Rabu, 28 Desember 2016

MAKALAH Dzikir dan Keutamaannya



MAKALAH
Dzikir dan Keutamaannya
Dosen pengampu : Abdul Qodir






 









DISUSUN OLEH : Irgi Nur Fadil




SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDATUL ULAMA
(STAINU) JAKARTA
2016







KATA PENGANTAR

            Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
            Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
            Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini. Semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi penulis dan umumnya pembaca.





Jakarta, 20 Desember 2016


                                                                                                          Penulis









DAFTAR ISI

Kata Pengantar  ..............................................................................................
Daftar Isi   ........................................................................................................
BAB I
Pendahuluan
      A. Latar Belakang   ..................................................................................
      B. Rumusan Masalah  ..............................................................................
BAB II
      A. Pengertian Dzikir..................................................................................
      B. Hukum Dzikir.......................................................................................
     C. Pendapat Ulama ...................................................................................
      D. Keutamaan Dzikir ……………………………………………………
BAB III
 Penutup
     A. Kesimpulan  ........................................................................................
    Daftar  Pustaka …………………………………………………………..














BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
       Peranan dzikir dalam kehidupan umat Islam sangat penting. Berdzikir dan berdo’a dimaksudkan sebagai sarana berkomunikasi dengan Allah SWT. Berdzikir tidaklah sekedar melafalkan wirid-wirid, demikian juga dengan berdo’a tidaklah sekedar mengaminkan do’a yang dibaca oleh imam. Karena esensi dzikir dan do’a adalah menghayati apa yang kita ucapkan dan apa yang kita hajati.
       Berdzikir  ialah segala ucapan yang disukai kita banyak membacanya untuk mengingat dan mengenang Allah SWT. Karena manusia hidup di dunia tidak lepas dari campur tangan Allah, dimana manusia itu sangat tergantung kepada Allah dan tidak mungkin bisa berbuat apa – apa tanpa mendapatkan izin dan Ridho-Nya, maka sangat penting kita mempunyai kendaraan yang bisa mengantarkan menghadap langsung kepada Allah, kendaraan itu adalah shalat, dzikir kepada Allah dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah.

B. Rumusan Masalah
a. Apa yang di maksud dzikir ?
b. Apa hukum nya bedzikir kepada allah ?
c. Bagaimana pendapat ulama tentang bedzikir ?
            d. Apa saja keutamaan berdzikir ?











BAB II
DZIKIR DAN FUNGSI DZIKIR

A. Pengertian Dzikir
       Dzikir secara bahasa berasal dari kata : ( Dzakaro-yadzkuru-dzikron ) Artinya : Menyebut,mengucapkan mengagungkan,mengingat-ingat, sedangkan
dzikir secara istilah adalah membasahi lidah dengan ucapan-ucapan pujian kepada
Allah.[1]
       Secara etimologi dzikir memiliki arti menyebut, mengingat, atau berdo’a. dzikir di definisikan  dengan menyebut atau mengingat Allah dengan lisan melalui kalimat-kalimat thayyibah.[2]
       Dzikir merupakan ibadah hati dan lisan yang tidak mengenal batasan
waktu. Bahkan Allah menyifati ulil albab, adalah mereka-mereka yang senantiasa
menyebut Rabbnya, baik dalam keadaan berdiri, duduk bahkan juga berbaring.
Oleh karenanya dzikir bukan hanya ibadah yang bersifat lisaniyah, namun juga
qalbiyah. Imam Nawawi menyatakan bahwa yang afdhal adalah dilakukan
bersamaan di lisan dan di hati. jika harus salah satunya, maka dzikir hatilah yang
lebih di utama. Meskipun demikian, menghadirkan maknanya dalam hati, memahami maksudnya merupakan suatu hal yang harus diupayakan dalam dzikir.[3]
       Dzikir adalah perintah Allah SWT yang harus kita laksanakan setiap saat, dimanapun dan kapanpun. Allah selalu mendengar apapun yang kita ucapkan oleh mulut atau hati kita. Dzikir merupakan salah satu sarana komunikasi antara makhluk dengan khaliqnya. Dengan berdzikir seseorang dapat meraih ketenangan, karena pada saat berdzikir ia telah menemukan tempat berlindung dan kepasrahan total kepada Allah SWT. Dzikir harus dilaksanakan dengan sepenuh hati, jiwa yang tulus, dan hati yang khusyu' penuh khidmat. Untuk bisa berdzikir dengan hati yang khusyu' itu diperlukan perjuangan yang tidak ringan, masing-masing orang memiliki cara tersendiri. Bisa jadi satu orang lebih khusyu' kalau berdzikir dengan cara duduk menghadap kiblat, sementara yang lain akan lebih khusyu' dan khidmat jika wirid dzikir dengan cara berdiri atau berjalan, ada pula dengan cara mengeraskan dzikir atau dengan cara dzikir pelan dan hampir tidak bersuara untuk mendatangkan konsentrasi dan ke-khusyu'-an. Maka cara dzikir yang lebih utama adalah melakukan dzikir pada suasana dan cara yang dapat medatangkan ke-khusyu’an.[4]

B. Hukum Berdzikir
       Di dalam al-Qur’an kata dzikir disebut sebanyak 267 kali dengan berbagai
bentuk kata. Diantaranya bermakna mengingat Allah dalam arti menghadirkan
dalam hati.
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي

Artinya: ‘’Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka   sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku.’’ (QS. Thaaha ayat 14).
Ayat lain menyebutkan bahwa orang-orang yang berdzikir akan
mendapatkan ketentraman dalam hati seperti dalam al-Qur’an surat ar- Ra’d ayat
28:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: ‘’ (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan           mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.’’        
       Kata tenang dalam ayat diatas bukan tidak memiliki arti apa-apa, namun
kata tenang tersebut memiliki dimensi yang sangat luas, yaitu mencakupkebahagiaan dunia dan akhirat, kebahagiaan sempurna yang di inginkan setiapmanusia. Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik, berdzikir dan yangmenginfakkan hartanya.
      




       Allah memuji orang yang selalu berdzikir dalam setiap keadaan. Bahkan
ketika kita mencari anugerah Allah, bekerja mencari nafkah. al-Qur’an
menyebutkan:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: ‘’Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.’’ (QS. Ali Imran: 191).

       Perintah Allah agar berdzikir sebanyak-banyaknya termaktub dalam al-
Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 41:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

Artinya: ‘’Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (Qs al-Ahzab, 41).21
Allah juga menjanjikan ampunan dan surga bagi orang-orang yang membiasakan berdzikir. Dalam al-Qur’an disebutkan:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

       Artinya: ‘’Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki- laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab, 35).
      Dalam surat An-Nisa di jelaskan bahwa setelah selai sholat di anjurkan untuk berdzikir kepada Allah SWT, dalam keadaan berdiri, berbaring maupun duduk.

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۚ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
Artinya: ‘’Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalatmu, ingatlah Allah diwaktu berdiri, diwaktu duduk dan waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu. Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.’’ (QS. An-Nisa’ Ayat 103).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dan Abu Said al-Khudri, mereka bersaksi bahwa:
وَعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ وَأَبِيْ سَعِيْدِ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنَّهُ قَالَ لاَ يَقعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهِ فِيْمَنْ عِنْدَهُ (رواه مسلم)

"Rasulullah Saw bersabda: Tidak ada sekelompok kaum pun yang berdzikir kepada Allah, kecuali malaikat akan mengelilingi mereka, rahmat akan menyelimuti mereka, ketenangan akan datang pada mereka,  dan Allah akan menyebutnya di dalam orang-orang dekatnya" (HR Muslim No 6954, Ahmad No 9771 dan 11307, al-Turmudzi No 3378 dan Ibnu Majah No 3791)

















C. Menurut Pendapat Para Ulama
       Hati manusia itu tak ubahnya seperti kolam yang didalamnya mengalir bermacam-macam air. Dzikir kepada Allah adalah sebuah hiasan bagi kaum sufi yang merupakan syarat utama bagi orang yang menempuh jalan Allah. Dzikir dapat menembus alam malakut, yakni dengan datangnya malaikat. Dzikir merupakan pembuka alam gaib, penarik kebaikan dan bermanfaat untuk membersihkan hati.[5]
       Imam Athaillah Al-Iskandary mengatakan bahwa dzikir menurut ajaran tarekat harus dilakukan menurut penglihatan hati atau batin dan timbul dari pemikiran yang paling dalam. Dan selanjutnya dikatakan tidak akan terjadi dzikir kecuali timbul dari pemikiran dan penglihatan batin.[6]
       Pendapat lain juga diungkapkan oleh Ibn Qadamah mengatakan bahwa tidak ada ibadah yang lebih utama bagi lidah setelah membaca al-Qur’an selain dari dzikrullah atau mengingat Allah dengan dzikir dan menyampaikan segala kebutuhan melalui doa yang tulus kepada Allah.[7]
       Dzikir bisa diklasifikasikan berdasarkan pada apa yang kita baca. dzikir dapat dikelompokkan menjadi dzikir yang berisi pujian kepada Allah SWT., misalnya, Subhanallah (maha suci Allah), alhamdulillah (segala puji bagi Allah), laa ilaaha illallah (tiada tuhan selain
Allah), tetapi ada juga dzikir yang berisi doa kepada Allah. Serta ada juga dzikir yang berisi percakapan kita dengan Allah. Dalam dzikir tersebut hanya terdapat ungkapan perasaan kita kepada Allah. Dzikir seperti itu disebut munajat, dan munajat biasanya dilakukan oleh seseorang yang telah mencapai maqam tertentu. Seseorang tidak akan berdzikir kepada Allah sehingga Allah menggerakkan tali kendali hatinya. Oleh karena itu, jika kamu tahu bahwa dzikirmu merupakan pertanda ingatnya Allah kepadamu, maka perbanyaklah dzikirmu kepada Allah.[8]
       Dzikir merupakan salah satu jalan seseorang menuju tasawuf. Jalaluddin Rahmat menyebutkan bahwa perjalanan tasawuf dilakukan atau dimulai dari pembersihan diri dari prilaku yang tercela. Pembersihan diri tersebut dalam tasawuf disebut sebagai praktik takhliyyah, yang artinya mengosongkan, membersihkan atau menyucikan diri. Seperti halnya seseorang yang ingin mengisi sebuah botol dengan air mineral yang bermanfaat, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah mengosongkan isi botol tersebut terlebih dahulu. Karena akan sia-sia jika memasukkan air bersih kedalam botol sementara botol tersebut dalam keadaan kotor. Salah satu cara seseorang membersihkan atau menyucikan diri adalah dengan berdzikir.[9]
       Jalaluddin Rahmat menceritakan sebuah cerita tentang dzikir. “Suatu ketika, Imam Ghazali ditanya oleh seseorang, ” katanya setan dapat tersingkir oleh dzikir kita, tapi mengapa saya selalu berdzikir, tetapi setan tidak pernah terusir? ”
Imam Ghazali menjawab, “ setan itu seperti anjing, jika kita hardik anjing itu akan menyingkir. Tapi jika disekitar kita masih terdapat makanan anjing, maka anjing tersebut akan datang kembali. Bahkan mungkin anjing tu akan mengincar diri kita, dan ketika kita lengah, ia menghampiri kita. begitu pula halnya dengan dzikir,
dzikir tidak akan bermanfaat jika di dalam hati kita masih disediakan makanan-makanan setan, setan tidak akan takut digebrak dengan dzikir manapun. Pada kenyataannya, bukan setan yang menggoda kita, melainkan kita yang menggoda setan dengan berbagai penyakit hati yang kita derita.”
Dari kisah diatas, dapat disimpulkan bahwa dzikir harus di mulai dengan
pembersihan hati kita dari berbagai macam penyakit hati, seperti iri hati, dengki,
egoisme dan perbuatan-perbuatan yang sifatnya tercela.[10]











D. Keutamaan Dzikir
Keutamaan-keutamaan bagi orang yang berdzikir kepada Allah SWT
Antara lain:
·           Dzikir sebagai penenang hati
·           Dzikir sebagai pengangkat derajat manusia
·           Dzikir sebagai pembaru iman
·           Dzikir sebagai sarana masuk surga
·           Dzikir sebagai sarana memperoleh Syafaat Rasulullah SAW
·         Mengusir, mengalahkan dan menghancurkan setan
·         Menghilangkan rasa susah dan kegelisahan hati
·         Membuat hati menjadi senang, gembira dan tenang.
·         Dapat menghapus dan menghilangkan dosa-dosa.
·         Dapat menyelamatkan seseorang dari kepayahan di hari kiamat
·         Dzikir merupakan tanaman di surga.[11]























BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
      
       Berdzikir merupakan tindakan yang terpuji dimana kita mengingat Allah memalui pujian-pujian kepada Allah Swt. Berdzikir kepada Allah Swt sangat dianjurkan karena selain mengingat Allah dan mendapat pahala keutamaannya sangat banyak bagi orang yang selalu berdzikir kepada Allah Swt. Dengan berdzikir kita tetap tersambung dengan sang pencipta dimana kita tidak selalu memikirkan kehidupan dunia. Berdzikir dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja kecuali tempat-tempat yang dilarang menyebut nama Allah dan hukumnya sunnah, lebih-lebih setelah shalat 5 waktu kita sangat dianjurkan untuk melanjutkan dengan berdzikir untuk kesempurnaan shalat kita.





























DAFTAR PUSTAKA

Nawawi, Ismail, Risalah Pembersih Jiwa, (Surabaya: Karya Agung Surabaya, 2008)
Khoirul, Ahmad, http://www.nu.or.id/post/read/11492/berdzikir-dengan-pengeras-suara           (diakses 20 Desember 2016)
Al-Makky, Abu Thalib, Ilmu Hati; Teknik Efektif Mencapai Kesadaran Sejati, (Erlangga,          2002)
Rahmat, Jalaluddin, Tahap-Tahap Perjalanan Ruhani Menuju Tuhan, (Mizan dan         Muthahhari Press Softcover, 2008)



[1] Ismail Nawawi, Risalah Pembersih Jiwa, (Surabaya: Karya Agung Surabaya, 2008), hal. 244.
[2] Ibid.
[3] Ibid., h. 246.
[4] Ahmad Khoirul, http://www.nu.or.id/post/read/11492/berdzikir-dengan-pengeras-suara (diakses 20 Desember 2016)

[5] Ismail Nawawi, Op. Cit,. h. 99.
[6] Ibid.
[7] Ibid,. h. 100.
[8] Abu Thalib Al-Makky, Ilmu Hati; Teknik Efektif Mencapai Kesadaran Sejati, (Erlangga, 2002), hal 18.
[9] Jalaluddin Rahmat, Tahap-Tahap Perjalanan Ruhani Menuju Tuhan, (Mizan dan Muthahhari Press Softcover,
2008), hal. 60.
[10] Ibid. hal. 70.
[11] Ibid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern

  Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern Pendahuluan Ketika arus modernisasi menghujani dunia Islam, proses modern...