Sosio Historis PMII
BAB I
PEMBAHASAN
A. Cikal Bakal PMII
Ide dasar berdirinya
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) bermula dari adanya hasrat kuat
para mahasiswa Nahdliyin untuk membentuk
suatu wadah organisasi mahasiswa yang berediologi Ahlussunnah Waljama’ah (Aswaja).
Ide ini tidak dapat dipisahkan dari
eksistensi IPNU –IPPNU, secara historis PMII merupakan mata rantai Departemen
Perguruan Tinggi IPNU yang dibentuk dalam Muktamar III PNU di Cirebon Jawa
Barat pada tanggal 27-28 Desember 1958. Di dalam wadah IPNU-IPPNU ini banyak
terdapat mahasiswa yang menjadi anggotanya, bahkan mayoritas fungsionaris
pengurus pusat IPNU-IPPNU berpredikat sebagai mahasiswa. Itulah sebabnya
keinginan dikalangan mereka untuk membentuk suatu wadah khusus yang menghimpun
para mahasiswa Nahdliyin. Pemikiran ini sempat terlontar pada Muktamar II IPNU
tanggal 1-5 Januari di Pekalongan Jawa Tengah, tetapi para pucuk pimpinan IPNU
sendiri tidak menanggapi secara serius. Hal ini dikarenakan kondisi didalam
IPNU sendiri masih perlu pembahasan, yakni banyaknya fugsionaris IPNU yang telah
berstatus mahasiswa, sehingga dikhawatirkan bila wadah khusus mahasiswa ini
berdiri akan mempengaruhi perjalanan IPNU yang baru saja terbentuk, tetapi
aspirasi kalangan mahasiswa yang tergabung dalam IPNU ini makin kuat, hal ini
terbukti pada Muktamar III IPNU di Cirebon Jawa Barat, pucuk pimpinan IPNU
didesak oleh para peserta Muktamar membentuk suatu wadah khusus yang akan
menampung para mahasiswa Nahdlyin, namun secara fungsional dan struktur
organisatoris masih tetap dalam naungan IPNU, yakni dalam wadah Departemen
Perguruan Tinggi IPNU.[1]
Namun langkah yang
diambil oleh IPNU untuk menampung aspirasi para mahasiswa Nahdlyin dengan
membentuk Departemen Perguruan Tinggi IPNU pada kenyataannya tidak berjalan
sebagaimana yang diharapkan. Terbukti pada konfrensi besar IPNU di Kaliurang
Yogyakarta pada tanggal 14-16 Maret 1960, Forum konfrensi besar memutuskan
terbentuknya suatu wadah atau organisasi mahasiswa Nahdlyin yang terpisah
secara struktural maupun fungsional dari IPNU-IPPNU.
B. Upaya dibalik Kelahiran PMII
Usaha untuk mendirikan
suatu wadah yang khusus menghimpun mahasiswa Nahdliyin sebenarnya sudah lama
ada, hal ini dapat dilihat dengan adanya kegiatan sekelompok mahasiswa NU yang
di jakarta. Patut di catat disini:
Pertama:misalnya
berdirinya IMANU (ikatan mahasiswa NU) pada bulan Desember 1955 di jakarta.
Namun kehadirannya belum bisa di terima oleh banyak pihak, terutama oleh
kalangan sesepuh NU sendiri. Sebab disamping kelahiran IPNU itu sendiri masih
baru (didirikan pada tanggal 24 februari 1954) yang notabene mayoritas
pengurusnya mahasiswa, sehingga dikhawatirkan justru akan melumpuhkan IPNU.
Kedua:sekelompok
mahasiswa Nahdliyin yang berdomisili di kota Surakarta Jawa Tengah yang
diprakarsai oleh H. Mustahal Ahmad, juga sempat mendirikan suatu organisasi
yang diberi nama “Keluarga Mahasiswa NU” (KMNU) Surakarta, juga pada tahun
1955. Bahkan KMNU ini merpakan orgasasi mahasiswa yang NU yang mampu bertahan
sampai lahirnya PMII pada tahun 1960).
Ketiga:di Bandung ada
usaha serupa dengan nama PMNU(persatuan mahasiswa NU ) dan masih banyak lagi di
kota kota lain dimana ada perguruan tinggi yang mempunyai gejala yang sama,
tetapi ternyata pimpinan IPNU teatap membendung usaha usaha tersebut dengan
usaha bahwa pimpinan pusat IPNU akan lebih mengintensifkan pada usaha usaha
mengadakan penelitian pada dua permasalan pokok: seberapa besar potensi mahasiswa
NU dan sampai seberapa jauh kemampuan untuk berdiri sebagai organisasi
mahasiswa.[2]
C. Proses kelahiran PMII
Seperti telah disebutkan dimuka bahwa pada puncak konferensi
besar IPNU pada tanggal 14-17 maret 1960 di Kaliurang Yogyakarta dicetuskan
suatu keputusan perlunya didirikan suatu organisasi mahasiswa yang terlepas
dari IPNU baik secara struktur organisatoris maupun administratif. Kemudian
dibentuklah panitia sponsor pendiri organisasi mahasiswa yang terdiri dari 13
orang dengan tugas melaksanakan musyawarah mahasiswa nahdliyin se-Indonesia,
bertempat di Surabaya dengan limit waktu 1 bulan setelah keputusan itu. Adapun
ke 13 sponsor pendiri organisasi mahasiswa itu adalah sebagai berikut:
1.Sahabat Cholid Mawardi
(Jakarta)
2.Sahabat Said Budairy (
Jakarta )
3.Sahabat M. Sobich Ubaid
(Jakarta)
4 Sahabat M. Makmun
Syukri BA (Bandung)
5.Sahabat Hilman
Badrudinsyah ( Bandung )
6.Sahabat H. Ismail Makky
( Yogyakarta )
7.Sahabat Moensif
Nachrowi ( Yogyakarta )
8.Sahabat Nuril Huda
Suaiby ( Surakarta )
9.Sahabat Laily Mansur (
Surakarta )
10.Sahabat Abdul Wahab
Jaelani ( Semarang )
11.Sahabat Hisbullah Huda
( Surabaya )
12.Sahabat M. Cholid Narbuko ( Malang
)
13.Sahabat Ahmad Hussein ( Makasar )
Pada tanggal 19 Maret
1960 mereka berangkat ke Jakarta menghadap ketua umum partai NU yaitu KH.DR Idam
Kholid untuk meminta nasehat sebagai pegangan pokok dalam musyawarah yang akan
dilaksanakan. Dan pada tanggal 24 Maret 1960 mereka diterima oleh ketua partai
NU, dalam pertemuan tersebut selain memberikan nasehat sebagai landasan pokok
untuk musyawarah, beliau juga menekankan hendaknya organisasi yang akan
dibentuk itu benar-benar dapat diandalkan sebagai kader partai NU, dan menjadi
mahasiswa yang berprinsip ilmu untuk diamalkan bagi kepentingan rakyat, bukan
ilmu untuk ilmu. Ilmu yang lebih penting lagi yaitu menjadi manusia yang cakap
serta bertakwa kepada Allah SWT. Setelah beliau menyatakan ( “merestui
musyawarah mahasiswa nahdliyin yang akan diadakan di Surabaya itu”).
Pesan yang disampaikan
oleh ketua partai NU tersebut, terasa sekali suasana kepercayaan NU pada
organisasi mahasiswa yang akan dibentuk ini. Bagaimana dengan organisasi lain?,
keadaan yang demekian ini nampaknya dapat kita maklumi.
Keadaan waktu itu (60-an)
memang sangat kondusif bagi organisasi mahasiswa untuk bersikap politis bahkan
partai minded. Meningkkatnya jumlah ormas-ormas mahasiswa disertai oleh
meningkatnya peran mereka secara kualitas dan terbukanya kesempatan untuk
mobilitas sosial dibidang politik. Hal ini senada yang disampaikan Rocamora
(dikutip oleh Burhan D. Magenda dalam Prisma nomor 12 Desember 1977) tentang
keterkaitan/hubungan antara organisasi mahasiswa dan partai politik. Rocamora
menunjukkan bagaimana pimpinan organisasi mahasiswa berafiliasi dengan partai
politik waktu itu. Proses regenerasi ini berjalan secara damai dan sesuai
dengan prinsip-prinsip organisasi. Gejala seperti itu juga terlihat hampir pada
semua organisasi mahasiswa termasuk didalamnya PMII yang baru dibentuk).
Awal mula berdirinya PMII
nampaknya lebih dimaksudkan sebagai alat untuk memperkuat partai NU. Hal ini
terlihat jelas dalam aktivits PMII antara tahun 1960-1972 (sebelum PMII
menyatakan diri independen) sebagian besar program-programnya berorienasi
politis.
Lebih jauh sahabat
H.Mahbub Junaedi mengatakan (sebutan pada acara panca warsa hari lahir PMII) “mereka bilang mahasiswa yang baik adalah
mahasiswa non partai,bahkan non politis, yang berdiri diatas semua golongan,
tidak kesana, tidak kesini, seperti orang mandor yang tidak berpihak.
Sebaliknya kita beranggapan justru mahasiswa itulah yang harus berpartisipasi
secara konkrit dengan kegiatan-kegiatan partai politik”).
SUSUNAN
PIMPINAN PMII
(periode 1960-961)
Ketua umum: H.Mahbub Junaedi
Ketua satu: Drs.H.Chalid Mawardi
Ketua dua: H.Sutanto Martoprasono
Sekretaris umum: H.M.Said Budairi
Sekretaris satu: Drs.Munsif Nahrowi
Sekretaris dua: Drs.A.Aly Ubaid
Keuangan satu: M.Sobich Ubaid
Keuangan dua: Ma’sum
Departemen-departemen:
Pendidikan dan pengajaran: MS. Hartono, BA
Penerangan dan publikasi: Aziz Marzuki
Hisbullah Kesejahteraan mahasiswa: Drs. H.
Fahrurrozi
Kesenian dan kebudayaan: HM. Said Budairi
Keputrian: Mahmudah Nahrowi
Luar negeri: Nukman
Pembantu
Umum: Drs. H. Isma’il Makky , Drs.H. Makmun Syukri, Huda, HS. Drs.H. Mustahal
Ahmad.[3]
DAFTAR PUSTAKA
Alfas,Fauzan
Sejarah PMII, Malang 1999

Komentar
Posting Komentar