Perbincangan terkait teologis memang
tidak akan ada habisnya, sebab semangat teologis itulah yang hingga kini
membuat umat manusia terus berafiliasi dengan dalil-dalil ilahiah pada dimensi
kehidupan ini. Sejak turunnya agama-agama sebelum Islam, yakni Yahudi dan
Nasrani yang sering disebut di dalam Al Quran (Agama Samawi), dijelaskan jika
semangat ketuhanan itulah yang mempengaruhi pola interaksi, pola sosial, dan
pola politik. Akan muncul sentimen tinggi
ketika pada masa transisi kepercayaan Nasrani setelah Yahudi, juga Nasrani
dengan Agama Islam.
Sebagai insting manusia secara alami, akan muncul
pemberontakan ide, dan tindakan atas usikan tentang kepercayaan nenek moyang
mereka yang diperbarui dengan kepercayaan baru yang dibawa oleh nabi baru yang
diutus untuk membaharui atau menyempurnakan agama sebelumnya.
Islam di Indonesia ialah Islam yang damai, ramah dan
toleran. Sebab, Islam sendiri datang ke Nusantara dengan berbagai hal yang
unik, termasuk perdagangan dan dakwah damai yang telah terakulturasi dengan
budaya setempat. Berbeda dengan wajah Islam yang berada di Tanah Hijaz, sebab
berdasarkan historinya saja sudah berbeda, yang mana Islam Timur Tengah
berkembang dengan sebuah “penaklukan”, meskipun pada awal datangnya Islam,
Rasulullah sendiri tidak pernah memakai cara-cara kekerasan untuk melakukan
Islamisasi terhadap umatnya.
Tidak banyak kalangan yang mau menerima representasi
nilai-nilai teologis dalam bentuk negara demokratis, seperti Indonesia. Bahkan
Indonesia dihadapkan dengan ancaman-ancaman NKRI, salah satunya pemahaman dini
terkait konsep ketuhanan.
PMII Benteng Radikalisme di
Kampus
Dengan semangat perpaduan Islam dan Indonesia, PMII hadir
sebagai organisasi intelektual kemahasiswaan keIslaman satu-satunya yang
mengakui “Pancasila” sebagai asasnya. Itu disebabkan PMII tidak bisa dipisahkan
dari organisasi masyarakat (Ormas) Nahdlatul Ulama (NU) yang menjadi kiblat
haluan pergerakan kader PMII. PMII secara kultural dan historis memiliki
hubungan harmonis dengan NU sejak zaman pendirian organisasi kaderisasi
kemahasiswaan tersebut.
Munculnya gerakan-gerakan radikal dan anti toleran dengan
garang menunjukkan keberadaan dan kedikdayaannya adalah dinamika mempertahankan
paham Ahlussunnah Wal Jama’ah dan membentengi masyarakat dari radikalisme agama
adalah tugas dan tanggung jawab bersama dalam menjaga keutuhan NKRI yang susah
payah telah dibangun oleh ulama-ulama nasionalis, khususnya untuk kader-kader
PMII yang menjamur di Kampus-Kampus berbasis UIN, IAIN, dan STAIN.
Wajah Islam yang ramah, sengaja dipermainkan menjadi
Islam yang berwajah buram, kasar, dan penuh amarah, bahkan teroris yang jauh
dari visi dan misi ajaran Islam itu sendiri. Disinilah fungsi PMII sebagai
organisasi kaderisasi bangsa, PMII lekat dengan identitas aktivis dan kurang
harmonis dengan status akademisnya. Padahal fungsi dari pada kader PMII di
kampusnya masing-masing sangat diperlukan sebagai benteng gerakan-gerakan
radikal yang sudah mulai mengakar khususnya di kampus-kampus umum di Indonesia.
PMII yang erat dengan asahan pemikiran kiri, juga harus
diimbangi dengan sikap moderat yang menjadi asal muasal produk pemikiran
Nahdliyin, mempertahankan esensi dan eksistensi Aswaja di kampus merupakan
salah satu tanggung jawab kader PMII. Oleh sebab itu, kader PMII tidak harus anti
musholah/masjid kampus, namun harus merebut kembali untuk menguasai
tempat-tempat strategis dakwah yang ada di kampus.
Strategi Penyeberan Paham Ahlussunah Wal
Jama'ah Di Kampus Umum
Melihat realita yang ada saat ini, tidak
sedikit kampus-kampus yang terhegemoni paham Non Ahlussunnah Wal Jama'ah
(ASWAJA), terlebih di kampus umum. Mirisnya lagi, paham yang masuk kebanyakan
adalah paham-paham yang ekstream atau radikal, yaitu salafy ikhwani, salafy
yamani, haraki, dan paham salafy yang ekstream lainnya. Entah kenapa paham
Islam yang radikal itu sangat masif tumbuh dan berkembang, hingga terlihat
kader PMII dan warga Nahdliyin umumnya yang jelas menghegemoni paham
Ahlussunnah Wal Jama'ah (ASWAJA) tertinggal dan terpinggirkan dalam kampus.
Pertumbuhan dan perkembangan paham Islam
yang ekstream atau radikal itu mendapatkan respon yang beragam dari berbagai
pihak. Ada yang memberikan respons positif dengan mendukung, ada yang memberi
respon reaktif-emosional, ada yang memberikan respon kreatif, dan ada juga yang
merespon secara anarkis. Sejauh ini, respon yang diberikan belum membendung,
apalagi menghentikan laju pertumbuhan gerakannya. Justru ada kecenderungan
terjadi peningkatan jumlah anggota pada berbagai organisasi kemahasiswaan Islam
yang pahamnya ekstream tersebut.
Tidak menutup kemungkinan, jika hal seperti
ini tidak cepat teratasi, maka akan benar-benar hilang, bukan lagi tertinggal
atau terpinggirkan nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jama'ah (ASWAJA) tersebut di
dunia kampus. Dan eksistensi paham Islam yang ekstream atau radikal itu
sesungguhnya bukan hanya merupakan ancaman bagi organisasi kemahasiswaan Islam
saja, tapi juga ancaman bagi masa depan Islam Indonesia. Idealnya Islam
Indonesia merupakan Islam yang dikenal dengan karakter ramah, toleran dan
humanis. Dinamika dan pertumbuhan Islam di Indonesia selama ratusan tahun
menunjukkan bahwa Islam toleran dan damai, dapat hidup menyatu dengan
masyarakat Indonesia
Dalam kerangka inilah organisasi
kemahasiswaan Islam arus utama (mainstream) terkhusus kader-kader PMII di
berbagai kampus, merasakan perlu untuk memberikan respon
aktif-kreatif-konstruktif, agar paham Islam yang radikal itu tidak semakin
menancapkan akar pengaruhnya. Infiltrasi gerakan Islam radikal dilakukan secara
masif, khususnya terhadap generasi muda yang masih menduduki bangku
perkuliahan, terlebih di kampus-kampus umum yang sedikit menerima materi dan
pemahaman agama Islam, namun dengan begitu tidak mengecualikan kampus-kampus
agama Islam.
Oleh karena itu, salah satu upaya kader
PMII khususnya yang berada di kampus-kampus, yang menjadi benteng pertahanan
terakhir paham Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah (ASWAJA) untuk mencegah
pertumbuhan dan perkembangan paham Islam yang ekstream atau radikal itu adalah
dengan strategi khusus yang terstruktur dan sistematis, agar memungkinkan
generasi muda yang ada di kampus-kampus, yang masih menduduki bangku
perkuliahan khususnya dapat mengetahui dan memahami persoalan dengan lebih baik
lagi, dan menjadi suplemen kuat benteng Ahlussunnah Wal Jama'ah di kalangan
perguruan tinggi.
Yang paling utama untuk menghidupkan nilai
Aswaja di lingkungan Kampus adalah menata niat. Niatkan untuk Lii’la-i
kalimatillah (meninggikan kalimat Allah). Karena saat ini PMII terjerumus dalam
pemikiran yang sangat pragmatis. Pragmatis untuk mendapatkan kekuasaan, bahkan
pragmatis juga dalam melakukan perjuangan dakwah.
Adapun
beberapa strategi yang harus direalisasikan oleh kader-kader PMII khususnya
yaitu sebagai berikut :
1. Hikmah Kebijaksanaan
Hikmah diartikan sebagai perumpamaan untuk
mengambil pelajaran dari kejadian atau kepribadian. Metode ini fleksibel dan
dapat digunakan dimana saja. Cara yang ditempuh dengan cara antara lain :
A. Keteladanan dan Uswatun Hasanah
Cara ini ialah cara paling efektif, dengan
keteladanan orang akan mudah mengikuti tokoh yang diteladani. Bukankah dalam
QS. Al-Ahzab:21 dijelaskan bahwa Nabi Muhammad merupakan keteladan yang baik
bagi mereka yang rahmat Allah dan syafaat di hari kiamat? Bahkan Nabi terkenal
Al-Amiin sebelum wahyu diturunkan kepadanya. Al-amiin inilah modal pertama
sehingga Nabi Muhammad SAW dapat mempengaruhi masyarakat Arab.
Strategi di atas adalah sangatlah umum
untuk mengembangkan Aswaja di kampus umum yang kering siraman rohani dan rentan
ekstrimisme. Karena cara di atas juga cara dakwah yang dijelaskan dalam Al
Qur'an.
2. Internalisisasi prinsip Aswaja pada tiap
diri anggota PMII
Pada setiap anggota PMII telah dikenalkan
dengan nilai-nilai Aswaja antara lain tawasuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal
atau ta'adul. Konsekuensi dari nilai-nilai ini anggota PMII bisa berinteraksi
dan diterima mahasiswa secara luas. Anggota PMII sadar bahwa keberadaannya
harus diterima di kalangan mahasiswa umum. Setelah diterima anggota PMII baru
dapat mengaktualisasikan Aswaja kepada mahasiswa di sekitarnya.
3. Silaturrahim Kelompok alumni atau
mahasiswa pesantren
Selama ini di kampus umum terdapat
organisasi alumni pendok pesantren dari berbagai daerah. Dari Bahrul Ulum
Jombang, Lirboyo Kediri, Tarbiayatut Tholabah Lamongan, At-Tanwir Bojonegoro,
Nurul Jadid Probolinggo. Melalui kesamaan kultural dijalin komunikasi dan
sekali dua kali mengadakan kegiatan bersama seperti mengaji bersama atau
kegiatan lain yang mempererat persaudaraan.
4. Kelompok belajar mengaji Aswaja di
internal PMII
Mengaji kitab-kitab kuning dalam bidang
aqidah, fikih, dan tasawuf secara bersamaan. Mengaji menjadi rutinan dan
dibiasakan. Dari bidang akidah, memberi keyakinan bahwa Aswaja menjadi cara
berakidah yang paling shohih dengan menjaga keberadaan nas, dan mentakwil nas
jika membelakangi pemikiran. Sehingga diperoleh cara bertauhid yang
benar. Bidang fikih, Ulama’ Aswaja menjadikan pijakan Al-Quran, Hadits, Ijma’
dan Qiyas . Hasil ijtihadnya lazim kita ketahui dengan Imam 4 madzhab. Tasawuf
ditekankan adanya maqomat (level) tertentu. Membagi menjadi syariat, haqiqat
dan ma’rifat. Zuhri membagi maqomat-maqomat yakni: tawbah, zuhd, wara’, faqr,
shabr, tawakkal, dan ridha. Dalam proses antar tahap itu ada khowf, raja’,
fana, dan fanaul fana.
Hasil kajian tidak hanya didengarkan,
tetapi perlahan diamalkan. Sesekali diistiqomahkan untuk berpuasa senin kamis,
atau puasa ayyamul bith. Sehingga, penempaan diri tidak hanya dalam urusan akal
dan logika saja, tetapi juga penempaan hati melalui puasa, dzikir, wirid, rotib
dan maulid atau manaqib.
5. Dakwah media dengan media yang ada
Selama ini kita terpaku kepada kepemimpinan
dakwah kampus yang ada. Padahal banyak media yang dapat digunakan untuk
mengembangkan dakwah di kampus. Seolah-olah kalau tidak memiliki kepemimpinan
lembaga dakwah kampus, kita tidak dapat melakukan dakwah. Menurut penulis
metode yang paling efektif dengan akhlaq (metode hikmah kebijaksanaan), karena
Nabi pun media dakwah utama ialah Uswatun Hasanah. Media lisan, lukisan atau
audio visual tidak sulit kita gunakan, setiap individu memiliki Tuhan yang ada
di genggaman mereka berupa handphone. Melalui handphone bisa membuat meme
islam, audio visual (melalui dubsmash atau yang lain). Media publikasi pun tidak
jauh, dapat melewati BBM, WhatsApp, bahkan Instagram.
6. Pembagian peran pengembangan Aswaja di
Internal dan Eksternal PMII
Peran penguatan yang ada di internal PMII
mewacanakan bahwa madzhab keagamaan dan manhaj PMII yang paling absah dalam
mengapai istinbath gerakan mahasiswa. Sedangkan di eksternal PMII, menyajikan
Islam yang ramah, menarik, menyejukkan, dan menentramkan. Sehingga melepas
batas apa yang ingin dicari oleh mereka. Kadang bendel NU atau Nahdliyiin juga
harus dibredel ketika medan berbeda.
7. Masuk organisasi keagamaan di kampus
Individu yang masuk organisasi keagamaan
(LDK, atau Lembaga Pembinaan Al-Quran). Selayaknya memiliki i’tikad untuk
beribadah dan untuk mengabdi di organisaasi tersebut. Meskipun ada maksud untuk
mendakwahkan Ahlussunnah Wal Jamaah kepada oraganisasi tersebut. Yang menjadi
perhatian bahwa itu bukan tujuan utama. Jika diteima Al hamdulillah, jika tidak
diterima tidak apa-apa. Disini prinsip tasamuh harus diterapkan.
8. Mendirikan atau menginisiasi kegiatan
keagamaan di kampus yang berlatas belakang Ahlussunnah Wal Jamaah.
Jika organisasi keIslaman memungkinkan
untuk Syiar Islam Aswaja An-Nahdliyyah maka silahkan disyiarkan melalui LDK
itu. Akan tetapi jika tidak memungkinkan alangkah baiknya untuk membentuk
lembaga keIslaman dengan label tradisi NU.
Hak paling utama untuk menghidupkan nilai
Aswaja di lingkungan Kampus terutama kampus umum adalah menata niat. Hilangkan
pemikiran pragmatis tentang dakwah, pikirkan rencana jangka pendek dan rencana
jangka panjang. Perlu rasa tawadhu’ untuk mengembangkan Aswaja ala Nahdliyin
dan PMII. Rancangan ide harus jelas, dan dilakukan dengan aksi tepat dan
dievaluasi secara berkala untuk selalu memperbaiki diri.
Selebihnya, ini sebatas strategi. Untuk
benar-benar memperjuangkan kehidupan nilai-nilai Aswaja di kampus umum
memerlukan kerja keras. Sehingga, kampus umum menjadi damai dan sejuk tanpa
indikasi benih-benih ekstreamisme
Penguasaan Aswaja di Kampus Umum
Langkah perubahan tidak harus dimulai dengan
langkah-langkah yang besar, dengan hal yang sederhana perubahan itu berawal.
Begitu juga dengan cara kader PMII untuk menembus benteng-benteng pertahanan
dari kampus umum yang telah memblockingterhadapa ajaran dan amaliah
Ahlussunnah Wal Jama’ah itu sendiri.
Pertama, menguasai organisasi intra kampus. Sejak dini
penting ditanamkan jiwa kepemimpin dan mengorganisir massa, sebagai bentuk
fitrah bahwa setiap manusia adalah pemimpin, sehingga tidak ada hal yang
mustahil dan dipertentangkan apabila mahasiswa-mahasiswa NU mulai menjajaki
organisasi intra kampus seperti Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Badan
Eksekutif Mahasiswa (BEM), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Sikap apatis terhadap
proses pergolakan kampus akan semakin memberikan kesempatan pihak-pihak lain untuk
menempati posisi-posisi strategis yang ada di kampus.
Kedua, membentuk Small Group Discussion Aswaja
kampus. Hal ini sangat penting, apalagi jika diterapkan di kampus-kampus umum
dengan mengundang tokoh-tokoh yang mahir tentang pemikiran Islam (Aswaja) guna
membentengi dan menarik mahasiswa dan akademisi kampus dengan doktrin Islam
Aswaja.
Ketiga, menguasai lembaga pers kampus. Beberapa tahun
terakhir, lembaga pers, penalaran dan penyiaran media kampus di perguruan
tinggi lebih didominasi oleh mahasiswa yang di bawah tangan organisasi tidak
moderat. Tentu hal ini disebabkan minimnya minat dan bakat mahasiswa NU untuk
berkecimpung di dalam dunia literasi dan media. Kajian keaswajaan yang
dilakukan terbilang jarang dimediakan. Sehingga kajian-kajian yang mewarnai
kampus justru datang dari ajaran non Aswaja, non Nahdliyin.
Ketiga hal di atas adalah sekadar kiat-kiat penulis, dan
masih bisa bersifat dinamis dalam penerapannya karena situasi dan kondisi
setiap perguruan tinggi akan berbeda, maka berbeda pula solusi dan strategi
dalam mempertahankan dan menyebarluaskan faham Islam Aswaja.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar