BAB II
PEMBAHASAN
A. Asas - Asas Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian
Tindakan Kelas merupakan jenis penelitian yang masih relatif baru dalam dunia
penelitian. Karena masih relatif baru, maka di sini penulis mencoba menuliskan
tentang azas-azas Penelitian Tindakan Kelas. Ada sejumlah ahli yang
mengemukakan azas-azas atau prinsip-prinsip Penelitian Tindakan Kelas secara
berbeda yang seharusnya diperhatikan dan dipegang teguh dalam Penelitian
Tindakan Kelas.
Suharsimi Arikunto (2007) mengemukakan azas atau prinsip-prinsip Penelitian Tindakan Kelas, yaitu sebagai berikut:
1.
Azas Kegiatan Nyata Dalam Situasi Rutin
Penelitian
tindakan kelas hendaknya dilakukan tanpa mengubah situasi rutin sesuai dengan
aslinya. Jika penelitian tindakan kelas dilakukan dalam situasi lain, maka
hasilnya tidak dapat dijamin dapat diterapkan lagi dalam situasi aslinya. sebab
hasil penelitian yang tidak diperoleh dari situasi rutin akan menjadi tidak
wajar atau tidak alami. oleh karena itu penelitian tindakan kelas tidak perlu
diadakan dalam waktu khusus, tidak perlu mengubah jadwal pembelajaran yang
sudah ada, melainkan melebur dengan jadwal pembelajaran yang sudah ada sesuai
dengan jadwal yang telah ada. kelebihan dari cara demikian ini adalah ketika
guru melakukan penelitian tindakan kelas tidak menimbulkan kerepotan bagi
kepala sekolah, wakil kepala sekolah bagian kurikulum, wali kelas dan juga
siswanya sendiri karena tidak mengubah jadwal yang sudah ada.
berdasarkan
azas ini maka penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh guru harus yang terkait dengan profesi guru,
yaitu yang terkait langsung dengan proses pembelajaran.
2.
Azas Kesadaran Diri untuk Memperbaiki Kinerja
Dasar filosofi dari penelitian tindakan kelas adalah bahwa manusia itu pada dasarnya tidak senang dengan sesuatu yang bersifat statis. sesuatu yang bersifat statis itu akan cenderung membosankan sehingga manusia cenderung menginginkan sesuatu yang lebih baik. Untuk mencapai sesuatu yang lebih baik ini tentunya perlu ada upaya kegiatan yang dilakukan secara berkelanjutan dan sifatnya terus meningkat. dalam konteks penelitian tindakan kelas hendaknya guru melakukan bukan karena adanya permintaan apalagi paksaan dari pihak lain, misalnya kepala sekolah, melainkan atas dasar kesadaran yang timbul darti dalam diri sendiri. Dengan kesadaran diri ini berarti guru dalam melakukan penelitian tindakan kelas dilandasi oleh kesukarelaan, senang hati, pengharapan, dan kesungguhan untuk mewujudkan proses dan hasil pembelajaran yang lebih baik daripada yang selama ini
dilakukan. Guru
juga melakukan penelitian tindakan kelas karena memiliki kesadaran mendalam
bahwa ada kekurangan-kekurangan yang ada pada dirinya, kinerjanya selama ini,
dan didorong oleh keinginan yang kuat untuk memperbaikinya.[1]
3.
Azaz Analisis SWOT
SWOT merupakan singkatan dari “Strength
(S), Weakness (W), Oppurtunity (O), Threat (T)”. Strength berarti kekuatan,
Weakness berarti kelemahan, Oppurtunity berarti kesempatan atau
peluang, dan Threat berarti ancaman.
Dalam penelitian tindakan kelas, pihak yang dianalisis dengan menggunakan empat
unsur SWOT harus meliputi guru yang
melaksanakan tindakan dan siswa yang dikenakan tindakan. analisis ini digunakan
untuk menunjukkan bahwa penelitian tindakan kelas sesungguhnya dilakukan secara
serius sejak awal perencanaan, selama pelaksanaan, dan menganalisis serta pemaknaan terhadap hasil tindakan. Artinya
dalam serangkaian penelitian tindakan kelas itu, kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan yang ada dari guru, siswa
dan proses pembelajaran selama ini harus dianalisis secara cermat.
Kesempatan/peluang serta ancaman merupakan analisis cermat terhadap
factor-faktor yang diluar guru dan siswa. Artinya, guru dalam merancang suatu
tindakan harus mempertimbangkan unsur-unsur yang dapat dimanfaatkan dan
sebaliknya juga harus mempertimbangkan kemungkinan ancaman atau bahaya yang
dapat mengganggu proses penelitian.
4.
Azas Empiris dan Sistematis
Proses pembelajaran yang sesungguhnya merupakan suatu sistem yang mengandung
dan melibatkan banyak unsur. Unsur-unsur yang terlibat dan membentuk suatu
sistem pembelajaran itu sebenarnya yang
dimaksud dengan empiri pembelajaran.
Empiri itu artinya kondisi nyata
pengalaman keseharian dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu penelitian
tindakan kelas harus menemu-kenali, memahami, mencermati dan menganalisis
empiri pembelajaran itu sebagai suatu sistem; tidak boleh terpisah-pisah ibarat
serpihan-serpihan pembelajaran. Jadi, agar penelitian tindakan kelas yang
dilakukan oleh guru dapat memperbaiki proses pembelajaran dan pada akhirnya
memperoleh hasil pembelajaran secara berkualitas, harus memperhatikan semua
unsur-unsur yang saling terkait dalam suatu proses pembelajaran.
5.
Azas SMART dalam Perencanaan
SMART ini merupakan singkatan dari “Spesific
(S), Managable (M), Acceptable dan
Achievable (A), Realistic (R), Time –Bound (T). Berikut ini penjelasan
masing-masing dalam kaitannya dengan penelitian tindakan kelas.
Specific, arti katanya
adalah khusus, tidak terlalu umum. Ini mengandung makna bahwa guru sebagai
peneliti dalam penelitian tindakan kelas, dalam merencanakan tindakan bersifat
khusus
dan tidak terlalu luas. Dengan cara
demikian, guru dalam nelakukan penelitian tindakan kelas tidak terlalu repot,
tidak terlalu kesulitan, siswapun bisa lebih terfokus, dan akhirnya dapat membawa
pada peningkatan hasil belajar secara maksimal.
Managable, arti katanya adalah mudah dikelola atau
mudah dilakukan. Ini mengandung makna
bahwa guru sebagai penliti dalam merencanakan penelitian tindakan kelas harus
memilih
yang mudah dilakukan, tidak menyulitkan
diri sendiri, tidak berbelit-belit. Contohnya: tidak menyulitkan dalam
melakukan tindakan, tidak menyulitkan dalam melaksanakan observasi atau
pengumpulan datanya, dan tidak kesulitan dalam mengoreksi atau
menganalisis hasilnya.
Acceptable, arti katanya
dapat diterima oleh lingkungan, sedangkan Achievable
arti katanya dapat dicapai atau dapat di jangkau. Hal ini mengandung makna bahwa guru sebagai
peneliti dalam melakukan penelitian tindakan kelas dapat diterima oleh siswa
sebagai subjek yang dikenai tindakan. Artinya siswa yang dikenai tindakan tidak
mengeluh karena adanya tindakan kelas yang dilakukan oleh guru serta tidak mengganggu lingkungan
sekolah. Selain itu, tindakan yang dilakukan oleh guru dan diterima oleh siswa
yang dikenai tindakan juga dapat di jangkau atau dicapai oleh guru itu sendiri
maupun oleh siswa.
Realistic, arti katanya
adalah sesuai dengan kemampuan atau tidak di luar jangkauan. Ini mengandung makna bahwa guru sebagai peneliti
dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas tidak terlalu muluk-muluk, tidak
terlalu rumit, tidak menyimpang dari kenyataan yang ada disekolah, dan
bermanfaat bagi peningkatan kualitas subjek yang dikenai tindakan. Artinya
dengan melaksanakan tindakan yang tidak terlalu
rumit, tetapi dapat memperbaiki kualitas proses pembelajaran dan
meningkatkan hasil belajar siswa.
Time-Bound, arti katanya
adalah terikat oleh waktu atau dibatasi oleh waktu. Ini mengandung makna bahwa
guru sebagai peneliti dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas harus
memiliki perencanaan waktu yang jelas. Batasan waktu ini sangat penting agar
guru dapat merencanakan tindakan yang tepat dan hasil bagi peningkatan kualitas
proses pembelajaran maupun hasil belajar
siswa bisa diperkirakan dengan jelas.
Sementara itu ahli lainnya yaitu Winter, R
(1989) dalam bukunya yang berjudul “Learning From Experience: Principles and
Practice in Action Research” menyatakan ada enam asas yang menuntut
pelaksanaan penelitian tindakan : (1) kritik refleksif, (2) kritik
dialektis, (3) sumber daya kolaboratif, (4)
resiko, (5) struktur majemuk, dan (6) teori, praktek, transformasi.
1.
Kritik Refleksif
Refleksi
merupakan proses berpikir yang memerlukan kemampuan untuk berpikir bolak-balik
antara induksi deduksi. Dalam berpikir reflektif lebih menuntut kecerdasan dan
kecakapan dalam menangkap makna dan esensi dari sesuatu. hasil kerja refleksi
yang bermutu biasanya cenderung lebih dalam kebermaknaannya daripada kerja
induksi atau deduksi. Oleh karena itu
menurut
Muhammad Asrori (2008) azas kritik reflektif dalam penelitian tindakan kelas
adalah bahwa dalam melakukan penelitian tindakan kelas seorang guru harus mampu
mencermati, merenungkan dam menganalisis secara cerdas terhadap tindakan yang
telah dilakukan dalam proses pembelajaran sehingga ditemukam aspek-aspek yang
masih perlu dilakukan perbaikan dan peningkatan kualitasnya pada tindakan
berikutnya.
Pada dasarnya
prosedur membuat kritik refleksif memiliki tiga langkah : (a) mengumpulkan
catatan-catatan yang telah dibuat oleh peserta penelitian tindakan atau pihak
berwenang, seperti catatan lapangan, transkrip wawancara, pernyataan tertulis
darai peserta, atau dokumen resmi, (b) menjelaskan dasar refleksi
catatan-catatan, sehingga (c) pernyataan dapat ditransformasi menjadi
pernyataan sederet alternatif yang mungkin dapat disarankan, yang beberapa
penafsiran tertentu tidak terpikir sebelumnya.
Peneliti
hendaknya tidak langsung mempercayai sejumlah data yang diperoleh. Peneliti
hendaknya berpikir: apakah data benar-benar cocok dengan fakta? Apakah
generalitas itu benar dengan memperhatikan serentetan dugaan dan penilaian yang
mendasari penafsiran. Hal ini memungkinkan dibuatnya sejumlah pernyataan
alternatif yang relevan (gayut) dan penting. Kritik refleksif memungkinkan
dikemukakannya sederet argumen dan diskusi. Hal ini berbeda dengan penelitian
tradisional yang menyatakan data harus cocok dengan fakta-fakta dan data
terpercaya.[2]
2.
Azas Kritik Dialektis
Metode
positivisme menyarankan kita untuk mengamati gejala secara menyeluruh dan
membatasi secara pasti agar dapat mengidentifikasi sebab dan akibatnya.
Pendekatan ini mengharuskan peneliti melakukan kritik terhadap gejala yang
ditelitinya. Hal ini memerlukan pemeriksaan (a) konteks hubungan secara
menyeluruh yang merupakan satu kesatuan
meskipun ada
pemisahan yang jelas, (b) struktur kontradiksi internal –dibalik kesatuan yang
jelas- yang memungkinkan adanya kecenderungan untuk berubah meskipun ia stabil.
Kritik
dialektis dapat dilakukan dengan peneliti memusatkan pada salah satu atau tiga
karakteristik dari perangkat gejala tersebut, yaitu : (a) terpisah tetapi dalam
konteks hubungan yang perlu ada, (b) ika tetapi bhineka; peneliti peneliti
perlu mencari keikaan diantara
perbedaan yang
tampak jelas dan kontradiksi yang tersembunyi dibalik keikaan yang tampak
jelas, (c) cenderung berubah; peneliti menangkap isyarat bahwa sesuatu berubah
di masa datang.
3.
Azas Sumber Daya Kolaboratif
Apa peran saya
sebagai peneliti? Hubungan macam apa yang harus saya ciptakan dengan pimpinan
sekolah, murid, teman sejawat yang tertarik, dan semua sumber data? Bagaimana
saya berusaha agar obyektif? Pertanyaan tersebut merupakan cara kita untuk
memahami asas ini.
Peneliti atau
guru yang sedang melaksanakan penelitian harus menyadari bahwa guru atau
peneliti merupakan bagian dari yang diteliti. Guru bukan hanya pengamat, tetapi
terlibat langsung dalam proses situasi tersebut. Proses kerja sama kolaborasi
antara anggota peneliti memungkinkan proses itu berlangsung. Kolaborasi
dimaksudkan bahwa untuk melengkapi ketuntasan pemahaman terhadap situasi
penelitian. Maka beberapa orang akan memberikan kelengkapan pemahaman yang
lebih tuntas dibandingkan dengan pemahaman yang hanya
dilakukan oleh
satu orang. Seorang guru dapat memiliki pertimbangan dan pemahaman yang lebih
baik. Jika ia memperoleh pandangan dan pertimbangan dari teman atau kepala
sekolah.
Kolaborasi
dapat dilakukan secara efektif, jika peneliti semenjak awal telah mengadakan
berbagai kesepakatan dengan berbagai pihak yang dapat membantu dalam proses
penelitiannya. Berbagai sudut pandang dari berbagai orang atau pengamat akan
memberikan sudut pandang yang lebih komprehensif. Penggunaan kolaborasi bukan
berarti memadukan semua sudut pandang untuk memperoleh kesepakatan melalui
evaluasi. Ragam perbedaan sudut pandang dan persepsi akan memperkaya sumber
daya dan melalui sumber daya itulah peneliti atau guru analisanya dapat
bergerak bergeser keluar dari titik awal pribadi yang terhindarkan menuju
gagasan yang secara antar pribadi telah dinegosiasikan. Dengan sudut pandang
guru dapat dilengkapi termasuk sudut pandang siswa.
Dengan upaya
kolaboratif, keobjektifan memiliki empat pengertian, yaitu : (a) proses
kolaborasi berfungsi sebagai tantangan terhadap objektivitas seseorang, (b)
proses kolaboratif melibatkan pemeriksaan hubungan antar data, (c) keluaran
proses tersebut adalah sederet analisis yang didasari hubungan yang melekat dan
diperlukan baik logis maupun empirik, (d) keluaran proses tersebut berupa
usulan praktis yang didasari pemikiran objektif.
4.
Azas Resiko
Asas ini berarti bahwa pemrakarsa penelitian
harus berani mengambil resiko melalui proses penelitiannya. Salah satu
resikonya adalah melesetnya hipotesis, kemungkinan adanya tuntutan melakukan
transformasi, adalah (a) penafsiran sementara peneliti tentang situasinya yang
sekedar menjadi sumber daya bersama-sama dengan penafsiran anggota lainnya, (b)
keputusan peneliti yang terkait dengan persoalan yang dihadapi, dengan demikian
tentang apa yang gayut dan apa yang tidak, (c) antisipasi peneliti terhadap
urutan kejadian yang akan dilalui oleh penlitinya.
5. Azas
Struktur Majemuk
Laporan secara
konvensional adalah meringkas dan menyatukan, bersifat linear dan menyajikan
kronologi peristiwa atau urutan sebab akibat, disajikan dengan suara tunggal
penulisnya yang mengatur bukti mendukung kesimpulannya, sehingga laporannya
tampak berwenang dan meyakinkan pembaca. Struktur kesatuan ini adalah format
yang cocok untuk penelitian aliran positivis.
Berbeda dengan
karakteristik laporan penelitian konvensional, laporan Penelitian Tindakan
Kelas memiliki struktur majemuk. Hal ini berhubungan dengan sifat penelitian
tindakan yang dialektis, reflektif, mempertanyakan dan kolaboratif.
Struktur
majemuk ini berhubungan dengan gagasan bahwa gejala yang diteliti harus
mencakup unsur pokok agar menyeluruh. Misal; jika penelitian menyangkut murid,
teman, interaksi pembelajaran. Jadi kajian situasi harus mengandung data yang
berhubungan dengan semua itu, karena masing-masing hanya dapat ditafsirkan
dalam konteks yang diciptakan oleh
unsur-unsur
lain. Laporan majemuk ini dapat memenuhi dapat memenuhi kebutuhan berbagai
kelompok pembaca.
6.
Azas Teori, Praktek, Transformasi
Terpisahnya teori dan praktik dalam penelitian konvensioanl dijembatani oleh penelitian tindakan dengan meninggalkan konsepsi-konsepsi positivis tentang penelitian tindakan. Langkah pertama menekankan bahwa teori dan praktik bukan dua dunia yang berbeda, melainkan dua tahap yang berbeda yang saling bergantung dan mendukung proses perubahan.[3]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Ptk berkembang
dari penelitian tindakan kelas (action research) yang dapat di artikan sebagai
suatu bentuk penelitian reflektif dan kolektif yang di lakukan peneliti dan
situasi social untuk meningkatkan penalaran praktik social mereka. Ptk itu
sendiri adalah proses pengkajian masalah pembelajaran didalam kelas melalui
refleksi diri dalam upaya untuk memechkan masalah tersebut dengan cara
melakukan berbagai tindakan kelas yang terencana dalam situasi nyata Serta
menganalisis setiap pengaruh dari perlakuan tersebut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar