Rabu, 04 Agustus 2021

Makalah DAMPAK COVID-19 PADA PEREKONOMIAN



 BAB I

PENDAHULUAN

1.1            Latar Belakang

 

Virus Corona (Covid-19) yang bermula dari Wuhan-China kini telah menyebar hampir keseleruh penjuru dunia. Tercatat pada tanggal 2 Maret 2021 adanya kasus positif Covid-19 pertama di Indonesia. Semakin berkembangnya virus tersebut, pemerintah menetapkan berbagai macam protokol Kesehatan yang harus dipatuhi seluruh warga. Mulai dari social distancing (menjaga jarak), menggunakan masker, mencuci tangan dengan teratur, dan sebagainya. Dengan meningkatnya Covid-19 menimbulkan dampak bagi perekonomian. International Monetary Fund (IMF) menyebutkan perekonomian global telah jatuh ke dalam jurang krisis setelah sekitar 95% negara di dunia diprediksi menderita pertumbuhan ekonomi negatif. Pandemi juga menyebabkan kerugian perekonomian global sebesar 12 triliun dollar AS. Ekonomi merupakan salah satu faktor penting pada suatu negara. Tingkat pertumbuhan dan perkembangan suatu negara dapat dilihat dari indikator ekonominya. Setiap negara memiliki sistem dan tujuan ekonominya yang berbeda-beda. Geoffrey Okamoto mengatakan kembalinya ke pertumbuhan yang akan memakan waktu beberapa tahun, dan banyak negara yang mungkin membutuhkan bantuan. “Masalah keberlanjutan utang menjadi prioritas utama bagi pejabat IMF.” lanjutnya dalam sebuah seminar online.

 

 

1.2            Rumusan Masalah

 

Rumusan masalah yang dapat disebutkan sesuai dengan latar belakang yang telah dijelaskan adalah :

1)     Apa saja dampak yang ditimbulkan dari Covid-19 pada perekonomian?

2)     Bagaimana cara mengatasi dampak tersebut?

 

1.3            Tujuan Penelitian

 

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah diuraikan, karya tulis ini bertujuan sebagai berikut :

1)     Mengetahui dampak-dampak yang ditimbulkan dari pandemi Covid-19 di bidang perekonomian

2)     Mengetahui hal-hal yang dilakukan untuk mengatasi dampak tersebut

 

 

 

BAB II

KAJIAN TEORI

 

World Health Organization (WHO) mendeklarasikan wabah Corona Virus 2019- 2020 sebagai Kesehatan Masyarakat Darurat Internasional (PHEIC) pada 30 Januari 2020, dan pandemi pada 11 Maret 2020. Covid-19 pertama dilaporkan di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020 sejumlah dua kasus. 9 Data 31 Maret 2020 menunjukkan kasus yang terkonfirmasi berjumlah 1.528 kasus dan 136 kasus kematian.10 Tingkat mortalitas Covid-19 di Indonesia sebesar 8,9%, angka ini merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara. (Yenti Sumarni 2020)

Dikutip dari International Journal of Economics and Business Administration, masalah pandemi merupakan ancaman global yang dapat terjadi di seluruh dunia. Ancaman pandemi ini tidak bisa dipungkiri menyebabkan berbagai masalah baru dalam berbagai aspek kehidupan, terutama dalam aspek ekonomi. Secara umum, pandemi bukan hanya masalah Kesehatan masyrakat tetapi juga pemicu awal munculnya krisis ekonomi dan politik diberbagai negara. (Prawoto, Purnomo, and Zahra 2020)

Berdasarkan data dari situs situs resmi yaitu covid19.go.id, penderita yang terkonfirmasi Covid-19 mencapai  179 juta dengan jumlah meninggal 3.889.172. Sedangkan di Indonesia berdasarkan dari situs yang sama, pasien positif mencapai 2.115.304 degan jumlah yang meninggal 57.138 dan yang sembuh 1.850.481 orang.

 

Grafik Kasus Terkonfirmasi Positif Covid-19 di Indonesia per hari

Source : covid.go.id

 

 

 

 

Grafik Kasus Sembuh di Indonesia per hari

Source : covid.go.id

Grafik Kasus Meninggal di Indonesia per hari

Source : covid.go.id

 

Jika mengacu pada jumlah kasus terkonfirmasi, kematian, dan durasi wabah, Covid-19 memiliki dampak terburuk disbanding pandemic lainnya. Berikut rangkuman kasus terinfeksi dari berbagai macam pandemi.

 

Table 1. The Cases of Infection, Death and Area Distribution of The Pandemic of COVID-19 Compared by Other Pandemics

 

 

Pandemic

 

Confirmed cases

 

Confirmed death

 

Area and started date

Number of countries, areas, or territories with cases

 

Time duration of cases

COVID-19 (SARS-CoV-2)

3679499

54199

Wuhan (China), 31 December

2019

215

December-May 2020 (temporary calculation)

Middle East Respiratory Syndrome (MERS)

2494

858

Saudi Arabia, April 2012

27

April 2012-Nov 2109

SARS

8096

774

Vietnam, 26

February 2003

29

26 Feb 31 Dec

2003

Ebola

3462

2134

North Kivu Province, Democratic Republic of Congo

Central and West Africa

The first outbreak in remote villages in Central Africa 1976,

Outbreak in 2014- 2016 West Africa as complex and the largest one

Source: Authors’ compilation from World Health Organization

Berdasarkan hubungan pandemi sebelumnya dengan ekonomi, kita dapat mengetahui bahwa pandemi menciptakan eksternalitas negatif regional yang kuat. Prediksi menyatakan bahwa COVID-19 berdampak negatif baik secara global maupun negara pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi China anjlok dari 6,1% (2019) menjadi 1,2% (2020), India turun dari 4,2% menjadi 1,9%, ASEAN turun dari 4,8% menjadi -0,6%, Amerika Serikat dari 2,3% menjadi -5,9%, Euro Area turun dari 1,2% menjadi -7,5%. Jumlah prediksi tentang dampak Covid-19 terhadap perekonomian Indonesia memberikan hasil yang sama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia mengalami penurunan pertumbuhan, yaitu dari 5,02% dalam 2019 anjlok menjadi -3,5% hingga 2,1% pada tahun 2020 menurut Bank Dunia, turun menjadi 2,5% menurut Bank Pembangunan Asia, turun menjadi 3%, dan turun menjadi 0,5% berdasarkan prediksi IMF pada tahun 2020 (Kementrian Keuangan, 2020) (Irawan and Alamsyah 2021)

 

 

 

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

Penyebaran virus Covid-19 masih menjadi konsen berbagai negara, terutama yang sudah mengonfimasi kasus positif terinfeksi di negaranya. Berdasarkan situs real time Coronavirus COVID-19 Global Cases, angka terkait kasus ini terus meningkat. Kasus virus Covid-19 merebak di lebih dari 90 negara di dunia. Jumlah kasus tertinggi masih di USA, dan diikuti oleh India, Brazil, Perancis dan Rusia (worldometers.info, 27 Juni 2021). Di Indonesia sendiri jumlah pasien positif terinfeksi Virus Corona (Covid-19) disebut bertambah menjadi 2 jt orang pada Minggu (27/6). Dari jumlah itu, korban meninggal mencapai 57.138  orang, dengan jumlah yang sembuh 1.850.481 orang.

Meskipun angka kesembuhan Covid-19 terus meningkat, kemunculan kasus penyebaran Covid-19 juga meningkat sehingga ketidakpastian terus mempengaruhi laju perekonomian global. Moody’s Investor Service memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2020 akan mengalami perlambatan pada angka 4,8% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).(Bahtiar and Saragih 2020)

1)     Ekonomi dan Bisnis

Pertama, dampak bawaan dari China yang terkait langsung dengan perekonomian Indonesia. China adalah negara tujuan utama ekspor Indonesia sejak tahun 2011 Menurut data Badan Pusat Statistik, tahun lalu nilai ekspor nonmigas Indonesia ke China mencapai 25,7 miliar dollar AS. Nilai ini jauh lebih besar dibandingkan nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Amerika Serikat dan ke Jepang yang masing-masing berada pada peringkat kedua dan ketiga. Tahun 2019, nilai impor Indonesia dari China mencapai 44,5 miliar dollar AS, atau setara dengan tiga dan lima setengah kali lipat dibandingkan nilai impor Indonesia dari Jepang dan Amerika Serikat. Lebih dari itu, China merupakan salah satu negara terbesar asal penanaman modal asing di Indonesia dan penyumbang lebih dari dua juta wisatawan asing atau sekitar 12,5 persen dari total wisatawan asing yang dating ke Indonesia.

Kedua, dampak bawaan dari negara-negara pandemi Covid-19 lainnya yang terkait langsung dengan perekonomian Indonesia. Misalnya dampak bawaan dari Uni Eropa, Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Australia. Dari sisi lalu lintas ekspor dan impor, penanaman modal asing maupun kunjungan wisata.

Ketiga, dampak ikutan dari perekonomian global secara keseluruhan. Penyebaran Covid-19 hingga ke 176 negara telah menambah ketidakpastian ekonomi global setelah sebelumnya terjadi perang dagang antara Amerika Serikat dan China, keluarnya Inggris dari Uni Eropa (British exit) dan pergeseran-pergeseran geopolitik internasional. Ketidakpastian tersebut meningkatkan tekanan terhadap perekonomian Indonesia.

Keempat, dampak lokal dari penyebaran Covid-19 di Indonesia. Dampak ini pada awalnya sempat dipandang sebelah mata. Namun, melihat perkembangan yang terjadi pada beberapa hari terakhir, dengan banyaknya kasus inveksi Covid-19 di Indonesia, tampaknya dampak lokal dari penyebaran Covid-19 justru akan jauh lebih besar. Tak heran, sejumlah organisasi kembali menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020. (Yenti Sumarni 2020)

2)     Ekonomi Syariah

Pertama, turunnya permintaan terhadap produk-produk bisnis syariah. Di tengah merebaknya Covid-19, tingkat kunjungan wisatawan asing dan wisatawan domestik merosot drastis. Tingkat okupansi hotel di Indonesia secara umum turun hingga tinggal 10-50 persen, termasuk tingkat okupansi hotel-hotel syariah. Penjualan paket-paket perjalanan wisata, termasuk wisata syariah, juga seret. Biro-biro perjalanan umrah bahkan harus menanggung kerugian cukup besar akibat pelarangan perjalanan umrah ke Mekkah, Saudi Arabia. Sementara, penurunan aktivitas konsumsi masyarakat telah mulai terjadi pada semua produk non bahan pokok, termasuk produk-produk makanan dan minuman halal, kosmetika halal dan fashion muslim. Penurunan ini kemungkinan akan sangat signifikan jika penyebaran Covid-19 terus berlanjut hingga April dan Mei, saat bulan suci Ramadhan dan hari raya Idul Fitri tiba.

Kedua, kenaikan biaya produksi, baik yang disebabkan oleh gangguan rantai pasokan maupun yang disebabkan oleh perubahan ketenagakerjaan. Gangguan rantai pasokan terjadi karena ketergantungan Indonesia yang masih cukup tinggi pada bahan-bahan baku dan barang-barang modal dari luar negeri, termasuk bahan-bahan baku dan barang-barang modal yang digunakan untuk memproduksi produk-produk halal. Begitu juga, gangguan rantai pasokan kemungkinan akan terjadi karena berlakunya pembatasan aktivitas luar rumah di sebagian wilayah strategis di Indonesia. Sementara, perubahan ketenagakerjaan terjadi karena berlakunya working from home, pengurangan sebagian jam kerja- atau dalam kasus terburuk, penghentian kerja sepenuhnya selama periode tertentu dan penurunan tingkat kesehatan sebagian tenaga kerja yang bekerja pada bisnis-bisnis Syariah.

Ketiga, terhambatnya realisasi penanaman modal. Ketidakpastian yang tinggi di tengah merebaknya Covid-19 kemungkinan akan memaksa para investor untuk menunda atau bahkan membatalkan sebagian rencana penanaman modal mereka pada tahun 2020. Tidak terkecuali, investor yang berencana menanamkan modalnya pada bisnis- bisnis syariah. Sebagai contoh, tahun lalu santer terdengar rencana investasi untuk pengembangan kawasan industri halal di berbagai daerah. Dengan merebaknya Covid-19, tampaknya rencana tersebut akan tertunda, minimal hingga beberapa bulan ke depan.

Keempat, peningkatan risiko Lembaga-lembaga keuangan syariah. Peningkatan risiko ini akan terjadi tidak hanya pada bank umum syariah, tetapi juga pada lembaga-lembaga keuangan syariah lain seperti bank pembiayaan rakyat syariah, perusahaan pembiayaan syariah dan lembaga keuangan mikro syariah. Di antaranya dalam bentuk risiko operasional, risiko pembiayaan, risiko pasar dan risiko likuiditas.

 

 

v Cara Mengatasi

Langkah-langkah ketat untuk membatasi meluasnya virus mempengaruhi ekonomi sangat parah di seluruh dunia. Kebijakan ketat seperti lockdown telah mempengaruhi tingkat produktivitas melalui pembatasan pekerja untuk tinggal di berbagai rumah mereka untuk bekerja alih-alih tempat kerja mereka. Juga, pembatasan pertemuan publik, pengenaan larangan perjalanan, pembatasan kehadiran acara publik dan kunjungan lokasi objek wisata telah berkontribusi negatif pada sektor perhotelan dan pariwisata di mana sebagian besar bisnis telah mengalami penurunan dalam kegiatan bisnis mereka hampir 90% (Fernandes, 2020). Terutama, bisnis tergantung pada keterlibatan sosial, khususnya di sektor pariwisata dan hiburan telah mengalami penurunan, dan sebagian besar karyawan mereka telah kehilangan mata pencaharian melalui redundansi pekerjaan dan PHK. Hal ini mengakibatkan penurunan konsumsi korban jiwa dan meningkatnya ketidakpastian orang untuk dibelanjakan, yang menyebabkan banyak bisnis ditutup dan rontok (Ghosh, 2020). Sebagai hasil dari ini, sebagian besar negara telah memproyeksikan untuk mengalami penurunan tajam dalam pertumbuhan ekonomi, mencelupkan produk domestik bruto mereka. Dengan perkembangan tersebut, perekonomian global diperkirakan akan mengalami kontraksi sebesar 3% pada akhir 2020 dan sangat parah dibandingkan krisis keuangan global yang terjadi pada 2008 (International Monetary Fund (IMF), 2020).

Pemerintah telah menyusun strategi pemulihan ekonomi seperti memompa dana ke dalam perekonomian melalui paket stimulus untuk meringankan penderitaan warga dan menyelamatkan nyawa. Secara imperatif, paket respons adalah inisiatif stimulus ekonomi yang signifikan yang pemerintah di seluruh dunia mulai membatasi memburuknya pembangunan manusia dan kemerosotan ekonomi sebagai akibat dari pandemi COVID-19. (Asare Vitenu-Sackey and Barfi 2021)

Kesulitan dalam mengatasi krisis makroekonomi COVID-19 terletak pada besarnya ketidakpastian di dalamnya. Ketidakpastian pertama adalah berapa lama kurungan virus. Diketahui bahwa pembatasan pergerakan dan kegiatan populasi manusia memiliki peran penting dalam menekan infeksi virus, tetapi tidak ada kepastian berapa lama kurungan harus diakhiri karena kurungan telah berkontribusi pada resesi ekonomi. Semakin ketat tindakan penahanan adalah untuk menyelamatkan nyawa manusia, semakin sulit resesi yang dialami oleh ekonomi. Tidak adanya preseden sejarah yang sama dengan kasus krisis ekonomi sebelumnya membuat krisis ekonomi CORONA juga dapat diklasifikasikan sebagai krisis ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya dan rumit (Bank of Spain, 2020). 

Pada saat yang sama, Boissay & Rungcharoenkitkul (2020) mengatakan perbedaan penting antara COVID 19 dan pandemi sebelumnya seperti SARS, MERS, dan flu. Dalam situasi saat ini, dampak buruk Virus Corona lebih berbahaya daripada pandemi sebelumnya karena setidaknya dua alasan, yaitu, 1) integrasi internasional di era COVID-19 lebih signifikan daripada pandemi sebelumnya sehingga membuat pandemi menyebar lebih global juga dan 2) adanya faktor penularan dapat terjadi oleh operator tanpa gejala yang menyebabkan penularan lebih cepat dibandingkan dengan pandemi sebelumnya. Menurut Herrero (2020), dampak ekonomi pandemi tergantung pada bagaimana hal itu ditangani dari perspektif kesehatan dan ekonomi. 

Ada dua langkah untuk mengatasi pandemi. Yang pertama, mitigasi, berfokus pada perlambatan tetapi tidak selalu menghentikan penyebaran virus. Tujuan dari langkah mitigasi adalah untuk mengurangi permintaan layanan kesehatan sehingga semua korban virus masih dapat dikelola oleh infrastruktur kesehatan suatu negara sambil melindungi orang-orang yang paling berisiko. Yang kedua, penindakan, bertujuan untuk membalikkan pertumbuhan pandemi, tetapi risikonya adalah pandemi bisa rebound kapan saja ketika tindakan penindasan dihentikan. Tindakan mitigasi menyebabkan pandemi ada lebih lama namun berdampak ekonomi yang kurang ekstrem. Penindasan mengatasi pandemi lebih cepat tetapi membawa konsekuensi ekonomi ekstrem karena gangguan dalam pasokan dan permintaan Agregat. 

Namun, harapannya, perekonomian bisa pulih lebih cepat selama tidak ada peningkatan jumlah kasus yang terpapar pandemi. Perlu dicatat bahwa pandemi cenderung memiliki jangka waktu 18 bulan sampai vaksin tersedia. Mitigasi, yang membawa hidup dengan pandemi lebih lama, memiliki dampak yang kurang buruk pada ekonomi. Diperkirakan hanya berdampak negatif pada permintaan agregat tetapi kurang berdampak pada pasokan agregat karena populasi tidak akan sepenuhnya dikunci. Dengan kata lain, depresi (deflasi dan resesi) kemungkinan besar terjadi karena mitigasi. Jika pemerintah memilih untuk menekan pandemi, seperti yang dilakukan China, terutama di provinsi Hubei, guncangan pasokan terjadi dan mungkin lebih besar karena sebagian besar bisnis dan pekerjaan yang membutuhkan kehadiran fisik tidak dapat dilakukan dalam penguncian penuh. Dalam situasi ini, agregat pasokan dan permintaan terganggu. Dalam konteks itu, stagflation (inflasi dan resesi tinggi) adalah skenario yang paling mungkin. (Irawan and Alamsyah 2021)

 

BAB IV

PENUTUP

 

Kesimpulan

Wabah Covid-19 yang terus mengalami peningkatan setiap harinya, tentu saja menimbulkan dampak bagi perekonomian Indonesia maupun dunia. Di Indonesia Covid-19 berdampak pada tujuan ekspor pertama Indonesia, yaitu negara China. Selain itu, juga negara-negara yang terkena pandemic Covid-19 membawa dampak buruk bagi sector ekspor-impor maupun kunjungan wisata. Pemerintah perlu memperhatikan berbagai macam aspek yang mempengaruhi perekonomian. Contohnya aspek kesehatan, pemerintah harus menyediakan vaksin yang memadai dan cukup untuk seluruh warga serta menertibkan dan menegaskan protokol Kesehatan yang berlaku saat ini. Dengan cara tersebut bisa mengurangi kasus terkonfirmasi positif Covid-19 dan dapat membantu untuk memulihkan perekonomian Indonesia. Pemerintah juga harus memikirkan cara-cara untuk mengatasi dampak buruk tersebut baik jangka Panjang maupun jangka pendek.

 

 

 

Daftar Pustaka

Asare Vitenu-Sackey, Prince, and Richard Barfi. 2021. “The Impact of Covid-19 Pandemic on the Global Economy: Emphasis on Poverty Alleviation and Economic Growth.” The Economics and Finance Letters 8(1): 32–43.

Bahtiar, Rais Agil, and Juli Panglima Saragih. 2020. “Dampak Covid-19 Terhadap Perlambatan.” Kajian Singkat Terhadap Isu Aktual Dan Strategis 12(6): 19–24.

Irawan, Andi, and Halim Alamsyah. 2021. “The COVID-19’s Economic Crisis and Its Solutions: A Literature Review.” Etikonomi 20(1): 77–92.

Prawoto, Nano, Eko Priyo Purnomo, and Abitassha Az Zahra. 2020. “The Impacts of Covid-19 Pandemic on Socio-Economic Mobility in Indonesia.” International Journal of Economics and Business Administration 8(3): 57–71.

Yenti Sumarni. 2020. “Pandemi Covid-19: Tantangan Ekonomi Dan Bisnis.” Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syariah 6(2): 46–58.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern

  Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern Pendahuluan Ketika arus modernisasi menghujani dunia Islam, proses modern...