Jumat, 23 Juli 2021

STRATEGI PENYEBARAN DAN PENGEMBANGAN FAHAM ASWAJA DI PERGURUAN TINGGI

 


Perbincangan terkait teologis memang tidak akan ada habisnya, sebab semangat teologis itulah yang hingga kini membuat umat manusia terus berafiliasi dengan dalil-dalil ilahiah pada dimensi kehidupan ini. Sejak turunnya agama-agama sebelum Islam, yakni Yahudi dan Nasrani yang sering disebut di dalam Al Quran (Agama Samawi), dijelaskan jika semangat ketuhanan itulah yang mempengaruhi pola interaksi, pola sosial, dan pola politik. Akan muncul sentimen tinggi ketika pada masa transisi kepercayaan Nasrani setelah Yahudi, juga Nasrani dengan Agama Islam.

Sebagai insting manusia secara alami, akan muncul pemberontakan ide, dan tindakan atas usikan tentang kepercayaan nenek moyang mereka yang diperbarui dengan kepercayaan baru yang dibawa oleh nabi baru yang diutus untuk membaharui atau menyempurnakan agama sebelumnya.

Islam di Indonesia ialah Islam yang damai, ramah dan toleran. Sebab, Islam sendiri datang ke Nusantara dengan berbagai hal yang unik, termasuk perdagangan dan dakwah damai yang telah terakulturasi dengan budaya setempat. Berbeda dengan wajah Islam yang berada di Tanah Hijaz, sebab berdasarkan historinya saja sudah berbeda, yang mana Islam Timur Tengah berkembang dengan sebuah “penaklukan”, meskipun pada awal datangnya Islam, Rasulullah sendiri tidak pernah memakai cara-cara kekerasan untuk melakukan Islamisasi terhadap umatnya.

Tidak banyak kalangan yang mau menerima representasi nilai-nilai teologis dalam bentuk negara demokratis, seperti Indonesia. Bahkan Indonesia dihadapkan dengan ancaman-ancaman NKRI, salah satunya pemahaman dini terkait konsep ketuhanan.


PMII Benteng Radikalisme di Kampus

Dengan semangat perpaduan Islam dan Indonesia, PMII hadir sebagai organisasi intelektual kemahasiswaan keIslaman satu-satunya yang mengakui “Pancasila” sebagai asasnya. Itu disebabkan PMII tidak bisa dipisahkan dari organisasi masyarakat (Ormas) Nahdlatul Ulama (NU) yang menjadi kiblat haluan pergerakan kader PMII. PMII secara kultural dan historis memiliki hubungan harmonis dengan NU sejak zaman pendirian organisasi kaderisasi kemahasiswaan tersebut.

Munculnya gerakan-gerakan radikal dan anti toleran dengan garang menunjukkan keberadaan dan kedikdayaannya adalah dinamika mempertahankan paham Ahlussunnah Wal Jama’ah dan membentengi masyarakat dari radikalisme agama adalah tugas dan tanggung jawab bersama dalam menjaga keutuhan NKRI yang susah payah telah dibangun oleh ulama-ulama nasionalis, khususnya untuk kader-kader PMII yang menjamur di Kampus-Kampus berbasis UIN, IAIN, dan STAIN.

Wajah Islam yang ramah, sengaja dipermainkan menjadi Islam yang berwajah buram, kasar, dan penuh amarah, bahkan teroris yang jauh dari visi dan misi ajaran Islam itu sendiri. Disinilah fungsi PMII sebagai organisasi kaderisasi bangsa, PMII lekat dengan identitas aktivis dan kurang harmonis dengan status akademisnya. Padahal fungsi dari pada kader PMII di kampusnya masing-masing sangat diperlukan sebagai benteng gerakan-gerakan radikal yang sudah mulai mengakar khususnya di kampus-kampus umum di Indonesia.

PMII yang erat dengan asahan pemikiran kiri, juga harus diimbangi dengan sikap moderat yang menjadi asal muasal produk pemikiran Nahdliyin, mempertahankan esensi dan eksistensi Aswaja di kampus merupakan salah satu tanggung jawab kader PMII. Oleh sebab itu, kader PMII tidak harus anti musholah/masjid kampus, namun harus merebut kembali untuk menguasai tempat-tempat strategis dakwah yang ada di kampus.

Strategi Penyeberan Paham Ahlussunah Wal Jama'ah Di Kampus Umum

Melihat realita yang ada saat ini, tidak sedikit kampus-kampus yang terhegemoni paham Non Ahlussunnah Wal Jama'ah (ASWAJA), terlebih di kampus umum. Mirisnya lagi, paham yang masuk kebanyakan adalah paham-paham yang ekstream atau radikal, yaitu salafy ikhwani, salafy yamani, haraki, dan paham salafy yang ekstream lainnya. Entah kenapa paham Islam yang radikal itu sangat masif tumbuh dan berkembang, hingga terlihat kader PMII dan warga Nahdliyin umumnya yang jelas menghegemoni paham Ahlussunnah Wal Jama'ah (ASWAJA) tertinggal dan terpinggirkan dalam kampus.

Pertumbuhan dan perkembangan paham Islam yang ekstream atau radikal itu mendapatkan respon yang beragam dari berbagai pihak. Ada yang memberikan respons positif dengan mendukung, ada yang memberi respon reaktif-emosional, ada yang memberikan respon kreatif, dan ada juga yang merespon secara anarkis. Sejauh ini, respon yang diberikan belum membendung, apalagi menghentikan laju pertumbuhan gerakannya. Justru ada kecenderungan terjadi peningkatan jumlah anggota pada berbagai organisasi kemahasiswaan Islam yang pahamnya ekstream tersebut.

Tidak menutup kemungkinan, jika hal seperti ini tidak cepat teratasi, maka akan benar-benar hilang, bukan lagi tertinggal atau terpinggirkan nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jama'ah (ASWAJA) tersebut di dunia kampus. Dan eksistensi paham Islam yang ekstream atau radikal itu sesungguhnya bukan hanya merupakan ancaman bagi organisasi kemahasiswaan Islam saja, tapi juga ancaman bagi masa depan Islam Indonesia. Idealnya Islam Indonesia merupakan Islam yang dikenal dengan karakter ramah, toleran dan humanis. Dinamika dan pertumbuhan Islam di Indonesia selama ratusan tahun menunjukkan bahwa Islam toleran dan damai, dapat hidup menyatu dengan masyarakat Indonesia

Dalam kerangka inilah organisasi kemahasiswaan Islam arus utama (mainstream) terkhusus kader-kader PMII di berbagai kampus, merasakan perlu untuk memberikan respon aktif-kreatif-konstruktif, agar paham Islam yang radikal itu tidak semakin menancapkan akar pengaruhnya. Infiltrasi gerakan Islam radikal dilakukan secara masif, khususnya terhadap generasi muda yang masih menduduki bangku perkuliahan, terlebih di kampus-kampus umum yang sedikit menerima materi dan pemahaman agama Islam, namun dengan begitu tidak mengecualikan kampus-kampus agama Islam.

Oleh karena itu, salah satu upaya kader PMII khususnya yang berada di kampus-kampus, yang menjadi benteng pertahanan terakhir paham Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah (ASWAJA) untuk mencegah pertumbuhan dan perkembangan paham Islam yang ekstream atau radikal itu adalah dengan strategi khusus yang terstruktur dan sistematis, agar memungkinkan generasi muda yang ada di kampus-kampus, yang masih menduduki bangku perkuliahan khususnya dapat mengetahui dan memahami persoalan dengan lebih baik lagi, dan menjadi suplemen kuat benteng Ahlussunnah Wal Jama'ah di kalangan perguruan tinggi.

Yang paling utama untuk menghidupkan nilai Aswaja di lingkungan Kampus adalah menata niat. Niatkan untuk Lii’la-i kalimatillah (meninggikan kalimat Allah). Karena saat ini PMII terjerumus dalam pemikiran yang sangat pragmatis. Pragmatis untuk mendapatkan kekuasaan, bahkan pragmatis juga dalam melakukan perjuangan dakwah.

Adapun beberapa strategi yang harus direalisasikan oleh kader-kader PMII khususnya yaitu sebagai berikut :

1. Hikmah Kebijaksanaan

Hikmah diartikan sebagai perumpamaan untuk mengambil pelajaran dari kejadian atau kepribadian. Metode ini fleksibel dan dapat digunakan dimana saja. Cara yang ditempuh dengan cara antara lain :

A. Keteladanan dan Uswatun Hasanah

Cara ini ialah cara paling efektif, dengan keteladanan orang akan mudah mengikuti tokoh yang diteladani. Bukankah dalam QS. Al-Ahzab:21 dijelaskan bahwa Nabi Muhammad merupakan keteladan yang baik bagi mereka yang rahmat Allah dan syafaat di hari kiamat? Bahkan Nabi terkenal Al-Amiin sebelum wahyu diturunkan kepadanya. Al-amiin inilah modal pertama sehingga Nabi Muhammad  SAW dapat mempengaruhi masyarakat Arab.

Strategi di atas adalah sangatlah umum untuk mengembangkan Aswaja di kampus umum yang kering siraman rohani dan rentan ekstrimisme. Karena cara di atas juga cara dakwah yang dijelaskan dalam Al Qur'an.

2. Internalisisasi prinsip Aswaja pada tiap diri anggota PMII

Pada setiap anggota PMII telah dikenalkan dengan nilai-nilai Aswaja antara lain tawasuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal atau ta'adul. Konsekuensi dari nilai-nilai ini anggota PMII bisa berinteraksi dan diterima mahasiswa secara luas. Anggota PMII sadar bahwa keberadaannya harus diterima di kalangan mahasiswa umum. Setelah diterima anggota PMII baru dapat mengaktualisasikan Aswaja kepada mahasiswa di sekitarnya.

3. Silaturrahim Kelompok alumni atau mahasiswa pesantren

Selama ini di kampus umum terdapat organisasi alumni pendok pesantren dari berbagai daerah. Dari Bahrul Ulum Jombang, Lirboyo Kediri, Tarbiayatut Tholabah Lamongan, At-Tanwir Bojonegoro, Nurul Jadid Probolinggo. Melalui kesamaan kultural dijalin komunikasi dan sekali dua kali mengadakan kegiatan bersama seperti mengaji bersama atau kegiatan lain yang mempererat persaudaraan.

4. Kelompok belajar mengaji Aswaja di internal PMII

Mengaji kitab-kitab kuning dalam bidang aqidah, fikih, dan tasawuf secara bersamaan. Mengaji menjadi rutinan dan dibiasakan. Dari bidang akidah, memberi keyakinan bahwa Aswaja menjadi cara berakidah yang paling shohih dengan menjaga keberadaan nas, dan mentakwil nas jika membelakangi  pemikiran. Sehingga diperoleh cara bertauhid yang benar. Bidang fikih, Ulama’ Aswaja menjadikan pijakan Al-Quran, Hadits, Ijma’ dan Qiyas . Hasil ijtihadnya lazim kita ketahui dengan Imam 4 madzhab. Tasawuf ditekankan adanya maqomat (level) tertentu. Membagi menjadi syariat, haqiqat dan ma’rifat. Zuhri membagi maqomat-maqomat yakni: tawbah, zuhd, wara’, faqr, shabr, tawakkal, dan ridha. Dalam proses antar tahap itu ada khowf, raja’, fana, dan fanaul fana.

Hasil kajian tidak hanya didengarkan, tetapi perlahan diamalkan. Sesekali diistiqomahkan untuk berpuasa senin kamis, atau puasa ayyamul bith. Sehingga, penempaan diri tidak hanya dalam urusan akal dan logika saja, tetapi juga penempaan hati melalui puasa, dzikir, wirid, rotib dan maulid atau manaqib.

5. Dakwah media dengan media yang ada

Selama ini kita terpaku kepada kepemimpinan dakwah kampus yang ada. Padahal banyak media yang dapat digunakan untuk mengembangkan dakwah di kampus. Seolah-olah kalau tidak memiliki kepemimpinan lembaga dakwah kampus, kita tidak dapat melakukan dakwah. Menurut penulis metode yang paling efektif dengan akhlaq (metode hikmah kebijaksanaan), karena Nabi pun media dakwah utama ialah Uswatun Hasanah. Media lisan, lukisan atau audio visual tidak sulit kita gunakan, setiap individu memiliki Tuhan yang ada di genggaman mereka berupa handphone. Melalui handphone bisa membuat meme islam, audio visual (melalui dubsmash atau yang lain). Media publikasi pun tidak jauh, dapat melewati BBM, WhatsApp, bahkan Instagram.

6. Pembagian peran pengembangan Aswaja di Internal dan Eksternal PMII

Peran penguatan yang ada di internal PMII mewacanakan bahwa madzhab keagamaan dan manhaj PMII yang paling absah dalam mengapai istinbath gerakan mahasiswa. Sedangkan di eksternal PMII, menyajikan Islam yang ramah, menarik, menyejukkan, dan menentramkan. Sehingga melepas batas apa yang ingin dicari oleh mereka. Kadang bendel NU atau Nahdliyiin juga harus dibredel ketika medan berbeda.

7. Masuk organisasi keagamaan di kampus

Individu yang masuk organisasi keagamaan (LDK, atau Lembaga Pembinaan Al-Quran). Selayaknya memiliki i’tikad untuk beribadah dan untuk mengabdi di organisaasi tersebut. Meskipun ada maksud untuk mendakwahkan Ahlussunnah Wal Jamaah kepada oraganisasi tersebut. Yang menjadi perhatian bahwa itu bukan tujuan utama. Jika diteima Al hamdulillah, jika tidak diterima tidak apa-apa. Disini prinsip tasamuh harus diterapkan.

8. Mendirikan atau menginisiasi kegiatan keagamaan di kampus yang berlatas belakang Ahlussunnah Wal Jamaah.

Jika organisasi keIslaman memungkinkan untuk Syiar Islam Aswaja An-Nahdliyyah maka silahkan disyiarkan melalui LDK itu. Akan tetapi jika tidak memungkinkan alangkah baiknya untuk membentuk lembaga keIslaman dengan label tradisi NU.

Hak paling utama untuk menghidupkan nilai Aswaja di lingkungan Kampus terutama kampus umum adalah menata niat. Hilangkan pemikiran pragmatis tentang dakwah, pikirkan rencana jangka pendek dan rencana jangka panjang. Perlu rasa tawadhu’ untuk mengembangkan Aswaja ala Nahdliyin dan PMII. Rancangan ide harus jelas, dan dilakukan dengan aksi tepat dan dievaluasi secara berkala untuk selalu memperbaiki diri.

Selebihnya, ini sebatas strategi. Untuk benar-benar memperjuangkan kehidupan nilai-nilai Aswaja di kampus umum memerlukan kerja keras. Sehingga, kampus umum menjadi damai dan sejuk tanpa indikasi benih-benih ekstreamisme

 

Penguasaan Aswaja di Kampus Umum

Langkah perubahan tidak harus dimulai dengan langkah-langkah yang besar, dengan hal yang sederhana perubahan itu berawal. Begitu juga dengan cara kader PMII untuk menembus benteng-benteng pertahanan dari kampus umum yang telah memblockingterhadapa ajaran dan amaliah Ahlussunnah Wal Jama’ah itu sendiri.

Pertama, menguasai organisasi intra kampus. Sejak dini penting ditanamkan jiwa kepemimpin dan mengorganisir massa, sebagai bentuk fitrah bahwa setiap manusia adalah pemimpin, sehingga tidak ada hal yang mustahil dan dipertentangkan apabila mahasiswa-mahasiswa NU mulai menjajaki organisasi intra kampus seperti Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Sikap apatis terhadap proses pergolakan kampus akan semakin memberikan kesempatan pihak-pihak lain untuk menempati posisi-posisi strategis yang ada di kampus.

Kedua, membentuk Small Group Discussion Aswaja kampus. Hal ini sangat penting, apalagi jika diterapkan di kampus-kampus umum dengan mengundang tokoh-tokoh yang mahir tentang pemikiran Islam (Aswaja) guna membentengi dan menarik mahasiswa dan akademisi kampus dengan doktrin Islam Aswaja.

Ketiga, menguasai lembaga pers kampus. Beberapa tahun terakhir, lembaga pers, penalaran dan penyiaran media kampus di perguruan tinggi lebih didominasi oleh mahasiswa yang di bawah tangan organisasi tidak moderat. Tentu hal ini disebabkan minimnya minat dan bakat mahasiswa NU untuk berkecimpung di dalam dunia literasi dan media. Kajian keaswajaan yang dilakukan terbilang jarang dimediakan. Sehingga kajian-kajian yang mewarnai kampus justru datang dari ajaran non Aswaja, non Nahdliyin.

Ketiga hal di atas adalah sekadar kiat-kiat penulis, dan masih bisa bersifat dinamis dalam penerapannya karena situasi dan kondisi setiap perguruan tinggi akan berbeda, maka berbeda pula solusi dan strategi dalam mempertahankan dan menyebarluaskan faham Islam Aswaja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern

  Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern Pendahuluan Ketika arus modernisasi menghujani dunia Islam, proses modern...