Rabu, 04 Agustus 2021

Makalah Pengertian Ilmu Akhlak

 


BAB I

PENDAHULUAN

 

1.     Latar belakang

Akhlak merupakan satu hal yang penting bagi kehidupan manusia, maka dari itu akhlak tasawuf hadir untuk menjadikan salah satu khazanah intelektual Muslim yang kehadirannya hingga saat ini semakin dirasakan. Secara historis dan teologis Akhlak Tasawuf tampil mengawal dan memandu perjalanan hidup umat manusia agar selamat dunia dan akhirat. Tidaklah berlebihan jika misi utama kerasulan Muhammad saw adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, dan sejarah mencatat bahwa factor pendiking keberhasilan dakwah beliau itu diantara lain karena dukungan akhlaknya yang prima, hingga hal ini dinyatakan oleh Allah dalam al-Qur’an.

 

2.     Rumusan masalah

Apa pengertian akhlak tasawuf?

 

3.     Tujuan penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai sarana pembaca lebih memahami tentang akhlak tasawuf serta segala uraiannya.

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Ilmu Akhlak

 

Ada dua pendekatan yang dapat digunakan untuk mendefinisikan akhlak, yaitu pendekatn linguistik (kebahasaan), dan pendekatan terminologi (peristilahan).

 

Dari sudut kebahasaan, akhlak berasal dari bahasa Arab, yakni isim mashdar (bentuk infinitif) dari kata akhlaqa, yukhliqu, ikhlaqan, sesuai dengan timbangan (wazan) tsulasi majid af'ala, yuf'ilu, if'alan. Yang berarti al-sajiyah (perangai), ath-thabi'ah (kelakuan, tabiat, watak dasar), al-'adat (kebiasaan, kelaziman), al-maru'ah (peradaban yang baik), dan ad-din (agama).

 

Namun, akar kata akhlak dari kata akhlaq sebagaimana tersebut di atas tampaknya kurang pas, sebab isim mashdar dari kata akhlaqa bukan akhlaq tetapi ikhlaq. Berkenaan dengan ini maka timbul pendapat yang mengatakan bahwa secara linguistik (bahasa) kata akhlaq merupakan isim jamid atau isim ghair mustaq, yaitu isim yang tidak memiliki akar kata, melainkan kata tersebut memang sudah demikian adanya.  Kata akhlaq adalah jamak dari kata khilqun atau khulqun yang artinya sama dengan arti akhlaq sebagaimana telah di sebutkan di atas.  Baik kata akhlaq atau khuluq kedua-duanya di jumpai[1] pemakaiannya baik dalam al-Quran maupun hadis, sebagai berikut:

 

وانك لعلى خلق عظيم (4)                                                                                     

 

Artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)

 

 

 

 

 

ان هذ الا خلق الاولين (137)                                                                      

 

Artinya: “ (Agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan yang dahulu.” (QS. Al-Syu’ara: 137)

 

اكمل المؤمنين ايما نا احسنهم خلقا (رواه الترمذى)                                                                 

 

Artinya: “ Orang mukmin yang paling sempurna keimananya adalah orang sempurna budi pekertinya.” (HR. Tirmidzi)

 

انما بعثت لاتمم مكا رم الاخلا ق (رواه احمد )                                                                        

 

Artinya: “Bahwasannya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan keluhuran budi pekerti” (HR. Ahmad)

 

 Pada ayat pertama disebut diatas menggunakan kata khuluq untuk arti budi pekerti, sedangkan ayat yang kedua menggunakan kata akhlak untuk arti adat kebiasaan. Selanjutnya hadis yang pertama menggunakan kata khuluq untuk arti budi pekerti, dan hadis yang kedua menggunakan kata akhlak yang juga digunakan untuk arti budi pekerti. Dengan demikian kata akhlaq atau khuluq secara kebahasaan berarti budi pekerti, adat kebiasaan, perangai, muru’ah atau segala sesuatu yang sudah menjadi tabi’at. Pengertian akhlak dari sudut kebahasaan ini dapat membantu kita dalam menjelaskan pengertian akhlak dari segi istilah. [2]

Untuk menjaskan pengertian akhlak dari segi istilah ini kita dapat merujuk kepada berbagai pendapat para pakat di bidang ini.

 

 

 

 

 

Ibn Maskawih (w. 421/ 1030 M) yang selanjutnya dikenal sebagai pakar bidang akhlak terkemuka dan terdahulu misalnya secara singkat mengatakan, bahwa akhlak adalah:

 

حال للنفس داعية لها الى افعالها من غير فكر ولا روية                                          

Sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

 

Sementara itu Imam Al-Ghazali (1059-1111 M) yang selanjutnya di kenal sebagai Hujjatul Islam (Pembela Islam), karena kepiawannya dalam membela Islam dari berbagai paham yang dianggap menyesatkan, dengan agaknya lebih luas dari Ibn Miskawaih, mengatakan, akhlak adalah:

 

عبا رة عن هيثة فى النفس راسخة عنها تصدر الافعال بسهو لة ويسر من غير حاجة الى فكر ورؤية

Sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.[3]

 

Keseluruhan definisi akhlak tersebut di atas tampak tidak ada yang bertentangan, melainkan memiliki kemiripan antara satu dan yang lainnya. Definisi-definisi akhak tersebut secara subtansial tampak saling melengkapi, dan darinya kita dapat melihat lima ciri yang terdapat dalam perbuatan akhlak.

a.      Pertama, perbuatan akhlak yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang, sehingga telah menjadi kepribadiannya.

b.     Kedua, perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah dan tanpa pemikiran.[4]

c.      Ketiga, bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar.

d.     Keempat, bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan kesungguhan, bukan main-main atau karena sandiwara.

e.      Kelima, sejalan dengan ciri yang keempat, perbuatan akhlak (khususnya akhlak yang baik) adalah perbuatan yang dilakukan karena ikhlas semata-mata karena Allah, bukan karena ingin di puji orang atau karena ingin mendapatkan suatu pujian. [5]

 

Dalam perkembangan selanjutnya akhlak tumbuh menjadi suatu ilmu yang berdiri senidri, yaitu ilmu yang memiliki ruang lingkup pokok bahasan, tujuan, rujukan, aliran dan para tokoh yang mengembangkannya. Kesemua aspek yang terkandung dalam akhlak ini kemudian membentuk satu kesatuan yang saling berhubungan dan membentuk suatu ilmu. Dalam Da’iratul Ma’arif, ilmu akhlak adalah,

1.     Ilmu tentang keutamaan-keutamaan dan cara mengikutinya hingga terisi dengannya dan tentang keburukan dan cara menghindarinya hingga jiwa kosong darinya.

2.     Ilmu yag objek pembahasannya adalah tentang nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatan manusia yang dapat di sifatkan dengan baik atau buruk.[6]

 

B.    Tujuan mempelajari Akhlak

Menurut Ahmad Amin, tujuan dari mempelajari ilmu akhlak dan permasalahannya menyebabkan kita dapat menetapkan sebagian perbuatan lainnya sebagai yang baik dan sebagian perbuatan lainnya sebgai yang buruk. Sedangkan menurut Mustafa Zahri mengatakan bahwa tujuan perbaikan akhlak itu ialah untuk membersihkan kalbu dari kotoran-kotoran nafsu dan amarah sehingga menjadi suci.[7]

 

C.    Pengertian Tasawuf

            Dari segi bahasa terdapat sejumlah kata atau istilah yang di hubung-hubungkanpara ahli untuk menjelaskan kata tasawuf. Harun Nasition misalnya menyebutkan lima istilah yang berkenaan dengan tasawuf,yaitu al-suffah (ahl al-suffah ),(orang yang ikut pindah dengan Nabi dari Makkah ke madinah), saf (barisan), sufi (suci),sophos (bahasa Yunani : hikmat), dan suf (kain wol).[8]

Keseluruhan kata ini bisa-bisa saja di hubungkan dengan tasawuf. Kata ahl-suffah (orang yang ikut pindah dengan Nabi dari Makkah ke Madinah) misalnya menggambarkan keadaan orang yang rela mencurahkan jiwa raganya, harta benda dan lain sebagainya hanya untuk Allah. Mereka ini rela meninggalkan kampung halamannya, rumah, kekayaan, harta benda lainnya di Makkah untuk hijrah bersama Nabi ke Madinah. Tanpa ada unsur iman dan kecintaan pada Allah, tak mungkin mereka melakukan hal yang demikian.

Selanjutnya kata saf juga menggambarkan orang yang selalu berada di barisan dengan dalam beribadah kepada Allah dan melakukan amal kebajikan. Demikian pula kata sufi (suci) menggambarkan orang yang selalu memelihara dirinya dari berbuat dosa dan maksiat, dan kata suf (kain wol) menggambarkan orang yang hidup sederhana dan tidak mementingkan dunia. Dan kata sophos (bahasa Yunani) menggambarkan keadaan dan jiwa yang sanantiasa cenderung kepada keberadaan.

            Dari segi linguistik (kebahasaan)ini segera dapat dipahami bahwa tasawuf adalah sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana,rela berkorban untuk kebaikan dan selalu bersikap bijaksana.sikap jiwa yang demekian itu pada hakikatnya adalah akhlak yang mulia.

            Adapun pengertian tasawuf dari segi istilah atau pendapat para ahli amat bergantung kepada sudut pandang yang digunakannya masing-masing,selama ini ada tiga sudut pandang yang digunakan para ahli untuk mendefinisikan tasawuf,yaitu sebagai sudut pandang manusia sebagai makhluk terbatas,manusia sebagai makhluk yang berjuang,dan manusia sebagai makhluk yang ber-Tuhan.jika dilihat dari sudut pandang manusia sebagai makhluk yang terbatas ,maka tasawuf dapat di definisikan sebagai upaya mensucikan diri dengan cara menjauhkan pengaruh kehidupan dunia,dan memusatkan perhatian hanya kepada Allah SWT.

 

D.    Pengertian Akhlak Tasawuf

Hubungan antara Ilmu Akhlak dan Ilmu Tasawuf lebih lanjut dapat kita ikuti uraian yang diberikan oleh Harun Nasution. Menurutnya ketika mempelajari tasawuf ternyata pula dalam al-Qur’an dan hadis mementingkan akhlak. Al-Qur’an dan hadis menekankan nilai-nilai kejujuran, kesetiakawanan, persaudaraan, rasa kesosialan, keadilan, tolong-menolong, murah hati dan  nilai-nilai luhur lainnya. Nilai-nilai ini yang harus dimiliki oleh seorang muslim dan di masukan ke dalam diri dari semasa ia kecil.[9]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

a.      Kesimpulan

Dari pembahasan di atas, dapat penulis simpulkan bahwa akhlak tasawuf merupakan satu kesatuan utuh budi pekerti yang tertanam jiwa demi meraih kesucian jiwa. Yang pada hakikatnya nanti melahirkan nila-nilai akhlak yang mulia.

 

b.     Saran

Dalam pembuatan makalah ini memang banyak media materi yang dapat di ambil dari sumber lain. Tugas menyusun makalah ini jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu penulis sangat mengharapkan masukan, saran, dan kritik yang bersifat membangun agar dapat menggarap tugas selanjutnya hingga selesai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Nata, H. Abudin. 2015. Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia. Jakarta. PT. RajaGrafindo Persada.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, (Jakarta, PT. RajaGrasindo, 2015), hal.1

[2] Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia………..hal.2

[3] Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia………..hal. 3

[4] Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia………..hal. 4

[5] Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia………..hal.5

[6] Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia………..hal.6

[7] Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia………..hal.11

[8] Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia………..hal.154

[9] Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia………..hal.16

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern

  Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern Pendahuluan Ketika arus modernisasi menghujani dunia Islam, proses modern...