BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Belajar dan mengajar memiliki arti yang berbeda, namun berkaitan
satu dengan yang lainnya. Dalam hal ini belajar adalah proses, perubahan
perilaku sebab terjadinya pengalaman atau pembelajaran yang telah dilalui oleh peserta
didik. Yang dalam prosesnya dapat dilihat secara jelas atau hanya sebagai
kecenderungan saja. Sedangkan mengajar adalah segala upaya guru dalam rangka
memberi kemungkinan bagi peserta didik untuk terjadinya proses belajar dengan
tujuan yang telah dirumuskan.
Belajar mengajar tentunya terdapat dalam al-Qur’an, yang mana
merupakan pedoman umat Islam. Dalam makalah ini akan diperjelas bagaimana
belajar dan mengajar dala al-Qur’an.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa
pengertian dari belajar?
2.
Apa
pengertian dari mengajar?
3.
Bagaimana
pandangan al-Quran dalam hal belajar mengajar?
C.
Tujuan Penulisan
tujuan penulisan dari makalah ini adalah agar pembaca mengetahui
pengertian belajar, pengertian mengajar, dan mengetahui pandangan belajar dan
mengajar dalam al-Qur’an.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Belajar dan Mengajar
1.
Pengertian Belajar
Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI), belajar adalah berubah tingkah laku atau
tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.
Secara umum
belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku, akibat interaksi
individu dengan lingkungan.
Jadi perubahan
perilaku adalah hasil belajar. Artinya, seseorang dikatakan telah belajar, jika
ia dapat melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan sebelumnya.
Perilaku itu
menggantung pengertian yang luas. Hal ini mencakup pengetahuan, pemahaman,
keterampilan, sikap, kemampuan berpikir, penghargaan terhadapp sesuatu, minat
dan sebagainya. Setiap perilaku ada yang nampak bisa diamati, ada pula tidak
bisa diamati. Perilaku yang dapat diamati disebut penampilan atau behavioral
performance. Sedangkan yang tidak bisa diamati disebut kecenderungan
perilaku atau behavioral tendency.
Pengetahuan,
pemahaman, keterampilan, sikap dan sebagainya yang dimiliki seseorang tidak
dapat diidentifikasikan, karena ini merupakan kecenderungan perilaku saja. Hal
ini dapat diidentifikasikan bahkan dapat diukur dari penampilan (behavioral
performance). Penampilan ini dapat berupa kemampuan menjelaskan,
menyebutkan sesuatu, atau melakukan suatu perbuatan. Jadi, kita dapat mengidentifikasi
hasil belajar melalui penampilan. Namun demikian, individu dapat dikatakan
telah menjalani proses belajar, meskipun pada dirinya hanya ada perubahan dalam
kecenderungan perilaku.[1]
2.
Asumsi Pengaktifan Peserta Didik dalam Belajar
Upaya melaksanakan
pembelajaran yang menekankan pada pengaktifan belajar siswa didasarkan atas
asumsi-asumsi tertentu. Ada sejumlah asumsi dasar pembelajaran yang berpusat
kepada siswa yang dapat dikemukakan, yaitu:
a.
Kegiatan
belajar merupakan suatu proses kontinyu dan bervariasi
b.
Dalam
proses belajar ada keterlibatan mental dari siswa secara optimal.[2]
c.
Komunikasi
dalam pembelajaran berlangsung dalam banyak arah
d.
Untuk
mengarahkan kegiatan belajar siswa perlu menggunakan berbagai metode
pembelajaran yang efektif.
3.
Pengertian Mengajar
Secara
sederhana mengajar diartikan sebagai suatu proses penyampaian pengetahuan atau
keterampilan yang berkaitan dengan suatu mata pelajaran tertentu kepada siswa,
sebagaimana yang dituntut dalam penguasaan mata pelajaran tersebut. Inti
kegiatan mengajar berdasarkan rumusan pengertian di atas adalah menyampaikan
materi pembelajaran. Jika rumusan pengertian ini dipegang, maka tujuan akhir
pembelajaran adalah siswa menguasai materi pembelajaran dari suatu mata
pelajaran tertentu.
Untuk mencapai
tujuan itu, guru menyampaikan materi pembelajaran dengan cara menjelaskan dan
siswa menghapal atau memahami apa yang dijelaskan oleh guru. Dewasa ini,
pengertian mengajar yang dirumuskan oleh para ahli sudah berkembang dan
menyangkut segi-segi yang lebih luas.[3]
Menurut Smith
(1987) mengajar adalah menanamkan pengetahuan atau keterampilan. Merumuskan
pengertian mengajar sebagai suatu upaya untuk memahami dan membimbing siswa,
baik secara perorangan, maupun secara kelompok dalam upaya memperoleh
bentuk-bentuk pengalaman belajar tertentu yang berguna bagi kehidupannya.[4]
4.
Asas-asas Mengajar
Berpedoman pada
proses pembelajaran dan berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilannya, maka
dalam melaksanakan pembelajaran seorang guru sepatutnya berpegang pada
asas-asas mengajar sebagai berikut:
a.
Mengajar
sepatutnya mempertimbangkan pengalam belajar siswa yang dimiliki sebelumnya
b.
Proses
pembelajaran dimulai jika siswa dalam keadaan siap untuk melakukan kegiatan
belajar
c.
Materi
pembelajaran seharusnya menarik minat siswa untuk mempelajarinya
d.
Dalam
melaksanakan pembelajaran guru seharusnya berupaya agar siswa termotivasi untuk
melakukan kegiatan belajar
e.
Proses
pembelajaran sepatutnya memperhatikan perbedaan-perbedaan individual yang
dimiliki oleh masing-masing siswa
f.
Pembelajaran
sepatutnya mengantarkan siswa untuk melakukan proses belajar secara aktif
g.
Pelaksanaan
pembelajaran sepatutnya berpegang pada prinsip-prinsip pencapaian hasil belajar
secara psikologis.[5]
Berdasarkan uraian di atas,
jika diperhatikan secara teliti, inti proses pembelajaran adalah siswa belajar.
Belajar dapat berhasil dengan baik jika dilakukan secara aktif. Oleh karena
itu, segala asas dalam mengajar pada akhirnya tertumpu pada mengaktifkan kegiatan
belajar. Praktek pembelajaran yang berpegang pada asas-asas tadi
bermacam-macam.
B.
Belajar dan mengajar dalam Al-Qur’an
1.
Belajar
Dalam hal belajar, terdapat pada QS. Al- Alaq ayat 1-5
اقرا باسم ربك الذي خلق (1)
Artinya: “bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang
menciptakanmu.”
خلق الاءنسان من علق (2)
Artinya: “Dia
telah menciptakan manusia dari segumpal darah”
اقرا وربك الاكرم (3)
Artinya: “Bacalah,
dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia”
الذي علم بالقلم (4)
Artinya:”yang
mengajarkan manusia dengan pena”
علم الانسان مالم يعلم
(5)
Artinya:”Dia
yang mengajarkan manusia apa yang diketahui”
Dari lima ayat
dari QS Al-Alaq diatas dapat diartikan bahwa kita diperintahkan untuk membaca,
meneliti, dan mengamati segala hal yang ada dalam kehidupan ini. Disamping itu,
kita juga harus menjadikan ilmu sebagai bagian yang sangat penting dalam
kehidupan kita.
Oleh karena
itu, kita sebagai umat Islam yang baik, kita harus gemar membaca agar kita
memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas. Seorang pelajar juga harus bisa
menulis agar mampu mengembangkan ilmu dan wawasan secara mandiri.
Di dalam kitab
Adabul Alim wal Muta’alim, karya KH. Hasyim Asy’ari, tujuan ilmu adalah
pengamalan ilmu, karena pengamalan adalah buah ilmu, kemanfaatan usia (hidup)
dan bekal akhirat. Barang siapa meraih amaliah ilmu, berarti dia bahagia, dan
barang siapa tidak meraihnya, maka dia merugi.[6]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa
1.
Belajar
adalah perubahan tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.
2.
Mengajar
suatu proses penyampaian pengetahuan atau keterampilan yang berkaitan dengan
suatu mata pelajaran tertentu kepada siswa.
[1]Sumiati, Metode
Pembelajaran,(CV. Wacana Prima, Bandung, 2009) hal. 38
[2]Sumiati, Metode
Pembelajaran,……………..hal. 39
[3] Sumiati, Metode
Pembelajaran,………………..hal.23
[4] Sumiati, Metode
Pembelajaran,………………..hal.24
[5] Sumiati, Metode
Pembelajaran,………………….hal. 31
[6] KH. Hasyim
Asy’ari, Pendidikan Kararter Khas Pesantren, (TS. Smart, Tangerang,
2017) hal.7

Tidak ada komentar:
Posting Komentar