Rabu, 28 Desember 2016

Makalah : Mengenal Allah SWT dan Mengenal Manusia




 MAKALAH

ILMU ALAMIAH DASAR
Mengenal Allah SWT dan Mengenal Manusia
                                                       
Dosen pengampu : Sugeng Priyatno, S.E., M.E.I





 












DISUSUN OLEH :

Irgi Nur Fadil







SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDATUL ULAMA
(STAINU) JAKARTA
2016
KATA PENGANTAR



Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
         Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang yang mana atas rahmat dan kasih sayangnya penulis dapat menyelesaikan makalah ILMU ALAMIAH DASAR yang berjudul ‘ Mengenal Allah SWT dan Mengenal Manusia ‘’  Berdasarkan materi yang di peroleh penulis.

        Penulis mengucapkan terima kasih kepada;

1.  Bapak  Sugeng Priyono, S.E.,M.E.I  selaku dosen pengampu mata kuliah ILMU ALAMIAH DASAR, SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDLATUL ULAMA ( STAINU ) Jakarta.
2. Rekan-rekan yang selalu membantu memberi masukan dalam penyusunan ini;

       Akhir kata, kami sampaikan bahwa tiada makalah yang sempurna tanpa uluran tangan pemerhatinya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sangat penulis harapkan demi perbaikan yang akan datang. Semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi penulis dan umumnya pembaca.



                                                                                    





Jakarta, 14 November 2016


                                                                                                                Penulis










DAFTAR ISI

Kata Pengantar  ..............................................................................................
Daftar Isi   ........................................................................................................
BAB I
Pendahuluan
      A. Latar Belakang   ..................................................................................
      B. Rumusan Masalah  ..............................................................................
      C. Tujuan   ................................................................................................
BAB II
      A. Mengenal Allah SWT  ........................................................................
      B. Mengenal Manusia  ............................................................................
     C. Mengenal Ciptaan Lain nya ..............................................................
BAB III
 Penutup
     A. Kesimpulan  ........................................................................................
      B. Saran ...................................................................................................























BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
           Manusia adalah mahluk yang diberi akal yang sempurna, tatkala akal membawa kepada sesuatu yang diinginkan. Tetapi alangkah baiknya digunakan kepada sesuatu yang akan memberikan mamfaat. salah satunya untuk meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT. Manusia akan hidup lurus apabila dia mampu menggunakan akal nya untuk mengetahui siapa dirinya. Yang akhirnya akan sampai kepada zat yang menciptakannya yaitu Allah SWT. Inilah yang menjadi persoalan bahwa manusia kebanyakan lupa kepada dzat yang menciptakannya yaitu Allah SWT.
            Ada sebagian ulama yang mengatakan : “Duduk di sisi orang yang mengenali Allah akan mengajak kita kepada enam hal dan berpaling dari enam hal, yaitu : dari ragu menjadi yakin, dari riya menjadi ikhlash, dari ghaflah (lalai) menjadi ingat, dari cinta dunia menjadi cinta akhirat, dari sombong menjadi tawadhu’ (randah hati), dari buruk hati menjadi nasehat”
Maka dekatilah para  ulama agar kita mudah untuk menemukan jati diri kita dan mudah untuk mengenal Allah SWT.
B. Rumusan Masalah
            Permasalahan yang ada dalam makalah ini :
  1. Bagaimana Mengenal Allah SWT ?
  2. Bagaimana Mengenal Manusia ?
  3. Bagaimana Mengenal Ciptaan-Nya ?

C. Tujuan Penulisan
1. Menjelaskan cara mengenal Allah dan kekuasaan-Nya
2. Menjelaskan hakikat tugas manusia
3. Menjelaskan mengenali ciptaan Allah yang maha pencipta



BAB II
PEMBAHASAN

A. Mengenal Allah
        
             Mengenal Allah juga bisa disebut juga dengan Ma’rifatullah yaitu berasal dari kata ma’rifah dan Allah. Ma’rifah berarti mengetahui, mengenal. Mengenal Allah bukan melalui zat Allah tetapi mengenal-Nya lewat tanda-tanda kebesaranNya (ayat-ayatNya). Mengenal Allah merupakan tahapan penting perjalanan diri Manusia. Salah satu Hadis yang terkenal dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. adalah "Man 'Arofa nafsahu, Faqod Arofa Robbahu" Artinya "Barang siapa mengenal dirinya maka, ia akan mengenal Tuhannnya". Makna dari hadis ini, bersesuaian dengan ungkapan dalam Al-Qur'an "Wallaahu bi kulli Syai'in 'Aliima" Artinya "dan Allah mengetahui segala sesuatu". dari dua pernyataan ini, bisa kita pahami bahwa:
1. Manusia Hidup di dunia ini harus memiliki panduan kehidupan agar dirinya tidak mengalami kebingungan.
2. Panduan kehidupan yang harus dicari oleh manusia, terdapat dalam dirinya sendiri.
3. Panduan yang dimaksud dalam poin kedua adalah panduan fitrah dan Suara Hati manusia
4. Jika manusia mau mengerti dan memahami segala apa yang ada dalam dirinya adalah pemberian sang Maha Kuasa maka, seharusnya manusia harus berterima kasih pada sang pemberi itu (Allah SWT)
5. Membuktikan kebenaran ilmu dan pemahaman yang dimiliki tentang sang Pencipta agar manusia tidak merasa ragu dan bingung dalam memahami kehidupan.

 “AWALUDDIN MA’RIFATULLAH”

Artinya : Awal Agama mengenal Allah.
Sebelum mengenal Allah terlebih dahulu kita diwajibkan mengenal diri, setelah mengenal diri, terkenallah kepada Allah, bilamana sudah mengenal Allah, Fanalah diri kita atau tidak ada mempunyai diri lagi, pada hakikatnya hanya Allah.

Selanjutnya terlebih dahulu kita mengenal diri, bilamana tidak mengenal asalnya kejadian diri, maka tidaklah sempurna Ilmu yang kita pelajari. Seperti kata Abdullah Ibnu Abbas RA :
Ya Rasulullah, apakah yang pertama dijadikan Allah ?

Nabi SAW bersabda : “INNALLAHA KHALAKA KABLAL ASY YAA INNUR NABIYIKA MINNUIHI” artinya “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menjadikan terlebih dahulu ialah Nur Nabi Muhammad SAW yang dijadikan dari pada Zat Allah”.

Dikutip dari Kitab Kimyatusy Sya’adah – Al Ghazali
Mengenal diri itu adalah Anak Kunci  untuk Mengenal Alloh.  
sebagaimana sabda Nabi SAW ;

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ وَمَنْ عَرَفَ رَبَّهُ فَسَدَ جَسَدَهُ

Artinya: “Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya, dan barangsiapa yang mengenal Tuhannya maka binasalah (fana) dirinya.

Jika tidak kenal diri sendiri, bagaimana hendak tahu hal-hal yang lain. Yang di maksud  Mengenal Diri itu bukanlah mengenal bentuk lahir , tubuh, muka, kaki, tangan dan lain-lain. karena mengenal semua hal itu tidak akan membawa kita mengenal Alloh.  Dan bukan pula mengenal perilaku dalam diri yaitu bila lapar makan, bila dahaga minum, bila marah memukul dan sebagainya. 
Yang di maksud sebenarnya mengenal diri itu ialah:

Kita mengenali tentang apa yang diciptakan oleh Allah terlebih dahulu. Dari mengenali ciptaanNya itulah, lantas kita mengenali siapa yang menciptakannya. disitulah kita akan melihat kebesaran-kebesaran Allah SWT yang ditunjukkan kepada kita semua.
Setelah kita sudah mengenalnya, lalu kita tingkatkan lagi apa kewajiban kita sebagai seorang hamba sebagaimana seharusnya perilaku seorang hamba yang telah mengenal kepada Tuhannya, Setelah itu kita tingkatkan lagi ke atas. Kita ini sejatinya diundang oleh waktu. Maka kita harus menghormati waktu.
Begitu tingkat kesadarannya sudah tinggi, maka kalau waktu shalat sudah datang kenapa kita mesti menunda waktu untuk bergegas melakukannya. Seharusnya kita kan justru bersiap-siap untuk menunggu datangnya waktu tersebut, menghormat panggilan Allah SWT untuk shalat.
Setiap kali berkumandang adzan, itu merupakan panggilan yang telah memperingatkan kita. Sehingga ketika terdengar suara adzan, kita merasa senang dan gembira, lantas bersiap-siap untuk hormat akan datangnya panggilan Allah tersebut.

B. Mengenal Manusia

           Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang terdiri dari ruh dan tanah yang dilengkapi dengan potensi hati, akal dan jasad serta dimuliakan dengan tugas ibadah dan khalifah dimuka bumi. Di antara makhluk ciptaan Allah yang sekian banyak jumlahnya.
Manusia adalah makhluk yang terbebani dengan tugas yang amat berat, dimana tak satupun makhluk lain mendapatkan beban seberat itu.
Akibat amanah yang di embannya, logis jika manusia akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allah. Satu persatu perbuatannya akan dihisab, bagaimana pelaksanaan misi ibadah dan kekhilafahan itu ditegakkan. Untuk misi itu pulalah , maka manusia dilengkapi dengan indera yang memungkinkan ia melaksanakan tugas-tugas dengan sempurna.





Keistimewaan Manusia
Manusia diberi kelebihan atas makhluk Allah yang lain ,dalam berbagai segi. Ia memiliki karakter yang khusus dengan karunia Allah agar mampu mengemban amanah yang dibebankan kepadanya didunia. Kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lain adalah:

1. Dalam segi Penciptaan

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang dinyatakan Allah sebagai sebaik-baik penciptaan (Ahsanuttaqwim) sebagaimana firman-Nya :

لقد خلقنا الإنسان في أحسن تقويم
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalm bentuk sebaik-baiknya … ( At Tiin : 4)
Kita dapat membandingkan setiap organ tubuh manusia dengan makhluk lain, tentu lebih sempurna. Perhatikan organ dalam manusia seperti jantung, ginjal, paru-paru, semuanya memiliki peran yang lebih sempurna dibandingkan dengan binatang jenis apapun. Termasuk organ tubuh lainnya seperti tangan, kaki, mata, telinga dan lain sebagainya semua serba lebih sempurna .

2. Dalam segi Ilmu

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang dapat menyerap ilmu dan sekaligus mengembangkannya. Hal ini tak mungkin terjadi pada makhluk lain.
Allah yang Maha Berilmu telah menetapkan dan mengajarkan ilmu-ilmu kepada manusia, sebagaimana firman-Nya :
‘’ Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya “
(Al Baqarah :31)

Dalam ayat lain Allah berfirman :
“Dia mengajarkan kepada manusia apa-apa yang belum diketahuinya”
(Al ‘Alaq : 5).

3. Dalam segi Kehendak

Manusia adalah makhluk yang bebas berhendak. Ia dapat memilih jalan yang baik, dapat pula memilih jalan yang sesat. Sekedar ilmu, belum tentu bias mengarahkan orang kepada kebaikkan . yang bias menjadi baik hanya karena ilmunya, tanpa dibarengi kehendak yang kuat untuk menjadikan dirinya baik.
Allah berfirman:
“Sesunggunya Kami telah menunjukkannya (manusia ) jalan yang lurus, ada yang bersyukur ada pula yang kufur” (Al Insan : 73)
Manusia memiliki banyak kemungkinan dan peluang dalam menyelesaikan satu masalah tertentu, sebab ia memilki kehendak (iradah). Menentukan jalan hidup, manusia banyak pilihan, sehingga ada yang memilih jalan Islam, ada pula yang kufur.
Dalam segi Posisi/kedudukan
Allah memberikan kedudukan yang tinggi kepada manusia diantara makhluk lainnya di bumi, yakni ia sebagai pemimpin. Sehingga manusia dapat memanfaatkan alam semesta ini untuk keperluan hidupnya , sebagaimana firman Allah :
“ Tidak kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi “ (Luqman : 20)
Dalam ayat lain , Allah berfirman :
“Dialah (Allah) yang menjadikan segala apa yang ada di bumi untuk kamu “ (Al Baqarah : 9)
Segala yang di alam ini telah disediakan Allah untuk kepentingan manusia karena memang manusialah yang bertugas memakmurkan bumi. Firman Allah :

“ Dia telah menciptakan kamu dari bumi(tanah) dan menjadikan sebagai pemakmurnya ( Hud : 61)
Dengan ilmu yang dimilikinya, manusia dapat memanfaatkan segala sesuatu di alam ini sehingga bermanfaat untuk kemakmuran bersama.

4. Dalam segi Kemampuan Akal, Pengamatan, Intuisi dan Imajinasi

Hanya manusia yang memilki kemampuan akal , dengannya dapat berfikir, melakukan pengamatan dan menyimpulkan . Manusia juga berkembang daya intuisi dan imajinasinya . Ia bisa mengkhayalkan sesuatu yang belum pernah terjadi.
Akalnya berkembang menjadi sarana berkembangnya ilmu dan teknologi.
Begitu pula kemampuan imajinasinya akan berkembang sehingga mengembangkan kreatifitas dalam berkarya. Hal ini semua tidak terjadi pada binatang.

5. Dalam segi tendensi moral

Manusia memiliki peluang untuk dibentuk menjadi baik ataupun buruk. Bahkan dapat juga berperan ganda sebagaimana orang munafiq di satu sisi ia kelihatan baik namun ternyata ia adalah orang yang berniat jahat.
Berbagai macam sifat dan sikap dapat ia miliki sekaligus . Tampak betul dalam segi ini manusia memang berbeda dengan binatang . Binatang sulit atau bahkan tidak dapat dibentuk dengan sifat dan karakter yang bermacam-macam padanya. Sebab ia tidak memilki kelengkapan tendensi yang memungkinkan untuk dapat bersifat menjadi seperti baik atau menjadi buruk.














C. Mengenal Ciptaan Lainnya

Allah menciptakan segala-galanya yang ada di dunia maupun di akhirat.
Setiap ciptaan Allah berguna dan bermanfaat semua.
Ciptaan allah sangat lah banyak seperti bulan langit makhluk, jin , malaikat dan masih banyak lagi, karna allah adalah Al-Kholiq (Maha Pencipta).
Firman ALLAH Taala :

Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: Jadilah. Lalu jadilah ia. Al-baqarah : 117.

Niscaya hanya bagi Allah ciptaan yang kekal lagi abadi, sedang ciptaan Allah itu meliputi luasnya langit dan bumi beserta apa-apa yang ada diantara keduanya.


















BAB III
                                                                    PENUTUP           
A. Kesimpulan
            Ma’rifatullah yaitu berasal dari kata ma’rifah dan Allah. Ma’rifah berarti mengetahui, mengenal. Mengenal Allah bukan melalui zat Allah tetapi mengenal-Nya lewat mengenal dirinya. Mengenal Allah merupakan tahapan penting perjalanan diri Manusia. Salah satu Hadis yang terkenal dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. adalah "Man 'Arofa nafsahu, Faqod Arofa Robbahu" Artinya "Barang siapa mengenal dirinya maka, ia akan mengenal Tuhannnya".
            Beberapa langkah praktis yang bisa kita lakukan untuk dapat mengenal Allah Adalah:
1. Menyadari bahwa diri kita adalah yang diciptakan
2. Kalau kita (manusia) diciptakan berarti ada yang menciptakan (Allah)
3. Kalau kita (manusia) diatur berarti ada yang mengatur (Allah)
4. Kalau kita diberi berarti ada yang memberi
5. karena kita diberi maka kita harus berteima kasih.
6. cara paling mudah dalam berterima kasih adalah selalu mengingat yang memberi
            kita bisa pilih semua cara diatas atau pilih salah satu cara dan lakukan dengan rutin dan teratur, insya Allah semua akan menjadi lebih baik. Dapat menjalankan ibadah dengan khusu dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

B. Saran
            Melalui Makalah ini semoga dapat membantu memberikan Informasi kepada semua pembaca mengenai Mengenal Allah, dan supaya kita menjadi Manusia yang lebih baik dalam menjalankan roda kehidupan. Dan dalam pembuatan makalah ini mungkin masih jauh dari kesempurnaan, Kritik dan saran yang membangun saya sangat harapkan dari segenap pembaca Makalah ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern

  Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern Pendahuluan Ketika arus modernisasi menghujani dunia Islam, proses modern...