BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Islam di Indonesia baik secara geografis maupun sosiologi sangat
kompleks, terdapat banyak masalah, misalnya tentang sejarah dan perkembangan
awal Islam. Oleh karena itu, para ahli sejarah sering berbeda pendapat. Harus
diakui bahwa penulisan sejarah Indonesia di awali oleh golongan orientalis yang
sering ada usaha untuk meminimalisasi peran Islam, di samping usaha para
sarjana Muslim yang ingin mengemukakan fakta sejarah yang lebih jujur.
Perlu di ketahui, banyak sekali teori dan informasi yang berbeda mengenai
pembawa Islam ke Nusantara. Antara satu pendapat dengan pendapat lain memiliki
argument dan bukti yang kuat. Karena itu, sangat sulit untuk langsung
membenarkan salah satu dari beberapa pendapat tersebut sebelum kita benar-benar
mengkajinya secara mendalam. Sebab, setiap teori tentang masuknya Islam ke
Nusantara memiliki buktinya sendiri-sendiri.
Dalam makaah ini akan di bahas beberapa teori dan bukti masuknya
Islam ke Nusantara.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa
saja teori yang membawa Islam ke Nusantara?
2.
Bukti
apa yang di dapat dari teori masuknya Islam ke Nusantara?
C.
Tujuan
Kepenulisan
Tujuan kepenulisan ini adalah agar pembaca dapat mengetahui
teori-teori masuknya Islam ke Nusantara dan bukti teori yang ada.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Teori-teori tentang Asal Usul Islam di Nusantara
Suatu kenyataan
bahwa kedatangan Islam ke Indonesia dilakukan secara damai. Berbeda dengan
penyebaran Islam di Timur Tengah yang dalam beberapa kasus disertai dengan
“kekerasan” oleh militer Muslim melalui penaklukan-penaklukan (fath).
Islam dalam batas tertentu disebarkan oleh pedagang, kemudian dilanjutkan oleh
para guru agama (da’i) dan pengembara sufi. Orang yang terlibat dalam kegiatan
dakwah pertama itu tidak bertendensi apapun selain bertanggung jawab menunaikan
kewajiban tanpa pamrih, sehingga nama mereka berlalu begitu saja. Tidak ada
catatan sejarah atau prestasi pribadi yang sengaja dibuat mereka untuk
mengabdikan peran mereka, ditambah lagi wilayah Indonesia yang sangat luas
dengan perbedaan kondisi dan situasi.
Oleh karena itu, wajar kalau terjadi perbedaan tentang kapan, dari
mana, dan di mana pertama kali Islam datang ke nusantara. Namun, secara garis
besar perbedaan pendapat itu dapat dibagi menjadi sebagai berikut.[1]
a.
Teori Gujarat
Teori pertama
yang menjelaskan tentang masuknya Islam ke Nusantara dikenal dengan nama “teori
Gujarat”. Teori ini menyatakan bahwa Islam dibawa oleh para pedagang Gujarat
yang berniaga ke Nusantara pada abad ke-13 M. teori ini di kemukakan oleh
tokoh-tokoh Barat, seperti Pijnapped, G.W.J Drewes, dan dikembangkan oleh
Snouck Hurgronje. Untuk memperkuat teori ini, Snouck Hurgronje mendasarkan
pendapatnya pada tiga alasan, yakni:[2]
1.
Kurangnya
fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebaran Islam di Indonesia.
2.
Hubungan
dagang Indonesia dengan India telah lama terjalin melalui jalur Indonesia –
Cambay – Timur Tengah – Eropa.
3.
Ditemukannya
inskripsi tertua tentang Islam yang terdapat di Sumatra pada tahun 1297 M.
Inskripsi tersebut memberikan gambaran tentang hubungan antara Sumatera dengan
Gujarat. Sebab, inskripsi itu bercorak khas Gujarat. Adapun inskripsi itu
berupa batu nisan Sultan Samudra Pasai, yaitu Malik as-Shaleh.
Itulah tiga
alasan yang dikemukakan oleh para pendukung teori ini untuk memperkuat pendapat
mereka. Dengan tiga alasan tersebut, maka teori masuknya Islam dari Gujarat
dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Selain Snouck Hurgronje, teori ini
juga didukung atau diperkuatkan oleh Bernard H.M Vlekke, J.P Moquetta, dan W.F
Stutterheim. Mereka, para ahli pendukung teori Gujarat, lebih memusatkan
perhatian pada timbulnya kekuasaan politik Islam, yaitu adanya Kerajaan Samudra
Pasai.[3]
Kebenaran teori
Gujarat juga diperkuat oleh pengakuan seorang pelancong dan penjelajah asal
Venesia, Italia, bernama Marco Polo. Ia adalah salah satu warga Italia yang
populer di dunia, terutama di Asia, karena merupakan warga Eropa pertama yang
menjelajah sampai ke Asia Timur Jauh, yang pengalamannya tercacat dalam buku
yang mengisahkan perjalanan Marco Polo. Dari keterangan Marco Polo yang pernah
singgah di Perlak (Perureula) tahun 1292, di Perlak sudah banyak penduduk yang
memeluk Islam, dan banyak pedagang Islam dari India yang menyebarkan ajaran
Islam.
Ada beberapa
kelemahan dari teori Gujarat sehingga tidak bisa dijadikan sumber final tentang
masuknya Islam ke Nusantara, diantaranya:
1.
Tidak
dijelaskan antara masuk dan berkembangnya Islam
2.
Kerjaan
Samudra Pasai menganut Mazhab Syafi’I, sedangkan Gujarat adalah penganut Mazhab
Hanafi.[4]
3.
Ketika
Islamisasi Samudra Pasai, Gujarat masih merupakan kerajaan Hindu. Barulah
setahun kemudian, Gujarat ditaklukkan oleh kekuasaan muslim.[5]
b.
Teori Makkah
Teori ini
merupakan sanggahan terhadap teori Gujarat, yaitu teori Makkah/Arabia. Menurut
teori ini, Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-7 M dibawa oleh para pedagang
Arab, bukan Gujarat. Pendapat ini didukung oleh mayoritas sejarawan, salah
satunya adalah Buya Hamka. Menurut mayoritas sejarawan, pembawa Islam ke
Nusantara adalah para pedagang Arab, khususnya kaum Alawiyyin dari Hadramaut.
Teori ini juga di pegang oleh para sejarawan Barat, seperti van Luer, T.W.
Arnold, Crawfurd, Niemann, dan de Hollander.
Buya Hamka
menyatakan adanya bukti berupa tulisan dalam berita Dinasti Tang yang
menginformasikan tentang wirausahawan Arab yang sudah mendiami Pantai Barat
Sumatera sejak abad ke-7. Pada ke-7 telah terjadi kontrak bisnis kapur barus
antara penduduk Nusantara dengan saudagar Arab.
Teori Makkah
pernah dikukuhkan dalam sebuah seminar tahun 1962 di Medan tentang masuknya
Islam di Indonesia. Adapun para penduduknya waktu itu adalah para sejarawan
Indonesia yang di wakili oleh Nauqib al-Attas, Hamka, A. Hasjim, dan M. Yunus
Jamil; serta sejarawan Asing, antar lain Niemann, De Holander, Keyzer,
Crawfurd, dan Vesth. Adapun yang menjadi landasan dari teori Makkah ini adalah
sebagai berikut:
1.
Sebagaimana
yang dinyatakan oleh Buya Hamka, pada abad ke-7 sekitar tahun 674-M di Pantai
Barat Sumatera sudah terdapat perkampungan Islam (Arab). Diperkirakan, pedagang
Arab sudah mendirikan perkampungan di Kanton sejak abad ke-4. Bukti ini sesuai
dengan berita dari Tiongkok.
2.
Terkait
dengan berdirinya kerajaan Islam pertama di Nusantara, yakni Samudra Pasai.
Para pendukung teori Makkah mendasarkan pendapatannya pada fakta bahwa Kerajaan
Samudra Pasai menganut aliran Mazhab Syafi’I yang terbesar pada waktu itu
adalah Mesir dan Makkah. Sementara, Gujarat atau India adalah penganut Mazhab
Hanafi. Para pendukung teori ini berkesimpulan bahwa tidak mungkin Islam dibawa
oleh pedagang Gujarat yang bermazhab Hanafi.
3.
Terkait
dengan gelar bagi raja-raja Samudra Pasai. Perlu diketahui, para raja Samudra
Pasai menggunakan gelar al-Malik. Nha, gelar tersebut sejatinya berasal dari
Mesir. Ini semakin memperkuat fakta bahwa Islam berasal dari Makkah.
Itulah tiga landasan argumentative para pendukung teori Makkah.
Dengan tiga alasan itu, sudah jelas bahwa teori Makkah meruntuhkan teori
Gujarat. Para ahli mendukung teori ini- seperti Hamka, Van Leur, dan T.W.
Arnold- menyatakan bahwa pada abad ke-13 sudah berdiri kekuatan politik Islam. Jadi,
masuknya Islam ke Nusantara terjadi jauh sebelumnya, yaitu abad ke-7. Dan, yang
berperan besar terhadap proses penyebaran Islam adalah bangsa Arab sendiri.
Meskipun demikian, teori Makkah tidak luput dari kelemahan.
Keberhasilannya meruntuhkan teori Gujarat tidak menutup pintu kelemahan teori
ini, yaitu kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam
penyebaran agama Islam di Indonesia.
Walaupun teori Makkah memiliki kekuatan argumentasi yang dapat
dipertanggung jawabkan secara ilmiah, tetapi para sejarawan Indonesia cukup
terbuka memberi catatan bahwa interaksi penduduk Nusantara dengan kaum muslim
yang berasal dari Timur India juga menjadi faktor penting dalam penyebaran
Islam di Nusantara. Itu menandakan bahwa orang-orang India juga berperan dalam
penyebaran Islam, mesipun bukan merekalah yang membawa Islam ke Nusantara
pertama kali, melainkan orang-orang Arab.[6]
c.
Teori Persia
Teori yang ketiga ini dikenal sebagai teori Persia. Bila dilihat
dari waktu masuknya Islam ke Nusantara, teori ini berpendapat sama dengan teori
Gujarat, yakni Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-13. Namun, teori Persia
berbeda perihal asal usul dari pembawanya. Menurut teori ini, orang yang
membawa Islam ke Nusantara berasal dari Persia (Iran).
Teori Persia didukung oleh Umar Amir Husen dan Hoesein
Djajadiningrat. Adapun landasan argumentatif para pendukung teori ini adalah
sebagai berikut:
a.
Adanya
peringatan 10 Muharram atau Asyura atas meninggalnya Hasan dan Husein, cucu
Nabi Muhammad saw. seperti diketahui, peringatan 10 Muharram sangat dijunjung
oleh orang Syiah/Islam Iran. Di Sumatra Barat, peringatan ini disebut upacara
Tabuik/Tabut.
b.
Adanya
kesamaan ajaran sufi yang dianut Syekh Siti Jenar dengan sufi dari Iran, yaitu
Al-Hallaj. Seperti tercatat dalam buku-buku sejarah dan tasawuf, kedua sufi
tersebut memiliki banyak kesamaan, baik dari segi ajaran hingga kematiannya.
c.
Adanya
penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf Arab untuk
tanda-tanda bunyi harakat.
d.
Ditemukannya
makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik pada tahun 1419.
e.
Adanya
perkampungan Leren/Leran di Giri daerah Gresik. Leren adalah nama salah satu
pendukung teori ini, yaitu Umar Amir Husen dan Hoesein Djajadiningrat.
Itulah lima alasan[7]
yang digunakan para pendukung teori Persia untuk memperkuat teorinya. Dengan
mengemukakan lima alasan tersebut, para pendukung teori ini bersepakat bahwa
Islam di Nusantara tidak berasal dari Gujarat atau Arab/Makkah, tetapi dari
Persia.
Namun sayangnya, teori Persia tidak
cukup kuat untuk meruntuhkan teori Makkah. Mengapa? Sebab, apabila fakta Islam
masuk ke Nusantara pada abad ke-7 dijadikan pedoman, hal ini berarti terjadi
pada masa kekuasaan Khalifah Umayyah. Sedangkan saat itu, kepemimpinan Islam di
bidang politik, ekonomi, dan kebudayaan berada di Makkah, Madinah, Damaskus,
dan Baghdad. Jadi, saat itu Persia belum menduduki kepemimpinan dunia Islam.
Dengan alasan ini, maka teori Persia pun terbantahkan.
d.
Teori Tiongkok
Teori Tiongkok
dikembangkan oleh Hamka dan sejarawan Tionghoa, Kong Yuanzhi. Teori ini
bersumber dari dua buku utama yang amat populer di kalangan sejarawan Barat dan
Timur, yakni buku yang ditulis oleh Ma Huan (Ying-yai Sheng-lan/Pemandangan
Indah di Seberang Samudra, 1436) dan Fei Hsin (Hsing-Ch’a
Sheng-lan/Menikmati Pemandangan Indah dengan Rakit Sakti, 1436), yang
menyertai perjalanan Cheng Ho (muslim Tionghoa) ke berbagai daerah di Asia,
termasuk Nusantara. Selain itu, Sumanto Al Qurtuby, dalam bukunya Arus
Cina-Islam-Jawa, menyatakan bahwa menurut kronik masa Dinasti Tang (618-960),
di daerah Kanton, Zhang zhao, Quanzhou, dan pesisir Tiongkok bagian selatan,
telah terdapat sejumlah pemukiman Islam.[8]
Bukti-bukti
lain yang dijadikan dasar pemikiran para pendukung teori Tiongkok adalah
sebagai berikut:
a.
Fakta
bahwa telah terjadi perpindahan orang-orang Islam dari Canton (Tiongkok) ke
Asia Tenggara (Kedah ke Palembang) sekitar tahun 879.
b.
Terkait
dengan keberadaan raja pertama kerajaan Islam di tanah Jawa, yakni Raden Patah.
Seperti diketahui, Raden Patah merupakan raja pertama Kerajaan Demak yang
merupakan keturunan Tionghoa.
c.
Adanya
Hikayat Hasanudin dan sejarah Banten. Dalam hikayat itu, nama dan gelar
raja-raja Demak ditulis menggunakan istilah Tiongkok, seperti, “Cek Ko Po”,
“Jin Bun”, “Cek Ban Cun”, “Cun Ceh”, serta “Cu-cu”. Nama-nama seperti “Munggul”
dan “Moechoel” ditafsirkan merupakan kata lain dari Monggol, sebuah wilayah di
utara Tiongkok yang berbatasan dengan Rusia.
d.
Keberadaan
masjid-masjid tua berarsistektur Tiongkok di Pulau Jawa.[9]
e.
Fakta
tentang pelabuhan-pelabuhan pada abad ke-15 di Gresik diduduki pertama-tama
oleh pedagang Tionghoa. Hal ini dapat ditelusuri pada catatan-catatan Tiongkok.[10]
BAB III
PENUTUPAN
A.
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat penulis simpulkan bahwa, teori
masuknya Islam adalah sebagai berikut:
1.
Teori
Gujarat, teori ini menyatakan bahwa Islam di bawa oleh para pedagang Gujarat
yang berniaga ke Nusantara pada abad ke-13 M. Teori ini dikemukakan oleh
tokoh-tokoh barat, seperti Pijnappel, G.W.J Drewes, dan dikembangkan oleh
Snouck Hurgronje.
2.
Teori
Makkah, teori ini mengatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-7 M
yang dibawa oleh para pedagang Arab, bukan Gujarat. Teori ini didukung oleh
mayoritas sejarawan, seperti Buya Hamka.
3.
Teori
Persia, teori ini berpendapat sama dengan teori Gujarat, yakni Islam masuk ke
Nusantara pada abad ke-13. Namun, teori ini berbeda perihal asal usul dari
pembawaannya. Menurut teori ini, orang yang membawa Islam ke Nusantara berasal
dari Persia (Iran).
4.
Teori
Tiongkok, teori ini dikembangkan oleh Hamka dan sejarawan Tionghoa, Kong
Yuanzhi. Teori ini bersumber dari dua buku utama yang amat populer di kalangan
sejarawan Barat dan Timur. yakni buku yang ditulis oleh Ma Huan (Ying-yai
Sheng-lan/Pemandangan Indah di Seberang Samudra, 1436) dan Fei Hsin (Hsing-Ch’a
Sheng-lan/Menikmati Pemandangan Indah dengan Rakit Sakti, 1436), yang
menyertai perjalanan Cheng Ho (muslim Tionghoa) ke berbagai daerah di Asia,
termasuk Nusantara.
B.
Saran
Dalam makalah ini masih perlu banyak di kembangkannya dari
sumber-sumber yang ada. Semoga pembaca dapat mengambil pelajaran dari
pembahasan di atas.
Daftar Pustaka
Aizid Rizem, 2016, Sejarah Islam
Nusantara, Yogyakarta, DIVA Press.
Yusqi M, Ishom, 2015, Mengenal
Konsep Islam Nusantara,Jakarta, Pustaka STAINU.
[1] Prof. Dr. M.
Isom Yusqi, dkk, Mengenal Konsep Islam Nusantara,(Pustaka STAINU,
Jakarta, 2015) hal. 13
[2] Ustadz Rizem
Aizid, Sejarah Islam Nusantara(Diva Press, Yogyakarta, 2016) hal. 16
[3] Ustadz Rizem
Aizid, Sejarah Islam Nusantara…………………..hal. 17
[4] Ustadz Rizem
Aizid, Sejarah Islam Nusantara………….hal. 18
[5] Ustadz Rizem
Aizid, Sejarah Islam Nusantara………….hal. 19
[6] Ustadz Rizem
Aizid, Sejarah Islam Nusantara………….hal. 22
[7] Ustadz Rizem
Aizid, Sejarah Islam Nusantara………….hal. 23
[8] Ustadz Rizem
Aizid, Sejarah Islam Nusantara………….hal. 24
[9] Ustadz Rizem
Aizid, Sejarah Islam Nusantara………….hal. 25
[10] Ustadz Rizem
Aizid, Sejarah Islam Nusantara………….hal. 27
Tidak ada komentar:
Posting Komentar