MAKALAH
Dzikir dan Keutamaannya
Dosen pengampu : Abdul Qodir
![]() |
DISUSUN OLEH : Irgi Nur Fadil
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
NAHDATUL ULAMA
(STAINU) JAKARTA
2016
KATA PENGANTAR
Dengan
menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, puji syukur atas
kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada
kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah
ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu
kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas
dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari
segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan
terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat
memperbaiki makalah ilmiah ini. Semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi
penulis dan umumnya pembaca.
Jakarta, 20 Desember 2016
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
..............................................................................................
Daftar Isi
........................................................................................................
BAB I
Pendahuluan
A. Latar
Belakang
..................................................................................
B. Rumusan
Masalah
..............................................................................
BAB II
A. Pengertian Dzikir..................................................................................
B. Hukum Dzikir.......................................................................................
C. Pendapat Ulama ...................................................................................
D.
Keutamaan Dzikir ……………………………………………………
BAB III
Penutup
A. Kesimpulan
........................................................................................
Daftar Pustaka …………………………………………………………..
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Peranan dzikir dalam kehidupan umat Islam
sangat penting. Berdzikir dan berdo’a dimaksudkan sebagai sarana berkomunikasi
dengan Allah SWT. Berdzikir tidaklah sekedar melafalkan wirid-wirid, demikian
juga dengan berdo’a tidaklah sekedar mengaminkan do’a yang dibaca oleh imam.
Karena esensi dzikir dan do’a adalah menghayati apa yang kita ucapkan dan apa
yang kita hajati.
Berdzikir
ialah segala ucapan yang disukai kita banyak membacanya untuk mengingat
dan mengenang Allah SWT. Karena manusia hidup di dunia tidak lepas dari campur
tangan Allah, dimana manusia itu sangat tergantung kepada Allah dan tidak
mungkin bisa berbuat apa – apa tanpa mendapatkan izin dan Ridho-Nya, maka
sangat penting kita mempunyai kendaraan yang bisa mengantarkan menghadap
langsung kepada Allah, kendaraan itu adalah shalat, dzikir kepada Allah dengan
tujuan mendekatkan diri kepada Allah.
B. Rumusan Masalah
a. Apa yang di
maksud dzikir ?
b. Apa hukum
nya bedzikir kepada allah ?
c. Bagaimana
pendapat ulama tentang bedzikir ?
d. Apa saja keutamaan berdzikir ?
BAB II
DZIKIR DAN FUNGSI DZIKIR
A. Pengertian Dzikir
Dzikir secara bahasa berasal dari kata : ( Dzakaro-yadzkuru-dzikron ) Artinya :
Menyebut,mengucapkan mengagungkan,mengingat-ingat, sedangkan
dzikir secara istilah
adalah membasahi lidah dengan ucapan-ucapan pujian kepada
Allah.[1]
Secara etimologi dzikir memiliki arti menyebut, mengingat,
atau berdo’a. dzikir di definisikan
dengan menyebut atau mengingat Allah dengan lisan melalui
kalimat-kalimat thayyibah.[2]
Dzikir merupakan ibadah hati dan lisan yang tidak mengenal
batasan
waktu. Bahkan Allah
menyifati ulil albab, adalah mereka-mereka yang senantiasa
menyebut Rabbnya, baik
dalam keadaan berdiri, duduk bahkan juga berbaring.
Oleh karenanya dzikir
bukan hanya ibadah yang bersifat lisaniyah, namun juga
qalbiyah. Imam Nawawi
menyatakan bahwa yang afdhal adalah dilakukan
bersamaan di lisan dan di
hati. jika harus salah satunya, maka dzikir hatilah yang
lebih di utama. Meskipun
demikian, menghadirkan maknanya dalam hati, memahami maksudnya merupakan suatu hal
yang harus diupayakan dalam dzikir.[3]
Dzikir adalah perintah Allah SWT yang harus kita laksanakan
setiap saat, dimanapun dan kapanpun. Allah selalu mendengar apapun yang kita
ucapkan oleh mulut atau hati kita. Dzikir merupakan salah satu sarana komunikasi
antara makhluk dengan khaliqnya. Dengan berdzikir seseorang dapat meraih
ketenangan, karena pada saat berdzikir ia telah menemukan tempat berlindung dan
kepasrahan total kepada Allah SWT. Dzikir harus dilaksanakan dengan sepenuh
hati, jiwa yang tulus, dan hati yang khusyu' penuh khidmat. Untuk bisa
berdzikir dengan hati yang khusyu' itu diperlukan perjuangan yang tidak ringan,
masing-masing orang memiliki cara tersendiri. Bisa jadi satu orang lebih
khusyu' kalau berdzikir dengan cara duduk menghadap kiblat, sementara yang lain
akan lebih khusyu' dan khidmat jika wirid dzikir dengan cara berdiri atau
berjalan, ada pula dengan cara mengeraskan dzikir atau dengan cara dzikir pelan
dan hampir tidak bersuara untuk mendatangkan konsentrasi dan ke-khusyu'-an.
Maka cara dzikir yang lebih utama adalah melakukan dzikir pada suasana dan cara
yang dapat medatangkan ke-khusyu’an.[4]
B. Hukum Berdzikir
Di dalam al-Qur’an kata dzikir disebut sebanyak 267 kali
dengan berbagai
bentuk kata. Diantaranya
bermakna mengingat Allah dalam arti menghadirkan
dalam hati.
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا
فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي
Artinya: ‘’Sesungguhnya
Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk
mengingat Aku.’’ (QS. Thaaha ayat 14).
Ayat lain menyebutkan
bahwa orang-orang yang berdzikir akan
mendapatkan ketentraman
dalam hati seperti dalam al-Qur’an surat ar- Ra’d ayat
28:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا
بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya: ‘’ (yaitu)
orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya
dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.’’
Kata tenang dalam ayat diatas bukan tidak memiliki arti
apa-apa, namun
kata tenang tersebut
memiliki dimensi yang sangat luas, yaitu mencakupkebahagiaan dunia dan akhirat,
kebahagiaan sempurna yang di inginkan setiapmanusia. Allah mencintai
orang-orang yang berbuat baik, berdzikir dan yangmenginfakkan hartanya.
Allah memuji orang yang selalu berdzikir dalam setiap keadaan.
Bahkan
ketika kita mencari
anugerah Allah, bekerja mencari nafkah. al-Qur’an
menyebutkan:
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ
وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا
بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: ‘’Orang-orang
yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan
mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya
Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau,
Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.’’ (QS. Ali Imran: 191).
Perintah Allah agar berdzikir sebanyak-banyaknya termaktub
dalam al-
Qur’an Surat Al-Ahzab ayat
41:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا
اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
Artinya: ‘’Hai
orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir
yang sebanyak-banyaknya.” (Qs al-Ahzab, 41).21
Allah juga menjanjikan
ampunan dan surga bagi orang-orang yang membiasakan berdzikir. Dalam al-Qur’an
disebutkan:
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ
وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ
وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ
وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ
اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
Artinya: ‘’Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang
muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap
dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan
yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang
bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki- laki dan perempuan
yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut
nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang
besar.” (QS. Al-Ahzab, 35).
Dalam surat An-Nisa di jelaskan bahwa setelah selai sholat di anjurkan
untuk berdzikir kepada Allah SWT, dalam keadaan berdiri, berbaring maupun
duduk.
فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا
وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۚ إِنَّ
الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
Artinya: ‘’Maka apabila
kamu telah menyelesaikan shalatmu, ingatlah Allah diwaktu berdiri, diwaktu
duduk dan waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka
dirikanlah shalat itu. Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan
waktunya atas orang-orang yang beriman.’’ (QS. An-Nisa’ Ayat 103).
Diriwayatkan dari Abu
Hurairah dan Abu Said al-Khudri, mereka bersaksi bahwa:
وَعَنْ
أَبِيْ هُرَيْرَةَ وَأَبِيْ سَعِيْدِ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلَى
النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنَّهُ قَالَ لاَ يَقعُدُ قَوْمٌ
يَذْكُرُوْنَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ
وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمُ
اللهِ فِيْمَنْ عِنْدَهُ (رواه مسلم)
"Rasulullah Saw bersabda:
Tidak ada sekelompok kaum pun yang berdzikir kepada Allah, kecuali malaikat
akan mengelilingi mereka, rahmat akan menyelimuti mereka, ketenangan akan datang
pada mereka, dan Allah akan menyebutnya
di dalam orang-orang dekatnya" (HR Muslim No 6954, Ahmad No 9771 dan
11307, al-Turmudzi No 3378 dan Ibnu Majah No 3791)
C. Menurut Pendapat Para Ulama
Hati manusia itu tak ubahnya seperti kolam yang didalamnya
mengalir bermacam-macam air. Dzikir kepada Allah adalah sebuah hiasan bagi kaum
sufi yang merupakan syarat utama bagi orang yang menempuh jalan Allah. Dzikir
dapat menembus alam malakut, yakni dengan datangnya malaikat. Dzikir merupakan
pembuka alam gaib, penarik kebaikan dan bermanfaat untuk membersihkan hati.[5]
Imam Athaillah Al-Iskandary mengatakan bahwa dzikir menurut
ajaran tarekat harus dilakukan menurut penglihatan hati atau batin dan timbul
dari pemikiran yang paling dalam. Dan selanjutnya dikatakan tidak akan terjadi
dzikir kecuali timbul dari pemikiran dan penglihatan batin.[6]
Pendapat lain juga diungkapkan oleh Ibn Qadamah mengatakan
bahwa tidak ada ibadah yang lebih utama bagi lidah setelah membaca al-Qur’an
selain dari dzikrullah atau mengingat Allah dengan dzikir dan menyampaikan
segala kebutuhan melalui doa yang tulus kepada Allah.[7]
Dzikir bisa diklasifikasikan berdasarkan pada apa yang kita
baca. dzikir dapat dikelompokkan menjadi dzikir yang berisi pujian kepada Allah
SWT., misalnya, Subhanallah (maha suci Allah), alhamdulillah (segala puji bagi
Allah), laa ilaaha illallah (tiada tuhan selain
Allah), tetapi ada juga
dzikir yang berisi doa kepada Allah. Serta ada juga dzikir yang berisi
percakapan kita dengan Allah. Dalam dzikir tersebut hanya terdapat ungkapan
perasaan kita kepada Allah. Dzikir seperti itu disebut munajat, dan munajat
biasanya dilakukan oleh seseorang yang telah mencapai maqam tertentu. Seseorang
tidak akan berdzikir kepada Allah sehingga Allah menggerakkan tali kendali hatinya.
Oleh karena itu, jika kamu tahu bahwa dzikirmu merupakan pertanda ingatnya
Allah kepadamu, maka perbanyaklah dzikirmu kepada Allah.[8]
Dzikir merupakan salah satu jalan seseorang menuju tasawuf.
Jalaluddin Rahmat menyebutkan bahwa perjalanan tasawuf dilakukan atau dimulai
dari pembersihan diri dari prilaku yang tercela. Pembersihan diri tersebut
dalam tasawuf disebut sebagai praktik takhliyyah, yang artinya mengosongkan, membersihkan
atau menyucikan diri. Seperti halnya seseorang yang ingin mengisi sebuah botol
dengan air mineral yang bermanfaat, maka hal pertama yang harus dilakukan
adalah mengosongkan isi botol tersebut terlebih dahulu. Karena akan sia-sia
jika memasukkan air bersih kedalam botol sementara botol tersebut dalam keadaan
kotor. Salah satu cara seseorang membersihkan atau menyucikan diri adalah
dengan berdzikir.[9]
Jalaluddin Rahmat menceritakan sebuah cerita tentang dzikir.
“Suatu ketika, Imam Ghazali ditanya oleh seseorang, ” katanya setan dapat
tersingkir oleh dzikir kita, tapi mengapa saya selalu berdzikir, tetapi setan
tidak pernah terusir? ”
Imam Ghazali menjawab, “
setan itu seperti anjing, jika kita hardik anjing itu akan menyingkir. Tapi
jika disekitar kita masih terdapat makanan anjing, maka anjing tersebut akan
datang kembali. Bahkan mungkin anjing tu akan mengincar diri kita, dan ketika
kita lengah, ia menghampiri kita. begitu pula halnya dengan dzikir,
dzikir tidak akan
bermanfaat jika di dalam hati kita masih disediakan makanan-makanan setan, setan
tidak akan takut digebrak dengan dzikir manapun. Pada kenyataannya, bukan setan
yang menggoda kita, melainkan kita yang menggoda setan dengan berbagai penyakit
hati yang kita derita.”
Dari kisah diatas, dapat
disimpulkan bahwa dzikir harus di mulai dengan
pembersihan hati kita dari
berbagai macam penyakit hati, seperti iri hati, dengki,
egoisme dan
perbuatan-perbuatan yang sifatnya tercela.[10]
D. Keutamaan Dzikir
Keutamaan-keutamaan bagi
orang yang berdzikir kepada Allah SWT
Antara lain:
·
Dzikir sebagai penenang hati
·
Dzikir sebagai pengangkat derajat manusia
·
Dzikir sebagai pembaru iman
·
Dzikir sebagai sarana masuk surga
·
Dzikir sebagai sarana memperoleh Syafaat Rasulullah SAW
·
Mengusir, mengalahkan dan menghancurkan setan
·
Menghilangkan rasa susah dan kegelisahan hati
·
Membuat hati menjadi senang, gembira dan tenang.
·
Dapat menghapus dan menghilangkan dosa-dosa.
·
Dapat menyelamatkan seseorang dari kepayahan di hari kiamat
·
Dzikir merupakan tanaman di surga.[11]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdzikir merupakan tindakan yang terpuji dimana kita
mengingat Allah memalui pujian-pujian kepada Allah Swt. Berdzikir kepada Allah
Swt sangat dianjurkan karena selain mengingat Allah dan mendapat pahala
keutamaannya sangat banyak bagi orang yang selalu berdzikir kepada Allah Swt.
Dengan berdzikir kita tetap tersambung dengan sang pencipta dimana kita tidak
selalu memikirkan kehidupan dunia. Berdzikir dapat dilakukan kapan saja dan
dimana saja kecuali tempat-tempat yang dilarang menyebut nama Allah dan
hukumnya sunnah, lebih-lebih setelah shalat 5 waktu kita sangat dianjurkan
untuk melanjutkan dengan berdzikir untuk kesempurnaan shalat kita.
DAFTAR PUSTAKA
Nawawi, Ismail, Risalah
Pembersih Jiwa, (Surabaya: Karya Agung Surabaya, 2008)
Khoirul, Ahmad, http://www.nu.or.id/post/read/11492/berdzikir-dengan-pengeras-suara
(diakses 20 Desember 2016)
Al-Makky, Abu Thalib, Ilmu
Hati; Teknik Efektif Mencapai Kesadaran Sejati, (Erlangga, 2002)
Rahmat, Jalaluddin, Tahap-Tahap
Perjalanan Ruhani Menuju Tuhan, (Mizan dan Muthahhari
Press Softcover, 2008)
[1] Ismail Nawawi, Risalah Pembersih Jiwa, (Surabaya: Karya
Agung Surabaya, 2008), hal. 244.
[2] Ibid.
[3] Ibid., h. 246.
[4] Ahmad Khoirul,
http://www.nu.or.id/post/read/11492/berdzikir-dengan-pengeras-suara (diakses 20
Desember 2016)
[5] Ismail Nawawi, Op. Cit,. h. 99.
[6] Ibid.
[7] Ibid,. h. 100.
[8] Abu Thalib
Al-Makky, Ilmu Hati; Teknik Efektif Mencapai Kesadaran Sejati,
(Erlangga, 2002), hal 18.
[9] Jalaluddin Rahmat, Tahap-Tahap Perjalanan Ruhani Menuju Tuhan,
(Mizan dan Muthahhari Press Softcover,
2008),
hal. 60.
[10] Ibid. hal. 70.
[11] Ibid.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar