Senin, 09 Januari 2017

Berdagang Ala Rasulullah Saw






Rasulullah Saw merupakan sosok teladan yang dijamin kebaikan dan kebenarannya sepanjang zaman. Sebagai orang yang beriman kepada Allah dan mengakui bahwa Muhammad adalah Rasul-Nya, maka kita harus menjadikan beliau sebagai teladan dalam segala hal. Baik dalam perkataan maupun perbuatan. Salah satu kewajiban kita sebagai orang yang beriman kepada Allah adalah mengikuti dan mencontoh Rasulullah Saw dalam memahami prinsip-prinsip agama ini. Salah satunya adalah mencontoh beliau dalam melakukan perniagaan/perdagangan dalam upayanya menjemput karunia-Nya.
Disamping sebagai nabi dan rasul yang selalu memberikan contoh dan bimbingan agar umatnya mengikuti aturan-aturan Allah, beliau juga banyak memberikan contoh dan bimbingan kepada kita dalam melakukan perdagangan dan perniagaan yang menguntungkan semua pihak. Cara berdagang dan berniaga yang baik dan benar menurut ajaran agama Islam adalah dengan mengamalkan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh batasan-batasan syariat agama Islam.
Disamping kesibukannya menjalankan amanah Allah untuk menyampaikan risalah-Nya, sejatinya Rasulullah Saw juga merupakan seorang niagawan yang cukup sukses di zamannya. Kepiawaian dan kecerdasan Rasulullah Saw dalam mengelola dan menjalankan barang dagangan sebenarnya sudah mulai nampak saat beliau masih berusia sangat muda. Bahkan masih bisa dibilang kanak-kanak. Jauh sebelum beliau menjadi nabi dan Rasul, Muhammad muda telah banyak belajar tentang dunia perdagangan dan perniagaan dari sang paman, Abu Thalib.
Dari pengalaman perjalanan bisnisnya ke negeri Syam bersama sang paman itu, Muhammad muda kemudian belajar mempraktekkan strategi pemasaran bisnis yang sangat cerdas, di mana caranya menjalankan sistem perdagangannya tidak pernah merugikan orang lain yang menjalin akad kerjasama dengannya. Muhammad muda menjadikan kejujuran sebagai modal utama dalam menjalankan peerdagangannya.
Ya, sudah sejak usia belia Muhammad dikenal sebagai seorang pebisnis muda yang sangat jujur dan selalu disegani. Namun tentu saja untuk menjadi seorang niagawan muda agar bisa sampai pada tataran dipercaya dan disegani bukanlah suatu perkara yang mudah. Di awal-awal memulai perdagangan, Muhammad pun juga mengalami banyak kesulitan, sebelum akhirnya dia menjadi seorang niagawan muda yang sukses. Apa yang sebenarnya membuat Muhammad muda bisa menjalankan perdagangannya dengan sukses? Adakah karena dia memiliki modal yang besar?
Tentu saja tidak demikian. Jangankan memiliki modal yang besar, Muhammad muda saat itu hanya hidup sebatang kara yang hidupnya hanya menumpang di rumah Abu Thalib, pamannya, yang juga hanya bisa hidup dalam keadaan pas-pasan. Namun Muhammad muda tidak menjadikan semua keterbatasan tersebut sebagai halangan. Baginya, berdagang adalah kesenian. Sehingga dia tidak lagi menganggap uang sebagai modal untuk memulai suatu jenis usaha. Sebab, dia memiliki prinsip bahwa modal yang sebenarnya sangat diperlukan dalam menjalankan perdagangan adalah kejujuran dan keadilan dalam melakukan transaksi.
Sikap inilah yang kemudian dijadikan oleh Muhammad muda sebagai modal terbesar dalam memulai perdagangan. Oleh karena itu, sangat tepat jika Afzalur-Rahman di dalam bukunya Muhammad Saw A Trader menuliskan bahwa kunci kesuksesan Rasulullah Saw dalam menjalankan perdangangannya terletak pada kejujuran dan keadilannya. Dan sejarah memang telah mencatat fakta yang sebenarnya bahwa memang kejujuranlah yang selalu ditunjukkan oleh Muhammad muda dalam melakukan transaksi perdagangannya.
Jujur dan jujur. Sikap inilah yang juga Muhammad muda tunjukkan pada saat dirinya menjadi pengelola utama bisnis besar yang diinvertasikan oleh Siti Khadijah. Berkat kejujuran yang dimiliki oleh Muhammad inilah yang kemudian mendorong hati Khadijah untuk mempercayakan seluruh barang dagangan yang dimilikinya pada seorang pemuda bernama Muhammad. Oleh karena itu, berkat kejujuran dan keadilannya Muhammad muda dengan didampingi oleh salah seorang pembantu setia KhadijahMaisyarohberangkatlah ke Syiria, Jerussalem, Yaman dan tempat-tempat lain untuk menjalankan barang dagangan.
Karena kejujurannya, maka dalam menjalankan perdagangan ke luar negeri tersebut Muhammad muda selalu mendapatkan keuntungan di luar dugaannya. Hal itu membuat Maisyaroh hanya terbengong-bengong. Maisyaroh benar-benar kagum terhadap kejujuran dan keadilan yang dimiliki oleh Muhammad.
Oleh sebab itu, sangat tepat jika Prof. Afzalur-Rahman di dalam bukunya Muhammad A Trader mengungkapkan bahwa Muhammad Saw merupakan seorang pedagang yang sangat jujur dan adil (fairplay) dalam membuat perjanjian bisnis. Muhammad Saw tidak pernah membuat para pelanggannya mengeluh (komplain). Beliau selalu menepati janjinya dan dalam menyerahkan/mengirimkan barang-barang pesanannya selalu tepat waktu dan tetap mengutamakan kualitas barang yang telah dipesan dan disepakati sebelumnya.
Dalam berperilaku bisnis pun beliau selalu menunjukkan rasa tanggung jawab. Di samping itu beliau juga memiliki integritas yang tinggi di mata siapa pun. Sehingga reputasi beliau sebagai seorang pedagang yang jujur dan adil telah dikenal luas sejak beliau masih mudasebelum beliau diangkat menjadi seorang nabi dan rasul.
Sejalan dengan pernyataan di atas, Dr. H. Muhammad Syafii Antonio, M.E.c mengungkapkan bahwa yang menjadi Number One Capital dalam bisnis yang dijalankan oleh Rasulullah Saw adalah kepercayaan dan kopetensi. Sehingga dalam kepercayaan (trust) itu ada integritas dan kemampuan untuk segera melaksanakan usaha. Oleh karena itu, tak heran jika Rasulullah Saw mulai membangun usaha dagangnya dari kecil, yaitu dari sekadar menjadi seorang pekerja dan buruh kasar. Kemudianberkat kejujurannyabeliau dipercaya untuk menjadi seorang supervisor, manager dan kemudian menjadi investor.
Perjalanan dari kuadran ke kuadran itu, masih menurut Dr. Syafii Antonio, menunjukkan bahwa Rasulullah Saw merupakan seorang entrepreneur yang memiliki strategi dalam mengembangkan usahanya dan karakteristik untuk mencapai kesuksesannya. Sebagai seorang pengusaha dan pemimpin, maka Rasulullah Saw memiliki sumber pendapatan yang sangat banyak. Tapi, selain beliau mudah mendapatkan pemasukan, beliau juga seorang manusia mulia yang memiliki jiwa penuh kasih sehingga sering memberikan bantuan kepada orang lain.
Beliau sangat tidak sabar jika melihat ada salah satu di antara umatnya yang menderita dan tidak ridha melihat kemiskinan di sekitarnya atau kelaparan di depan matanya. Itu sebabnya, Rasulullah Saw selalu terdepan dalam berinfak dengan kecepatan yang luar biasa, yang digambarkan para sahabatnya sebagai seperti hembusan angin. Beliau selalu menyedekahkan banyak hartanya dan mengambil sedikit saja untuk diri dan keluarganya.
Sedangkan menurut Laode M. Kamaluddin. Ph.D. di dalam bukunya yang berjudul 14 Langkah Rasulullah Saw Membangun Kerajaan Bisnis menyatakan bahwa sikap kejujuran dan keterbukaan yang dimiliki oleh Rasulullah Saw dalam melakukan transaksi perdagangan merupakan teladan bagi seorang pengusaha generasi selanjutnya. Beliau selalu menepati setiap janji dan mengantarkan barang dagangan dengan standar kualitas yang selalu sesuai dengan permintaan para pelanggannya. Sehingga beliau tidak pernah membuat pelanggannya mengeluh atau kecewa. Reputasi sebagai pelanggan yang benar-benar jujur telah tertanam dengan baik.
Sejak muda, beliau selalu memperlihatkan rasa tanggung jawabnya terhadap setiap transaksi yang dilakukan. Beliau juga menjadikan bekerja sebagai ladang untuk menjemput surga, berpikir visioner, kreatif dan siap menghadapi perubahan. Selain itu beliau juga merupakan sosok seorang pribadi yang pandai dan cerdas dalam mempromosikan diri, menggaji karyawan sebelum kering keringatnya, mengutamakan sinergi dan berbisnis dengan cinta. Beliau juga pandai bersyukur kepada Allah dan tak segan mengucapkan kata terima kasih.
Selain memaparkan rahasia kesuksesan Rasulullah Saw dalam menjalankan perdagangannya, Laode M. Kamaluddin. Ph.D juga menyatakan bahwa Rasulullah Saw merupan pribadi yang pandai menjaga amanah. Kesuksesan Rasulullah Saw tidak pernah bisa dilepaskan dari keberhasilan beliau menjaga kepercayaan (amanah). Sikap amanah inilah yang selalu dijunjung tinggi oleh Rasulullah Saw dalam menjalankan roda bisnisnya. Sehingga tidak ada satu orang pun yang pernah berinteraksi dengan beliau kecuali mendapatkan rasa puas dan bahagia.
Dari keterangan-keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa kesuksesan Rasulullah Saw dalam menjalankan dan mengembangkan usaha perdagangannya karena beliau mengutamakan kejujuran dan keadilan sebagai modal utama dalam berdagang. Sehingga beliau selalu berkata jujur dalam setiap melakukan transaksi kepada para pembeli maupun mitra-mitra usahanya. Jika barang dagangannya memang buruk, beliau selalu mengatakan apa adanya. Sehingga pembeli tidak akan kecewa karena merasa dipermainkan atas barang dagangan yang tidak sesuai dengan kenyataannya.
Selain kejujuran dan keadilan, Rasulullah Saw juga menjadikan amanah sebagai prinsip dasar yang selalu dijunjung tinggi. Beliau berprinsip bahwa berdagang merupakan seni membangun kepercayaan. Jika di awal sudah merasa sangat tertarik, tidak merasa dirugikan dan justru diuntungkan berkat kejujuran beliau, maka di kemudian hari akan lebih mudah untuk membuat seorang pembeli itu datang kembali dan membeli barang dagangannya. Kejujuran dalam bertransaksi akan menurunkan keberkahan dari sisi-Nya.
Dalam sebuah riwayat shahih disebutkan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda, Jika penjual dan pembeli itu jujur dan transparan, maka akan diberkahi dalam transaksinya (H.r. Imam Bukhari dan Imam Muslim)
Dengan demikian maka jelaslah bahwa Rasulullah Saw telah memberikan contoh pada kita bagaimana cara berdagang yang baik dan benar menurut aturan Islam. Dalam berdagang, kejujuran dan keadilan bertransaksi merupakan modal terbesar. Dengan memiliki kedua modal tersebut, maka seorang pedagang akan meraih keberkahan perdagangan dan keberkahan rezekinya. Kejujuran dan keadilan dalam setiap melakukan transaksi merupakan cara terbaik yang membuat Allah menjadi ridha.

Hakikat Pernikahan





Hakikat pernikahan adalah untuk melahirkan, merawat, serta mentarbiyah generasi yang mencintai Rabb-nya. Nikah seharusnya dijadikan sebagai ladang ukhrawi. Sebagai investasi surgawi. Sebab apa?
Sebab seba'da kita wafat, salah satu doa yang tetap mencucur adalah do'anya anak yang shaleh. Maka dari itu, memilih pasangan jangan hanya mengandalkan rasa. Atau cinta. Atau apalah namanya. Sadarilah bahwa Allah tak hanya memberi kita hati, namun juga akal. Akal, yang semestinya digunakan untuk mengemudikan hati agar ia tidak jatuh pada jiwa yang salah.
Aduhai malang sekali, hanya demi 'memperjuangkan' si dia, kita mengacuhkan tuntutan agama. Sudah jelas akhlaknya buruk, shalat-nya jarang, 'amal shaleh-nya nihil, kita kekeh mempertahankan-nya hanya karena alasan cinta.
Hingga, nasihat orangtua dihiraukan, lelaki baik yang datang diabaikan, bahkan nurani yang berbisik halus tak didengarkan.
Maafkan jika ini agak berlebihan, Saudarku. Tapi renungilah
sejenak. Sejenak saja. Bahwa, salah satu cara untuk melahirkan anak-anak yang shaleh-shalehah adalah dengan memilih suami/istri yang baik. Seseorang, yang akan mengenalkan Allah kepada sang buah hati di kelak hari.
Karenanya, seperti petuah seorang 'ulama, pilihlah lelaki/wanita yang shaleh/shalehah. Jika ia mencintai, katanya, ia akan selalu memuliakan-mu. Namun jikalau ia tak mencintai, sungguh ia tak akan menyakitimu.

Tradisi Sarungan




Masyarakat akhir-akhir ini banyak yang beranggapan bahwa yang memakai sarung hanya orang yang baru saja sunat (khitan). Tradisi di masyarakat ketika selesai sunat (khitan) biasa nya memakai sarung memudahkan pergerakan dan longgar angin bebas keluar masuk, karna itu sarung di pakai agar cepat sembuh dan kering bekas sunat (khitan).
Sebenarnya sarung telah di gunakan dari abad 14,  dibawa oleh para saudagar Arab dan Gujarat. Sarung di Indonesia identik dengan kebudayaan Islam. Sarung menjadi salah satu pakaian kehormatan dan menunjukkan nilai kesopanan yang tinggi.
Oleh karna itu sarung menjadi tradisi di pesantren ataupun kalangan umum yang sering di gunakan untuk solat ke masjid ataupun pergi mengaji.
Pada zaman penjajahan Belanda, sarung identik dengan perjuangan melawan budaya barat yang dibawa para penjajah. Kaum santri merupakan masyarakat yang paling konsisten menggunakan sarung, Sikap konsisten penggunaan sarung juga dijalankan oleh salah seorang pejuang yaitu KH Abdul Wahab Hasbullah, seorang tokoh penting di Nahdhatul Ulama (NU). Sarung sebagai simbol perlawanannya terhadap budaya Barat. Ia ingin menunjukkan harkat dan martabat bangsanya di hadapan para penjajah.
Namun akhir-akhir ini tradisi sarungan telah luntur di masyarakat, banyak yang beranggapan bahwa sarungan identik dengan orang tua dan anak kecil yang telah selesai di sunat (khitan). (IrgiNF)

SUSUHING ANGIN (Sumber Kecerdaan Ilahi)




Sebagaimana pada semesta terdapat titik pusat, demikian pula pada diri manusia. Pada diri manusia, titik pusat inilah yang dinyatakan sebagai Susuhing Angin (Sarang Angin) atau Telenging Manah (Pusat Hati). Dinyatakan sebagai Sarang Angin karena di titik itulah angin ngendog (bertelur). Pembahasaan seperti ini muncul karena leluhur kita senang mencermati realitas di jagat raya. Dan ketika mencermati perilaku burung, ditemukan bahwa mereka membuat sarang untuk satu tujuan: ngendog atau bertelur dan membentuk kehidupan baru. Maka, sebanding dengan itu, di Susuhing Angin inilah kehidupan baru manusia selalu terbentuk. Dan dari mana kehidupan baru itu bermula? Dari angin yang dihirup manusia melalui proses hambegan (bernapas). Setiap manusia hambegan, menghirup oksigen dari udara, kehidupan baru terbentuk: sel-sel lama yang mati digantikan sel-sel baru.

Lebih jelasnya, berdasarkan kesadaran terhadap realitas di dalam diri, dapat diketahui bahwa melalui proses hambegan inilah dark energy memancar dari Susuhing Angin, menimbulkan getar dan bunyi dengung. Lalu terbentuklah dark matter yang selanjutnya menjadi ordinary matter, berupa unsur-unsur dasar pembentuk raga manusia, yang selanjutnya bermetamorfosis menjadi sel-sel baru dan terjadilah pertumbuhan atau pembaharuan pada raga manusia.

Lokus atau takhta dari Rasa Sejati sesungguhnya berada di Susuhing Angin. Bentuk fisiknya tidak ada, tetapi keberadaan dan fungsinya nyata. Melalui wahana ini manusia bisa mengetahui berbagai perkara termasuk perkara yang teramat halus dan rumit. Cara kerjanya adalah dengan sistem deteksi getar, seperti sistem pendeteksi di dalam kapal selam yang bekerja mempergunakan gelombang sonar.

Lebih jelasnya, demikianlah cara kerja Rasa Sejati. Setiap benda atau keberadaan di semesta ini memiliki getaran tersendiri. Getaran inilah yang ditangkap oleh Rasa Sejati. Ia menjadi semacam kode yang memberikan informasi tentang realitas dari benda atau keberadaan itu. Dan melalui proses yang sangat cepat, Rasa Sejati mengurai dan mengubah kode ini menjadi data atau informasi yang bisa dibahasakan dan dimengerti. Dengan demikian, Rasa Sejati adalah perangkat kecerdasan tersendiri di dalam diri manusia. Ia berbeda dengan otak. Rasa Sejati bekerja secara independen, tidak dipengaruhi otak atau menggunakan otak. Inilah yang sesungguhnya dinyatakan sebagai kecerdasan spirit, kecerdasan roh, atau kecerdasan ilahiah (divine intelligence) yang ada pada diri manusia. Ini pula sesungguhnya yang membedakan manusia dengan berbagai titah hurip (makhluk) lainnya, termasuk binatang. Binatang memiliki otak dan punya kecerdasan yang dihasilkan otak. Tetapi mereka tak punya Rasa Sejati.

Setiap manusia memiliki Rasa Sejati. Sesungguhnya pula, setiap saat ada pesan ilahi yang disampaikan kepada manusia melalui Rasa Sejati ini. Tapi kenyataannya, pada saat sekarang, sangat jarang manusia yang bisa mengetahui apa pesan yang muncul melalui Rasa Sejati. Kecerdasan Rasa Sejati ini masih menjadi perkara langka. Mayoritas manusia lebih punya kesadaran mengenai informasi yang dicerap, diolah, dan disampaikan oleh otak. Sementara hanya sedikit yang telah sadar sepenuhnya dan bisa mengetahui pesan atau informasi dari Rasa Sejati.

Pertanda mereka yang cerdas karena fungsi dari Rasa Sejati adalah kemampuan mengungkapkan berbagai perkara yang belum pernah disaksikan dengan pancaindra, juga belum pernah diajarkan melalui proses pendidikan dan pengajaran. Sebenarnya, saat ini masih ada orang-orang yang cerdas karena Rasa Sejatinya. Umumnya sejak kecil mereka cenderung sangat terhubung dengan berbagai realitas kehidupan. Bahasa populernya, mereka dekat dengan alam. Mereka sering menyendiri lalu bergaul akrab dengan berbagai unsur semesta: tanaman, binatang, juga benda-benda angkasa. Sementara pada saat yang sama, mereka cenderung tidak menyukai kegiatan pembelajaran yang hanya mengandalkan fungsi otak. Orang-orang seperti ini sering kali mengungkapkan kenyataan yang sulit dimengerti orang pada umumnya: tidak berpikir tapi bisa tahu. Tidak banyak menggunakan otak, tapi tahu tentang berbagai perkara.

ADAB DAN TATAKRAMA MENGHADIRI MAULID NABI SAW.




“Petuah Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari”

Tulisan berikut ini disarikan dari kitab an-Nur al-Mubin fi Mahabbat Sayyid al-Mursalin karya Hadhratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, salah satu tokoh sentral dan pendiri Nahdlatul Ulama. Beliau termasuk salah seorang pakar hadits (muhaddits) terkemuka di masanya, yang menjadi rawi ke-24 dari rantai silsilah hadits Shahih Bukhari-Muslim dari gurunya asy-Syaikh Mahfudz at-Termasi, guru besar Masjidil Haram yang bermadzhab Syafi’i.

1.      Adab Para Salaf Shaleh sebelum Hadir ke Tempat Acara Maulid Nabi Saw.

Sebelum menghadiri acara Maulid Nabi Saw. terlebih dahulu para salaf shaleh melakukan hal-hal berikut ini:

·         Berwudhu dengan baik dan sempurna.
·         Dalam keadaan masih basah dengan air wudhu, ia membaca: “Shalallahu ‘alaa Muhammad” 33x tanpa diselingi berbicara dengan yang lain.
·         Lalu diusapkan ke wajahnya dan membaca doa sehabis wudhu.
·         Kemudian melakukan shalat sunnah 2 rakaat dengan niat shalat sunnah Wudhu. Rakaat pertama setelah al-Fatihah membaca surat al-Kafirun, rakaat kedua setelah al-Fatihah membaca surat al-Ikhlas.
·         Setelah salam membaca dzikir Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar masing-masing 3x.
·         Lalu boleh ditambahkan shalat sunnah Hajat 2 rakaat. Rakaat pertama setelah al-Fatihah membaca surat al-Kafirun 3x, rakaat kedua setelah al-Fatihah membaca surat al-Ikhlas 3x.
·         Setelah salam membaca istighfar 21x dan shalawat 3x.
·         Lalu berdoa membaca niat untuk hadir Maulid Nabi Saw. Contoh doa niat untuk hadir Maulid Nabi Saw.: “Allahumma ya Allah, kami niat untuk hadir Maulid NabiMu Saw., dengan niat agar mendapat ridha Allah dan Rasulullah Saw. serta syafa’at Rasulullah di dalam agama, dunia dan akhirat. Serta dengan niat agar Allah memberikan semua hajat (kebutuhan) kami, mengabulkan doa-doa kami, melapangkan kesulitan kami, memudahkan semua urusan kami dan urusan kaum muslimin di dalam hal agama, dunia dan akhirat.”

Hal itu semua di atas, seyogyanya dilakukan mulai berwudhu hingga shalat sunnah Wudhu sampai shalat sunnah Hajat, dilakukan tanpa diselingi perbuatan dan pembicaraan yang tidak berarti. Serta dilakukan dengan tertib pelaksanaannya dan berkesinambungan. Jika waktu tidak memungkinkan paling tidak shalat sunnah Wudhu lebih diutamakan.

2.      Adab Para Salaf Shaleh saat Hendak Hadir ke Tempat Acara Maulid Nabi Saw.

Setelah melakukan amal shaleh di atas, barulah para salaf shaleh berjalan menghadiri Maulid Nabi Saw. Dalam masa perjalanan itu, hal-hal yang mereka lakukan adalah:

·         Bertawakkal kepada Allah Swt.
·         Sangat mengharapkan limpahan berkah, rahmat dan maghfirah Allah tercurahkan kepadanya.
·         Berjalan penuh rasa tawadhu’ dan tadharru’ (menghadirkan perasaan khusyu’, seakan-akan hendak menemui Baginda Nabi Saw. bersama para sahabatnya dan para auliya’Nya, yang disaksikan oleh Allah Swt. serta para malaikatNya).

Menanamkan adab batin ini sungguh sangat utama di dalam menghadiri Maulid Nabi Saw. Karena Allah melihat dan menyaksikan hati para hambaNya. Sebagaimana firmanNya dalam hadits qudsi: “Aku (Allah) sesuai dengan prasangka hamba terhadapKu.”

3.      Adab Para Salaf Shaleh saat Berlangsungnya Acara Maulid Nabi Saw.

Biasanya para salaf shalihin memperbanyak membaca shalawat kepada Baginda Rasulullah Saw., baik selama perjalanan, saat dan selama Maulid Nabi Saw. berlangsung, baik dibaca secara sirr (dalam hati) ataupun jahr (diucapkan dengan lisan).

Momentum yang paling baik dan berkah dalam pembacaan Maulid Nabi Saw. adalah pada saat Mahallul Qiyam (saat berdiri), ketika melantunkan: “Yaa Nabi salam ‘alaika # Yaa Rasul salam ‘alaika.”

Di antara bait-bait tersebut adalah momentum yang terbaik kita berdoa memohon kepada Allah Swt. atas segala doa dan hajat kita. Doa disela-sela membaca shalawat: “Yaa Nabi salam ‘alaika # Yaa Rasul salam ‘alaika” secara bersama-sama. Jadi di antara bait-bait tersebut seyogyanya kita berdoa. Insya Allah mustajabah.

Yang tidak kalah pentingnya juga adalah menghadirkan orang-orang yang kita cintai seperti sanak keluarga, sahabat dan kerabat yang kita kehendaki ketika itu. Hadirkan dengan perasaan kita, bahwa mereka ikut hadir (bil ghaib) dalam pelaksanaan Maulid Nabi Saw. Insya Allah rahmat, berkah dan syafaatNya akan meliputi kepada mereka semua, yang walaupun secara lahiriah mereka tidak turut serta hadir.

Itulah salah satu kebesaranNya dan kasih sayangNya kepada umat Baginda Nabi Saw. yang merupakan tetesan-tetesan air ar-Rahmah dari samudera rahmat Ilahi.

Di dalam pelaksanaan pembacaan Maulid Nabi Saw., seyogyanya kita mempertautkan hati kita dengan Baginda Nabi Saw. Bagi yang pernah berziarah ke makam beliau Saw. di Madinah al-Munawwarah, mungkin bisa kembali mengingat-ingatnya, seakan-akan membaca Maulid Risalah Baginda Nabi Saw. di hadapan makam beliau yang mulia Saw.

Bagi yang belum diberi rizki ziarah ke makam Nabi Saw., maka cukup membayangkan kehadiran Nabi Saw. Paling tidak merasa dilihat dan didengar. Sehingga nilai-kualitas dari Maulid Nabi Saw. insya Allah dapat dirasakan kemanfaatannya, bukan hanya sekedar hadir duduk, doa, amin, makan, lalu bubar, sedangkan hati sanubari masih tetap kotor penuh karat dengan penyakit-penyakit lahiriah dan batiniah.

4.      Maulid Nabi Saw. Sebagai Ajang Memperbaiki Diri

Maulid Nabi Saw. adalah salah satu ajang yang sangat sakral untuk mengembalikan jati diri kita sebagai hamba Allah dan sebagai umat Baginda Nabi Saw. Oleh karenanya seyogyanya kita bisa memperhatikan dengan seksama arti, makna atau terjemahan dari bacaan Maulid Nabi Saw. yang dibaca. Hal ini sungguh sangat bermanfaat guna meningkatkan kualitas hati kita menuju derajat ihsan di sisi Allah dan RasulNya.

Inilah salah satu sirr (rahasia) dari pelaksanaan Maulid Nabi Saw. Sehingga ketika kembali dari acara Maulid Nabi Saw. itu, hati semakin bercahaya, insya Allah. Hati sanubari merasuk menjalar ke seluruh relung anggota tubuh kita, mengikis habis segala karat penyakit-penyakit lahir maupun batin. Dan semakin bertambah keimanan dan kecintaan kita kepada Allah dan RasulNya.

Mohon dikoreksi kembali. Wallahu al-Musta’an A’lam.


Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 23 Agustus 2013

Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern

  Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern Pendahuluan Ketika arus modernisasi menghujani dunia Islam, proses modern...