Senin, 09 Januari 2017

Pangeran Dipanegara, Detik-Detik Menjelang Perang Jawa 1825 M






“Den Siro Poro Satrio Nagari Mataram | Nagarining Jawi Dodot Iro | Sumimpin Watak | Wantune Sayyidina Ngali | Sumimpin Kawicaksanane Sayidina Kasan | Sumimpin kekendelane Sayidina Kusen | Den seksenono | Hing Wanci Suro | Londo bakal den siro sirnake soko tanah Jowo | Krana sinurung Pangribawaning poro Satrianing Muhammad yoiku Ngali, Kasan, Kusen | Siro podho lumaksanane yudho kairing Takbir lan Sholawat | Yen Siro gugur ing bantala | Cinondro guguring sakabate Sayidina Kusen Ing Nainawa”

“Wahai para satria negeri Mataram. Negeri di Jawa tempat yang selalu aku pegang teguh bersama sifat kepemimpinan Sayidina Ali yang tegas, bersama sifat Sayidina Hasan yang bijak, juga bersama sifat kepemimpinan Sayidina Husain yang gagah berani. Wahai saksikanlah. Tunggulah sampai nanti datangnya bulan Muharam, saat orang-orang Belanda akan kita lenyapkan dari Tanah Jawa. Dengan kewibawaan dan sifat kesatria Muhammad, yaitu Ali, Hasan, dan Husein, kita semua akan berperang melawan penjajah dengan takbir dan sholawat. Jika kita gugur di medan perang, itu adalah tanda laksana gugurnya sahabat Husain di Nainawa”

Berdialog Dengan tuhan





Doa merupakan cahaya yang berkilau. Ketika doa telah sampai ke langit, para malaikat akan segera mengenalinya, kemudian membukakan pintu-pintunya. Ketika doa tersebut telah sampai di hadapan Allah Ta’ala, para malaikat mengangkat tangannya tinggi-tinggi, serempak para malaikat dan seluruh penduduk langit mengucap, “Aamiin” Dan ketika Allah mendengar doa yang sampai kepada-Nya, Dia berfirman, “Aku datang memenuhi panggilanmu wahai hamba-Ku”
Doa merupakan sarana berkomunikasi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Pada saat berdoa itulah terjadi dialog yang mesra antara seorang hamba dengan penciptanya. Jika ibadah merupakan tindakan merendahkan diri dan tunduk-patuh terhadap semua perintah, larangan, dan aturan-Nya, maka doa merupakan penampakan rasa fakir kita kepada-Nya. Sikap berserah diri bahwa tidak ada daya dan upaya pada diri kita kecuali atas pertolongan-Nya.

Sejarah Tamansiswa




Tamansiswa merupakan sebuah organisasi pendidikan dan pembentukan karakter kebangsaan yang memiliki pengaruh sangat besar di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sampai saat ini, masalah pendidikan dan pembentukan karakter peserta didik dapat dikatakan sudah menjadi identitas Tamansiswa. Banyaknya sekolah yang berhasil dirikan oleh Tamansiswa menjadi bukti yang sangat konkret bahwa Tamansiswa memiliki peranan yang sangat penting dalam proses menyiapkan generasi bangsa yang cerdas, berpendidikan, terwawas dan berkarakter kebangsaan.

Dalam konteks ini, Tamansiswa tidak hanya berhasil mengentaskan bangsa Indoensia dari kebodohan dan penindasan, namun juga menawarkan suatu model pembaharuan sistem pendidikan modern yang terjaga identitas dan kelangsungannya sesuai dengan karakter bangsa Indonesia sendiri. Membicarakan Tamansiswa tentu saja tidak dapat dilepaskan dari pemikiran pendirinya, yakni Ki Hadjar Dewantara.

Ki Hadjar Dewantara merupakan sosok nasionalis, pemikir, seniman, jurnalis, penulis dan seorang guru atau pamong yang memiliki kedudukan penting di lingkungan Tamansiswa. Hal itu karena beliau adalah peletak dasar-dasar pendidikan kebangsaan yang berdiri di Yogyakarta pada 3 Juli 1922 Masehi tersebut. Dalam konteks yang lebih luas lagi, Ki Hadjar Dewantara adalah seorang tokoh bangsa Indonesia yang berani melakukan perubahan dan pembaharuan sistem pendidikan di negeri ini. Mengajak masyarakat yang bodoh dan buta huruf agar melek aksara. Mengajak masyarakat yang tadinya berada dalam kedekilan dan kedegilan ke arah pembentukan masyarakat yang cerdas, berpendidikan, berkarakter, dan berdaya saing. Pendek kata, Ki Hadjar Dewantara adalah satu di antara tokoh bangsa Indonesia yang sangat peduli dengan pendidikan dan pembentukan karakter anak-anak Indonesia. Dengan usaha dan kerja kerasnya, Ki Hadjar Dewantara berhasil mengembalikan sistem pendidikan di Indonesia sesuai dengan alam pemikiran masyarakat Indonesia.

Rekam jejak perjalanan dan perjuangan Ki Hadjar Dewantara secara nyata dapat kita lihat dan saksikan dari Tamansiswa yang masih berdiri hingga kini. Meski udah banyak cabang-cabang sekolah yang terpaksa ditutup karena tersandung masalah biaya, tapi pemikiran dan gagasan Ki Hadjar Dewantara tak pernah lekang di makan usia. Pemikiran dan gagasan lelaki pemilih nama kecil Raden Mas Soewardi Soerjaningrat itu tetap menjadi rujukan, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di negara-negara maju lainnya—khususnya Firlandia.

Mengingat besarnya peran Ki Hadjar Dewantara dalam mengembangkan pendidikan berkarakter di Nusantara, tidak heran jika sampai saat ini kisah kehidupan dan perjuangan Ki Hadjar Dewantara banyak tertulis dalam bentuk buku-buku biografi, juga buku-buku yang membahas tentang perkembangan Tamansiswa. Hal tersebut menunjukkan bahwa, Ki Hadjar Dewantara merupakan sosok yang tidak dapat dilepaskan dari ingatan generasi bangsa Indonesia, khususnya Tamansiswa sebagai sebuah organisasi kebangsaan yang mengedepankan sistem pendidikan karakter di negeri ini.

Jika kita tengok ke belakang, maka kita akan mendapati bahwa Ki Hadjar Dewantara merupakan salah seorang di antara Bapak Bangsa dan Pahlawan Nasional. Semasa hidupnya beliau dikenal sebagai aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan untuk kalangan Inlander sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda. Perjalanan hidup beliau—sejak lahir sampai meninggal dunia—benar-benar diwarnai dengan semangat perjuangan dan pengabdian demi kepentingan bangsa Indonesia.

Keras tapi tidak kasar. Itulah kepribadian khas Ki Hadjar Dewantara yang diakui oleh teman-teman seperjuangannya. Kesetiaannya pada sikap dan idealismenya selalu tergambar jelas dalam setiap tindakan dan kiprahnya. Meskipun secara fisik terlihat ringkih, tapi semangat juangnya menggelora. Pidato-pidatonya yang lantang dan penuh ghiroh, menjadi pembangkit persatuan rakyat Indonesia. Ketajamannya dalam memberikan kritik pada pemangku kekuasaan membuat Pemerintah Belanda gerah.

Pada saat itu Ki Hadjar Dewantara dikenal sebagai seorang jurnalis yang sangat handal. Banyak kalangan yang menilai jika tulisan-tulisan Ki Hadjar Dewantara sangat komunikatif, tajam dan menggelorakan semangat perjuangan kaum pergerakan (Boemi Poetra), sehingga karya-karyanya tersebut mampu membangkitkan semangat anti penjajah bagi pembacanya—khususnya kaum pergerakan. Ketajamannya dalam mengritik membuat Pemerintah Belanda gerah.

Meskipun berulangkali ditangkap dan dipenjara, tapi semangatnya untuk membela kepentingan jelata tak kunjung padam. Semakin ditekan oleh penjajah, maka laki-laki trah Puro Pakualaman itu akan semakin keras menyatakan permusuhan dengan bangsa koloni itu. Pada saat Indische Partij (IP)—partai politik yang didirikan bersama Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo—dibrandel oleh Pemerintah Belanda pada 1912 dia tidak kehilangan asa. Justru hal itu membuatnya semakin berani mengolok-olok komunitas rambut pirang yang saat itu menjadi pemangku kekuasaan tanah leluhurnya.

Kekesalan-kekesalan putra Pangeran Soerjaningrat pada Belanda itu juga banyak dituangkan melalui tulisan-tulisannya di Majalah De Express, Midden Java, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Saat pemerintah penjajah bermaksud merayakan kemerdekaan negerinya di Indonesia, santri Haji Soleman Abdurrohman itu juga menyampaikan kritikan pedas. Sehingga membuat telinga Gubernur Jenderal Belanda panas.

Dalam artikel yang diberi judul judul Als Ik Eens Nederlander Was siswa gagal STOVIA itu mengungkapkan, betapa tidak malunya orang-orang Belanda merayakan kemerdekaannya dengan memakai uang rakyat yang hidup dinegeri jajahannya. Keseriusannya dalam membela kepentingan-kepentingan jelata juga tercermin saat dengan beraninya Ki Hadjar Dewantara mengirim surat kepada Ratu Belanda. Meminta agar Pasal 11 Undang-Undang Governemen Hindia Belanda tentang larangan orang-orang Inlander mendirikan partai politik dihapus.

Sebagai akibat dari sikapnya yang berani itu, Pemerintah Belanda menangkap dan mengasingkan Ki Hadjar Dewantara ke Negeri Belanda enam tahun. Di tanah asing itulah Ki Hadjar Dewantara secara tekun mendalami masalah pendidikan dan pengajaran. Berkat kegigihannya itu, maka Ki Hadjar Dewantara berhasil memperoleh Europesche Akte.

Setelah kembali ke tanah air pada 1919, Ki Hadjar Dewantara mulai tertarik untuk menjadikan pendidikan sebagai alat perjuangan meraih kemerdekaan Indonesia. Berangkat dari impian dan cita-cita luhurnya itu, pada 3 Juli 1922 Ki Hadjar Dewantara dan teman-teman seperjuangannya mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa.


Sejak saat itu Ki Hadjar Dewantara dikenal sebagai tokoh Boemi Poetra yang memiliki dedikasi tinggi terhadap nasib bangsa Indonesia dengan membawa spirit kerakyatan. Menjadikan pendidikan sebagai alat perjuangannya. Meskipun beliau adalah seorang bangsawan, tapi beliau tidak mau menjaga jarak dengan rakyat kecil, demi menjalankan misi perjuangannya yang pro rakyat.

Melalui Perguruan Tamansiswa yang digagasnya itulah, Ki Hadjar Dewantara berjuang untuk menunjukkan keyakinannya. Bahwa tujuan terpenting dari proses pendidikan adalah membantu peserta didik untuk menjadi manusia yang merdeka. Menjadi ikhtiar untuk menyiapkan generasi bangsa Indonesia yang bebas dari cengkeraman penjajah, tidak hidup diperintah, berdiri di atas kaki sendiri, dan cakap mengatur hidupnya dengan tertib.

Berdagang Ala Rasulullah Saw






Rasulullah Saw merupakan sosok teladan yang dijamin kebaikan dan kebenarannya sepanjang zaman. Sebagai orang yang beriman kepada Allah dan mengakui bahwa Muhammad adalah Rasul-Nya, maka kita harus menjadikan beliau sebagai teladan dalam segala hal. Baik dalam perkataan maupun perbuatan. Salah satu kewajiban kita sebagai orang yang beriman kepada Allah adalah mengikuti dan mencontoh Rasulullah Saw dalam memahami prinsip-prinsip agama ini. Salah satunya adalah mencontoh beliau dalam melakukan perniagaan/perdagangan dalam upayanya menjemput karunia-Nya.
Disamping sebagai nabi dan rasul yang selalu memberikan contoh dan bimbingan agar umatnya mengikuti aturan-aturan Allah, beliau juga banyak memberikan contoh dan bimbingan kepada kita dalam melakukan perdagangan dan perniagaan yang menguntungkan semua pihak. Cara berdagang dan berniaga yang baik dan benar menurut ajaran agama Islam adalah dengan mengamalkan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh batasan-batasan syariat agama Islam.
Disamping kesibukannya menjalankan amanah Allah untuk menyampaikan risalah-Nya, sejatinya Rasulullah Saw juga merupakan seorang niagawan yang cukup sukses di zamannya. Kepiawaian dan kecerdasan Rasulullah Saw dalam mengelola dan menjalankan barang dagangan sebenarnya sudah mulai nampak saat beliau masih berusia sangat muda. Bahkan masih bisa dibilang kanak-kanak. Jauh sebelum beliau menjadi nabi dan Rasul, Muhammad muda telah banyak belajar tentang dunia perdagangan dan perniagaan dari sang paman, Abu Thalib.
Dari pengalaman perjalanan bisnisnya ke negeri Syam bersama sang paman itu, Muhammad muda kemudian belajar mempraktekkan strategi pemasaran bisnis yang sangat cerdas, di mana caranya menjalankan sistem perdagangannya tidak pernah merugikan orang lain yang menjalin akad kerjasama dengannya. Muhammad muda menjadikan kejujuran sebagai modal utama dalam menjalankan peerdagangannya.
Ya, sudah sejak usia belia Muhammad dikenal sebagai seorang pebisnis muda yang sangat jujur dan selalu disegani. Namun tentu saja untuk menjadi seorang niagawan muda agar bisa sampai pada tataran dipercaya dan disegani bukanlah suatu perkara yang mudah. Di awal-awal memulai perdagangan, Muhammad pun juga mengalami banyak kesulitan, sebelum akhirnya dia menjadi seorang niagawan muda yang sukses. Apa yang sebenarnya membuat Muhammad muda bisa menjalankan perdagangannya dengan sukses? Adakah karena dia memiliki modal yang besar?
Tentu saja tidak demikian. Jangankan memiliki modal yang besar, Muhammad muda saat itu hanya hidup sebatang kara yang hidupnya hanya menumpang di rumah Abu Thalib, pamannya, yang juga hanya bisa hidup dalam keadaan pas-pasan. Namun Muhammad muda tidak menjadikan semua keterbatasan tersebut sebagai halangan. Baginya, berdagang adalah kesenian. Sehingga dia tidak lagi menganggap uang sebagai modal untuk memulai suatu jenis usaha. Sebab, dia memiliki prinsip bahwa modal yang sebenarnya sangat diperlukan dalam menjalankan perdagangan adalah kejujuran dan keadilan dalam melakukan transaksi.
Sikap inilah yang kemudian dijadikan oleh Muhammad muda sebagai modal terbesar dalam memulai perdagangan. Oleh karena itu, sangat tepat jika Afzalur-Rahman di dalam bukunya Muhammad Saw A Trader menuliskan bahwa kunci kesuksesan Rasulullah Saw dalam menjalankan perdangangannya terletak pada kejujuran dan keadilannya. Dan sejarah memang telah mencatat fakta yang sebenarnya bahwa memang kejujuranlah yang selalu ditunjukkan oleh Muhammad muda dalam melakukan transaksi perdagangannya.
Jujur dan jujur. Sikap inilah yang juga Muhammad muda tunjukkan pada saat dirinya menjadi pengelola utama bisnis besar yang diinvertasikan oleh Siti Khadijah. Berkat kejujuran yang dimiliki oleh Muhammad inilah yang kemudian mendorong hati Khadijah untuk mempercayakan seluruh barang dagangan yang dimilikinya pada seorang pemuda bernama Muhammad. Oleh karena itu, berkat kejujuran dan keadilannya Muhammad muda dengan didampingi oleh salah seorang pembantu setia KhadijahMaisyarohberangkatlah ke Syiria, Jerussalem, Yaman dan tempat-tempat lain untuk menjalankan barang dagangan.
Karena kejujurannya, maka dalam menjalankan perdagangan ke luar negeri tersebut Muhammad muda selalu mendapatkan keuntungan di luar dugaannya. Hal itu membuat Maisyaroh hanya terbengong-bengong. Maisyaroh benar-benar kagum terhadap kejujuran dan keadilan yang dimiliki oleh Muhammad.
Oleh sebab itu, sangat tepat jika Prof. Afzalur-Rahman di dalam bukunya Muhammad A Trader mengungkapkan bahwa Muhammad Saw merupakan seorang pedagang yang sangat jujur dan adil (fairplay) dalam membuat perjanjian bisnis. Muhammad Saw tidak pernah membuat para pelanggannya mengeluh (komplain). Beliau selalu menepati janjinya dan dalam menyerahkan/mengirimkan barang-barang pesanannya selalu tepat waktu dan tetap mengutamakan kualitas barang yang telah dipesan dan disepakati sebelumnya.
Dalam berperilaku bisnis pun beliau selalu menunjukkan rasa tanggung jawab. Di samping itu beliau juga memiliki integritas yang tinggi di mata siapa pun. Sehingga reputasi beliau sebagai seorang pedagang yang jujur dan adil telah dikenal luas sejak beliau masih mudasebelum beliau diangkat menjadi seorang nabi dan rasul.
Sejalan dengan pernyataan di atas, Dr. H. Muhammad Syafii Antonio, M.E.c mengungkapkan bahwa yang menjadi Number One Capital dalam bisnis yang dijalankan oleh Rasulullah Saw adalah kepercayaan dan kopetensi. Sehingga dalam kepercayaan (trust) itu ada integritas dan kemampuan untuk segera melaksanakan usaha. Oleh karena itu, tak heran jika Rasulullah Saw mulai membangun usaha dagangnya dari kecil, yaitu dari sekadar menjadi seorang pekerja dan buruh kasar. Kemudianberkat kejujurannyabeliau dipercaya untuk menjadi seorang supervisor, manager dan kemudian menjadi investor.
Perjalanan dari kuadran ke kuadran itu, masih menurut Dr. Syafii Antonio, menunjukkan bahwa Rasulullah Saw merupakan seorang entrepreneur yang memiliki strategi dalam mengembangkan usahanya dan karakteristik untuk mencapai kesuksesannya. Sebagai seorang pengusaha dan pemimpin, maka Rasulullah Saw memiliki sumber pendapatan yang sangat banyak. Tapi, selain beliau mudah mendapatkan pemasukan, beliau juga seorang manusia mulia yang memiliki jiwa penuh kasih sehingga sering memberikan bantuan kepada orang lain.
Beliau sangat tidak sabar jika melihat ada salah satu di antara umatnya yang menderita dan tidak ridha melihat kemiskinan di sekitarnya atau kelaparan di depan matanya. Itu sebabnya, Rasulullah Saw selalu terdepan dalam berinfak dengan kecepatan yang luar biasa, yang digambarkan para sahabatnya sebagai seperti hembusan angin. Beliau selalu menyedekahkan banyak hartanya dan mengambil sedikit saja untuk diri dan keluarganya.
Sedangkan menurut Laode M. Kamaluddin. Ph.D. di dalam bukunya yang berjudul 14 Langkah Rasulullah Saw Membangun Kerajaan Bisnis menyatakan bahwa sikap kejujuran dan keterbukaan yang dimiliki oleh Rasulullah Saw dalam melakukan transaksi perdagangan merupakan teladan bagi seorang pengusaha generasi selanjutnya. Beliau selalu menepati setiap janji dan mengantarkan barang dagangan dengan standar kualitas yang selalu sesuai dengan permintaan para pelanggannya. Sehingga beliau tidak pernah membuat pelanggannya mengeluh atau kecewa. Reputasi sebagai pelanggan yang benar-benar jujur telah tertanam dengan baik.
Sejak muda, beliau selalu memperlihatkan rasa tanggung jawabnya terhadap setiap transaksi yang dilakukan. Beliau juga menjadikan bekerja sebagai ladang untuk menjemput surga, berpikir visioner, kreatif dan siap menghadapi perubahan. Selain itu beliau juga merupakan sosok seorang pribadi yang pandai dan cerdas dalam mempromosikan diri, menggaji karyawan sebelum kering keringatnya, mengutamakan sinergi dan berbisnis dengan cinta. Beliau juga pandai bersyukur kepada Allah dan tak segan mengucapkan kata terima kasih.
Selain memaparkan rahasia kesuksesan Rasulullah Saw dalam menjalankan perdagangannya, Laode M. Kamaluddin. Ph.D juga menyatakan bahwa Rasulullah Saw merupan pribadi yang pandai menjaga amanah. Kesuksesan Rasulullah Saw tidak pernah bisa dilepaskan dari keberhasilan beliau menjaga kepercayaan (amanah). Sikap amanah inilah yang selalu dijunjung tinggi oleh Rasulullah Saw dalam menjalankan roda bisnisnya. Sehingga tidak ada satu orang pun yang pernah berinteraksi dengan beliau kecuali mendapatkan rasa puas dan bahagia.
Dari keterangan-keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa kesuksesan Rasulullah Saw dalam menjalankan dan mengembangkan usaha perdagangannya karena beliau mengutamakan kejujuran dan keadilan sebagai modal utama dalam berdagang. Sehingga beliau selalu berkata jujur dalam setiap melakukan transaksi kepada para pembeli maupun mitra-mitra usahanya. Jika barang dagangannya memang buruk, beliau selalu mengatakan apa adanya. Sehingga pembeli tidak akan kecewa karena merasa dipermainkan atas barang dagangan yang tidak sesuai dengan kenyataannya.
Selain kejujuran dan keadilan, Rasulullah Saw juga menjadikan amanah sebagai prinsip dasar yang selalu dijunjung tinggi. Beliau berprinsip bahwa berdagang merupakan seni membangun kepercayaan. Jika di awal sudah merasa sangat tertarik, tidak merasa dirugikan dan justru diuntungkan berkat kejujuran beliau, maka di kemudian hari akan lebih mudah untuk membuat seorang pembeli itu datang kembali dan membeli barang dagangannya. Kejujuran dalam bertransaksi akan menurunkan keberkahan dari sisi-Nya.
Dalam sebuah riwayat shahih disebutkan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda, Jika penjual dan pembeli itu jujur dan transparan, maka akan diberkahi dalam transaksinya (H.r. Imam Bukhari dan Imam Muslim)
Dengan demikian maka jelaslah bahwa Rasulullah Saw telah memberikan contoh pada kita bagaimana cara berdagang yang baik dan benar menurut aturan Islam. Dalam berdagang, kejujuran dan keadilan bertransaksi merupakan modal terbesar. Dengan memiliki kedua modal tersebut, maka seorang pedagang akan meraih keberkahan perdagangan dan keberkahan rezekinya. Kejujuran dan keadilan dalam setiap melakukan transaksi merupakan cara terbaik yang membuat Allah menjadi ridha.

Hakikat Pernikahan





Hakikat pernikahan adalah untuk melahirkan, merawat, serta mentarbiyah generasi yang mencintai Rabb-nya. Nikah seharusnya dijadikan sebagai ladang ukhrawi. Sebagai investasi surgawi. Sebab apa?
Sebab seba'da kita wafat, salah satu doa yang tetap mencucur adalah do'anya anak yang shaleh. Maka dari itu, memilih pasangan jangan hanya mengandalkan rasa. Atau cinta. Atau apalah namanya. Sadarilah bahwa Allah tak hanya memberi kita hati, namun juga akal. Akal, yang semestinya digunakan untuk mengemudikan hati agar ia tidak jatuh pada jiwa yang salah.
Aduhai malang sekali, hanya demi 'memperjuangkan' si dia, kita mengacuhkan tuntutan agama. Sudah jelas akhlaknya buruk, shalat-nya jarang, 'amal shaleh-nya nihil, kita kekeh mempertahankan-nya hanya karena alasan cinta.
Hingga, nasihat orangtua dihiraukan, lelaki baik yang datang diabaikan, bahkan nurani yang berbisik halus tak didengarkan.
Maafkan jika ini agak berlebihan, Saudarku. Tapi renungilah
sejenak. Sejenak saja. Bahwa, salah satu cara untuk melahirkan anak-anak yang shaleh-shalehah adalah dengan memilih suami/istri yang baik. Seseorang, yang akan mengenalkan Allah kepada sang buah hati di kelak hari.
Karenanya, seperti petuah seorang 'ulama, pilihlah lelaki/wanita yang shaleh/shalehah. Jika ia mencintai, katanya, ia akan selalu memuliakan-mu. Namun jikalau ia tak mencintai, sungguh ia tak akan menyakitimu.

Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern

  Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern Pendahuluan Ketika arus modernisasi menghujani dunia Islam, proses modern...