Senin, 09 Januari 2017

Tradisi Sarungan




Masyarakat akhir-akhir ini banyak yang beranggapan bahwa yang memakai sarung hanya orang yang baru saja sunat (khitan). Tradisi di masyarakat ketika selesai sunat (khitan) biasa nya memakai sarung memudahkan pergerakan dan longgar angin bebas keluar masuk, karna itu sarung di pakai agar cepat sembuh dan kering bekas sunat (khitan).
Sebenarnya sarung telah di gunakan dari abad 14,  dibawa oleh para saudagar Arab dan Gujarat. Sarung di Indonesia identik dengan kebudayaan Islam. Sarung menjadi salah satu pakaian kehormatan dan menunjukkan nilai kesopanan yang tinggi.
Oleh karna itu sarung menjadi tradisi di pesantren ataupun kalangan umum yang sering di gunakan untuk solat ke masjid ataupun pergi mengaji.
Pada zaman penjajahan Belanda, sarung identik dengan perjuangan melawan budaya barat yang dibawa para penjajah. Kaum santri merupakan masyarakat yang paling konsisten menggunakan sarung, Sikap konsisten penggunaan sarung juga dijalankan oleh salah seorang pejuang yaitu KH Abdul Wahab Hasbullah, seorang tokoh penting di Nahdhatul Ulama (NU). Sarung sebagai simbol perlawanannya terhadap budaya Barat. Ia ingin menunjukkan harkat dan martabat bangsanya di hadapan para penjajah.
Namun akhir-akhir ini tradisi sarungan telah luntur di masyarakat, banyak yang beranggapan bahwa sarungan identik dengan orang tua dan anak kecil yang telah selesai di sunat (khitan). (IrgiNF)

SUSUHING ANGIN (Sumber Kecerdaan Ilahi)




Sebagaimana pada semesta terdapat titik pusat, demikian pula pada diri manusia. Pada diri manusia, titik pusat inilah yang dinyatakan sebagai Susuhing Angin (Sarang Angin) atau Telenging Manah (Pusat Hati). Dinyatakan sebagai Sarang Angin karena di titik itulah angin ngendog (bertelur). Pembahasaan seperti ini muncul karena leluhur kita senang mencermati realitas di jagat raya. Dan ketika mencermati perilaku burung, ditemukan bahwa mereka membuat sarang untuk satu tujuan: ngendog atau bertelur dan membentuk kehidupan baru. Maka, sebanding dengan itu, di Susuhing Angin inilah kehidupan baru manusia selalu terbentuk. Dan dari mana kehidupan baru itu bermula? Dari angin yang dihirup manusia melalui proses hambegan (bernapas). Setiap manusia hambegan, menghirup oksigen dari udara, kehidupan baru terbentuk: sel-sel lama yang mati digantikan sel-sel baru.

Lebih jelasnya, berdasarkan kesadaran terhadap realitas di dalam diri, dapat diketahui bahwa melalui proses hambegan inilah dark energy memancar dari Susuhing Angin, menimbulkan getar dan bunyi dengung. Lalu terbentuklah dark matter yang selanjutnya menjadi ordinary matter, berupa unsur-unsur dasar pembentuk raga manusia, yang selanjutnya bermetamorfosis menjadi sel-sel baru dan terjadilah pertumbuhan atau pembaharuan pada raga manusia.

Lokus atau takhta dari Rasa Sejati sesungguhnya berada di Susuhing Angin. Bentuk fisiknya tidak ada, tetapi keberadaan dan fungsinya nyata. Melalui wahana ini manusia bisa mengetahui berbagai perkara termasuk perkara yang teramat halus dan rumit. Cara kerjanya adalah dengan sistem deteksi getar, seperti sistem pendeteksi di dalam kapal selam yang bekerja mempergunakan gelombang sonar.

Lebih jelasnya, demikianlah cara kerja Rasa Sejati. Setiap benda atau keberadaan di semesta ini memiliki getaran tersendiri. Getaran inilah yang ditangkap oleh Rasa Sejati. Ia menjadi semacam kode yang memberikan informasi tentang realitas dari benda atau keberadaan itu. Dan melalui proses yang sangat cepat, Rasa Sejati mengurai dan mengubah kode ini menjadi data atau informasi yang bisa dibahasakan dan dimengerti. Dengan demikian, Rasa Sejati adalah perangkat kecerdasan tersendiri di dalam diri manusia. Ia berbeda dengan otak. Rasa Sejati bekerja secara independen, tidak dipengaruhi otak atau menggunakan otak. Inilah yang sesungguhnya dinyatakan sebagai kecerdasan spirit, kecerdasan roh, atau kecerdasan ilahiah (divine intelligence) yang ada pada diri manusia. Ini pula sesungguhnya yang membedakan manusia dengan berbagai titah hurip (makhluk) lainnya, termasuk binatang. Binatang memiliki otak dan punya kecerdasan yang dihasilkan otak. Tetapi mereka tak punya Rasa Sejati.

Setiap manusia memiliki Rasa Sejati. Sesungguhnya pula, setiap saat ada pesan ilahi yang disampaikan kepada manusia melalui Rasa Sejati ini. Tapi kenyataannya, pada saat sekarang, sangat jarang manusia yang bisa mengetahui apa pesan yang muncul melalui Rasa Sejati. Kecerdasan Rasa Sejati ini masih menjadi perkara langka. Mayoritas manusia lebih punya kesadaran mengenai informasi yang dicerap, diolah, dan disampaikan oleh otak. Sementara hanya sedikit yang telah sadar sepenuhnya dan bisa mengetahui pesan atau informasi dari Rasa Sejati.

Pertanda mereka yang cerdas karena fungsi dari Rasa Sejati adalah kemampuan mengungkapkan berbagai perkara yang belum pernah disaksikan dengan pancaindra, juga belum pernah diajarkan melalui proses pendidikan dan pengajaran. Sebenarnya, saat ini masih ada orang-orang yang cerdas karena Rasa Sejatinya. Umumnya sejak kecil mereka cenderung sangat terhubung dengan berbagai realitas kehidupan. Bahasa populernya, mereka dekat dengan alam. Mereka sering menyendiri lalu bergaul akrab dengan berbagai unsur semesta: tanaman, binatang, juga benda-benda angkasa. Sementara pada saat yang sama, mereka cenderung tidak menyukai kegiatan pembelajaran yang hanya mengandalkan fungsi otak. Orang-orang seperti ini sering kali mengungkapkan kenyataan yang sulit dimengerti orang pada umumnya: tidak berpikir tapi bisa tahu. Tidak banyak menggunakan otak, tapi tahu tentang berbagai perkara.

ADAB DAN TATAKRAMA MENGHADIRI MAULID NABI SAW.




“Petuah Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari”

Tulisan berikut ini disarikan dari kitab an-Nur al-Mubin fi Mahabbat Sayyid al-Mursalin karya Hadhratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, salah satu tokoh sentral dan pendiri Nahdlatul Ulama. Beliau termasuk salah seorang pakar hadits (muhaddits) terkemuka di masanya, yang menjadi rawi ke-24 dari rantai silsilah hadits Shahih Bukhari-Muslim dari gurunya asy-Syaikh Mahfudz at-Termasi, guru besar Masjidil Haram yang bermadzhab Syafi’i.

1.      Adab Para Salaf Shaleh sebelum Hadir ke Tempat Acara Maulid Nabi Saw.

Sebelum menghadiri acara Maulid Nabi Saw. terlebih dahulu para salaf shaleh melakukan hal-hal berikut ini:

·         Berwudhu dengan baik dan sempurna.
·         Dalam keadaan masih basah dengan air wudhu, ia membaca: “Shalallahu ‘alaa Muhammad” 33x tanpa diselingi berbicara dengan yang lain.
·         Lalu diusapkan ke wajahnya dan membaca doa sehabis wudhu.
·         Kemudian melakukan shalat sunnah 2 rakaat dengan niat shalat sunnah Wudhu. Rakaat pertama setelah al-Fatihah membaca surat al-Kafirun, rakaat kedua setelah al-Fatihah membaca surat al-Ikhlas.
·         Setelah salam membaca dzikir Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar masing-masing 3x.
·         Lalu boleh ditambahkan shalat sunnah Hajat 2 rakaat. Rakaat pertama setelah al-Fatihah membaca surat al-Kafirun 3x, rakaat kedua setelah al-Fatihah membaca surat al-Ikhlas 3x.
·         Setelah salam membaca istighfar 21x dan shalawat 3x.
·         Lalu berdoa membaca niat untuk hadir Maulid Nabi Saw. Contoh doa niat untuk hadir Maulid Nabi Saw.: “Allahumma ya Allah, kami niat untuk hadir Maulid NabiMu Saw., dengan niat agar mendapat ridha Allah dan Rasulullah Saw. serta syafa’at Rasulullah di dalam agama, dunia dan akhirat. Serta dengan niat agar Allah memberikan semua hajat (kebutuhan) kami, mengabulkan doa-doa kami, melapangkan kesulitan kami, memudahkan semua urusan kami dan urusan kaum muslimin di dalam hal agama, dunia dan akhirat.”

Hal itu semua di atas, seyogyanya dilakukan mulai berwudhu hingga shalat sunnah Wudhu sampai shalat sunnah Hajat, dilakukan tanpa diselingi perbuatan dan pembicaraan yang tidak berarti. Serta dilakukan dengan tertib pelaksanaannya dan berkesinambungan. Jika waktu tidak memungkinkan paling tidak shalat sunnah Wudhu lebih diutamakan.

2.      Adab Para Salaf Shaleh saat Hendak Hadir ke Tempat Acara Maulid Nabi Saw.

Setelah melakukan amal shaleh di atas, barulah para salaf shaleh berjalan menghadiri Maulid Nabi Saw. Dalam masa perjalanan itu, hal-hal yang mereka lakukan adalah:

·         Bertawakkal kepada Allah Swt.
·         Sangat mengharapkan limpahan berkah, rahmat dan maghfirah Allah tercurahkan kepadanya.
·         Berjalan penuh rasa tawadhu’ dan tadharru’ (menghadirkan perasaan khusyu’, seakan-akan hendak menemui Baginda Nabi Saw. bersama para sahabatnya dan para auliya’Nya, yang disaksikan oleh Allah Swt. serta para malaikatNya).

Menanamkan adab batin ini sungguh sangat utama di dalam menghadiri Maulid Nabi Saw. Karena Allah melihat dan menyaksikan hati para hambaNya. Sebagaimana firmanNya dalam hadits qudsi: “Aku (Allah) sesuai dengan prasangka hamba terhadapKu.”

3.      Adab Para Salaf Shaleh saat Berlangsungnya Acara Maulid Nabi Saw.

Biasanya para salaf shalihin memperbanyak membaca shalawat kepada Baginda Rasulullah Saw., baik selama perjalanan, saat dan selama Maulid Nabi Saw. berlangsung, baik dibaca secara sirr (dalam hati) ataupun jahr (diucapkan dengan lisan).

Momentum yang paling baik dan berkah dalam pembacaan Maulid Nabi Saw. adalah pada saat Mahallul Qiyam (saat berdiri), ketika melantunkan: “Yaa Nabi salam ‘alaika # Yaa Rasul salam ‘alaika.”

Di antara bait-bait tersebut adalah momentum yang terbaik kita berdoa memohon kepada Allah Swt. atas segala doa dan hajat kita. Doa disela-sela membaca shalawat: “Yaa Nabi salam ‘alaika # Yaa Rasul salam ‘alaika” secara bersama-sama. Jadi di antara bait-bait tersebut seyogyanya kita berdoa. Insya Allah mustajabah.

Yang tidak kalah pentingnya juga adalah menghadirkan orang-orang yang kita cintai seperti sanak keluarga, sahabat dan kerabat yang kita kehendaki ketika itu. Hadirkan dengan perasaan kita, bahwa mereka ikut hadir (bil ghaib) dalam pelaksanaan Maulid Nabi Saw. Insya Allah rahmat, berkah dan syafaatNya akan meliputi kepada mereka semua, yang walaupun secara lahiriah mereka tidak turut serta hadir.

Itulah salah satu kebesaranNya dan kasih sayangNya kepada umat Baginda Nabi Saw. yang merupakan tetesan-tetesan air ar-Rahmah dari samudera rahmat Ilahi.

Di dalam pelaksanaan pembacaan Maulid Nabi Saw., seyogyanya kita mempertautkan hati kita dengan Baginda Nabi Saw. Bagi yang pernah berziarah ke makam beliau Saw. di Madinah al-Munawwarah, mungkin bisa kembali mengingat-ingatnya, seakan-akan membaca Maulid Risalah Baginda Nabi Saw. di hadapan makam beliau yang mulia Saw.

Bagi yang belum diberi rizki ziarah ke makam Nabi Saw., maka cukup membayangkan kehadiran Nabi Saw. Paling tidak merasa dilihat dan didengar. Sehingga nilai-kualitas dari Maulid Nabi Saw. insya Allah dapat dirasakan kemanfaatannya, bukan hanya sekedar hadir duduk, doa, amin, makan, lalu bubar, sedangkan hati sanubari masih tetap kotor penuh karat dengan penyakit-penyakit lahiriah dan batiniah.

4.      Maulid Nabi Saw. Sebagai Ajang Memperbaiki Diri

Maulid Nabi Saw. adalah salah satu ajang yang sangat sakral untuk mengembalikan jati diri kita sebagai hamba Allah dan sebagai umat Baginda Nabi Saw. Oleh karenanya seyogyanya kita bisa memperhatikan dengan seksama arti, makna atau terjemahan dari bacaan Maulid Nabi Saw. yang dibaca. Hal ini sungguh sangat bermanfaat guna meningkatkan kualitas hati kita menuju derajat ihsan di sisi Allah dan RasulNya.

Inilah salah satu sirr (rahasia) dari pelaksanaan Maulid Nabi Saw. Sehingga ketika kembali dari acara Maulid Nabi Saw. itu, hati semakin bercahaya, insya Allah. Hati sanubari merasuk menjalar ke seluruh relung anggota tubuh kita, mengikis habis segala karat penyakit-penyakit lahir maupun batin. Dan semakin bertambah keimanan dan kecintaan kita kepada Allah dan RasulNya.

Mohon dikoreksi kembali. Wallahu al-Musta’an A’lam.


Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 23 Agustus 2013

Biografi KH. Wahid Hasyim




Abdul Wahid Hasyim nama lengkapnya. Ia lahir pada Jumat Legi, 5 Rabi’ul Awal 1333 H/1 Juni 1914 M dari pasangan Hasyim Asy’ari dan Nafiqah Binti Ilyas. Semula sang Ayah memberinya nama Muhammad Asy’ari, yang diambil dari nama kakeknya. Namun, karena ia sering sakit-sakitan, maka sang Ayah mengganti nama Abdul Wahid, yang diambil dari nama datuknya. Abdul Wahid adalah anak kelima dan anak laki-laki pertama dari 10 bersaudara. Sang Ayah, Hasyim Asyari, adalah seorang ulama besar dan pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng yang sangat dihormati oleh masyarakat karena kearifan, kebijakan, dan kedalaman agamanya. Sebagai seorang anak tokoh agama, sejak kecil Abdul Wahid sudah dididik dengan ilmu agama secara ketat oleh orangtuanya. Sejak kecil, Abdul Wahid sudah masuk Madrasah Tebuireng dan dididik langsung oleh Ayahnya. Kecerdasan Abdul Wahid yang luar biasa membuatnya cepat menyerap berbagai macam pelajaran agama yang diberikan oleh Ayahnya, juga oleh guru-gurunya yang lain di Madrasah Tebuireng. Abdul Wahid dinilai sebagai anak yang gemar membaca, suka mempelajari ilmu-ilmu kesustraan dan budaya Arab secara outodidak. Ia juga gemar mempelajari syair-syair berbahasa Arab dan kemudian menyusunnya ke dalam sebuah buku.
Saat usianya sudah 13 tahun, Abdul Wahid Hasyim meminta izin pada orangtuanya agar diperbolehkan belajar agama di pesantren-pesantren yang ada di Jawa Timur. Niat baik anak itu untuk melakukan pengembaraan mencari ilmu mendapat restu dari kedua orangtuanya. Awalnya ia belajar agama di Pondok Pesantren Siwalan, Panji, Sidoarjo. Di sana ia mondok selama 25 hari, sejak awal Ramadhan hingga 25 Ramadhan 1346 H. Dari Sidoarjo, Abdul Wahid Hasyim melanjutkan perjalanan spiritualnya ke Pesantren Lirboyo, Kediri—sebuah yang didirikan oleh Kyai Haji Abdul Karim, salah seorang teman dan murid kesayangan orangtua Abdul Wahid Hasyim. Selama 2 tahun, Abdul Wahid Hasyim menjadi Santri kelana, berpindah dari pesantren satu ke pesantren lain untuk memperdalam ilmu agama. Setelah puas dengan perjalanan spiritualnya, pada 1929 ia kembali ke Pesantren Tebuireng.
Pada saat kembali kepangkuan orangtuanya, usia Abdul Wahid Hasyim baru 15 tahun, dan sudah mengenal huruf latin. Dengan mengenal huruf latin, semangat belajarnya semakin bertambah. Ia belajar ilmu bumi, bahasa asing, matematika, perbintangan, ilmu sosial, dan berbagi macam disiplin ilmu yang lainnya. Ia juga hampir setiap harti membaca koran dan majalah, baik yang berbahasa Melayu maupun Arab. Kehausan akan ilmu pengetahuan juga mendorong Abdul Wahid Hasyim untuk membaca dan berlangganan majalah Sumber Pengetahuan, yaitu sebuah majalah yang diterbitkan dalam tiga bahasa di kota Bandung. Saat itu, Abdul Wahid Hasyim hanya mengambil dua bahasa, yaitu Bahasa Arab dan Belanda. Setelah berhasil menguasai bahasa Belanda dengan baik, putra Hasyim Asy’ari itu pun mulai belajar bahasa Inggris.
Pada 1932, Abdul Wahid yang baru berusia 18 tahun berangkat ke Makkah bersama salah seorang sepupunya yang bernama Muhammad Ilyas. Selain bertujuan untuk menunaikan ibadah haji, Abdul Wahid juga berniat untuk belajar agama Islam di tanah suci. Rasa dahaga akan ilmu pengetahuan itulah yang membuat Abdul Wahid betah bermukim selama 2 tahun di Makkah. Selama tinggal di sana, ia memperdalam ilmu nahwu, shorof, fiqh, tafsir, dan hadis. Sepulang dari tanah suci, Abdul Wahid membantu sang Ayah mengajar di Pesantren Tebuireng. Ia juga terjun langsung ke tengah-tengah masyarakat untuk mensyiarkan Islam, sehingga masyarakat mengenalnya dengan sebutan Kyai Haji Wahid Hasyim. Kecerdasan dan pemahamannya yang mendalam pada ilmu pengetahuan membuat sang Ayah memintanya untuk membantu menyusun kurikulum pesantren, menulis surat balasan dari para ulama atas nama ayahnya dalam Bahasa Arab, juga diminta mewakili sang Ayah dalam berbagai pertemuan dengan para tokoh agama yang ada di zamannya. Lebih dari itu, jika sang Ayah sedang berhalangan, Abdul Wahid diminta menggantikannya mengisi kajian kitab Shahih Bukhari, yaitu pengajian tahunan yang selalu dipimpin langsung oleh Kyai Haji Hasyim Asy’ari setiap tahun dan dihadiri oleh para ulama dari Jawa dan Madura.
Pada Jumat, 10 Syawal 1356 H/1936 M, Abdul Wahid menikah dengan Munawaroh/Sholihah, putri Kyai Haji Bisyri Sansuri dari Denanyar Jombang. Yang menarik dari pernikahan Abdul Wahid ini adalah bahwa sebagai mempelai laki-laki, ia datang seorang diri ke Denanyar. Saat itu, ia datang ke rumah calon istrinya dengan hanya mengenakan baju lengan pendek dan sarung. Dari pernikahan itu, pasangan Wahid-Sholihah dikaruniai enam orang putra-putri, yaitu Abdurrahman, Aisyah, Salahuddin, Umar, Lily Khodijah, dan Muhammad Hasyim.
Dengan berbekal ilmu yang luas, wawasan global, dan pengalaman yang luas, Abdul Wahid berusaha melakukan terobosan-terobosan besar untuk kemajuan Pesantren Tebuireng. Sebagai langkah permulaan, ia mengusulkan agar sistem pengajaran di pesantren yang klasikal dirubah menjadi sistem tutorial dengan memasukkan materi pelajaran umum ke dalam kurikulum pesantren. Sayang, usul itu ditolak oleh sang Ayah dan baru terlaksana pada 1935 M saat mulai diaktifkannya Madrasah Nidzamiyah, di mana 70% kurikulumnya berisi materi pelajaran umum. Saat itu, Madrasah Nidzamiyah bertempat di serambi masjid Tebuireng, dan diasuh langsung oleh Abdul Wahid. Awalnya, santri yang belajar di Madrasah itu hanya berjulah 29 orang, termasuk adiknya sendiri, Abdul Karim Hasyim. Di madrasah itu, diajarkan tiga bahasa sebagai sarana berkomunikasi, yaitu Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan Bahasa Belanda. Pada 1936 M, Abdul Wahid mendirikan Ikatan Pelajar Islam dan mendirikan perpustakaan di Tebuireng dengan tujuan untuk meluaskan khasanah pengetahuan keilmuan para santri dengan membiasakan mereka untuk gemar membaca. Sebagai penggagas berdirinya taman bacaan di Tebuireng, untuk meluaskan wawasan para santri, Abdul Wahid berlangganan majalah Panji Islam, Dewan Islam, Berita Nahdlatul Ulama, Adil, Nurul Iman, Penyebar Semangat, Panji Pustaka, Pujangga Baru, dan majalah-majalah pergerakan lainnya. Langkah ini dipilih Abdul Wahid sebagai terobosan besar agar wawasan santri mendunia dan tidak hanya terkurung dalam budaya pesantren yang bersifat tradisional.
Selain sibuk membantu Ayahnya membesarkan Tebuireng, Abdul Wahid juga aktif di organisasi Nahdhatul Ulama—organisasi Islam yang didirikan Ayahnya pada 1926 M. Sebagaimana layaknya anggota yang lain, karir Abdul Wahid di NU juga dimulai dari bawah. Awalnya, ia menjadi Sekertaris NU Ranting Cukir, kemudian pada 1938 ia terpilih sebagai Ketua Cabang NU di Kabupaten Jombang. Pada 1939, NU masuk menjadi anggota Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI). Melalui keputusan Kongres Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI) yang diselenggarakan pada 14-15 September 1940 di Surabaya, Abdul Wahid terpilih sebagai ketua MIAI. Di tahun yang sama, ia masuk dijajaran kepengurusan PBNU bagian pendidikan. Di bagian pengembangan pendidikan NU inilah Abdul Wahid berusaha untuk mengembangkan dan melakukan reorganisasi terhadap madrasah-madrasah NU di seluruh Indonesia. Selain itu, ia juga giat menggelorakan semangat santri untuk menghidupkan tradisi tulis-menulis di kalangan NU. Sebagai langkah awal, ia menerbitkan Majalah Suluh Nahdlatul Ulama. Juga aktif menulis di Suara NU dan Berita NU. Pada 1946 ia terpilih sebagai Ketua Tanfidiyyah PBNU, menggantikan Kyai Achmad Shiddiq yang meninggal dunia.
Pada 1942 M, Pemerintah Jepang menangkap Kyai Haji Hasyim Asy'ari karena menentang perintak Sekerei. Setelah ditahan selama beberapa hari di Jombang, pendiri Pesantren Tebuireng itu dipindah ke Rumah Tahanan di Surabaya. Abdul Wahid berusaha membebaskan sang Ayah dengan cara melakukan lobi-lobi politik dengan para petinggi Dai Nippon di Jakarta. Usaha Abdul Wahid membuahkan hasil, sehingga Ayahanya dibebaskan pada Agustus 1944 M. Saat Dai Nippon membentuk Chuuo Sangi In, Abdul Wahid dipercaya menjadi anggotanya bersama tokoh-tokoh pergerakan nasional Indonesia yang lain. Seperti, Ir. Soekarno, Dr. Mohammad Hatta, Mr. Sartono, M. Yamin, Ki Hadjar Dewantara, Iskandar Dinata, dan Dr. Soepomo. Saat menjadi anggota Chuuo Sangi In inilah Abdul Wahid meyakinkan Pemerintah Dai Nippon untuk membentuk Badan Jawatan Agama yang bertujuan untuk menghimpun para ulama dan tokoh-tokoh agama di Indonesia.
Pada 29 April 1945, Pemerintah Dai Nippon membentuk Dokuritsu Zyunbi Tyooisakai atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), dan Abdul Wahid menjadi salah satu anggotanya. Di antara anggota yang lain, ia adalah yang paling muda dari sembilan tokoh nasional yang ikut menandatangani Piagam Jakarta. Dengan kecerdasan yang dimilikinya, ia berhasil menjadi penengah antara kubu nasionalis yang menginginkan bentuk Negara Kesatuan, dan kubu Islam yang menginginkan bentuk negara berdasarkan syariat Islam.
Pada November 1947, Abdul Wahid dan Mohammad Natsir mengagas dilaksanakannya Kongres Umat Islam Indonesia, yang akhirnya diselenggarakan di Yogyakarta. Dalam kongres itu diputuskan untuk mendirikan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), sebagai satu-satunya partai politik Islam yang ada di Indonesia. Ketua umumnya adalah ayahnya sendiri, Kiai Hasyim Asy’ari. Hanya saja, sang Ayah melimpahkan semua tugasnya sebagai Ketua Masyumi kepadanya. Selama berkiprah di Masyumi inilah Abdul Wahid mulai dekat dengan tokoh-tokoh Islam nasional. Seperti, KH. Wahab Hasbullah, KH. Bagus Hadikusumo, KH. Abdul Halim, KH. Ahmad Sanusi, KH. Zainul Arifin, Mohammad Roem, dr. Sukiman, H. Agus Salim, Prawoto Mangkusasmito, Anwar Cokroaminoto, Mohammad Natsir, dan lain sebagainya. Masih di tahun yang sama, tak lama setelah sang Ayah meninggal dunia, Abdul Wahid terpilih sebagai Pimpinan Tebuireng secara aklamasi.
Pada tahun 1950, Kiai Wahid diangkat menjadi Menteri Agama dan pindah ke Jakarta. Keluarga Kiai Wahid tinggal di Jl. Jawa (kini Jl. HOS Cokroaminoto) No. 112, dan selanjutnya pada tahun 1952 pindah ke Taman Matraman Barat no. 8, di dekat Masjid Jami’ Matraman. Pada Juni 1952 M, NU menyatakan keluar dari Masyumi. Keputusan ini diambil saat dilangsungkannya Kongres Nahdhatul Ulama yang ke-19 di Palembang pada 26 April—1 Mei 1952. Secara pribadi, Abdul Wahid tidak pernah setuju NU keluar dari Masyumi. Namun karena hal itu sudah menjadi kesepakatan bersama tokoh-tokoh NU, maka ia pun tetap menghormatinya. Meski sudah tak lagi aktif di Masyumi, tapi hubungan Abdul Wahid dengan tokoh-tokoh Masyumi masih tetap terjalin dengan baik.
Sabtu 18 April 1953, Abdul Wahid, Argo Sutjipto, Abdurrahman Ad-Dakhil (Gus Dur), Argo Sutjipto, dan seorang wartawan Harian Pemandangan melakukan perjalanan untuk menghadiri acara Nahdhatul Ulama di Sumadang, Jawa Barat. Di dalam mobil, Abdurrahman duduk di kursi paling depan disamping sopir. Abdul Wahid duduk di jok belakang bersama Argo Sutjipto. Memasuki daerah Cimahi, hujan turun dengan lebatnya, membuat jalan menjadi licin. Pukul 13.00, rombongan Abdul Wahid memasuki daerah Cimindi, yaitu sebuah daerah yang terletak antara Cimahi-Bandung. Lalu lintas sangat padat. Jalan yang licin membuat mobil selip dan sopir tidak bisa menguasai laju kendaraan. Di belakangnya banyak iringan-iringan mobil. Dari arah depan, truk yang melaju kencang dan terpaksa harus berhenti mendadak saat sang sopir melihat ada mobil zig-zag dari arah berlawanan. Karena sopir sudah tak mampu lagi menguasai mobil Chevrolet yang dinaiki Abdul Wahid itu, maka tabrakan pun tak dapat dihindari. Abdul Wahid dan Argo Sutjipto terlempar ke bawah truk yang sudah berhenti. Keduanya luka parah. Keesokan harinya, Ahad, 19 April 1953 pukul 10.30, Abdul Wahid menghembuskan napasnya yang terakhir dalam usia 39 tahun. Jenazah Abdul Wahid kemudian dibawa ke Jakarta. Dari Jakarta, jenazah ulama muda itu diterbangkan ke Surabaya. Dari Bandara Juanda, Surabaya, iring-iringan jenazah Abdul Wahid disambut dengan banjir air mata oleh rakyat sampai di rumah yang sangat dicintainya, Tebuireng, Jombang.

Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern

  Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern Pendahuluan Ketika arus modernisasi menghujani dunia Islam, proses modern...