BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Virus
Corona (Covid-19) yang bermula dari Wuhan-China kini telah menyebar hampir
keseleruh penjuru dunia. Tercatat pada tanggal 2 Maret 2021 adanya kasus
positif Covid-19 pertama di Indonesia. Semakin berkembangnya virus tersebut,
pemerintah menetapkan berbagai macam protokol Kesehatan yang harus dipatuhi
seluruh warga. Mulai dari social distancing (menjaga jarak), menggunakan
masker, mencuci tangan dengan teratur, dan sebagainya. Dengan meningkatnya
Covid-19 menimbulkan dampak bagi perekonomian. International Monetary Fund
(IMF) menyebutkan perekonomian global telah jatuh ke dalam jurang krisis
setelah sekitar 95% negara di dunia diprediksi menderita pertumbuhan ekonomi
negatif. Pandemi juga menyebabkan kerugian perekonomian global sebesar 12
triliun dollar AS. Ekonomi merupakan salah satu faktor penting pada suatu
negara. Tingkat pertumbuhan dan perkembangan suatu negara dapat dilihat dari
indikator ekonominya. Setiap negara memiliki sistem dan tujuan ekonominya yang
berbeda-beda. Geoffrey Okamoto mengatakan
kembalinya ke pertumbuhan yang akan memakan waktu beberapa tahun, dan banyak
negara yang mungkin membutuhkan bantuan. “Masalah keberlanjutan utang menjadi
prioritas utama bagi pejabat IMF.” lanjutnya dalam sebuah seminar online.
1.2
Rumusan Masalah
Rumusan
masalah yang dapat disebutkan sesuai dengan latar belakang yang telah
dijelaskan adalah :
1) Apa
saja dampak yang ditimbulkan dari Covid-19 pada perekonomian?
2) Bagaimana
cara mengatasi dampak tersebut?
1.3
Tujuan Penelitian
Sesuai
dengan rumusan masalah yang telah diuraikan, karya tulis ini bertujuan sebagai
berikut :
1) Mengetahui
dampak-dampak yang ditimbulkan dari pandemi Covid-19 di bidang perekonomian
2) Mengetahui
hal-hal yang dilakukan untuk mengatasi dampak tersebut
BAB II
KAJIAN TEORI
World Health Organization (WHO) mendeklarasikan wabah Corona
Virus 2019- 2020 sebagai Kesehatan Masyarakat Darurat Internasional (PHEIC)
pada 30 Januari 2020, dan pandemi pada 11 Maret 2020. Covid-19 pertama
dilaporkan di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020 sejumlah dua kasus. 9 Data 31
Maret 2020 menunjukkan kasus yang terkonfirmasi berjumlah 1.528 kasus dan 136
kasus kematian.10 Tingkat mortalitas Covid-19 di Indonesia sebesar 8,9%, angka
ini merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara. (Yenti Sumarni 2020)
Dikutip
dari International Journal of Economics and Business Administration,
masalah pandemi merupakan ancaman global yang dapat terjadi di seluruh dunia.
Ancaman pandemi ini tidak bisa dipungkiri menyebabkan berbagai masalah baru
dalam berbagai aspek kehidupan, terutama dalam aspek ekonomi. Secara umum,
pandemi bukan hanya masalah Kesehatan masyrakat tetapi juga pemicu awal
munculnya krisis ekonomi dan politik diberbagai negara. (Prawoto, Purnomo, and Zahra 2020)
Berdasarkan
data dari situs situs resmi yaitu covid19.go.id, penderita yang terkonfirmasi
Covid-19 mencapai 179 juta dengan jumlah
meninggal 3.889.172. Sedangkan di Indonesia berdasarkan dari situs yang sama,
pasien positif mencapai 2.115.304 degan jumlah yang meninggal 57.138 dan yang
sembuh 1.850.481 orang.
Grafik Kasus Terkonfirmasi
Positif Covid-19 di Indonesia per hari
Source : covid.go.id
Grafik Kasus Sembuh di
Indonesia per hari
Source : covid.go.id
Grafik Kasus Meninggal di
Indonesia per hari
Source : covid.go.id
Jika mengacu pada jumlah kasus terkonfirmasi,
kematian, dan durasi wabah, Covid-19 memiliki dampak terburuk disbanding
pandemic lainnya. Berikut rangkuman kasus terinfeksi dari berbagai macam
pandemi.
Table 1. The Cases of Infection,
Death and Area Distribution of The Pandemic
of COVID-19 Compared by Other Pandemics
|
Pandemic |
Confirmed cases |
Confirmed death |
Area and started date |
Number
of countries, areas, or territories
with cases |
Time duration of cases |
|
COVID-19 (SARS-CoV-2) |
3679499 |
54199 |
Wuhan (China), 31 December 2019 |
215 |
December-May 2020 (temporary calculation) |
|
Middle East Respiratory Syndrome (MERS) |
2494 |
858 |
Saudi Arabia, April 2012 |
27 |
April 2012-Nov 2109 |
|
SARS |
8096 |
774 |
Vietnam,
26 February
2003 |
29 |
26 Feb – 31 Dec 2003 |
|
Ebola |
3462 |
2134 |
North Kivu Province, Democratic Republic of Congo |
Central and West Africa |
The
first outbreak in remote villages in Central Africa 1976, Outbreak in 2014- 2016 West Africa as complex and the largest
one |
Source: Authors’
compilation from World Health Organization
Berdasarkan hubungan pandemi
sebelumnya dengan ekonomi, kita dapat mengetahui bahwa pandemi menciptakan
eksternalitas negatif regional yang kuat. Prediksi menyatakan bahwa COVID-19
berdampak negatif baik secara global maupun negara pertumbuhan ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi China anjlok dari 6,1% (2019) menjadi 1,2% (2020), India
turun dari 4,2% menjadi 1,9%, ASEAN turun dari 4,8% menjadi -0,6%, Amerika
Serikat dari 2,3% menjadi -5,9%, Euro Area turun dari 1,2% menjadi -7,5%.
Jumlah prediksi tentang dampak Covid-19 terhadap perekonomian Indonesia
memberikan hasil yang sama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia
mengalami penurunan pertumbuhan, yaitu dari 5,02% dalam 2019 anjlok menjadi
-3,5% hingga 2,1% pada tahun 2020 menurut Bank Dunia, turun menjadi 2,5%
menurut Bank Pembangunan Asia, turun menjadi 3%, dan turun menjadi 0,5%
berdasarkan prediksi IMF pada tahun 2020 (Kementrian Keuangan, 2020) (Irawan and Alamsyah 2021)
BAB III
PEMBAHASAN
Penyebaran virus Covid-19
masih menjadi konsen berbagai negara, terutama yang sudah mengonfimasi kasus
positif terinfeksi di negaranya. Berdasarkan situs real time Coronavirus
COVID-19 Global Cases, angka terkait kasus ini terus meningkat. Kasus virus
Covid-19 merebak di lebih dari 90 negara di dunia. Jumlah kasus tertinggi masih
di USA, dan diikuti oleh India, Brazil, Perancis dan Rusia (worldometers.info,
27 Juni 2021). Di Indonesia sendiri jumlah pasien positif terinfeksi Virus
Corona (Covid-19) disebut bertambah menjadi 2 jt orang pada Minggu (27/6). Dari
jumlah itu, korban meninggal mencapai 57.138
orang, dengan jumlah yang sembuh 1.850.481 orang.
Meskipun angka kesembuhan
Covid-19 terus meningkat, kemunculan kasus penyebaran Covid-19 juga meningkat
sehingga ketidakpastian terus mempengaruhi laju perekonomian global. Moody’s
Investor Service memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2020
akan mengalami perlambatan pada angka 4,8% terhadap Produk Domestik Bruto
(PDB).(Bahtiar and Saragih 2020)
1) Ekonomi
dan Bisnis
Pertama, dampak bawaan dari
China yang terkait langsung dengan perekonomian Indonesia. China adalah negara
tujuan utama ekspor Indonesia sejak tahun 2011 Menurut data Badan Pusat
Statistik, tahun lalu nilai ekspor nonmigas Indonesia ke China mencapai 25,7
miliar dollar AS. Nilai ini jauh lebih besar dibandingkan nilai ekspor nonmigas
Indonesia ke Amerika Serikat dan ke Jepang yang masing-masing berada pada
peringkat kedua dan ketiga. Tahun 2019, nilai impor Indonesia dari China
mencapai 44,5 miliar dollar AS, atau setara dengan tiga dan lima setengah kali
lipat dibandingkan nilai impor Indonesia dari Jepang dan Amerika Serikat. Lebih
dari itu, China merupakan salah satu negara terbesar asal penanaman modal asing
di Indonesia dan penyumbang lebih dari dua juta wisatawan asing atau sekitar
12,5 persen dari total wisatawan asing yang dating ke Indonesia.
Kedua, dampak bawaan dari
negara-negara pandemi Covid-19 lainnya yang terkait langsung dengan
perekonomian Indonesia. Misalnya dampak bawaan dari Uni Eropa, Amerika Serikat,
Korea Selatan, dan Australia. Dari sisi lalu lintas ekspor dan impor, penanaman
modal asing maupun kunjungan wisata.
Ketiga, dampak ikutan dari
perekonomian global secara keseluruhan. Penyebaran Covid-19 hingga ke 176
negara telah menambah ketidakpastian ekonomi global setelah sebelumnya terjadi
perang dagang antara Amerika Serikat dan China, keluarnya Inggris dari Uni
Eropa (British exit) dan pergeseran-pergeseran geopolitik internasional.
Ketidakpastian tersebut meningkatkan tekanan terhadap perekonomian Indonesia.
Keempat, dampak lokal dari
penyebaran Covid-19 di Indonesia. Dampak ini pada awalnya sempat dipandang
sebelah mata. Namun, melihat perkembangan yang terjadi pada beberapa hari
terakhir, dengan banyaknya kasus inveksi Covid-19 di Indonesia, tampaknya
dampak lokal dari penyebaran Covid-19 justru akan jauh lebih besar. Tak heran,
sejumlah organisasi kembali menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia
tahun 2020. (Yenti Sumarni 2020)
2) Ekonomi
Syariah
Pertama,
turunnya permintaan terhadap produk-produk bisnis syariah. Di tengah merebaknya
Covid-19, tingkat kunjungan wisatawan asing dan wisatawan domestik merosot
drastis. Tingkat okupansi hotel di Indonesia secara umum turun hingga tinggal
10-50 persen, termasuk tingkat okupansi hotel-hotel syariah. Penjualan
paket-paket perjalanan wisata, termasuk wisata syariah, juga seret. Biro-biro
perjalanan umrah bahkan harus menanggung kerugian cukup besar akibat pelarangan
perjalanan umrah ke Mekkah, Saudi Arabia. Sementara, penurunan aktivitas
konsumsi masyarakat telah mulai terjadi pada semua produk non bahan pokok,
termasuk produk-produk makanan dan minuman halal, kosmetika halal dan fashion
muslim. Penurunan ini kemungkinan akan sangat signifikan jika penyebaran
Covid-19 terus berlanjut hingga April dan Mei, saat bulan suci Ramadhan dan
hari raya Idul Fitri tiba.
Kedua, kenaikan
biaya produksi, baik yang disebabkan oleh gangguan rantai pasokan maupun yang
disebabkan oleh perubahan ketenagakerjaan. Gangguan rantai pasokan terjadi
karena ketergantungan Indonesia yang masih cukup tinggi pada bahan-bahan baku
dan barang-barang modal dari luar negeri, termasuk bahan-bahan baku dan
barang-barang modal yang digunakan untuk memproduksi produk-produk halal.
Begitu juga, gangguan rantai pasokan kemungkinan akan terjadi karena berlakunya
pembatasan aktivitas luar rumah di sebagian wilayah strategis di Indonesia.
Sementara, perubahan ketenagakerjaan terjadi karena berlakunya working from
home, pengurangan sebagian jam kerja- atau dalam kasus terburuk, penghentian
kerja sepenuhnya selama periode tertentu dan penurunan tingkat kesehatan
sebagian tenaga kerja yang bekerja pada bisnis-bisnis Syariah.
Ketiga,
terhambatnya realisasi penanaman modal. Ketidakpastian yang tinggi di tengah
merebaknya Covid-19 kemungkinan akan memaksa para investor untuk menunda atau
bahkan membatalkan sebagian rencana penanaman modal mereka pada tahun 2020.
Tidak terkecuali, investor yang berencana menanamkan modalnya pada bisnis-
bisnis syariah. Sebagai contoh, tahun lalu santer terdengar rencana investasi
untuk pengembangan kawasan industri halal di berbagai daerah. Dengan merebaknya
Covid-19, tampaknya rencana tersebut akan tertunda, minimal hingga beberapa
bulan ke depan.
Keempat,
peningkatan risiko Lembaga-lembaga keuangan syariah. Peningkatan risiko ini
akan terjadi tidak hanya pada bank umum syariah, tetapi juga pada
lembaga-lembaga keuangan syariah lain seperti bank pembiayaan rakyat syariah,
perusahaan pembiayaan syariah dan lembaga keuangan mikro syariah. Di antaranya
dalam bentuk risiko operasional, risiko pembiayaan, risiko pasar dan risiko
likuiditas.
v
Cara Mengatasi
Langkah-langkah
ketat untuk membatasi meluasnya virus mempengaruhi ekonomi sangat parah di
seluruh dunia. Kebijakan ketat seperti lockdown telah mempengaruhi tingkat
produktivitas melalui pembatasan pekerja untuk tinggal di berbagai rumah mereka
untuk bekerja alih-alih tempat kerja mereka. Juga, pembatasan pertemuan
publik, pengenaan larangan perjalanan, pembatasan kehadiran acara publik dan
kunjungan lokasi objek wisata telah berkontribusi negatif pada sektor
perhotelan dan pariwisata di mana sebagian besar bisnis telah mengalami
penurunan dalam kegiatan bisnis mereka hampir 90% (Fernandes,
2020). Terutama, bisnis tergantung pada keterlibatan sosial, khususnya di
sektor pariwisata dan hiburan telah mengalami penurunan, dan sebagian besar karyawan
mereka telah kehilangan mata pencaharian melalui redundansi pekerjaan dan
PHK. Hal ini mengakibatkan penurunan konsumsi korban jiwa dan meningkatnya
ketidakpastian orang untuk dibelanjakan, yang menyebabkan banyak bisnis ditutup
dan rontok (Ghosh, 2020). Sebagai hasil dari ini, sebagian besar negara
telah memproyeksikan untuk mengalami penurunan tajam dalam pertumbuhan ekonomi,
mencelupkan produk domestik bruto mereka. Dengan perkembangan tersebut,
perekonomian global diperkirakan akan mengalami kontraksi sebesar 3% pada akhir
2020 dan sangat parah dibandingkan krisis keuangan global yang terjadi pada
2008 (International Monetary Fund (IMF), 2020).
Pemerintah telah menyusun strategi pemulihan ekonomi seperti memompa dana ke dalam
perekonomian melalui paket stimulus untuk meringankan penderitaan warga dan
menyelamatkan nyawa. Secara imperatif, paket respons adalah inisiatif
stimulus ekonomi yang signifikan yang pemerintah di seluruh dunia mulai
membatasi memburuknya pembangunan manusia dan kemerosotan ekonomi sebagai
akibat dari pandemi COVID-19. (Asare Vitenu-Sackey and Barfi 2021)
Kesulitan
dalam mengatasi krisis makroekonomi COVID-19 terletak pada besarnya
ketidakpastian di dalamnya. Ketidakpastian pertama adalah berapa lama
kurungan virus. Diketahui bahwa pembatasan pergerakan dan kegiatan
populasi manusia memiliki peran penting dalam menekan infeksi virus, tetapi
tidak ada kepastian berapa lama kurungan harus diakhiri karena kurungan telah
berkontribusi pada resesi ekonomi. Semakin ketat tindakan penahanan adalah
untuk menyelamatkan nyawa manusia, semakin sulit resesi yang dialami oleh
ekonomi. Tidak adanya preseden
sejarah yang sama dengan kasus krisis ekonomi sebelumnya membuat krisis ekonomi
CORONA juga dapat diklasifikasikan sebagai krisis ekonomi yang belum pernah
terjadi sebelumnya dan rumit (Bank of Spain, 2020).
Pada
saat yang sama, Boissay & Rungcharoenkitkul (2020) mengatakan perbedaan
penting antara COVID 19 dan pandemi sebelumnya seperti SARS, MERS, dan
flu. Dalam situasi saat ini, dampak buruk Virus Corona lebih berbahaya
daripada pandemi sebelumnya karena setidaknya dua alasan, yaitu, 1) integrasi
internasional di era COVID-19 lebih signifikan daripada pandemi sebelumnya
sehingga membuat pandemi menyebar lebih global juga dan 2) adanya faktor
penularan dapat terjadi oleh operator tanpa gejala yang menyebabkan penularan
lebih cepat dibandingkan dengan pandemi sebelumnya. Menurut Herrero
(2020), dampak ekonomi pandemi tergantung pada bagaimana hal itu ditangani dari
perspektif kesehatan dan ekonomi.
Ada
dua langkah untuk mengatasi pandemi. Yang pertama, mitigasi, berfokus pada
perlambatan tetapi tidak selalu menghentikan penyebaran virus. Tujuan dari
langkah mitigasi adalah untuk mengurangi permintaan layanan kesehatan sehingga
semua korban virus masih dapat dikelola oleh infrastruktur kesehatan suatu
negara sambil melindungi orang-orang yang paling berisiko. Yang kedua,
penindakan, bertujuan untuk membalikkan pertumbuhan pandemi, tetapi risikonya adalah
pandemi bisa rebound kapan saja ketika tindakan penindasan
dihentikan. Tindakan mitigasi menyebabkan pandemi ada lebih lama namun
berdampak ekonomi yang kurang ekstrem. Penindasan mengatasi pandemi lebih
cepat tetapi membawa konsekuensi ekonomi ekstrem karena gangguan dalam pasokan
dan permintaan Agregat.
Namun,
harapannya, perekonomian bisa pulih lebih cepat selama tidak ada peningkatan
jumlah kasus yang terpapar pandemi. Perlu dicatat bahwa pandemi cenderung
memiliki jangka waktu 18 bulan sampai vaksin tersedia. Mitigasi, yang membawa hidup dengan pandemi
lebih lama, memiliki dampak yang kurang buruk pada ekonomi. Diperkirakan
hanya berdampak negatif pada permintaan agregat tetapi kurang berdampak pada
pasokan agregat karena populasi tidak akan sepenuhnya dikunci. Dengan kata
lain, depresi (deflasi dan resesi) kemungkinan besar terjadi karena
mitigasi. Jika pemerintah memilih untuk menekan pandemi, seperti yang
dilakukan China, terutama di provinsi Hubei, guncangan pasokan terjadi dan
mungkin lebih besar karena sebagian besar bisnis dan pekerjaan yang membutuhkan
kehadiran fisik tidak dapat dilakukan dalam penguncian penuh. Dalam
situasi ini, agregat pasokan dan permintaan terganggu. Dalam konteks itu,
stagflation (inflasi dan resesi tinggi) adalah skenario yang paling mungkin. (Irawan and
Alamsyah 2021)
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Wabah Covid-19 yang
terus mengalami peningkatan setiap harinya, tentu saja menimbulkan dampak bagi
perekonomian Indonesia maupun dunia. Di Indonesia Covid-19 berdampak pada
tujuan ekspor pertama Indonesia, yaitu negara China. Selain itu, juga
negara-negara yang terkena pandemic Covid-19 membawa dampak buruk bagi sector
ekspor-impor maupun kunjungan wisata. Pemerintah perlu memperhatikan berbagai
macam aspek yang mempengaruhi perekonomian. Contohnya aspek kesehatan,
pemerintah harus menyediakan vaksin yang memadai dan cukup untuk seluruh warga
serta menertibkan dan menegaskan protokol Kesehatan yang berlaku saat ini.
Dengan cara tersebut bisa mengurangi kasus terkonfirmasi positif Covid-19 dan
dapat membantu untuk memulihkan perekonomian Indonesia. Pemerintah juga harus
memikirkan cara-cara untuk mengatasi dampak buruk tersebut baik jangka Panjang
maupun jangka pendek.
Daftar Pustaka
Asare Vitenu-Sackey, Prince,
and Richard Barfi. 2021. “The Impact of Covid-19 Pandemic on the Global
Economy: Emphasis on Poverty Alleviation and Economic Growth.” The Economics
and Finance Letters 8(1): 32–43.
Bahtiar, Rais Agil, and Juli Panglima Saragih. 2020.
“Dampak Covid-19 Terhadap Perlambatan.” Kajian Singkat Terhadap Isu Aktual
Dan Strategis 12(6): 19–24.
Irawan, Andi, and Halim Alamsyah. 2021. “The
COVID-19’s Economic Crisis and Its Solutions: A Literature Review.” Etikonomi
20(1): 77–92.
Prawoto, Nano, Eko Priyo Purnomo, and Abitassha Az
Zahra. 2020. “The Impacts of Covid-19 Pandemic on Socio-Economic Mobility in
Indonesia.” International Journal of Economics and Business Administration
8(3): 57–71.
Yenti Sumarni. 2020. “Pandemi Covid-19: Tantangan
Ekonomi Dan Bisnis.” Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syariah 6(2): 46–58.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar