BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Salah satu komponen yang penting
dalam penelitian adalah proses peneliti dalam pengumpulan data. Kesalahan yang
dilakukan dalam proses pengumpulan data akan membuat proses analisis menjadi
sulit. Selain itu hasil dan kesimpulan yang akan didapat pun akan menjadi rancu
apabila pengumpulan data dilakukan tidak dengan benar.
Masing-masing
penelitian memiliki proses pengumpulan data yang berbeda, tergantung dari jenis
penelitian yang hendak dibuat oleh peneliti. Pengumpulan data kualitatif
pastinya akan berbeda dengan pengumpulan data kuantitatif. Pengumpulan data
statistik juga tidak bisa disamakan dengan pengumpulan data analisis.
Pengumpulan
data penelitian tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Terdapat langkah pengumpulan
data dan teknik pengumpulan data yang harus diikuti. Tujuan dari langkah
pengumpulan data dan teknik pengumpulan data ini adalah demi mendapatkan data
yang valid, sehingga hasil dan kesimpulan penelitian pun tidak akan diragukan
kebenarannya.
B.
TujuanPenulisan
Agar kita sebagai pemakalah dapat memahami dan mampu menyampaikan makalah/pembahasan tersebut kepada teman-teman kelas supaya dapat diterima materi-materi yang telah disampaikan.
BAB II
PEMBAHASAN
Data dalam penelitian tindakan berfungsi sebagai landasan refleksi. Data mewakili tindakan dalam arti bahwa
data itu memungkinkan peneliti untuk merekonstruksi tindakan terkait, bukan
hanya mengingat kembali. Oleh sebab itu, pengumpulan data tidak hanya untuk
keperluan hipotesis, melainkan sebagai alat untuk membukukan amatan dan
menjembatani antara momen momen tindakan dan refleksi dalam putaran penelitian
tindakan.
Data penelitian tindakan dapat berbentuk catatan lapangan, catatan harian, transkrip komentar peserta penelitian, rekaman audio, rekaman video, foto dan rekaman/catatan lainnya. Banyak teknik yang dapat digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian tindakan, antara lain.
Catatan
Anekdot
Catatan anekdot adalah riwayat tertulis, deskriptif, longitudinal tentang apa yang dikatakan atau dilakukan perseorangan dalam kelas dalam suatu jangka waktu. Deskripsi secara akurat dalam catatan anekdot ini sangat diperlukan untuk menghasilkan gambaran umum yang layak untuk keperluan penjelasan dan penafsiran. Deskripsi tersebut biasanya mencakup peristiwa yang terjadi sebelum, selama, dan sesudah proses pembelajaran berlangsung beserta konteks yang relevan atau berkaitan dengan objek yang diteliti.
Catatan
Lapangan
Teknik ini sejenis dengan catatan anekdot, tetapi mencakup kesan dan penafsiran subjektif. Deskripsi boleh mencakup referensi misalnya pelajaran yang lebih baik, perilaku kurang perhatian, pertengkaran picik, kecerobohan, yang tidak disadari oleh guru atau pimpinan terkait. Seperti halnya catatan anekdot, perhatian diarahkan pada persoalan yang dianggap menarik.
Deskripsi Perilaku Ekologis
Teknik ini kurang terarah pada persoalan jika dibandingkan dengan teknik pertama di atas. Teknik ini berusaha untuk mencatat observasi dan pemahaman terhadap urutan perilaku yang lengkap. Deskripsi sebaiknya mengurangi penafsiran psikologis dan terminologis, misalnya, ketika seorang siswa diamati tertawa terbahak-bahak, peneliti tidak boleh memberi komentar tentang maksud tertawa siswa tersebut. Kecenderungan untuk memberikan penilaian seperti ini banyak dialami oleh peneliti pemula. Mereka belum terlatih untuk menunda penilaian sampai refleksi dilakukan.
Analisis Dokumen
Gambaran tentang persoalan: sekolah atau bagian sekolah, kantor atau bagian kantor, dapat di konstruksi dengan menggunakan berbagai dokumen: surat, memo untuk staf, edaran untuk orangtua atau karyawan, memo guru atau pejabat, papan pengumuman guru, papan pengumuman siswa, pekerjaan siswa yang dipamerkan, garis besar, tes formal dan informal, publikasi siswa atau karyawan, kebijakan, dan/atau peraturan.
Catatan Harian
Catatan
harian (diaries) adalah catatan pribadi tentang pengamatan, perasaan,
tanggapan, penafsiran, refleksi, firasat, hipotesis dan penjelasan. Catatan
tidak hanya melaporkan kejadian tugas sehari-hari, melainkan juga mengungkapkan
perasaan bagaimana rasanya berpartisipasi dalam penelitian tindakan kelas.
Kejadian khusus, percakapan, introspeksi perasaan, sikap, motivasi, pemahaman waktu
bereaksi terhadap sesuatu, dan kondisi akan membantu merekonstruksi apa yang
terjadi waktu itu. Catatan harian juga dapat dibuat oleh siswa. Catatan mereka
dapat menjadi sumber informasi tentang apa yang mereka alami dalam penelitian
tindakan Kelas. Untuk mendukung suatu pandangan yang dikemukakan atau sebagai
pembuktian sebaiknya diadakan diskusi untuk membandingkan catatan harian guru
dan siswa.
Penulisan
catatan harian (diaries) harus selalau dengan menuliskan tanggal kejadian.
Demikian juga dengan hal-hal yang mendetail dari penelitian tindakan kelas,
seperti waktu, pokok bahasan, kalas di mana PTK dilaksanakan sebaiknya
dituliskan pada bagian pendahuluan. Catatan harian guru dan siswa akan berguna
juga sebagai pelengkap atau pembanding dari catatan lapangan (field notes) yang
dibuat oleh para mitra peneliti yang melakukan pengamatan atau observasi.
Catatan harian mungkin memuat observasi, perasaan, reaksi, penafsiran,
refleksi, dugaan, hipotesis, dan penjelasan. Catatan harian dapat digunakan
untuk salah satu atau beberapa tujuan berikut:
a. Merekam secara teratur informasi faktual
tentang peristiwa, tanggal dan orang, dengan
klasifikasi judul, misalnya Kapan? Di mana? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Mengapa? Data yang direkam dapat membantu
peneliti merekonstruksi urutan waktu atau
peristiwa sebagaimana terjadi.
b. Aide mémoire untuk merekam catatan pendek
tentang penelitian yang sedang dilakukan
untuk refleksi kemudian.
c. Memotret secara rinci peristiwa dan situasi
tertentu yang memberikan data deskriptif lengkap yang akan digunakan untuk
laporan lengkap tertulis.
d. Catatan introspektif dan evaluatif-diri di mana peneliti mencatat pengalaman, pemikiran, dan perasaan pribadi dalam rangka memahami penelitiannya.
Logs
Teknik ini pada dasarnya sama dengan catatan harian tetapi biasanya disusun dengan mempertimbangkan alokasi waktu untuk kegiatan tertentu, pengelompokan kelas, dan sebagainya. Kegunaannya akan lebih tinggi jika disertai dengan komentar-komentar secara logis dan sistematis.
Kartu Cuplikan Butir
Teknik
ini mirip dengan catatan harian tetapi sekitar enam kartu digunakan untuk
mencatat kesan tentang sejumlah topik, satu untuk satu kartu. Misalnya: satu
set kartu boleh mencakup topik-topik seperti pendahuluan pelajaran, disiplin,
kualitas pekerjaan siswa, efisiensi penilaian, kontak individual dengan siswa,
dan perilaku seorang siswa.
Kartunya
dikocok dan catatan harian dibuat untuk satu topik setiap harinya, dan dengan
demikian membangun gambaran tentang semua persoalan sebagai dasar refleksi
tanpa resiko memberikan tekanan terlalu berat atau menimbulkan kebosanan dengan
aspek tertentu.
Portofolio
Teknik ini digunakan untuk membuat koleksi bahan yang disusun dengan tujuan tertentu. Portofolio mungkin memuat hal-hal seperti tambatan rapat staf yang berkaitan dengan sejarah suatu persoalan yang diteliti, korespondensi yang berkaitan dengan kemajuan dan perilaku subyek penelitian, kliping korespodensi dan surat kabar yang berkaitan dengan persoalan di mana lembaga tempat penelitian menjadi pusat perhatian khalayak ramai, dan/atau tambatan rapat staf yang relevan; singkatnya dokumen apa pun yang relevan dengan persoalan yang diteliti dapat dimuat.
Angket
Angket atau
kuesioner merupakan suatu teknik pengumpulan data secara tidak langsung
(peneliti tidak langsung bertanya jawab dengan responden). Instrument pengumpul
data nya juga disebut dengan angket yang berisi sejumlah pertanyaan atau
pernyataan tertulis yang harus dijawab atau di respon oleh responden.
Prinsip Penulisan Angket :
a. Isi dan Tujuan
Pertanyaan
Maksudnya adalah apakah isi pertanyaan tersebut merupakan bentuk pengukuran
atau bukan? Jika berbentuk pengukuran, maka dalam membuat pertanyaan harus
teliti, setiap pertanyaan harus disusun dalam skala pengukuran dan jumlah
itemnya mencukupi untuk mengukur variabel yang diteliti.
b. Bahasa yang digunakan
Bahasa yang digunakan dalam angket harus disesuaikan dengan
kemampuan berbahasa responden (memerhatikan jenjang pendidikan keadaan sosial
budaya dari responden).
c. Tipe dan Bentuk
Pertanyaan
Tipe pertanyaan dalam angket dapat terbuka (pertanyaan yang
mengharapkan responden untuk menuliskan jawabannya dalam bentuk uraian) atau
tertutup (pertanyaan yang mengharapkan jawaban singkat atau mengharapkan
responden untuk memilih salah satu alternatif jawaban yang telah disediakan)
dan dapat pula menggunakan kalimat positif atau pun negatif.
d. Pertanyaan tidak mendua
(double barreled), contohnya “Bagaimana pendapat anda mengenai kualitas dan
relevansi pendidikan saat ini?” Tidak menanyakan yang sudah lupa, misalnya
“Bagaimana kualitas pendidikan sekarang bila dibandingkan dengan 10 tahun yang
lalu?”
e. Pertanyaan tidak menggiring, maksudnya pertanyaan dalam angket
tidak menggiring/ mengarahkan ke jawaban yang baik atau yang buruk saja.
Misalnya “Bagaimanakah prestasi belajar anda selama di sekolah yang dulu?”
f. Panjang pertanyaan,
pertanyaan dalam angket sebaiknya tidak terlalu panjang, sehingga akan membuat
responden jenuh dalam mengisi Urutan Pertanyaan. Urutan pertanyaan dalam
angket dimulai dari yang umum menuju ke hal yang spesifik atua dari hal yang
mudah menuju ke hal yang sulit. Hal ini perlu diperhatikan karena secara
psikologis dapat memengaruhi semangat responden, jika pada awalnya sudah diberi
pertanyaan yang sulit maka responden akan merasa malas untuk mengisi angket
yang telah mereka terima.
g. Prinsip Pengukuran.
Angket yang diberikan
kepada responden merupakn instrument penelitian yang digunakan untuk mengukur
variabel yang akan diteliti. Oleh karena itu, angket tersebut harus dapat
digunakan untuk mendapatkan data yang valid dan reliabel tentang variabel yang
diukur, maka sebelum instrumen angket tersebut diberikan kepada responden,
sebaiknya diuji dulu validitas dan reabilitasnya.
h. Penampilan Fisik Angket.
Penampilan fisik angket
sebagai alat pengumpul data akan memengaruhi responden dalam mengisi angket.
Angket yang dibuat di kertas buram, akan mendapat respon yang kurang menarik
dari responden.
Jenis-jenis Angket atau
Kuesioner
a. Jenis angket berdasarkan cara responden
menjawab, diantaranya :
b. Angket tidak berstruktur
(terbuka) ialah angket yang disajikan dalam bentuk sederhana sehingga responden
dapat memberikan jawaban bebas sesuai dengan kehendak dan keadaannya. Jawaban
bebas disini maksudnya adalah uraian berupa pendapat, hasil pemikiran,
tanggapan, dan lain-lain mengenai segala sesuatu yang dipertanyakan setiap item
pada angket. Contoh pertanyaan angket terbuka “Bagaimana pendapat anda mengenai
kenaikan standar nilai UN?”
c. Angket berstruktur (tertutup) ialah jenis angket yang setelah
rumusan pertanyaannya disediakan pula alternatif jawaban yang dapat dipilih
oleh responden. Angket berstruktur dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu :
1) Angket berstruktur dengan pertanyaan tertutup ialah angket yang
telah menyediakan alternatif jawaban yang harus dipilih responden tanpa kemungkinan
jawaban lain. Contohnya “Bagaimana pendapat kalian terhadap pembelajaran yang
telah berlangsung tadi?”
a. sangat baik
b. baik
c. cukup
d. kurang
e. sangat kurang
2) Angket berstruktur
dengan pertanyaan terbuka merupakan jenis pertanyaan angket yang juga termasuk
kedalam angket tertutup, maksudnya alternatif jawabannya berbentuk pilihan
ganda tetapi peneliti berasumsi dari jawaban yang telah disediakan untuk setiap
pertanyaan mungkin tidak ada jawaban yang sesuai atau tepat, sehingga responden
perlu diberi kesempatan untuk menyampaikan jawaban lain yang lebih tepat.
Contoh : Pembelajaran yang bagaimanakah yang kalian sukai?
a. Pembelajaran yang
menyenangkan
b. Pembelajaran yang
humoris
c. Pembelajaran yang
santai
d. Pembelajaran yang
komunikatif
3) Angket berstruktur
dengan jawaban singkat (short answer item), angket jenis ini merupakan gabungan
atau kombinasi antara angket tidak berstruktur dengan angket berstruktur.
Contoh “Bagaimana pendapat kalian tentang penjelasan materi yang disampaikan
oleh guru?”
Jenis angket berdasarkan bentuknya, antara lain :
a. Angket pilihan ganda
(sama dengan angket tertutup)
b. Angket isian, seperti
angket tercheck list/ daftar cek, sehingga responden tinggal membubuhkan tanda
check (√) pada kolom yang sesuai.
Wawancara
Wawancara,
yang dimaksud dengan wawancara adalah percakapan yang dilakukan oleh
pewawancara untuk memperoleh iinformasi dari terwawancara, narasumber atau
informan. Ada beberapa jenis atau bentuk wawancara, diantaranya :
a. Wawancara terstruktur adalah wawancara yang
dilakukan dengan terlebih dahulu menyiapkan bahan wawancara/pertanyaan.
b. Wawancara
semi terstruktur adalah bentuk wawancara yang sudah disiapkan terlebih dahulu,
tetapi memberikan keleluasaan untuk tidak langsung terfokus kepada bahasan atau
mungkin mengajukan topik bahasan sendiri selama wawancara itu berlangsung.
Wawancara tidak terstruktur ialah bentuk wawancara di mana prakarsauntuk
memilih topik bahasan diambil oleh orang yang diwawancarai. Apabila wawancara
sudah berlangsung, pewawancara dapat mengarahkan agar informan dapat
menerangkan, mengelaborasi, atau mengklarifikasi jawaban yang kurang jelas.
Wawancara informal yaitu jenis percakapan bebas yang memungkinkan interviewer
untuk menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan masalah yang akan ditelitinya.
c. Wawancara
formal berstruktur yaitu jenis wawancara yang dalam pelaksanaannya menggunakan
format wawancara yang terstruktur, jadi guru dapat menanyakan pertanyaan yang
sama kepada responden.
Teknik Sosiometrik
Metode
ini digunakan untuk mengetahui apakah
individu-individu disukai atau saling menyukai. Pertanyaan-pertanyaan sering
diajukan dengan niat untuk mengetahui dengan siapa subyek tertentu ingin
bekerja sama. Pertanyaan juga mungkin berusaha mengungkapkan dengan siapa
subyek tertentu tidak suka bekerja sama atau berhubungan. Hasil sosiometri ini
biasanya dituangkan dalam diagram yang disebut sosiogram. Berikut ini contoh dari
sosiogram:
Jadwal dan daftar tilik (checklist) interaksi
Kedua teknik ini dapat menunjuk pada:
a. Perilaku
verbal guru: misalnya bertanya, menjelaskan, mendisiplinkan (individu atau
kelompok), memberi contoh melafalkan kata/frasa/kalimat
b. Perilaku verbal siswa: misalnya, menjawab,
bertanya, menyela, berkelakar, mengungkapkan diri, menyanggah, menyetujui.
c. Perilaku nonverbal guru: misalnya, tersenyum,
mengerutkan kening, memberi isyarat, menulis, berdiri dekat siswa pandai, duduk
dengan siswa lamban.
d.Perilaku nonverbal siswa: misalnya menoleh,
mondar-mandir, menulis, menggambar, menulis cepat, tertawa, menangis,
mengerutkan dahi, mengatupkan bibir.
Rekaman pita
Merekam
berbagai peristiwa seperti pelajaran, rapat, diskusi, seminar, lokakarya, dapat
menghasilkan banyak informasi yang bermanfaat yang tertakluk (tunduk) pada
analisis yang cermat. Metode ini khususnya berguna bagi kontak satu lawan satu
dan kelompok kecil.
Rekaman video
Perekam
video dapat dioperasikan oleh peneliti untuk merekam satuan kegiatan/peristiwa
untuk kemudian dianalisis. Akan lebih baik jika satuan rekamannya pendek karena
pemutaran ulang akan memakan waktu. Bila ada anggota peneliti yang membantu,
lebih banyak perhatian dapat diberikan pada reaksi dan perilaku subjek secara
perorangan (guru dan siswa), yang aspek-aspeknya disepakati sebelum perekaman.
Foto dan slide
Foto
dan slide mungkin berguna untuk merekam peristiwa penting, misalnya aspek
kegiatan kelas, atau untuk mendukung bentuk rekaman lain. Peneliti dan pengamat
boleh menggunakan rekaman fotografik. Karena daya tariknya bagi subjek
penelitian, foto dapat diacu dalam wawancara berikutnya dan diskusi tentang
data.
Penampilan subyek penelitian pada kegiatan
penilaian
Teknik
ini digunakan untuk menilai prestasi, penguasaan, untuk mendiagnosis kelemahan
dsb. Alat penilaian tersebut dapat dibuat oleh peneliti atau para ahlinya.
Pemilihan teknik pengumpulan data ini tentu saja disesuaikan dengan jenis data
yang akan dikumpulkan. Pemilihan teknik pengumpulan data hendaknya dipilih
sesuai dengan ciri khas data yang perlu dikumpulkan untuk mendukung tercapainya
tujuan penelitian. Untuk keperluan trianggulasi, data yang sama dapat
dikumpulkan dengan teknik yang berbeda.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Data dalam penelitian tindakan
berfungsi sebagai landasan refleksi. Data mewakili tindakan dalam arti bahwa
data itu memungkinkan peneliti untuk merekonstruksi tindakan terkait, bukan
hanya mengingat kembali. Oleh sebab itu, pengumpulan data tidak hanya untuk
keperluan hipotesis, melainkan sebagai alat untuk membukukan amatan dan
menjembatani antara momen momen tindakan dan refleksi dalam putaran penelitian
tindakan.
Data penelitian tindakan dapat
berbentuk catatan lapangan, catatan harian, transkrip komentar peserta
penelitian, rekaman audio, rekaman video, foto dan rekaman/catatan lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar