Jumat, 23 Juli 2021

Makalah Pengertian Rumusan Masalah

 


BAB II

PEMBAHASAN

            Rumusan masalah adalah tulisan singkat berupa pertanyaan yang biasanya terletak di awal laporan atau proposal dan biasanya terletak setelah latar belakang yang dijelaskan dalam laporan tersebut. Rumusan masalah digunakan untuk menjelaskan masalah atau isu yang dibahas dokumen tersebut kepada para pembaca. Secara umum, suatu rumusan masalah akan menggarisbawahi fakta-fakta dasar dari masalahnya, menjelaskan alasan masalah itu penting, dan menentukan solusi secepat dan selangsung mungkin. Rumusan masalah sering digunakan di dunia bisnis untuk kepentingan perencanaan tapi dapat juga diperlukan dalam situasi akademis sebagai bagian dari laporan yang bergaya seperti laporan atau proyek tulisan.

            Untuk menemukan dan menetapkan  masalah  yang  baik, ada beberapa kriteria yang perlu dipertimbangkan :

Pertama, apakah masalah itu berguna untuk dipecahkan?

Kedua, apakah masalah itu bisa diteliti (researchable)?

Ketiga, apakah ada kemampuan yang dimiliki peneliti untuk memecahkan masalah itu, Karena masalah yang baik harus berada dalam daya jangkau disiplin ilmu seorang peneliti.

 Keempat, apakah masalah itu menarik untuk diteliti dalam rangka memecahkan masalah yang telah ditemukan?

Kelima, apakah masalah itu bisa memberikan sesuatu yang baru bagi ilmu pengetahuan, jika diteliti?

Keenam, apakah masalah itu terbatas sehingga jelas?

 

            Berdasarkan masalah yang telah ditemukan, peneliti menetapkan langkah-langkah berikutnya dengan  merumuskan  masalah dalam bentuk prtanyaan penelitian yang lebih spesifik dan  bersifat operasional. Sebelum dirumuskan, peneliti bisa juga mengidentifikasi masalahnya terlebih dahulu dengan cara mengungkapkan hal-hal yang sangat spesifik berkaitan dengan variabel permasalahan penelitian. Kemudian menyebutkan rincian masalah secara singkat dan jelas dalam bentuk pernyataan. Identifikasi dilanjutkan dengan menginventarisasi hal-hal yang mungkin menjadi ganjalan dalam pikiran, sehingga merangsang atau mendorong peneliti untuk memecahkan masalah yang menjadi fokus penelitian. Baru kemudian  mengarahkan atau mengkerucutkan konsep-konsep pemikiran kearah kristalisasi masalah, sehingga bisa membatasi ruang lingkup penelitian. 

 

            Masalah yang sudah diidentifikasi kemudian dirumuskan dalam bentuk pointers pertanyaan yang relevan. Merumuskan masalah berarti menyusun daftar pertanyaan penelitian, sebagai pengantar kerangka berfikir secara sistematis dalam proses penelitian. Karna hakikat penelitian adalah mencari jawaban dari pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan, untuk memecahkan masalah yang telah dipilih atau ditetapkan oleh peneliti sendiri.  

            Rumusan masalah hakikatnya merupakan pedoman yang akan menuntun seorang peneliti untuk menemukan jawaban di lapangan, sehingga bisa membantu peneliti menyusun laporan sesuai pertanyaan yang telah dirumuskan. Jack Frinkel dan Norman Wallen menjelaskan syarat rumusan masalah yang baik (1) harus feasible, yaitu memungkinkan untuk diteliti; (2) harus clear, artinya rumusan harus bisa diungkap dengan bahasa yang jelas dan sederhana, sehingga mudah difahami maknanya; (3) harus significant, maksudnya rumusan masalah harus dapat mengungkapkan pertanyaan yang jawabannya berguna dan berarti bagi kepentingan ilmu pengetahuan; (4) harus etihic, artinya rumusan masalah harus dapat dipecahkan, tanpa harus merusak atau membahayakan citra orang lain. 


Dengan kalimat lain, rumusan masalah dalam bentuk pertanyaan penelitian harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :

           

            Rumusan masalah harus diungkap dengan bahasa yag singkat, jelas dan bermakna. Masalah perlu dirumuskan dengan kalimat yang mudah dimengerti, tidak berbelit-belit sehingga menimbulkan penafsiran ganda.

            Rumusan masalah diwujudkan dalam bentuk kalimat tanya. Seperti dinyatakan oleh Karlinger (1986;16) bahwa masalah akan lebih tepat apabila dirumuskan dalam bentuk kalimat pertanyaan, sehingga peneliti dipandu untuk menemukan jawabannya melalui penelitian.

            Rumusan masalah harus jelas dan kongkrit, sehingga memungkinkan peneliti secara explisit dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan apa yang akan diteliti, siapa yang akan diselidiki, mengapa harus diteliti, bagaimana menelitinya.

            Masalah harus dirumuskan secara operasional, sehingga memungkinkan peneliti memahami variabel-variabel yang mudah diukur.

            Rumusan masalah harus mampu memberikan pedoman dan petunjuk bagi pelaksanaan pengumpulan data di lapangan, sehingga dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan.

            Rumusan masalah harus dibatasi, guna membantu penarikan simpulan yang tegas. Itu sebabnya rumusan masalah sesungguhnya juga berfungsi membatasi masalah penelitian, sehingga jelas fokusnya.

            Jika masalah sudah ditemukan berdasarkan hasil pengamatan yang cermat terhadap fenomena di lapangan atau pemikiran seseorang, maka langkah berikutnya seorang peneliti bisa merumuskan masalahnya, dengan terlebih dahulu mengidentifikasi masalah yang dimaksud.


Di bawah ini ada contoh sederhana yang bisa dijadikan bahan analogi, ketika seorang peneliti pendidikan hendak mengidentifikasi kemungkinan sudah siap atau belum para guru di suatu sekolah, dalam menghadapi perubahan kurikulum. Kurikulum 2004 yang dikenal dengan istilah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), belum sempat diuji, dievaluasi serta belum dioptimalkan penerapannya, sekarang sudah harus dilakukan perubahan menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yang mulai diterapkan pada tahun 2006. Masalahnya sejauh mana kesiapan guru di suatu sekolah dalam menghadapi perubahan kurikulum yang begitu cepat.


Identifikasi_Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, perlu disampaikan identifikasi masalahnya sebagai berikut:

1.               Masih banyak guru yang kurang memiliki standar kompetensi.

2.               Kesiapan dalam pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan dipengaruhi     oleh kompetensi guru.

3.               Banyak guru yang belum mengetahhui dan memahami isi kurikulum tingkat             satuan pendidikan.

4.               Banyak guru yang belum menjabarkan isi kurikulum ke dalam perangkat        pembelajaran.

5.               Masih kurangnnya kemampuan guru dalam mengembangkan silabus,             membuat rencana proses pembelajaran, menggunakan media dan             melaksanakan evaluasi.

6.               Kesiapan guru banyak dipengaruhi oleh pengalaman, pendidikan dan motivasi          kerja.

7.               Kurangnya perhatian pemerintah daerah terhadap perubahan kurikulum             sehingga sosialisasi terhadap KTSP belum dilaksanakan secara optimal.

           

            Penelitian dalam rangka menemukan hakikat kebenaran dan ilmu pengetahuan, dapat ditempuh melalui berbagai model. Dalam bahasa populer sering disebut paradigma, pola atau perspektif. Sebagai suatu paradigma, penelitian memungkinkan dilakukan dalam berbagai bentuk, model atau pola, tergantung pada masalah dan metode penelitian yang digunakan. Pada garis besarnya, paradigma penelitian secara dikotomi dapat dilakukan dengan model penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Masing – masing cara pandang penelitian ini mempunyai karakteristik tersendiri, dan akan berpengaruh terhadap tehnik pengumpulan data dan analisa.

            Penelitian kualitatif lebih didominasi oleh teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi partisipasi, di mana peneliti sendiri sebagai instrumen penelitiannya. Analisis terhadap hasil penelitian lebih banyak dilakukan menggunakan analisis logik, berupa uraian dan narasi kalimat yang rasional, kritis dan sistematis. Sedangkan penelitian kuantitatif lebih didominasi oleh tehnik pengumpulan data secara penyebaran angket atau pengguna questionnaire, yang telah disiapkan kerangka daftar pertanyaan untuk kemudian dianalisis menggunakan statistik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

 

 

A. Kesimpulan

            Rumusan masalah adalah tulisan singkat berupa pertanyaan yang biasanya terletak di awal laporan atau proposal dan biasanya terletak setelah latar belakang yang dijelaskan dalam laporan tersebut. Rumusan masalah digunakan untuk menjelaskan masalah atau isu yang dibahas dokumen tersebut kepada para pembaca. Secara umum, suatu rumusan masalah akan menggarisbawahi fakta-fakta dasar dari masalahnya, menjelaskan alasan masalah itu penting, dan menentukan solusi secepat dan selangsung mungkin. Rumusan masalah sering digunakan di dunia bisnis untuk kepentingan perencanaan tapi dapat juga diperlukan dalam situasi akademis sebagai bagian dari laporan yang bergaya seperti laporan atau proyek tulisan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern

  Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern Pendahuluan Ketika arus modernisasi menghujani dunia Islam, proses modern...