Jumat, 23 Juli 2021

Makalah Pengertian Rumusan Masalah

 


BAB II

PEMBAHASAN

            Rumusan masalah adalah tulisan singkat berupa pertanyaan yang biasanya terletak di awal laporan atau proposal dan biasanya terletak setelah latar belakang yang dijelaskan dalam laporan tersebut. Rumusan masalah digunakan untuk menjelaskan masalah atau isu yang dibahas dokumen tersebut kepada para pembaca. Secara umum, suatu rumusan masalah akan menggarisbawahi fakta-fakta dasar dari masalahnya, menjelaskan alasan masalah itu penting, dan menentukan solusi secepat dan selangsung mungkin. Rumusan masalah sering digunakan di dunia bisnis untuk kepentingan perencanaan tapi dapat juga diperlukan dalam situasi akademis sebagai bagian dari laporan yang bergaya seperti laporan atau proyek tulisan.

            Untuk menemukan dan menetapkan  masalah  yang  baik, ada beberapa kriteria yang perlu dipertimbangkan :

Pertama, apakah masalah itu berguna untuk dipecahkan?

Kedua, apakah masalah itu bisa diteliti (researchable)?

Ketiga, apakah ada kemampuan yang dimiliki peneliti untuk memecahkan masalah itu, Karena masalah yang baik harus berada dalam daya jangkau disiplin ilmu seorang peneliti.

 Keempat, apakah masalah itu menarik untuk diteliti dalam rangka memecahkan masalah yang telah ditemukan?

Kelima, apakah masalah itu bisa memberikan sesuatu yang baru bagi ilmu pengetahuan, jika diteliti?

Keenam, apakah masalah itu terbatas sehingga jelas?

 

            Berdasarkan masalah yang telah ditemukan, peneliti menetapkan langkah-langkah berikutnya dengan  merumuskan  masalah dalam bentuk prtanyaan penelitian yang lebih spesifik dan  bersifat operasional. Sebelum dirumuskan, peneliti bisa juga mengidentifikasi masalahnya terlebih dahulu dengan cara mengungkapkan hal-hal yang sangat spesifik berkaitan dengan variabel permasalahan penelitian. Kemudian menyebutkan rincian masalah secara singkat dan jelas dalam bentuk pernyataan. Identifikasi dilanjutkan dengan menginventarisasi hal-hal yang mungkin menjadi ganjalan dalam pikiran, sehingga merangsang atau mendorong peneliti untuk memecahkan masalah yang menjadi fokus penelitian. Baru kemudian  mengarahkan atau mengkerucutkan konsep-konsep pemikiran kearah kristalisasi masalah, sehingga bisa membatasi ruang lingkup penelitian. 

 

            Masalah yang sudah diidentifikasi kemudian dirumuskan dalam bentuk pointers pertanyaan yang relevan. Merumuskan masalah berarti menyusun daftar pertanyaan penelitian, sebagai pengantar kerangka berfikir secara sistematis dalam proses penelitian. Karna hakikat penelitian adalah mencari jawaban dari pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan, untuk memecahkan masalah yang telah dipilih atau ditetapkan oleh peneliti sendiri.  

            Rumusan masalah hakikatnya merupakan pedoman yang akan menuntun seorang peneliti untuk menemukan jawaban di lapangan, sehingga bisa membantu peneliti menyusun laporan sesuai pertanyaan yang telah dirumuskan. Jack Frinkel dan Norman Wallen menjelaskan syarat rumusan masalah yang baik (1) harus feasible, yaitu memungkinkan untuk diteliti; (2) harus clear, artinya rumusan harus bisa diungkap dengan bahasa yang jelas dan sederhana, sehingga mudah difahami maknanya; (3) harus significant, maksudnya rumusan masalah harus dapat mengungkapkan pertanyaan yang jawabannya berguna dan berarti bagi kepentingan ilmu pengetahuan; (4) harus etihic, artinya rumusan masalah harus dapat dipecahkan, tanpa harus merusak atau membahayakan citra orang lain. 


Dengan kalimat lain, rumusan masalah dalam bentuk pertanyaan penelitian harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :

           

            Rumusan masalah harus diungkap dengan bahasa yag singkat, jelas dan bermakna. Masalah perlu dirumuskan dengan kalimat yang mudah dimengerti, tidak berbelit-belit sehingga menimbulkan penafsiran ganda.

            Rumusan masalah diwujudkan dalam bentuk kalimat tanya. Seperti dinyatakan oleh Karlinger (1986;16) bahwa masalah akan lebih tepat apabila dirumuskan dalam bentuk kalimat pertanyaan, sehingga peneliti dipandu untuk menemukan jawabannya melalui penelitian.

            Rumusan masalah harus jelas dan kongkrit, sehingga memungkinkan peneliti secara explisit dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan apa yang akan diteliti, siapa yang akan diselidiki, mengapa harus diteliti, bagaimana menelitinya.

            Masalah harus dirumuskan secara operasional, sehingga memungkinkan peneliti memahami variabel-variabel yang mudah diukur.

            Rumusan masalah harus mampu memberikan pedoman dan petunjuk bagi pelaksanaan pengumpulan data di lapangan, sehingga dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan.

            Rumusan masalah harus dibatasi, guna membantu penarikan simpulan yang tegas. Itu sebabnya rumusan masalah sesungguhnya juga berfungsi membatasi masalah penelitian, sehingga jelas fokusnya.

            Jika masalah sudah ditemukan berdasarkan hasil pengamatan yang cermat terhadap fenomena di lapangan atau pemikiran seseorang, maka langkah berikutnya seorang peneliti bisa merumuskan masalahnya, dengan terlebih dahulu mengidentifikasi masalah yang dimaksud.


Di bawah ini ada contoh sederhana yang bisa dijadikan bahan analogi, ketika seorang peneliti pendidikan hendak mengidentifikasi kemungkinan sudah siap atau belum para guru di suatu sekolah, dalam menghadapi perubahan kurikulum. Kurikulum 2004 yang dikenal dengan istilah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), belum sempat diuji, dievaluasi serta belum dioptimalkan penerapannya, sekarang sudah harus dilakukan perubahan menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yang mulai diterapkan pada tahun 2006. Masalahnya sejauh mana kesiapan guru di suatu sekolah dalam menghadapi perubahan kurikulum yang begitu cepat.


Identifikasi_Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, perlu disampaikan identifikasi masalahnya sebagai berikut:

1.               Masih banyak guru yang kurang memiliki standar kompetensi.

2.               Kesiapan dalam pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan dipengaruhi     oleh kompetensi guru.

3.               Banyak guru yang belum mengetahhui dan memahami isi kurikulum tingkat             satuan pendidikan.

4.               Banyak guru yang belum menjabarkan isi kurikulum ke dalam perangkat        pembelajaran.

5.               Masih kurangnnya kemampuan guru dalam mengembangkan silabus,             membuat rencana proses pembelajaran, menggunakan media dan             melaksanakan evaluasi.

6.               Kesiapan guru banyak dipengaruhi oleh pengalaman, pendidikan dan motivasi          kerja.

7.               Kurangnya perhatian pemerintah daerah terhadap perubahan kurikulum             sehingga sosialisasi terhadap KTSP belum dilaksanakan secara optimal.

           

            Penelitian dalam rangka menemukan hakikat kebenaran dan ilmu pengetahuan, dapat ditempuh melalui berbagai model. Dalam bahasa populer sering disebut paradigma, pola atau perspektif. Sebagai suatu paradigma, penelitian memungkinkan dilakukan dalam berbagai bentuk, model atau pola, tergantung pada masalah dan metode penelitian yang digunakan. Pada garis besarnya, paradigma penelitian secara dikotomi dapat dilakukan dengan model penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Masing – masing cara pandang penelitian ini mempunyai karakteristik tersendiri, dan akan berpengaruh terhadap tehnik pengumpulan data dan analisa.

            Penelitian kualitatif lebih didominasi oleh teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi partisipasi, di mana peneliti sendiri sebagai instrumen penelitiannya. Analisis terhadap hasil penelitian lebih banyak dilakukan menggunakan analisis logik, berupa uraian dan narasi kalimat yang rasional, kritis dan sistematis. Sedangkan penelitian kuantitatif lebih didominasi oleh tehnik pengumpulan data secara penyebaran angket atau pengguna questionnaire, yang telah disiapkan kerangka daftar pertanyaan untuk kemudian dianalisis menggunakan statistik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

 

 

A. Kesimpulan

            Rumusan masalah adalah tulisan singkat berupa pertanyaan yang biasanya terletak di awal laporan atau proposal dan biasanya terletak setelah latar belakang yang dijelaskan dalam laporan tersebut. Rumusan masalah digunakan untuk menjelaskan masalah atau isu yang dibahas dokumen tersebut kepada para pembaca. Secara umum, suatu rumusan masalah akan menggarisbawahi fakta-fakta dasar dari masalahnya, menjelaskan alasan masalah itu penting, dan menentukan solusi secepat dan selangsung mungkin. Rumusan masalah sering digunakan di dunia bisnis untuk kepentingan perencanaan tapi dapat juga diperlukan dalam situasi akademis sebagai bagian dari laporan yang bergaya seperti laporan atau proyek tulisan.

MAKALAH PELAKSANAAN PRAKTEK PEMBELAJARAN

 


BAB II

PELAKSANAAN PRAKTEK PEMBELAJARAN

 

A.    Persiapan dan Pelaksanaan Praktek Pembelajaran

1.      Tahap Persiapan

Persiapan sebelum melaksanakan praktek pengalaman lapangan meliputi:

Pembekalan

Sebelum diterjunkan langsung ke sekolah untuk melaksanakan Praktek Pengalaman lapangan, mahasiswa praktikan diberi pembekalan terlebih dahulu dengan tujuan memberikan gambaran tentang hal-hal yang akan dilaksanakan selama melaksanakan PPL, pelaksanakan pembekalan dilaksanakan pada tanggal  21 s/d 23 Juli 2010 yang bertempat di gedung Auditorium Ukhwah Islamyah Universitas Muhammadiyah Purwokerto, dari pembekalan tersebut mahasiswa mendapat materi-materi yang dibutuhkan dalam pelaksanaan PPL.

Penyerahan

Mahasiswa praktikan yang di tempatkan di SMP N 1 Sumbang diserahkan oleh pihak panitia PPL Universitas Muhammadiyah Purwokerto pada tanggal 4 Agustus 2010, yang di serahkan oleh Bapak Bambang selaku DPL kepada Kepala Sekolah SMP N1 Sumbang. Proses penyerahan dilaksanakan di ruang laboratorium dan di terima oleh Kepala Sekolah SMP N 1 Sumbang.

 

 

Observasi lapangan

Sebelum melaksankan PPL, praktikan melakukan kegiatan observasi dengan tujuan untuk mengetahui dan mengenali kondisi SMP N 1 Sumbang baik dari segi lingkungan maupun dari siswa.

 

2.      Tahap-tahap Pelaksanaan

Pemberian Tugas

Pada tahap ini praktikan mendapat tugas dari guru pamong yang berupa kurikulum satuan pendidikan yang dijadikan rujukan dalam pembuatan persiapan mengajar dan pokok bahasan yang diajarkan. Dalam melaksanakan kegiatan praktek mengajar di SMP1 Sumbang, Praktikan diberi tugas mengajar di kelas VII. Pada tahap ini praktikan mendapat tugas dari guru pamong yang berupa kurikulum satuan pendidikan yang dijadikan rujukan dalam pembuatan persiapan mengajar dan pokok bahasan yang diajarkan. Dalam melaksanakan kegiatan praktek mengajar di SMP N1 Sumbang, praktikan diberi tugas mengajar di kelas VII.

Konsultasi Rencana Pembelajaran

Sebelum melakukan kegiatan mengajar, terlebih dahulu praktikan melakukan bimbingan dalam pembuatan rencana pelaksaan pembelajaran sesuai dengan materi yang diberikan oleh guru pamong.

Pelaksanaan Praktek Mengajar

Praktikan melakukan praktek sesuai dengan persipan mengajar sebelumnya telah disetujui oleh guru pamong dengan menekankan pada:

·         Menerangkan metode mengajar dengan kebutuhan pelaksanaan belajar mengajar.

·         Memanfaatkan sumber belajar secara efektif.

·         Menggunakan media pengajaran yang diperlukan.

Evaluasi

Setelah melakukan kegiatan belajar mengajar, praktikan berkonsultasi dan berdiskusi dengan guru pamong untuk mendapatkan informasi dan saran tentang pelaksanaan mengajar yang telah dilaksanakan guna perbaikan pada pembelajaran berikutnya.

B.     Faktor Penunjang

Selama pelaksanaan kegiatan PPL khususnya dalam praktek mengajar, ada beberapa hal yang mendukung kelancaran dan keberhasilan praktikan, antara lain:

Faktor Siswa

a.       Kesadaran siswa untuk memperhatikan penjelasan materi yang di sampaikan praktikan sehingga penyampaian metari dapat berjalan lancer.

b.      Siswa aktif untuk mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh praktikan.

c.       Setiap siswa memiliki sumber LKS yang mempermudah dan membantu siswa belajar di rumah dengan membaca ringkasan materi yang ada.

Faktor Guru Pamong

a.       Guru pamong selalu memberikan masukan yang membangun terutama dalam hal penugasan materi.

b.      Guru pamong bersikap terbuka untuk membantu kesulitan praktikan dalam proses pembelajaran, baik kesulitan yang berhubungan dengan materi, dan kesulitan yang lain yang berhubungan dengan pembelajaran praktikan.

Faktor Sekolah

a.       Kedisiplinan di SMP N 1 Sumbang terhadap siswa sangat membantu praktikan, karena dengan disiplin tersebut para siswa dapat mengikuti pelajaran dengan hikmat dari awal sampai akhir.

 Faktor Praktikan

Praktikan selalau berusaha melaksanakan PPL dengan sebaik mungkin, terutama dalam proses belajar mengajar, praktikan terlebih dahulu membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dimana praktikan menentukan kompetensi dasar. Indikator dari setiap pembelajaran dan juga pemilihan metode serta berusaha dengan semaksimal mungkin menguasi materi dan sedapat mungkin untuk dapat menguasi kelas.

C.    Faktor Penghambat

Selain faktor penunjang yang telah dikemukakan di atas, praktikan juga mempunyai hambatan yang dapat mengganggu kelancaran jalannya proses belajar. Adapun faktor penghambat kegiatan belajar mengajar, antara lain:

·         Kurangnya kesadaran siswa untuk belajar sendiri meskipun siswa memiliki buku pegangan yang berupa lembar kerja siswa (LKS), sehingga guru harus menerangkan dengan detail materi yang ada dalam LKS tersebut.

·         Adanya anggapan bahwa guru praktikan merupakan guru sementara, sehingga tidak dapat member nilai terhadap siswa.

·         Kurang percayanya siswa dan sulitnya siswa untuk menerima praktikan serta selalu membandingkan dengan guru mata pelajaran.

D.    Pemecahan

Dengan adanya faktor-faktor penghambat tersebut, maka praktikan dituntut untuk mencari solusi dari masalah yang ada demi kelancaran proses belajar mengajar, sehingga dapat berjalan dengan lancar. Adapun pemecahan masalah antara lain:

·         Praktikan menyesuaikan jadwal pelajaran yang sudah siataur oleh pihak sekolah.

·         Jika pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) berada di jam terahir, maka praktikan dalam menerangkan materi pelajaran mencoba untuk sedikit pelan dan bila perlu diulang-ulang agara siswa jelas.

·         Dengan anggapan bahwa praktikan hanyalah sebagai guru sementara oleh siswa dan tidak dapat member nilai, praktikan sebelumnya menyampaikan bahwa guru praktikan sebelumnya menyampaikan bahwa guru praktikan telah diberikan tanggung jawab dan kekuasaan penuh untuk memegang kelas dalam proses belajar mengajar oleh guru mata pelajaran.

·         Kurangnya penguasaan materi oleh siswa dan kurangnya kesadaran siswa untuk belajar di rumah, maka praktikan dalam memberikan materi disertai dengan menjelaskan konsep-konsep dasar yang diperlukan lebih banyak memberikan latihan soal dan memberikan pekerjaan rumah yang diambil dari LKS.

·         Kesulitan siswa menerima praktikan dan selalu membandingkan dengan guru mata pelajaran merupakan sikap yang wajar, dalam hal ini praktikan berusaha semaksimal mungkin menimbulkan rasa percaya siswa terhadap praktikan. Maka dalam menyajikan materi harus sudah benar-benar siap.

Makalah Pengertian Penelitian Tindakan

 

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

            Salah satu komponen yang penting dalam penelitian adalah proses peneliti dalam pengumpulan data. Kesalahan yang dilakukan dalam proses pengumpulan data akan membuat proses analisis menjadi sulit. Selain itu hasil dan kesimpulan yang akan didapat pun akan menjadi rancu apabila pengumpulan data dilakukan tidak dengan benar.

Masing-masing penelitian memiliki proses pengumpulan data yang berbeda, tergantung dari jenis penelitian yang hendak dibuat oleh peneliti. Pengumpulan data kualitatif pastinya akan berbeda dengan pengumpulan data kuantitatif. Pengumpulan data statistik juga tidak bisa disamakan dengan pengumpulan data analisis.

Pengumpulan data penelitian tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Terdapat langkah pengumpulan data dan teknik pengumpulan data yang harus diikuti. Tujuan dari langkah pengumpulan data dan teknik pengumpulan data ini adalah demi mendapatkan data yang valid, sehingga hasil dan kesimpulan penelitian pun tidak akan diragukan kebenarannya.

B. TujuanPenulisan

            Agar kita sebagai pemakalah dapat memahami dan mampu menyampaikan makalah/pembahasan tersebut kepada teman-teman kelas supaya dapat diterima materi-materi yang telah disampaikan. 

BAB II

PEMBAHASAN

            Data dalam penelitian tindakan berfungsi sebagai landasan refleksi. Data mewakili tindakan dalam arti bahwa data itu memungkinkan peneliti untuk merekonstruksi tindakan terkait, bukan hanya mengingat kembali. Oleh sebab itu, pengumpulan data tidak hanya untuk keperluan hipotesis, melainkan sebagai alat untuk membukukan amatan dan menjembatani antara momen momen tindakan dan refleksi dalam putaran penelitian tindakan.

Data penelitian tindakan dapat berbentuk catatan lapangan, catatan harian, transkrip komentar peserta penelitian, rekaman audio, rekaman video, foto dan rekaman/catatan lainnya. Banyak teknik yang dapat digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian tindakan, antara lain.

      Catatan Anekdot

Catatan anekdot adalah riwayat tertulis, deskriptif, longitudinal tentang apa yang dikatakan atau dilakukan perseorangan dalam kelas dalam suatu jangka waktu. Deskripsi secara akurat dalam catatan anekdot ini sangat diperlukan untuk menghasilkan gambaran umum yang layak untuk keperluan penjelasan dan penafsiran. Deskripsi tersebut biasanya mencakup peristiwa yang terjadi sebelum, selama, dan sesudah proses pembelajaran berlangsung beserta konteks yang relevan atau berkaitan dengan objek yang diteliti.

      Catatan Lapangan

Teknik ini sejenis dengan catatan anekdot, tetapi mencakup kesan dan penafsiran subjektif. Deskripsi boleh mencakup referensi misalnya pelajaran yang lebih baik, perilaku kurang perhatian, pertengkaran picik, kecerobohan, yang tidak disadari oleh guru atau pimpinan terkait. Seperti halnya catatan anekdot, perhatian diarahkan pada persoalan yang dianggap menarik.

   Deskripsi Perilaku Ekologis

Teknik ini kurang terarah pada persoalan jika dibandingkan dengan teknik pertama di atas. Teknik ini berusaha untuk mencatat observasi dan pemahaman terhadap urutan perilaku yang lengkap. Deskripsi sebaiknya mengurangi penafsiran psikologis dan terminologis, misalnya, ketika seorang siswa diamati tertawa terbahak-bahak, peneliti tidak boleh memberi komentar tentang maksud tertawa siswa tersebut. Kecenderungan untuk memberikan penilaian seperti ini banyak dialami oleh peneliti pemula. Mereka belum terlatih untuk menunda penilaian sampai refleksi dilakukan.

     Analisis Dokumen

            Gambaran tentang persoalan: sekolah atau bagian sekolah, kantor atau bagian kantor, dapat di konstruksi dengan menggunakan berbagai dokumen: surat, memo untuk staf, edaran untuk orangtua atau karyawan, memo guru atau pejabat, papan pengumuman guru, papan pengumuman siswa, pekerjaan siswa yang dipamerkan, garis besar, tes formal dan informal, publikasi siswa atau karyawan, kebijakan, dan/atau peraturan.

         Catatan Harian

                  Catatan harian (diaries) adalah catatan pribadi tentang pengamatan, perasaan, tanggapan, penafsiran, refleksi, firasat, hipotesis dan penjelasan. Catatan tidak hanya melaporkan kejadian tugas sehari-hari, melainkan juga mengungkapkan perasaan bagaimana rasanya berpartisipasi dalam penelitian tindakan kelas. Kejadian khusus, percakapan, introspeksi perasaan, sikap, motivasi, pemahaman waktu bereaksi terhadap sesuatu, dan kondisi akan membantu merekonstruksi apa yang terjadi waktu itu. Catatan harian juga dapat dibuat oleh siswa. Catatan mereka dapat menjadi sumber informasi tentang apa yang mereka alami dalam penelitian tindakan Kelas. Untuk mendukung suatu pandangan yang dikemukakan atau sebagai pembuktian sebaiknya diadakan diskusi untuk membandingkan catatan harian guru dan siswa.

      Penulisan catatan harian (diaries) harus selalau dengan menuliskan tanggal kejadian. Demikian juga dengan hal-hal yang mendetail dari penelitian tindakan kelas, seperti waktu, pokok bahasan, kalas di mana PTK dilaksanakan sebaiknya dituliskan pada bagian pendahuluan. Catatan harian guru dan siswa akan berguna juga sebagai pelengkap atau pembanding dari catatan lapangan (field notes) yang dibuat oleh para mitra peneliti yang melakukan pengamatan atau observasi. Catatan harian mungkin memuat observasi, perasaan, reaksi, penafsiran, refleksi, dugaan, hipotesis, dan penjelasan. Catatan harian dapat digunakan untuk salah satu atau beberapa tujuan berikut:

                  a.   Merekam secara teratur informasi faktual tentang peristiwa, tanggal dan orang, dengan klasifikasi judul, misalnya Kapan? Di mana? Siapa? Yang mana? Bagaimana?    Mengapa? Data yang direkam dapat membantu peneliti merekonstruksi urutan waktu   atau peristiwa sebagaimana terjadi.

                  b.  Aide mémoire untuk merekam catatan pendek tentang penelitian yang sedang             dilakukan untuk refleksi kemudian.

                  c.  Memotret secara rinci peristiwa dan situasi tertentu yang memberikan data deskriptif lengkap yang akan digunakan untuk laporan lengkap tertulis.

                  d.  Catatan introspektif dan evaluatif-diri di mana peneliti mencatat pengalaman,                pemikiran, dan perasaan pribadi dalam rangka memahami penelitiannya.

         Logs

                  Teknik ini pada dasarnya sama dengan catatan harian tetapi biasanya disusun dengan mempertimbangkan alokasi waktu untuk kegiatan tertentu, pengelompokan kelas, dan sebagainya. Kegunaannya akan lebih tinggi jika disertai dengan komentar-komentar secara logis dan sistematis.

       Kartu Cuplikan Butir

                  Teknik ini mirip dengan catatan harian tetapi sekitar enam kartu digunakan untuk mencatat kesan tentang sejumlah topik, satu untuk satu kartu. Misalnya: satu set kartu boleh mencakup topik-topik seperti pendahuluan pelajaran, disiplin, kualitas pekerjaan siswa, efisiensi penilaian, kontak individual dengan siswa, dan perilaku seorang siswa.

                  Kartunya dikocok dan catatan harian dibuat untuk satu topik setiap harinya, dan dengan demikian membangun gambaran tentang semua persoalan sebagai dasar refleksi tanpa resiko memberikan tekanan terlalu berat atau menimbulkan kebosanan dengan aspek tertentu.

  

        Portofolio

                  Teknik ini digunakan untuk membuat koleksi bahan yang disusun dengan tujuan tertentu. Portofolio mungkin memuat hal-hal seperti tambatan rapat staf yang berkaitan dengan sejarah suatu persoalan yang diteliti, korespondensi yang berkaitan dengan kemajuan dan perilaku subyek penelitian, kliping korespodensi dan surat kabar yang berkaitan dengan persoalan di mana lembaga tempat penelitian menjadi pusat perhatian khalayak ramai, dan/atau tambatan rapat staf yang relevan; singkatnya dokumen apa pun yang relevan dengan persoalan yang diteliti dapat dimuat.

             Angket

                  Angket atau kuesioner merupakan suatu teknik pengumpulan data secara tidak langsung (peneliti tidak langsung bertanya jawab dengan responden). Instrument pengumpul data nya juga disebut dengan angket yang berisi sejumlah pertanyaan atau pernyataan tertulis yang harus dijawab atau di respon oleh responden.

Prinsip Penulisan Angket :

a.      Isi dan Tujuan Pertanyaan

Maksudnya adalah apakah isi pertanyaan tersebut merupakan bentuk pengukuran atau bukan? Jika berbentuk pengukuran, maka dalam membuat pertanyaan harus teliti, setiap pertanyaan harus disusun dalam skala pengukuran dan jumlah itemnya mencukupi untuk mengukur variabel yang diteliti.

b.      Bahasa yang digunakan

Bahasa yang digunakan dalam angket harus disesuaikan dengan kemampuan berbahasa responden (memerhatikan jenjang pendidikan keadaan sosial budaya dari responden).

c.       Tipe dan Bentuk Pertanyaan

Tipe pertanyaan dalam angket dapat terbuka (pertanyaan yang mengharapkan responden untuk menuliskan jawabannya dalam bentuk uraian) atau tertutup (pertanyaan yang mengharapkan jawaban singkat atau mengharapkan responden untuk memilih salah satu alternatif jawaban yang telah disediakan) dan dapat pula menggunakan kalimat positif atau pun negatif.

d.   Pertanyaan tidak mendua (double barreled), contohnya “Bagaimana pendapat anda mengenai kualitas dan relevansi pendidikan saat ini?” Tidak menanyakan yang sudah lupa, misalnya “Bagaimana kualitas pendidikan sekarang bila dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu?”

e. Pertanyaan tidak menggiring, maksudnya pertanyaan dalam angket tidak menggiring/ mengarahkan ke jawaban yang baik atau yang buruk saja. Misalnya “Bagaimanakah prestasi belajar anda selama di sekolah yang dulu?”

f.     Panjang pertanyaan, pertanyaan dalam angket sebaiknya tidak terlalu panjang, sehingga akan membuat responden jenuh dalam mengisi Urutan Pertanyaan. Urutan pertanyaan dalam angket dimulai dari yang umum menuju ke hal yang spesifik atua dari hal yang mudah menuju ke hal yang sulit. Hal ini perlu diperhatikan karena secara psikologis dapat memengaruhi semangat responden, jika pada awalnya sudah diberi pertanyaan yang sulit maka responden akan merasa malas untuk mengisi angket yang telah mereka terima.

g.      Prinsip Pengukuran.

      Angket yang diberikan kepada responden merupakn instrument penelitian yang digunakan untuk mengukur variabel yang akan diteliti. Oleh karena itu, angket tersebut harus dapat digunakan untuk mendapatkan data yang valid dan reliabel tentang variabel yang diukur, maka sebelum instrumen angket tersebut diberikan kepada responden, sebaiknya diuji dulu validitas dan reabilitasnya.

      h.      Penampilan Fisik Angket.

      Penampilan fisik angket sebagai alat pengumpul data akan memengaruhi responden dalam mengisi angket. Angket yang dibuat di kertas buram, akan mendapat respon yang kurang menarik dari responden.

 

      Jenis-jenis Angket atau Kuesioner

      a.      Jenis angket berdasarkan cara responden menjawab, diantaranya :

b.  Angket tidak berstruktur (terbuka) ialah angket yang disajikan dalam bentuk sederhana sehingga responden dapat memberikan jawaban bebas sesuai dengan kehendak dan keadaannya. Jawaban bebas disini maksudnya adalah uraian berupa pendapat, hasil pemikiran, tanggapan, dan lain-lain mengenai segala sesuatu yang dipertanyakan setiap item pada angket. Contoh pertanyaan angket terbuka “Bagaimana pendapat anda mengenai kenaikan standar nilai UN?”

c. Angket berstruktur (tertutup) ialah jenis angket yang setelah rumusan pertanyaannya disediakan pula alternatif jawaban yang dapat dipilih oleh responden. Angket berstruktur dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu :

1) Angket berstruktur dengan pertanyaan tertutup ialah angket yang telah menyediakan alternatif jawaban yang harus dipilih responden tanpa kemungkinan jawaban lain. Contohnya “Bagaimana pendapat kalian terhadap pembelajaran yang telah berlangsung tadi?”

a.      sangat baik

b.      baik

c.       cukup

d.     kurang

e.      sangat kurang

2)    Angket berstruktur dengan pertanyaan terbuka merupakan jenis pertanyaan angket yang juga termasuk kedalam angket tertutup, maksudnya alternatif jawabannya berbentuk pilihan ganda tetapi peneliti berasumsi dari jawaban yang telah disediakan untuk setiap pertanyaan mungkin tidak ada jawaban yang sesuai atau tepat, sehingga responden perlu diberi kesempatan untuk menyampaikan jawaban lain yang lebih tepat.

Contoh : Pembelajaran yang bagaimanakah yang kalian sukai?

a.      Pembelajaran yang menyenangkan

b.      Pembelajaran yang humoris

c.       Pembelajaran yang santai

d.     Pembelajaran yang komunikatif

 

3)      Angket berstruktur dengan jawaban singkat (short answer item), angket jenis ini merupakan gabungan atau kombinasi antara angket tidak berstruktur dengan angket berstruktur. Contoh “Bagaimana pendapat kalian tentang penjelasan materi yang disampaikan oleh guru?”

Jenis angket berdasarkan bentuknya, antara lain :

a.      Angket pilihan ganda (sama dengan angket tertutup)

b.      Angket isian, seperti angket tercheck list/ daftar cek, sehingga responden tinggal membubuhkan tanda check (√) pada kolom yang sesuai.

 

       Wawancara

                  Wawancara, yang dimaksud dengan wawancara adalah percakapan yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh iinformasi dari terwawancara, narasumber atau informan. Ada beberapa jenis atau bentuk wawancara, diantaranya :

a. Wawancara terstruktur adalah wawancara yang dilakukan dengan terlebih dahulu menyiapkan bahan wawancara/pertanyaan.

b.  Wawancara semi terstruktur adalah bentuk wawancara yang sudah disiapkan terlebih dahulu, tetapi memberikan keleluasaan untuk tidak langsung terfokus kepada bahasan atau mungkin mengajukan topik bahasan sendiri selama wawancara itu berlangsung. Wawancara tidak terstruktur ialah bentuk wawancara di mana prakarsauntuk memilih topik bahasan diambil oleh orang yang diwawancarai. Apabila wawancara sudah berlangsung, pewawancara dapat mengarahkan agar informan dapat menerangkan, mengelaborasi, atau mengklarifikasi jawaban yang kurang jelas. Wawancara informal yaitu jenis percakapan bebas yang memungkinkan interviewer untuk menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan masalah yang akan ditelitinya.

c.  Wawancara formal berstruktur yaitu jenis wawancara yang dalam pelaksanaannya menggunakan format wawancara yang terstruktur, jadi guru dapat menanyakan pertanyaan yang sama kepada responden.

 

  

       Teknik Sosiometrik

                  Metode  ini digunakan untuk mengetahui apakah individu-individu disukai atau saling menyukai. Pertanyaan-pertanyaan sering diajukan dengan niat untuk mengetahui dengan siapa subyek tertentu ingin bekerja sama. Pertanyaan juga mungkin berusaha mengungkapkan dengan siapa subyek tertentu tidak suka bekerja sama atau berhubungan. Hasil sosiometri ini biasanya dituangkan dalam diagram yang disebut sosiogram. Berikut ini contoh dari sosiogram:

Jadwal dan daftar tilik (checklist) interaksi

Kedua teknik ini dapat menunjuk pada:

a.  Perilaku verbal guru: misalnya bertanya, menjelaskan, mendisiplinkan (individu atau kelompok), memberi contoh melafalkan kata/frasa/kalimat

b. Perilaku verbal siswa: misalnya, menjawab, bertanya, menyela, berkelakar, mengungkapkan diri, menyanggah, menyetujui.

c. Perilaku nonverbal guru: misalnya, tersenyum, mengerutkan kening, memberi isyarat, menulis, berdiri dekat siswa pandai, duduk dengan siswa lamban.

d.Perilaku nonverbal siswa: misalnya menoleh, mondar-mandir, menulis, menggambar, menulis cepat, tertawa, menangis, mengerutkan dahi, mengatupkan bibir.

 

        Rekaman pita

                  Merekam berbagai peristiwa seperti pelajaran, rapat, diskusi, seminar, lokakarya, dapat menghasilkan banyak informasi yang bermanfaat yang tertakluk (tunduk) pada analisis yang cermat. Metode ini khususnya berguna bagi kontak satu lawan satu dan kelompok kecil.

 

       Rekaman video

                  Perekam video dapat dioperasikan oleh peneliti untuk merekam satuan kegiatan/peristiwa untuk kemudian dianalisis. Akan lebih baik jika satuan rekamannya pendek karena pemutaran ulang akan memakan waktu. Bila ada anggota peneliti yang membantu, lebih banyak perhatian dapat diberikan pada reaksi dan perilaku subjek secara perorangan (guru dan siswa), yang aspek-aspeknya disepakati sebelum perekaman.

         Foto dan slide

                  Foto dan slide mungkin berguna untuk merekam peristiwa penting, misalnya aspek kegiatan kelas, atau untuk mendukung bentuk rekaman lain. Peneliti dan pengamat boleh menggunakan rekaman fotografik. Karena daya tariknya bagi subjek penelitian, foto dapat diacu dalam wawancara berikutnya dan diskusi tentang data.

        Penampilan subyek penelitian pada kegiatan penilaian

                  Teknik ini digunakan untuk menilai prestasi, penguasaan, untuk mendiagnosis kelemahan dsb. Alat penilaian tersebut dapat dibuat oleh peneliti atau para ahlinya. Pemilihan teknik pengumpulan data ini tentu saja disesuaikan dengan jenis data yang akan dikumpulkan. Pemilihan teknik pengumpulan data hendaknya dipilih sesuai dengan ciri khas data yang perlu dikumpulkan untuk mendukung tercapainya tujuan penelitian. Untuk keperluan trianggulasi, data yang sama dapat dikumpulkan dengan teknik yang berbeda.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

                  Data dalam penelitian tindakan berfungsi sebagai landasan refleksi. Data mewakili tindakan dalam arti bahwa data itu memungkinkan peneliti untuk merekonstruksi tindakan terkait, bukan hanya mengingat kembali. Oleh sebab itu, pengumpulan data tidak hanya untuk keperluan hipotesis, melainkan sebagai alat untuk membukukan amatan dan menjembatani antara momen momen tindakan dan refleksi dalam putaran penelitian tindakan.

                  Data penelitian tindakan dapat berbentuk catatan lapangan, catatan harian, transkrip komentar peserta penelitian, rekaman audio, rekaman video, foto dan rekaman/catatan lainnya.

 

Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern

  Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern Pendahuluan Ketika arus modernisasi menghujani dunia Islam, proses modern...