Rabu, 04 Agustus 2021

KORELASI ANTARA EKONOMI DAN PENDIDIKAN

 


BAB I

PENDAHULUAN 

1.1 Latar Belakang

Dalam suatu negara, setiap sektor tentu tidak bisa berdiri sendiri, artinya antara satu sektor dengan sektor lainnya saling mempunyai hubungan keterkaitan. Hal itu pula yang terjadi pada sektor ekonomi serta pendidikan di Indonesia. Keduanya tidak terlepas dari adanya proses pembangunan, di mana dalam proses tersebut terdapat konsep yang menganggap bahwa manusia adalah modal yang bisa menginvestasikan diri, salah satunya melalui pendidikan formal maupun informal.

Pada kenyataannya, masih ada ketidakseimbangan yang menyebabkan pembangunan nasional suatu negara terhambat. Penulis mengetahui sendiri sebagaimana yang banyak terjadi saat ini, di mana keadaan ekonomi yang tidak memadai menjadi alasan masih banyaknya masyarakat yang berpendidikan rendah. Kemudian, rendahnya tingkat pendidikan tersebut membuat masyarakat kesulitan memperbaiki kondisi ekonomi sehingga terus terjebak dalam kemiskinan.

Secara umum, dapat dinyatakan bahwa faktor utama yang mendukung proses pembangunan adalah tingkat pendidikan masyarakat. Dalam proses tersebut didasari pertimbangan bahwa cara yang paling efisien dalam melakukan pembangunan nasional suatu negara terletak pada peningkatan kemampuan masyarakatnya —pendidikan termasuk di dalamnya.[1]

Pembangunan adalah suatu proses yang mempunyai tujuan utama yakni untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk, kesejahteraan yang dimaksud menyangkut aspek penurunan tingkat kemiskinan dan pemerataan pendapatan yang diterima penduduk. Dalam hal ini tingkat kemiskinan menjadi tolok ukur utama kesejahteraan penduduk, artinya bahwa semakin tinggi tingkat kemiskinan mencerminkan tingkat kesejahteraan yang semakin memburuk, dan sebaliknya. Konsep kemiskinan yang digunakan di Indonesia mengacu pada pendekatan pengeluaran yang didasarkan pada kebutuhan dasar minimum (BPS, 2014).[2]

Oleh sebab itu, pendidikan yang rendah membuat seseorang cenderung tidak dapat bersaing dengan orang yang tingkat pendidikannya lebih tinggi. Peluang untuk dapat berpartisipasi dalam proses pembangunan lebih kecil disebabkan kurangnya pengetahuan, keterampilan, kreativitas, serta produktivitas. Sebaliknya, orang dengan tingkat pendidikan tinggi dinilai lebih mampu dan unggul.

Pada kenyataannya, hal tersebut tidak bisa menjadi jaminan. Melihat masih banyak orang berpendidikan tinggi menjadi seorang pengangguran yang tentunya memicu terbentuknya penduduk miskin. Itu berarti masalah kemiskinan yang menghambat laju pertumbuhan ekonomi bukan hanya disebabkan karena tingkat pendidikan masyarakat yang rendah, namun juga ketersediaan lapangan kerja yang timpang dengan jumlah penduduk.

Miskin artinya tidak sejahtera. Kaitannya dengan bidang ekonomi, seseorang dikatakan miskin jika pendapatannya tidak sesuai dengan pengeluaran, dengan kata lain kebutuhannya tidak terpenuhi. Selanjutnya, masih terdapat faktor lain yang mengganggu kesejahteraan masyarakat, yakni tindakan kriminal yang merupakan imbas dari adanya kebutuhan yang belum dapat terpenuhi. Kriminalitas merupakan tindakan yang bertentangan dengan norma, juga menjadi bukti perlunya menanamkan nilai moralitas dalam diri yang dapat diperoleh melalui proses pendidikan.


1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan maka dapat dirumuskan permasalahan yang menjadi fokus pembahasan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

1.     Bagaimana hubungan keterkaitan antara ekonomi dan pendidikan?

2.     Bagaimana mengatasi masalah ekonomi akibat rendahnya pendidikan?

 

1.3 Tujuan Pembahasan

Adapun yang menjadi tujuan dari pembahasan pada makalah ini adalah untuk menjelaskan hubungan antara ekonomi dan pendidikan dalam upaya pembangunan nasional. Sehingga, berdasarkan rumusan masalah yang telah dituliskan di atas, maka tujuan pembahasan makalah ini adalah sebagai berikut:

1.     Untuk mengetahui bagaimana hubungan keterkaitan antara ekonomi dan pendidikan.

2.     Untuk mengetahui bagaimana mengatasi masalah ekonomi akibat rendahnya pendidikan.

BAB II

TEORI

1. Kajian Teori

            Berikut adalah penjelasan dari beberapa teori yang penulis jadikan acuan dalam penulisan makalah ini. Salah satu hasil penelitian yang relevan dengan makalah ini adalah yang dilakukan oleh Widiansyah (2017) dengan judul penelitian “Peran Ekonomi dalam Pendidikan dan Pendidikan dalam Pembangunan Ekonomi” yang di dalamnya terdapat kesimpulan bahwa  ekonomi sangat dipengaruhi oleh pendidikan. Widiansyah (2017) menggunakan teori human capital mengenai konsep tentang investasi sumber daya manusia (human capital investment) yang dapat menunjang pertumbuhan ekonomi (economic growth) harus pula dibangun dan dikembangkan dari sebuah struktur dan sistem ekonomi yang mendukung munculnya pendidikan berkualitas.

            Selanjutnya adalah Subroto (2014) dalam penelitian yang berjudul “Hubungan Pendidikan dan Ekonomi: Perspektif Teori dan Empiris”. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan merupakan jalan menuju kemajuan dan mencapai kesejahteraan ekonomi maupun sosial. Menurut Subroto (2014), melalui proses pendidikan dapat dihasilkan sumber daya manusia yang berkualitas sehingga dapat berkontribusi dalam pembangunan ekonomi secara mandiri.

            Sulvia dan Nursalam (2020) dengan judul penelitian “Faktor Penyebab Rendahnya Tingkat Pendidikan Masyarakat di Desa Maabholu Kecamatan Loghia Kabupaten Muna” menyimpulkan hasil yang sejalan, yakni bahwa kondisi ekonomi keluarga yang rendah menjadi faktor rendahnya tingkat pendidikan.

            Penelitian lainnya yang dilakukan Parwa dan Yasa (2019) dalam penelitian berjudul “Pengaruh Tingkat Pendidikan dan Investasi terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan di Provinsi Bali” mengemukakan, pendidikan adalah faktor penting dalam pembangunan masa depan. Kemiskinan yang merupakan masalah ekonomi memiliki keterkaitan erat dengan pendidikan.

BAB III

PEMBAHASAN

 

1. Hubungan Keterkaitan antara Ekonomi dan Pendidikan

            Terdapat banyak faktor yang dibutuhkan manusia untuk melanjutkan keberlangsungan hidup, salah satunya adalah faktor kebutuhan. Melalui adanya kebutuhan manusia yang memang tidak terbatas, akhirnya timbul kegiatan ekonomi. Dalam kata lain, ekonomi adalah aktivitas manusia yang menjadikan keinginan seseorang untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai motif ekonomi itu sendiri.[3] Suatu negara tentu menginginkan sektor ekonomi yang maju dengan laju pertumbuhan ekonomi yang cepat pula.[4]

          Dengan kebutuhan ekonomi yang semakin hari semakin meningkat, faktor pendidikan yang akan membantu pertumbuhan ekonomi itu. Arti pendidikan bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia adalah guna menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang mempunyai kualitas tinggi. Melalui proses pendidikan, seseorang bisa lebih produktif, kreatif, serta terampil. Bahkan di negara-negara maju terdapat komitmen yang jelas dalam membangun sektor pendidikan.[5] Sebab tidak ada negara di dunia yang mengalami kemajuan pesat dengan dukungan SDM yang rendah pendidikannya.[6]

            Sebagaimana teori human capital yang mengasumsikan bahwa pendidikan merupakan instrumen terpenting untuk menghasilkan tatanan ekonomi yang memiliki produktifitas tinggi.[7] Dalam hal ini, konsep pendidikan bisa dikatakan sebagai sebuah investasi. Investasi adalah penanaman modal atau uang yang sengaja dilakukan untuk mendatangkan keuntungan melalui produk yang dihasilkan. Kaitannya dengan pendidikan, investasi mempunyai pengertian yang berbeda, yakni usaha manusia untuk membangun manusia itu sendiri dengan segala masalah yang terlepas dari dimensi waktu dan ruang. Hal ini berarti bahwa inti pendidikan itu adalah pembelajaran seumur hidup (life long learning).[8]

            Meski begitu, nyatanya ekonomi pun jadi faktor eksternal dari rendahnya tingkat pendidikan. Hal ini tentu berimbas pada kondidi ekonomi masyarakat itu sendiri pada masa yang akan datang. Orang yang berpenghasilan rendah cenderung kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pokok, terlebih biaya pendidikan. Agar kebutuhan pokoknya tetap terpenuhi, otomatis terjadi masalah pada pemenuhan biaya pendidikan.[9] Maka, selanjutnya yang terjadi adalah masyarakat tersebut akan tetap terjebak dalam masalah kemiskinan. Masalah kemiskinan adalah salah satu penyebab terhambatnya laju pertumbuhan ekonomi.

            Padahal seharusnya, fungsi ekonomi terhadap pendidikan adalah menunjang kelancaran proses pendidikan, bukan merupakan modal yang dikembangkan untuk mendapatkan keuntungan.[10] Namun yang terjadi justru sebaliknya. Apabila keadaan ini terus berlanjut, maka akan memicu timbulnya masalah ekonomi yang lain seperti pengangguran dan tindak kriminalitas yang semakin marak.

            Pendidikan merupakan jalan menuju kemajuan dan pencapaian kesejahteraan sosial dan ekonomi, sedangkan kegagalan membangun pendidikan akan melahirkan berbagai problem krusial: pengangguran, kriminalitas, penyalahgunaan narkoba, dan welfare dependency yang menjadi beban sosial politik bagi pemerintah.[11]

            Suatu penduduk dikategorikan miskin apabila ditandai dengan rendahnya tingkat pendidikan, produktivitas kerja, pendapatan, kesehatan dan gizi serta kesejahteraan hidupnya, yang menunjukkan lingkaran ketidakberdayaan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh terbatasnya sumber daya manusia yang ada, baik lewat jalur pendidikan formal maupun nonformal.[12] Pendidikan menjadi salah satu penyebab kemiskinan, oleh karenanya kemiskinan sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan.

            Pembangunan bidang pendidikan adalah aspek penting yang perlu dilakukan pemerintah untuk mengurangi kemiskinan. Melalui investasi bidang pendidikan maka akan mampu meningkatkan kualitas SDM, karena hal itu akan meningkatkan produktivitas, pengetahuan, dan keterampilan sesorang yang nantinya berpengaruh terhadap peningkatan dan pemerataan pendapatan sehingga pengurangan kemiskina dan keesejahteraan masyarakat juga akan ikut meningkat.[13]

            Semakin mantapnya perekonomian suatu bangsa maka mampu menekan tingkat kemiskinan dengan efektif, salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan mengalokasikan sebagian dana pemerintah untuk sarana pendidikan.[14] Kemiskinan harus dientaskan guna menciptakan masyarakat yang sejahtera sesuai dengan cita-cita pembangunan nasional.

             Selanjutnya, masalah ekonomi yang disebabkan karena rendahnya tingkat pendidikan adalah pengangguran. Pengangguran adalah seseorang yang sudah digolongkan dalam angkatan kerja yang secara aktif sedang mencari pekerjaan pada suatu tingkat upah tertentu, tetapi tidak dapat memperoleh pekerjaan yang diinginkan.[15] Bukan hanya ekonomi, melainkan sosial juga. Tingginya angka pengangguran disebabkan karena adanya ksenjangan antara jumlah penduduk dengan ketersediaan lapangan kerja. Persoalan pengangguran bukan sekedar bertumpu pada makin menyempitnya dunia kerja, tetapi juga rendahnya kualitas SDM (sumber daya manusia) yang dimiliki.[16]

            Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat bahwa jumlah angkatan kerja pada Februari 2020 sebanyak 137,91 juta orang, naik 1,73 juta orang dibanding Februari 2019. Dalam setahun terakhir, pengangguran bertambah 60 ribu orang, berbeda dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang turun menjadi 4,99 persen pada Februari 2020. Penduduk yang bekerja sebanyak 131,03 juta orang, bertambah 1,67 juta orang dari Februari 2019. Lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan persentase terutama jasa pendidikan (0,24 persen poin), konstruksi (0,19 persen poin), dan jasa kesehatan (0,13 persen poin).[17]

            Banyaknya angka pengangguran akan membuat tingkat kemiskinan semakin tinggi juga. Maka, di sini pendidikan berperan pula dalam upaya pengurangan pengangguran dengan cara menghasilkan sumber daya manusia[18] yang kompeten, sehingga dapat terbentuk masyarakat yang mandiri dalam ekonomi sebab sudah dibekali skill dan pengetahuan yang dapat digunakan sebagai penunjang, misalnya untuk mencari kerja atau justru menjadi entrepreneur.

             Hal ini berimbas munculnya masalah lain, yakni kriminalitas. Secara bahaasa, kriminalitas berasal dari kata crimen yang berrati kejahatan, tindak kriminal, atau juga diartikan suatu tindakan kejahatan, sehingga merupakan tindakan yang bersifat negatif.[19] Tidak sedikit pengangguran yang pada akhirnya melakukan tindakan yang melanggar norma akibat tuntutan kebutuhan. Ini sesuai dengan teori kebutuhan manusia yang berada dalam salah satu sumber referensi[20], dimana teori tersebut menjelaskan bahwa tindakan kriminal memang dapat terjadi karena kebutuhan manusia yang tidak  terpenuhi.

            Kemiskinan, pengangguran, dan kriminalitas bukan hanya dikatakan sebagai masalah ekonomi, tetapi juga sosial serta aspek kehidupan lainnya. Tingkat pendidikan yang memang mempunyai keterkaitan erat dengan ekonomi menjadi salah satu dari banyaknya faktor penyebab. Terlebih bagi mereka yang berada dalam kondisi ekonomi serba kekurangan sehingga pembiayaan untuk pendidikan tidak dapat terpenuhi.

2. Mengatasi Masalah Ekonomi Akibat Rendahnya Pendidikan

            Berbagai upaya telah dilakukan guna mengatasi masalah ekonomi yang ada. Tentunya hal tersebut menghambat proses pembangunan dan menjadi pemicu dari timbulnya masalah sosial, itu sebabnya perlu pemerataan pembangunan melalui pemberdayaan yang tepat sasaran.[21] Program-program bantuan beasiswa untuk anak masyarakat miskin dari pemerintah perlu ditingkatkan agar penduduk miskin yang kurang memiliki akses terhadap pendidikan dapat menikmati pendidikan tanpa harus memikirkan biaya pendidikan yang mahal.[22]

            Kebijakan pembangunan nasional memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dan strategis bagi pencapaian tujuan-tujuan pembangunan nasional. Keberhasilan pembangunan nasional tidak hanya ditentukan oleh peran pemerintah, tetapi harus juga didukung oleh peran swasta dan masyarakat sebagi stakeholders pembangunan.[23] Karena berbagai masalah didominasi akibat rendahnya kualitas sumber daya manusia, maka perlu dilakukan strategi pengembangan terkait hal itu. Di antaranya:

  1. Pelatihan dengan system costomized training, yaiti sistem pelatihan yang dirancang secara khusus untuk memenuhi kebutuhan dan harapan sipemberi kerja.
  2. Pembuatan bank keahlian sebagai bank informasi yang berisi data tentang keahlian dan latar belakang orang yang sedang mencari pekerjaan dan mendukung bagi perkembangan lembaga-lembaga pendidikan dan keterampilan di daerah.[24]

            Dalam hal ini, ekonomi berperan terbatas terhadap pendidikan. Antara lain:

1)     Pemenuhan keperluan pendidikan yang tidak dapat dibuat sendiri seperti prasarana dan sarana, media, alat peraga, dan sebagainya.

2)     Membiayai semua perlengkapan gedung, seperti air, listrik telpon. Membayar jasa dari segala kegiatan pendidikan.

3)     Mengembangkan individu yang berperilaku ekonomi, seperti; belajar hidup hemat.

4)     Memenuhi kebutuhan dasar para personalia pendidikan.

5)     Meningkatkan motivasi kerja pendidikan.[25]    

            Selanjutnya adalah upaya pemerintah dalam pengentasan masalah kemiskinan Di antaranya:

1. Perbaikan dan peningkatan akses pendidikan secara gratis adalah salah satu kunci mengatasi rendahnya tingkat pendidikan penduduk miskin. Selain akses pendidikan yang terbuka lebar, orientasi pendidikan harus diarahkan pada penciptaan lulusan sekolah yang mampu menjadi wirausaha yang pada gilirannya akan menciptakan lapangan kerja bukan hanya sekedar kerja (buruh).

2. Upaya pengentasan kemiskinan lebih difokuskan dengan memberi berbagai pelatihan guna peningkatan keahlian.

3. Perlu adanya partisipasi dari pemerintah dan masyarakat setempat dalam perencanaan maupun implementasi kebijakan pengentasan kemiskinan.[26]   

            Berikutnya, dalam mengupayakan pengurangan pengangguran ada beberapa bentuk upaya yang dapat dilakukan, yaitu sebagai berikut:

1. Peran pendidikan sangat berperan dalam menghasilkan sumber daya manusia yang kompeten. Agar para sumber daya manusia dapat dibekali pengetahuan dan skill yang dapat menunjang para pencari kerja mandiri dalam mencari kerja ataupun menjadi wiraswasta.

2. Pemerintah membuat pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan keterampilan para pencari kerja agar mampu mandiri dari ekonomi.

3. Pemerintah memperluas objek wisata di daerah yang berpotensi dalam pengembangan pariwisata. Hal tersebut dapat mengurangi pengagguran karena tenaga kerja pasti diperlukan. Selain itu, mendorong timbulnya jiwa kewirausahaan sehingga ke depannya masyarakat bisa lebih sejahtera.

4. Pemerintah harus mampu merangsang para investor untuk melakukan investasi di Indonesia. Investasi akan memperluas kesempatan kerja dan memperbaiki kesejahteraan masyarakat sebagai bentuk konsekuensi dari naiknya pendapatan yang diterima.[27]

            Sementara itu, kesempatan yang dapat dilakukan oleh dunia pendidikan dalam mendukung dan memperbaiki ekonomi dapat diukur dari:

1. Terciptanya angkatan kerja yang lebih produktif karena memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan yang lebih baik dan relevan dengan kebutuhan dunia usaha (industri).

2. Tersedianya kesempatan usaha yang lebih luas dalam upaya membangun dunia pendidikan yang lebih berkualitas.

3. Terciptanya kelompok pemimpin yang terdidik.

4. Tersedianya berbagai pembelajaran ekonomi yang berbasis pendidikan yang mendorong munculnya kemampuan dan kualitas output yang memiliki daya saing.[28]  

            Sektor pendidikan mempunyai peran penting untuk membuat negara berkembang memiliki sumber daya manusia yang berkualitas melalui peningkatan keterampilan dan penyerapan teknologi sehingga, dapat meningkatkan kapasitas produksi agar terjadinya pertumbuhan dan pembangunan yang berkelanjutan.[29] Pembangunan merupakan suatu proses yang tujuan utamanya untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk.[30]  Banyak program telah dibuat demi upaya pembangunan ekonomi nasional. Agar upaya tersebut dapat lebih berhasil, diperlukan partisipasi masyarakat, serta mengadakan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program.[31]


BAB IV

PENUTUP

 

1. Kesimpulan

            Antara ekonomi dan pendidikan memang terdapat korelasi yang kuat. Kondisi ekonomi seseorang sangat berpengaruh terhadap pendidikannya. Sebaliknya, tingkat pendidikan seseorang pun sangat berpengaruh terhadap ekonomi, baik bagi masyarakat itu sendiri maupun pembangunan ekonomi nasional. Banyaknya masalah ekonomi yang diakibatkan karena rendahnya tingkat pendidikan menyebabkan pembangunan ekonomi terhambat. Dalam hal ini, upaya untuk mengatasi masalah tersebut juga terus dilakukan, salah satunya dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan.

            Dalam upaya itu, perlu partisipasi dari pemerintah dan masyarakat. Sebab, masalah ekonomi, tidak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah tetapi juga warga negara. Untuk mengatasinya, perlu identifikasi dari masalah itu sendiri sehingga kebijakan yang dibuat pemerintah nantinya dapat lebih tepat sasaran.

 

Daftar Pustaka

 

 

Djadjuli, R. D. Peran Pemerintah dalam Pembangunan Ekonomi Daerah.

DP, M. K. (2017). Analisis Faktor-Faktor Penyebab Kemiskinan di Kabupaten Musi Banyuasin (Studi Kasus di Kecamatan Sungai Lilin). Jurnal Ilmiah Ekonomi Global Masa Kini, 8(01).

Franita, R. (2016). Analisis Pengangguran di Indonesia. Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial, 1.

Hia, Y. D. (2013). Strategi dan Kebijakan Pemerintah dalam Menanggulangi Pengagguran. Journal of Economic Education, 1(2).

Megasari, H., Amar, S., Idris. Analisis Perekonomian dan Kemiskinan di Indonesia. Belum diterbitkan.

Parwa, I. G. N. J. L. A., Yasa, I. G. W. M.  (2019). Pengaruh Tingkat Pendidikan dan Investasi terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan di Provinsi Bali. E-Jurnal EP Unud, 8(5).

Probosiwi, R. (2016). Pengangguran dan Pengaruhnya terhadap Tingkat Kemiskinan. Jurnal PKS, 15(2).

Purwanti, E. Y. (2019). Analisis Faktor Ekonomi yang Mempengaruhi Kriminalitas di Jawa Timur. Jurnal Ilmu Ekonomi, 9(2).

Sabiq, R. M. (n.d.). Dampak Pengagguran terhadap Tindakan Kriminal Ditinjau dari Perspektif Konflik. Jurnal Kolaborasi Resolusi Konflik, 3(1).

Subroto, G. (2014). Hubungan Pendidikan dan Ekonomi: Perspektif Teori dan Empiris. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 20(3).

Sulvia, W. O., Nursalam, L. O. (2020). Faktor Penyebab Rendahnya Tingkat Pendidikan Masyarakat di Desa Maabholu Kecamatan Loghia Kabupaten Muna. Jurnal Penelitian Pendidikan Geografi, 5(1).

Supiyanto, Y., Astuty, H. S., Unwanullah, A. (2020). Pengaruh Tingkat Pendidikan terhadap Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Desa Leran Wetan Kecamatan Palang Kabupaten Tuban Tahun 2017. Jurnal Oportunitas Unirow Tuban, 01(01).

Ubur, H. (2011). Upaya Penanggulangan Kemiskinan Melalui Pendekatan Proses (Studi Kasus Masyarakat Wudi Nusa Tenggara Timur). Aspirasi, 2(2).

Wibowo, E. (2008). Perencanaan dan Strategi Pembangunan di Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Kewirausahaan, 8(1).

Widiansyah, A. (2017). Peran Ekonomi dalam Pendidikan dan Pendidikan dalam Pembangunan Ekonomi. Cakrawala, XVII(2).



[1] Gatot Subroto, ”Hubungan Pendidkan dan Ekonomi: Perspektif Teori dan Empiris,” Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 20, No. 3, (2014), hlm. 391

[2] Ratih Probosiwi, ”Pengangguran dan Pengaruhnya terhadap Tingkat Kemiskinan,” Jurnal  PKS, Vol. 15, No. 2, (2016), hlm. 93

[3] Rafli Muhammad Sabiq, "Dampak Pengangguran terhadap Tindakan Kriminal Ditinjau dari Perspektif Konflik," Jurnal Kolaborasi Resolusi Konflik, Vol. 3, No. 1, hlm. 51

[4] I Gusti Ngurah Jana Loka Adi Parwa dan I Gusti Wayan Murjana Yasa, "Pengaruh Tingkat Pendidikan dan Investasi terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan di Provinsi Bali," E-Jurnal EP Unud, Vol. 8, No. 5, (2019), hlm. 952

[5] Yudi Supiyanto, Henny Sri Astuty, Arif Unwanullah, "Pengaruh Tingkat Pendidikan terhadap Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Desa Leran Wetan Kecamatan Palang Kabupaten Tuban Tahun 2017," Jurnal Oportunitas Unirow Tuban, Vol. 01, No. 01, (2020), hlm. 17

[6] Apriyanti Widiansyah, "Peran Ekonomi dalam Pendidikan dan Pendidikan dalam Pembangunan Ekonomi," Cakrawala, Vol. XVII, No. 2, (2017), hlm. 210

[7] Apriyanti Widiansyah, "Peran Ekonomi dalam Pendidikan dan Pendidikan dalam Pembangunan Ekonomi," Cakrawala, Vol. XVII, No. 2, (2017), hlm. 214

[8] Apriyanti Widiansyah, op. cit. hlm. 210

[9] Wa Ode Sulvia dan La Ode Nursalam, "Faktor Penyebab Rendahnya Tingkat Pendidikan Masyarakat di Desa Maabholu Kecamatan Loghia Kabupaten Muna," Jurnal Penelitian Pendidikan Geografi, Vol. 5, No. 1, (2020), hlm. 87

[10] Apriyanti Widiansyah, loc.cit. hlm. 210.

 

[11] Gatot Subroto, "Hubungan Pendidikan dan Ekonomi: Perspektif Teori dan Empiris," Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 20, No. 3, (2014), hlm. 392

[12] Ratih Probosiwi, "Pengangguran dan Pengaruhnya terhadap Tingkat Kemiskinan," Jurnal PKS, Vol. 15, No. 2, (2016), hlm. 93

[13] I Gusti Ngurah Jana Loka Adi Parwa dan I Gusti Wayan Murjana Yasa, "Pengaruh Tingkat Pendidikan dan Investasi terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan di Provinsi Bali," E-Jurnal EP Unud, Vol. 8, No. 5, (2019), hlm. 949

[14] Handayani Megasari, Syamsul Amar, dan Idris, "Analisis Perekonomian dan Kemiskinan di Indonesia," Belum diterbitkan hlm. 16.

 

[15] Ratih Probosiwi, "Pengangguran dan Pengaruhnya terhadap Tingkat Kemiskinan," Jurnal PKS, Vol. 15, No. 2, (2016), hlm. 91

[16] Yulna Dewita Hia, "Strategi dan Kebijakan Pemerintah dalam Menanggulangi Pengangguran," Journal of Economic and Economic Education, Vol. 1, No. 2, (2013), hlm. 212

[17] Rafli Muhammad Sabiq, "Dampak Pengangguran terhadap Tindakan Kriminal Ditinjau dari Perspektif Konflik," Jurnal Kolaborasi Resolusi Konflik, Vol. 3, No. 1, hlm. 52

[18] Riska Franita, "Analisis Pengangguran di Indonesia," Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial, Vol. 1, (2016), hlm. 92.

[19] Rafli Muhammad Sabiq, "Dampak Pengangguran terhadap Tindakan Kriminal Ditinjau dari Perspektif Konflik," Jurnal Kolaborasi Resolusi Konflik, Vol. 3, No. 1, hlm. 61

[20] Ratih Probosiwi, "Pengangguran dan Pengaruhnya terhadap Tingkat Kemiskinan," Jurnal PKS, Vol. 15, No. 2, (2016), hlm. 61

[21] Evi Yulia Purwanti, "Analisis Faktor Ekonomi yang Mempengaruhi Kriminalitas di Jawa Timur," Jurnal Ilmu Ekonomi, Vol. 9, No. 2, (2019), hlm. 174

[22] I Gusti Ngurah Jana Loka Adi Parwa dan I Gusti Wayan Murjana Yasa, "Pengaruh Tingkat Pendidikan dan Investasi terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan di Provinsi Bali," E-Jurnal EP Unud, Vol. 8, No. 5, (2019), hlm. 969 

 

[23] Edi Wibowo, "Perencanaan dan Strategi Pembangunan di Indonesia," Jurnal Ekonomi dan Kewirausahaan, Vol. 8, No. 1, (2008), hlm. 23

[24] R. Didi Djadjuli, "Peran Pemerintah dalam Pembangunan Ekonomi Daerah," hlm. 18.

[25] Apriyanti Widiansyah, "Peran Ekonomi dalam Pendidikan dan Pendidikan dalam Pembangunan Ekonomi," Cakrawala, Vol. XVII, No. 2, (2017), hlm. 210.

[26] Mohd. Kurniawan DP, "Analisis Faktor-Faktor Penyebab Kemiskinan di Kabupaten Musi Banyuasin (Studi Kasus di Kecamatan Sungai Lilin)," Jurnal Ilmiah Ekonomi Global Masa Kini, Vol. 8, No. 01, (2017), hlm. 19

[27] Riska Franita, "Analisis Pengangguran di Indonesia," Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial, Vol. 1, (2016), hlm. 92

[28] Apriyanti Widiansyah, "Peran Ekonomi dalam Pendidikan dan Pendidikan dalam Pembangunan Ekonomi," Cakrawala, Vol. XVII, No. 2, (2017), hlm. 214

[29] I Gusti Ngurah Jana Loka Adi Parwa dan I Gusti Wayan Murjana Yasa, "Pengaruh Tingkat Pendidikan dan Investasi terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan di Provinsi Bali," E-Jurnal EP Unud, Vol. 8, No. 5, (2019), hlm. 960

[30] Ratih Probosiwi, "Pengangguran dan Pengaruhnya terhadap Tingkat Kemiskinan," Jurnal PKS, Vol. 15, No. 2, (2016), hlm. 93 

[31] Hubertus Ubur, "Upaya Penanggulangan Kemiskinan Melalui Pendekatan Proses (Studi Kasus Masyarakat Wudi Nusa Tenggara Timur)," Aspirasi, Vol. 2, No. 2, (2011), hlm. 223

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern

  Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern Pendahuluan Ketika arus modernisasi menghujani dunia Islam, proses modern...