Rabu, 04 Agustus 2021

Makalah Pengertian Perubahan Sosial

 


BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang Masalah

       Pada dasarnya setiap masyarakat yang ada di muka bumi ini dalam hidupnya dapat dipastikan akan mengalami apa yang dinamakan dengan perubahan-perubahan. Adanya perubahan-perubahan tersebut akan dapat diketahui bila kita melakukan suatu perbanding­an dengan menelaah suatu masyarakat pada masa tertentu yang kemudian kita bandingkan dengan keadaan masyarakat pada waktu yang lampau. Perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat,pada dasarnya merupakan suatu proses yang terus menerus, ini berarti bahwa setiap masyarakat pada kenyataannya akan mengalami perubahan-peru­bahan.

       Tetapi perubahan yang terjadi antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain tidak selalu sama. Hal ini dikarenakan adanya suatu masyarakat yang meng­alami perubahan yang lebih cepat bila dibandingkan dengan masyarakat lainnya. Perubahan tersebut dapat berupa perubahan-perubahan yang tidak menonjol atau tidak menampakkan adanya suatu perubahan. Juga terdapat adanya perubahan-perubahan yang memiliki pengaruh luas maupun terbatas. Di samping itu ada juga perubahan-perubahan yang prosesnya lambat, dan perubahan yang berlangsung dengan cepat.

       Perubahan ini pun berpengaruh dengan ranah pendidikan. Pendidikan dan perubahan sosial, keduanya saling bertautan satu dengan yang lain. Keduanya saling mempengaruhi, sehingga berdampak luas di masyarakat. Pendidikan adalah lembaga yang dapat dijadikan sebagai agen pembaharu/perubahan sosial dan sekaligus menentukan arah perubahan sosial yang disebut dengan pembangunan masyarakat. Sedangkan perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat setiap kalinya dapat direncanakan dengan arah perubahan yang ingin dicapai. Namun perubahan sosial juga dapat terjadi setiap saat tanpa harus direncanakan terlebih dahulu disebabkan pengaruh budaya dari luar.

 

 Rumusan Masalah

1.     Apa yang dimaksud dengan perubahan sosial?

2.     Apa saja ciri-ciri perubahan sosial?

3.     Bagaimana terjadinya proses perubahan sosial?

4.     Apa saja faktor yang memperlancar dan menghambat perubahan sosial?

5.     Bagaimana melakukan strategi perubahan?

6.     Apa yang dimaksud dengan agen perubahan?

7.     Bagaimana pendidikan mempengaruhi terhadap perubahan sosial?

 

B.    Tujuan Penulisan

1.     Memahami perubahan sosial.

2.     Memahami ciri-ciri perubahan sosial.

3.     Memahami terjadinya proses perubahan.

4.     Memahami faktor yang memperlancar dan menghambat perubahan sosial.

5.     Memahami tentang strategi perubahan.

6.     Memahami tentang agen perubahan.

7.     Mengetahui pengaruh pendidikan terhadap perubahan sosial dan sebaliknya.


 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Perubahan sosial

 

       Perubahan sosial secara umum dapat diartikan sebagai suatu proses pergeseran atau berubahnya struktur/tatanan didalam masyarakat, meliputi pola pikir yang lebih inovatif, sikap, serta kehidupan sosialnya untuk mendapatkan penghidupan yang lebih bermartabat.

       Perubahan sosial adalah proses di mana terjadi perubahan struktur dan fungsi suatu sistem sosial. Perubahan sosial juga merupakan gejala yang melekat di masyarakat yang dapat diketahui dengan membandingkan keadaan masyarakat pada suatu waktu dengan keadaan masyarakat pada masa lampau. Misalnya di beberapa masyarakat Indonesia umumnya (pada masa lalu), suami merupakan posisi yang sangat dominan dalam berbagai urusan dalam kehidupan keluarga, sehingga apabila suami tidak bekerja atau tidak mempunya penghasilan, suatu keluarga secara ekonomi akan mengalami lumpuh. Dalam perkembangannya, pada masyarakat modern sekarang suami tidak selalu merupakan posisi yang menentukan jalannya kehidupan keluarga.

Social change atau perubahan sosial dapat terjadi karena keseimbangan suatu masyarakat dipengaruhi oleh unsur-unsur penting di dalamnya. Misalnya ekonomi, biologis, geografis, dan lain sebagainya. Adapun beberapa teori perubahan sosial adalah sebagai berikut:

1.     Teori Evolusi

Dalam hal ini, teori evolusi masih mengacu pada teori evolusi yang dicetuskan oleh Darwin dan dipengaruhi pemikiran Herbert Spencer. Menurut teori evolusi, proses perubahan terjadi secara perlahan dalam waktu yang panjang dan harus melalui berbagai tahapan hingga titik perubahan yang diharapkan dapat terwujud.

2. Teori Konflik

Teori ini dipengaruhi oleh pemikiran Karl Marx dan Ralf Dahrendord. Dalam teori konflik disebutkan bahwa suatu perubahan dapat terjadi sebagai akibat adanya pertentangan di dalam masyarakat. Pertentangan ini diawali perselisihan antara kelompok yang merasa tertindas dengan kelompok penguasa/ pemerintah sehingga akhirnya menimbulkan perubahan.

Menurut teori ini, konflik sosial akan selalu berdampingan dengan perubahan dan terjadi terus-menerus. Beberapa yang menjadi poin penting dari teori konflik ini adalah:

  • Setiap masyarakat akan terus mengalami perubahan.
  • Setiap komponen masyarakat biasanya menunjang terjadinya perubahan.
  • Setiap masyarakat akan berada di pusaran konflik dan ketegangan.
  • Kestabilan sosial akan dipengaruhi oleh adanya tekanan antar golongan di dalam masyarakat.

3.Teori Fungsional

Teori ini dicetuskan pertamakali oleh William Ogburn. Menurut teori fungsionalis, kecepatan perubahan terjadi tidak sama meskipun unsur-unsur masyarakat saling berhubungan satu sama lainnya. Dalam teori ini dijelaskan bahwa perubahan yang terjadi hanya mengambil hal yang baik, bermanfaat, dan menguntungkan bagi masyarakat.

 

4. Teori Siklus/ Siklis

Arnold Toynbee dan Oswald Spenger adalah tokoh yang mempengaruhi munculnya teori siklis. Dalam teori ini disebutkan bahwa perubahan di masyarakat tidak dapat dikendalikan sepenuhnya oleh siapapun karena di dalam masyarakat terdapat siklus yang harus diikuti.

Menurut Oswald Spenger, proses perubahan sosial terjadi melalui empat tahap seperti proses perkembangan manusia, yaitu tahap anak-anak, remaja, dewasa, dan masa tua.

B.    Ciri-ciri Perubahan Sosial

       Kecenderungan terjadinya perubahan sosial merupakan gejala wajar yang timbul dari pergaulan hidup manusia. Perubahan-perubahan itu merupakan lingkaran kejadian-kejadian. Artinya, perubahan sosial yang terjadi tidak berhenti begitu saja. Perubahan sosial yang satu mendorong terjadinya perubahan sosial yang lain. Hal ini terjadi karena struktur lembaga-lembaga kemasyarakataan saling berkaitan satu sama yang lain. Perubahan itu, sebagaimana oleh Mac Iver, merupakan perubahan-perubahan dalam hubungan sosial. Ada beberapa ciri perubahan sosial, diantara adalah sebagai berikut.

1)     Tidak ada masyarakat yang perkembangannya berhenti karena setiap masyarakat mengalami perubahan, baik secara lambat maupun cepat. Hal ini dapat dilihat dari sejarah manusia dimana manusia mengalami proses evolusi (perubahan secara lambat, misalnya perkembangan manusia dari masyarakat prasejarah menuju masyarakat sejarah) dan revolusi (perubahan secara cepat, misalnya revolusi industri.

2)     Perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakataan akan diikuti dengan perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga sosial yang lain. Misalnya, dengan meluasnya birokrasi kolonial pada masa penjajahan belanda, munculah golongan priyai didalam masyarakat. Golongan ini lepas dari ikatan keraton karena mereka bukan golongan yang ada dibawah raja, melainkan tunduk pada pemerintahan kolonial.

3)     Perubahan-perubahan sosial yang cepat biasanya mengakibatkan kekacauan sementara. Hal ini terjadi karena orang harus belajar menyesuwaikan diri dengan perubahan yang terjadi. Kekacauan ini akan diikuti oleh reorganisasi yang mencakup pemantapan kaidah-kaidah dan nilai-nilai lain yang baru. Sebagai contoh, peristiwa reformasi oleh euforia kebebasan yang terkadang diungkapkan dengan berbagai tindakan negatif, seperti kebebasan yang berlebihan, yang ditunjukan dengan pelaksanaan demontrasi tanpa aturan.

4)     Perubahan-perubahan tidak dapat dibatasi pada bidang kebendaan atau bidang spiritual saja. Kedua bidang itu saling berkaitan satu sama lain. Misalnya, cara pandang “banyak anak banyak rizki” tidak lagi dianut oleh masyarakat yang tinggal diperkotaan. Hal ini disebabkan karena lingkungan tempat tinggal diperkotaan umumnya tidak luas. Mustahil jika rumah yang sempit menjadi tempat hunian yang nyaman bagi keluarga yang anggotanya yang banyak.

 

C.    Proses Perubahan Sosial

       Pada dasarnya setiap masyarakat akan mengalami perubahan. Perubahan-perubahan itu dapat diketahui dengan cara membandingkan keadaan masyarakat dalam suatu waktu tertentu dengan keadaannya yang lampau

Menurut Alvin L. Bertrand, proses perubahan sosial adalah sebagai berikut.

 

1.     Difusi

       Difusi adalah proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan (ide-ide, keyakinan, hasil-hasil kebudayaan, dan sebagainya), dari individu satu kepada individu lain, dari suatu golongan kegolongan lain, atau dari masyarakat ke masyarakat lain.

 

 

 

Dari pengertian tersebut dapat dibedakan dua tipe difusi.

·       Difusi intramasyarakat (intrasoclety diffusion), yaitu difusi unsur kebudayaan antarindividu / golongan dalam suatu masyarakat.

·       Difusi antar masyarakat (intersociety diffusion), yaitu difusi unsur kebudayaan dari satu masyarakat kemasyarakat lain.

 

Mengenai masuknya unsur-unsur baru kedalam suatu masyarakat dapat terjadi melalui;

§  Perembesan damai (penetration pacifique) yaitu masuknya unsur baru kedalam suatu masyarakat tanpa kekerasan dan tanpa paksaan.

§  Perembesan dengan kekerasan (penetration vialente) yaitu masuknya unsur baru kedalam suatu masyarakat yang diwarnai dengan kekerasan dan paksaan sehingga kadang kala merusak kebudayaan masyarakat penerima.

§  Simblotik, yaitu proses masuknya unsur-unsur kebudayaan ke atau dari dalam masyarakat yang hidup berdampingan. Ada tiga macam proses simblotik.

ü  Mutualistik, yaitu simbiosis yang saling menguntungkan.

ü  Komensalistik, yaitu satu pihak untung dan pihak lain tidak untung, tetapi juga tidak rugi.

ü  Parasitistik, yaitu satu pihak mendapatkan keuntungan dan pihak lain menderita kerugian.

2.     Akulturasi

       Akulturasi atau kontak kebudayaan merupakan proses sosial yang timbul apabila suatu kelompok manusia dengan  suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga unsur-unsur kebudayaan itu lambat laun diterima dan diolah kedalam kebudayaannya tanpa menghilangkan sifat khas kepribadian kebudayaan asal.

3.     Asimilasi

       Asimilasi adalah proses sosial tingkat lanjut yang timbul apabila terdapat golongan-golongan manusia yang mempunyai latar belakang kebudyaan berbeda saling berinteraksi dan bergaul secara langsung dan intensif dalam waktu yang lama sehingga kebudayaan dari masing-masing golongan tersebut berubah sifatnya dari yang khas menjadi unsur-unsur kebudayaan baru yang berbeda dengan asalnya.

4.     Akomodasi

       Akomodasi dapat berarti keadaan atau proses. Sebagai suatu keadaan, akomodasi menunjuk kepada adanya keseimbangan adanya interaksi anata individu dan kelompok sehubungan denga norma-norma dan nilai-nilai sosial yang berlaku dimasyarakat. Sedang suatu proses, akomodasi menunjuk kepada usaha-usaha manusia untuk mereakan pertentangan-pertentangan atau usaha-usaha untuk mencapai kesetabilan interaksi sosial.

 

D.    Faktor-faktor Memperlancar dan Menghambat terjadinya Perubahan Sosial

Faktor-faktor memperlancar dan menghambat terjadinya perubahan sosial adalah sebagai berikut.

a)     Faktor Memperlancar Perubahan Sosial

·       Faktor intern

Faktor intern perubahan sosial bersumber dari sumber masyarakat, yaitu sebagai berikut.

*     Bertambah atau berkurangnya penduduk

*     Penemuan-penemuan budaya baru (discoveri dan invention).

*     Pertentangan-pertentangan didalam masyarakat.

*     Terjadinya pemberontakan atau revolusi didalam tubuh masyarakat.

·       Faktor ekstern

          Faktor ekstren perubahan sosial bersumber dari luar masyarakat, yaitu sebagai berikut.

*     Perubahan lingkungan fisik disekitar penduduk. Contohnya, gunung meletus.

*     Peperangan yang terjadi antar negara.

*     Pengaruh dari kontak kebudayaan masyarakat lain (luar).

Selain kedua faktor diatas. Soerjono Soekanto menambahkan beberpa faktor yang mendorong terjadinya peruahan sosial, antara lain: sistem pendidikan dan ilmu pengetahuan yang maju; sikap menghargai hasil kartya orang lain dan kegiatan-kegiatan untuk maju; toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang; sistem lapisan masyarakat yang berbeda; penduduk yang hiterogen; ketidak puasan manusia pada bidang0bidang tertentu; orientasi mentalitas manusia kemasa depan; dan niat mneghargai pola hidup yang dinamis.

b)    Faktor Menghambat Perubahan Sosial

Adapun faktor-faktor yang menghambat perubahan sosial antara lain sebgai berikut.

ü  Kurangnya hubungan dengan masyarakat luar.

ü  Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat.

ü  Sikap masyarakat yang tradisional.

ü  Adanya kepentingan-kepentingan pribadi (vested interest).

ü  Rasa takut akan terjadi kegoyahan pada integrasi kebudayaan.

ü  Prasangka terhadap hal-hal yang baru atau asing.

ü  Hambatan-hambatan yang bersifat idiologi.

ü  Kebiasaan-kebiasaan yang bersifat negatif.

ü  Nilai pasrah dalam hidup.

 

 

 

 

A.    Strategi Perubahan

       Setiap upaya penciptaan perubahan sosial, memerlukan suatu strategi tertentu yang perlu diperhatikan. Terdapat beberapa strategi perubahan sosial yang dapat diterapkan yaitu :

1.      Strategi fasilitatif

       Agen perubahan sosial dalam strategi ini bertindak sebagai fasilitator yang menyediakan berbagai sumber daya, informasi dan sebagai saran konsultasi. Strategi ini lebih sesuai diterapkan pada kelompok yang memiliki beberapa karakteristik, yaitu : menganggap bahwa suatu masalah yang dihadapinya membutuhkan suatu perubahan; terbuka untuk menerima bantuan dari pihak luar; serta mengharapkan terlibat dalam mengubah dirinya.

2.     Strategi redukatif

       Strategi ini digunakan apabila diketahui adanya hambatan-hambatan sosial budaya dalam upaya penerimaan suatu inovasi, terutama berkaitan dengan kelemahan pengetahuan atau pendidikan dan keterampilan dalam memanfaatkan suatu inovasi.

3.     Strategi Persuasif

   Strategi ini merupakan upaya melakukan perubahan masyarakat dengan cara membujuk masyarakat tersebut untuk melakukan perubahan. Strategi ini menekankan kemampuan pada agen perubahan dalam dua hal, yaitu: menyusun dan menyeleksi permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh suatu masyarakat dan berupa untuk mencarikan jalan keluarnya; dan mengunakan bujukan melalui keterlibatan perasaan dan antisipasi terhadap faktor nonrasional, yaitu mempertimbangkan nilai-nilai budaya lokal.

4.     Strategi kekuasaan

       Strategi kekuasaan merupakan strategi yang digunakan untuk melakukan perubahan dengan cara paksaan, menggunakan kekerasan atau ancaman. Strategi ini sering kali mendapat pandangan negatif atau tidak mengenakkan, karna kelompok sasaran berada pada bayang-bayang ketakutan atau kecemasan akan terjadinya perubahan. Strategi ini diperlukan mengingat kekerasan mempunyai hubungan yang signifikan dengan perubahan sosial.

5.     Strategi kekerasan versus nonkekerasan

Penggunaan kekerasan memang efektif dan tampaknya diperlukan dalam beberapa situasi. Namun strategi kekerasan harus diposisikan sebagai strategi alternatif terakhir ketika strategi lain tidak mampu memengaruhi perubahan tertentu. Menurut pandangan Mao, jenis perubahan tertentu memerlukan kekerasan, sedangkan perubahan yang lain perlu dilakukan secara nonkekerasan. Strategi nonkekerasan dapat dicapai melalui musyawarahn metode demokrasi, kritik, persuasi (bujukan) serta pendidikan.

 

B.    Agen Perubahan

Setiap perubahan itu membutuhkan sejumlah individu untuk menjadi role model atau pemandu proses berjalannya perubahan yang terjadi dalam suatu organisasi, agar tercapai tujuan yang diharapkan.

Itulah agen perubahan (agent of change), individu yang bertugas mempengaruhi target / sasaran perubahan agar mereka mengambil keputusan sesuatu dengan arah yang organisasi kehendaki.

Agen perubahan adalah orang yang menghubungkan antara sumber perubahaan baik itu inovasi maupun kebijakan organisasi dengan target perubahan. Untuk itu ada sejumlah peran agent of change yang harus dilaksanakan sebagai Change Leader.

Selain menginformasikan hal baru dalam rangka memperkenalkan suatu Inovasi / Kebijakan baru kepada suatu kelompok target perubahan, agen perubahan juga memiliki peran penting dalam:

1. Membangun kesadaran pentingnya perubahan

       Agen Perubahan harus mampu menyadarkan target bahwa mereka memerlukan perubahan dengan sikap / perilaku yang sebaiknya mereka lakukan. Perubahan sikap itu akan memberikan kemudahan / keuntungan bagi mereka dan diharapkan pada tahap ini target perubahan mempunyai kesadaran bahwa untuk hal yang lebih baik mereka harus berubah demi mereka sendiri.

2.     Media penukar informasi

       Ketika kelompok masyarakat target perubahan menyadari bahwa mereka memerlukan perubahan, maka Agen Perubahan secara terus menerus membangun komunikasi dengan mereka. Mereka harus dapat diterima serta dipercaya oleh kelompok sosial / masyarakat target Inovasi / Kebijakan Publik sebelum mau membangun hubungan baik. Ia harus membangun citra diri sehingga dipersepsikan bahwa dia orang yang kompeten (competence), kredibel (credible), dapat dipercaya (trustworthy) dan bersikap penuh simpati dan empati pada kelompok sosial / masyarakat target Inovasi / Kebijakan Publik.

3.      Mengidentifikasi masalah

       Agen Perubahan bertanggung jawab menyajikan hasil analisis tentang apa yang terjadi dan tidak dapat terpenuhi kebutuhannya saat itu. Pada saat yang demikian Agen Perubahan diharapkan mampu melihat persoalan yang dihadapi dengan menggunakan perspektif organisasi dan menyajikan komunikasi yang efektif.

4. Mendorong niat perubahan

       Setelah Agen Perubahan menjelaskan berbagai cara harus dilakukan oleh target perubahaan mereka, maka Agen Perubahan dituntut untuk mampu memberi motivasi yang telah ditawarkan Agen Perubahan.

5.Mentransformasikan niat menjadi nyata

       Agen Perubahan dituntut mencari tahu tentang cara bagaimana mempengaruhi target perubahaan sebagaimana rekomendasi yang dikembangkan berdasarkan kebutuhan mereka sendiri. Pada tahap ini komunikasi interpersonal antar mereka sendiri dapat membantu meyakinkan untuk memutuskan mengadopsi budaya yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

6.     Merawat adopsi values baru dan mencegah pembatalan adopsi

       Agen Perubahan diharapkan tetap mendampingi target perubahan agar tetap bertahan dengan sikap perilaku yang sudah diputuskan dengan mengadopsi Values Baru/ Inovasi / Kebijakan Publik. Pendampingan merupakan tahap penting, karena menjadi konfirmasi tentang perubahan budaya yang dibutuhkan dan sekaligus menunjukkan manfaatnya bagi mereka.

7. Menciptakan Agen Perubahan baru dari Target Perubahan

        Akhirnya, Agen Perubahan mendorong target perubahan mampu bersikap dan berperilaku dengan mengadopsi budaya organisasi telah diperkenalkan sebelumnya.

Saat Agen Perubahan setelah mampu mendorong budaya baru maka komunitas organisasi seharusnya telah mampu menciptakan kader Agen Perubahan (baru) dari komunitas target perubahan itu sendiri. Apabila kelompok Komunitas target perubahan telah mampu menghasilkan Agen Perubahan (baru) maka tugas Agen telah berakhir.  

C.    Pengaruh perubahan Sosial terhadap  pendidikan

       Perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat menyangkut nilai-nilai sosial, pola-pola perilaku, organisasi, lembaga kemasyarakatan, lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, yang terjadi secara cepat atau lambat memiliki pengaruh mendasar bagi pendidikan.

       Esensi dari sekolah adalah pendidikan dan pokok perkara dalam pendidikan adalah belajar. Oleh sebab itu tujuan sekolah terutama adalah menjadikan setiap murid didalamnya lulus sebagai orang dengan karakter yang siap untuk terus belajar, bukan tenaga-tenaga yang siap dipakai untuk kepentingan industri. Dalam arus globalisasi perubahan-perubahan belangung dalam tempo yang akan makin sulit diperkirakan. Cakupan perubahan yang ditimbulkan juga akan makin sulit diukur.

       Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sedemikian pesat. Kecenderungan seperti ini harus dihadapi dan hanya dapat dihadapi oleh orang-orang yang selalu siap untuk belajar hal-hal baru. keadaan tersebut akan berpengaruh besar pada pendidikan. Oleh sebab itu sekolah, ditingkat manapun yang tetap menjalankan pendidikan dengan orientasi siap pakai untuk para pelajarnya tidak boleh rusak akibat perubahan tetapi sebaliknya harus mampu menjadi pengemban misi agent of changes tetapi sekedar consumers.

       Dari sekolah dengan pandangan siap pakai tidak akan dihasilkan orang-orang muda yang dengan kecerdesannya berhasil memperbaiki kedudukannya dalam susunan sosial output dari sekolah semacam itu hanya dua. Pertama, orang-orang muda yang terlahir berada dan akan terus menduduki strata kedudukan tinggi. Kedua, para pemuda tak berpunya yang akan tetap menelan kekecewaan karena ternyata mereka semakin sulit naik ketangga sosial yang lebih tinggi dari orang tua mereka. Sekolah yang tetap kukuh dengan prinsip-prinsip pedagogik, metode-metode pendidikan dan teknik-teknik pengajaran yang baik.

BAB III

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

Dari pembahasan di atas maka penulis mengambil kesimpulan bahwa:

1.     Perubahan sosial secara umum dapat diartikan sebagai suatu proses pergeserab atau perubahan struktur atau tatanan di dalam masyarakat, meliputi pola pikir yang lebih inovatif, sikap, serta kehidupan sosialnya untuk mendapat penghidupan yang lebih bermartabat.

2.     Ciri-ciri perubahan sosial diantaranya mengalamu proses evolusi maupun revolusi, perubahan pada lembaga-lembaga sosial, terjadi peristiwa reformasi.

3.     Proses perubahan sosial terdiri dari difusi, akulturasi, asimilasi, dan akomodasi.

4.     Faktor yang memperlancar dan menghambat perubahan sosial yaitu adanya faktor internal maupun eksternal.

5.     Strategi perubahan dapat diterapkan yaitu strategi fasilitatif, startegi redukatif, strategi persuasif, strategi kekuasaan, strategi kekerasan versus nonkekerasan.

6.     Agen perubahan yaitu orang yang menghubungkan antara sumber perubahan baik itu inovasi maupun kebijakan organisasi dengan target perubahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern

  Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern Pendahuluan Ketika arus modernisasi menghujani dunia Islam, proses modern...