Rabu, 30 Mei 2018

Hadist Tarbawi At-Taujih

A.    Taujih
At-Taujih adalah mengarahkan peserta didik dalam rangka meralisasikan tujuan-tujuan yang diharapkan pengajar. Dengan bahasa lain: nasihat yang berdiri atas qana’ah, bimbingan dan motivasi kepada anggota untuk beramal secara wajar dan dengan hati lega pada arah tertentu.
Peran pengajar sangatlah penting dalam pembentukan peserta didik, dimana peserta didik sebagai tempat mengadu para mad’unya. Perannya yang sangat ideal terhadap proses pembentukan generasi. Ideal dalam artiansesuai dengan yang dicita-citakan atau yang di inginkan pengajar, sesuatu yang paling baik, paling utama, paling efektif.
Pengajar juga harus memiliki strategi membangun emosional peserta didik dengan metode pendekatan dan membangun kasih sayang antar pendidik dengan peserta didik. Ketika pendidik memberikan arahan atau imbauan terhadap peserta didik maka akan mudah di terima. Sebab, sebelumnya antara peserta didik dan pendidik mempunyai hubungan emosional yang dekat.
B.     Urgensi Taujih
أَهَمِّيَّةُ التَّوْجِيْهِ
1.        Memberi andil dalam menyelesaikan berbagai tujuan yang telah direncanakan.
2.        Mengarahkan peserta didik
3.        Menjauhkan peserta didikdari berbagai yang dapat menghambat psikis peserta didik sehingga menjadi bosan.

C.    Adab-Adab Taujih
آدَابُ التَّوْجِيْهِ
1.         Hendaklah penajar menjadi qudwah dalam taujih yang diberikannya kepada orang lain
2.         Taujih hendaklah didahului oleh cinta timbal balik antara peserta didik dengan pengajar sehingga emosional mereka akan menyatu.
3.         Lembut kepada peserta didik ketika memberikan nasihat, dengan bahasa yang sopan sehingga peserta didik tidak merasa tersinggung.
4.         Tidak terburu-buru menyuguhkan solusi saat memberi nasihat kepada peserta didik.
5.         Ketika memberikan nasihat kepada peserta

Pengajar juga harus memperhatikan peserta didik ketika memberikan nasihat atau mengrahkan dengan cara mendekati peserta didik secara pribadi seperti yang di contohkan nabi muhammad ketika mengarahkan Umar agar sebelum makan membaca bismillah terdahulu dan menggunakan tangan kanan ketika makan.
عنْ عُمَرَ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ؛ قَالَ: كُنْتُ غُلاَماً فِي حِجْرِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم. وَكَانَتْ يَدِي تَطِيشُ فِي الصَّحْفَةِ. فَقَالَ لِي : ( يَاغُلاَمُ! سَمِّ اللهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيك)
Dari ‘Umar bin Abi Salamah, ia berkata: “Dahulu saya adalah anak kecil asuhan Rasulullah SAW, dan jika makan, tanganku nggerayang ke mana saja dari piring makanan, maka beliau SAW bersabda kepadaku: ‘Hai sayang! Bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kanan, dan makanlah dari yang terdekat denganmu'”

D.    Hadist pertama

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنُ سَخْبَرَةَ قَا لَ سَمِعْتُ بْنَ مَسْعُوْدِ يَقُوْلُ عَلَمَنِ رَسُوْلُ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ التَّشَّهُّدَ كَفِّى بَيْنَ كَفَيْهِ كَمَا يُعَلِّمُنِى السُوْرَةَ مِنَ اْلقُرْ اَنِ. وَاقْتَصَّ التَّشَهُّدَ بِمِثْلِ مَا اقْتَصُّوا(رواه مسلم )

Dari Abdullah bin Sakhbarah, ia telah berkata, Aku telah mendengar Ibnu Masud berkata, Rasulullah SAW telah mengajariku Syahadat (Bersaksi), telapak tanganku berada diantara kedua telapak tangan beliau sebagaimana beliau mengajariku surat dari Al Qur'an. Dan ia (Abdullah bin Sakhbarah) membuat kisah syahadat (Bersaksi) sebagaimana yang mereka kisahkan. (HR. Bukhari)

E.     Hadist Kedua
عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ  صَلَّ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا مُعَاذُ اَتَدْرِي مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ قَا لَ اللَّه وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَ لَا يُشْرِ كُوا بِهِ شَيْئاً أ تَدْرِيْ مَا حَقُهُمْ عَلَيْهِ قَالَ اللَّهُ وَرَسُوْلُهُ اعْلَمُ قَالَ أنْ لا َ يُعَذِّ بَهُمْ(رواه البخاري)
(Diriwayatkan) dari Mu'adz bin Jabal, ia berkata, Nabi SAW telah bersabda, wahai Mu'adz, apakah engkau tahu apa hak Allah atas hamba-Nya? ia berkata, Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Nabi bersabda, (yaitu) mereka (hamba-hamba-Nya) menyembah-Ny dan tidak menyekutui-Ny dengan apapun. Apa haknya mereka atas-Nya? Mu'adz menjawab, Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahuinya. Nabi bersabda, (yaitu) Ia tidak memberi adzab kepada mereka. (HR. Bukhari)
Dengan mengajak Mua’adz di boncengkan Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam  dan tujuan Allah menciptakan makhluk, yaitu mengesakan Allah semata dalam ibadah dan ikhlas untukNya. Karena sungguh ini hak yang paling besar, tidak dimiliki oleh siapa-siapa kecuali hanya milik Allah Maha Pencipta, Maha Agung, Maha Pemberi nikmat, dan Maha Pemberi Keutamaan.
Sebagaimana Rosul yang mulia telah menjelaskan balasan yang berhak diperoleh hamba dari Allah – jika mereka menegakkan kewajiban yang paling besar ini (mengikhlaskan ibadah) – yaitu balasan bahwa Dia menyelamatkan mereka dari adzab neraka dan memasukkan mereka ke surga yang penuh kenikmatan.
Perkara ini menyenangkan dan menggembirakan orang yang beriman sehingga berkata Mu’adz meminta ijin Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam: “Bolehkah aku memberi kabar gembira ini kepada manusia?” Tetapi Rosul shollallahu ‘alaihi wa sallam melarang Mu’adz untuk kemaslahatan umatnya dan rasa kasih sayang beliau supaya umatnya bersungguh-sungguh dalam beramal yang dapat mendekatkan kepada Allah dan supaya mereka berlomba-lomba di dalamnya sehingga mereka memperoleh derajat yang tinggi di sisi Allah karena kesungguhan, jihad, dan berlomba-lombanya mereka. Sebaliknya, jika mereka berlambat-lambat dalam beramal dan menyandarkan kepada janji semacam ini maka sungguh mereka akan kehilangan banyak kebaikan dan pahala yang besar.
1.      Kewajiban yang harus ditunaikan oleh hamba pada Allah adalah tidak berbuat syirik.
2.      Yang Allah janjikan jika kewajiban tersebut dipenuhi adalah Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik pada-Nya dengan sesuatu apa pun.
3.      Masalah yang disebutkan Mu’adz tidak banyak diketahui oleh para sahabat Nabi.
4.      Bolehnya menyembunyikan ilmu jika ada maslahat.
5.      Anjuran untuk memberitahukan kabar gembira pada muslim lainnya.
6.      Kekhawatiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika manusia malas beramal karena yang diingatkan adalah luasnya rahmat Allah.
7.      Jika seseorang ditanya dan tidak tahu dalam perkara agama, maka dianjurkan mengucapkan Allah wa rasuluhu a’lam (Allah dan Rasul-Nya lebih tahu).
8.      Bolehnya mengkhususkan sebagian orang dalam penyampaian ilmu, tidak yang lainnya.
9.      Tawadhu’ atau kerendahan hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena mau dibonceng oleh Mu’adz, beda dengan perlakukan pembesar atau pemimpin lainnya.
10.  Boleh membonceng orang lain di atas hewan tunggangan.
11.  Keutamaan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu.
12.  Bolehnya cara tanya jawab sebagai jalan untuk menyampaikan pelajaran.
13.   Siapa saja yang tidak menjauhi kesyirikan, maka tidak disebut beribadah kepada Allah dengan benar walau secara bentuk, ia beribadah.
14.  Keutamaan tauhid dan orang yang bertauhid (menghindarkan diri dari kesyirikan).

15.  Tauhid adalah beribadah kepada Allah saja dan meninggalkan kesyirikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern

  Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern Pendahuluan Ketika arus modernisasi menghujani dunia Islam, proses modern...