BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau yang disingkat
dengan PMII adalah sebuah organisasi kemahasiswaan yang berdiri pada tanggal 17
April tahun 1960 di Surabaya. Adapun ketua umum pertama PMII bernama Mahbub
Djunaidi.
Ide
dasar berdirinya Pergerakan Mahasiswa Indonesia (PMII) bermula dari adanya
hasrat kuat para mahasiswa Nahdiyin untuk membentuk suatu wadah (organisasi)
mahasiswa yang berideologi Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja). Sebelum berdirinya
PMII, sudah ada organisasi mahasiswa Nahdiyin, namun masih bersifat lokal.
Organisasi itu diantaranya Ikatan Mahasiswa Nahdatul Ulama (IMANU) berdiri pada
Desember 1955 di Jakarta. Di Surakarta didirikan Keluarga Mahasiswa Nahdatul
Ulama (KMNU) Pada tahun yang sama. Kemudian berdiri juga persatuan mahasiswa
nahdatul ulama (PMNU) DI Bandung.selain organisasi tersebut, adapula mahasiswa
nahdiyin yang tergabung pda Ikatan Pelajar Nahdatul Ulama (IPNU) yang terwadahi
pada departemen perguruan tinggi.
Nilai Dasar Pergerakan (NDP) PMII ada 4 yaitu Man tauhid, HabluminAllah, Habluminnas, Habluminal-alam. Dimana NDP menjadi sumber kekuatan ideal-moral dari aktivitas pergerakan dan menjadi pusat argumentasi dan mengikat kebenaran dari kebebasan berfikir.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
PMII dan Kelompok Cipayung
Sekils sejarah
terbentuknya KELOMPOK CIPAYUNG
Pada awalnya
“kelompok Cipayung” hanyalah istilah untuk menyebut suatu forum komunikasi dan
kerjasama 5 organisasi massa (ormas) mahasiswa. Ormas-ormas mahasiswa itu
adalah :
1.
Himpumam Mahasiswa Islam
(HMI)
2.
Perhimpunan Mahasiswa Katolik Indonesia (PMKI)
3.
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)
4.
Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI)
5.
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)
Tapi dalam perkembangannya keberadaannya terkesan melembaga, menjadi
populer di masyarakat, itu tentu karna kiprah peran dan terutama pikiran kritis
yang dilahirkannya, kerap dianggap sebagai cerminan sikap politik mahasiswa
Indonesia.
Pada waktu ini, PMII masih merupakan onderbow partai NU. Sehingga secara
otomatis tidak mungkin menjadi anggota. Baru setelah musyawarah besar ke II
yang di selenggarakan di Murnajati Lawang Malang pada tanggal 14-16 juli 1972
dengan deklarasi independennya. Dalam perkembangan selanjutnya PMII masih harus
berjuang untuk diterima independensinnya oleh semua pihak. Sebab bagaimanapun
hal ini disebabkan antara lain :
a.
Hingga saat ini kantor sekretariat PMII baik di tingkat
pengurus besar, koordinator cabang, maupun cabang masih banyak yang bergabung
dengan kantor NU.
b.
Sebagian alumni PMII aktif dalam organisasi NU sebagai
jam’iyah maupum ketika NU masih aktif dalam dunia politik.
karna rasa
kekeluargaan antara PMII dan NU yang erat, membuat banyak pihak masih curiga
terhadap independen PMII. Tetapi berkat upaya dari seluruh jajaran PMII,
perilaku warga pergerakan telah menunjukkan independensinnya.
satu setelah
kongres yang ke V di ciloto jawa barat 1973, PB PMII di bawah kepemimpinan
sahabat Abduh paddare tergabung dengan kelompok cipayung pada oktober 1974 dan
dua tahun kemudia PB PMII dipercaya menyelenggarakan pertemuan kelompok
cipayung yang ke 3 pada bulan januari 1976. Pada saat itu paling tidak ada dua
alasan yang mendorong PB PMII memilih kerjasama dengan kelompok Cipayung :
a.
Salah satu produk kongres PMII ke V di Ciloto jawa barat
adalah manifes independesi PMII, sebuah pernyataan monomental dalam sejarah
kehidupan PMII yang mendudukan PMII pada posisi yang mandiri. Hal ini bukan
suatu yang mudah dan mulus. Untuk memperkokoh stabilitas inter PMII, kerjasama
dengan pihak-pihal luar, kalangan mahasiswa khususnya, mutlak diperlukan. Bergabung
dalam kebersamaan dengan mahasiswa Indonesia lainnya merupakan perwujudan
semangat kebangsaan untuk menjalin persatuan dan kesatuan.
b.
Situasi waktu itu, kecenderungan untuk melikuidasi
ormas-ormas maha-siswa sangat kuat.penggiringan ke arah wadah tunggal
organisasi pemuda semakin intensif dan istematis dilaksanakan. Dalam situasi
seperti itu, kerjasama dan solidaritas sangat diperlukan. Kehadiran PMII
ditengah kelompok Cipayung, buat Kelompok Cipayung sendiri, berarti menambah
kekuatan.
Keterlibatan PMII dalam kelompok
cipayung tidak lepas dari upaya perwujudan citra PMII yang meliputi citra yaitu:
1. Citra
kemahasiswaan melahirkan wawasan keilmuan lu, dan dari sana muncul sifat
keterbukaan, dinamis dan tidak status atau baku, serta tegas, jujur dan
konsekuen (gelora megamendung 1965).
2. Citra
keislaman melahirkan wawasan keagamaan dan dari padanya muncul sifat toleransi,
keikhlasan, ukhuwah, dan tanpa pamrih.
3. Citra
keindonesiaan yang melahirkan wawasan berbangsa dan selanjutnya dapat
melahirkan sifat patriotisme, nasionalisme, kesediaan berkorban untuk
kepentingan bangsa dan tanah air.
Demikian
beberapa landasan moral, etis dan normatif yang mendorong keterlibatan PMII
dalam kelompok cipayung. Sebaiknya
diamalkan dalam rangka pengabdian PMII kepada agama, bangsa dan negara. Ketiga
citra itu, kemahasiswaan, keislaman, dan keindonesiaan, harus sejalan, serasi
dan seimbang, tidak saling menghambat
dan meniadakan, tetapi justru saling melengkapi dan saling menumbuhkan.
B. PMII dan KNPI
Tidak berbeda dengan
mahasiswa, peran serta pemuda dalam perjuangan bangsa juga besar. Organisasi
pemuda dan organisasi mahasiswa terdapat perbedaan yang terletak pada aktivitas
kesehariannya. Organisasi pemuda lebih terfokus pada bidang garapan yang
langsung, terkait dengan masyarakat banyak, dan aktivitas yang di tonjolkan
biasanya dalam nuansa yang bersifat politis dalam artian praktis.
Organisasi pemuda lahir
di bumi Pertiwi ini adalah di dahului dengan lahirnya "TRI KORO
DARMO", seperti di tulis oleh Drs. Martono, dkk. "TRI KORO
DARMO" berdiri pada tanggal 7 Maret 1915 di Jakarta Wiryo sandjoyo. Tujuan
dari TRI KORO DARMO adalah[1]
v Menggalang
Persatuan
v Memperluas
Pengetahuan
v Membangkitkan
rasa cinta terhadap bahasa dan kebudayaan sendiri.
TRI KORO DARMO artinya "Tiga
Tujuan Mulia" kemudian pada tahun 1918 diubah namanya menjadi " Jong
Java", artinya Jawa Muda.kemudian lahir organisasi-organisasi pemuda
sejenis yang bersifat kesukuan, seperti Jong Sumatra, Jong Bond, Jong Celebes,
Jong Ambon, Jong Minahasa, Jong Batak, dan Sekar Rukun ( Pasundan ).
Bagi pemuda Islam ada satu masalah
yang mengganjal pada waktu itu, para pemuda Islam yang menuntut ilmu di
lembaga-lembaga pendidikan milik Belanda, tidak mendapatkan pendidikan Agama (
Islam ) yang layak.
Pada tanggal 1 Januari 1925
didirikannya organisasi Jong Islameten Bond ( JIB ) didirikan di Jakarta oleh
Mr. Moh. Roem dan Mr. Bond. Organisasi ini merupakan organisasi Islam yang
pertama, setelah itu lahirlah organisasi pemuda yang berdasarkan pada kesukuan
maupun dasar keagamaan yaitu "Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia"
( PPPI ) yang didirikan oleh mahasiswa di Jakarta pada tahun 1926 dengan tujuan
mencapai Indonesia merdeka. PPPI inilah yang mensponsori kongres pemuda II pada
tanggal 28 Oktober 1928, yang di kenal dengan Sumpah Pemuda.[2]
Pada tahun 1978 KNPI secara resmi
masuk dalam GBHN diakui sebagai satu-satunya wadah pembinaan generasi muda
Indonesia hal ini terancam eksistensinya.
Dalam kaitannya dengan proses
kelahiran KNPI ini PMII merupakan salah satu organisasi mahasiswa pendiri bersama-sama
organisasi mahasiswa dan pemuda lainnya. Ketika kongres KNPI pada Oktober 1974
PMII bergabung dalam jajaran pengurus pusat. Yang diwakili oleh sahabat Drs.
Abduh Paddare sebagai salah satu ketua DPP, KNPI. PB PMII mengintruksikan
kepada pengurus korcab dan cabang seluruh Indonesia untuk mensukseskan kongres
tersebut.
Akhirnya forum kongres memutuskan
bahwa KNPI tetap pada jalur fitrahnya yaitu wadah komunikasi, bukan sebagai
wadah tunggal generasi muda Indonesia. KNPI adalah :
v Merupakan
forum komunikasi rill antar generasi muda Indonesia
v Menampilkan
kegiatan-kegiatan generasi muda sebagai indikasi adanya komunikasi antar generasi muda.
v Berfungsi
sebagai kata lisator dan dinamisator gerakan muda Indonesia.
v Tidak
mengurangi peranan organisasi pemuda dan mahasiswa yang ada dan hidup dalam
mahasiswa.
C. Gerakan Mahasiswa Islam Pasca Reformasi
Gerakan
mahasiswa telah memberikan sumbangsih yang luar biasa terhadap perubahan sosial
yang ada di indonesia.sejarah mencatat gerakan mahasiswa bergerak secara
dinamis dengan pasang surutnya.hal ini terjadi bagaimana gerakan mahasiswa
merespon tantangan zaman .gerakan mahasiswa mengalami puncak kejayaan nya di
era 98 dengan menumbangkan rezim orde baru .pasca reformasi gerakan mahasiswa
mengalami beberapa perubahan.
Gerakan mahasiswa melakukan
penelitian dan penelitian ini bertujuan untuk mengansalisa pola pikir para
aktivis mahasiswa ilmu sosial dan ilmu politik. Maka para aktivis sepakat bahwa
saat ini gerakan mahasiswa mengalami kemunduran ,maka sosialisasi yang kerap
mereka dapati adalah dengan menyelenggarakan kaderasisasi dan pemantapan
ideologi,dan pada prosesnya para mahasiswa melakukan revitalisasi gerakan
mahasiswa dengan jalan
kaderisasi,pemantapan ideologi,sedangkan beberapa lainya reoritasi gerakan
mahasiswa.
Mahasiswa adalah sebuah lapisan
masyarakat terdidik yang menikmati kesempatan mengenyam pendidikan tinggi. sesuai
dengan perkembangan usianya yang secara emosional dan sebagai sebuah lapisan
masyarakat yang belum banyak di cemari kepentingan-kpentingan praktis dan
pragmatis
Dalam konteks ilmiah , mahasiswa
sering berperan mewarnai perkembangan
masyarakat , perubahan sosial dan kehidupan politik .disini terdapat kajian
tentang dinamika pergerakan mahasiswa yaitu merupakan suatu kajian yang terus
bergulir dan akan berlangsung terus menerus.
Gerakan mahasiswa dalam sejarah
sosial berdirinya sejak universitas di bologna,paris dan oxford pada abad ke –
12 dan 13 semboyan mereka saat itu “gaudeamus igtiur ,juvenes dum sumus’’ artinya
“kita bergembira , selagi kita muda “
Emmuel
kant, seorang filsuf asal jerman pernah berkata bahwa sejarah bukanlah sesuatu
yang terjadi, tapi sejarah adalah sesuatu yang terjadi dan memiliki arti. maka
dalam sejarah, gerakan telah menggoreskan tinta emasnya sebagai avangarde dalam
setiap perubahan yang terjadi dalam tubuh bangsa ini. Gerakan mahasiswa bisa di
berikan label pretisius sebagai agent of change , agent of control, dan agent
of social.
Berada
dalam posisi pasca reform didahului proses pengisian masa peralihan dari
prareform. Gerakan pra-reform lebih bersifat penentangan terhadap kebijakan
pemerintah yang ingkonstitusional, beberapa gerakan yang muncul seperti:
gerakan anti ases tunggal oleh aktivis muslim: TJ.Priok, Lampung dll. Oposisi
umat islam terhadap orde baru. (penangkapan aktivis –aktivis muslim :abdul
qodir jailani,AM.fatwa,tony ardi dll,)penolakan pemerintah terhadap jilbab timbulnya idiom SARA
Terlaksana
revormasi maka penyampain risalah (ideology) mulai dapat sebab dari sisi polich
pemerintah telah memperoleh preesure efect, namun proses peralihan ini
mengalami perlambatan, terkait instabilitas objek (pemerintah) maupun
instabilitas subjek (pelaku pergerakan). Bahkan perjalanan reformasi mendekati
jalan di tempat.
Mekanisme transisi politik dari pemerintahan otoriter ke demokratis ada 4
mode yang berkembang (Huntington, 1991) :
1.
Model transformasi dalam hal
ini, inisiatif demokratisasi berasal dari pemerintah
2.
Model replasi model ini terjadi
ketika pemerintah yang berkuasa dipaksa untuk meletakan kekuasaannya dan
kemudian digantikan oleh kekuatan oposisi (sipili)
3.
Model transplasi model ini
merupakan gabungan dari dua model yang sudah disebutkan diatas. Model ini
terjadi karena pemerintah yang berkuasa masih kuat, sementara pihak oposisi
belum terlalu solid untuk menjatuhkannya. Maka diupayakan lah berbagai proses
negoisasi antara pihak pemerintah dan pihak oposisi tentang bagaimana
langkah-langkah yang harus diambil bersama untuk mewujudkan sistem politik yang
demokratis secara gradual.
4.
Model interpensi model ini
terjadi oleh keterlibatan pihak eksternal yang turur campur.
Sedangkan
fenomena gerakan mahasiswa islam secara general belum menunjukkan arah yang
mencerahkan. Beberapa kondisi yang dialami pergerakan mahasiswa islam :
1.
Euphoria reformasi
2.
Benturan horizontal
3.
Ekslusivisme
4.
Soulines of movement
5.
Dis-orientasi gerakan
6. Gerakan reaksioner.
D.
PMII dan Organisasi Intra Kampus
Dunia perpolitikan
mahasiswa yang tak pernah lepas dari wilayah kampus membuat PMII mau tidak mau
akan terlibat dalam pusaran rebutan kekuasaan kampus. Meskipun diakui ataupun
tidak, mahasiswa pada umunya cenderung bersikap apolitis dengan berbagai isu
kebijakan birokrat kampus dan para pejabat mahasiswa, namun tetap saja
mahasiswa berpolitik dalam arti yang lebih luas. Dikarenakan politik memiliki
lingkup yang menyeluruh dalam setiap aspek kehidupan, tergantung sudut pandang
masing-masing.
PMII sebagai
organisasi ekstra kampus membina dan mendistribusikan kader-kadernya untuk
aktif dalam lembaga-lembaga kampus, bahkan akan mendorong kader-kader terbaik
memimpin lembaga-lembaga tersebut. Keberadaan lembaga-lembaga tersebut, bagi
PMII adalah sebagai ruang distribusi kader karena di lembaga tersebut kader
PMII bisa menempa dan mengembangkan kemampuan yang dimilikinya agar lebih maju
dan profesional.
PMII memandang
lembaga intra kampus sangat strategis sebagai wahana kaderisasi. Pada umumnya,
ada beberapa jenis lembaga kampus yang memiliki otoritas tertentu dalam
mengayomi kampus dan mahasiswa, yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan
Mahasiswa Fakultas/Jurusan (HMF/J) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).
Lembaga-lembaga tersebut bermain dalam wilayah internal kampus dan
kepengurusannya berisikan mahasiswa yang tercatat masih aktif program studinya.
Secara umum ke tiga jenis lembaga ini memiliki andil penting dalam rekayasa
kampus. Mau kemana dan bagaimana nantinya kampus akan dikelola, lembaga inilah
yang akan mewujudkannya dalam tataran kerja nyata di lapangan.
Dengan menguasai
lembaga intra kampus, PMII akan semakin meneguhkan perjuangannya dalam
menyalurkan aspirasi mahasiswa di segala lapisan baik akademisi, organisatoris
hingga preman kampus. Perlu diingat bahwa Perguruan Tinggi merupakan salah satu
sarana yang dibuat dalam meningkatkan pembangunan negara secara umum, oleh
karena itu tak heran bahwa banyak perubahan besar yang diawali dari gerakan
lembaga kemahasiswaan ini. Adanya lapangan bola, internet, pustaka hingga
tempat parkir merupakan fasilitas yang diberikan karena adanya sebuah
permintaan yang dalam hal ini diajukan oleh mahasiswa secara umum dan
disampaikan kepada pihak birokrat melalui lembaga kemahasiswaan jalur
komunikasi antara mahasiswa dan birokrat kampus. Ketika birokrat kampus serta
lembaga-lembaga ini tidak mampu berkoordinasi dalam mengaspirasikan harapan
civitas kampus umum, maka akan timbul saling ketidakpercayaan, stagnansi hingga
kemerosotan akreditasi kampus dalam tataran akademis, fasilitas dan budaya.
Kesimpulan
Gerakan mahasiswa islam adalah organisasi yang mencangkup mahasiswa atau pun pemuda yang memiliki semangat juang yanga tinggi untuk bangsa. Organisasi ini sangat berhubungan erat dalam PMII, kelompak cipayung, KNPI, gerakan mahasiswa islam pasca reformasi, dan gerakan mahasiswa intra kampus karena tujuan dari organisasi ini adalah untuk membangkitkan gerakan pemuda dalam kemajuan bangsa ini
Daftar
Pustaka
Alfas, Fauzan. 2004. PMII Dalam Simpul-Simpul Sejarah Perjuangan,
Jakarta PB PMII.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar