Jumat, 23 Juli 2021

STRATEGI KADERISASI DAN PENDAMPINGAN KADER

 


BAB I

PENDAHULUAN

 

A.       Latar Belakang Masalah

 

Kaderisasi PMII pada hakekatnya adalah totalitas upaya-upaya yang dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan untuk membina dan mengembangkan potensi dzikir, fikir dan amal soleh setiap insan pergerakan. Secara kategoris dapat dipilih dalam tiga bentuk yakni: Perkaderan Formal, Perkaderan Nom Formal (Pengembangan) dan Perkaderan Informal. Ketiga bentuk ini harus diikuti oleh segenap warga pergerakan, sehingga pada saatnya kelak akan terwujud kader yang berkualitas ulul albab.

Perkaderan formal meliputi tiga tahapan dengan masing-masing follow-up-nya.Ketiganya itu adalah Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba), Pelatihan Kader Dasar (PKD), Pelatihan Kader Lanjutan (PKL), dan Pelatihan Kader Nasional (PKN). Semua tahapan dengan follw-up yang menyertai itu merupakan satu kesatuan tak terpisahkan, karena kaderisasi PMII pada hakekatnya merupakan proses terus menerus, baik di dalam maupun di luar forum kaderisasi (long-life-education).

Perkaderan Formal Pengembangan adalah berbagai pelatihan dan pendidikan yang ada di PMII.Perkaderan jenis ini dibedakan dalam dua macam, yakni 1) yang wajib diikuti oleh segenap kader secara mutlak, dan 2) yang wajib di ikuti sebagai pilihan. Yang sifatnya wajib mutlak, disamping sebagai pembekalan mengenai hal-hal dasar yang harus dimiliki kader pergerakan, juga merupakan prasyarat bagi keikutsertaan kader bersangkutan dalam PKD atau  PKL.Sedang perkaderan informal adalah keterlibatan kader pergerakan dalam berbagai aktifitas dan peran kemasyarakatan PMII.Baik dalam posisi sebagai penanggung jawab, menjadi bagian dari team work, atau bahkan sekedar partisipan.Perkaderan jenis ini sangat penting dan mutlak diikuti. Disamping sebagai tolak ukur komitmen dan militansi kader pergerakan, juga jauh lebih real disbanding pelatihan-pelatihan formal lain, karena langsung bersinggungan dengan realitas kehidupan.

Di atas semua pelatihan tersebut terdapat satu pelatihan lagi yakni pelatihan fasilitator. Pelatihan ini dimaksudkan untuk menciptakan kader-kader pergerakan yang secara terus menerus akan membina dan menangani berbagai forum perkaderan di PMII. Pelatihan lebih utama ditujukan bagi kader-kader potensial yang telah mengikuti semua bentuk perkaderan sebelumnya, dan yang telah teruji komitmennya terhadap PMII maupun aktifitas dan peran-peran sosial.

Melihat realita sekarang, hampir disetiap universitas yang ada PMII nya, pengkaderan yang dilakukan paska MAPABA selalu menjadi kendala. Tak jarang, setiap anggota baru selalu mengeluh akan pendampingan yang dilakukakan oleh pengurus baik rayon ataupun komisariat. Mereka seakan dibohongi dengan iming-iming yang diberikan oleh seniornya yang ada dikampus. Alhasil, anggota semakin hari semakin menjauh dari PMII karena apa yang dilakukan pengurus tidak sama dengan apa yang dilakukakan sebelum dia melaksanakan MAPABA.

Jika tidak diperbaiki, maka hal ini akan mengakar dan akan menghilangkan hittah PMII yang selalu mengatakan dirinya sebagai organisasi kaderisasi.

A. Rumusan Masalah

1.      Apa Pengertian Strategi Pendampingan Kader ?

2.      Bagaimana Strategi Pendampingan Kader PMII?

B. Tujuan Penulisan

1.      Untuk mengetahui Pengertian Strategi Pendampingan Kader

2.      Untuk mengetahui Bagaimana Cara Pendampingan Kader PMII

 

 

 


BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Pengertian Strategi Pendampingan Kader

Kata strategi berasal dari bahasa Yunani "strategia" yang diartikan sebagai "The Art Of The General" atau seni seorang panglima yang biasanya digunakan dalam peperangan. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia Strategi ilmu dan seni menggunakan semua sumber daya bangsa(-bangsa) untuk melaksanakan kebijaksanaan tertentu dalam perang dan damai;

Sedangkan menurut Glueck dan Jauch, p.9, 1989 bahwa :  “Strategi adalah Rencana yang disatukan, luas dan berintegrasi yang menghubungkan keunggulan strategis perusahaan dengan tantangan lingkungan, yang dirancang untuk memastikan bahwa tujuan utama dari perusahaan dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat oleh organisasi.

Dalam KBBI Pendampingan adalah proses, cara, perbuatan mendampingi atau mendampingkan; pendampingan merupakan istilah baru yang muncul sekitar 90-an, sebelum itu istilah yang banyak dipakai adalah pembinaan.

Sedangkan kader dalam KBBI diartikan sebagai orang yang diharapkan akan memegang peran yang penting dalam pemerintahan, partai, dan sebagainya;

Dari pengertian di ats dapat disimpulkan bahwa Strategi Pendampingan Kader adalah cara atau proses  yang dilakukan oleh atasan dalam hal ini pengurus PMII dalam mengarahkan, menuntun dan mengajak anggota dan kader demi tercapainya tujuan PMII yang termaktub dalam Anggaran Dasar Bab IV Pasal 4 yaitu : “Terbentuknya pribadi muslim Indonesia berilmu yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, Berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

 

B.     Strategi Pendampingan Kader PMII

            Pembinaan dan pengembangan adalah upaya pendidikan baik formal, informal maupun Nonformal yang dilaksanakan secara sadar, terencana, terarah, terpadu, teratur dan bertanggung jawab dalam rangka memperkenalkan, menumbuhkan, membimbing dan mengembangkan suatu kepribadian yang seimbang dan utuh, baik jasmaniah maupun rohaniah.

Pembinaan dan pengembangan diarahkan untuk memberikan pengetahuan, ketrampilan dan keahlian serta membentuk sikap mental spiritual berakhlakul-karimah sesuai dengan bakat dan minat serta kemamuan sebagai bekal untuk selanjutnya, atas parakarsa sendiri menambah, meningkatkan dan mengembangan dirinya, sesamanya maupun lingkungan ke arah tercapainya tingkat letaqwaan yang tinggi serta harkat, martabat dan kualitas pribadi yang optimal.  Dari bekal yang dicapai melalui pembinaan dan pengembangan tersebut merupakan jaminan gerak sistem perjuangan PMII dalm mencapai cita-citanya.

Renstra pengembangan dan perjuangan PMII, baik secara individu maupun secara organisatoris memerlukan kondisi dan suasana lingkungan yang sehat. Kondisi dan suasana lingkungan yang sehat tersebut dimaksudkan untuk menumbukan kreatifitas mahasiswa dalam kemajuan dan kemodernan bangsa sekaligus mata rantai persambungan kepemimpinan bangsa.

Kondisi dan suasana yang sehat dalam mencapai sasaran tersebut, mutlak bermuatan kesetaraan atau egaliter, saling percaya, menghargai, jujur dan adil, terbuka, bebas dan bertanggung jawab, menjamin pemberlanjutan ekologis serta terbangunnya hubungan pergaulan budaya yang dewasa dalam konteks bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

1.      Memahami Makna PMII

Makna “Pergerakan” yang dikandung dalam PMII adalah dinamika dari hamba (makhluk) yang senantiasa bergerak menuju tujuan idealnya memberikan bagi alam sekitarnya. Dalam konteks individual/komunitas maupun organisatoris, kiprah PMII haruslah senantiasa mencerminkan pergerakannya menuju kondisi yang lebih baik sebagai perwujudan tanggung jawabnya memberi rahmat pada lingkungannya.

“Pergerakan” dalam hubungannya dengan organisasi mahasiswa menuntut upaya sadar untuk membina dan mengembangkan potensi ketuhanan dan potensi kemanusiaan agar gerak dinamuka menuju tujuannya selalu berada di dalam kualitas kekhalifahannya.

Pengertian “mahasiswa” yang tergandung dalam PMII adalah golongan generasi muda yang menuntut ilmu di perguruan tinggi yang mempunyai identitas diri. Identitas diri mahasiswa terbangun oleh citra diri sebagai insan releigius, insan dinamis, insan sosial dan insan mandiri. Dari identitas mahasiswa tersebut, terpantul tanggung jawab keagamaan, tanggung jawab intelektual, tanggung jawab sosial kemsayarakatan, dan tanggung jawab individual baik sebagai hamba Tuhan maupun sebagai waga bangsa dan negara.

Pengertian “Islam” yang terkandung dalam PMII adalah Islam sebagai agama yang dipahami dengan haluan/paradigma Ahlussunnah Wal Jamaah yaitu konsep pendekatan terhadap ajaran agama Islam secara proporsional antara Iman, Islam dan Ihsan yang di dalam pola pikir, pola sikap dan pola prilakunya tecermin sifat-sifat selektif, akomodatif, dan integratif.

Pengertain ‘Indonesia” yang terkandung didalam PMII adalah masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang mempunyai falsafah & ideologi bangsa (pancasila) serta UUD 45 dengan kesadaran kesatuan dan ketuhan bangsa dan negara yang terbentang dari Sabang samapai Merauke yagn diikat dengan kesadaran wawasan nusantara.

Secara totalistas PMII sebagai organisasi merupakan suatu gerakan yang bertujuan melahirkan kader-kader bangsa yang mempunyai integritas diri   sebagai hamba yang bertyaqwa kepada Allah SWT , dan atas dasar ketqwaan berkiprah mewujudkan peran ketuhananya membangun masyarakat bangsa dan negara indonesia manuju suatu tatanan masyarakat yang adil dan makmur dalam ampunan dan ridlo Allah SWT.

2.      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Strategi Pendampingan Kader PMII

Dalam proses pendampingan terhadap anggota dan kader PMII, kita perlu memperhatikan beberapa faktor internal dan juga faktor external, faktor internal yang dimaksud adalah dorongan yang ada dalam diri pribadi dan juga apa yang dimiliki oleh organisasi PMII itu sendiri, modal dasar dan faktor dominan yang ada dalam PMII menjadi faktor yang sangat sentral dalam mendampingi dan mengarahkan anggota dan kader itu sendiri.

A.    Modal dasar

Modal dasar PMII adalah:

a)      PMII merupakan organisasi kemasyarakatan pemuda yang eksistensinya dijamin oleh UUD 1945 dan karena itu menjadi aset bangsa dalam melakukan proses pembinaan, dan pengembangan gernerasi muda khsususnya mahasiswa.

b)      NDP sebagai nilai prinsip ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jamaah merupakan sumber motivasi dan inspirasi pergerakan, sekaligus sebagai pendorong, penggerak dan landasan berpijak dalam kehidupan pribadi insan PMII.

c)      PMII sebagai organsasi mahasiswa Islam mempunyai keterikatan dan tanggung jawab dengan seluruh masyarakat bangsa Indonesia yang menganut sistem berfikir keagamaan, dan kemasyarakatan yang sama yaitu ASWAJA dan system kebangsaan.

d)     Peran kesejarahan PMII telah menunjukkan kepeloporann dan patriotismenya dalam menegakkan dan membela agama. Pancasila dan UUD 1945 dalam negara kesatuan republik Indonesia. Selain itu, PMII sebagai elemen civil sociaty telah terbukti perannya dalam melakukan pendampingan masyarakat, dalam usaha melakukan proses demokratisasi di kalangan masyarakat dan sebagainya. Peran PMII dalam setiap perubahan, terutama dalam menegakan reformasi secara total, dalam segala lapis kehidupan kemasyarakatan.

e)      Jumlah dan persebaran anggota PMII yang berada diseluruh wilayah Indonesia sebagai sumber daya insani yang potensial. Dengan kemapanan struktur organisasi dari tingkat pusat sampai daerah, maka sosialisasi nilai dan gagasan serta kebijakan dapat berjalan secara efektif dan efisien.

f)       Ketaqwaan kepada Allah SWT merupakan acuan dasar dan sekaligus menjadi nspirasi bagi peningkatan kualitas diri menuju kesempurnaan hidup manusia sebagai hamba Allah SWT.

g)      Jumlah dan mulai tersebarnya profesi alumni PMII merupakan bagian potensi bagi pengembangan organisasi dan masyarakat.

h)      Tipologi kader yang beragam warga PMII merupakan modal utama dalam menyusun Renstra Gerakan PMII. Setidaknya, ada lima tipologi dan kecenderungan warga PMII. Pertama, intelektual baik akademik (scholar) maupun organik (analis/praktisi). Kedua, gerakan massa (student mocement), baik yang menggunakan baju organisasi maupun organ gerakan lainnya. Ketiga, advokasi sosial baik yang intens dengan pendampingan sosial, maupun advokasi wacana. Keempat, politisi baik keterlibatan dalam panggung konstalasi politik, maupun persinggungan dengan dunia politisi. Kelima, kecenderungan profesional dan enterpreneur. Hanya saja, persebaran tipologi kader ini tidak merata, sehingga cenderung ada disparitas antara satu cabangd dengan lainnya.

 

B.     Faktor Dominan

Dalam mengerakkan dan memanfaatkan modal dasar untuk mencapai tujuan PMII dengan landasan serta azas-azas diatas, perlu diperhatikan faktor-faktor dominan berikut :

a)      Ideologi yang dianaut oleh PMII  merupakan aspek dominan dari organisasi PMII yang berisi pandangan    hidup, cita-cita serta sistem nilai yang memberikan arah terhadap tingkah laku dari setiap anggota PMII. PMII berakidah Islam Ahlussunnah wal Jamaah dan atas dasar akidah itulah PMII dengan penuh kesadaran berideologi Pancasila  dalam kehidupan berbangsa dabn bernegara di Indonesia. Akidah dan ideoligi terebut merupakan faktor pendorong dan penggerak dalam proses pembinaan pengembangan dan perjuangan organisasi sekaligus sebagai dasar berpijak dalam menghadapi proses perubahan dan goncangan-goncangan di tengah-tengah masyarakat. Pandangan terhadap wacana Islam yang inklusif dan paradigma kritis transformatif dalam membangun masyarakat, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam diri PMII. Pola pandangan keagamaan ini, merupakan faktor dominan yang dimiliki PMII dalam rangka pengembangan mendatang.

b)      Komunitas Islam Ahlussunnah Waljamaah sebagai kelompok masyarakat terbesar Indonesia merupakan wahana dan tempat pengabdian  yang jelas bagi PMII;

c)      Jumlah anggota PMII yang setiap tahunnya bertambah dengan kwantitas yang cukup besar merupakan faktor strategis yang menentukan usha pembinaan generasi muda dalam proses pelahiran kader bangsa; sekaligus menjadi pelanjut kepemimpinan organisasi.

d)     Jumlah Alumni yag setiap tahunnya bertambah, sejak berdirinya PMII tahun 1960 tersebut tersebar diseluruh wilayah Indonesia dan bergerak dalam berbagai profesi dan disiplin ilmu yang mengabdi pada agama, masyarakat dan negara.

Sumber dana dan fasilitas yang tersebar diberbagai komunitas dan kelompok terutama ummat Islam merupakan aset yang perlu dikoordinir, dikembangkan sebagai sumber dana perjuangan. Oleh karena itu PMII harus mampu menjalin hubungan organisasi yang saling brmanfaat dan memberikan nilai lebih antara keduanya yang pada akhirnya PMII mempunyai sumber dana secara mandiri.

 

3.      Strategi Pendampingan Kader PMII

            Strategi yang dimaksud disini adalah adanya suatu kondisi serta langkah-langkah yang mendasar, konsistensi dan aplikatif yang harus dilakukan dalam rangka mewujudkan tujuan dan cita-cita PMII.

 Dari pemahaman strategi itulah maka untuk mencapai tujuan pembinaan pengembangan dan perjuangan yang telah ditetpkan diperlukan strategi sebagai berikut:

1.      Iklim yang mampu menciptakan suasana yang sehat, dinamis dan kompetitif yang selalu  dibimbing dengan bingkai taqwa, inteleqtuallitas dan profesionalitas sehingga mampu meningkatkabn kualitas pemikiran dan prestasi, terbangunnya suasana kekeluargaan dalam menjalankan tugas suci keorganisasian, kemasyarakatan dan kebangsaan.

2.      Kepemimpinan  harus difahami sebgai amanat Allah yang menempatkan setiap insan PMII sebagai Da’I untuk melakukan amar makruf nahi munkar. Sehingga kepemimpinannya selalu tercermin sikap bertanggungjawab melayani, berani, jujur, adil dan ikhlas; serta didalam menjalankan kepemimpinannya selalu penuh dengan kedalaman rasa cinta, arif bijaksana, terbuka dan demokratis.

3.      Untuk mewujudkan suasana taqwa,   intelektualitas dan profesionalitas serta kepemimpinan sebagai amanat Allah SWT diperlukan suatu gerakan dan mekanisme organisasi yang bertumpu pada kekuatan dzikir dan fikir dalam setiap tata pikir, tata sikap dan tata perilaku bsik secara indivudu  maupun organasatoris.

4.      Struktur dan aparat organisasi yang tertata dengan baik sehingga dapat mewujudkan sistem dan mekanisme organisasi yang efektif dan efesien, mamp mewadahi dinakima intern organisasi serta mampu merespon dinamika dan perubahan ekternal.

5.      Produk dan peraturan-peraturan organisasi yagn konsisten dan tegas menjadi panduan konsitutif , sehingga tercipta auatu mekanisme organisasi yang teratur dan mempunyai kepastian hukum dari tingkat pengurus besar sampai tingkat rayon.

6.      Pola komunikasi yang dikembangkan adalah komunikasi individual dan kelembagan, yaitu terciptanya komunikasi timbal balik dan berdulat serta mampu membedakan antara hubungan individual dan hubungan kelembagan; baik kedalam maupun keluar.

7.      Pola kaderisasi yang dikembangkan selaras dengan tuntutan perkembangan zaman kini dan mendatang, sehingga terwujud pola pengembangan kader yang berkualitas, mampu menjalankan fungsi kekhilafahan yang terejawantahkan dalam perilaku keseharian, baik selaku kader bangsa maupun kader agama.

 

4.      Tujuan Strategi Pendampingan Kader PMII

Tujuan pembinaan pengembangan dan perjuangan PMII diarahkan pada terbentuknya pribadi  dan kondisi organisasi yagn dapat mencapai tujuan dan cita-cita PMII. Pribadi dan kondisi organisasi yagn dimaksud adalah tercapainya suatu sikap dan perilaku:

1.      Terwujudnya kader-kader penerus perjuangan PMII yang bertaqwa kepada Allah SWT, berpegang teguh pada ajaran Islam Aswaja serta Pancasila dan UUD 1945 sebagai satru-satunya ideologi dan pandangan hidup bangsa dan negara.

2.      Terwujudnya penghayatan dan pengamalan nilai-nilai ajaran Islam Aswaja dan moral  bangsa untuk memperkokoh alas pijak dalam rangka menempuh kehidupan bermasyarakat, berbangsa  dan bernegara yang berkembang cepat sebagai akibat lajunya perkembangan  IPTEK sert arus globalisasi dan informasi.

3.      Tumbuh dan berkembangnya kreatifitas, dinamika dan pola berfikir yang mencerminkan budaya pergerakan, selektif, akomodatif, integratif dan konstruktif dalam menghadapi dan menyelesaikan setiap permasalahan baik secara individu, organisasi dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

4.      Tumbuh dan berkembangnya sikap dan orientasi kemasa depan, orientasi fungsi dan produktifitas serta mengutamakan prestasi.

5.      Terciptanya suatu organisasi sebagai suatu sistem yang sehat dan dinamis karena didukung oleh nilai, aparat, sarana dan fasilitas serta teknik pengolahan yang memadai sesuai dengan tuntutan PMII maupun tuntutan lingkungan yang senantiasa berkembang.

6.      Terciptanya suatu kehidupan organisasi yang dinamis, kritis dan cerdas dalam merebut tanggungjawab dan peran sosial sebagai bentuk partisipasi dan pengamalan nyata pergerakan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sehingga PMII dapat benar-benar menjadi lembaga alternatif baik pada dimensi pemikiran maupun kualitas kepemimpinan dan sumber daya manusia.

7.      Tumbuhnya suatu situasi dan kondisi yang mencerminkan kekokohan PMII yang berpijak pada nilai-nilai dan tradisi yang dimilikinya serta mampu mecari alternatif yang paling mungkin dalam usaha untuk tidak trseret pada polarisasi dan opini yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakaat yang dapat merugikan perjuangan mewujudkan cita-cita PMII.

8.      Tersedianya kader-kader yang memadai baik secara kualitatif maupun kwantitatif sebagai konsekwensi logis dari arah PMII sebagai organisasi pembinaan, pengembangan dan perjuangan yang dikhidmatkan kepada agama, masyarakat, bangsa dan negara.

 

 

 

 

 


 

BAB III

KESIMPULAN

 

Kebutuhan pergerakan dalam merealisasikan berbagai program-programnya bisa dilakukan apabila perangkat-perangkatnya memadai. Perangkat ini meliputi dua hal yakni; perangkat lunak yang berkaitan dengan SDM dan konsep (wacana) yang menjadi kekuatan mainstream pergerakan ataupun perangkat keras yang meliputi institusi dan struktur organisasi sebagai kekuatan untuk mensosialisikan sebagai sesuatu yang kongkrit. Melihat keberadaan dua kebutuhan tersebut yang tergambar dalam wajah PMII, ternyata masih banyak yang harus diperbaiki.

Menyangkut SDM sebagai basis utama berkembangnya PMII. Dalam perspektif sosiologis gambaran warga PMII bisa dilihat dari dua hal. Warga PMII yang secara tradisi, kultur dan ritual  kental dengan nilai-nilai Nahdlatul Ulama dan warga PMII yang secara tradisi, kultur dan ritual kurang atau malah sama sekali tidak bersentuhan dengan nilai-nilai Nahdlatul Ulama. Dalam perspektif pendidikan terbelah dalam dua hal. Warga PMII yang dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi berada di dalam sekolah agama, dan warga PMII yang dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi berada di dalam sekolah umum. Kekuatan disiplin ilmu akademis warga PMII yang dominan adalah disiplin  ilmu-ilmu sosial. Sedangkan disiplin ilmu-ilmu eksakta masih sangat kurang.

Realitas terhadap gambaran ini sangat berpengaruh terhadap pembentukan wajah gerakan PMII dan orientasi pengembangan yang dilakukan. Dominasi disiplin ilmu-ilmu sosial menurun dalam cara pandang, titik pijak filosofis dan teologis, nilai-nilai yang menjadi pijakan, dan pokok-pokok program yang direncanakan. Gambaran ini berasal dari sumber motivasi kekuatan kultur, tradisi, disiplin pendidikan, yang dikombinasikan dengan kekuatan-kekuatan baru yang digali dari pemaknaan ulang atas teori,nilai, bangunan cultur dan tradisi, serta kekuatan filosofis dan teologis didukung dengan sumber teori dan nilai baru yang sedang berkembang. Pemangkasan ikatan cultural dan struktural yang yang dianggap tidak berkesuaian dengan kekinian telah menumbuhkan banyak perubahan dan pembaharuan.

Dekonstruksi atas visi, misi, orientasi dalam bentuk penjelajahan intelektual ini menetas dalam bangunan kekuatan wacana sebagai titik pijak suatu perubahan. Perubahan dimengertikan dalam bangunan kesejatian kesadaran atas realitas yang penuh, kepercayaan atas kekuatan budaya tradisi dan ritualnya, pilihan gerakan dan keperpihakan serta dalam bentuknya yang sangat praktis pola-pola gerakan yang dikembangkan. Perubahan PMII dimulaiF dari penumbuhan wacana independensi sebagai kekuatan untuk menjaga eksistensinya dari intervensi, kooptasi, dan hegemoni kekuatan mainstraim dari luar, termasuk yang dikembangkan dan diideologisasikan oleh negara dan kekuatan kapitalisme global.

Wacana independensi kemudian berkembang dan terus melakukan metaformosis sampai pada titik baru bangunan kemandirian. Sebagai upaya untuk mengarahkan pada kekuatan masyarakat yang independent dan mempunyai kemandirian, kemudian tumbuh filosofi liberasi, ahlusunah waljama’ah sebagai manhaj al-fikr bahkan manhaj transformasi sosial, telaah kritis atas nilai-nilai universal yang memihak kepada masyarakat (bukan negara), telaah kritis atas wacana-wacana represif yang dikembangkan oleh negara, serta pembiasan pemberdayaan masyarakat sipil sebagai perwujudan cita-cita masyarakat yang terbuka dan sejahtera. Wacana-wacana ini kemudian menjadi mainstraim gerakan dan menjadi dasar pijak pergerakan secara institusional.

 

Strategi Kaderisasi PMII

“Mahasiswa saat ini dapat dimengerti hanya apabila kita mampu menyelami cara berpikir mahasiswa, bukannya mahasiswa yang dipaksa untuk mengikuti cara berpikir PMII. Ini boleh jadi merupakan jalan primer untuk ditempuh sehingga PMII dapat diterima oleh mahasiswa. Dengan kalimat lain, bukan mahasiswa yang pertama – tama harus mengikuti jalan pikiran PMII melainkan PMII-lah yang pertama – tama mesti mengikuti jalan pikiran mahasiswa, ” (dalam Pendidikan Kritis Transformatif, PB PMII; 2002) strategi ini dinamai “ masuk dari pintu mereka keluar dari pintu kita”.

Pertama, strategi rekruitmen. Kata sun tzu, jika anda ingin menguasai peperangan, kuasailah medannya. “Medan Perang” kita adalah kampus, bagaimana antropologi kampus kita ? Tentu kita yang lebih paham terkait kondisi kampus masing-masing.

Tetapi, secara umum kampus terbagi dalam beberapa “spot. Koridor/taman, Masjid/Mushalla, Perpustakaan, Kantin, dll. Target kita adalah mahasiswa baru dengan beragam minat dan hobby, tempat yang nyaman bagi mereka untuk berlama-lama menghabiskan waktu menentukan minat dan hobby mereka,, tentu semuanya memilki potensi. Untuk memaksimalkan rekruitmen, pastikan semua “pengkader” tersebar di setiap spot yang ada di kampus sesuai dengan “jiwanya”.

Kedua, pelaksanaan MAPABA.Selama ini MAPABA yang dilaksana di kampus yang tidak dominan PMII, dilaksanakan layaknya kegiatan yang terjadwal dan kaku. “Berdasarkan hasil rapat panitia”. Hal itu tidak salah, tetapi strateginya harus dibuat fleksibel. Tidak berorientasi pada waktu pelaksanaan, tetapi berorientasi pada “Bahan” kaderisasi/calon anggota baru.

Perencanaan waktu bisa dibuat, tetapi dengan melihat hasil rekruitmen sementara. Misal, pengkader disatu komisariat ada 20 orang, target masing-masing adalah 5 orang dari berbagai fakultas dan jurusan, maka rapat panitia untuk menentukan kapan pelaksanaan MAPABA, dengan melihat beberapa calon anggota baru yang sudah direkruit dalam rapat persiapan, by name, by fakultas atau jurusan. Jika maksimal 20 x 5 = 100. 100 orang jangan sampai semua merasa berhasil merekruitmen ternyata hasilnya 20 x 5 = 5, karena 20 pengkader merekruit orang yang sama

Pendampingan Kader

Penerimaan menjadi anggota PMII dimulai dari tingkat rayon yang notabene merupakan struktur organisasi yang paling bawah dan bersentuhan langsung dengan kader. Rayon secara langsung bertanggungjawab terhadap rekrutmen massa serta pelaksanaan pengaderan awal PMII.

Secara normatif, dalam Anggaran Rumah Tangga PMII bab III bagian II pasal 4 disebutkan bahwa penerimaan anggota didahului dengan mengajukan permintaan secara tertulis atau mengisi formulir untuk menjadi calon anggota PMII kepada Pengurus Cabang. Dan telah sah menjadi anggota PMII setelah mengikuti Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) dan mengucapkan baiat persetujuan dalam suatu upacara pelantikan yang diadakan oleh Pengurus cabang.

Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) merupakan sistem pengkaderan formal tahap awal yang dilaksanakan oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dimana didalamnya terdapat proses kaderisasi yang sangat vital salah satunya adalah pendampingan MAPABA. Pendampingan sendiri adalah proses handling yang didalamnya tercakup perencanaaan, controling, dan evaluasi untuk tercapainya suatu target.

Namun demi tercapainya ekspektasi dari pendampingan itu sendiri diperlukan pengetahuan agar pendampingan yang dilakukan sesuai dengan upaya kita dalam mewujudkan misi, peran, dan fungsi baik dalam kehidupan organisasi, bermasyarakat, maupun bernegara.Seperti yang kita ketahui mahasiswa yang mengikuti MAPABA merupakan calon anggota dan kader PMII.

Kader sendiri merupakan orang yang mampu menjalankan amanat, memiliki kapasitas pengetahuan dan keahlian, pemegang tongkat estafet sekaligus membingkai keberadaan dan kelangsungan organisasi. Kader adalah ujung tombak sekaligus tulang punggung kontinyuitas sebuah organisasi.

Sedangkan pengkaderan berarti proses bertahap dan terus-menerus sesuai tingkatan, capaian, situasi, dan kebutuhan tertentu, yang memungkinkan seorang kader dapat mengembangkan potensi akal, kemampuan fisik, moral, dan sosialnya. Sehingga kader dapat membantu orang lain dan dirinya sendiri untuk memperbaiki keadaan sekarang demi mewujudkan masa depan yang lebih baik sesuai dengan cita – cita yang diidealkan, nilai – nilai yang diyakini serta misi perjuangan yang diemban.

Sistem pengkaderan PMII sendiri adalah totalitas pembelajaran yang dilakukan secara terarah, terencana, sistematik, terpadu, berjenjang, dan berkelanjutan untuk mengembangkan potensi, mengasahkepakaan, melatih sikap, memperkuat karakter, mempertinggi harkat dan martabat, memperluas wawasan, dan meningkatkan kecakapan insan – insan pergerakan agar menjadi manusia yang muttaqin, beradap, berani,santun, cendik – cendikia, berkarakter, terampil, loyal, peka, dan gigih menjalankan roda organisasi dalam upaya pencapaian cita – cita dan perjuangannya (Multi Level Strategi Gerakan PMII, PB PMII; 2006).

Meskipun setiap orang memiliki model pendampingan yang berbeda – beda namun harus tetap terarah pada upaya pengkaderan PMII yang bersumber pada nilai – nilai dan prinsip – prinsip yang digali serta dikembangkan dari tiga pilar pengkaderan PMII yakni:

Pertama semangat gerakan ketrampilan dan daya intelektualitasnya sebagai mahasiswa; keyakinan, pemahaman, pelaksanaan, dan penghayatannya atas ajaran islam; serta pengetahuan, wawasan, komitmen dan pembelaannya atas kelangsungan negara-bangsa Indonesia. Wacana, nilai – nilai dan model gerakan apapun yang diperjuangkan oleh PMII selalu merujuk sekaligus bermuara pada penegasan tiga pilar, yakni Kemahasiswaan, Keislaman, dan Keindonesiaan.

Oleh karena itu dalam pendampingan MAPABA baiknya diarahkan sesuai dengan kapasitas dan karakter calon anggota tanpa menafikkan tiga pilar pengkaderan PMII tersebut diatas.

Ketiga, out put MAPABA. Terkait dengan hal ini, contoh yang baik mungkin kampus agama. Di kampus agama, PMII rata-rata dominan, Tetapi setelah MAPABA, yang aktif hanya puluhan orang. Pasti ada yang salah di MAPABA nya. Kenapa ? Karena orientasinya hanya melaksanakan “Agenda Seremonial”. Banyak hal yang perlu dievaluasi, tetapi dalam konteks ini, harus dipastikan bahwa yang berhak dinyatakan lulus dan dibait sebagai anggota PMII adalah yang hafal Mars PMII. Tentu hal ini sangat wajar dan tidak berlebihan. Bagaimana caranya ? Pastikan disetiap sesi (awal dan akhir serta jeda dalam proses MAPABA) peserta menyanyikan Mars.

Dan diakhir sebelum pembaitan dites, yang tidak hafal, diperbolehkan menjadi partisipan PMII dan tidak mengikuti prosesi pembaitan. Sehingga menjadi anggota PMII disetiap kampus (tidk hanya di kampus agama), adalah prestige, tidak mudah. Gagal, mengulang MAPABA selanjutnya. Lulus, dijamin bisa menjadi “panitia ospek” tahun depan.

Keempat, strategi Follow Up. Untuk pelatihan non formal paska MAPABA yang pasti harus dibangun sistem monitoring anggota baru perjurusan, perfakultas dan perjenis kelamin. Kenapa ? Agar anggota baru dapat terfasilitasi urusan perkuliahannya, kalau ada tugas kuliah bisa bertanya dan dibantu oleh mentor. Kalau perlu menginap di rumahnya pun bisa diterima oleh orang tuanya. Semangat kekeluargaan dalam proses mentoring harus terjalin. Jika diperlukan, buat kegiatan bersama anggot baru. Futsal, Renang, dst. Sesuai dengan minat hobby mereka.

C. Penutup

Pengkaderan PMII merupakan upaya untuk membentuk kesadaran mahasiswa sebagai Agent of change,Agent of control, dan agent of social, serta terbentuknya pribadi muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap, dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmu pengetahuannya serta komitmen atas perwujudan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Melalui proses pengkaderan tersebut kesadaran mahasiswa sebagai generasi pembawa tongkat estafet akan tumbuh. Sehingga kader dapat membantu orang lain dan dirinya sendiri untuk memperbaiki keadaan sekarang demi mewujudkan masa depan yang lebih baik sesuai dengan cita – cita yang diidealkan, nilai – nilai yang diyakini serta misi perjuangan yang diemban.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern

  Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern Pendahuluan Ketika arus modernisasi menghujani dunia Islam, proses modern...