusan.

c. Menurut Bloom, evaluasi adalah pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam kenyataannya terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam pribadi siswa atau tidak.

Sedangkan menurut Anas Sudijono, evaluasi dapat dikatakan terlaksana dengan baik apabila dalam pelaksanaannya senantiasa berpegang pada tiga prinsip dasar berikut ini:

a. Prinsip Keseluruhan
Prinsip ini juga dikenal dengan istilah prinsip komprehensif. Dengan ini dimaksudkan di sini bahwa evaluasi dapat dikatakan terlaksana dengan baik apabila evaluasi tersebut dilaksanakan
secara bulat, utuh atau menyeluruh.

b. Prinsip Kesinambungan
Prinsip ini dikenal dengan istilah prinsip kontinuitas. Dengan prinsip ini dimaksudkan bahwa evaluasi yang baik adalah evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan secara teratur dan sambung menyambung dari waktu ke waktu.
c. Prinsip Obyektivitas
Prinsip ini mengandung makna bahwa evaluasi dapat dinyatakan sebagai evaluasi yang baik apabila dapat terlepas dari factor-faktor yang sifatnya subyektif.

3. Jenis Alat Evaluasi
Dalam pengertian umum, alat adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk mempermudah seseorang untuk melakssanakan tugas atau mencapai tujuan agar secara efektif dan efisien. kata “Alat” biasa disebut juga denga istilah “instrumen”. Dengan demikian, maka alat evaluasi juga dikenal dengan instrumen evaluasi.
Untuk memperjelas pengertian pengertian “alat” atau “instrumen”, terapkan pada dua cara mengupas kelapa, yang satu menggunakan pisau parang, yang satu lagi tidak. tentu saja hasilnya akan lebih baik dan pekerjaannya berakhir lebih cepat dibanding dengan cara yang pertama. dalam kegiatan evaluasi, fungsi alat juga untuk memperoleh hasil yang lebih baik sesuai dengan kenyataan yang dievaluasi. Contoh, jika yang dievaluasi seberapa siswa mampu mengingat nama kota atau sungai, hasil evaluasinya berupa berapa banyak siswa dapat menyebutkan nama kota dan sungai yang diingat. Dengan pengertian tersebut, maka alat evaluasi dikatakan baik apabila mampu mengevaluasi sesuatu yang dievaluasi dengan hasil seperti keadaan yang dievaluasi. Pada umumnya alat evaluasi dibedakan menjadi dua jenis, yakni tes dan non tes.
Kedua jenis ini dapat digunakan untuk menilai ketiga sasaran penilaian yang dikemukakan diatas. Agar para guru mengetahui dan trampil dalam mengadakan penilaian, dibawah ini dibahas secara umum mengenai kedua jenis alat penilaian. Dilihat dari faktor validitas dan reliabilitasnya.


1. Tess
Amir Daien Indra Kususma (1998: 27), menegaskan bahwa: Tes adalah suatu alat
atau prosedur yang sistematis dan objektif untuk memperoleh data-data atau keterangan-keterangan yang
diingikna tentang seseorang, dengan cara yang boleh dikatakan tepat dan cepat.
Tes juga dapat diartikan sebagai berikut:

a. Tes adalah suatu alat pengumpul data yang bersifat resmi karena penuh dengan batasan-batasan.
b. Tes pada umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar siswa, terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran. Namun tes juga dapat digunakan untuk menilai hasil belajar bidang afektif dan psikomotoris.
 Dilihat dari segi bentuknya, tes ini ada yang diberikan:
a. Tes secara lisan (menuntut jawaban secara lisan),
b. Tes tulisan (menuntut jawaban secara tulisan),
c. Tes tindakan (menuntut jawaban dalam bentuk perbuatan).
d. Soal-soal tes ada yang disusun dalam bentuk objektif, ada juga yang dalam bentuk esai atau uraian. Jenis tes tersebut biasanya digunakan untuk menilai isi pendidikan, misalnya aspek pengetahuan, kecakapan, ketrampilan, dan pemahaman pelajaran yang telah diberikan oleh guru.

2.Non-Tes
Alat evaluasi jenis non-tes ini antara lain :
a. Observasi.
b. Wawancara.
c. Studi kasus.
d. Rating scale (skala penilaian).
e. Check list.
f. Inventory.


Syarat menyusun alat penilaian membuat pertanyaan tes (alat evaluasi) tidak mudah, sebab tes atau pertanyaan merupakan alat untuk melihat perubahan kemampuan dan tingkah laku siswa setelah ia menerima pengajaran dari guru atau pengajaran disekolah. Alat evaluasi yang salah, akan menggambarkan kemampuan dan tingkah laku yang salah pula. Oleh karena itu teknik penyusunan alat evaluasi penting
dipertimbangkan agar memperoleh hasil, yang objektif.Beberapa syarat dan petunjuk yang perlu diperhatikan dalam menyusun alat evaluasi, ialah :
a) Harus menetapkan dulu segi-segi apa yang dilakukan dinilai, sehingga betul-betul terbatas serta      dapat member petunjuk bagaimana dan dengan alat apa segi tersebut dapat kita nilai.
b) Herus menetapkan alat evaluasi yang betul-betul valid dan relaibel, artinya taraf
ketepatan dan ketatapan tes sesuai dengan aspek yang akan dinilai.
c) Penilaian harus objektif, artinya menilai prestasi siswa sebagaimana adanya.
d) Hasil penilaian tersebut harus betul-betul diolah dengan teliti sehingga dapat ditafsirkan berdasarkan criteria yang berlaku.
e) Alat evaluasi yang dibuat hendaknya mengandung unsure diagnosis, artinya dapat dijadikan bahan untuk mencari kelemahan siswa belajar dan guru mengajar.

Beberapa hal yang ha
penilaian, antara lain:
1) Pcara berlanjut, artinya setiap saat diadakan penilaian sehingga diperoleh suatu gambaran yang objektif mengenai kemajuan siswa.
2) Dalam proses mengajar dan belajar penilaian dapat dilaksankan.
3) Penilaian dilaksanakan bukan hanya didalam kelas tetapi juga diluar kelas, bukanhanya pada waktu proses belajar tapi juga diluar proses belajar, lebih-lebih aspek tingkah laku.
4) Untuk memperoleh gambaran objektif, penilaian jangan hanya tes tetapi perlu digunakan jenis non-tes.Dalam menggunakan alat tersbut, evaluator menggunakan cara atau teknik, dan oleh karena itu dikenal dengan tekhnik evaluasi.


4. Sumber data untuk pengukuran

Sumber data untuk pengukuran hasil pembelajaran yaitu:
a. Berasal dari catatan guru/pendidik yang selalu mengamati;
b. Perkembangan belajar siswa/peserta didik selama proses belajar mengajar;
c. Sikap dari peserta didik tersebut selama belajar di sekolah. Maka dari itu Guru diwajibkan untuk mengetahui perkembangan siswanya agar kegiatan belajar mengajar berjalan dengan lancar. Karena dengan mengetahui kemampuan setiap siswa, maka guru dapat menentukan cara pembeljaran yang efektif sesuai dengan tingkat kemampuan siswa/peserta didik.

a. Penilaian dan Motivasi Belajar Siswa
Motivasi tingkat individu, terdapat komponen penting dari belajar dan penting bagi para guru untuk memahami motivasi para murid yang terkait dengan penilaian, harga diri dan umpan balik.
Black, (1998), mengutip penelitian Sylva (1994), bahwa anak-anak pada dasarnya tergolong ke dalam dua kategori, yaitu: Anak yang cakap, dan Anak yang kurang cakap;

1) Karakteristik anak yang cakap, yaitu:
(a) Termotivasi oleh keinginan untuk belajar
(b) Menghadapi tugas yang sulit dengan cara yang fleksibel dan reflektif
(c) Percaya akan berhasil, percaya bahwa mereka dapat melakukannya jika mereka berusaha
(d) Percaya bahwa kecerdasan dapat ditingkatkan
(e) Jika melihat anak lain bekerja keras, mereka tertarik.

2) Karakteristik anak yang kurang cakap yaitu:
(b) Memiliki motivasi yang biasa-biasa saja
(c) Tampaknya menerima bahwa mereka akan gagal karena mereka tidak cukup cerdas
(d) Percaya bahwa jika sesuatu akan terlalu sulit, tak ada yang bias mereka lakukan
(e) Cenderung menghindari tantangan
(f) Tidak percaya mereka dapat meningkatkan kecerdasan mereka. Sedangkan pendapat yang menguatkan hasil pendapat Sylva tersebut.
Namun kontek yang berbeda adalah muncul dari Collin Rogers (1994), menyatakan, bahwa para pelajar dapat digolongkan dalam tiga jenis motivasi, yaitu:
1) Murid yang berorientasi “penguasaan” secara intrinsik tertarik untuk “tahu” akan termotivasi untuk belajar dan akan mengembangkan strategi-strategi yang membantu mereka untuk melakukan hal tersebut.
2) Murid yang berorientasi “kinerja” Murid yang berorientasi kinerja peduli dengan tugas dan lebih peduli dengan tampak baik-baik saja, jadi meningkatkan harga diri mereka. Hal ini dapat mengurangi motivasi mereka dalam keadaan tertentu dan karena itulah mereka tidak ingin terlihat gagal.Keputusan yang dipelajari.
3) Karakteristik siswa adalah aspek-aspek atau kualitas perseorangan siswa seperti bakat, motivasi dan hasil belajar yang telah dimiliki. Karakter siswa yang bermacam-macam menuntut guru untuk membuat strategi dalam pembelajaran dan pengelolaan pembelajaran. Bagaimanapun juga, pada tingkat tertentu, mungkin sekali suatu variable kondisi akan mempengaruhi setiap variable metode, disamping pengaruh utamanya pada strategi pengelolaan pembelajaran.



Penelitian Pendidikan

Sebelum membahas lebih jauh tentang pengertian penelitian pendidikan, pertanyaan awal yang perlu diajukan, pada pembahasan ini adalah apakah penelitian itu? Penelitian dapat dilakukan dengan baik terhadap ilmu manapun, termasuk terhadap praktik pendidikan.  Penelitian dalam bidang pendidikan  banyak yang lebih diarahkan pada aplikasi dari konsep dan teori. Penelitian yang demikian, dikelompokkan  sebagai penelitian terapan atau applied research. Sedangkan penelitian yang diarahkan untuk menguji konsep, asumsi, dan proposisi, penelitian tersebut dikategorikan sebagai penelitian dasar. Penelitian bidang  pendidikan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan  kualitatif maupun kuantitatif.
Apakah Penelitian itu? Penelitian pada hakikatnya merupakan suatu usaha untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji kebenaran suatu pengetahuan dengan menggunakan metode-metode ilmiah. Para pakar mengemukakan  pendapat yang berbeda dalam merumuskan batasan penelitian atau penyelidikan terhadap suatu masalah, baik sebagai usaha mencari kebenaran melalui pendekatan  ilmiah.
Berikut ini adalah pendapat para tokoh tentang penelitian :
a.       Menurut Tuckman, Penelitian adalah langkah – langkah sistematis untuk mendapatkan suatu jawaban dari pertanyaan – pertanyaan.
b.      Menurut Gay, Penelitian adalah penggunaan metode ilmiah secara formal dan sistematis untuk menjawab dan menyelesaikan suatu masalah.
c.       Menurut Ruseffendi, Penelitian adalah cara mencari kebenaran melalui ilmiah.
d.      Menurut Karlinger, penelitian adalah proses penemuan yang mempunyai karakteristik sistematis, terkontrol, empiris dan berdasarkan pada teori dan hipotesis atau jawaban sementara.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa, penelitian adlah suatu proses pengumpulan dan analisis data yang dilakukan secara sistematis dan logis menggunakan metode-metode ilmiah untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.

Dalam dunia pendidikan, dengan penelitian bisa membawa pengertian yang semakin baik terhadap perilaku orang perseorangan, termasuk  subyek didik atau pendidik, proses belajar mengajar serta  situasi atau kondisi yang bisa membuat lebih berhasilnya proses pendidikan.

Pada ilmu-ilmu tingkah laku, penelitian mengarah pada pengembangan dan pengujian teori-teori tingkah laku. Pemahaman terhadap tingkah laku peserta didik maupun pendidik  semakin diperlukan dari  hasil-hasil penelitian dalam bidang pendidikan, baik dari segi ilmu maupun prakteknya.  Pada umumnya penelitian–penelitian pendidikan tergolong penelitian jenis terapan guna mengembangkan generalisasi-generalisasi yang berkenaan dengan proses belajar mengajar dan bahan-bahan mengajar. Karena itu, penelitian pendidikan memberikan perhatiannya  pada pengembangan dan pengujian terori-teori tentang bagaimana peserta didik (pelajar, mahasiswa) berperilaku dalam seting pendidikan.
Dari pengertian penelitian yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian penelitian pendidikan adalah usaha yang  digunakan untuk mendapatkan informasi yang berguna dan dapat dipertanggungjawabkan dalam upaya memahami  proses kependidikan dalam  lingkungan pendidikan dengan cara pengumpulan dan analisis data yang dilakukan secara sistematis dan logis menggunakan metode-metode ilmiah , baik di lingkungan pendidikan formal, pendidikan informal maupun pendidikan nonformal.

B.     Tujuan Penelitian Pendidikan
Dalam kegiatan penelitian memang mengandung kegiatan yang kadang sulit dan melelahkan, tetapi secara umum penelitian memiliki tujuan sebagai berikut :
a.       Memproleh informasi baru
Penelitian dapat bertujuan untuk mengungkap informasi atau data yang masih baru menurut pandangan peneliti. Walaupun mungkin saja suatu data atau fakta tersebut telah ada dan berada di suatu tempat dalam waktu yang lama. Jika data atau fakta tersebut baru diungkap dan disusun secara sistematis oleh seorang peneliti pada saat ini maka dapat dikatakan bahwa data peneliti tersebut baru.
b.      Mengembangkan dan menjelaskan


Penelitian dapat bertujuan untuk mengembangkan dan menjelaskan sesuatu.  Dengan melakukan pengembangan dan usaha menjelaskan melalui teori yang didukung fakta – fakta penunjang yang ada, peneliti akan dapat sampai pada pemberian pernyataan sementara atau hipotesis penelitian.
c.       Menerangkan, memprediksi dan mengontrol variable

Penelitian dapat juga bertujuan untuk mencermati gejala – gejala yang terjadi dan mentransfernya ke dalam bentuk data penelitian. Peneliti perlu mengetahui variabel bebas atau variabel terikat sehingga ia dapat mengetahui secara pasti variabel yang lainnya. Kemudian dapat menerangkan keterkaitan variabel yang ada. Dapat memprediksi apa yang terjadi diantara variabel atau mengontrol variabel unruk mendapatkan sesuatu yang bermanfaat.
C.    Macam – macam penelitian pendidikan
Secara garis besar, penelitian dapat dibedakan dari beberapa aspek bagaimana suatu bentuk penelitian dilihat dan dibedakan. Beberapa aspek tinjauan tersebut termasuk : aspek tujuan, metode dan bidang kajian.
1.      Macam – macam penelitian dari aspek tujuan. Menurut Gay ditinjau dari tujuannya ada dua jenis penelitian yaitu penelitian dasar dan penelitian lanjut. Sementra Mouly mengemukakan pengklasifikasian yang lebih detail dan berorintasi pada pendidikan dengan membaginya menjadi 5 macam penelitian. Diantaranya sebagai berikut :
a.       Penelitian dasar adalah penelitian yang dilakukan dengan tujuan perluasan ilmu atau memperbaiki suatu teori tanpa mempertimbangkan kegunaanya dalam pendidikan.
Contohnya : Para ahli pendidikan berusaha menggunakan binatang untuk menyelidiki kehiduapan, karakterisstik dan tingkah laku hewan.
b.      Penelitian Terapan ( Aplied Research ) adalah penelitian yang dilakukan denga tujuan memecahkan masalah dan hasil penelitian dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat baik individu maupun kelompok.
Contohnya : Penelitian yang berkaitan dengan bagaimana meningkatkan motivasi belajar siswa, penerapan kurikulum baru, peningkatan kualitas belajar.

c.       Penelitian evaluasi ( Evaluation Research ) adalah penelitian yang bertujuan untuk menyediakan informasi bagi para pengambil keputusan terkait keampuhan atau keunggulan
      suatu program dibandingkan dengan program – program yang lainnya, dilihat dari efektifitas, pembiayaan, sarana – prasarana dan sejenisnya.
Contohnya :  Penelitian terhadap implementasi kurikulum.
d.      Penelitian pengembangan ( development research ) adalah penelitian yang bertujuan mengembangkan model – model pembelajaran maupun bahan – bahan pembelajaran mengacu pada teori – teori pembelajaran yang telah ada.

Contohnya : Pengembangan bahan ajar.
e.       Penelitian tindakan ( action research ) adalah penelitian yang bertujuan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh peneliti dalam rangka untuk memperbaiki kinerjanya.
Contohnya : Penelitian tindakan kelas yang dilakukan guru untuk memperbaiki kualitas kegiatan pembelajarannya.
2.      Macam – macam penelitian menurut aspek metode dibedakan menjadi berikut :
a.       Penelitian deskriptif adalah kegiatan penelitian yang dilakukan  pada objek tertentu secara jelas dan sistematis. Penelitian deskriptif ini hanya berusaha menggambarkan secara jelas dan sekuensial terhadap penelitian yang telah ditentukan sebelum para peneliti terjun ke lapangan.
b.      Penelitian sejarah adalah penelitian yang hampir sama dengan penelitian deskriptif, yang membedakannya adalah peniliti  lebih memfokuskan pencarian data dengan metode wawancara pada pelaku sejarah.
c.       Penelitian survei adalah penelitian yang tidak membatasi satu atau beberapa variabel, peneliti dapat menggunakan banyak variabel dan populasi yang luas sesuai dengan tujuan penelitian.
d.      Penelitian korelasional adalah penelitian yang bertujuan untuk melihat apakah dua variabel atau lebih memiliki hubungan atau tidak.
e.       Penelitian ex-post facto adalah penelitian yang bertujuan mengungkapa apakah ada hubungan antara fakta yang terjadi saat ini dengan faktor – faktor yang terjadi di masa lalu.


f.       Penelitian eksperimen adalah penelitian metode inti dari model penelitian yang ada karena peneliti melakukan tiga persyaratan dari suatu penelitian, ketiga persyaratan itu adalah kegiatan mengontrol, memanipulasi dan observasi.

g.      Penelitian kuasi eksperimen adalah penelitian eksperimen semu atau penelitian yang mendekati eksperimen. Namun yang membedakan antara penelitian eksperimen dan peneliti kuasi eksperimen adalah peneliti harus berhati – hati dalam menrik hubungan kausal yang terjadi, karena dalam peneliti kuasi eksperimen kita tidak dapat mengontrol dan memanipulasi secara bebas dan insentif.
3.      Macam – macam penelitian menurut aspek bidang kajian dibedakan menjadi berikut :
a.       Penelitian kependidikan adalah penelitian yang menekankan  pada sekitar masalah pendidikan, baik yang mencakup faktor internal pendidikan termasuk : komponen guru, siswa, kurikulum sistem pengajaran, manajemen pendidikan dan hubungan lembaga dengan masyarakat.

b.      Penelitian nonkependidikan adalah penelitian yang memiliki cakupan yang luas seluas bidang keahlian dan variasi dari pembaca.
Contoh : penelitian sosial.

D.    Manfaat Penelitian pendidikan
Dalam kaitannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan dalam pendidikan, penelitian memiliki beberapa manfaat yaitu :
1.      Menemukan sesuatu yang baru.
Dalam dunia pengetahuan, penemuan yang dilakukan melalui suatu kegiatan penilitian adalah hasil yang handal dan mendapatkan pengakuan dari kalangan ilmuwan.
2.      Mengembangkan ilmu pengetahuan.
Perkembangan ilmu pengetahuan dapat dilakukan secara berkelanjutan melalui penelitian.
3.      Melakukan validasi terhadap teori lama.


Hasil penelitian digunakan sebagai konfirmasi atau pembaruan jika terjadi perubahan yang nyata terhadap paradigma teori yang telah lama berlaku.
4.      Menemukan permasalahan penelitian.
Permasalahan penelitian pada prinsipnya dapat diproleh di mana saja seorang peneliti berada.
5.      Menambah khazanah pengayaan ilmiah yang baru.
Dengan penelitian bisa bermanfaat sebagai pelengkap khazanah ilmu yang baru, sehingga ilmu pengetahuan senantiasa berkembang ke arah penyempurnaan terhadap ilmu pengetahuan yang ada.

Rabu, 30 Mei 2018

Pendidik dan akhlak sebagai misi utama nabi muhammad SAW

Misi pendidikan Islam zaman Rasulullah Saw antara lain:
  1. Mendorong timbulnya kesadaran umat manusia agar mau melakukan kegiatan belajar dan mengajar
Hal ini sejalan dengan firman Allah sebagai berikut:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Perintah membaca sebagaimana terdapat pada ayat tersebut sungguh mengejutkan untuk masyarakat Arab saat itu, karena membaca belum menjadi budaya mereka. Budaya mereka ialah menghafal, yakni manghafal syair-syair yang di dalamnya memberikan ajaran yang harus mereka jalani. Membaca dalam ayat tersebut selain berarti menghimpun atau mengumpulkan informasi dengan melihat huruf-huruf, kata-kata dan kalimat dalam sebuah buku atau referensi lainnya, juga mencakup pula meneliti, mengamati, mengidentifikasi, mengklasifikasi, mengategorisasi, menyimpulkan, dan memverifikasi. Dengan membaca ini timbullah kegiatan penggalian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban yang membawa kemajuan bangsa.
  1. Melaksanakan kegiatan belajar mengajar sepanjang hayat
Hal ini sejalan dengan hadits Rasulullah Saw, yaitu:
“Tuntutlah ilmu mulai dari buaian hingga ke liang lahat.”
Hadits tersebut mengandung isyarat tentang konsep belajar seumur hidup, yaitu belajar dan mengajar tidak hanya terbatas pada ruang kelas saja, melainkan di mana saja dan pada berbagai kesempatan. Hal ini sejalan dengan konsep pendidikan integrated, yaitu belajar dan mengajar yang menyatu dengan berbagai kegiatan yang ada di masyarakat.




  1. Melaksanakan program wajib belajar
Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah Saw, yaitu:
Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda, “Menuntut ilmu wajib bagi setiap orang muslim.” (HR. Ibnu Majah).
Kata ilmu sebagaimana terdapat dalam hadits tersebut adalah pengetahuan yang telah didukung oleh data dan fakta yang shahih dan disusun berdasarkan metode ilmiah, yaitu metode yang sistematis, objektif, komprehensif, dan rasional.
  1. Melaksanakan program Pendidikan Anak Usia Dini
Program pendidikan anak usia dini ini berdasarkan pada hadits dan isyarat Rasulullah Saw yang terkait dengan membangun rumah tangga, serta berbagai kewajiban orang tua terhadap anaknya. Rasulullah Saw misalnya menganjurkan agar seorang pria memilih wanita calon istri yang taat beragama, shalehah, dan berakhlak mulia. Menikahi sesuai dengan tuntunan agama dan menggaulinya dengan cara yang makruf, yaitu etis, sopan, dan saling mencintai dan manyayanginya.
Hal ini sejalan dengan berfirman firman Allah berikut:
“Alif, laam raa. (Ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.”

  1. Memberantas sikap Jahiliyah
Sikap jahiliyah juga dapat dilihat dari pola pikir mereka yang mengangap benda-benda keduniaan yang tidak kekal sebagai sesuatu yang dipuja-puja dan diagungkan, bahkan dipertahankannya walau pun harus mengorbankan jiwa, raga, memutuskan tali kekeluargaan, bahkan menolak kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Dengan demikian, makna jahiliyah bukan berarti bodoh dalam arti idiot, melainkan bodoh dalam arti memilih pola pikir yang keliru. Yaitu lebih memilih harta, takhta, dan kasta, dari pada kebenaran yang akan menyelamatkan kehidupannya di dunia dan akhirat.
  1. Menyelamatkan manusia dari tepi jurang kehancuran yang disebabkan karena pertikaian
Ketika Islam datang, keadaan dunia seperti baru saja dilanda ‘gempa’ dan ‘tsunami’. Kehidupan mereka dalam bidang sosial, ditandai oleh adanya kelompok suku, kabilah, dan etnis yang antara satu dan lainnya tidak bersatu dan sering berperang. Dalam bidang politik, ditandai oleh kekuasaan otoriter dan diktator yang didasarkan pada ketinggian dalam bidang harta, tahta, dan kasta. Dalam ekonomi, ditandai oleh praktek riba, monopoli, rentenir, saling menipu satu sama lain. Dalam bidang budaya, ditandai oleh budaya yang memuaskan hawa nafsu. Dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan, ditandai oleh keterbatasan dan monopoli kaum elite. Pendidikan dan ilmu pengetahuan hanya milik kaum elite, sedangkan rakyat pada umumnya dibiarkan dalam keadaan bodoh. Dalam bidang agama, ditandai oleh praktek syirik memuja selain Allah.
  1. Melakukan pencerahan batin kepada manusia agar sehat rohani dan jasmaninya
Hal ini sejalan dengan firman Allah berikut ini:
“Dan Kami turunkan dari al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.”
Ayat tersebut berbicara tentang salah satu misi Rasulullah Saw yang terkandung dalam al Qur’an, yaitu memperbaiki mental dan pola pikir (mindset) masyarakat, sebagai modal utama bagi perbaikan di bidang lain. Islam mengingatkan bahwa antara jiwa dan raga memiliki hubungan fungsional simbiotik, yaitu saling menopang dan mempengaruhi. Jiwa yang sehat akan mempengaruhi fisik, dan fisik yang sehat akan mempengaruhi jiwa.
  1. Mengangkat harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang paling sempurna di muka bumi
Hal ini sejalan dengan firman Allah berikut ini:
“Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”
Ayat tersebut mengingatkan bahwa manusia diciptakan dalam struktur fisik dan psikis yang lengkap dan sempurna. Manusia memiliki pancaindra yang lengkap, serasi, dan proporsional letaknya. Manusia memiliki akal (kemampuan berpikir), hati nurani, kecerdasan, bakat, minat, perasaan sosial, dan sebagainya. Dengan kelengkapan jasmani dan rohani inilah, manusia dapat mengerjakan tugas-tugas yang berat, menciptakan kebudayaan dan peradaban, menguasai daratan, lautan dan udara, dan sebagainya. Semua ini terjadi jika berbagai potensi manusia tersebut dibina dan dikembangkan melalui pendidikan.
Tujuan Pendidikan Islam Rasulullah Saw
Manusia yang berakhlak mulia harus menjadi sasaran proses pendidikan Islam karena itulah juga sebagai tujuan utama pendidikan Islam Rasulullah Saw. Berkenaan dengan akhlak mulia sebagai tujuan pendidikan dapat dilihat dari ayat dan hadits-hadits berikut ini:
“Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”
Jabir bin Abdullah berkata, Rasulullah Saw berkata: “Sesungguhnya Allah mengutusku dengan tugas membina kesempurnaan akhlak dan kebaikan pekerjaan.”
Abdullah bin Amr, berkata bahwa Rasulullah Saw bukan seorang yang keji dan bukan pula bersikap keji. Beliau bersabda, “Sesungguhnya yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik akhlaknya.”
Berdasarkan ayat dan hadits-hadits di atas menunjukkan dengan tegas bahwa tujuan utama pendidikan Rasulullah Saw adalah  memperbaiki akhlak manusia. Beliau melaksanakan tujuan tersebut dengan cara menghiasi dirinya dengan berbagai akhlak yang mulia dan menganjurkan agar umatnya senantiasa menerapkan akhlak tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Bahkan secara tegas, beliau menyatakan bahwa kualitas iman seseorang itu dapat diukur dengan akhlak yang ditampilkannya. Itu berarti bahwa semakin bagus kualitas iman seseorang akan semakin baik pula akhlaknya. Dengan kata lain,  akhlak seseorang yang jelek merupakan pertanda bahwa imannya tidak bagus.
Bila tujuan utama Rasulullah Saw adalah  menyempurnakan kemuliaan akhlak, maka proses pendidikan  seyogianya diarahkan menuju terbentuknya pribadi dan umat yang berakhlak mulia. Hal ini sesuai dengan penegasan Allah bahwa Nabi Muhammad Saw adalah teladan utama bagi umat manusia. Untuk mencapai hal itu, akhlak mulia harus ditegaskan dalam formulasi tujuan pendidikan.
Islam sebagai agama yang seimbang, mengajarkan bahwa setiap usaha yang dilakukan manusia tidak hanya melibatkan peran manusia semata, melainkan juga melibatkan peran Tuhan. Nabi Muhammad Saw menggambarkan proses pendidikan seperti sebuah kegiatan bertani. Jika seorang petani ingin mendapatkan hasil pertanian yang baik, maka ia harus menyiapkan lahan yang subur dan gembur, udara dan cuaca yang tepat, air dan pupuk yang cukup, bibit yang unggul, cara menanam yang benar, pemeliharaan dan perawatan tanaman yang benar dan intensif, waktu dan masa tanam yang tepat dan cukup. Namun meski berbagai usaha tersebut telah dilakukan, tetapi belum dapat menjamin seratus persen bahwa hasil pertanian tersebut akan berhasil dengan baik.
Tanah yang subur dan gembur serta bibit yang unggul dapat digambarkan seperti bakat dan potensi peserta didik yang bersifat internal. Adapun cara menanam yang benar, pemeliharaan dan perawatan yang tepat dan intensif dan pemberian pupuk yang cukup dapat digambarkan seperti usaha dan program pendidikan yang dilakukan oleh sekolah dan guru. Adapun keberhasilan pertanian menggambarkan peranan Tuhan. Dengan demikian, maka pendidikan Islam menganut paham teo-anthropo centris, yaitu memusatkan pada perpaduan antara kehendak Tuhan dan usaha manusia.


Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern

  Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern Pendahuluan Ketika arus modernisasi menghujani dunia Islam, proses modern...