Rabu, 04 Agustus 2021

Makalah Pengertian Model Pembelajaran

 


BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual berupa pola prosedur sistematik yang dikembangkan berdasarkan teori yang digunakan dalam mengorganisasikan proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan belajar.

Pembelajaran aktif dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP), guru harus melaksanakan proses pembelajaran dengan mengaktifkan siswa, pembelajaran menyenangkan, dinamis, kreatif, inspiratif, menantang, menyesuaikan pembelajaran dengan karakteristik peserta didik (perkembangan fisik dan psikologi), serta sesuai bakat dan minat siswa.

Prinsip pembelajaran tersebut sebenarnya telah di perkenalkan dengan istilah pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM).

Dalam makalah ini akan di bahas beberapa apa saja prinsip dalam pembelajaran PAIKEM.

B.    Rumusan Masalah

1.     Apa itu model pembelajaran?

2.     Bagaimana pembelajaran aktif dalam Standar Nasional Pendidikan?

3.     Bagaimana pembelajaran aktif dalam kurikulum 2013?

4.     Bagaimana urgensi dari PAIKEM?

5.     Apa saja keunggulan dan kelemahan dari PAIKEM?

6.     Faktor apa saja yang menyebabkan pendidik tidak menerapkan pembelajaran ini?

C.    Tujuan kepenulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk dapat mengetahui prinsip-prinsip dalam model pembelajaran PAIKEM (pembelajaran, aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Serta dapat diterapkan oleh para pembaca

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Pengertian Model Pembelajaran

Secara umum istilah “model” diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan.

Dalam pengertian lain, model juga diartikan sebagai barang atau benda tiruan dari benda yang sesungguhnya, seperti “globe” adalah model dari bumi tempat kita hidup. Dalam selanjutnya istilah model digunakan untuk menunjukkan pengertian yang pertama sebagai kerangka konseptual. Atas dasar pemikiran tersebut, maka yang dimaksud dengan “model belajar mengajar” adalah kerangka konseptual dan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengamalan belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pengajaran dan para guru dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar. Dengan demikian, aktivitas belajar mengajar benar-benar merupakan kegiatan bertujuan yang tertata secara sistematis.  

Menurut Dewey (Joyce & Weil. 1986) mendefinisikan model pembeajaran sebagai “a plan or pattern that we can use to design face to face teaching in the classroom or tutorial setting and to shape instructional material” (suatu rencana atau pola yang dapat kita gunakan untuk merancang tatap muka di kelas atau pembelajaran tambahan di luar kelas dan untuk menajamkan materi pengajaran).

Dapat di katakan pula bahwa model pembelajaran merupakan kerangka dasar pembelajaran yang dapat diisi oleh beragam muatan mata pelajaran, sesuai dengan karakteristik kerangka dasarnya.[1]

B.    Pembelajaran Aktif dalam Standar Nasional Pendidikan



Dalam pasal 40 ayat (2) UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu keharusan bagi guru untuk melaksanakan pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan logis.

Pada Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pasal 19 ayat (1) dinyatakan bahwa:”Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk berpartisipasi secara aktif, memberikan ruang gerak yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologi siswa.”

Proses yang memenuhi pembelajaran prinsip-prinsip tersebut akan dapat menghasilkan peserta didik yang berilmu, cakap, kreatif, dan mandiri. Hal tersebut sesuai dengan ketentuan  yang dinyatakan pada Pasal 3 UU Nomor 20 Tahun 2003, yakni: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan bentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[2]

 

C.    Pembelajaran Aktif dalam Kurikulum 2013

Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam mengubah paradigma pembelajaran pasif menjadi pembelajaran aktif adalah dengan menetapkan beberapa prinsip pembelajaran ketika mengimplementasikan kurikulum 2013.

Prinsip-prinsip tersebut adalah:

1.     dari peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu;

2.     dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar, menjadi belajar berbasis aneka sumber belajar;

3.     dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah;

4.     dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi;

5.     dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu;

6.     dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multidimensi;

7.     dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif;

8.     peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisik (hardskills) dan keterampilan mental (softskills);

9.     pembelajaran yang menguatamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat;

10.  pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun kurso) dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani);

11.  pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat;

12.  pembelajaran yang menerapkan prisip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas.

13.  pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran; dan

14.  pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya peserta didik.[3]

 

D.    Urgensi PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan)

1.     Pengertian PAIKEM

Sebelum adanya istilah PAIKEM, istilah PAKEM lebih dulu ada. Di mana istilah in dikembangkan oleh AJEL (Active Joyfull and Efective Learning). Untuk pertama kali di Indonesia, pada tahun 1999 disebut PEAM (Pembelajaran Efektif, Aktif, dan Menyenangkan). Seiring dengan perkembangannya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), pada tahun 2002 istilah PEAM diganti menjadi PAKEM, yaitu kependekan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan.

 

Istilah “Aktif” dalam PAKEM dimaksudkan agar guru menciptakan suasana belajar sedemikian rupa, sehingga peserta didik aktif bertanya maupun mengemukakan pendapat.

“Kreatif” dimaksudkan agar guru menciptakan suasana belajar yang beragam, sehingga peserta didik tidak merasa jenuh, namun bervariasi, informasi baru, dan suasana belajar yang segar.

“Efektif” dimaksudkan agar guru menciptakan suasana belajar sedemikian rupa, sehingga pembelajaran berjalan secara maksimal dengan memanfaatkan sumber belajar yang minimal.

“Menyenangkan” dimaksudkan agar guru menciptakan suasana sedemikian rupa, sehingga peserta didik senang mengikuti pelajarannya, termasuk senang pada gurunya.[4]

Dalam pembelajaran PAKEM banyak yang dimodifikasi oleh para akademisi maupun praktisi pendidikan dengan beragam nama. Beberapa diantaranya adalah PAIKEM.

PAIKEM merupakan singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Pada  penyebutan ini, istilah PAIKEM hanya ditambah huruf “I” yang berarti Inovatif. Kata ini (inovatif) dimaksudkan agar guru menciptakan suasana belajar yang dengan perangkat media modern, termasuk teknologi-teknologi pendidikan terkini.

Dalam konteks psikologi pendidikan, PAKEM juga dapat dimaknai sebagai sebuah strategi dengan pendekatan introduksional yang memungkinkan peserta didik mengerjakan kegiatan secara beragam untuk mengembangkan keterampilan, sikap dan pemahaman.

 Jika dicermati lebih lanjut, PAKEM tidak lain adalah pengembangan teori-teori belajar dari active learning. Oleh karena itu, PAKEM belum layak disebut sebagai pendekatan pembelajaran, karena belum[5] ada teorinya.

 

2.     Prinsip-prinsip dan Asas-asas dalam PAKEM

Di bawah ini merupakan beberapa prinsip yang terdapat dalam PAKEM

1.     Mengalami secara langsung

2.     Interaksi

3.     Komunikatif-interaktif

4.     Reflektif-introspektif[6]

Keempat prinsip PAKEM di atas berjalan pada kerangka dasar yang telah dirumuskan sebelumnya, yaitu membentuk pembelajaran yang berkualiltas dan mampu melahirkan peserta didik sebagai kader dasar bangsa.

Selanjutnya, untuk dapat menerapkan strategi pembelajaran PAKEM dengan baik, perlu memahami asas-asas yang melandasinya yang terdiri dari delapan asas.

1.     Menghafal sebagai dasar berpikir kritis[7]

2.     Mengarahkan peserta didik untuk bertanya

3.     Menyelenggarakan diskusi kelas secara interaktif

4.     Belajar di luar kelas (outdoor learning)

5.     Mengembangkan kreatifitas peserta didik

6.     Berlatih meneliti (mini research)

7.     Studi banding

8.     Memberikan pelatihan jurnalistik[8]

 

3.     Nilai-nilai Karakter dalam PAKEM

Berikut ini akan dikemukakan nilai-nilai karakter yang dapat di transformasikan melalui strategi pembelajaran PAKEM. Setidaknya terdapat delapan dari 18 nilai karakter yang di canangkan Kemendikbud;

a.      Religius

b.     Kreatif

c.      Rasa ingin tahu

d.     Mandiri dan tanggung jawab  

e.      Toleransi

f.      Demokratis

g.     Peduli lingkungan

h.     Kepedulian sosial[9] 

E.    Keunggulan dan Kelemahan Strategi Pembelajaran PAKEM

1.     Keunggulan PAKEM

Strategi pembelajaran PAKEM membuat guru tidak monoton dalam penyampaian pembelajaran, namun dapat bervariatif dan lebih kreatif dalam menampilkan berbagai materi kepada peserta didik. Begitu pula peserta didik, mereka akan lebih enjoy dan tidak mudah bosan dalam menangkap materi. Peserta didik selalu termotivasi untuk meraih prestasi yang lebih tinggi. Guru lebih dekat dengan peserta didik dengan prinsip PAKEM, maka guru selalu menjadi inspirator dan motivator bagi peserta didik.[10]

2.     Kelemahan PAKEM

Kelemahan utama PAKEM adalah kurangnya penumbuhan nalar kritis peserta didik. Hal ini disebabkan iklim kebebasan kreatif, sehingga secara tidak langsung menolak metode berpikir demikian menjadi tumpuan bagi perkembangan berpikir kritis. Terlebih lagi istilah “menyenangkan” dalam PAKEM terkesan kontradiksi dengan keseriusan. Dengan kata lain, jika menyenangkan (dalam PAKEM) identik dengan tertawa riang, maka berpikir kritis identic dengan mengernyitkan kening.[11]     

 

F.     Aktivitas Belajar dalam Pembelajaran PAKEM

1.     Aktivitas Belajar Aktif

Pada umumnya aktivitas belajar aktif akan berdampak pada hasil belajar yang lebih baik daripada belajar secara pasif. Berikut beberapa aktivitas belajar aktif yang telah diterapkan dalam buku Strategi Belajar Mengajar dalam pembelajaran dan terbukti dapat meningkatkan hasil belajar.

a.      Group Question

Setiap kelompok terdiri dari tiga sampai empat orang. Setiap kelompok diminta membaca buku dengan bagian atau topik yang berbeda dan membuat empat soal dari topik yang tersebut. Kegiatan membaca dan membuat soal selesai dibuat, masing-masing selama sepuluh menit. Setelah semua soal selesai dibuat, masing-masing kelompok mengumpulkan soal tersebut dalam sebuah kotak yang telah di beri tanda. Selanjutnya masing-masing kelompok diminta mengambil soal yang dibuat oleh kelompok lain dan harus mengerjakan semua soal tersebut. Waktu mengerjakan soal tersebut sepuluh menit. Pada tahap akhir, perwakilan kelompok membacakan soal dan menjelaskan jawaban yang telah mereka kerjakan.[12]

 

b.     Buzz Group

Buzz group adalah belajar dalam kelompok kecil untuk mendiskusikan tentang topik tertentu. Seorang kelompok bertugas menulis hasil diskusi atau ide-ide yang dihasilkan kelompok. Anggota buzz group adalah dua sampai tiga orang. Jika diskusi dilakukan pada awal pembelajaran, maka topik diskusi adalah tentang materi yang telah dipelajari pada minggu sebelumnya. Diskusi dilakukan selama dua sampai lima menit, kemudian salah satu kelompok diminta untuk menyampaikan hasil diskusi kelompok dan kelompok lain menanggapi. Jika buzz group digunakan untuk membahas topik yang sedang dikaji, maka masing-masing perwakilan kelompok menyampaikan hasil diskusinya di depan kelas.[13]

2.     Aktivitas Belajar Kreatif

Aktivitas belajar sangat berkaitan dengan hasil belajar yang ingin dicapai. Misalnya jika tujuan belajar yang ingin dicapai adalah kemampuan berkreasi, maka contoh aktivitas belajar yang seharusnya dilakukan adalah: membuat rancangan (desain), membuat rencana kegiatan, melakukan modifikasi sebuah alat atau prosedur, membuat karya seni kreatif, dan sebagainya.

Jika guru ingin agar siswa mampu berpikir kritis, maka contoh aktivitas belajar yang seharusnya dilakukan adalah membandingkan kesimpulan dengan data penduduknya, mengevaluasi pernyataan seseorang, dan sebagainya.

Menurut Coon dan Mittere (2009), berpikir kritis terkait dengan kemampuan untuk mengevaluasi, membandingkan, menganalisis, mengkritik, mensintesis, dan merefleksikan informasi. Berikut ini dideskripsikan beberapa aktivitas untuk dapat membuat siswa kreatif.[14]

a.      Pengembangan produk

Aktivitas ini dilakukan secara berkelompok dengan mencoba memikirkan variasi-variasi baru atau kreasi baru untuk mengubah sebuah produk yang sudah ada. setiap kelompok dapat diminta memikirkan pengembangan produk yang berbeda, misalnya kelompok satu memikirkan tentang produk sepeda, kelompok dua memikirkan tentang produk kereta bayi, dan sebagainya. Selanjutnya masing-masing melakukan curah pendapat untuk memperoleh daftar ide-ide untuk mengembangkan produk yang dibahas. Kemudian setiap kelompok membuat gambar dan penjelasan rinci tentang bagian-bagian yang ditambahkan beserta penjelasan fungsinya.[15]

b.     Membuat kolase atau media

Siswa yang aktif bekerja membuat kolase akan belajar mengekspresikan perasaannya secara kreatif melalui karya kolase. Sebuah kolase dibuat dari potongan gambar dan tulisan dari koran yang ditempel pada kertas flipchart atau koran manila. Pelaksanaan kegiatan ini membutuhkan gunting dan lem, sera ruang kerja yang cukup luas bagi siswa. Siswa dapat diminta membuat kolase secara berkelompok atau perorangan. Membuat kolase cocok digunakan untuk siswa sekolah dasar. Dalam perguruan tinggipun dapat digunakan, namun peserta didik membuat bagan atau alur pikir sebuah proposal yang dibuat menggunakan kertas, lem, dan gunting. Pada kegiatan tersebut harus disediakan gunting yang[16] cukup banyak agar semua peserta didik thvidak saling menunggu jika membutuhkan gunting.[17]

3.Aktivitas Belajar Efektif

Pembelajaran yang efektif tidak terlepas dari peran guru yang efektif, kondisi pembelajaran yang efektif, keterlibatan peserta didik, dan sumber belajar atau lingkungan belajar yang mendukung. Kondisi pembelajaran yang efektif harus mencakup tiga faktor penting, yakni:

a.      motivasi belajar (kenapa perl belajar?)

Menurut Teri dalam buku Strategies for Teacher, ada empat karakteristik guru yang dapat meningkatkan motivasi peserta didik, yaitu:

1.     antusias;

2.     dapat dijadikan model;

3.     empati, ramah, dan perhatian;

4.     memiliki harapan positif.

b.     tujuan belajar (apa yang ingin dipelajari?)

pada kegiatan pendahuluan dalam pembelajaran perlu dilakukan penyampaian tujuan pembelajaran dan kegiatan membangkitkan motivasi belajar bagi peserta didik. Aktivitas lain yang dilakukan pada kegiatan pendahuluan adalah apersepsi, yakni mengecek pemahaman awal peserta didik agar mereka siap menerima informasi atau keterampilan baru. [18]

c.      kesesuaian pembelajaran (bagaimana cara belajar?) 

dalam hal ini guru harus mengetahui situasi yang mempengaruhi proses belajar pada siswa. Faktor di sini berkaitan dengan peserta didik, keadaan belajar, proses belajar, guru yang memberi pelajaran, teman belajar dan bergaul, serta program belajar yang ditempuh merupakan faktor yang mempunyai pertalian erat satu dengan yang lain. Itu semua merupakan komponen keadaan (situasi) belajar yang menjadi salah satu faktor penting dalam belajar.[19]

                 4. Aktivitas Belajar Inovatif

Aktivitas orang yang inovatif merupakan ciri pembelajaran   saintifik, dan dapat digunakan untuk membentuk keterampilan inovatif yang dikemukakan oleh Dyer dkk, yaitu:

a.      observasi;

b.     bertanya;

c.      melakukan percobaan;

d.     asosiasi (menghubungkan atau menalar);

e.      membangun jaringan (networking).

Menurut Dyer dkk. (2011), seorang inovator adalah pengamat yang baik dan selalu mempertanyakan suatu kondisi yang ada dengan mengajukan ide baru. Inovator mengamati lingkungan sekitarnya untuk memperoleh ide baru dalam melakukan sesuatu yang baru. Mereka juga aktif membangun jaringan untuk mencari ide baru, menyarankan ide baru, atau menguji pendapat mereka.

Seorang inovator selalu mencoba hal baru berdasarkan pemikiran dan pengamatannya. Seorang inovator akan berpetualang ke tempat yang baru untuk mencoba ide inovatifnya. Berdasarkan teori Dyer tersebut dapat dikembangkan pendekatan saintifiknya (scientific approach) dalam pembelajaran yang memiliki komponen proses pembelajaran, yaitu: 1) mengamati, 2) menanya, 3) mencoba atau mengumpulkan informasi, 4) menalar atau asosiasi, membentuk jejaring atau melakukan komunikasi.[20]  

Tahapan aktivitas belajar yang dilakukan dengan pembelajaran  saintifik tidak harus dilakukan mengikuti prosedur yang kaku, namun dapat disesuaikan dengan pengetahuan yang hendak dipelajari. Pada suatu pembelajaran mungkin dilakukan observasi terlebih dahulu sebelum memunculkan pertanyaan, namun pada pelajaran yang lain mungkin siswa mengajukan pertanyaan terlebih dahulu sebelum melakukan eksperimen dan observasi. Aktivitas membangun jaringan juga mungkin dilakukan dalam upaya melakukan eksperimen, atau juga mungkin dibutuhkan ketika peserta didik mendesiminasikan hasil eksperimennya.[21]  

 

 

BAB III

PENUTUPAN

 

 

A.     Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat penulis simpulkan bahwa, pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM) adalah salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa. Ditambah lagi dengan istilah PAIKEM di mana adanya penambahan kata “inovatif” di sini menambah keaktifan belajar peserta didik. Dalam hal lain, seiring berjalannya waktu pembelajaran PAKEM ini banyak yang di modifikasi sesuai bagaimana konteks pembelajarannya. Dan tentunya pembelajaran PAKEM ini sangat di perlukan dalam Kurikulum 2013. Dengan begitu tugas sebagai seorang guru pun mendapat “pr” lebih untuk meningkatkan mutu pembelajaran di kelasnya.

 

A.    Saran

Saran dalam model pembelajaran PAKEM ini, ada beberapa faktor yang apabila model ini dijalankan akan perlu waktu dan beberapa sarpras yang dibutuhkan. Apabila sarpras dalam pelaksanaanya tidak memenuhi, maka model PAKEM ini tidak berjalan dengan lancar.

Adapun faktor lain yang menyebabkan guru tidak mau menerapkan pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan antara lain: 1) kurangnya kemampuan guru dalam menerapkan PAKEM tersebut, 2) sulitnya mengubah paradigm pembelajaran yang selama ini diterapkan oleh guru.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Majid, Abdul. 2012. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta. Pt. Remaja Rosdakarya

 

Sani, Abdullah Ridwan. 2019. Strategi Belajar Mengajar. Depok. Rajawali Press

 

Suyadi. 2015. Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter. Bandung. Pt. Remaja Rosdakarya.

 

Sumiati. 2009. Metode Pembelajaran. Bandung. Cv. Wacana Prima.


[1] Abdul Majid, Belajar dan Pembelajaran,(PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2012) hal. 127

[2] Ridwan Abdullah Sani, Strategi Belajar Mengajar,(Rajawali Press, Depok, 2019) hal. 52

[3] Ridwan Abdullah Sani, Strategi Belajar Mengajar………….hal. 57

[4] Suyadi, Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter,(PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2015) cet. III, hal. 161

[5] Suyadi, Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter………….hal. 162

[6] Suyadi, Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter……..hal.164

[7] Suyadi, Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter …….hal. 165

[8] Suyadi, Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter……..hal. 168

[9] Suyadi, Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter……..hal. 173

[10] Suyadi, Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter……..hal. 175

[11] Suyadi, Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter……..hal. 176

[12] Ridwan Abdullah Sani, Strategi Belajar Mengajar………….hal. 87

[13] Ridwan Abdullah Sani, Strategi Belajar Mengajar………….hal. 90

[14] Ridwan Abdullah Sani, Strategi Belajar Mengajar………….hal. 79

[15] Ridwan Abdullah Sani, Strategi Belajar Mengajar………….hal. 85

[16] Ridwan Abdullah Sani, Strategi Belajar Mengajar………….hal. 83

[17] Ridwan Abdullah Sani, Strategi Belajar Mengajar………….hal. 84

[18]Ridwan Abdullah Sani, Strategi Belajar Mengajar………….hal. 63

[19]Sumiati, Metode Pembelajaran,(CV. Wacana Prima, Bandung, 2009), hal. 60

[20] Ridwan Abdullah Sani, Strategi Belajar Mengajar………….hal. 60

[21] Ridwan Abdullah Sani, Strategi Belajar Mengajar………….hal. 61

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern

  Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern Pendahuluan Ketika arus modernisasi menghujani dunia Islam, proses modern...