Rabu, 04 Agustus 2021

Makalah Tafsir Tarbawi Belajar dan Mengajar

 


BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Belajar dan mengajar memiliki arti yang berbeda, namun berkaitan satu dengan yang lainnya. Dalam hal ini belajar adalah proses, perubahan perilaku sebab terjadinya pengalaman atau pembelajaran yang telah dilalui oleh peserta didik. Yang dalam prosesnya dapat dilihat secara jelas atau hanya sebagai kecenderungan saja. Sedangkan mengajar adalah segala upaya guru dalam rangka memberi kemungkinan bagi peserta didik untuk terjadinya proses belajar dengan tujuan yang telah dirumuskan.

Belajar mengajar tentunya terdapat dalam al-Qur’an, yang mana merupakan pedoman umat Islam. Dalam makalah ini akan diperjelas bagaimana belajar dan mengajar dala al-Qur’an.

B.    Rumusan Masalah

1.     Apa pengertian dari belajar?

2.     Apa pengertian dari mengajar?

3.     Bagaimana pandangan al-Quran dalam hal belajar mengajar?

 

C.    Tujuan Penulisan

tujuan penulisan dari makalah ini adalah agar pembaca mengetahui pengertian belajar, pengertian mengajar, dan mengetahui pandangan belajar dan mengajar dalam al-Qur’an.


BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Belajar dan Mengajar

1.     Pengertian Belajar

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), belajar adalah berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.

Secara umum belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku, akibat interaksi individu dengan lingkungan.

Jadi perubahan perilaku adalah hasil belajar. Artinya, seseorang dikatakan telah belajar, jika ia dapat melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan sebelumnya.

Perilaku itu menggantung pengertian yang luas. Hal ini mencakup pengetahuan, pemahaman, keterampilan, sikap, kemampuan berpikir, penghargaan terhadapp sesuatu, minat dan sebagainya. Setiap perilaku ada yang nampak bisa diamati, ada pula tidak bisa diamati. Perilaku yang dapat diamati disebut penampilan atau behavioral performance. Sedangkan yang tidak bisa diamati disebut kecenderungan perilaku atau behavioral tendency.

Pengetahuan, pemahaman, keterampilan, sikap dan sebagainya yang dimiliki seseorang tidak dapat diidentifikasikan, karena ini merupakan kecenderungan perilaku saja. Hal ini dapat diidentifikasikan bahkan dapat diukur dari penampilan (behavioral performance). Penampilan ini dapat berupa kemampuan menjelaskan, menyebutkan sesuatu, atau melakukan suatu perbuatan. Jadi, kita dapat mengidentifikasi hasil belajar melalui penampilan. Namun demikian, individu dapat dikatakan telah menjalani proses belajar, meskipun pada dirinya hanya ada perubahan dalam kecenderungan perilaku.[1]

2.     Asumsi Pengaktifan Peserta Didik dalam Belajar

Upaya melaksanakan pembelajaran yang menekankan pada pengaktifan belajar siswa didasarkan atas asumsi-asumsi tertentu. Ada sejumlah asumsi dasar pembelajaran yang berpusat kepada siswa yang dapat dikemukakan, yaitu:

a.      Kegiatan belajar merupakan suatu proses kontinyu dan bervariasi

b.     Dalam proses belajar ada keterlibatan mental dari siswa secara optimal.[2]

c.      Komunikasi dalam pembelajaran berlangsung dalam banyak arah

d.     Untuk mengarahkan kegiatan belajar siswa perlu menggunakan berbagai metode pembelajaran yang efektif.

3.     Pengertian Mengajar

Secara sederhana mengajar diartikan sebagai suatu proses penyampaian pengetahuan atau keterampilan yang berkaitan dengan suatu mata pelajaran tertentu kepada siswa, sebagaimana yang dituntut dalam penguasaan mata pelajaran tersebut. Inti kegiatan mengajar berdasarkan rumusan pengertian di atas adalah menyampaikan materi pembelajaran. Jika rumusan pengertian ini dipegang, maka tujuan akhir pembelajaran adalah siswa menguasai materi pembelajaran dari suatu mata pelajaran tertentu.

Untuk mencapai tujuan itu, guru menyampaikan materi pembelajaran dengan cara menjelaskan dan siswa menghapal atau memahami apa yang dijelaskan oleh guru. Dewasa ini, pengertian mengajar yang dirumuskan oleh para ahli sudah berkembang dan menyangkut segi-segi yang lebih luas.[3]

Menurut Smith (1987) mengajar adalah menanamkan pengetahuan atau keterampilan. Merumuskan pengertian mengajar sebagai suatu upaya untuk memahami dan membimbing siswa, baik secara perorangan, maupun secara kelompok dalam upaya memperoleh bentuk-bentuk pengalaman belajar tertentu yang berguna bagi kehidupannya.[4]

4.     Asas-asas Mengajar

Berpedoman pada proses pembelajaran dan berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilannya, maka dalam melaksanakan pembelajaran seorang guru sepatutnya berpegang pada asas-asas mengajar sebagai berikut:

a.      Mengajar sepatutnya mempertimbangkan pengalam belajar siswa yang dimiliki sebelumnya

b.     Proses pembelajaran dimulai jika siswa dalam keadaan siap untuk melakukan kegiatan belajar

c.      Materi pembelajaran seharusnya menarik minat siswa untuk mempelajarinya

d.     Dalam melaksanakan pembelajaran guru seharusnya berupaya agar siswa termotivasi untuk melakukan kegiatan belajar

e.      Proses pembelajaran sepatutnya memperhatikan perbedaan-perbedaan individual yang dimiliki oleh masing-masing siswa

f.      Pembelajaran sepatutnya mengantarkan siswa untuk melakukan proses belajar secara aktif

g.     Pelaksanaan pembelajaran sepatutnya berpegang pada prinsip-prinsip pencapaian hasil belajar secara psikologis.[5]

 

     Berdasarkan uraian di atas, jika diperhatikan secara teliti, inti proses pembelajaran adalah siswa belajar. Belajar dapat berhasil dengan baik jika dilakukan secara aktif. Oleh karena itu, segala asas dalam mengajar pada akhirnya tertumpu pada mengaktifkan kegiatan belajar. Praktek pembelajaran yang berpegang pada asas-asas tadi bermacam-macam.

B.    Belajar dan mengajar dalam Al-Qur’an

1.     Belajar

 

Dalam hal belajar, terdapat pada QS. Al- Alaq ayat 1-5

 

اقرا باسم ربك الذي خلق (1)                                         

Artinya: “bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakanmu.”

خلق الاءنسان من علق (2)                                                  

Artinya: “Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”

اقرا وربك الاكرم (3)                                                      

Artinya: “Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia”

الذي علم بالقلم   (4)                                                           

Artinya:”yang mengajarkan manusia dengan pena

علم الانسان مالم يعلم  (5)                                                      

Artinya:”Dia yang mengajarkan manusia apa yang diketahui

Dari lima ayat dari QS Al-Alaq diatas dapat diartikan bahwa kita diperintahkan untuk membaca, meneliti, dan mengamati segala hal yang ada dalam kehidupan ini. Disamping itu, kita juga harus menjadikan ilmu sebagai bagian yang sangat penting dalam kehidupan kita.

Oleh karena itu, kita sebagai umat Islam yang baik, kita harus gemar membaca agar kita memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas. Seorang pelajar juga harus bisa menulis agar mampu mengembangkan ilmu dan wawasan secara mandiri.

Di dalam kitab Adabul Alim wal Muta’alim, karya KH. Hasyim Asy’ari, tujuan ilmu adalah pengamalan ilmu, karena pengamalan adalah buah ilmu, kemanfaatan usia (hidup) dan bekal akhirat. Barang siapa meraih amaliah ilmu, berarti dia bahagia, dan barang siapa tidak meraihnya, maka dia merugi.[6]


BAB III

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa

1.     Belajar adalah perubahan tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.

2.     Mengajar suatu proses penyampaian pengetahuan atau keterampilan yang berkaitan dengan suatu mata pelajaran tertentu kepada siswa.




[1]Sumiati, Metode Pembelajaran,(CV. Wacana Prima, Bandung, 2009) hal. 38

[2]Sumiati, Metode Pembelajaran,……………..hal. 39

[3] Sumiati, Metode Pembelajaran,………………..hal.23

[4] Sumiati, Metode Pembelajaran,………………..hal.24

[5] Sumiati, Metode Pembelajaran,………………….hal. 31

[6] KH. Hasyim Asy’ari, Pendidikan Kararter Khas Pesantren, (TS. Smart, Tangerang, 2017) hal.7

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern

  Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern Pendahuluan Ketika arus modernisasi menghujani dunia Islam, proses modern...