Senin, 12 Desember 2016

Pemujamu





Pemujamu
Aku, yang hanya bisa menatap punggungmu
yang hanya dapat menghitung hari-hari ketika ku mengharapkanmu berpaling kepadaku
yang hanya diam-diam mencintaimu, menyayangimu
yang terlalu takut dirimu menjauh ketika kukatakan bahwa aku sayang padamu
Aku tak setegar yang kau bayangkan
Aku menangis. Dalam senyumku aku menangis
Menyesal karena diriku terlalu bodoh mengharapkan cintamu,
ketika kau sudah memeluk cinta darinya
Aku hanya dapat mengenang semua kenangan kita
Kenangan yang tak sengaja kau ciptakan,
yang selalu buatku tersenyum
Kau yang selalu hadir dalam malam-malam gelapku,
menenangkanku, membuatku selalu merasa diperhatikan
Tapi memang sudah takdirku
Tuk menjadi sesuatu yang tak dapat kau peluk
tuk menjadi sesuatu yang tak dapat kau belai
Aku hanya ingin kau tahu,
bahwa aku mencintaimu
dan aku akan selalu menyayangimu,
walau tak mungkin bagimu tuk berbalik dan menatap mataku

Senin, 28 November 2016

ikrar santri

Ikrar Santri Indonesia Bismillahirrahmanirrahim, Asyhadu allaa Ilaaha Illallah, Wasyhadu anna Muhammadar Rasulullah Kami santri Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), berikrar : 1. Sebagai santri NKRI, berpegang teguh pada aqidah ajaran nilai dan tradisi islam Ahlussunnah wal Jamaah. 2. Sebagai santri NKRI, bertanah air satu, tanah air Indonesia, berideologi negara satu, ideologi Pancasila, berkonstitusi satu, UUD 1945, berkebudayaan satu, kebudayaan Bhinneka Tunggal Ika. 3. Sebagai santri NKRI, selalu bersedia dan siap siaga menyerahkan jiwa dan raga membela tanah air dan bangsa Indonesia, mempertahankan persatuan dan kesatuan nasional serta mewujudkan perdamaian abadi. 4. Sebagai santri NKRI, berperan aktif dalam pembangunan nasional, mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin untuk seluruh rakyat Idonesia yang berkeadilan 5. Sebagai santri NKRI, pantang menyerah, pantang putus asa serta siap berdiri di depan melawan pihak-pihak yang akan merongrong Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal ika, serta konstitusi dasar lainnya yang bertentangan dengan semangat proklamasi kemerdekaan dan resolusi jihad Nahdlatul Ulama. (Qomarul Adib/Mukafi Niam) Sumber : Nu.or.id

Jumat, 25 November 2016

Telapak Tangan Seorang Ibu


IBU
Alkisah ada seorang anak muda yang brilian dan sangat pintar. Dia baru saja lulus sarjana dengan predikat cum laude. Selama kuliah, dia juga mengoleksi beberapa penghargaan dan prestasi. Intinya, si anak muda ini benar-benar te-o-pe be-ge-te. Dan iapun bangga dengan kemilau prestasinya tersebut. Rasa pedenya begitu tinggi…
Setelah lulus, ia lalu mencari pekerjaan. Saat melamar ke sebuah perusahaan terkenal, tidak sulit baginya untuk lolos dari tes-tes saringan, hingga sampailah ia ke tahap terakhir: wawancara dengan Direktur perusahaan tersebut. Saat wawancara tiba, terjadilah dialog antara pak Direktur dengan si anak muda.
“Prestasimu sungguh luar biasa, anak muda. Bagaimana kamu bisa punya prestasi setinggi itu?”, tanya pak Direktur.
“Saya belajar keras, pak. Saya selalu memacu diri saya sendiri, dan memupuk kepercayaan diri saya.”, jawab si anak muda.
“Siapa yang mendorong dan memotivasimu? Ayahmukah?”
“Bukan pak. Ayah sudah meninggal sejak saya kecil. Saya terbiasa memotivasi diri sendiri untuk menjadi yang terbaik.”
“Kalau ayahmu sudah meninggal, siapa yang membiayai sekolahmu?”
“Ibu saya, pak.”
“Oh begitu…lalu apa pekerjaan ibumu?”
“Ibu saya menjadi pencuci baju, pak. Beliau menerima order cucian dari para tetangga.”
Mendengar jawaban si anak muda tersebut, pak Direktur lalu berkata,”Coba ulurkan tanganmu, anak muda”. Meski agak heran dengan permintaan ini, si anak muda lalu mengulurkan tangannya ke pak Direktur, yang lalu memeriksanya dengan cermat. Ternyata tangan itu bersih, putih, dan mulus. Tidak ada tanda-tanda pernah digunakan untuk pekerjaan-pekerjaan kasar. Pak Direktur lalu bertanya,”Pernahkah kamu membantu ibumu mencuci pakaian, nak?”
“Tidak pak, tak pernah sekalipun.”
“Kalau begitu sekarang pulanglah, dan bila bertemu dengan ibumu, coba perhatikan dengan cermat tangan beliau. Lalu cobalah lakukan pekerjaan ibumu. Besok kamu kembali lagi ke sini, temui saya, dan ceritakan pengalamanmu.”, demikian pesan pak Direktur kepada si anak muda.
Pulanglah si anak muda tadi, dan sesampai di rumah, disampaikanlah kata-kata pak Direktur kepada ibunya. Meskipun agak heran, ibunya menurut saja dan menyorongkan kedua tangannya kepada anak yang disayanginya. Begitu melihat tangan orang tua tadi, kagetlah si anak. Ini adalah pertama kalinya ia mengamati tangan ibunya secara cermat. Tampaklah olehnya tangan yang keriput, kasar, dan bersisik. Di beberapa tempat bahkan terlihat bekas-bekas luka. Sungguh kontras bila dibandingkan dengan tangannya sendiri yang bersih dan mulus.
“Ibu….”, dan si anak mudapun tercekat tak mampu berkata apapun. Mengalirlah sebutir air matanya.
“Kenapa tangan ibu sampai begini? Ibu bekerja terlalu berat. Maafkan aku yang tak pernah tahu keadaan ibu seperti ini”, bisik si anak sambil membelai dan menciumi tangan ibunya.
Ibunya tersenyum saja. “Tidak apa-apa nak. Ibu ikhlas bekerja keras untukmu. Buat ibu, yang penting kamu bisa fokus belajar. Ibu bahagia akhirnya kamu bisa lulus dengan baik. Itu satu-satunya yang penting buat ibu.”
Mendengar ucapan ibunya, runtuhlah kebanggaan si anak muda. Hilanglah semua ke-aku-annya. Sampai detik itu ia merasa bahwa semua prestasinya adalah usahanya sendiri. Kenyataannya, tanpa pengorbanan ibunya, dia tidak akan menjadi apa-apa. Nothing…
Dia merasa seperti semakin terlempar ke titik nadir setelah mencoba melakukan permintaan pak Direktur berikutnya: mencuci pakaian, seperti yang biasa dilakukan ibunya. Ternyata bagi dia yang tidak pernah mencuci pakaian sendiri, pekerjaan merendam, mengucek, membilas, dan memeras sungguh tidak mudah dilakukan. Baru beberapa potong baju saja, tangannya sudah merasa perih.
Malam itu si anak muda tidak bisa tidur. Dunianya seolah dibalik dalam sekejap mata. Keyakinan dan persepsinya selama ini patah begitu saja setelah ia melihat apa yang telah dilakukan ibunya selama ini.
Keesokan harinya ia datang menghadap ke pak Direktur, yang langsung saja bertanya,”Apa yang kamu rasakan dan pikirkan, anak muda?”
Si anak muda menghela nafas, lalu menjawab sambil tertunduk,”Ada dua hal yang saya pelajari, pak…”
“Katakan nak, apa dua hal itu.”
“Yang pertama, saya sadar selama ini saya tidak pernah memperhatikan orang lain. Saya tidak pernah mengapresiasi apa yang telah mereka lakukan, bahkan untuk hal-hal yang terkait dengan kepentingan saya sekaliapun…”, si anak muda menjawab sambil menahan air mata karena teringat akan ibunya. Lalu ia menyambung,
“Yang kedua, saya tidak pernah menyadari bagaimana beratnya mencapai sebuah tujuan. Selama ini saya merasa bahwa menjadi lulusan terbaik itu mudah. Saya pikir dengan belajar keras saja sudah cukup. Tapi ternyata tidak, pak… Ternyata banyak hal lain yang harus dilakukan, dan itu tidak pernah saya kerjakan, bahkan saya pikirkanpun tidak…Saya buta terhadap usaha-usaha lain yang dilakukan oleh ibu saya. Beliau bekerja begitu berat semata-mata hanya untuk kepentingan saya…“
Mendengar kata-kata si anak muda tadi, pak Direktur tersenyum. “Anak muda, kamu diterima di perusahaan ini.”
Si anak muda mendongak kaget.”Pak, apa maksud Bapak?”
“Aku tidak mencari karyawan yang pintar tapi tidak peduli pada sekelilingnya. Aku tertarik padamu bukan karena kepintaranmu saja, tapi pada kesadaranmu tentang sensitivitas pada sekelilingmu, tentang sulitnya mencapai sebuah tujuan dan pentingnya kerjasama, dan tentang pentingnya mengapresiasi dan menghargai apa yang dikerjakan orang lain.”
Mendengar penjelasan pak Direktur, si anak muda merasa ia hidup dalam dunia yang baru.

Benarkah Harus Bermadzhab?



madzhab

MENGAPA HARUS BERMADZHAB
Oleh Ustadz Novel Bin Muhammad Alaydrus,
Pengasuh Majelis Ilmu Dan Dzikir AR-RAUDHAH, Solo

Kebanyakan umat Islam dalam beribadah memakai madzhab Imam Syafi’i, Maliki, Hanafi atau Hambali, bukankah yang benar adalah yang mengikuti AlQur’an dan Sunnah (Hadits)?  Mengapa kita harus bermadzhab? Mengapa kita tidak kembali kepada AlQur’an dan Sunnah saja?
Kalimat “Mengapa kita tidak kembali kepada AlQur’an dan Sunnah saja?” seakan-akan menghakimi bahwa orang yang bermadzhab itu tidak kembali kepada AlQur’an dan Sunnah. Penggunaan kalimat “Mengapa kita tidak kembali kepada AlQur’an dan Sunnah saja?” tersebut telah menyebabkan sebagian orang memandang remeh ijtihad dan keilmuan para ulama, terutama ulama terdahulu yang sangat dikenal kesalehan dan keluasan ilmunya. Dengan menggunakan kalimat “Mengapa kita tidak kembali kepada AlQur’an dan Sunnah saja?” sekelompok orang sebenarnya sedang berusaha mengajak pendengar dan pembaca tulisannya untuk mengikuti cara berpikirnya, metodenya dalam memahami AlQur’an dan Sunnah, serta menganggap bahwa dirinyalah yang paling benar, karena ia telah berpegang kepada AlQur’an dan Sunnah, bukan fatwa atau pendapat para ulama. Hal semacam ini tentunya sangat berbahaya.
Sebenarnya sungguh aneh jika seseorang menyatakan agar kita tidak bermadzhab dan seharusnya kembali kepada AlQur’an dan Sunnah. Mengapa aneh, coba perhatikan, apakah dengan mengikuti suatu madzhab berarti tidak mengikuti AlQur’an dan Sunnah? Madzhab mana yang tidak kembali kepada AlQur’an dan Sunnah? Justru para pemuka madzhab tersebut adalah orang-orang yang sangat paham tentang AlQur’an dan Sunnah. Coba dicek, hasil ijtihad yang mana dalam suatu madzhab, yang tidak kembali kepada AlQur’an dan Al Hadits?
Ternyata semua hasil ijtihad keempat madzhab yang populer di dalam Islam semuanya bersumber kepada AlQur’an dan Hadits. Artinya dengan bermadzhab kita justru sedang kembali kepada AlQur’an dan Hadits dengan cara yang benar, yaitu mengikuti ulama yang dikenal keluasan ilmu dan kesalehannya.
Akhir-akhir ini memang muncul sekelompok orang yang sangat fanatik dengan golongannya dan secara sistematis berupaya mengajak umat Islam meninggalkan madzhab. Mereka seringkali berkata, “Kembalilah kepada Alquran dan Sunnah”. Ajakan ini sepintas tampak benar, akan tetapi sangat berbahaya, karena secara tidak langsung mereka menggunakan kalimat (propaganda) di atas untuk menjauhkan umat dari meyakini pendapat para ulama terdahulu yang telah mumpuni. Mereka memaksakan agar kita semua hanya mengikuti pendapat gurunya.
Kemudian perhatikan lebih cermat lagi, apakah mereka yang menyatakan kembali kepada AlQur’an dan Sunnah benar-benar langsung kembali kepada AlQur’an dan Sunnah? Tidak bukan, mereka ternyata menyampaikan pendapat guru-gurunya. Artinya, mereka sendiri sedang membuat madzhab baru sesuai pemikiran guru-gurunya.
Coba bayangkan, andai saja setiap orang kembali kepada AlQur’an dan Sunnah secara langsung, tanpa bertanya kepada pakarnya, apa yang akan terjadi? Yang terjadi adalah setiap orang akan menafsirkan AlQur’an dan Sunnah menurut akalnya sendiri, jalan pikirnya sendiri, sehingga akan sangat berbahaya.
Oleh karena itu, kita harus bermadzhab, agar kita tidak salah memahami AlQur’an dan Sunnah. Kita sadar, tingkat keilmuan para pakar yang ada di masa ini tidak dapat disamakan dengan para ulama terdahulu, begitu pula tingkat ibadah dan kesalehan mereka.
inf,

Selasa, 08 November 2016

Syeikh Ibrahim al-Khawwas dan hidangan dari langit





Syeikh Ibrahim al-Khawwas dan hidangan dari langit
Syeikh Ibrahim al-Khawas menceritakan pengalamannya, pada suatu hari ia meninggalkan negerinya menuju Mekah untuk menunaikan ibadah Haji.  Ia berjalan tanpa kendaraan dan perbekalan apapun. Ditengah perjalanan ia tersesat hingga tidak tahu arah mana yang harus dituju. Tiba tiba ia melihat seorang pendeta Nasrani yang bergegas menuju padanya, pendeta itu berkata: Wahai pendeta Muslim, bolehkah aku  bersamamu diperjalanan ?
Tentu saja boleh jawab Ibrahim al-Khawwas , ia merasa gembira karena sekarang ia tidak sendiri lagi dijalan, ada pendeta nasrani itu yang menemaninya. Mereka berjalan selama tiga hari tiga malam tanpa merasakan makan dan minum. Mereka telah merasa haus dan lapar, namun demikian masing masing mereka terus berdiam diri antara satu dengan yang lainnya.
Sampai pada satu ketika pendeta Nasrani itu sudah tidak tahan lagi, ia berkata : Wahai pendeta Muslim, apakah engkau tidak membawa makanan untuk kita nikmati bersama ? . Ibrahim al-Khawas terkejut mendengar pertanyaan pendeta Nasrani itu. Selama ini ia selalu bertanya dalam hati apakah pendeta nasrani ini tidak membawa perbekalan makanan atau minuman . Sudah tiga hari mereka tidak makan dan minum, sekarang ia baru tahu bahwa pendeta itupun tidak membawa apa apa. Ibrahim bimbang, apa yang harus ia katakan pada pendeta itu ?.
Tiba tiba terlompat ucapan yang berani dari  mulutnya: Ya, ada
Kalau begitu marilah kita nikmati bersama Usul pendeta nasrani itu dengan wajah berseri.
Ibrahim terkesiap oleh ucapannya yang spontan itu, ia baru sadar bahwa ia telah berdusta. Mana mungkin ia mengajak pendita itu untuk makan bersama karena diapun tidak membawa makanan seperti yang diucapkannya  tadi. Wajahnya jadi pucat lesu, tidak ada jalan lain selain memohon pada Allah. 
Ibrahim al Khawwas menengadahkan tangannya kelangit, dan berdoa :
Ya Tuhan hamba, wahai penguasa yang tiada terbatas, berilah hamba sesuatu untuk menghilangkan lapar dan dahaga kami berdua, dan janganlah sampai hamba dinhinakan dihadapan pendeta nasrani ini, ya Allah ! ya Tuhanku ! dengarlah permohonan hamba ini
Tiba tiba turunlah dari angkasa sebuah talam yang berisi roti, daging dan secerek air. Merekapun memakan hidangan itu berdua hingga kenyang, dan merekapun  bersyukur kepada Allah yang maha pemurah yang telah menurunkan karunia-Nya yang luar biasa itu kepada mereka.  Kemudian merekapun melanjutkan perjalanan tanpa membicarakan apa apa tentang kejadian menakjubkan yang barusan terjadi. Orang Nasrani itu kelihatannya tidak merasa heran, seolah olah hal itu perkara biasa saja walaupun sebenarnya Ibrahim al-Khawas  dalam hatinya merasa takjub dengan kejadian itu, karena ia baru pertama kali ia mengalami hal seperti itu.
Kini sudah tiga hari pula berlalu, mereka berjalan tanpa makan dan minum. Pada hari keempat Ibrahim berkata kepada pendeta Nasrani itu : Wahai pendeta Nasrani , sekarang giliranmu pulalah untuk mengeluarkan apa yang ada padamu untuk kita makan dan minum bersama
Baiklah  jawab pendeta Nasrani itu dengan tenang.  Ibrahim merasa heran dengan ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh pendita Nasrani itu
Pendita Nasrani itu menengadahkan kedua tangannya kelangit dan berdoa. Tiba tiba turunlah dari angkasa dua buah talam yang penuh berisi makanan dan minuman. Pendita Nasrani itu mempersilahkan Ibrahim untuk menikmati hidangan yang datang itu.  Ini ada dua buah talam, satu untuk aku dan yang lain untukmu Kata pendeta Nasrani itu.
Ibrahim tercengang , tidak tahu apa yang akan dikatakan. Beberapa waktu yang lalu ia meminta kepada Allah dan mendapat sebuah talam yang berisi makanan, sekarang pendita itu mendapatkan dua buah talam yang penuh berisi makanan.
Silahkan dimakan kata pendeta Nasrani itu.
Tidak !, demi Allah aku tidak akan memakannya sampai engkau menjelaskan terlebih dulu padaku tentang makanan dan minuman ini kata Ibrahim dengan penuh penasaran.
Pendeta itu lalu menjawab dengan wajah yang berseri :
Selama saya menemani tuan, saya benar benar tertarik dengan amalanmu, dan saya yakin bahwa selama ini diriku dalam kesesatan yang nyata, dan jelas sekalai saya tidak akan mampu berbuat seperti yang tuan lakukan itu.  Karena itu saya memohon kepada Allah tuhanmu, dengan perantaran kesolehan dan kekeramatan tuan, semoga Allah berkenan memberi makan dan minum bagi kita berdua. Rupanya doa itu dikabulkan, inilah dia makanan dan minuman yang diberikan-Nya, dan diberikan-Nya kita dua buah talam sebagai karunia nhidangan dari sisi-Nya. Maka sekarang saksikanlah bahwa saya telah memeluk Islam , Asyhadu alla ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar  Rasulullah .
Ibrahim terperanjat sekaligus gembira mendengar penjelasan  pendeta Nasrani itu, ia merangkul pendeta nasrani itu dengan perasaan haru. Selanjutnya mereka berdua menikmati hidangan itu , dengan perasan gembira dan penuh rasa syukur pada Allah yang telah menurunkan hidangan itu bagi mereka berdua.
Selesai makan dan minum pendeta itu bertanya pada Ibrahim : Setelah ini kemana tujuanmu
Aku akan ke Mekah untuk menunaikan haji jawab Ibrahim.
Kalau demikian akupun akan mengikutimu untuk menunaikan ibadah haji pula kata pendeta itu. Selajutnya mereka berduapun melajutkan perjalanan bersama sama menuju Mekah untuk menunaikan haji.

kesabaran kyai kepada santrinya






Cerita guru dan santri

Mari kita belajar untuk menjadi orang yang sabar dan ikhlas dari kisah di bawah ini.

Malam itu ada kyai yang sedang menulis, di jaman itu menulis masih memakai tinta clup . Saat kyai itu menulis ada salah satu santri yang melintas di samping kyai namun dengan tidak sengaja santri itu menyenggol tinta yang di pakai kyai nya menulis. Kyai yang memakai baju putih sarung putih menjadi warna biru tua.
Kyai itu lalu bertanya-tanya kepada hatinya " kalo aku marah kira-kira allah suka nggak ya, santriku kan nggak sengaja ".
Lalu kyai berkata kepada santrinya
" Terimakasih gara-gara kamu menyenggol tinta itu, baju dan sarung ku menjadi warna biru, dari dulu aku ingin baju yang berwarna biru. Semoga kebaikan mu ini di balas oleh allah swt "
Lalu sang guru memberikan uang dan  menyuruh santri nya untuk membawa pakian nya ke tukang celup warna.
Irgi Nf.
2 Nov 2016

Belajar istiqomah Dari Mbah Dolah




Belajar istiqomah dan bersabar dari Mbah Dolah
Di kampung-kampung sering kalian melihat di depan rumah ada kendi yang berisi air minum.
Zaman dulu banyak orang yang bepergian jalan kaki salah satu sumber air minum bagi mereka yang di sediakan oleh pemukim kampung tersebut.
Salah satunya adalah mbah dolah yang terkenal alim dan menjadi pemuka agama di kampung itu, ia selalu istiqomah mengisi air ke kendi yang berada di depan rumahnya.
Mbah Dolah yang punya 2 anak itu selalu bilang kepada anaknya agar berbuat baik kepada siapa pun walaupun kita di caci di benci namun kita harus membalas nya dengan kebaikan.
Kebaikan yang selalu di contohkan kepada anak itu ternyata ada yang tak suka.
Sore itu Mbah Dolah mengisi air ke kendi yang menjadi kegiatan istiqomah beliau.
Tapi banyak orang yang mengguncing Mbah Dolah yang bahwa air yang di sediakan di depan rumah nya itu ada kotoran sapi nya.
Tapi Mbah Dolan tetap mengisi air itu setiap sore, 3 hari berturut-turut air itu setiap paginya selalu ada kotoran sapi nya.
Anak nya yang penasaran siapa ang berbuat jahat kepada abah nya yang capek-capek mengisi air tapi di jailin orang.
Tarom anak bungsu Mbah Dolah, berkata kepada abah nya " Bah siapa yang berbuat jahat kepada kita, biar nanti malam aku selidiki siapa yang yang mengisi kotoran di kendi abah " jawab Mbah Dolah " nggak usah nak, kita do'akan aja semoga orang itu mendapat hidayah dari allah ". Namun anak-anak mbah dolah tetep nekat untuk menyelidiki nya , malam itu Tarom melihat ada salah satu tetangganya yang melintas di depan rumah nya yang memasukkan sesuatu ke dalam nya . Lalu Tarom keluar setelah orang itu pergi dan melihat kendi itu yang sudah berisi kotoran sapi .
Tarom bercerita kepada abah nya " bah ternyata yang memberikan kotoran itu tetangga kita sendiri "
Ya sudah kalo begitu abah punya sarung antar kan kepadanya dan salam kan dari abah untuk nya .
Siang itu Tarom pergi ke rumah tetangga nya itu.
Dua hari kemudian tak ada lagi yang mengisi kotoran sapi ke kendi Mbah Dolah. Dan esuk pagi nya . Tetangganya itu sowan ke rumah Mbah Dolan dia meminta maaf dan mengakui semua kelakuan nya selama ini.
Irgi Nf
02 nov 2016

Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern

  Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern Pendahuluan Ketika arus modernisasi menghujani dunia Islam, proses modern...