A.
Taujih
At-Taujih
adalah mengarahkan peserta didik dalam rangka meralisasikan tujuan-tujuan yang
diharapkan pengajar. Dengan bahasa lain: nasihat yang berdiri atas qana’ah,
bimbingan dan motivasi kepada anggota untuk beramal secara wajar dan dengan
hati lega pada arah tertentu.
Peran pengajar sangatlah
penting dalam pembentukan peserta didik, dimana peserta didik sebagai tempat
mengadu para mad’unya. Perannya yang sangat ideal terhadap proses pembentukan
generasi. Ideal dalam artiansesuai dengan yang dicita-citakan atau yang di
inginkan pengajar, sesuatu yang paling baik, paling utama, paling efektif.
Pengajar juga
harus memiliki strategi membangun emosional peserta didik dengan metode
pendekatan dan membangun kasih sayang antar pendidik dengan peserta didik.
Ketika pendidik memberikan arahan atau imbauan terhadap peserta didik maka akan
mudah di terima. Sebab, sebelumnya antara peserta didik dan pendidik mempunyai
hubungan emosional yang dekat.
B.
Urgensi Taujih
أَهَمِّيَّةُ التَّوْجِيْهِ
1.
Memberi
andil dalam menyelesaikan berbagai tujuan yang telah direncanakan.
2.
Mengarahkan
peserta didik
3.
Menjauhkan
peserta didikdari berbagai yang dapat menghambat psikis peserta didik sehingga
menjadi bosan.
C.
Adab-Adab Taujih
آدَابُ التَّوْجِيْهِ
1.
Hendaklah
penajar menjadi qudwah dalam taujih yang diberikannya kepada orang lain
2.
Taujih
hendaklah didahului oleh cinta timbal balik antara peserta didik dengan
pengajar sehingga emosional mereka akan menyatu.
3.
Lembut
kepada peserta didik ketika memberikan nasihat, dengan bahasa yang sopan
sehingga peserta didik tidak merasa tersinggung.
4.
Tidak
terburu-buru menyuguhkan solusi saat memberi nasihat kepada peserta didik.
5.
Ketika
memberikan nasihat kepada peserta
Pengajar juga harus memperhatikan peserta didik ketika memberikan
nasihat atau mengrahkan dengan cara mendekati peserta didik secara pribadi
seperti yang di contohkan nabi muhammad ketika mengarahkan Umar agar sebelum
makan membaca bismillah terdahulu dan menggunakan tangan kanan ketika makan.
عنْ عُمَرَ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ؛ قَالَ: كُنْتُ
غُلاَماً فِي حِجْرِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم. وَكَانَتْ يَدِي تَطِيشُ فِي
الصَّحْفَةِ. فَقَالَ لِي : ( يَاغُلاَمُ! سَمِّ اللهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ،
وَكُلْ مِمَّا يَلِيك)
Dari ‘Umar bin Abi Salamah, ia berkata: “Dahulu saya
adalah anak kecil asuhan Rasulullah SAW, dan jika makan, tanganku nggerayang ke
mana saja dari piring makanan, maka beliau SAW bersabda kepadaku: ‘Hai sayang!
Bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kanan, dan makanlah dari yang
terdekat denganmu'”
D.
Hadist pertama
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنُ
سَخْبَرَةَ قَا لَ سَمِعْتُ بْنَ مَسْعُوْدِ يَقُوْلُ عَلَمَنِ رَسُوْلُ صَلَّى
الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ التَّشَّهُّدَ كَفِّى بَيْنَ كَفَيْهِ كَمَا يُعَلِّمُنِى
السُوْرَةَ مِنَ اْلقُرْ اَنِ. وَاقْتَصَّ التَّشَهُّدَ بِمِثْلِ مَا
اقْتَصُّوا(رواه مسلم )
Dari Abdullah bin Sakhbarah, ia telah berkata, Aku telah mendengar Ibnu Masud berkata, Rasulullah SAW telah mengajariku Syahadat (Bersaksi), telapak tanganku berada diantara kedua telapak tangan beliau sebagaimana beliau mengajariku surat dari Al Qur'an. Dan ia (Abdullah bin Sakhbarah) membuat kisah syahadat (Bersaksi) sebagaimana yang mereka kisahkan. (HR. Bukhari)
E.
Hadist Kedua
عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا مُعَاذُ اَتَدْرِي
مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ قَا لَ اللَّه وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ
أَنْ يَعْبُدُوهُ وَ لَا يُشْرِ كُوا بِهِ شَيْئاً أ تَدْرِيْ مَا حَقُهُمْ
عَلَيْهِ قَالَ اللَّهُ وَرَسُوْلُهُ اعْلَمُ قَالَ أنْ لا َ يُعَذِّ بَهُمْ(رواه
البخاري)
(Diriwayatkan) dari Mu'adz bin Jabal, ia berkata, Nabi SAW telah
bersabda, wahai Mu'adz, apakah engkau tahu apa hak Allah atas hamba-Nya? ia
berkata, Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Nabi bersabda, (yaitu) mereka
(hamba-hamba-Nya) menyembah-Ny dan tidak menyekutui-Ny dengan apapun. Apa
haknya mereka atas-Nya? Mu'adz menjawab, Allah dan Rasul-Nya lebih
mengetahuinya. Nabi bersabda, (yaitu) Ia tidak memberi adzab kepada mereka.
(HR. Bukhari)
Dengan mengajak Mua’adz di boncengkan Rosulullah shollallahu
‘alaihi wa sallam dan tujuan Allah menciptakan makhluk, yaitu mengesakan
Allah semata dalam ibadah dan ikhlas untukNya. Karena sungguh ini hak yang
paling besar, tidak dimiliki oleh siapa-siapa kecuali hanya milik Allah Maha
Pencipta, Maha Agung, Maha Pemberi nikmat, dan Maha Pemberi Keutamaan.
Sebagaimana Rosul yang mulia telah menjelaskan balasan yang berhak
diperoleh hamba dari Allah – jika mereka menegakkan kewajiban yang paling besar
ini (mengikhlaskan ibadah) – yaitu balasan bahwa Dia menyelamatkan mereka dari
adzab neraka dan memasukkan mereka ke surga yang penuh kenikmatan.
Perkara ini menyenangkan dan menggembirakan orang yang beriman
sehingga berkata Mu’adz meminta ijin Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam:
“Bolehkah aku memberi kabar gembira ini kepada manusia?” Tetapi
Rosul shollallahu ‘alaihi wa sallam melarang Mu’adz untuk
kemaslahatan umatnya dan rasa kasih sayang beliau supaya umatnya
bersungguh-sungguh dalam beramal yang dapat mendekatkan kepada Allah dan supaya
mereka berlomba-lomba di dalamnya sehingga mereka memperoleh derajat yang
tinggi di sisi Allah karena kesungguhan, jihad, dan berlomba-lombanya mereka.
Sebaliknya, jika mereka berlambat-lambat dalam beramal dan menyandarkan kepada
janji semacam ini maka sungguh mereka akan kehilangan banyak kebaikan dan
pahala yang besar.
1.
Kewajiban
yang harus ditunaikan oleh hamba pada Allah adalah tidak berbuat syirik.
2.
Yang
Allah janjikan jika kewajiban tersebut dipenuhi adalah Allah tidak akan
menyiksa orang yang tidak berbuat syirik pada-Nya dengan sesuatu apa pun.
3.
Masalah
yang disebutkan Mu’adz tidak banyak diketahui oleh para sahabat Nabi.
4.
Bolehnya
menyembunyikan ilmu jika ada maslahat.
5.
Anjuran
untuk memberitahukan kabar gembira pada muslim lainnya.
6.
Kekhawatiran
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika manusia malas beramal karena
yang diingatkan adalah luasnya rahmat Allah.
7.
Jika
seseorang ditanya dan tidak tahu dalam perkara agama, maka dianjurkan
mengucapkan Allah wa rasuluhu a’lam (Allah dan Rasul-Nya lebih tahu).
8.
Bolehnya
mengkhususkan sebagian orang dalam penyampaian ilmu, tidak yang lainnya.
9.
Tawadhu’ atau
kerendahan hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena mau
dibonceng oleh Mu’adz, beda dengan perlakukan pembesar atau pemimpin lainnya.
10.
Boleh
membonceng orang lain di atas hewan tunggangan.
11.
Keutamaan
Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu.
12.
Bolehnya
cara tanya jawab sebagai jalan untuk menyampaikan pelajaran.
13.
Siapa saja yang tidak menjauhi kesyirikan,
maka tidak disebut beribadah kepada Allah dengan benar walau secara bentuk, ia
beribadah.
14.
Keutamaan
tauhid dan orang yang bertauhid (menghindarkan diri dari kesyirikan).
15.
Tauhid
adalah beribadah kepada Allah saja dan meninggalkan kesyirikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar