Rabu, 30 Mei 2018

Pengembangan Sikap Keagamaan Peserta Didik


Sikap merupakan tingkatan efektif yang positif atau negatif yang di hubungkan dengan objek psikologis positif dapat di artikan senang, sedangkan negatif diartikan tidak senang atau menolak. Sikap juga bisa diartikan sebgai reaksi, maka sikap selalu berhubungan dengan  rasa senang atau tidak senang. Sikap juga bersifat positif dan negatif . sikap yang bersifat positif di tandai dengan  kecenderungan mendekati, menyenangi, dan mengharapkan objek tertentu. Sikap yang bersifat negatif cenderung menjauh, menghindar, membenci, dan  tidak menyukai obyek tertentu.
Sikap mempunyai tiga komkomponen yang bekerja secara konteks yang menentukan sikap seseorang. Ketiga komponen tersebut ialah komponen kognisi, afeksi dan konasi. Komponen kognisi akan menjawab tentang apa yang dipikirkan atau yang di persepsikan tentang obyek. Komponen afeksi di kaitkan dengan apa yang diraskan terhadap obyek (senang atu tidak senang). Komponen konasi  berhubungan dengan kesediaan atau kesiapan untuk bertindak terhadap obyek.
Sikap sebenarnya timbul setelah manusia lahir. Sebagaimana diketahui manusia pada waktu lahir belum membawa sikap, dan sikap itu terbentuk ketika pengembangan individu. Hal ini bisa di pahami bahwa sikap bisa berubah-ubah. Sikap merupakan hasil dari pengalaman dan interaksi serta komunikasi  yang terus menerus  dengan lingkungan sekitarnya.
Dalam pembentukan sikap faktor pengalaman mempunyai peran sangat penting. Hal ini berarti sikap seseorag akan banyak di pengaruhi oleh lingkungan  budaya, misalnya norma agama, adat istiadat. Namun dalam menntukan sikap seseoramg individu faktor individu itu sendiri ikut pula menentukan. Dengan demikian faktor internal dan faktor eksternal dapat  mempengaruhi  terhadap pembentukan dan pengembangan sikap seseorang.
Menurut Partini faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan dan pengembangan sikap adalah:
(1). Faktor internal : yakni faktor yang berasal dari dalam individu, yaitu kemampuan menyeleksi dan mengolah atau menganalisis  pengaruh yang datang dari luar termasuk minat, perhatian.
(2). Faktor eksternal : faktor diluar dari individu yaitu pengaruh dari lingkungan yang di terima.
Dengan demikian, pembentukan dan perubahan sikap,, disamping di pengaruhi oleh faktor internal (individu) sendiri juga di pengaruhi oleh  faktor eksternal (lingkungan) baik itu lingkungan  masayarakat, di sekolah, di masyarakat, dan di lingkungan alam sekirtarnya.
Pendekatan Keteladanan
Pendekatan keteladanan di rasa sangatlah penting, menurut Muhammad Said Nursi bahwa sifat-sifat khusus anak-anak ialah ingin meniru  yang baik dan buruk, maka perlu adanya keteladanan dari orang yua atau memfilter sika maupun perbuatan ketika di depan anak nya. Memberi contoh keteladanan merupakan salah satu dari metode pendidikan islam. Pendidikan merupakan salah satu upaya untuk mengembangkan potensi manusia, antara lain untuk mengubah sikap dan perilaku peserta didik melalui pengajaran dan pelatihan. Muhammad Utsman Najati menyatakan salah satu metode dalam al-qur’an  adalah metode meniru. Maka dari itu keteladanan  mempunyai peran penting dalam pengajaran agama dan nilai-nilai luhur.
Keteladanan merupakan sesuatu yang fitri bagi manusia dan penting dilaksanakan dalam pengembangan sikap keagamaan. Seperti dalam  Al-Qur’an dan sunnah nabi muhammad SAW yang menjdai figur teladan bagi umat islam`
Pendekatan Targhib dan Tarhib
A. Targhib
Targhib juga bisa di artikan sebagai reward, tanda penghargaan atau hadiah imbalan yang di berikan untuk seseorang. Menurut M. Hanafi Anshari Reward merupakan suatu ganjaran yang di berikan kepada seseorang untuk menambah kerajinan dan tingkah laku yang baik, sehingga dapat di jadikan contoh teladan bagi kaqan-kawannya.
Targhib atau ganjaran adalah tindakan yang menyenangkan, yang dilakukan pendidik untuk peserta didik yang mempunyai prestasi, mempunyai kerajinan yang dapat diberikan atau menimbulkan  keinginan bagi anak-anak yang lainnya untuk mencontoh anak yang mendapat ganjaran tersebut.
B. Tarhib
Tarhib berasal dari kata rahhaba yang berarti menakut-nakuti, mengintimidasi atau mengancam. Tarhib juga berarti ancaman hukuman. Dalam pendidikan tarhib adalah ancaman atau hukuman yang di berikan kepada peserta didik yang menyebabkan sadar akan kesalahan yang telah di perbuat dan berjanji dalam hatinya untuk tidak mengulanginya.
Hukuman juga bisa di buat untuk alat pendidikan. Namun ada beberapa syarat yang harus di pahami oleh pendidik ketika ia  memberikan hukan terhadap peserta didik`
Syarat-syarat hukuman sebgai berikut:
1. hukuman harus selaras dengan kesalahan anak  sesuai dengan usia anak mempunyai mutu pendidikan, membantu anak untuk menjadi dewasa dan memperbaiki kepribadian anak.
2. hukuman dapat di pertanggung jawabkan dan bersiffat ancaman.
3. hukuman berdsarkan kasih sayang, jangan sampai merusak hubungan antara pendidik  dengan peserta didik, dapat diraskan anak namun tidak harus memberikan hukuman dengan  bentuk fisik.
4. hukuman harus bertujuan menyadarkan kesalahan anak
5. ketika memberikan hukuman ke peserta didik jangan terlalu  tergesa-gesa, berikan kesempatan untuk memperbaikinya.

Dasar-Dasar Pembentukan Karakter Peserta Didik Dalam Pendidikan Islam
Islam sebagai agama yang memuat seperangkat nilai yang menjadi acuan pemeluknya dalam berperilaku. Aktualisasi nilai yang benar dalam bentuk perilaku akan berimplikasi pada kehidupan yang positif, pahala dan surga, sedamgkan praktik nilai yang salah akan berimplikasi ke arah yang negatif, dosa dan neraka.

Pendidikan islam merupakan slah satu dari aspek kehidupan manusia banyak membhas manusia dalam sgala dimensi, baik dimensi jasmani maupun rohani. Karenan dalam pendidikan islam  manusia (peserta didik) berfungsi sebagai obyek maupun sebagai subjek. Keberhasilan pendidikan islam dapat dinilai dari perubahan karakter peserta didik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern

  Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern Pendahuluan Ketika arus modernisasi menghujani dunia Islam, proses modern...