BAB II
PEMBAHASAN
Rumusan masalah adalah
tulisan singkat berupa pertanyaan yang biasanya terletak di awal laporan atau
proposal dan biasanya terletak setelah latar belakang yang dijelaskan dalam
laporan tersebut. Rumusan masalah digunakan untuk menjelaskan masalah atau isu
yang dibahas dokumen tersebut kepada para pembaca. Secara umum, suatu rumusan
masalah akan menggarisbawahi fakta-fakta dasar dari masalahnya, menjelaskan
alasan masalah itu penting, dan menentukan solusi secepat dan selangsung mungkin.
Rumusan masalah sering digunakan di dunia bisnis untuk kepentingan perencanaan
tapi dapat juga diperlukan dalam situasi akademis sebagai bagian dari laporan
yang bergaya seperti laporan atau proyek tulisan.
Untuk
menemukan dan menetapkan masalah yang baik, ada beberapa kriteria yang perlu
dipertimbangkan :
Pertama, apakah masalah itu berguna untuk dipecahkan?
Kedua, apakah masalah itu bisa diteliti (researchable)?
Ketiga, apakah ada kemampuan yang dimiliki peneliti untuk
memecahkan masalah itu, Karena masalah yang baik harus berada dalam daya
jangkau disiplin ilmu seorang peneliti.
Keempat, apakah
masalah itu menarik untuk diteliti dalam rangka memecahkan masalah yang telah
ditemukan?
Kelima, apakah masalah itu bisa memberikan sesuatu yang baru
bagi ilmu pengetahuan, jika diteliti?
Keenam, apakah masalah itu terbatas sehingga jelas?
Berdasarkan masalah yang telah
ditemukan, peneliti menetapkan langkah-langkah berikutnya dengan merumuskan masalah dalam bentuk prtanyaan penelitian yang
lebih spesifik dan bersifat operasional.
Sebelum dirumuskan, peneliti bisa juga mengidentifikasi masalahnya terlebih
dahulu dengan cara mengungkapkan hal-hal yang sangat spesifik berkaitan dengan
variabel permasalahan penelitian. Kemudian menyebutkan rincian masalah secara
singkat dan jelas dalam bentuk pernyataan. Identifikasi dilanjutkan dengan
menginventarisasi hal-hal yang mungkin menjadi ganjalan dalam pikiran, sehingga
merangsang atau mendorong peneliti untuk memecahkan masalah yang menjadi fokus
penelitian. Baru kemudian mengarahkan
atau mengkerucutkan konsep-konsep pemikiran kearah kristalisasi masalah,
sehingga bisa membatasi ruang lingkup penelitian.
Masalah yang sudah diidentifikasi
kemudian dirumuskan dalam bentuk pointers pertanyaan yang relevan. Merumuskan
masalah berarti menyusun daftar pertanyaan penelitian, sebagai pengantar
kerangka berfikir secara sistematis dalam proses penelitian. Karna hakikat
penelitian adalah mencari jawaban dari pertanyaan penelitian yang telah
dirumuskan, untuk memecahkan masalah yang telah dipilih atau ditetapkan oleh
peneliti sendiri.
Rumusan masalah hakikatnya merupakan
pedoman yang akan menuntun seorang peneliti untuk menemukan jawaban di
lapangan, sehingga bisa membantu peneliti menyusun laporan sesuai pertanyaan
yang telah dirumuskan. Jack Frinkel dan Norman Wallen menjelaskan syarat
rumusan masalah yang baik (1) harus feasible, yaitu memungkinkan untuk diteliti;
(2) harus clear, artinya rumusan harus bisa diungkap dengan bahasa yang jelas
dan sederhana, sehingga mudah difahami maknanya; (3) harus significant,
maksudnya rumusan masalah harus dapat mengungkapkan pertanyaan yang jawabannya
berguna dan berarti bagi kepentingan ilmu pengetahuan; (4) harus etihic,
artinya rumusan masalah harus dapat dipecahkan, tanpa harus merusak atau
membahayakan citra orang lain.
Dengan kalimat lain, rumusan masalah dalam bentuk pertanyaan penelitian harus
mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
Rumusan masalah harus
diungkap dengan bahasa yag singkat, jelas dan bermakna. Masalah perlu
dirumuskan dengan kalimat yang mudah dimengerti, tidak berbelit-belit sehingga
menimbulkan penafsiran ganda.
Rumusan masalah diwujudkan
dalam bentuk kalimat tanya. Seperti dinyatakan oleh Karlinger (1986;16) bahwa
masalah akan lebih tepat apabila dirumuskan dalam bentuk kalimat pertanyaan,
sehingga peneliti dipandu untuk menemukan jawabannya melalui penelitian.
Rumusan masalah harus
jelas dan kongkrit, sehingga memungkinkan peneliti secara explisit dapat
menjawab pertanyaan-pertanyaan apa yang akan diteliti, siapa yang akan
diselidiki, mengapa harus diteliti, bagaimana menelitinya.
Masalah harus dirumuskan
secara operasional, sehingga memungkinkan peneliti memahami variabel-variabel
yang mudah diukur.
Rumusan masalah harus
mampu memberikan pedoman dan petunjuk bagi pelaksanaan pengumpulan data di
lapangan, sehingga dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian yang telah
dirumuskan.
Rumusan masalah harus
dibatasi, guna membantu penarikan simpulan yang tegas. Itu sebabnya rumusan
masalah sesungguhnya juga berfungsi membatasi masalah penelitian, sehingga
jelas fokusnya.
Jika masalah sudah ditemukan
berdasarkan hasil pengamatan yang cermat terhadap fenomena di lapangan atau
pemikiran seseorang, maka langkah berikutnya seorang peneliti bisa merumuskan
masalahnya, dengan terlebih dahulu mengidentifikasi masalah yang dimaksud.
Di bawah ini ada contoh sederhana yang bisa dijadikan bahan analogi, ketika
seorang peneliti pendidikan hendak mengidentifikasi kemungkinan sudah siap atau
belum para guru di suatu sekolah, dalam menghadapi perubahan kurikulum.
Kurikulum 2004 yang dikenal dengan istilah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK),
belum sempat diuji, dievaluasi serta belum dioptimalkan penerapannya, sekarang
sudah harus dilakukan perubahan menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP), yang mulai diterapkan pada tahun 2006. Masalahnya sejauh mana kesiapan
guru di suatu sekolah dalam menghadapi perubahan kurikulum yang begitu cepat.
Identifikasi_Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, perlu disampaikan
identifikasi masalahnya sebagai berikut:
1.
Masih banyak guru yang kurang
memiliki standar kompetensi.
2.
Kesiapan dalam pelaksanaan
kurikulum tingkat satuan pendidikan dipengaruhi oleh kompetensi guru.
3.
Banyak guru yang belum
mengetahhui dan memahami isi kurikulum tingkat satuan
pendidikan.
4.
Banyak guru yang belum
menjabarkan isi kurikulum ke dalam perangkat pembelajaran.
5.
Masih kurangnnya kemampuan
guru dalam mengembangkan silabus, membuat
rencana proses pembelajaran, menggunakan media dan melaksanakan evaluasi.
6.
Kesiapan guru banyak
dipengaruhi oleh pengalaman, pendidikan dan motivasi kerja.
7.
Kurangnya perhatian
pemerintah daerah terhadap perubahan kurikulum sehingga
sosialisasi terhadap KTSP belum dilaksanakan secara optimal.
Penelitian dalam rangka menemukan
hakikat kebenaran dan ilmu pengetahuan, dapat ditempuh melalui berbagai model.
Dalam bahasa populer sering disebut paradigma, pola atau perspektif. Sebagai
suatu paradigma, penelitian memungkinkan dilakukan dalam berbagai bentuk, model
atau pola, tergantung pada masalah dan metode penelitian yang digunakan. Pada
garis besarnya, paradigma penelitian secara dikotomi dapat dilakukan dengan
model penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Masing – masing cara
pandang penelitian ini mempunyai karakteristik tersendiri, dan akan berpengaruh
terhadap tehnik pengumpulan data dan analisa.
Penelitian kualitatif lebih
didominasi oleh teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan
observasi partisipasi, di mana peneliti sendiri sebagai instrumen
penelitiannya. Analisis terhadap hasil penelitian lebih banyak dilakukan
menggunakan analisis logik, berupa uraian dan narasi kalimat yang rasional,
kritis dan sistematis. Sedangkan penelitian kuantitatif lebih didominasi oleh
tehnik pengumpulan data secara penyebaran angket atau pengguna questionnaire,
yang telah disiapkan kerangka daftar pertanyaan untuk kemudian dianalisis
menggunakan statistik.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Rumusan
masalah adalah tulisan singkat berupa pertanyaan yang biasanya terletak di awal
laporan atau proposal dan biasanya terletak setelah latar belakang yang
dijelaskan dalam laporan tersebut. Rumusan masalah digunakan untuk menjelaskan
masalah atau isu yang dibahas dokumen tersebut kepada para pembaca. Secara
umum, suatu rumusan masalah akan menggarisbawahi fakta-fakta dasar dari
masalahnya, menjelaskan alasan masalah itu penting, dan menentukan solusi
secepat dan selangsung mungkin. Rumusan masalah sering digunakan di dunia
bisnis untuk kepentingan perencanaan tapi dapat juga diperlukan dalam situasi
akademis sebagai bagian dari laporan yang bergaya seperti laporan atau proyek
tulisan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar