Rabu, 04 Agustus 2021

MAKALAH IMPLIKASI PSIKOLOGI BELAJAR BAGI PESERTA DIDIK

 


BAB I

PENDAHULUAN

 

1)     Latar Belakang Masalah

Jika berbicara mengenai psikologi maka berkaitan dengan banyak hal termasuk ke pendidikan. Pendidikan sendiri merupakan hal yang paling dekat dengan jiwa manusia dan pendidikan yang paling bisa menyelamatkan seseorang dari berbagai kendala dan juga masalah. Psikologi pendidikan sebenarnya merupakan dasar modal dari sebuah perilaku dan juga sikap pada manusia. Dengan adanya ruang lingkup psikologi pendidikan, maka banyak anak dan juga siswa karena proses pembelajaran yang berjalan dengan baik dan sesuai dengan karakter masing-masing siswa.

Implikasi psikologi belajar bagi peserta didik mencakup banyak hal, salah satunya seperti guru dapat melihat bagaimana siswa belajar dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Untuk lebih dalamnya, makalah ini akan membahas bagaimana implikasi psikologi belajar bagi peserta didik.

 

2)     Rumusan Masalah

1)     Bagaimana dampak budaya terhadap pengajaran dan pembelajaran?

2)     Bagaimana pengaruh perbedaan bahasa terhadap pencapaian akademik peserta didik?

3)     Apa yang dimaksud dengan pendidikan multikultural?

4)     Bagaimana pengaruh gender dan ketidakadilan gender terhadap pengalaman sekolah?

3)     Tujuan Penulisan

1)     Memahami dampak budaya terhadap pengajaran dan pembelajaran.

2)     Memahami pengaruh perbedaan bahasa terhadap pencapaian akademik peserta didik.

3)     Memahami pengertian pendidikan multikultural.

4)     Memahami pengaruh gender dan ketidakadilan gender terhadap pengalaman sekolah.

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Dampak Budaya terhadap Pengajaran dan Pembelajaran

1.     Pengertian Budaya

Budaya atau kebuyaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu budhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal); diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan akal manusia. Bentuk lain dari kata kultur yang berasal dari Bahasa Inggris yaitu culture dan bahasa Latin cultura.

 

Budaya adalah suatu cara pandang hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya, seni.

 

Contoh keragaman budaya Indonesia diantaranya, bahasa, rumah adat, pakaian adat, tarian dan pertunjukan senjata tradisional lagu daerah, upacara adat dan lain-lain.

2.     Pengertian Pengajaran

Pengajaran adalah suatu cara bagaimana mempersiapkan pengalaman belajar bagi peserta didik. Dengan kata lain pengajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh para guru dalam membimbing, membantu, dan mengarahkan peserta didik untuk memiliki pengalaman belajar.

3.     Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar yang meliputi guru dan peserta didik yang saling bertukar informasi.

 

 

4.     Perbedaan antara Pengajaran dan Pembelajaran

 

No

Pengajaran

Pembelajaran

1

dilaksanakan oleh mereka yang berprofesi sebagai pengajar.

dilaksanakan oleh mereka yang dapat membuat orang belajar.

2

tujuannya menyampaikan informasi kepada peserta didik.

tujuannya agar terjadi proses belajar peserta didik.

3

merupakan salah satu penerapan strategi pembelajaran.

merupakan cara untuk mengembangkan rencana yang terorganisasi untuk keperluan belajar.

4

kegiatan belajar berlangsung bila ada guru atau pengajar.

kegiatan belajar dapat berlangsung dengan atau tanpa hadirnya guru.

 

5.     Dampak Budaya pada pengajaran dan pembelajaran

Pada suatu kelompok akan ditemukan perbedaan budaya, yang merujuk pada norma, tradisi, perilaku, bahasa, dan persepsi. Memikirkan perbedaan budaya sebagai perbedaan bangsa, terdapat banyak keragaman budaya di setiap negara dan bangsa industri lain. Namun, meskipun demikian menghargai perbedaan budaya antarbangsa, perbedaan dalam masyarakat sendiri kurang dihargai. Kecenderungannya ialah menghargai karakteristik kelompok-kelompok arus utama yang berstatus tinggi dan tidak menghargai karakteristik kelompok lain.  

Pada saat anak-anak memasuki sekolah, mereka telah menyerap banyak aspek budaya di tempat mereka dibesarkan, seperti bahasa, keyakinan, sikap, cara berperilaku, dan kesukaan akan makanan. Lebih tepat lagi kebanyakan anak dipengaruhi beberapa budaya, dalam pengertian bahwa kebanyakan adalah anggota banyak kelompok yang tumpang tindih. Latar belakang budaya masing-masing anak dipengaruhi oleh suku bangsa, status sosio ekonomi, agama, bahasa keluarga, jenis kelamin, dan identitas serta pengalaman kelompok lain.

Banyak perilaku yang terkait dengan pengasuhan budaya tertentu mempunyai konsekuensi penting bagi pengajaran di ruang kelas. Misalnya sekolah mengharapkan siswa berbicara dalam bahasa Inggris standar. Hal ini mudah dilakukan siswa dari keluarga yang menggunakan bahasa Inggris standar, tetapi sulit dilakukan bagi siswa yang keluarganya menggunakan bahasa lain atau dialek bahasa Inggris yang cukup berbeda. Sekolah juga mengharapkan siswa sangat fasih berbahasa lisan, menghabiskan kebanyakan waktunya bekerja mandiri, dan bersaing dengan siswa lain untuk memperoleh nilai yang baik dan penghargaan. Namun, banyak budaya yang meletakkan nilai yang lebih tinggi pada kerja sama dan orientasi teman sebaya daripada kemandirian dan daya saing. Karena budaya sekolah mencerminkan nilai-nilai kelas menengah arus utama dan karena kebanyakan guru berasal dari latar belakang kelas menengah, anak dari budaya yang berbeda sering tidak diuntungkan. Pemahaman akan latar belakang siswa sangat berperan penting untuk mengajarkan dengan efektif bahan akademis maupun perilaku dan harapan sekolah.

B.    Pengaruh Perbedaan Bahasa terhadap Pencapaian Akademik Peserta Didik

Di Indonesia tentu terdapat masalah perbedaan bahasa. Misalnya seperti ada peserta didik dari luar Indonesia yang mengikuti orang tuanya bekerja di Indonesia. Bahasa Ibu (bahasa utama) adalah bahasa Inggris. Untuk menyelesaikan masalah ini, pemerintah menyediakan sekolah-sekolah dengan taraf Internasional, sehingga mereka tetap bisa belajar dengan ‘bahasa Ibu’ mereka yaitu bahasa Inggris. Sehingga pada sekolah yang bertaraf Internasional itu juga menerapkan sistem pendidikan dwibahasa.

 

Istilah pendidikan dwibahasa mencakup pengajaran konten akademik dalam dua bahasa, dalam bahasa asli dan bahasa sekunder dengan jumlah variasi dari setiap bahasa yang digunakan sesuai dengan model program. Pelajar bahasa Inggris biasanya diajari salah satu jenis program. Jenis-jenis program tersebut adalah:

1.     Penggunaan Bahasa Inggris

Dalam jenis program ini, semua siswa tetap menggunakan bahasa Inggris namun siswa-siswanya dibedakan dalam dua kelompok menurut tingkat kemahiran, yaitu kelompok siswa dengan tingkat kemahiran tinggi dan kelompok siswa dengan tingkat kemahiran rendah.

2.     Pendidikan Dwibahasa Peralihan

Pilihan yang lazim tetapi makin berkurang bagi siswa yang memiliki kemampuan bahasa tingkat tinggilah pendidikan dwibahasa peralihan, yaitu program di mana anak-anak diajarkan pelajaran membaca atau mata pelajaran lain dalam bahasa utama mereka selama beberapa tahun kemudian dialihkan ke bahasa Inggris.

3.     Pendidikan Dwibahasa Berpasangan

Dalam model ini dwibahasa berpasangan anak-anak diajarkan pelajaran membaca atau mata pelajaran lain dalam bahasa Inggris, biasanya dalam waktu yang berbeda pada waktu itu.

4.     Pendidikan Dwibahasa Dua Arah

Dalam model ini, siswa yang mahir bahasa Spanyol juga diajarkan bahasa Inggris, dan siswa yang mahir bahasa Inggris juga diajarkan bahasa Spanyol.

 

C.    Pendidikan Multikultural

1.     Pengertian Pendidikan Multikultural

Pendidikan multikultural adalah sebuah pendekatan
pengajaran dan pembelajaran yang didasarkan atas nilai-nilai
demokratis yang mendorong berkembangnya pluralisme budaya;

dalam hampir seluruh bentuk komprehensifnya. Pendidikan
multikultural merupakan sebuah komitmen untuk meraih
persamaan pendidikan, mengembangkan kurikulum yang
menumbuhkan pemahaman tentang kelompok-kelompok etnik
dan memberangus praktik-praktik penindasan. 

Menurut pendapat Blum, pendidikan multibudaya sarat
dengan penghargaan, penghormatan dan kebersamaan dalam
suatu komunitas yang majemuk. Lebih lanjut Blum menegaskan
bahwa pendidikan multibudaya meliputi sebuah pemahaman,
penghargaan dan penilaian atas budaya seseorang, dan sebuah
penghormatan dan keingintahuan tentang budaya etnis orang
lain.

Secara singkat pendidikan multikultural dapat diartikan sebagai proses pengembangan sikap, tata laku menghargai
perbedaan serta keragaman dan penghargaan terhadap
budaya lain.

 

2.      Tujuan Pendidikan Multikultural

Tujuan pendidikan dengan berbasis multikultural dapat
diidentifikasi:

a.      untuk memfungsikan peranan sekolah dalam memandang
keberadaan siswa yang beraneka ragam;

b.     untuk membantu siswa dalam membangun perlakuan yang
positif terhadap perbedaan kultural, ras, etnik, kelompok
keagamaan.

c.      memberikan ketahanan siswa dengan cara mengajar mereka
dalam mengambil keputusan dan keterampilan sosialnya.

d.     untuk membantu peserta didik dalam membangun
ketergantungan lintas budaya dan memberi gambaran positif
kepada mereka mengenai perbedaan kelompok.

 

3.     Dimensi dalam Pendidikan Multikultural

James Banks menjelaskan bahwa pendidikan
multikultural memiliki lima dimensi yang saling berkaitan dan dapat membantu guru dalam mengimplementasikan beberapa program yang mampu merespon terhadap perbedaan pelajar (siswa), yaitu:

a.      Dimensi integrasi isi/materi (content integration). Dimensi ini
digunakan oleh guru untuk memberikan keterangan dengan
“poin kunci” pembelajaran dengan merefleksi materi yang
berbeda-beda. Secara khusus, para guru menggabungkan
kandungan materi pembelajaran ke dalam kurikulum dengan
beberapa cara pandang yang beragam. Salah satu pendekatan
umum adalah mengakui kontribusinya, yaitu guru-guru bekerja ke dalam kurikulum mereka dengan membatasi fakta tentang semangat kepahlawanan dari berbagai kelompok. Di samping itu, rancangan pembelajaran dan unit pembelajarannya tidak dirubah. Dengan beberapa pendekatan, guru menambah beberapa unit atau topik secara khusus yang berkaitan dengan materi multikultural.

 

b.     Dimensi konstruksi pengetahuan (knowledge construction). Suatu dimensi dimana para guru membantu siswa untuk memahami beberapa perspektif dan merumuskan kesimpulan yang dipengaruhi oleh disiplin pengetahuan yang mereka miliki. Dimensi ini juga berhubungan dengan pemahaman para pelajar terhadap perubahan pengetahuan yang ada pada diri mereka sendiri.

 

 

c.      Dimensi pengurangan prasangka (prejudice ruduction). Guru
melakukan banyak usaha untuk membantu siswa dalam
mengembangkan perilaku positif tentang perbedaan
kelompok. Sebagai contoh, ketika anak-anak masuk sekolah
dengan perilaku negatif dan memiliki kesalahpahaman
terhadap ras atau etnik yang berbeda dan kelompok etnik
lainnya, pendidikan dapat membantu siswa mengembangkan
perilaku intergroup yang lebih positif, penyediaan kondisi
yang mapan dan pasti. Dua kondisi yang dimaksud adalah
bahan pembelajaran yang memiliki citra yang positif tentang
perbedaan kelompok dan menggunakan bahan pembelajaran
tersebut secara konsisten dan terus-menerus. Penelitian
menunjukkan bahwa para pelajar yang datang ke sekolah
dengan banyak stereotipe, cenderung berperilaku negatif dan
banyak melakukan kesalahpahaman terhadap kelompok etnik dan ras dari luar kelompoknya. Penelitian juga menunjukkan
bahwa penggunaan teksbook multikultural atau bahan
pengajaran lain dan strategi pembelajaran yang kooperatif
dapat membantu para pelajar untuk mengembangkan perilaku
dan persepsi terhadap ras yang lebih positif. Jenis strategi dan
bahan dapat menghasilkan pilihan para pelajar untuk lebih
bersahabat dengan ras luar, etnik dan kelompok budaya lain.

 

d.     Dimensi pendidikan yang sama/adil (equitable pedagogy).
Dimensi ini memperhatikan cara-cara dalam mengubah
fasilitas pembelajaran sehingga mempermudah pencapaian
hasil belajar pada sejumlah siswa dari berbagai kelompok.
Strategi dan aktivitas belajar yang dapat digunakan sebagai
upaya memperlakukan pendidikan secara adil, antara lain
dengan bentuk kerjasama (cooperatve learning), dan bukan dengan cara-cara yang kompetitif (competition learning). Dimensi ini juga menyangkut pendidikan yang dirancang untuk membentuk lingkungan sekolah, menjadi banyak jenis kelompok, termasuk kelompok etnik, wanita, dan para pelajar dengan kebutuhan khusus yang akan memberikan pengalaman pendidikan persamaan hak dan persamaan memperoleh kesempatan belajar.

 

 

e.      Dimensi pemberdayaan budaya sekolah dan struktur sosial
(empowering school culture and social structure). Dimensi ini penting dalam memperdayakan budaya siswa yang dibawa ke sekolah yang berasal dari kelompok yang berbeda. Di samping itu, dapat digunakan untuk menyusun struktur sosial (sekolah)
yang memanfaatkan potensi budaya siswa yang beranekaragam sebagai karakteristik struktur sekolah setempat, misalnya berkaitan dengan praktik kelompok, iklim sosial, latihanlatihan, partisipasi ekstra kurikuler dan penghargaan staf dalam merespon berbagai perbedaan yang ada di sekolah.

D.    Pengaruh Gender dan Ketidakadilan Gender terhadap Pengalaman Sekolah

Menurut Sri Marjani, gender adalah pembagian peran, kedudukan dan tugas antara laki-laki dan perempuan yang ditetapkan oleh masyarakat berdasarkan sifat perempuan dan laki-laki yang dianggap pantas menurut norma-norma, adat istiadat, kepercayaan atau kebiasaan masyarakat. Jati diri seorang pria ditentukan oleh kemampuannya. Pria akan membanggakan diri atas kemampuan memecahkan masalah atau menyelesaikan sebuah pekerjaan, sedangkan perempuan lebih mementingkan rasa kepedulian, integritas dan nilai-nilai yang lebih
personal menduduki dan kepedulian untuk melayani.

Banyak perbedaan yang diamati antara laki-laki dan perempuan jelas terkait dengan perbedaan sosialisasi dini, ketika anak-anak mempelajari perilaku peran jenis kelamin yang dianggap sebagai sesuatu yang tepat. Riset yang sedang berlangsung memperlihatkan sedikit perbedaan gender di ruang kelas, termasuk perilaku guru yang tidak begitu terlihat terhadap siswa laki-laki dan perempuan dan bahkan kurikulum yang berisikan stereotip peran jenis kelamin, jelas telah mempengaruhi pilihan dan pencapaian siswa. Salah satu hasilnya ialah kesenjangan gender dalam matematika, dan ilmu pengetahuan alam, walaupun kesenjangan ini telah berkurang terus-menerus.

BAB III

KESIMPULAN

A.    Kesimpulan

1.     Dampak budaya terhadap pengajaran dan pembelajaran yaitu terdapat beberapa kecenderungannya ialah  menghargai karakteristik kelompok-kelompok arus utama yang berstatus tinggi dan tidak menghargai karakteristik kelompok lain.

2.     Pengaruh perbedaan bahsa terhadap pencapaian akademik peserta didik, dalam masalah perbedaan bahasa pemerintah menyediakan sekolah-sekolah dengan taraf Internasional dan membuat program pendidikan dwibahasa.

3.     Pendidikan multikultural adalah pendekatan
pengajaran dan pembelajaran yang didasarkan atas nilai-nilai
demokratis yang mendorong berkembangnya pluralisme budaya;
dalam hampir seluruh bentuk komprehensifnya.

4.     Pengaruh gender dan ketidakadilan gender terhadap pengalaman sekolah menimbulkan adanya kesenjangan antara lawan jenis sebab peran yang berbeda.

B.    Saran

Penulisan makalah ini tentu masih banyak kekurangannya, maka dari itu penulis dengan senang hati apabila ada materi yang belum tercatat untuk memberikan masukannya. Terima kasih. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern

  Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern Pendahuluan Ketika arus modernisasi menghujani dunia Islam, proses modern...