BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Model
pembelajaran merupakan kerangka konseptual berupa pola prosedur sistematik yang
dikembangkan berdasarkan teori yang digunakan dalam mengorganisasikan proses
belajar mengajar untuk mencapai tujuan belajar.
Pembelajaran
aktif dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP), guru harus melaksanakan proses
pembelajaran dengan mengaktifkan siswa, pembelajaran menyenangkan, dinamis,
kreatif, inspiratif, menantang, menyesuaikan pembelajaran dengan karakteristik
peserta didik (perkembangan fisik dan psikologi), serta sesuai bakat dan minat
siswa.
Prinsip
pembelajaran tersebut sebenarnya telah di perkenalkan dengan istilah
pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM).
Dalam
makalah ini akan di bahas beberapa apa saja prinsip dalam pembelajaran PAIKEM.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa
itu model pembelajaran?
2. Bagaimana
pembelajaran aktif dalam Standar Nasional Pendidikan?
3. Bagaimana
pembelajaran aktif dalam kurikulum 2013?
4. Bagaimana
urgensi dari PAIKEM?
5. Apa
saja keunggulan dan kelemahan dari PAIKEM?
6. Faktor
apa saja yang menyebabkan pendidik tidak menerapkan pembelajaran ini?
C. Tujuan
kepenulisan
Tujuan
penulisan makalah ini adalah untuk dapat mengetahui prinsip-prinsip dalam model
pembelajaran PAIKEM (pembelajaran, aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan
menyenangkan. Serta dapat diterapkan oleh para pembaca
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Model Pembelajaran
Secara umum istilah
“model” diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman
dalam melakukan suatu kegiatan.
Dalam pengertian lain,
model juga diartikan sebagai barang atau benda tiruan dari benda yang
sesungguhnya, seperti “globe” adalah model dari bumi tempat kita hidup.
Dalam selanjutnya istilah model digunakan untuk menunjukkan pengertian yang
pertama sebagai kerangka konseptual. Atas dasar pemikiran tersebut, maka yang
dimaksud dengan “model belajar mengajar” adalah kerangka konseptual dan
prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengamalan belajar untuk
mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang
pengajaran dan para guru dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar
mengajar. Dengan demikian, aktivitas belajar mengajar benar-benar merupakan
kegiatan bertujuan yang tertata secara sistematis.
Menurut Dewey (Joyce
& Weil. 1986) mendefinisikan model pembeajaran sebagai “a plan or
pattern that we can use to design face to face teaching in the classroom or
tutorial setting and to shape instructional material” (suatu rencana atau
pola yang dapat kita gunakan untuk merancang tatap muka di kelas atau
pembelajaran tambahan di luar kelas dan untuk menajamkan materi pengajaran).
Dapat di katakan pula bahwa model pembelajaran merupakan kerangka dasar pembelajaran yang dapat diisi oleh beragam muatan mata pelajaran, sesuai dengan karakteristik kerangka dasarnya.[1]
B. Pembelajaran Aktif dalam Standar Nasional Pendidikan
Dalam pasal 40 ayat (2)
UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu keharusan bagi
guru untuk melaksanakan pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif,
dinamis, dan logis.
Pada Peraturan Pemerintah
No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pasal 19 ayat (1)
dinyatakan bahwa:”Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan
secara inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk
berpartisipasi secara aktif, memberikan ruang gerak yang cukup bagi prakarsa,
kreativitas dan kemandirian sesuai bakat, minat dan perkembangan fisik serta
psikologi siswa.”
Proses yang memenuhi
pembelajaran prinsip-prinsip tersebut akan dapat menghasilkan peserta didik
yang berilmu, cakap, kreatif, dan mandiri. Hal tersebut sesuai dengan
ketentuan yang dinyatakan pada Pasal 3
UU Nomor 20 Tahun 2003, yakni: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan bentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[2]
C. Pembelajaran Aktif dalam Kurikulum 2013
Salah satu upaya yang
dilakukan oleh pemerintah dalam mengubah paradigma pembelajaran pasif menjadi
pembelajaran aktif adalah dengan menetapkan beberapa prinsip pembelajaran
ketika mengimplementasikan kurikulum 2013.
Prinsip-prinsip tersebut
adalah:
1. dari
peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu;
2. dari
guru sebagai satu-satunya sumber belajar, menjadi belajar berbasis aneka sumber
belajar;
3. dari
pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan
ilmiah;
4. dari
pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi;
5. dari
pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu;
6. dari
pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban
yang kebenarannya multidimensi;
7. dari
pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif;
8. peningkatan
dan keseimbangan antara keterampilan fisik (hardskills) dan keterampilan
mental (softskills);
9. pembelajaran
yang menguatamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai
pembelajar sepanjang hayat;
10. pembelajaran
yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung
tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun kurso) dan
mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri
handayani);
11. pembelajaran
yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat;
12. pembelajaran
yang menerapkan prisip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa,
dan di mana saja adalah kelas.
13. pemanfaatan
teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas
pembelajaran; dan
14. pengakuan
atas perbedaan individual dan latar belakang budaya peserta didik.[3]
D. Urgensi PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif,
Efektif dan Menyenangkan)
1. Pengertian PAIKEM
Sebelum adanya istilah
PAIKEM, istilah PAKEM lebih dulu ada. Di mana istilah in dikembangkan oleh AJEL
(Active Joyfull and Efective Learning). Untuk pertama kali di Indonesia,
pada tahun 1999 disebut PEAM (Pembelajaran Efektif, Aktif, dan Menyenangkan).
Seiring dengan perkembangannya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), pada tahun
2002 istilah PEAM diganti menjadi PAKEM, yaitu kependekan dari Pembelajaran
Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan.
Istilah “Aktif” dalam
PAKEM dimaksudkan agar guru menciptakan suasana belajar sedemikian rupa,
sehingga peserta didik aktif bertanya maupun mengemukakan pendapat.
“Kreatif” dimaksudkan
agar guru menciptakan suasana belajar yang beragam, sehingga peserta didik
tidak merasa jenuh, namun bervariasi, informasi baru, dan suasana belajar yang
segar.
“Efektif” dimaksudkan
agar guru menciptakan suasana belajar sedemikian rupa, sehingga pembelajaran
berjalan secara maksimal dengan memanfaatkan sumber belajar yang minimal.
“Menyenangkan”
dimaksudkan agar guru menciptakan suasana sedemikian rupa, sehingga peserta
didik senang mengikuti pelajarannya, termasuk senang pada gurunya.[4]
Dalam pembelajaran PAKEM
banyak yang dimodifikasi oleh para akademisi maupun praktisi pendidikan dengan
beragam nama. Beberapa diantaranya adalah PAIKEM.
PAIKEM merupakan
singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan
Menyenangkan. Pada penyebutan ini,
istilah PAIKEM hanya ditambah huruf “I” yang berarti Inovatif. Kata ini
(inovatif) dimaksudkan agar guru menciptakan suasana belajar yang dengan
perangkat media modern, termasuk teknologi-teknologi pendidikan terkini.
Dalam konteks psikologi
pendidikan, PAKEM juga dapat dimaknai sebagai sebuah strategi dengan pendekatan
introduksional yang memungkinkan peserta didik mengerjakan kegiatan secara
beragam untuk mengembangkan keterampilan, sikap dan pemahaman.
Jika dicermati lebih lanjut, PAKEM tidak lain
adalah pengembangan teori-teori belajar dari active learning. Oleh
karena itu, PAKEM belum layak disebut sebagai pendekatan pembelajaran, karena
belum[5] ada teorinya.
2. Prinsip-prinsip dan Asas-asas dalam PAKEM
Di bawah ini merupakan beberapa
prinsip yang terdapat dalam PAKEM
1.
Mengalami
secara langsung
2.
Interaksi
3.
Komunikatif-interaktif
4.
Reflektif-introspektif[6]
Keempat prinsip PAKEM di atas berjalan pada kerangka dasar yang
telah dirumuskan sebelumnya, yaitu membentuk pembelajaran yang berkualiltas dan
mampu melahirkan peserta didik sebagai kader dasar bangsa.
Selanjutnya, untuk dapat menerapkan strategi pembelajaran PAKEM
dengan baik, perlu memahami asas-asas yang melandasinya yang terdiri dari
delapan asas.
1.
Menghafal
sebagai dasar berpikir kritis[7]
2.
Mengarahkan
peserta didik untuk bertanya
3.
Menyelenggarakan
diskusi kelas secara interaktif
4.
Belajar
di luar kelas (outdoor learning)
5.
Mengembangkan
kreatifitas peserta didik
6.
Berlatih
meneliti (mini research)
7.
Studi
banding
8.
Memberikan
pelatihan jurnalistik[8]
3. Nilai-nilai Karakter dalam PAKEM
Berikut ini akan
dikemukakan nilai-nilai karakter yang dapat di transformasikan melalui strategi
pembelajaran PAKEM. Setidaknya terdapat delapan dari 18 nilai karakter yang di canangkan
Kemendikbud;
a. Religius
b. Kreatif
c. Rasa
ingin tahu
d. Mandiri
dan tanggung jawab
e. Toleransi
f. Demokratis
g. Peduli
lingkungan
h. Kepedulian
sosial[9]
E. Keunggulan dan Kelemahan Strategi Pembelajaran PAKEM
1. Keunggulan PAKEM
Strategi pembelajaran
PAKEM membuat guru tidak monoton dalam penyampaian pembelajaran, namun dapat
bervariatif dan lebih kreatif dalam menampilkan berbagai materi kepada peserta didik.
Begitu pula peserta didik, mereka akan lebih enjoy dan tidak mudah bosan
dalam menangkap materi. Peserta didik selalu termotivasi untuk meraih prestasi
yang lebih tinggi. Guru lebih dekat dengan peserta didik dengan prinsip PAKEM,
maka guru selalu menjadi inspirator dan motivator bagi peserta didik.[10]
2. Kelemahan PAKEM
Kelemahan utama PAKEM
adalah kurangnya penumbuhan nalar kritis peserta didik. Hal ini disebabkan
iklim kebebasan kreatif, sehingga secara tidak langsung menolak metode berpikir
demikian menjadi tumpuan bagi perkembangan berpikir kritis. Terlebih lagi istilah
“menyenangkan” dalam PAKEM terkesan kontradiksi dengan keseriusan. Dengan kata
lain, jika menyenangkan (dalam PAKEM) identik dengan tertawa riang, maka
berpikir kritis identic dengan mengernyitkan kening.[11]
F. Aktivitas Belajar dalam Pembelajaran PAKEM
1. Aktivitas Belajar Aktif
Pada umumnya aktivitas
belajar aktif akan berdampak pada hasil belajar yang lebih baik daripada
belajar secara pasif. Berikut beberapa aktivitas belajar aktif yang telah
diterapkan dalam buku Strategi Belajar Mengajar dalam pembelajaran dan
terbukti dapat meningkatkan hasil belajar.
a. Group Question
Setiap kelompok terdiri
dari tiga sampai empat orang. Setiap kelompok diminta membaca buku dengan
bagian atau topik yang berbeda dan membuat empat soal dari topik yang tersebut.
Kegiatan membaca dan membuat soal selesai dibuat, masing-masing selama sepuluh
menit. Setelah semua soal selesai dibuat, masing-masing kelompok mengumpulkan
soal tersebut dalam sebuah kotak yang telah di beri tanda. Selanjutnya
masing-masing kelompok diminta mengambil soal yang dibuat oleh kelompok lain
dan harus mengerjakan semua soal tersebut. Waktu mengerjakan soal tersebut
sepuluh menit. Pada tahap akhir, perwakilan kelompok membacakan soal dan
menjelaskan jawaban yang telah mereka kerjakan.[12]
b. Buzz Group
Buzz
group adalah belajar dalam kelompok kecil untuk
mendiskusikan tentang topik tertentu. Seorang kelompok bertugas menulis hasil
diskusi atau ide-ide yang dihasilkan kelompok. Anggota buzz group adalah
dua sampai tiga orang. Jika diskusi dilakukan pada awal pembelajaran, maka
topik diskusi adalah tentang materi yang telah dipelajari pada minggu
sebelumnya. Diskusi dilakukan selama dua sampai lima menit, kemudian salah satu
kelompok diminta untuk menyampaikan hasil diskusi kelompok dan kelompok lain
menanggapi. Jika buzz group digunakan untuk membahas topik yang sedang
dikaji, maka masing-masing perwakilan kelompok menyampaikan hasil diskusinya di
depan kelas.[13]
2. Aktivitas Belajar Kreatif
Aktivitas belajar sangat
berkaitan dengan hasil belajar yang ingin dicapai. Misalnya jika tujuan belajar
yang ingin dicapai adalah kemampuan berkreasi, maka contoh aktivitas belajar
yang seharusnya dilakukan adalah: membuat rancangan (desain), membuat rencana
kegiatan, melakukan modifikasi sebuah alat atau prosedur, membuat karya seni
kreatif, dan sebagainya.
Jika guru ingin agar
siswa mampu berpikir kritis, maka contoh aktivitas belajar yang seharusnya
dilakukan adalah membandingkan kesimpulan dengan data penduduknya, mengevaluasi
pernyataan seseorang, dan sebagainya.
Menurut Coon dan Mittere
(2009), berpikir kritis terkait dengan kemampuan untuk mengevaluasi,
membandingkan, menganalisis, mengkritik, mensintesis, dan merefleksikan
informasi. Berikut ini dideskripsikan beberapa aktivitas untuk dapat membuat
siswa kreatif.[14]
a. Pengembangan
produk
Aktivitas
ini dilakukan secara berkelompok dengan mencoba memikirkan variasi-variasi baru
atau kreasi baru untuk mengubah sebuah produk yang sudah ada. setiap kelompok
dapat diminta memikirkan pengembangan produk yang berbeda, misalnya kelompok
satu memikirkan tentang produk sepeda, kelompok dua memikirkan tentang produk
kereta bayi, dan sebagainya. Selanjutnya masing-masing melakukan curah pendapat
untuk memperoleh daftar ide-ide untuk mengembangkan produk yang dibahas.
Kemudian setiap kelompok membuat gambar dan penjelasan rinci tentang
bagian-bagian yang ditambahkan beserta penjelasan fungsinya.[15]
b. Membuat
kolase atau media
Siswa
yang aktif bekerja membuat kolase akan belajar mengekspresikan perasaannya
secara kreatif melalui karya kolase. Sebuah kolase dibuat dari potongan gambar
dan tulisan dari koran yang ditempel pada kertas flipchart atau koran
manila. Pelaksanaan kegiatan ini membutuhkan gunting dan lem, sera ruang kerja
yang cukup luas bagi siswa. Siswa dapat diminta membuat kolase secara
berkelompok atau perorangan. Membuat kolase cocok digunakan untuk siswa sekolah
dasar. Dalam perguruan tinggipun dapat digunakan, namun peserta didik membuat
bagan atau alur pikir sebuah proposal yang dibuat menggunakan kertas, lem, dan
gunting. Pada kegiatan tersebut harus disediakan gunting yang[16] cukup banyak agar semua
peserta didik thvidak saling menunggu jika membutuhkan gunting.[17]
3.Aktivitas Belajar
Efektif
Pembelajaran yang efektif
tidak terlepas dari peran guru yang efektif, kondisi pembelajaran yang efektif,
keterlibatan peserta didik, dan sumber belajar atau lingkungan belajar yang
mendukung. Kondisi pembelajaran yang efektif harus mencakup tiga faktor
penting, yakni:
a. motivasi
belajar (kenapa perl belajar?)
Menurut Teri dalam buku
Strategies for Teacher, ada empat karakteristik guru yang dapat
meningkatkan motivasi peserta didik, yaitu:
1. antusias;
2. dapat
dijadikan model;
3. empati,
ramah, dan perhatian;
4. memiliki
harapan positif.
b. tujuan
belajar (apa yang ingin dipelajari?)
pada kegiatan pendahuluan
dalam pembelajaran perlu dilakukan penyampaian tujuan pembelajaran dan kegiatan
membangkitkan motivasi belajar bagi peserta didik. Aktivitas lain yang
dilakukan pada kegiatan pendahuluan adalah apersepsi, yakni mengecek pemahaman
awal peserta didik agar mereka siap menerima informasi atau keterampilan baru. [18]
c. kesesuaian
pembelajaran (bagaimana cara belajar?)
dalam hal ini guru harus mengetahui
situasi yang mempengaruhi proses belajar pada siswa. Faktor di sini berkaitan
dengan peserta didik, keadaan belajar, proses belajar, guru yang memberi
pelajaran, teman belajar dan bergaul, serta program belajar yang ditempuh
merupakan faktor yang mempunyai pertalian erat satu dengan yang lain. Itu semua
merupakan komponen keadaan (situasi) belajar yang menjadi salah satu faktor
penting dalam belajar.[19]
4. Aktivitas Belajar
Inovatif
Aktivitas
orang yang inovatif merupakan ciri pembelajaran saintifik, dan dapat digunakan untuk
membentuk keterampilan inovatif yang dikemukakan oleh Dyer dkk, yaitu:
a. observasi;
b. bertanya;
c. melakukan
percobaan;
d. asosiasi
(menghubungkan atau menalar);
e. membangun
jaringan (networking).
Menurut
Dyer dkk. (2011), seorang inovator adalah pengamat yang baik dan selalu
mempertanyakan suatu kondisi yang ada dengan mengajukan ide baru. Inovator
mengamati lingkungan sekitarnya untuk memperoleh ide baru dalam melakukan
sesuatu yang baru. Mereka juga aktif membangun jaringan untuk mencari ide baru,
menyarankan ide baru, atau menguji pendapat mereka.
Seorang
inovator selalu mencoba hal baru berdasarkan pemikiran dan pengamatannya.
Seorang inovator akan berpetualang ke tempat yang baru untuk mencoba ide
inovatifnya. Berdasarkan teori Dyer tersebut dapat dikembangkan pendekatan
saintifiknya (scientific approach) dalam pembelajaran yang memiliki
komponen proses pembelajaran, yaitu: 1) mengamati, 2) menanya, 3) mencoba atau
mengumpulkan informasi, 4) menalar atau asosiasi, membentuk jejaring atau
melakukan komunikasi.[20]
Tahapan aktivitas belajar yang
dilakukan dengan pembelajaran saintifik
tidak harus dilakukan mengikuti prosedur yang kaku, namun dapat disesuaikan
dengan pengetahuan yang hendak dipelajari. Pada suatu pembelajaran mungkin
dilakukan observasi terlebih dahulu sebelum memunculkan pertanyaan, namun pada
pelajaran yang lain mungkin siswa mengajukan pertanyaan terlebih dahulu sebelum
melakukan eksperimen dan observasi. Aktivitas membangun jaringan juga mungkin
dilakukan dalam upaya melakukan eksperimen, atau juga mungkin dibutuhkan ketika
peserta didik mendesiminasikan hasil eksperimennya.[21]
BAB
III
PENUTUPAN
A. Kesimpulan
Dari
pembahasan di atas dapat penulis simpulkan bahwa, pembelajaran aktif, kreatif,
efektif, dan menyenangkan (PAKEM) adalah salah satu model pembelajaran yang
dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa. Ditambah lagi dengan istilah PAIKEM
di mana adanya penambahan kata “inovatif” di sini menambah keaktifan belajar
peserta didik. Dalam hal lain, seiring berjalannya waktu pembelajaran PAKEM ini
banyak yang di modifikasi sesuai bagaimana konteks pembelajarannya. Dan tentunya
pembelajaran PAKEM ini sangat di perlukan dalam Kurikulum 2013. Dengan begitu
tugas sebagai seorang guru pun mendapat “pr” lebih untuk meningkatkan mutu
pembelajaran di kelasnya.
A. Saran
Saran
dalam model pembelajaran PAKEM ini, ada beberapa faktor yang apabila model ini
dijalankan akan perlu waktu dan beberapa sarpras yang dibutuhkan. Apabila
sarpras dalam pelaksanaanya tidak memenuhi, maka model PAKEM ini tidak berjalan
dengan lancar.
Adapun
faktor lain yang menyebabkan guru tidak mau menerapkan pembelajaran aktif,
kreatif, efektif, dan menyenangkan antara lain: 1) kurangnya kemampuan guru
dalam menerapkan PAKEM tersebut, 2) sulitnya mengubah paradigm pembelajaran
yang selama ini diterapkan oleh guru.
DAFTAR
PUSTAKA
Majid, Abdul. 2012. Belajar
dan Pembelajaran. Jakarta. Pt. Remaja Rosdakarya
Sani, Abdullah Ridwan.
2019. Strategi Belajar Mengajar. Depok. Rajawali Press
Suyadi. 2015. Strategi
Pembelajaran Pendidikan Karakter. Bandung. Pt. Remaja Rosdakarya.
[1] Abdul Majid, Belajar
dan Pembelajaran,(PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2012) hal. 127
[2] Ridwan Abdullah
Sani, Strategi Belajar Mengajar,(Rajawali Press, Depok, 2019) hal. 52
[3] Ridwan Abdullah
Sani, Strategi Belajar Mengajar………….hal. 57
[4] Suyadi, Strategi
Pembelajaran Pendidikan Karakter,(PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2015)
cet. III, hal. 161
[5] Suyadi, Strategi
Pembelajaran Pendidikan Karakter………….hal. 162
[6] Suyadi, Strategi
Pembelajaran Pendidikan Karakter……..hal.164
[7] Suyadi, Strategi
Pembelajaran Pendidikan Karakter …….hal. 165
[8] Suyadi, Strategi
Pembelajaran Pendidikan Karakter……..hal. 168
[9] Suyadi, Strategi
Pembelajaran Pendidikan Karakter……..hal. 173
[10] Suyadi, Strategi
Pembelajaran Pendidikan Karakter……..hal. 175
[11] Suyadi, Strategi
Pembelajaran Pendidikan Karakter……..hal. 176
[12] Ridwan Abdullah
Sani, Strategi Belajar Mengajar………….hal. 87
[13] Ridwan Abdullah
Sani, Strategi Belajar Mengajar………….hal. 90
[14] Ridwan Abdullah
Sani, Strategi Belajar Mengajar………….hal. 79
[15] Ridwan Abdullah
Sani, Strategi Belajar Mengajar………….hal. 85
[16] Ridwan Abdullah
Sani, Strategi Belajar Mengajar………….hal. 83
[17] Ridwan Abdullah
Sani, Strategi Belajar Mengajar………….hal. 84
[18]Ridwan Abdullah
Sani, Strategi Belajar Mengajar………….hal. 63
[19]Sumiati, Metode
Pembelajaran,(CV. Wacana Prima, Bandung, 2009), hal. 60
[20] Ridwan Abdullah
Sani, Strategi Belajar Mengajar………….hal. 60
[21] Ridwan Abdullah
Sani, Strategi Belajar Mengajar………….hal. 61
Tidak ada komentar:
Posting Komentar