Daki
dosa dan kerak kesalahan yang telah menghijab rongga dada bagaikan karat yang
menempel di dinding hati, sehingga menghalangi pancaran nur hidayah Allah
SWT. Serupa dengan hati orang kafir, yang tidak juga mau beriman, meski
tanda-tanda kebesaran Allah SWT setiap hari tampak di depan pelupuk
matanya. Sebab, hati itu telah diliputi awan gelap yang berlapis-lapis hingga
mereka tidak kuasa keluar dari dinding gelap yang melingkupinya.
Untuk
menjaga hal tersebut supaya tidak terjadi, maka setelah orang beriman mampu
membuka pintu imannya, sebelum memasuki pintu-pintu yang berikutnya, terlebih
dahulu hendaklah mereka mampu merontokkan hijab-hijab dan penyakit
ruhani yang menutupi hati.
Ketika
hati manusia telah bersih dari segala kotoran basyariyah, maka hati itu
bagaikan kaca yang siap menerima pantulan sinar matahari, selanjutnya tinggal
bagaimana kaca itu mengkondisikan diri guna dapat disinari sinar matahari yang
selalu menunggu dan siap memancarkan sinarnya dari titik kulminasi.
Ketika
seorang hamba melaksanakan mujahadah dan riyadlah di jalan Allah SWT, mereka
mengharapkan apa saja yang bisa diharapkan dari-Nya, baik urusan dunia maupun
urusan akhirat, maka pengharapan itu bagaikan pengharapan kaca terhadap sinar
matahari. Oleh karenanya, ketika pengharapan itu mampu dipancarkan dengan hati
bersih, bebas dari penyakit-penyakit basyariyah yang mengotori, maka sebesar
pengharapan tersebut dengan izin-Nya seorang hamba akan menerima pancaran sinar
yang sepadan dan bahkan lebih besar lagi.
Sumber
yang memancarkan energi kehidupan universal itu hakikatnya adalah Allah Yang
Maha Rahman dan Maha Rahim yang berkehendak membangkitkan kehidupan
di muka bumi bersama seluruh perangkat dan sarananya, seorang hamba tinggal
memilih mengharapkan kehidupan yang mana. Manakala mereka mengharapkan
kehidupan ilmu pengetahuan dan imannya, maka mereka akan mendapatkannya sesuai
dengan apa yang dituju dengan tanpa ada pengurangan sedikitpun dari-Nya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar