Senin, 22 Oktober 2018
Pengertian Administrasi Kelas
Kata “administrasi” berasal dari bahasa latin yang terdiri atas kata ad dan ministrare. Kata ad mempunyai arti yang sama dengan kata to dalam bahasa inggris, yang berarti “ke” atau “kepada”. Dan ministrare sama artinya dengan kata to serve atau to conduct yang berarti “melayani”, “membantu”, atau mengarahkan”. Dalam bahasa inggris to administer berarti pula “mengatur”, “memelihara” (to look after), dan “mengarahkan ” .
Jadi Kata “Administrasi” adalah pegangan selama mengajar, guru didalam kelas administrasi adalah perangkat pengajar menjadi guru professional yang harus dimiliki guru. Daoed Yusuf (19880).
Kesimpulannya, Guru yang profesional dalam pendidikan tidak hanya sebatas mengajar,akan tetapi juga menyangkut dengan membimbing, dan berkaitan dengan administrasi sekolah yang mencakup ketatalaksanaan bidang pengajaran dan mengelola sekolah, memanfaatkan prosedur dan mekanisme pengelolaan tersebut untuk melancarkan tugasnya, serta bertindak sesuai dengan etika jabatan.
B. Peranan Guru sebagai pemegang Administrasi Kelas
Proses pembelajaran berhasil dan mutu pendidikan dapat meningkat apabila guru mampu memahami dan menghayati profesinya dan dan tentunya guru yang memiliki wawasan pengetahuan dan keterampilan sehingga membuat proses pembelajaran aktif, Semua unsur dari Pendidkan dan tenaga kependidikan (PTK) mampu menciptakan suasana pembelajaran inovatif, kreatif, dan menyenangkan. (PTK) dalam melaksanakan tugas profesinya dihadapkan pada berbagai pilihan, seperti cara bertindak bagaimana yang paling tepat, bahan belajar apa yang paling sesuai, metode penyajian bagaimana yang paling efektif, alat bantu apa yang paling cocok, langkah-langkah apa yang paling efisien, sumber belajar mana yang paling lengkap, sistem evaluasi apa yang paling tepat, dan sebagainya. Administrasi guru mutlak diperlukan sebagai persiapan mengajar didepan kelas. Dengan adanya buku administrasi guru, sang guru akan mampu mengontrol dirinya dalam setiap sikap dan perbuatan pembelajarannya serta dapat dipertanggungjawabkan di depan publik dan komunitas pembelajaran.
C. Macam-macam Administrasi Guru
Seorang guru dituntut untuk memiliki profesionalitas yang tinggi terutama guru yang sudah memiliki sertifikat guru. Selain harus mempunyai beban mengajar 24 jam tatap muka setiap minggu, seorang guru juga dituntut memiliki perangkat administrasi dimana nantinya perangkat tersebut yang akan menunjuang proses pembelajaran.Yang termasuk dalam kelengkapan administrasi yang harus Guru miliki,perangkat Pembelajaran itu antara lain :
1. Kalender Pendidikan
2. Program Tahunan
3. Program Semester
4. Silabus
5. Analisis KI/KD
6. Prosedur Penilaian
7. RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran)
8. KBM (Ketuntasan Belajar Minimal)
9. Jurnal /Agenda Guru
10. Buku Absensi
11. Daftar Nilai
12. Buku Pegangan (Buku Paket, Buku Elektronik, Modul, LKS)
13. Bahan Ajar Berbasis ICT (Power Point)
14. Kisi-kisi Soal Ulangan
15. Kartu Soal
16. Analisis Hasil Ulangan
17. Program Remidial
18. Program Pengayaan
19. Kumpulan Soal/Bank Soal
20. Penelitian Tindakan Kelas
a. Contoh mengetahui Kalender Akademik (KALDIK)
Kurikulum satuan pendidikan pada setiap jenis dan jenjang diselenggarakandengan mengikuti kalender akademik atau kalender pendidikan pada setiap tahun ajaran. Menurut peraturan menteri pendidikan nasional (permendiknas), kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran. Kalender pendidikan mencakup beberapa hal penting sebagai berikut :
1. Permulaan tahun pelajaran
Permulaan tahun pelajaran adalah waktu dimulainya kegiatan pembelajaran pada awal tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan.
2. Minggu efektif belajar
Minggu efektif belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk setiaptahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan
3. Waktu pembelajaran efektif
Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap minggu,meliputi jumlah jam pembelajaran untuk seluruh matapelajaran termasuk muatan lokal, ditambah jumlah jam untuk kegiatan pengembangan diri.
4. Waktu libur
Waktu libur adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakan kegiatan pembelajaran terjadwal pada satuan pendidikan yang dimaksud. Waktu libur dapat berbentuk jeda tengah semester, jeda antar semester, libur akhir tahun pelajaran,hari libur keagamaan, hari libur umum termasuk hari-hari besar nasional, dan hari libur khusus.
Alokasi waktu didalam kalender pendidikan disajikan pada tabel berikut :
Tabel 1. Alokasi waktu pada kalender pendidikan .
No Kegiatan Alokasi Waktu Keterangan
1 Minggu Efektif Belajar Minimum 34 minggu dan maksimum 38 minggu Digunakan untuk kegiatan pembelajaran efektif pada setiap satuan pendidikan
2 Jeda Tengah Semester Maksimum dua minggu Satu minggu setiap semester
3 Jeda Antar Semester Maksimum dua minggu Antara semester satu dan dua
4 Liburan Akhir Tahun Pelajaran Maksimum tiga minggu Digunakan untuk penyiapan kegiatan dan admisistrasi akhir dan awal tahun pelajaran
5 Hari Libur Keagamaan Dua sampai empat minggu Daerah khusus yang memerlukan libur keagamaan lebih panjang dapat mengaturnya sendiri tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif
6 Hari Libur Umum/Nasional Maksimum dua minggu Disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah
7 Kegiatan Khusus Sekolah/Madrasah Maksimum tiga minggu Digunakan untuk kegiatan yang diprogramkan secara khusus oleh sekolah/madrasah tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif
b. Penetapan Kalender Pendidikan
Penetapan kalender pendidikan perlu memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
• Permulaan tahun pelajaran adalah bulan juli setiap tahun dan berakhir pada bulan juni tahun berikutnya.
• Hari libur sekolah ditetapkan berdasarkan keputusan menteri Pendidikan nasional, dan atau menteri Agama dalam hal yang terkait dengan hari raya keagamaan, kepala Daerah tingkat kabupaten/kota, dan/atau organisasi penyelenggara pendidikan dapat menetapkan hari libur khusus,
• Pemerintah Pusat/Provinsi/kabupaten/kota dapat menetapkan hari libur serentak untuk satuan-satuan pendidikan.
• kalender pendidikan untuk setiap satuan pendidikan disusun oleh masing-masing satuan pendidikan berdsarkan alokasi waktu sebagai mana tersebut pada dokumen Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang standar isi dengan memperhatikan ketentuan dari pemerintah pusat/pemerintah daerah.
c. Cara Penyusunan Kalender Pendidikan
• Melihat kalender pendidikan nasional yang telah dikeluarkan oleh pemerintah (dalam hal ini KEMENDIKNAS No.125/U/2002 tanggal 31 juli 2002 tentang kalender pendidikan, dan mengacu pada permendiknas No 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah) sebagai acuan untuk menentukan kalender pendidikan pada masing-masing satuan pendidikan.
• Menentukan minggu efektif, libur tengah semester, libur antar semester, serta libur akhir tahun dengan acuan jumlah yang telah ditetapkan.
• Menyesuaikan kalender dengan keadaan hari-hari libur umum maupun agama.
• Menentukan periode efektif pembelajaran dengan mempertimbangkan hari-hari yang akan tersita untuk kegiatan-kegiatan pengembangan diri, baik ekstrakulikuler maupun bimbingan dan konseling terpadu.
• Menentukan bobot dan alokasi hari-hari pembelajaran efektif setelahdisesuaikan dengan hari efektif fakultatif (misal: hari-hari pembelajaran di bulan ramadlan) serta hari libur fakultatif (misal : libur awal puasa dan libur hari raya)
• Merekap kalender pendidikan selama satu tahun penuh, atau dapat pula ditambah kalender pendidikan per semester dan per bulan dengan rapi dan telah diteliti oleh tim perumus kalender pendidikan.
d. Progam Semester (Promes) Dan Progam Tahunan (Prota)
I. Pengertian promes dan prota
Progam semester adalah satuan waktu yang digunakan untuk penyelenggaraanprogram pendidikan. Kegiatan yang dilaksanakan untuk penyelenggaraanprogram pendidikan. Kegiatan yang dilaksanakan dalam semester itu ialahkegiatan tatap muka, pratikum, keraja lapangan, mid semester, ujian semesterdan berbagai kegiatan lainya yang diberi penilaian keberhasilan. Satusemester terdiri dari 19 minggu kerja termasuk penyelenggaraan tatap muka,mid semester dan ujian semester. pada umumnya program semester ini berisikan :
• Identitas (satuan pendidikan, mata pelajaran, kelas/semester, tahun pelajaran)
• Format isian (standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, jumlah jampertemuan (JJP), dan bulan)
Program tahunan adalah rencana penetapan alokasi waktu satu tahun untuk mencapai tujuan (SK dan KD) yang telah ditetapkan. Penetapan alokasi waktu diperlukan agar seluruh kompetensi dasar yang ada dalam kurikulum seluruhnya dapat dicapai oleh sisiwa. Penentuan alokasi waktu ditentukan pada jumlah jam pelajaran sesuai dengan struktur kurikulum yang berlaku sertakeluasan materi yang harus dikuasai oleh siswa
Program Tahunan berupa program umum setiap mata pelajaran untuk setiap kelas, berisi tentang garis-garis besar yang hendak dicapai dalam satu tahun dan dikembangkan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan.Program ini perlu dipersiapkan dan dikembangkan oleh guru sebelum tahunpelajaran dimulai, karena merupakan pedoman bagi pengembangan program-program berikutnya, yakni program semester, mingguan dan harian serta pembuatan silabus dan sistem penilaian. Komponen-komponen program tahunan meliputi identifikasi (satuan pendidikan, mata pelajaran, tahunpelajaran) standar kompetensi, kompetensi dasar, alokasi waktu dan keterangan.
e.Langkah Menyusun Promes Dan Prota
Langkah menyusun promes :
• Mengidentifikasi jumlah kompetensi dasar dan indikator dalam satu tahun.
• Mengidentifikasi keluasan dan kedalaman kompetensi dasar dan indikator
• Melakukan pemetaan kompetensi dasar untuk tiap semester
• Menentukan alokasi waktu untuk masing-masing kompetensi denganmemperhatikan pekan efektif
•
Langkah menyusun prota :
• Mengidentifikasi jumlah kompetensi dasar dan indikator dalam satu tahun
• Mengidentifikasi keluasan dan kedalaman kompetensi dasar
• Melakukan pemetaan kompetensi dasar untuk tiap semester
• Menentukan alokasi waktu untuk masing-masing kompetensi denganmemperhatikan pekan efektif .
Selasa, 16 Oktober 2018
Prinsip Pengembangan kurikulum
Pengembangan kurikulum adalah sebuah proses yang merencanakan, menghaslkan suatu alat yang lebih baikdengan didasarkan dengan hasil penilaian terhadap kurikulum yang telah berlaku, sehingga dapat memberikan kondisi belajar mengajar yang baik. Dengan kata lain pengembangan kurikulum adalah kegiatan untuk menghasilkan kurikulum baru melalui langkah-langkah penyusunan kurikulum atas dasar hasil penilaian yang dilakukan selama priode waktu tertentu.
Prinsip kurikulum dapat juga dikatakan sebagai aturan yang menjiwai pengembangan kurikulum. Prinsip tersebut mempunyai tujuan agar kurikulum yang didesain atau yang dihasikan sesuai permintaan semua pihak yakni anak didik, orang tua, masyrakat, dan bangsa.
Pada umumnya ahli kurikulum memandang kegiatan pengembangan kurikulum sebagai suatu proses yang kontinu. Merupakan suatu siklus yang menyangkut beberapa kurikulum yaitu komponen, tujuan, bahan, kegiatan dan evaluasi. Kurikulum diindonesia mengalami perubahan dari masa kemasa sasuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tuntutan dalam masyarakat.
B. Macam-macam sumber prinsip pengembangan kurikulum
Menurut oliva 1995:28 dalam (komaruddin dan kurniawan 2011:65) mengemukakan setidaknya ada empat sumber prinsip pengembangan kurikulum, yaitu:
1. Data empiris
2. Data exsperimen
3. Cerita atau legenda yang hidup dimsyarakat
4. Akal sehat
Data empiris merujuk pada pengalaman yang terdokumentasi dan terbukti efektif, data exsperimen menunjuk pada temuan-temuan hasil penelitian. Data hasil temuan penelitian merupakan data yang dipandang valid dan reliaple, sehingga tingkat kebenaran lebih meyakinkan untuk dijadikan prinsip dalam pengembangan kurikulum. Namun demikian fakta kehidupan data hasil penelitian itu sifatnya sangat terbatas.
Disamping itu banyak data-data laninya yang diperoleh dari hasil penelitian yang digunakan juga terbukti efektif untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan yang kompleks diantaranya yaitu adat kebiasaan yang hidup dimasyarakat dan hasil pertimbangan dan penilaian akal sehat terlebih dahulu.
C. Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum
Dalam pengembangan kurikulum terdapat banyak prinsip yang digunakan kurikulum yang diasilkan benar-benar sesuai dengan yang diinginkan dan yang diharapkan semua pihak. Prinsip-prinsip ini biasanya dibedakan dalam dua katagori yaitu pirnsip umum dan prinsp khusu.
1. Prinsip umum
Sukmadinata (2012:150-151) menjelaskan bahwa terdapat lima prinsip umum pengembangan kurikulum yaitu prinsip relevansi, fleksebelitas, kontinuitas, praktis atau efesiensi dan efektivitas.
a) Prinsip relevansi
Dalam hal ini dapat dibedakan relevansi keluar yang berarti bahwa tujuan, isi, dan proses belajar harus relevan dengan tuntunan, kebutuhan dan perkembangan masyarakat dan relevansi kedalam berarti bahwa terdapat kesesuaian atau konsistensi antara komponen-komponen kurikulum, yaitu antar tujuan, isi, proses, penyampaian dan penilaian yang menunjukan keterpaduan kurikulum.
b) Prinsip fleksibilitas
Kurikulum hendaknya bersifat fleksibilitas. Kurikulum mempersiapkan anak untuk kehidupan sekarang dan akan datang. Disini dan ditempat lain. Bagi anak yang memiliki latar belakang dan kemampuan yang berbeda. Bahwa kurikulum harus berisi hal-hal yang solid, tetapi dalam pelkasanaanya memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan kondisi daerah, waktu maupun kemampuan dan latar belakang anak.
c) Prinsip kontinuitas
Terkait dengan perkembangan dan proses belajar anak berlangsung secara berkeseimbangan, tidak terputus-putus atau berhenti-henti. Oleh karena itu, pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum juga hendaknya berkesinambungan antara satu kelas dengan kelas lainnya, antara satu jenjang dengan jenjang lainnya, juga antara pendidikan dengan pekerjan.
d) Prinsip praktis
Mudah dilksanakan dengan alat-alat sederhana dan biayanya juga murah. Prisnsip ini juga disebut prinsip evesiensi. Idealnya suatu kurikulum kalau menurut keahlian dan peralatatan yang sangat khusus dan mahal pula biayanya, maka kurikulum dan pendidikan selalu dilaksanakan dalam keterbatasan waktu, biaya, alat, maupun personalia. Kurikulum tidak hanya ideal tetapi juga praktis.
e) Prinsip efektivitas
Berkaaitan dengan sejauh mana perencanaan kurikulum dapat sesuai dengan keingnan yang ditentukan, dalam proses pendidikan efektifitas dapat dilihat dari dua sisi, yaitu.
Efektif mengajar pendidikan berkaitan dengan sejauh mana kegiatan belajar-mengajar yang telah direncanakan dapat dilaksanakan dengan baik.
Efektifitas belajar anak didik berkaitan dengan sejauh mana tujuan-tujuan pelajaran yang diinginkan telah dapat dicapai melalui dengan kegiatan belajar mengajar yang telah dilaksanakan.
Walaupun kurikulum tersebut sederhana tetapi keberhasilannya tetap harus diperhatikan. Keberhasilan kurikulum ini baik secara kualitas maupun kuantitas. Keberhsilan kurikulum akan mepengaruhi kebrhasilan pendidikan.
2. Prinsip-prinsip khusus
Ada beberapa prinsip yang lebih khusus dalam pengembangankurikulum.Prinsip-prinsip ini berkenaan dengan penyusunan tujuan, isi, pengalaman belajar, dan penilaian.
A) Pirnsip yang berkenaan dengan tujuan pendidikan
Tujuan menjadi pusat pusat dan arah semua kegiatan pendidikan. Perumusan komponen-komponen kurikulum hendaknya mengacu padatujuan pendidikan. Tujuan pendidikan mencakup tujuan yang bersifat umum atau jangka pendek. Perumusan tujuan pendidikan bersumber pada
- Ketentuan dan kebijaksanaan pemerintah, yang dapat ditemukn dlam dokumen-dokumen lembaga negara mengenai tujuan, dan startegi pembangunan termasuk didalamnya pendidikan.
- Survei mengenai perspektif orang tua atau masyarakat tentang kebutuhn mereka yang melalui angket atau wawancara dengan mereka.
- Survei tentang pandangan para ahli dalam bidang-bidang tertentu. Dihimpun melalui angket, wawan cara, obeservasi, dan dari berbagai media massa.
- Pengalaman negara-negara yang lain dalam masalah yang sama.
- Penelitian.
B) Prinsip yang berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan
Memlih isi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan yang telah ditentukan oleh para perencana kurikulum perlu empertimbangka beberapa hal.
- Perlu penjabaran tujuan pendidikan atau pengajaran bentuk perbuatan hasil belajar yang khusus dan sederhana.
- Isi bahan pelajaran harus meliputi segi pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
- Unit-unit kurikulum harus harus disusun dalam urutan yang logis dan sistematis.
C) Prinsiip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar hendaknya memperhatikan beberapa hal, yaitu:
- Apapakah metode atau teknik belajar mengajar yang di gunakan cocok..
- Apakah metode atau teknik tersebut memberikan kegiatan yang berfariasi.
- Apakah metode atau teknik tersebut memberikan urutan kegiatan yang bertingkat-tingkat.
- Apakah teknik atau metode tersebut dapat menciptakan kegiatan untuk mencapai tujuan kognitig, efektif, dan psikomotor.
- Apakah metode atau teknik tersebut lebih mengaftifkan siswa.
- Apakah metode atau teknik tersebut dapat mengembangan daya bicara siswa.
D) Prinsip berkenaan dengan pemilihan medi dan alat pengajaran.
- Alat atau media pengajaran apa yang diperlukan.
- Kalau ada alat yang harus dibuat, hendaknya memperhatikan bagaimana pembuatannya, siapa yang membuat, pembiayaanya, waktu pembuatan.
- Bagaimana pengorganisasian alat dalam bahan pelajaran, apakah dalam bentuk modul, praktek belajar dan lain-lain.
- AHasil terbaik akan diperoleh dengan menggunakan multi media.
E) Prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian
- Dalam penyususan alat penilaian hendaknya mengikuti prosedur mulai dari tujuan perumusan umum, dalam ranah-ranah kognitif, efektif, dan psikomotor.
- Selain itu terdapat beberapa hal yang perlu dicermati dalam perencanaan penilaian yang meliputi bagaimana kelas, usia, dan tingkat kemampuan kelompok yang akan ditest.
- Dalam pengolahan hasil penilaian juga perlu mempertimbangkan beberapa hal yaitu norma apa yang akan digunakan didalam pengolahan hasil test, apakah digunakan formula quesing. Standar apa yang digunakan, untuk apakah hasil-hasil test dugunakan
Jumat, 21 September 2018
Pengertian Evaluasi
Kata evaluasi sering digunakan dalam pendidikan. Dalam konteks ini, evaluasi berarti penilaian atau pengukuran. Namun, banyak dari kita yang belum memahami secara tepat arti kata evaluasi, pengukuran, dan penilaian. Bahkan, banyak orang mengartikan ketiganya dengan satu pengertian yang sama. Hal ini karena orang hanya mengidentikkan kegiatan evaluasi sama dengan menilai. Karena biasanya, aktivitas mengukur sudah termasuk di dalamnya. Pengukuran, penilaian, dan evaluasi merupakan kegiatan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain,dan dalam pelaksanaannya harus dilakukan secara berurutan.
2. Prinsip-Prinsip Evaluasi.
Prinsip tidak lain adalah pernyataan yang mengandung kebenaran hampir sebagian besar, jika tidak dikatakan benar untuk semua kasus.
Keberadaan prinsip bagi seorang guru mempunyai arti penting, karena dengan memahami prinsip evaluasi dapat menjadi petunjuk atau keyakinan bagi dirinya atau guru lain guna merealisasi evaluasi dengan cara benar.Dalam bidang pendidikan, beberapa prinsip-prinsip evaluasi dapat dilihat seperti berikut ini:
a. Evaluasi harus masih dalam kisi-kisi kerja tujuan yang telah ditentukan.
b. Evaluasi sebaiknya dilaksanakan secara komprehensif.
c. Evaluasi diselenggarakan dalam proses yang kooperatif antara guru dan peserta didik.
d. Evaluasi dilaksanakan dalam proses kontinu.
e. Evaluasi harus peduli dan mempertimbangkan nilai-nilai yang berlaku.
Selanjutnya, tentang istilah evaluasi. Secara harfiah, evaluasi berasal dari Bahasa Inggris, yaitu “evaluation”Sedangkan dalam Bahasa Arab yakni “at- taqdir”yang berarti penilaian atau penaksiran . Berikut ini beberapa pengertianevaluasi dari para ahli:
a. Menurut Cross, evaluasi meruapakan proses yang menentukan kondisi, dimana suatu tujuan telah dapat dicapai. Definisi ini menerangkan secara langsung hubungan evaluasi dengan tujuan suatu kegiatan mengukur derajat, di mana suatu tujuan dapat dicapai. Sebenarnya, evaluasi juga merupakan proses memahami, memberi arti, mendapatkan, dan mengkomunikasikan suatu informasi bagi keperluan mengambil keputusan.
b. Stufflebeam, mendefinisikan evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk merumuskan suatu alternatif keputusan.
c. Menurut Bloom, evaluasi adalah pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam kenyataannya terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam pribadi siswa atau tidak.
Sedangkan menurut Anas Sudijono, evaluasi dapat dikatakan terlaksana dengan baik apabila dalam pelaksanaannya senantiasa berpegang pada tiga prinsip dasar berikut ini:
a. Prinsip Keseluruhan
Prinsip ini juga dikenal dengan istilah prinsip komprehensif. Dengan ini dimaksudkan di sini bahwa evaluasi dapat dikatakan terlaksana dengan baik apabila evaluasi tersebut dilaksanakan
secara bulat, utuh atau menyeluruh.
b. Prinsip Kesinambungan
Prinsip ini dikenal dengan istilah prinsip kontinuitas. Dengan prinsip ini dimaksudkan bahwa evaluasi yang baik adalah evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan secara teratur dan sambung menyambung dari waktu ke waktu.
c. Prinsip Obyektivitas
Prinsip ini mengandung makna bahwa evaluasi dapat dinyatakan sebagai evaluasi yang baik apabila dapat terlepas dari factor-faktor yang sifatnya subyektif.
3. Jenis Alat Evaluasi
Dalam pengertian umum, alat adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk mempermudah seseorang untuk melakssanakan tugas atau mencapai tujuan agar secara efektif dan efisien. kata “Alat” biasa disebut juga denga istilah “instrumen”. Dengan demikian, maka alat evaluasi juga dikenal dengan instrumen evaluasi.
Untuk memperjelas pengertian pengertian “alat” atau “instrumen”, terapkan pada dua cara mengupas kelapa, yang satu menggunakan pisau parang, yang satu lagi tidak. tentu saja hasilnya akan lebih baik dan pekerjaannya berakhir lebih cepat dibanding dengan cara yang pertama. dalam kegiatan evaluasi, fungsi alat juga untuk memperoleh hasil yang lebih baik sesuai dengan kenyataan yang dievaluasi. Contoh, jika yang dievaluasi seberapa siswa mampu mengingat nama kota atau sungai, hasil evaluasinya berupa berapa banyak siswa dapat menyebutkan nama kota dan sungai yang diingat. Dengan pengertian tersebut, maka alat evaluasi dikatakan baik apabila mampu mengevaluasi sesuatu yang dievaluasi dengan hasil seperti keadaan yang dievaluasi. Pada umumnya alat evaluasi dibedakan menjadi dua jenis, yakni tes dan non tes.
Kedua jenis ini dapat digunakan untuk menilai ketiga sasaran penilaian yang dikemukakan diatas. Agar para guru mengetahui dan trampil dalam mengadakan penilaian, dibawah ini dibahas secara umum mengenai kedua jenis alat penilaian. Dilihat dari faktor validitas dan reliabilitasnya.
1. Tess
Amir Daien Indra Kususma (1998: 27), menegaskan bahwa: Tes adalah suatu alat
atau prosedur yang sistematis dan objektif untuk memperoleh data-data atau keterangan-keterangan yang
diingikna tentang seseorang, dengan cara yang boleh dikatakan tepat dan cepat.
Tes juga dapat diartikan sebagai berikut:
a. Tes adalah suatu alat pengumpul data yang bersifat resmi karena penuh dengan batasan-batasan.
b. Tes pada umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar siswa, terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran. Namun tes juga dapat digunakan untuk menilai hasil belajar bidang afektif dan psikomotoris.
Dilihat dari segi bentuknya, tes ini ada yang diberikan:
a. Tes secara lisan (menuntut jawaban secara lisan),
b. Tes tulisan (menuntut jawaban secara tulisan),
c. Tes tindakan (menuntut jawaban dalam bentuk perbuatan).
d. Soal-soal tes ada yang disusun dalam bentuk objektif, ada juga yang dalam bentuk esai atau uraian. Jenis tes tersebut biasanya digunakan untuk menilai isi pendidikan, misalnya aspek pengetahuan, kecakapan, ketrampilan, dan pemahaman pelajaran yang telah diberikan oleh guru.
2.Non-Tes
Alat evaluasi jenis non-tes ini antara lain :
a. Observasi.
b. Wawancara.
c. Studi kasus.
d. Rating scale (skala penilaian).
e. Check list.
f. Inventory.
Syarat menyusun alat penilaian membuat pertanyaan tes (alat evaluasi) tidak mudah, sebab tes atau pertanyaan merupakan alat untuk melihat perubahan kemampuan dan tingkah laku siswa setelah ia menerima pengajaran dari guru atau pengajaran disekolah. Alat evaluasi yang salah, akan menggambarkan kemampuan dan tingkah laku yang salah pula. Oleh karena itu teknik penyusunan alat evaluasi penting
dipertimbangkan agar memperoleh hasil, yang objektif.Beberapa syarat dan petunjuk yang perlu diperhatikan dalam menyusun alat evaluasi, ialah :
a) Harus menetapkan dulu segi-segi apa yang dilakukan dinilai, sehingga betul-betul terbatas serta dapat member petunjuk bagaimana dan dengan alat apa segi tersebut dapat kita nilai.
b) Herus menetapkan alat evaluasi yang betul-betul valid dan relaibel, artinya taraf
ketepatan dan ketatapan tes sesuai dengan aspek yang akan dinilai.
c) Penilaian harus objektif, artinya menilai prestasi siswa sebagaimana adanya.
d) Hasil penilaian tersebut harus betul-betul diolah dengan teliti sehingga dapat ditafsirkan berdasarkan criteria yang berlaku.
e) Alat evaluasi yang dibuat hendaknya mengandung unsure diagnosis, artinya dapat dijadikan bahan untuk mencari kelemahan siswa belajar dan guru mengajar.
Beberapa hal yang ha
penilaian, antara lain:
1) Pcara berlanjut, artinya setiap saat diadakan penilaian sehingga diperoleh suatu gambaran yang objektif mengenai kemajuan siswa.
2) Dalam proses mengajar dan belajar penilaian dapat dilaksankan.
3) Penilaian dilaksanakan bukan hanya didalam kelas tetapi juga diluar kelas, bukanhanya pada waktu proses belajar tapi juga diluar proses belajar, lebih-lebih aspek tingkah laku.
4) Untuk memperoleh gambaran objektif, penilaian jangan hanya tes tetapi perlu digunakan jenis non-tes.Dalam menggunakan alat tersbut, evaluator menggunakan cara atau teknik, dan oleh karena itu dikenal dengan tekhnik evaluasi.
4. Sumber data untuk pengukuran
Sumber data untuk pengukuran hasil pembelajaran yaitu:
a. Berasal dari catatan guru/pendidik yang selalu mengamati;
b. Perkembangan belajar siswa/peserta didik selama proses belajar mengajar;
c. Sikap dari peserta didik tersebut selama belajar di sekolah. Maka dari itu Guru diwajibkan untuk mengetahui perkembangan siswanya agar kegiatan belajar mengajar berjalan dengan lancar. Karena dengan mengetahui kemampuan setiap siswa, maka guru dapat menentukan cara pembeljaran yang efektif sesuai dengan tingkat kemampuan siswa/peserta didik.
a. Penilaian dan Motivasi Belajar Siswa
Motivasi tingkat individu, terdapat komponen penting dari belajar dan penting bagi para guru untuk memahami motivasi para murid yang terkait dengan penilaian, harga diri dan umpan balik.
Black, (1998), mengutip penelitian Sylva (1994), bahwa anak-anak pada dasarnya tergolong ke dalam dua kategori, yaitu: Anak yang cakap, dan Anak yang kurang cakap;
1) Karakteristik anak yang cakap, yaitu:
(a) Termotivasi oleh keinginan untuk belajar
(b) Menghadapi tugas yang sulit dengan cara yang fleksibel dan reflektif
(c) Percaya akan berhasil, percaya bahwa mereka dapat melakukannya jika mereka berusaha
(d) Percaya bahwa kecerdasan dapat ditingkatkan
(e) Jika melihat anak lain bekerja keras, mereka tertarik.
2) Karakteristik anak yang kurang cakap yaitu:
(b) Memiliki motivasi yang biasa-biasa saja
(c) Tampaknya menerima bahwa mereka akan gagal karena mereka tidak cukup cerdas
(d) Percaya bahwa jika sesuatu akan terlalu sulit, tak ada yang bias mereka lakukan
(e) Cenderung menghindari tantangan
(f) Tidak percaya mereka dapat meningkatkan kecerdasan mereka. Sedangkan pendapat yang menguatkan hasil pendapat Sylva tersebut.
Namun kontek yang berbeda adalah muncul dari Collin Rogers (1994), menyatakan, bahwa para pelajar dapat digolongkan dalam tiga jenis motivasi, yaitu:
1) Murid yang berorientasi “penguasaan” secara intrinsik tertarik untuk “tahu” akan termotivasi untuk belajar dan akan mengembangkan strategi-strategi yang membantu mereka untuk melakukan hal tersebut.
2) Murid yang berorientasi “kinerja” Murid yang berorientasi kinerja peduli dengan tugas dan lebih peduli dengan tampak baik-baik saja, jadi meningkatkan harga diri mereka. Hal ini dapat mengurangi motivasi mereka dalam keadaan tertentu dan karena itulah mereka tidak ingin terlihat gagal.Keputusan yang dipelajari.
3) Karakteristik siswa adalah aspek-aspek atau kualitas perseorangan siswa seperti bakat, motivasi dan hasil belajar yang telah dimiliki. Karakter siswa yang bermacam-macam menuntut guru untuk membuat strategi dalam pembelajaran dan pengelolaan pembelajaran. Bagaimanapun juga, pada tingkat tertentu, mungkin sekali suatu variable kondisi akan mempengaruhi setiap variable metode, disamping pengaruh utamanya pada strategi pengelolaan pembelajaran.
2. Prinsip-Prinsip Evaluasi.
Prinsip tidak lain adalah pernyataan yang mengandung kebenaran hampir sebagian besar, jika tidak dikatakan benar untuk semua kasus.
Keberadaan prinsip bagi seorang guru mempunyai arti penting, karena dengan memahami prinsip evaluasi dapat menjadi petunjuk atau keyakinan bagi dirinya atau guru lain guna merealisasi evaluasi dengan cara benar.Dalam bidang pendidikan, beberapa prinsip-prinsip evaluasi dapat dilihat seperti berikut ini:
a. Evaluasi harus masih dalam kisi-kisi kerja tujuan yang telah ditentukan.
b. Evaluasi sebaiknya dilaksanakan secara komprehensif.
c. Evaluasi diselenggarakan dalam proses yang kooperatif antara guru dan peserta didik.
d. Evaluasi dilaksanakan dalam proses kontinu.
e. Evaluasi harus peduli dan mempertimbangkan nilai-nilai yang berlaku.
Selanjutnya, tentang istilah evaluasi. Secara harfiah, evaluasi berasal dari Bahasa Inggris, yaitu “evaluation”Sedangkan dalam Bahasa Arab yakni “at- taqdir”yang berarti penilaian atau penaksiran . Berikut ini beberapa pengertianevaluasi dari para ahli:
a. Menurut Cross, evaluasi meruapakan proses yang menentukan kondisi, dimana suatu tujuan telah dapat dicapai. Definisi ini menerangkan secara langsung hubungan evaluasi dengan tujuan suatu kegiatan mengukur derajat, di mana suatu tujuan dapat dicapai. Sebenarnya, evaluasi juga merupakan proses memahami, memberi arti, mendapatkan, dan mengkomunikasikan suatu informasi bagi keperluan mengambil keputusan.
b. Stufflebeam, mendefinisikan evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk merumuskan suatu alternatif keputusan.
c. Menurut Bloom, evaluasi adalah pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam kenyataannya terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam pribadi siswa atau tidak.
Sedangkan menurut Anas Sudijono, evaluasi dapat dikatakan terlaksana dengan baik apabila dalam pelaksanaannya senantiasa berpegang pada tiga prinsip dasar berikut ini:
a. Prinsip Keseluruhan
Prinsip ini juga dikenal dengan istilah prinsip komprehensif. Dengan ini dimaksudkan di sini bahwa evaluasi dapat dikatakan terlaksana dengan baik apabila evaluasi tersebut dilaksanakan
secara bulat, utuh atau menyeluruh.
b. Prinsip Kesinambungan
Prinsip ini dikenal dengan istilah prinsip kontinuitas. Dengan prinsip ini dimaksudkan bahwa evaluasi yang baik adalah evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan secara teratur dan sambung menyambung dari waktu ke waktu.
c. Prinsip Obyektivitas
Prinsip ini mengandung makna bahwa evaluasi dapat dinyatakan sebagai evaluasi yang baik apabila dapat terlepas dari factor-faktor yang sifatnya subyektif.
3. Jenis Alat Evaluasi
Dalam pengertian umum, alat adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk mempermudah seseorang untuk melakssanakan tugas atau mencapai tujuan agar secara efektif dan efisien. kata “Alat” biasa disebut juga denga istilah “instrumen”. Dengan demikian, maka alat evaluasi juga dikenal dengan instrumen evaluasi.
Untuk memperjelas pengertian pengertian “alat” atau “instrumen”, terapkan pada dua cara mengupas kelapa, yang satu menggunakan pisau parang, yang satu lagi tidak. tentu saja hasilnya akan lebih baik dan pekerjaannya berakhir lebih cepat dibanding dengan cara yang pertama. dalam kegiatan evaluasi, fungsi alat juga untuk memperoleh hasil yang lebih baik sesuai dengan kenyataan yang dievaluasi. Contoh, jika yang dievaluasi seberapa siswa mampu mengingat nama kota atau sungai, hasil evaluasinya berupa berapa banyak siswa dapat menyebutkan nama kota dan sungai yang diingat. Dengan pengertian tersebut, maka alat evaluasi dikatakan baik apabila mampu mengevaluasi sesuatu yang dievaluasi dengan hasil seperti keadaan yang dievaluasi. Pada umumnya alat evaluasi dibedakan menjadi dua jenis, yakni tes dan non tes.
Kedua jenis ini dapat digunakan untuk menilai ketiga sasaran penilaian yang dikemukakan diatas. Agar para guru mengetahui dan trampil dalam mengadakan penilaian, dibawah ini dibahas secara umum mengenai kedua jenis alat penilaian. Dilihat dari faktor validitas dan reliabilitasnya.
1. Tess
Amir Daien Indra Kususma (1998: 27), menegaskan bahwa: Tes adalah suatu alat
atau prosedur yang sistematis dan objektif untuk memperoleh data-data atau keterangan-keterangan yang
diingikna tentang seseorang, dengan cara yang boleh dikatakan tepat dan cepat.
Tes juga dapat diartikan sebagai berikut:
a. Tes adalah suatu alat pengumpul data yang bersifat resmi karena penuh dengan batasan-batasan.
b. Tes pada umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar siswa, terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran. Namun tes juga dapat digunakan untuk menilai hasil belajar bidang afektif dan psikomotoris.
Dilihat dari segi bentuknya, tes ini ada yang diberikan:
a. Tes secara lisan (menuntut jawaban secara lisan),
b. Tes tulisan (menuntut jawaban secara tulisan),
c. Tes tindakan (menuntut jawaban dalam bentuk perbuatan).
d. Soal-soal tes ada yang disusun dalam bentuk objektif, ada juga yang dalam bentuk esai atau uraian. Jenis tes tersebut biasanya digunakan untuk menilai isi pendidikan, misalnya aspek pengetahuan, kecakapan, ketrampilan, dan pemahaman pelajaran yang telah diberikan oleh guru.
2.Non-Tes
Alat evaluasi jenis non-tes ini antara lain :
a. Observasi.
b. Wawancara.
c. Studi kasus.
d. Rating scale (skala penilaian).
e. Check list.
f. Inventory.
Syarat menyusun alat penilaian membuat pertanyaan tes (alat evaluasi) tidak mudah, sebab tes atau pertanyaan merupakan alat untuk melihat perubahan kemampuan dan tingkah laku siswa setelah ia menerima pengajaran dari guru atau pengajaran disekolah. Alat evaluasi yang salah, akan menggambarkan kemampuan dan tingkah laku yang salah pula. Oleh karena itu teknik penyusunan alat evaluasi penting
dipertimbangkan agar memperoleh hasil, yang objektif.Beberapa syarat dan petunjuk yang perlu diperhatikan dalam menyusun alat evaluasi, ialah :
a) Harus menetapkan dulu segi-segi apa yang dilakukan dinilai, sehingga betul-betul terbatas serta dapat member petunjuk bagaimana dan dengan alat apa segi tersebut dapat kita nilai.
b) Herus menetapkan alat evaluasi yang betul-betul valid dan relaibel, artinya taraf
ketepatan dan ketatapan tes sesuai dengan aspek yang akan dinilai.
c) Penilaian harus objektif, artinya menilai prestasi siswa sebagaimana adanya.
d) Hasil penilaian tersebut harus betul-betul diolah dengan teliti sehingga dapat ditafsirkan berdasarkan criteria yang berlaku.
e) Alat evaluasi yang dibuat hendaknya mengandung unsure diagnosis, artinya dapat dijadikan bahan untuk mencari kelemahan siswa belajar dan guru mengajar.
Beberapa hal yang ha
penilaian, antara lain:
1) Pcara berlanjut, artinya setiap saat diadakan penilaian sehingga diperoleh suatu gambaran yang objektif mengenai kemajuan siswa.
2) Dalam proses mengajar dan belajar penilaian dapat dilaksankan.
3) Penilaian dilaksanakan bukan hanya didalam kelas tetapi juga diluar kelas, bukanhanya pada waktu proses belajar tapi juga diluar proses belajar, lebih-lebih aspek tingkah laku.
4) Untuk memperoleh gambaran objektif, penilaian jangan hanya tes tetapi perlu digunakan jenis non-tes.Dalam menggunakan alat tersbut, evaluator menggunakan cara atau teknik, dan oleh karena itu dikenal dengan tekhnik evaluasi.
4. Sumber data untuk pengukuran
Sumber data untuk pengukuran hasil pembelajaran yaitu:
a. Berasal dari catatan guru/pendidik yang selalu mengamati;
b. Perkembangan belajar siswa/peserta didik selama proses belajar mengajar;
c. Sikap dari peserta didik tersebut selama belajar di sekolah. Maka dari itu Guru diwajibkan untuk mengetahui perkembangan siswanya agar kegiatan belajar mengajar berjalan dengan lancar. Karena dengan mengetahui kemampuan setiap siswa, maka guru dapat menentukan cara pembeljaran yang efektif sesuai dengan tingkat kemampuan siswa/peserta didik.
a. Penilaian dan Motivasi Belajar Siswa
Motivasi tingkat individu, terdapat komponen penting dari belajar dan penting bagi para guru untuk memahami motivasi para murid yang terkait dengan penilaian, harga diri dan umpan balik.
Black, (1998), mengutip penelitian Sylva (1994), bahwa anak-anak pada dasarnya tergolong ke dalam dua kategori, yaitu: Anak yang cakap, dan Anak yang kurang cakap;
1) Karakteristik anak yang cakap, yaitu:
(a) Termotivasi oleh keinginan untuk belajar
(b) Menghadapi tugas yang sulit dengan cara yang fleksibel dan reflektif
(c) Percaya akan berhasil, percaya bahwa mereka dapat melakukannya jika mereka berusaha
(d) Percaya bahwa kecerdasan dapat ditingkatkan
(e) Jika melihat anak lain bekerja keras, mereka tertarik.
2) Karakteristik anak yang kurang cakap yaitu:
(b) Memiliki motivasi yang biasa-biasa saja
(c) Tampaknya menerima bahwa mereka akan gagal karena mereka tidak cukup cerdas
(d) Percaya bahwa jika sesuatu akan terlalu sulit, tak ada yang bias mereka lakukan
(e) Cenderung menghindari tantangan
(f) Tidak percaya mereka dapat meningkatkan kecerdasan mereka. Sedangkan pendapat yang menguatkan hasil pendapat Sylva tersebut.
Namun kontek yang berbeda adalah muncul dari Collin Rogers (1994), menyatakan, bahwa para pelajar dapat digolongkan dalam tiga jenis motivasi, yaitu:
1) Murid yang berorientasi “penguasaan” secara intrinsik tertarik untuk “tahu” akan termotivasi untuk belajar dan akan mengembangkan strategi-strategi yang membantu mereka untuk melakukan hal tersebut.
2) Murid yang berorientasi “kinerja” Murid yang berorientasi kinerja peduli dengan tugas dan lebih peduli dengan tampak baik-baik saja, jadi meningkatkan harga diri mereka. Hal ini dapat mengurangi motivasi mereka dalam keadaan tertentu dan karena itulah mereka tidak ingin terlihat gagal.Keputusan yang dipelajari.
3) Karakteristik siswa adalah aspek-aspek atau kualitas perseorangan siswa seperti bakat, motivasi dan hasil belajar yang telah dimiliki. Karakter siswa yang bermacam-macam menuntut guru untuk membuat strategi dalam pembelajaran dan pengelolaan pembelajaran. Bagaimanapun juga, pada tingkat tertentu, mungkin sekali suatu variable kondisi akan mempengaruhi setiap variable metode, disamping pengaruh utamanya pada strategi pengelolaan pembelajaran.
Penelitian Pendidikan
Sebelum membahas lebih jauh tentang pengertian penelitian pendidikan, pertanyaan awal yang perlu diajukan, pada pembahasan ini adalah apakah penelitian itu? Penelitian dapat dilakukan dengan baik terhadap ilmu manapun, termasuk terhadap praktik pendidikan. Penelitian dalam bidang pendidikan banyak yang lebih diarahkan pada aplikasi dari konsep dan teori. Penelitian yang demikian, dikelompokkan sebagai penelitian terapan atau applied research. Sedangkan penelitian yang diarahkan untuk menguji konsep, asumsi, dan proposisi, penelitian tersebut dikategorikan sebagai penelitian dasar. Penelitian bidang pendidikan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif maupun kuantitatif.
Apakah Penelitian itu? Penelitian pada hakikatnya merupakan suatu usaha untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji kebenaran suatu pengetahuan dengan menggunakan metode-metode ilmiah. Para pakar mengemukakan pendapat yang berbeda dalam merumuskan batasan penelitian atau penyelidikan terhadap suatu masalah, baik sebagai usaha mencari kebenaran melalui pendekatan ilmiah.
Berikut ini adalah pendapat para tokoh tentang penelitian :
a. Menurut Tuckman, Penelitian adalah langkah – langkah sistematis untuk mendapatkan suatu jawaban dari pertanyaan – pertanyaan.
b. Menurut Gay, Penelitian adalah penggunaan metode ilmiah secara formal dan sistematis untuk menjawab dan menyelesaikan suatu masalah.
c. Menurut Ruseffendi, Penelitian adalah cara mencari kebenaran melalui ilmiah.
d. Menurut Karlinger, penelitian adalah proses penemuan yang mempunyai karakteristik sistematis, terkontrol, empiris dan berdasarkan pada teori dan hipotesis atau jawaban sementara.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa, penelitian adlah suatu proses pengumpulan dan analisis data yang dilakukan secara sistematis dan logis menggunakan metode-metode ilmiah untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.
Dalam dunia pendidikan, dengan penelitian bisa membawa pengertian yang semakin baik terhadap perilaku orang perseorangan, termasuk subyek didik atau pendidik, proses belajar mengajar serta situasi atau kondisi yang bisa membuat lebih berhasilnya proses pendidikan.
Pada ilmu-ilmu tingkah laku, penelitian mengarah pada pengembangan dan pengujian teori-teori tingkah laku. Pemahaman terhadap tingkah laku peserta didik maupun pendidik semakin diperlukan dari hasil-hasil penelitian dalam bidang pendidikan, baik dari segi ilmu maupun prakteknya. Pada umumnya penelitian–penelitian pendidikan tergolong penelitian jenis terapan guna mengembangkan generalisasi-generalisasi yang berkenaan dengan proses belajar mengajar dan bahan-bahan mengajar. Karena itu, penelitian pendidikan memberikan perhatiannya pada pengembangan dan pengujian terori-teori tentang bagaimana peserta didik (pelajar, mahasiswa) berperilaku dalam seting pendidikan.
Dari pengertian penelitian yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian penelitian pendidikan adalah usaha yang digunakan untuk mendapatkan informasi yang berguna dan dapat dipertanggungjawabkan dalam upaya memahami proses kependidikan dalam lingkungan pendidikan dengan cara pengumpulan dan analisis data yang dilakukan secara sistematis dan logis menggunakan metode-metode ilmiah , baik di lingkungan pendidikan formal, pendidikan informal maupun pendidikan nonformal.
B. Tujuan Penelitian Pendidikan
Dalam kegiatan penelitian memang mengandung kegiatan yang kadang sulit dan melelahkan, tetapi secara umum penelitian memiliki tujuan sebagai berikut :
a. Memproleh informasi baru
Penelitian dapat bertujuan untuk mengungkap informasi atau data yang masih baru menurut pandangan peneliti. Walaupun mungkin saja suatu data atau fakta tersebut telah ada dan berada di suatu tempat dalam waktu yang lama. Jika data atau fakta tersebut baru diungkap dan disusun secara sistematis oleh seorang peneliti pada saat ini maka dapat dikatakan bahwa data peneliti tersebut baru.
b. Mengembangkan dan menjelaskan
Penelitian dapat bertujuan untuk mengembangkan dan menjelaskan sesuatu. Dengan melakukan pengembangan dan usaha menjelaskan melalui teori yang didukung fakta – fakta penunjang yang ada, peneliti akan dapat sampai pada pemberian pernyataan sementara atau hipotesis penelitian.
c. Menerangkan, memprediksi dan mengontrol variable
Penelitian dapat juga bertujuan untuk mencermati gejala – gejala yang terjadi dan mentransfernya ke dalam bentuk data penelitian. Peneliti perlu mengetahui variabel bebas atau variabel terikat sehingga ia dapat mengetahui secara pasti variabel yang lainnya. Kemudian dapat menerangkan keterkaitan variabel yang ada. Dapat memprediksi apa yang terjadi diantara variabel atau mengontrol variabel unruk mendapatkan sesuatu yang bermanfaat.
C. Macam – macam penelitian pendidikan
Secara garis besar, penelitian dapat dibedakan dari beberapa aspek bagaimana suatu bentuk penelitian dilihat dan dibedakan. Beberapa aspek tinjauan tersebut termasuk : aspek tujuan, metode dan bidang kajian.
1. Macam – macam penelitian dari aspek tujuan. Menurut Gay ditinjau dari tujuannya ada dua jenis penelitian yaitu penelitian dasar dan penelitian lanjut. Sementra Mouly mengemukakan pengklasifikasian yang lebih detail dan berorintasi pada pendidikan dengan membaginya menjadi 5 macam penelitian. Diantaranya sebagai berikut :
a. Penelitian dasar adalah penelitian yang dilakukan dengan tujuan perluasan ilmu atau memperbaiki suatu teori tanpa mempertimbangkan kegunaanya dalam pendidikan.
Contohnya : Para ahli pendidikan berusaha menggunakan binatang untuk menyelidiki kehiduapan, karakterisstik dan tingkah laku hewan.
b. Penelitian Terapan ( Aplied Research ) adalah penelitian yang dilakukan denga tujuan memecahkan masalah dan hasil penelitian dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat baik individu maupun kelompok.
Contohnya : Penelitian yang berkaitan dengan bagaimana meningkatkan motivasi belajar siswa, penerapan kurikulum baru, peningkatan kualitas belajar.
c. Penelitian evaluasi ( Evaluation Research ) adalah penelitian yang bertujuan untuk menyediakan informasi bagi para pengambil keputusan terkait keampuhan atau keunggulan
suatu program dibandingkan dengan program – program yang lainnya, dilihat dari efektifitas, pembiayaan, sarana – prasarana dan sejenisnya.
Contohnya : Penelitian terhadap implementasi kurikulum.
d. Penelitian pengembangan ( development research ) adalah penelitian yang bertujuan mengembangkan model – model pembelajaran maupun bahan – bahan pembelajaran mengacu pada teori – teori pembelajaran yang telah ada.
Contohnya : Pengembangan bahan ajar.
e. Penelitian tindakan ( action research ) adalah penelitian yang bertujuan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh peneliti dalam rangka untuk memperbaiki kinerjanya.
Contohnya : Penelitian tindakan kelas yang dilakukan guru untuk memperbaiki kualitas kegiatan pembelajarannya.
2. Macam – macam penelitian menurut aspek metode dibedakan menjadi berikut :
a. Penelitian deskriptif adalah kegiatan penelitian yang dilakukan pada objek tertentu secara jelas dan sistematis. Penelitian deskriptif ini hanya berusaha menggambarkan secara jelas dan sekuensial terhadap penelitian yang telah ditentukan sebelum para peneliti terjun ke lapangan.
b. Penelitian sejarah adalah penelitian yang hampir sama dengan penelitian deskriptif, yang membedakannya adalah peniliti lebih memfokuskan pencarian data dengan metode wawancara pada pelaku sejarah.
c. Penelitian survei adalah penelitian yang tidak membatasi satu atau beberapa variabel, peneliti dapat menggunakan banyak variabel dan populasi yang luas sesuai dengan tujuan penelitian.
d. Penelitian korelasional adalah penelitian yang bertujuan untuk melihat apakah dua variabel atau lebih memiliki hubungan atau tidak.
e. Penelitian ex-post facto adalah penelitian yang bertujuan mengungkapa apakah ada hubungan antara fakta yang terjadi saat ini dengan faktor – faktor yang terjadi di masa lalu.
f. Penelitian eksperimen adalah penelitian metode inti dari model penelitian yang ada karena peneliti melakukan tiga persyaratan dari suatu penelitian, ketiga persyaratan itu adalah kegiatan mengontrol, memanipulasi dan observasi.
g. Penelitian kuasi eksperimen adalah penelitian eksperimen semu atau penelitian yang mendekati eksperimen. Namun yang membedakan antara penelitian eksperimen dan peneliti kuasi eksperimen adalah peneliti harus berhati – hati dalam menrik hubungan kausal yang terjadi, karena dalam peneliti kuasi eksperimen kita tidak dapat mengontrol dan memanipulasi secara bebas dan insentif.
3. Macam – macam penelitian menurut aspek bidang kajian dibedakan menjadi berikut :
a. Penelitian kependidikan adalah penelitian yang menekankan pada sekitar masalah pendidikan, baik yang mencakup faktor internal pendidikan termasuk : komponen guru, siswa, kurikulum sistem pengajaran, manajemen pendidikan dan hubungan lembaga dengan masyarakat.
b. Penelitian nonkependidikan adalah penelitian yang memiliki cakupan yang luas seluas bidang keahlian dan variasi dari pembaca.
Contoh : penelitian sosial.
D. Manfaat Penelitian pendidikan
Dalam kaitannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan dalam pendidikan, penelitian memiliki beberapa manfaat yaitu :
1. Menemukan sesuatu yang baru.
Dalam dunia pengetahuan, penemuan yang dilakukan melalui suatu kegiatan penilitian adalah hasil yang handal dan mendapatkan pengakuan dari kalangan ilmuwan.
2. Mengembangkan ilmu pengetahuan.
Perkembangan ilmu pengetahuan dapat dilakukan secara berkelanjutan melalui penelitian.
3. Melakukan validasi terhadap teori lama.
Hasil penelitian digunakan sebagai konfirmasi atau pembaruan jika terjadi perubahan yang nyata terhadap paradigma teori yang telah lama berlaku.
4. Menemukan permasalahan penelitian.
Permasalahan penelitian pada prinsipnya dapat diproleh di mana saja seorang peneliti berada.
5. Menambah khazanah pengayaan ilmiah yang baru.
Dengan penelitian bisa bermanfaat sebagai pelengkap khazanah ilmu yang baru, sehingga ilmu pengetahuan senantiasa berkembang ke arah penyempurnaan terhadap ilmu pengetahuan yang ada.
Apakah Penelitian itu? Penelitian pada hakikatnya merupakan suatu usaha untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji kebenaran suatu pengetahuan dengan menggunakan metode-metode ilmiah. Para pakar mengemukakan pendapat yang berbeda dalam merumuskan batasan penelitian atau penyelidikan terhadap suatu masalah, baik sebagai usaha mencari kebenaran melalui pendekatan ilmiah.
Berikut ini adalah pendapat para tokoh tentang penelitian :
a. Menurut Tuckman, Penelitian adalah langkah – langkah sistematis untuk mendapatkan suatu jawaban dari pertanyaan – pertanyaan.
b. Menurut Gay, Penelitian adalah penggunaan metode ilmiah secara formal dan sistematis untuk menjawab dan menyelesaikan suatu masalah.
c. Menurut Ruseffendi, Penelitian adalah cara mencari kebenaran melalui ilmiah.
d. Menurut Karlinger, penelitian adalah proses penemuan yang mempunyai karakteristik sistematis, terkontrol, empiris dan berdasarkan pada teori dan hipotesis atau jawaban sementara.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa, penelitian adlah suatu proses pengumpulan dan analisis data yang dilakukan secara sistematis dan logis menggunakan metode-metode ilmiah untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.
Dalam dunia pendidikan, dengan penelitian bisa membawa pengertian yang semakin baik terhadap perilaku orang perseorangan, termasuk subyek didik atau pendidik, proses belajar mengajar serta situasi atau kondisi yang bisa membuat lebih berhasilnya proses pendidikan.
Pada ilmu-ilmu tingkah laku, penelitian mengarah pada pengembangan dan pengujian teori-teori tingkah laku. Pemahaman terhadap tingkah laku peserta didik maupun pendidik semakin diperlukan dari hasil-hasil penelitian dalam bidang pendidikan, baik dari segi ilmu maupun prakteknya. Pada umumnya penelitian–penelitian pendidikan tergolong penelitian jenis terapan guna mengembangkan generalisasi-generalisasi yang berkenaan dengan proses belajar mengajar dan bahan-bahan mengajar. Karena itu, penelitian pendidikan memberikan perhatiannya pada pengembangan dan pengujian terori-teori tentang bagaimana peserta didik (pelajar, mahasiswa) berperilaku dalam seting pendidikan.
Dari pengertian penelitian yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian penelitian pendidikan adalah usaha yang digunakan untuk mendapatkan informasi yang berguna dan dapat dipertanggungjawabkan dalam upaya memahami proses kependidikan dalam lingkungan pendidikan dengan cara pengumpulan dan analisis data yang dilakukan secara sistematis dan logis menggunakan metode-metode ilmiah , baik di lingkungan pendidikan formal, pendidikan informal maupun pendidikan nonformal.
B. Tujuan Penelitian Pendidikan
Dalam kegiatan penelitian memang mengandung kegiatan yang kadang sulit dan melelahkan, tetapi secara umum penelitian memiliki tujuan sebagai berikut :
a. Memproleh informasi baru
Penelitian dapat bertujuan untuk mengungkap informasi atau data yang masih baru menurut pandangan peneliti. Walaupun mungkin saja suatu data atau fakta tersebut telah ada dan berada di suatu tempat dalam waktu yang lama. Jika data atau fakta tersebut baru diungkap dan disusun secara sistematis oleh seorang peneliti pada saat ini maka dapat dikatakan bahwa data peneliti tersebut baru.
b. Mengembangkan dan menjelaskan
Penelitian dapat bertujuan untuk mengembangkan dan menjelaskan sesuatu. Dengan melakukan pengembangan dan usaha menjelaskan melalui teori yang didukung fakta – fakta penunjang yang ada, peneliti akan dapat sampai pada pemberian pernyataan sementara atau hipotesis penelitian.
c. Menerangkan, memprediksi dan mengontrol variable
Penelitian dapat juga bertujuan untuk mencermati gejala – gejala yang terjadi dan mentransfernya ke dalam bentuk data penelitian. Peneliti perlu mengetahui variabel bebas atau variabel terikat sehingga ia dapat mengetahui secara pasti variabel yang lainnya. Kemudian dapat menerangkan keterkaitan variabel yang ada. Dapat memprediksi apa yang terjadi diantara variabel atau mengontrol variabel unruk mendapatkan sesuatu yang bermanfaat.
C. Macam – macam penelitian pendidikan
Secara garis besar, penelitian dapat dibedakan dari beberapa aspek bagaimana suatu bentuk penelitian dilihat dan dibedakan. Beberapa aspek tinjauan tersebut termasuk : aspek tujuan, metode dan bidang kajian.
1. Macam – macam penelitian dari aspek tujuan. Menurut Gay ditinjau dari tujuannya ada dua jenis penelitian yaitu penelitian dasar dan penelitian lanjut. Sementra Mouly mengemukakan pengklasifikasian yang lebih detail dan berorintasi pada pendidikan dengan membaginya menjadi 5 macam penelitian. Diantaranya sebagai berikut :
a. Penelitian dasar adalah penelitian yang dilakukan dengan tujuan perluasan ilmu atau memperbaiki suatu teori tanpa mempertimbangkan kegunaanya dalam pendidikan.
Contohnya : Para ahli pendidikan berusaha menggunakan binatang untuk menyelidiki kehiduapan, karakterisstik dan tingkah laku hewan.
b. Penelitian Terapan ( Aplied Research ) adalah penelitian yang dilakukan denga tujuan memecahkan masalah dan hasil penelitian dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat baik individu maupun kelompok.
Contohnya : Penelitian yang berkaitan dengan bagaimana meningkatkan motivasi belajar siswa, penerapan kurikulum baru, peningkatan kualitas belajar.
c. Penelitian evaluasi ( Evaluation Research ) adalah penelitian yang bertujuan untuk menyediakan informasi bagi para pengambil keputusan terkait keampuhan atau keunggulan
suatu program dibandingkan dengan program – program yang lainnya, dilihat dari efektifitas, pembiayaan, sarana – prasarana dan sejenisnya.
Contohnya : Penelitian terhadap implementasi kurikulum.
d. Penelitian pengembangan ( development research ) adalah penelitian yang bertujuan mengembangkan model – model pembelajaran maupun bahan – bahan pembelajaran mengacu pada teori – teori pembelajaran yang telah ada.
Contohnya : Pengembangan bahan ajar.
e. Penelitian tindakan ( action research ) adalah penelitian yang bertujuan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh peneliti dalam rangka untuk memperbaiki kinerjanya.
Contohnya : Penelitian tindakan kelas yang dilakukan guru untuk memperbaiki kualitas kegiatan pembelajarannya.
2. Macam – macam penelitian menurut aspek metode dibedakan menjadi berikut :
a. Penelitian deskriptif adalah kegiatan penelitian yang dilakukan pada objek tertentu secara jelas dan sistematis. Penelitian deskriptif ini hanya berusaha menggambarkan secara jelas dan sekuensial terhadap penelitian yang telah ditentukan sebelum para peneliti terjun ke lapangan.
b. Penelitian sejarah adalah penelitian yang hampir sama dengan penelitian deskriptif, yang membedakannya adalah peniliti lebih memfokuskan pencarian data dengan metode wawancara pada pelaku sejarah.
c. Penelitian survei adalah penelitian yang tidak membatasi satu atau beberapa variabel, peneliti dapat menggunakan banyak variabel dan populasi yang luas sesuai dengan tujuan penelitian.
d. Penelitian korelasional adalah penelitian yang bertujuan untuk melihat apakah dua variabel atau lebih memiliki hubungan atau tidak.
e. Penelitian ex-post facto adalah penelitian yang bertujuan mengungkapa apakah ada hubungan antara fakta yang terjadi saat ini dengan faktor – faktor yang terjadi di masa lalu.
f. Penelitian eksperimen adalah penelitian metode inti dari model penelitian yang ada karena peneliti melakukan tiga persyaratan dari suatu penelitian, ketiga persyaratan itu adalah kegiatan mengontrol, memanipulasi dan observasi.
g. Penelitian kuasi eksperimen adalah penelitian eksperimen semu atau penelitian yang mendekati eksperimen. Namun yang membedakan antara penelitian eksperimen dan peneliti kuasi eksperimen adalah peneliti harus berhati – hati dalam menrik hubungan kausal yang terjadi, karena dalam peneliti kuasi eksperimen kita tidak dapat mengontrol dan memanipulasi secara bebas dan insentif.
3. Macam – macam penelitian menurut aspek bidang kajian dibedakan menjadi berikut :
a. Penelitian kependidikan adalah penelitian yang menekankan pada sekitar masalah pendidikan, baik yang mencakup faktor internal pendidikan termasuk : komponen guru, siswa, kurikulum sistem pengajaran, manajemen pendidikan dan hubungan lembaga dengan masyarakat.
b. Penelitian nonkependidikan adalah penelitian yang memiliki cakupan yang luas seluas bidang keahlian dan variasi dari pembaca.
Contoh : penelitian sosial.
D. Manfaat Penelitian pendidikan
Dalam kaitannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan dalam pendidikan, penelitian memiliki beberapa manfaat yaitu :
1. Menemukan sesuatu yang baru.
Dalam dunia pengetahuan, penemuan yang dilakukan melalui suatu kegiatan penilitian adalah hasil yang handal dan mendapatkan pengakuan dari kalangan ilmuwan.
2. Mengembangkan ilmu pengetahuan.
Perkembangan ilmu pengetahuan dapat dilakukan secara berkelanjutan melalui penelitian.
3. Melakukan validasi terhadap teori lama.
Hasil penelitian digunakan sebagai konfirmasi atau pembaruan jika terjadi perubahan yang nyata terhadap paradigma teori yang telah lama berlaku.
4. Menemukan permasalahan penelitian.
Permasalahan penelitian pada prinsipnya dapat diproleh di mana saja seorang peneliti berada.
5. Menambah khazanah pengayaan ilmiah yang baru.
Dengan penelitian bisa bermanfaat sebagai pelengkap khazanah ilmu yang baru, sehingga ilmu pengetahuan senantiasa berkembang ke arah penyempurnaan terhadap ilmu pengetahuan yang ada.
Rabu, 30 Mei 2018
Pendidik dan akhlak sebagai misi utama nabi muhammad SAW
Misi pendidikan Islam zaman Rasulullah
Saw antara lain:
- Mendorong
timbulnya kesadaran umat manusia agar mau melakukan kegiatan belajar dan
mengajar
Hal ini sejalan dengan firman Allah
sebagai berikut:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu
yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah,
dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran
kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Perintah membaca
sebagaimana terdapat pada ayat tersebut sungguh mengejutkan untuk masyarakat
Arab saat itu, karena membaca belum menjadi budaya mereka. Budaya mereka ialah
menghafal, yakni manghafal syair-syair yang di dalamnya memberikan ajaran yang
harus mereka jalani. Membaca dalam ayat tersebut selain berarti menghimpun atau
mengumpulkan informasi dengan melihat huruf-huruf, kata-kata dan kalimat dalam
sebuah buku atau referensi lainnya, juga mencakup pula meneliti, mengamati,
mengidentifikasi, mengklasifikasi, mengategorisasi, menyimpulkan, dan
memverifikasi. Dengan membaca ini timbullah kegiatan penggalian dan
pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban yang membawa kemajuan bangsa.
- Melaksanakan
kegiatan belajar mengajar sepanjang hayat
Hal ini sejalan dengan hadits Rasulullah
Saw, yaitu:
“Tuntutlah ilmu mulai dari buaian hingga
ke liang lahat.”
Hadits tersebut mengandung isyarat
tentang konsep belajar seumur hidup, yaitu belajar dan mengajar tidak hanya
terbatas pada ruang kelas saja, melainkan di mana saja dan pada berbagai
kesempatan. Hal ini sejalan dengan konsep pendidikan integrated, yaitu belajar
dan mengajar yang menyatu dengan berbagai kegiatan yang ada di masyarakat.
- Melaksanakan
program wajib belajar
Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah
Saw, yaitu:
Dari Abu Hurairah,
Rasulullah Saw bersabda, “Menuntut ilmu wajib bagi setiap orang muslim.” (HR.
Ibnu Majah).
Kata ilmu sebagaimana
terdapat dalam hadits tersebut adalah pengetahuan yang telah didukung oleh data
dan fakta yang shahih dan disusun berdasarkan metode ilmiah, yaitu metode yang
sistematis, objektif, komprehensif, dan rasional.
- Melaksanakan
program Pendidikan Anak Usia Dini
Program pendidikan anak
usia dini ini berdasarkan pada hadits dan isyarat Rasulullah Saw yang terkait
dengan membangun rumah tangga, serta berbagai kewajiban orang tua terhadap
anaknya. Rasulullah Saw misalnya menganjurkan agar seorang pria memilih wanita
calon istri yang taat beragama, shalehah, dan berakhlak mulia. Menikahi sesuai
dengan tuntunan agama dan menggaulinya dengan cara yang makruf, yaitu etis,
sopan, dan saling mencintai dan manyayanginya.
Hal ini sejalan dengan berfirman firman
Allah berikut:
“Alif, laam raa. (Ini
adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari
gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu)
menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.”
- Memberantas
sikap Jahiliyah
Sikap jahiliyah juga
dapat dilihat dari pola pikir mereka yang mengangap benda-benda keduniaan yang
tidak kekal sebagai sesuatu yang dipuja-puja dan diagungkan, bahkan
dipertahankannya walau pun harus mengorbankan jiwa, raga, memutuskan tali
kekeluargaan, bahkan menolak kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Dengan
demikian, makna jahiliyah bukan berarti bodoh dalam arti idiot, melainkan bodoh
dalam arti memilih pola pikir yang keliru. Yaitu lebih memilih harta, takhta,
dan kasta, dari pada kebenaran yang akan menyelamatkan kehidupannya di dunia
dan akhirat.
- Menyelamatkan
manusia dari tepi jurang kehancuran yang disebabkan karena pertikaian
Ketika Islam datang,
keadaan dunia seperti baru saja dilanda ‘gempa’ dan ‘tsunami’. Kehidupan mereka
dalam bidang sosial, ditandai oleh adanya kelompok suku, kabilah, dan etnis
yang antara satu dan lainnya tidak bersatu dan sering berperang. Dalam bidang
politik, ditandai oleh kekuasaan otoriter dan diktator yang didasarkan pada
ketinggian dalam bidang harta, tahta, dan kasta. Dalam ekonomi, ditandai oleh
praktek riba, monopoli, rentenir, saling menipu satu sama lain. Dalam bidang
budaya, ditandai oleh budaya yang memuaskan hawa nafsu. Dalam bidang pendidikan
dan ilmu pengetahuan, ditandai oleh keterbatasan dan monopoli kaum elite.
Pendidikan dan ilmu pengetahuan hanya milik kaum elite, sedangkan rakyat pada umumnya
dibiarkan dalam keadaan bodoh. Dalam bidang agama, ditandai oleh praktek syirik
memuja selain Allah.
- Melakukan
pencerahan batin kepada manusia agar sehat rohani dan jasmaninya
Hal ini sejalan dengan firman Allah
berikut ini:
“Dan Kami turunkan dari
al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman
dan al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain
kerugian.”
Ayat tersebut berbicara
tentang salah satu misi Rasulullah Saw yang terkandung dalam al Qur’an, yaitu
memperbaiki mental dan pola pikir (mindset) masyarakat, sebagai modal utama
bagi perbaikan di bidang lain. Islam mengingatkan bahwa antara jiwa dan raga
memiliki hubungan fungsional simbiotik, yaitu saling menopang dan mempengaruhi.
Jiwa yang sehat akan mempengaruhi fisik, dan fisik yang sehat akan mempengaruhi
jiwa.
- Mengangkat
harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang paling sempurna di muka
bumi
Hal ini sejalan dengan firman Allah
berikut ini:
“Dan Sesungguhnya telah
Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami
beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan
yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”
Ayat tersebut
mengingatkan bahwa manusia diciptakan dalam struktur fisik dan psikis yang
lengkap dan sempurna. Manusia memiliki pancaindra yang lengkap, serasi, dan
proporsional letaknya. Manusia memiliki akal (kemampuan berpikir), hati nurani,
kecerdasan, bakat, minat, perasaan sosial, dan sebagainya. Dengan kelengkapan
jasmani dan rohani inilah, manusia dapat mengerjakan tugas-tugas yang berat,
menciptakan kebudayaan dan peradaban, menguasai daratan, lautan dan udara, dan
sebagainya. Semua ini terjadi jika berbagai potensi manusia tersebut dibina dan
dikembangkan melalui pendidikan.
Tujuan Pendidikan Islam Rasulullah Saw
Manusia yang berakhlak
mulia harus menjadi sasaran proses pendidikan Islam karena itulah juga sebagai
tujuan utama pendidikan Islam Rasulullah Saw. Berkenaan dengan akhlak mulia
sebagai tujuan pendidikan dapat dilihat dari ayat dan hadits-hadits berikut
ini:
“Dan sesungguhnya kamu
(Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
Abu Hurairah
meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk
menyempurnakan kemuliaan akhlak.”
Jabir bin Abdullah
berkata, Rasulullah Saw berkata: “Sesungguhnya Allah mengutusku dengan tugas
membina kesempurnaan akhlak dan kebaikan pekerjaan.”
Abdullah bin Amr,
berkata bahwa Rasulullah Saw bukan seorang yang keji dan bukan pula bersikap
keji. Beliau bersabda, “Sesungguhnya yang terbaik di antara kamu adalah yang
paling baik akhlaknya.”
Berdasarkan ayat dan
hadits-hadits di atas menunjukkan dengan tegas bahwa tujuan utama pendidikan
Rasulullah Saw adalah memperbaiki akhlak
manusia. Beliau melaksanakan tujuan tersebut dengan cara menghiasi dirinya
dengan berbagai akhlak yang mulia dan menganjurkan agar umatnya senantiasa
menerapkan akhlak tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Bahkan secara tegas,
beliau menyatakan bahwa kualitas iman seseorang itu dapat diukur dengan akhlak
yang ditampilkannya. Itu berarti bahwa semakin bagus kualitas iman seseorang
akan semakin baik pula akhlaknya. Dengan kata lain, akhlak seseorang yang jelek merupakan
pertanda bahwa imannya tidak bagus.
Bila tujuan utama Rasulullah
Saw adalah menyempurnakan kemuliaan
akhlak, maka proses pendidikan
seyogianya diarahkan menuju terbentuknya pribadi dan umat yang berakhlak
mulia. Hal ini sesuai dengan penegasan Allah bahwa Nabi Muhammad Saw adalah
teladan utama bagi umat manusia. Untuk mencapai hal itu, akhlak mulia harus
ditegaskan dalam formulasi tujuan pendidikan.
Islam sebagai agama
yang seimbang, mengajarkan bahwa setiap usaha yang dilakukan manusia tidak
hanya melibatkan peran manusia semata, melainkan juga melibatkan peran Tuhan.
Nabi Muhammad Saw menggambarkan proses pendidikan seperti sebuah kegiatan
bertani. Jika seorang petani ingin mendapatkan hasil pertanian yang baik, maka
ia harus menyiapkan lahan yang subur dan gembur, udara dan cuaca yang tepat,
air dan pupuk yang cukup, bibit yang unggul, cara menanam yang benar,
pemeliharaan dan perawatan tanaman yang benar dan intensif, waktu dan masa
tanam yang tepat dan cukup. Namun meski berbagai usaha tersebut telah
dilakukan, tetapi belum dapat menjamin seratus persen bahwa hasil pertanian
tersebut akan berhasil dengan baik.
Tanah yang subur dan
gembur serta bibit yang unggul dapat digambarkan seperti bakat dan potensi
peserta didik yang bersifat internal. Adapun cara menanam yang benar,
pemeliharaan dan perawatan yang tepat dan intensif dan pemberian pupuk yang
cukup dapat digambarkan seperti usaha dan program pendidikan yang dilakukan
oleh sekolah dan guru. Adapun keberhasilan pertanian menggambarkan peranan
Tuhan. Dengan demikian, maka pendidikan Islam menganut paham teo-anthropo
centris, yaitu memusatkan pada perpaduan antara kehendak Tuhan dan usaha
manusia.
Pengertian Dharuriyyat, Hajiyyat dan Tahsiniyyat
Menurut
al-Syatibi ada 3 (tiga) kategori tingkatan kebutuhan untuk mencapai
kemashlahatan, yaitu:
1. Dharuriyyat adalah tingkat
kebutuhan yang harus ada atau disebut dengan kebutuhan primer. Bila tingkat
kebutuhan ini tidak terpenuhi, akan terancam keselamatan umat manusia.
Keperluan dan perlindungan al-dharuriyyat ini dalam buku ushul fiqh, termasuk
as-Sythibi, membagi menjadi lima buah, yaitu pemenuhan keperluan serta
perlindungan yang diperlukan untuk:
A) keselamatan agama (ketaatan
ibadah kepada Allah SWT)
B) keselamatan nyawa
(perindividu),
C) keselamatan akal (termasuk hati
nurani),
D) keselamatan atau kelangsungan keturunan
(eksistensi manusia) serta terjaga dan terlidunginya harga diri dan kehormatan
seorang dan
E) keselamatan serta perlindungan
atas harta kekayaan yang dikuasai atau dimiliki seorang.
Kelima dharuriyyat tersebut
adalah hal yang mutlak harus ada pada diri manusia. Karenanya Allah swt
menyuruh manusia untuk melakukan segala upaya keberadaan dan kesempurnaannya.
Sebaliknya Allah swt melarang melakukan perbuatan yang dapat menghilangkan atau
mengurangi salah satu dari lima dharuriyat yang lima itu. Segala perbuatan yang
dapat mewujudkan atau mengekalkan lima unsur pokok itu adalah baik, dan
karenanya harus dikerjakan. Sedangkan segala perbuatan yang merusak atau
mengurangi nilai lima unsur pokok itu adalah tidak baik, dan karenanya harus
ditinggalkan. Semua itu mengandung kemaslahatan bagi manusia. Bila salah
satunya tidak ada maka hidup manusia akan terancam, berada dalam kesulitan yang
sangat besar dan berkepanjangan, yang akan membawanya kepada kepunahan.
Mengenai
masalah urutan ada ulama berpendapat bahwa urutan sesuai dengan yang disebutkan
diatas, artinya perlindungan dan pemenuhan keperluan agama didahulukan atas
empat yang dibawahnya dan perlindungan nyawa didahulukan atas tiga dibawahnya
dan begitulah seterusnya secara berurutan. Dan ada juga ulama yang menganggap
empat dari lima keperluan diatas yaitu selain agama setingkat, artinya seorang
boleh memilih mana yang akan diutamakan dan mana yang akan ditinggalkan atau
dikorbankan sesuai dengan pertimbangan dan keadaan nyata yang dia hadapi. Dan semua
ulama sepakat bahwa perlindungan agama merupakan yang tertinggi.
2. Kebutuhan hajiyyat ialah
kebutuhan-kebutuhan sekunder, dimana tidak terwujudkan keperluan
ini tidak sampai mengancam keselamatannya, namun akan mengalami kesulitan dan
kesukaran bahkan mungkin berkepanjangan, tetapi tidak sampai ketingkat
menyebabkan kepunahan atau sama sekali tidak berdaya. Jadi yang membedakan
al-dharuriyyah dengn al-hajiyyah adalah pengaruhnya kepada keberadaan
manusia. Namun demikian, keberadaannya dibutuhkan untuk memberikan
kemudahan serta menghilangkan kesukaran dan kesulitan dalam kehidupan mukallaf.
3. Al-tahsiniyyat adalah
(tersier) yaitu semua keperluan dan perlindungan yang diperlukan agar kehidupan
menjadi nyaman dan lebih nyaman lagi, mudah dan lebih mudah lagi, lapang dan
lebih lapang lagi, begitu seterusnya. Dengan istilah lain adalah keperluan yang
dibutuhkan manusia agar kehidupan mereka berada dalam kemudahan, kenyamanan,
kelapangan.
B. Hubungan
Antara Dharuriyyat, Hajiyyat dan Tahsiniyyat
Mengenai
hubungan antara ketiga kategori ini mempunyai hubungan yang berjenjang, mulai
dari yang paling terpenting sampai kepada yang dianggap pelengkap, yaitu
al-Dharuriyyat (keperluan dan perlindungan yang bersifat asasiah, dasariah,
primer, elementer, fundamental), al-Hijiyyat adalah keperluan dan perlindungan
yang bersifat sekunder, suplementer dan al-Tahsiniyyat adalah keperluan yang
bersifat tersier, komplementer. Hubungan antara ketiga jenis dan tingkat
keperluan dan perlindungan ini oleh as-Sythibi dijelaskan sebagai berikut:
1) Al-Dharuriyyat adalah dasar
bagi al-Hajiyyat dan al-Tahsiniyyat
2) Kerusakan al-Dharuriyyat akan
menyebabkan kerusakan seluruh al-Hajiyyat
dan al-Tahsiniyyat
3) Kerusakan al-Hajiyyat dan
al-Tahsiniyyat tidak akan menyebabkan kerusakan al-Dharuriyyat.
4) Kerusakan seluruh al-Hajiyyat
dan al-Tahsiniyyat akan mengakibatkan kerusakan sebagian al-Daruriyyat
5) Keperluan dan perlindungan
al-Hajiyyat dan al-Tahsiniyyat perlu dipelihara untuk kelestarian
al-Dharuriyyat.
Dengan
uraian diatas terlihat bahwa al-Dharuriyyat adalah pokok dan landasan bagi dua
keperluan dan perlindungan ditingkat bawahnya. tidak Keberadaan dua
terakhir (al-Hajiyyat dan al-Tahsiniyyat) tergantung penuh kepada
al-Dharuriyyat, dengan arti kalau pertama tidak ada maka yang dua dibawahnya
menjadi tidak bermanfaat. Sedangkan keberadaan al-dharuriyyat tidak bergantung
pada dua yang dibawahnya. Dengan arti kalaupun dua yang dibawahnya tidak ada
sama sekali, al-dharuriyyat masih tetap ada walaupun dalam bentuk tidak sempurna.
Jadi keberadaannya tidak bergantung kepada dua dibawahnya. Tetapi perlu untuk
sempurnanya al-dharuriyyat, maka al-hajiyyat dan al-tahsiniyyat harus
dipelihara dan diusahakan penyempurnaanya.
C. Contoh
Konkrit dari kehidupan sehari-hari setiap Kategori
1) Al-dharuriyyat
Al-dharuriyyat
adalah kebutuhan yang harus terpenuhi agar manusia dapat bertahan hidup diatas
permukaan bumi secara manusia,kalau salah satunya tidak ada maka hidup manusia
akan terancam, berada dalam kesulitan yang sangat besar dan berkepanjangan dan akan
membawa kepada kepunahan.
Contoh:
kalau pembunuhan dibiarkan terjadi dan dan tidak ada perlindungan terhadap
nyawa manusia, maka kehidupan manusia dipermukaan bumi akan terancam, karena
tidak bisa hidup tentram, bahkan bisa membawa kepada kepunahan, karena bisa
jadi akan saling membunuh dengan alasan yang sepele atau hanya dengan alasan
untuk memuakan dendam.
Contoh
lain kalau pemeliharaan harta tidak ada perlindungan maka manusia tidak dapat
hidup tentram dan tidak dapat dikembang keadaan lebih tinggi dari keadaan
primitif, dan apa bila hal seprti ini tidak ada perlindungan sangat
mungkin suatu saat semua hartanya akan dicuri. Begitu juga dengan keselamtan
akal/ hati nurani, keselamatan keturnan.
Para
ulama berpendapat, kalau ada bertentangan antara dua keperluan dari jenis yang berbeda
pada urutan yang lima tersebut, maka perlindunagan pada agama harus
didahulukan. Dan para ulama sepakat bahwa pemenuhan keperluan dan perlindungan
tidak boleh dengan cara merugikan atau mengorbankan perlindungan dan dan
kepentingan orang lain. Contoh untuk menyelamatkan diri sendiri diri dari
kematian atau tekanan, paksaan orang lai, seorang tidak boleh membunuh orang
lain, merusak kehormatan orang lain atau menghancurkan harta orang lain.
2)
Al-hajiyyat
Keperluan
dan kebutuhan ini ada untuk hidup tidak terlalu susah, dan kalaupun tidak ada
maka sebagian manusia akan berada dalam kesulitan tapi tidak sampai kepada
tingkat menyebabkan kepunahan atau sama sekali tidak berdaya.
Contoh: keperluan rumah yang bersifat
al-dharuriyyat karena manusia memerlukan untuk berlindung dari cuaca, atau dari
serangan binatang buas dan lain-lain, tempat yang masuk dalam kategori
al-dhaririyyat untuk memenuhi kebutuhan dasariah diatas tidak musti rumah yang
dibuat dari kayu, atau batu yang kokoh, gua atau cabang-cabang kayu, kemah atau
pondok yang seadanya pun dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasariah,
karena manusai dapat berlindung didalamnya walaupun tentunya dengan cara yang
sederhana dan boleh jadi sama sekali tidak memberikan kemudahan dan kenyamanan.
Jadi keperluan rumah yang dibuat secara khusus dengan dinding dan atap yang
kuat serta lantai yang hangat yang dibagi kepada kamar-kamar dengan fungsin dan
kegunaan yang berbeda masuk kedalam kategori al-hajiyyat.
3)
Al-Tahsiniyyat
Keperluan
dan perlindungan tingkat ketiga ini adalah semua keperluan dan perlindungan
yang diperlukan agar kehidupan lebih nyaman, lebih mudah, dan
seterusnya. Kebutuhan ini kelihatannya tidak menyentuh kepada kegiatan
atau suatu yang menjadi kebutuhan pokok atau subtansial bagi kehidupan, tetapi
hanya berhubungan dengan suatu yang menjadi fasilitas, tata cara atau upaya
menghasilkan barang-barang yang dapat mempermudah pemenuhan dan perlindunga
al-dharuriyyat dan al-hajiyyat yang sudah disebutka diatas. Contoh: tidur
diatas kasur, memasak makanan, menyediakan berbagai berbagai jenis bumbu,
menci[takan dan menggunakan berbagai alat untuk transportasi ,dan sebagainya
termasuk kedalam al-tahsiniyyat.
Namun
bila dikaitkan dengan pada masa sekarang (modern) tentu sangat berbeda dengan
masa lalu (masa imam mazhab dan masa sahabat), maka yang awalnya bersifat
al-hajiyyat berubah menjadi al-dharuriyyat.
Contoh:
listrik, tentu kita berpikir tanpa listrikpun manusia tetap hidup dan tidak
membawa kepada kepunahan, minsalnya orang yang hidup masih dalam dasariah atau
primitif disebuah kota modern, ketergantungan pada listrik relative tinggi
sekali, pengaturan lalu lintas, penyulingan air, dan penglirannya
kegedung-gedung tinggi dan menjalan berbagai aktivitas dirumah sakit, menjalan
kan pabrik, menjalankan berbagai alat rumah tangga , dan semua tergantung
kepada listrik, bila listrik mati total maka kota akan lumpuh total, dengan
arti bawa kegiatan dan aktivitas tdk bisa dilaksanakan, maka listrik masuk dala
kategori al-dharuriyyat.
Contoh
pada masa lalu petani merasa puas dengan mengelola sawahnya dengan teknologi
sederhana, seperti cangkul, parang, ditarik dengan lembu, kuda kerbau, serta
irigasi seadanya bahkan tadah hujan, dengan bibit biasa tanpa pupuk dan
lain-lain, sedangkan pada sekarang petani yang hanya menggunakan alat-alat
diatas kalah bersaing dengan dengan petani menggunakan traktor dan hasil ilmu
pengetahuan modern lainnya. Jadi untuk dapat mempertahankan tingkat
kesejahteraannya, agar tidak dikalahkan oleh petani yang sudah modern, maka
petani tradisional harus meningkatkan kualitas dan dan pekerjaan berpindah alih
ke traktor dan alat modern lainnya.
Oleh
karena itu layak untuk dipertimbangkan bahwa kualitas capaian keperluan dan
perlindungan al-dharuriyyat seperti diuraikan diatas tidak memadai kalau hanya
pada tingkat standar, maka kualitas tersebut perlu ditingkatkan sampai
ketingkat yang paling tinggi. Maka pada kesimpulanya bahwa al-dharuriyyat
al-khamsah perlu akan bergeser sedikit. Bukan lagi hanya sekedar pemenuhan dan
perlindungan keperluan dasariah tapi akan ditambah dengan meningkatkan dan
pengembangan keperluan dasariah sehingga mampu bertahan bahkan menjadi lebih
unggul dari orang lain dalam persaingan hidup.
Langganan:
Postingan (Atom)
Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern
Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern Pendahuluan Ketika arus modernisasi menghujani dunia Islam, proses modern...
-
Menurut al-Syatibi ada 3 (tiga) kategori tingkatan kebutuhan untuk mencapai kemashlahatan, yaitu: 1. Dharuriyyat adalah tingka...
-
Amr menurut bahasa adalah perintah, suruhan, tuntutan. Sedangkan amr menurut istilah ialah: طلب الفعل من الأعلى إلى الأدنى “Suatu tuntutan...
-
PRE TEST dan POST TEST PELATIHAN KADER LANJUT 1. Menurut sahabat, bagaimana positioning aswaja dalam konstalasi ideologi keagamaa...
|
|
Blogger templates
Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla

