BAB I
PENDAHULUAN
1)
Latar Belakang Masalah
Jika berbicara mengenai psikologi maka berkaitan dengan banyak hal
termasuk ke pendidikan. Pendidikan sendiri merupakan hal yang paling dekat
dengan jiwa manusia dan pendidikan yang paling bisa menyelamatkan seseorang
dari berbagai kendala dan juga masalah. Psikologi pendidikan sebenarnya
merupakan dasar modal dari sebuah perilaku dan juga sikap pada manusia. Dengan
adanya ruang lingkup psikologi pendidikan, maka banyak anak dan juga siswa
karena proses pembelajaran yang berjalan dengan baik dan sesuai dengan karakter
masing-masing siswa.
Implikasi psikologi belajar bagi peserta didik mencakup banyak hal,
salah satunya seperti guru dapat melihat bagaimana siswa belajar dalam proses
pengajaran dan pembelajaran. Untuk lebih dalamnya, makalah ini akan membahas
bagaimana implikasi psikologi belajar bagi peserta didik.
2)
Rumusan Masalah
1)
Bagaimana dampak budaya terhadap pengajaran dan pembelajaran?
2)
Bagaimana pengaruh perbedaan bahasa
terhadap pencapaian akademik peserta didik?
3)
Apa yang dimaksud dengan pendidikan multikultural?
4)
Bagaimana pengaruh gender dan
ketidakadilan gender terhadap pengalaman sekolah?
3)
Tujuan Penulisan
1) Memahami dampak budaya terhadap
pengajaran dan pembelajaran.
2) Memahami pengaruh
perbedaan bahasa terhadap pencapaian akademik peserta didik.
3) Memahami pengertian pendidikan
multikultural.
4) Memahami pengaruh
gender dan ketidakadilan gender terhadap pengalaman sekolah.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Dampak Budaya terhadap Pengajaran dan Pembelajaran
1.
Pengertian Budaya
Budaya
atau kebuyaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu budhayah, yang
merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal); diartikan sebagai
hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan akal manusia. Bentuk lain dari kata
kultur yang berasal dari Bahasa Inggris yaitu culture dan bahasa Latin cultura.
Budaya
adalah suatu cara pandang hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh
sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya
terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat
istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya, seni.
Contoh
keragaman budaya Indonesia diantaranya, bahasa, rumah adat, pakaian adat,
tarian dan pertunjukan senjata tradisional lagu daerah, upacara adat dan
lain-lain.
2.
Pengertian Pengajaran
Pengajaran
adalah suatu cara bagaimana mempersiapkan pengalaman belajar bagi peserta
didik. Dengan kata lain pengajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh para
guru dalam membimbing, membantu, dan mengarahkan peserta didik untuk memiliki
pengalaman belajar.
3.
Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran
adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada
suatu lingkungan belajar yang meliputi guru dan peserta didik yang saling
bertukar informasi.
4.
Perbedaan antara Pengajaran dan Pembelajaran
|
No |
Pengajaran |
Pembelajaran |
|
1 |
dilaksanakan oleh mereka yang
berprofesi sebagai pengajar. |
dilaksanakan oleh mereka yang
dapat membuat orang belajar. |
|
2 |
tujuannya menyampaikan informasi
kepada peserta didik. |
tujuannya agar terjadi proses
belajar peserta didik. |
|
3 |
merupakan salah satu penerapan
strategi pembelajaran. |
merupakan cara untuk mengembangkan
rencana yang terorganisasi untuk keperluan belajar. |
|
4 |
kegiatan belajar berlangsung bila
ada guru atau pengajar. |
kegiatan belajar dapat berlangsung
dengan atau tanpa hadirnya guru. |
5.
Dampak Budaya pada pengajaran dan pembelajaran
Pada suatu kelompok akan ditemukan perbedaan
budaya, yang merujuk pada norma, tradisi, perilaku, bahasa, dan persepsi.
Memikirkan perbedaan budaya sebagai perbedaan bangsa, terdapat banyak keragaman
budaya di setiap negara dan bangsa industri lain. Namun, meskipun demikian
menghargai perbedaan budaya antarbangsa, perbedaan dalam masyarakat sendiri
kurang dihargai. Kecenderungannya ialah menghargai
karakteristik kelompok-kelompok arus utama yang berstatus tinggi dan tidak
menghargai karakteristik kelompok lain.
Pada
saat anak-anak memasuki sekolah, mereka telah menyerap banyak aspek budaya di
tempat mereka dibesarkan, seperti bahasa, keyakinan, sikap, cara berperilaku,
dan kesukaan akan makanan. Lebih tepat lagi kebanyakan anak dipengaruhi
beberapa budaya, dalam pengertian bahwa kebanyakan adalah anggota banyak
kelompok yang tumpang tindih. Latar belakang budaya masing-masing anak
dipengaruhi oleh suku bangsa, status sosio ekonomi, agama, bahasa keluarga,
jenis kelamin, dan identitas serta pengalaman kelompok lain.
Banyak perilaku yang terkait dengan pengasuhan budaya tertentu
mempunyai konsekuensi penting bagi pengajaran di ruang kelas. Misalnya sekolah
mengharapkan siswa berbicara dalam bahasa Inggris standar. Hal ini mudah dilakukan siswa dari keluarga yang
menggunakan bahasa Inggris standar, tetapi sulit dilakukan bagi siswa yang
keluarganya menggunakan bahasa lain atau dialek bahasa Inggris yang cukup
berbeda. Sekolah juga mengharapkan siswa sangat fasih berbahasa lisan,
menghabiskan kebanyakan waktunya bekerja mandiri, dan bersaing dengan siswa
lain untuk memperoleh nilai yang baik dan penghargaan. Namun, banyak budaya
yang meletakkan nilai yang lebih tinggi pada kerja sama dan orientasi teman
sebaya daripada kemandirian dan daya saing. Karena budaya sekolah mencerminkan
nilai-nilai kelas menengah arus utama dan karena kebanyakan guru berasal dari
latar belakang kelas menengah, anak dari budaya yang berbeda sering tidak
diuntungkan. Pemahaman akan latar belakang siswa sangat berperan penting untuk
mengajarkan dengan efektif bahan akademis maupun perilaku dan harapan sekolah.
B.
Pengaruh Perbedaan Bahasa terhadap Pencapaian Akademik Peserta
Didik
Di
Indonesia tentu terdapat masalah perbedaan bahasa. Misalnya seperti ada peserta
didik dari luar Indonesia yang mengikuti orang tuanya bekerja di Indonesia.
Bahasa Ibu (bahasa utama) adalah bahasa Inggris. Untuk menyelesaikan masalah
ini, pemerintah menyediakan sekolah-sekolah dengan taraf Internasional,
sehingga mereka tetap bisa belajar dengan ‘bahasa Ibu’ mereka yaitu bahasa
Inggris. Sehingga pada sekolah yang bertaraf Internasional itu juga menerapkan
sistem pendidikan dwibahasa.
Istilah
pendidikan dwibahasa mencakup pengajaran konten akademik dalam dua bahasa,
dalam bahasa asli dan bahasa sekunder dengan jumlah variasi dari setiap bahasa
yang digunakan sesuai dengan model program. Pelajar bahasa Inggris biasanya
diajari salah satu jenis program. Jenis-jenis program tersebut adalah:
1.
Penggunaan Bahasa Inggris
Dalam
jenis program ini, semua siswa tetap menggunakan bahasa Inggris namun
siswa-siswanya dibedakan dalam dua kelompok menurut tingkat kemahiran, yaitu
kelompok siswa dengan tingkat kemahiran tinggi dan kelompok siswa dengan tingkat
kemahiran rendah.
2.
Pendidikan Dwibahasa Peralihan
Pilihan
yang lazim tetapi makin berkurang bagi siswa yang memiliki kemampuan bahasa
tingkat tinggilah pendidikan dwibahasa peralihan, yaitu program di mana
anak-anak diajarkan pelajaran membaca atau mata pelajaran lain dalam bahasa
utama mereka selama beberapa tahun kemudian dialihkan ke bahasa Inggris.
3.
Pendidikan Dwibahasa Berpasangan
Dalam
model ini dwibahasa berpasangan anak-anak diajarkan pelajaran membaca atau mata
pelajaran lain dalam bahasa Inggris, biasanya dalam waktu yang berbeda pada
waktu itu.
4.
Pendidikan Dwibahasa Dua Arah
Dalam
model ini, siswa yang mahir bahasa Spanyol juga diajarkan bahasa Inggris, dan
siswa yang mahir bahasa Inggris juga diajarkan bahasa Spanyol.
C.
Pendidikan Multikultural
1.
Pengertian Pendidikan Multikultural
Pendidikan
multikultural adalah sebuah pendekatan
pengajaran dan pembelajaran yang didasarkan atas
nilai-nilai
demokratis yang mendorong berkembangnya pluralisme
budaya;
dalam hampir seluruh bentuk komprehensifnya.
Pendidikan
multikultural merupakan sebuah komitmen untuk meraih
persamaan pendidikan, mengembangkan kurikulum yang
menumbuhkan pemahaman tentang kelompok-kelompok
etnik
dan memberangus praktik-praktik penindasan.
Menurut pendapat Blum, pendidikan
multibudaya sarat
dengan
penghargaan, penghormatan dan kebersamaan dalam
suatu
komunitas yang majemuk. Lebih lanjut Blum menegaskan
bahwa
pendidikan multibudaya meliputi sebuah pemahaman,
penghargaan
dan penilaian atas budaya seseorang, dan sebuah
penghormatan
dan keingintahuan tentang budaya etnis orang
lain.
Secara singkat pendidikan multikultural
dapat diartikan sebagai proses pengembangan sikap, tata laku menghargai
perbedaan
serta keragaman dan penghargaan
terhadap
budaya
lain.
2.
Tujuan Pendidikan Multikultural
Tujuan pendidikan dengan berbasis multikultural dapat
diidentifikasi:
a. untuk memfungsikan peranan
sekolah dalam memandang
keberadaan siswa yang beraneka ragam;
b. untuk membantu siswa dalam
membangun perlakuan yang
positif terhadap perbedaan kultural, ras, etnik, kelompok
keagamaan.
c. memberikan ketahanan siswa
dengan cara mengajar mereka
dalam mengambil keputusan dan keterampilan sosialnya.
d. untuk membantu peserta didik
dalam membangun
ketergantungan lintas budaya dan memberi gambaran positif
kepada mereka mengenai perbedaan kelompok.
3.
Dimensi dalam Pendidikan
Multikultural
James Banks menjelaskan bahwa pendidikan
multikultural memiliki lima dimensi yang saling berkaitan dan dapat membantu
guru dalam mengimplementasikan beberapa program yang mampu merespon terhadap
perbedaan pelajar (siswa), yaitu:
a. Dimensi integrasi isi/materi (content
integration). Dimensi ini
digunakan oleh guru untuk memberikan keterangan dengan
“poin kunci” pembelajaran dengan merefleksi materi yang
berbeda-beda. Secara khusus, para guru menggabungkan
kandungan materi pembelajaran ke dalam kurikulum dengan
beberapa cara pandang yang beragam. Salah satu pendekatan
umum adalah mengakui kontribusinya, yaitu guru-guru bekerja ke dalam kurikulum
mereka dengan membatasi fakta tentang semangat kepahlawanan dari berbagai
kelompok. Di samping itu, rancangan pembelajaran dan unit pembelajarannya tidak
dirubah. Dengan beberapa pendekatan, guru menambah beberapa unit atau topik
secara khusus yang berkaitan dengan materi multikultural.
b. Dimensi konstruksi
pengetahuan (knowledge construction). Suatu dimensi dimana para guru
membantu siswa untuk memahami beberapa perspektif dan merumuskan kesimpulan
yang dipengaruhi oleh disiplin pengetahuan yang mereka miliki. Dimensi ini juga
berhubungan dengan pemahaman para pelajar terhadap perubahan pengetahuan yang
ada pada diri mereka sendiri.
c. Dimensi pengurangan prasangka
(prejudice ruduction). Guru
melakukan banyak usaha untuk membantu siswa dalam
mengembangkan perilaku positif tentang perbedaan
kelompok. Sebagai contoh, ketika anak-anak masuk sekolah
dengan perilaku negatif dan memiliki kesalahpahaman
terhadap ras atau etnik yang berbeda dan kelompok etnik
lainnya, pendidikan dapat membantu siswa mengembangkan
perilaku intergroup yang lebih positif, penyediaan kondisi
yang mapan dan pasti. Dua kondisi yang dimaksud adalah
bahan pembelajaran yang memiliki citra yang positif tentang
perbedaan kelompok dan menggunakan bahan pembelajaran
tersebut secara konsisten dan terus-menerus. Penelitian
menunjukkan bahwa para pelajar yang datang ke sekolah
dengan banyak stereotipe, cenderung berperilaku negatif dan
banyak melakukan kesalahpahaman terhadap kelompok etnik dan ras dari luar
kelompoknya. Penelitian juga menunjukkan
bahwa penggunaan teksbook multikultural atau bahan
pengajaran lain dan strategi pembelajaran yang kooperatif
dapat membantu para pelajar untuk mengembangkan perilaku
dan persepsi terhadap ras yang lebih positif. Jenis strategi dan
bahan dapat menghasilkan pilihan para pelajar untuk lebih
bersahabat dengan ras luar, etnik dan kelompok budaya lain.
d. Dimensi pendidikan yang
sama/adil (equitable pedagogy).
Dimensi ini memperhatikan cara-cara dalam mengubah
fasilitas pembelajaran sehingga mempermudah pencapaian
hasil belajar pada sejumlah siswa dari berbagai kelompok.
Strategi dan aktivitas belajar yang dapat digunakan sebagai
upaya memperlakukan pendidikan secara adil, antara lain
dengan bentuk kerjasama (cooperatve learning), dan bukan dengan cara-cara
yang kompetitif (competition learning). Dimensi ini juga menyangkut
pendidikan yang dirancang untuk membentuk lingkungan sekolah, menjadi banyak
jenis kelompok, termasuk kelompok etnik, wanita, dan para pelajar dengan
kebutuhan khusus yang akan memberikan pengalaman pendidikan persamaan hak dan
persamaan memperoleh kesempatan belajar.
e. Dimensi pemberdayaan budaya
sekolah dan struktur sosial
(empowering school culture and social structure). Dimensi ini penting dalam
memperdayakan budaya siswa yang dibawa ke sekolah yang berasal dari kelompok
yang berbeda. Di samping itu, dapat digunakan untuk menyusun struktur sosial (sekolah)
yang memanfaatkan potensi budaya siswa yang beranekaragam sebagai karakteristik
struktur sekolah setempat, misalnya berkaitan dengan praktik kelompok, iklim
sosial, latihanlatihan, partisipasi ekstra kurikuler dan penghargaan staf dalam
merespon berbagai perbedaan yang ada di sekolah.
D.
Pengaruh Gender dan Ketidakadilan
Gender terhadap Pengalaman Sekolah
Menurut
Sri Marjani, gender adalah pembagian peran, kedudukan dan tugas antara laki-laki dan perempuan yang ditetapkan oleh masyarakat berdasarkan sifat perempuan dan laki-laki
yang dianggap pantas menurut norma-norma, adat istiadat, kepercayaan atau kebiasaan masyarakat. Jati diri seorang pria ditentukan oleh kemampuannya. Pria akan membanggakan diri atas kemampuan memecahkan masalah atau menyelesaikan sebuah pekerjaan, sedangkan perempuan lebih mementingkan rasa kepedulian, integritas dan nilai-nilai yang lebih
personal menduduki dan kepedulian untuk melayani.
Banyak perbedaan yang diamati antara laki-laki dan perempuan jelas terkait dengan perbedaan sosialisasi dini, ketika anak-anak mempelajari perilaku peran jenis kelamin yang dianggap sebagai sesuatu yang tepat. Riset yang sedang berlangsung memperlihatkan sedikit perbedaan gender di ruang kelas, termasuk perilaku guru yang tidak begitu terlihat terhadap siswa laki-laki dan perempuan dan bahkan kurikulum yang berisikan stereotip peran jenis kelamin, jelas telah mempengaruhi pilihan dan pencapaian siswa. Salah satu hasilnya ialah kesenjangan gender dalam matematika, dan ilmu pengetahuan alam, walaupun kesenjangan ini telah berkurang terus-menerus.
BAB III
KESIMPULAN
A.
Kesimpulan
1.
Dampak budaya terhadap pengajaran dan pembelajaran yaitu terdapat
beberapa kecenderungannya ialah menghargai karakteristik kelompok-kelompok arus utama yang
berstatus tinggi dan tidak menghargai karakteristik kelompok lain.
2.
Pengaruh perbedaan bahsa terhadap pencapaian akademik peserta
didik, dalam masalah perbedaan bahasa pemerintah menyediakan sekolah-sekolah dengan
taraf Internasional dan membuat program pendidikan dwibahasa.
3. Pendidikan multikultural adalah pendekatan
pengajaran dan pembelajaran yang didasarkan atas
nilai-nilai
demokratis yang mendorong berkembangnya pluralisme
budaya; dalam hampir seluruh bentuk komprehensifnya.
4.
Pengaruh gender dan ketidakadilan gender terhadap pengalaman
sekolah menimbulkan adanya kesenjangan antara lawan jenis sebab peran yang
berbeda.
B.
Saran
Penulisan makalah ini tentu masih banyak kekurangannya, maka dari
itu penulis dengan senang hati apabila ada materi yang belum tercatat untuk
memberikan masukannya. Terima kasih. J

Tidak ada komentar:
Posting Komentar