Senin, 09 Januari 2017

Biografi KH. Hasyim Asy’ari (Pendiri Nahdhatul Ulama)




Hasyim Asy’ari namanya. Lahir di Desa Gedang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur pada24 Dzulqaidah 1287 H, bertepatan dengan 10 April 1875 M. Ia merupakan anak ketiga dari sebelas bersaudara yang lahir dari pasangan Kyai Asy’ari dan Halimah. Menurut silsilah, Hasyim masih terhitung keturunan kedelapan Jaka Tingkir (Sultan Pajang). Sejak anak-anak, bakat kepemimpinan dan kecerdasan Hasyim sudah nampak. Saat usia 13 tahun, ia sudah membantu sang ayah mengajar santri-santri yang usianya jauh lebih tua.
Pada usia 15 tahun, Hasyim meninggalkan orangtuanya. Berkeliling dari pesantren satu ke pesantren lain untuk menambah wawasannya tentang agama Islam. Pesantren pertama yang disinggahinya adalah Pesantren Wonokoyo, Probolinggo. Lalu pindah ke Pesantren Langitan, Tuban. Lalu pindah lagi di Pesantren Trenggilis, Semarang. Merasa belum puas dengan ilmu yang didapat, Hasyim melanjutkan pengembaraan intelektual dan spiritualnya ke Pesantren Kademangan, Bangkalan. Belajar ilmu agama dan kehidupan di bawah bimbingan sang kyai legendaris, Kyai Cholil Bangkalan.
Hasyim Asyari juga belajar agama dari Kyai Ya’qub, pengasuh Pesantren Siwalan, Sidoarjo. Di bawah bimbingan Kyai Ya’kub inilah Hasyim merasa menemukan sumber Islam yang diinginkan. Hingga ia betah menempuh pendidikan agama di Siwalan selama lima tahun. Waktu yang tak sebentar itu rupanya membuat Kyai Ya’qub kesengsem dengan ketekunan, kecerdasan, dan sifat Hasyim yang alim. Sehingga pimpinan Pesantren Siwalan itupun menjodohkan Hasyim—yang saat itu baru berusia 21 tahun—dengan salah seorang anaknya yang bernama Chadidjah.
Tak lama setelah Hasyim menikah dengan Chadidjah, mereka pun berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Sayang, jalan yang harus dilalui pasangan pengantin muda itu tak semulus yang diharapkan. Tujuh bulan tinggal di Makkah, Hasyim kembali ke tanah air, setelah istri dan anaknya meninggal. Dalam kesedihan karena ditinggal orang-orang yang sangat dicintainya, Hasyim lantas menggunakan seluruh waktunya untuk mendalami ajaran Islam dan membaca ayat-ayat al-Quran.
Pada 1893, Hasyim kembali ke Makkah. Sejak saat itu, ia menetap di tanah 7 tahun. Belajar agama pada Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawy, Syaikh Mahfudh At-Tarmisi, Syaikh Ahmad Amin Al-Aththar, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh Said Yamani, Syaikh Rahmahullah, Syaikh Shaleh Bafadlal, Sayyid Abbas Al-Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As-Saqqaf, dan Sayyid Husein Al-Habsyi.
Pada l899, Hasyim pulang ke tanah air. Sebagai seorang alim yang tinggal di Makkah cukup lama, kemampuan Hasyim di bidang agama tidak diragukan. Ia pun diminta kakeknya, Kyai Usman, untuk membantu mengajar di pesantren miliknya. Hasyim dikenal tidak hanya sebagai seorang ulama dan guru ngaji. Tapi ia juga dikenal sebagai petani dan pedagang yang sukses. Tanahnya puluhan hektar. Setiap dua hari dalam seminggu, Hasyim memeriksa sawah-sawahnya. Kadang-kadang ia juga harus pergi ke Surabaya untuk berdagang kuda, besi dan menjual hasil pertaniannya. Dari hasil pertanian dan perdagangan itulah Hasyim mampu menghidupi keluarga dan pesantren yang dirintisnya.
Penghujung tahun 1899, Hasyim membeli sebidang tanah dari seorang dalang di Dukuh Tebuireng. Lokasinya sekitar 200 meter sebelah Barat Pabrik Gula Cukir. Sebuah pabrik gula milik penjajah yang sudah berdiri sejak tahun 1870. Di sebidang tanah yang dibelinya itu, Hasyim membangun rumah dari bambu sebagai tempat tinggal. Dari rumah sederhana di dekat Pabrik Gula yang penuh maksiat inilah, embrio Pesantren Tebuireng dimulai. Mula-mula Hasyim mengajar santri-santrinya di tratak bagian depan, sedangkan tratak bagian belakang dijadikan sebagai tempat tinggal. Pada saat dibuka, santrinya hanya 8 orang. Tapi tiga bulan kemudian, Hasyim sudah memiliki santri sebanyak 28 orang.
Pada 1902, disaat pesantren yang dirintisnya sudah mengalami perkembangan yang sangat menggembirakan, Hasyim kembali ditinggal mati istrinya. Selang beberapa bulan kemudian, Hasyim menikah dengan Nyai Nafiqoh, putri Kyai Ilyas—pengasuh Pesantren Sewulan, Madiun. Dari rahim Nyai Nafiqoh ini Hasyim dikaruniai sepuluh orang anak. Mereka adalah Hannah, Khoiriyah, Aisyah, Azzah, Abdul Wahid, Abdul Hakim (Abdul Kholik), Abdul Karim, Ubaidillah, Mashuroh, dan Muhammad Yusuf.
Setelah Nyai Nafiqoh wafat pada 1920-an, Hasyim menikah lagi dengan Nyai Masruroh, putri Kyai Hasan—pengasuh Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri. Dari rahim istri barunya ini Hasyim dikaruniai empat orang anak, yaitu Abdul Qodir, Fatimah, Khotijah, dan Muhammad Ya’kub.
Pada tanggal 16 Rajab 1344 H, bertepatan dengan 31 Januari 1926M, Hasyim—atas saran Kyai Cholil dan Kyai—mendirikan “Nahdhatul Ulama” yang artinya kebangkitan ulama. Hasyim dipercaya untuk menduduki posisi pimpinan utamanya
Sebagai seorang ulama yang sangat dekat dengan rakyat kecil, pengaruh Hasyim begitu kuat di lingkungannya. Tapi justru itu yang membuat pemerintah penjajah menaruh perhatian serius kepadanya. Baik penjajah Belanda maupun Jepang tak pernah kehilangan cara untuk merangkulnya agar bersedia membantu kepentingan penjajah. Pada masa penjajahan Belanda, Hasim pernah ditawari bintang jasa, tapi ia menolaknya. Pendudukan Dai Nippon menandai datangnya era baru bagi umat Islam. Jauh berbeda dengan Belanda yang represif terhadap umat Islam, Jepang justru memilih jalan untuk menggabungkan kebijakan represi dan kooptasi. Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk memperoleh dukungan dari pemimpin Muslim.
Salah satu perlakuan represif Jepang adalah penahanan terhadap Hasyim dan putra-putranya. Ini dilakukan karena Hasyim menolak melakukan seikerei, yaitu kewajiban berbaris dan membungkukkan badan ke arah Tokyo setiap pukul 07.00 pagi, sebagai simbol penghormatan kepada Kaisar Hirohito dan ketaatan kepada Dewa Matahari. Hal ini juga wajib dilakukan oleh seluruh warga pribumi, setiap kali berpapasan atau melintas di depan tentara Jepang. Hasyim menolak aturan itu. Sebab, sebagai Muslim, ia berkeyakinan bahwa hanya Allah yang wajib disembah, bukan manusia. Imbasnya, Hasyim ditangkap dan di masukkan ke tahanan secara berpindah-pindah tempat. Mulai dari Jombang, Mojokerto, dan akhirnya di Bubutan, Surabaya.
Pada 18 Agustus 1942—setelah empat bulan dipenjara—Hasyim dibebaskan karena banyaknya protes dari para kyai dan santri. Mereka yang berperan besar dalam upaya pembebasan Hasyim adalah Abdul Wahid dan Kyai Wahab Hasbullah yang berhasil menjalin hubungan diplomatis dengan pembesar-pembesar Dai Nippon, khususnya Saikoo Sikikan.
Pada 22 Oktober 1945, ketika NICA (Netherland Indian Civil Administration), pasukan bentukan Pemerintah Belanda membonceng pasukan Sekutu yang dipimpin Inggris berusaha melakukan agresi ke Jawa, khususnya Surabaya, dengan alasan mengurus tawanan Jepang, Hasyim bersama seluruh ulama menyerukan Resolusi Jihad melawan pasukan penjajah itu.
Resolusi Jihad itu sendiri ditandatangani di kantor Nahdhatul Ulama, Bubutan, Surabaya. Umat Islam yang mendengar Resolusi Jihad yang diserukan oleh Rais Akbar Nahdatul Ulama itu lantas keluar dari kampung-kampung dengan membawa senjata seadanya untuk melawan pasukan NICA dan Inggris. Imbasnya, meletuslah perang rakyat semesta dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya yang menyejarah itu. Peristiwa10 Nopember 1945 itu kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional.

SEDULUR PAPAT LIMA PANCER




Salah satu ritual yang populer di Jawa adalah persembahan kepada Sedulur Papat. Dalam tradisi Bali, ritual itu dikenal dengan nama Kanda Pat. Sedulur Papat bermakna Empat Saudara Kembar, yaitu: Kakang Kawah (air ketuban sebagai saudara tertua), Adi Ari-Ari (plasenta sebagai saudara termuda), Getih (darah), dan Puser (tali plasenta/pusar). Yang kelima sebagai Pancer adalah Sang Diri (Ingsun). Kakang Kawah disebut sebagai saudara tertua karena ia keluar lebih dahulu saat jabang bayi dilahirkan ke alam dunia. Adi Ari-Ari disebut sebagai saudara termuda karena ia keluar belakangan. Ini yang menjadi alasan leluhur Jawa mengubur ari-ari secara terhormat dan memperlakukannya layaknya manusia.
Lebih jauh lagi, salah satu tafsir menyatakan Sedulur Papat Lima Pancer terkait dengan lima elemen yang terdiri dari empat elemen pendukung dan satu elemen sebagai titik pusatnya. Empat elemen itu adalah: Tanah, Air, Api, dan Angin. Elemen kelima sebagai Pancer adalah Ruang (Akasha). Elemen Tanah, Air, Api, dan Angin selalu bergerak sesuai keadaan, namun semuanya berada dalam ruang kesadaran kita. Kesadaran itu melandasi dan mencakup segalanya. Orang yang tidak berkesadaran adalah orang yang senantiasa memberontak, tidak mau tahu keadaan, dan memperlakukan alam dengan seenaknya. Mereka lupa bahwa keberadaan kita juga didukung oleh elemen-elemen di alam semesta yang berada di sekitar kita.
Dalam tradisi Jawa dikenal Slametan dengan mempersembahan bubur lima warna kepada Sedulur Papat. Itu dimaksudkan agar Sedulur Papat mendukung dan melindungi Sang Pancer menjalani hidupnya. Bubur lima warna meliputi warna hitam, putih, merah, kuning, dan merah diberi titik putih. Yang terakhir adalah lambang Pancer: merah adalah sel telur ibu dan putih adalah sel sperma ayah.
Jika kita memahami bahwa Slametan adalah ritual untuk menjaga keselarasan diri kita dengan alam semesta, maka “slamet” dalam arti sebenarnya adalah ketika batin kita tenteram. Ritual Slamaten adalah sarana kontemplasi agar batin kita senantiasa selaras dengan alam semesta.
Leluhur Jawa memperlakukan Sedulur Papat sebagai makhluk tak kasatmata tidak bermakna bahwa empat elemen itu—yang mendukung keberadaan manusia—setara dengan diri manusia. Ritual-ritual leluhur Jawa terkait Sedulur Papat bertujuan agar kita senantiasa eling (sadar) bahwa kita tak mungkin eksis tanpa empat elemen alam semesta. Oleh karenanya, kita mesti memperlakukan pendukung-pendukung keberadaan kita tersebut dengan layak. Manusia adalah Jagat Alit (Mikrokosmos), alam semesta adalah Jagat Ageng (Makrokosmos). Apa yang ada di alam semesta sesungguhnya terkandung dalam diri kita selaku Jagat Alit. Sikap apa pun yang kita lakukan pada alam semesta akan berpengaruh pada diri kita sendiri. Jika kita memperlakukan alam dengan buruk, dampak buruknya akan kembali ke diri kita sendiri. Jika kita memperlakukan alam dengan baik, maka dampak baiknya akan kembali ke diri kita sendiri

Sabtu, 07 Januari 2017

MAHASISWA STAINU JAKARTA MENGISI LIBURAN DENGAN BERZIARAH




MAHASISWA STAINU JAKARTA MENGISI  LIBURAN DENGAN BERZIARAH
Jakarta,
Sejumlah mahasiswa STAINU JAKARTA  mengadakan kunjungan ke salah satu makam habib yang ada di Luar Batang, Penjaringan Jakarta Utara. Tepatnya makam habib Husein Bin Abu Bakar Alydrus. Kegiatan tersebut berlangsung pada hari sabtu, dalam rangka mengisi libur akhir tahun (31/12).
“sebagai mahasiswa STAINU yang berada di bawah naungan NU yang bermanhaj pada Aswaja, yang mengjaga tradisi. Salah satunya adalah tradisi ziarah ke makam para tokoh penyebar islam di Indonesia.” Papar ketua panitia rombongan ziarah M. Abdul Aziz (31/12).
Mereka kali pertamanya mengadakan kegiatan tersebut. Yang diadakan oleh semester satu. Dan kegiatan tersebut direncanakan akan di jadikan kegiatan rutin setiap akhir semester atau pada waktu peringatan hari besar Islam. Guna untuk menjaga tradisi dan menggali sejarah islam di Jakarta.
Egi Wahyudi sebagai pemimpin pembacaan surat yasin dan tahlin, di akhir acara menambahkan tausyah bahwa ziarah kegiatan yang di lakukan untuk mengingat mati dan mengingat kebaikan yang di ziarahi untuk menjadi teladan bagi kita semua.
“Ziarah sarana untuk menyambung ilmu kepada para guru dan para waliyullah melalui wasilah berziarah, terang Egi wahyudi saat kami wawancara. (Irgi nf)

Rabu, 28 Desember 2016

kiat memilih teman





PERSAHABATAN, pertemanan dan pergaulan memiliki pengaruh yang sangat kuat untuk membuat seseorang menjadi baik maupun buruk. Persahabatan dan pergaulan dengan orang-orang yang saleh dan berbudi membawa manfaat, sedangkan persahabatan dan pertemanan dengan orang-orang yang fasik dan durhaka membawa bahaya. Hanya saja manfaat persahabatan dengan orang saleh atau bahaya pergaulan dengan pendurhaka tersebut terkadang tidak tampak secara langsung, akan tetapi secara bertahap dan setelah berlangsung lama.
Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Seseorang akan bersama teman duduknya, seseorang itu akan mengikuti agama sahabatnya, oleh karena itu setiap orang dari kalian hendaknya memperhatikan siapa yang ia jadikan sebagai teman.” (HR Tirmidzî, Abû Dâwûd dan Ahmad)
“Permisalan teman duduk yang baik adalah seperti penjual parfum misk (parfum yang paling mahal dan harum). Bisa jadi dia memberimu, atau engkau membeli parfumnya, atau engkau mencium keharuman parfumnya. Sedangkan permisalan teman duduk yang buruk adalah seperti pandai besi. Bisa jadi dia membakar pakaianmu, atau engkau akan mencium aroma busuk darinya.” (HR Bukhârî dan Muslim dengan matan sedikit berbeda)
Barang siapa ingin mengetahui bagaimana pengaruh pergaulan dengan temannya tersebut, apakah ia memperkuat iman, kesadaran beragama dan amalnya, atau justru sebaliknya, maka hendaknya dia bandingkan keadaannya setelah bergaul dengan orang itu dengan keadaannya sebelum bergaul dengannya.
Jika setelah bergaul dengannya ternyata sendi-sendi iman, akhlak, niat-niat baik untuk beramal salehnya semakin kuat dan kokoh, sedangkan keburukan dan kejahatannya semakin kecil, maka pergaulan dan persahabatannya itu bermanfaat bagi agama dan hatinya. Jika persahabatan dan pergaulan tersebut ia lanjutkan, maka insyâ Allâhia akan memperoleh manfaat yang sangat besar dan kebaikan yang sangat banyak.
Jika setelah bergaul dengannya ternyata sendi-sendi keagamaannya menjadi semakin lemah dan menurun, sedangkan kejahatan dan keburukannya semakin banyak, maka pergaulan tersebut telah membahayakan agama dan hatinya secara nyata. Jika pergaulan tersebut ia lanjutkan, maka akan membawa keburukan dan bahaya besar baginya, semoga Allâh melindungi kita darinya.
Timbanglah semua pergaulan dengan apa yang telah kami sebutkan di atas. Dan perlu diketahui, ketentuan di atas berlaku sesuai dengan mana yang lebih kuat.
Artinya, selama kebaikan lebih kuat, maka diharapkan pergaulan tersebut mampu menarik orang-orang jahat untuk menjadi baik. Dan selama keburukan lebih kuat, maka dikhawatirkan orang baik yang bergaul dengan pendurhaka tersebut akan mengikutinya dan menjadi buruk.
Permasalahan ini sangat pelik, orang-orang yang memiliki mata hati yang jernih akan memahaminya. Diperlukan waktu yang banyak untuk membahasnya secara terperinci. Sedangkan Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Teman duduk yang baik lebih utama daripada menyendiri, dan menyendiri lebih baik daripada bergaul dengan teman yang buruk.”
(Ucapan Rasul saw yang singkat ini sarat dengan makna) Rasûlullâh saw telah dikaruniai Allâh kalimat-kalimat ringkas yang penuh makna yang tidak diperoleh orang-orang terdahulu dan yang akan datang kemudian.

Hikmah Penciptaan Bumi




Oleh: Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi
Allah telah menciptakan bumi dalam wujud yang paling baik dan paling mudah untuk dikelola. Dia tidak menjadikannya sangat keras sehingga melukai orang yang duduk atau berbaring diatasnya; sehingga sulit dimanfaatkan untuk pertanian atau perkebunan; sehingga sulit digali untuk liang kubur bagi yang meninggal dunia, dll.
Allah juga tidak menjadikan bumi sangat lembut sehingga tidak ada sesuatu pun yang dapat diletakkan dengan kokoh di atasnya, misalnya: rumah, dan berbagai barang berat lainnya. Bumi yang terlalu lembut membuat kaki terasa berat untuk dilangkahkan di atasnya. Jika seluruh permukaan bumi sangat keras atau sangat lunak, maka akan sulit dimanfaatkan oleh manusia.
Oleh karena itu, Allah menjadikan bumi bersifat tengah-tengah, tidak keras dan tidak terlalu lembut, ada yang tinggi, ada yang landai, ada pula yang berlembah. Ada yang cocok untuk suatu jenis tanaman tertentu, ada yang cocok untuk jenis tanaman yang lain. Demikianlah bumi itu diciptakan agar manusia dapat memanfaatkannya dengan sempurna.
Bumi ini bak seorang ibu yang sangat kasih dan sayang kepada anaknya. Ia menyediakan makanan, minuman, pakaian, bahkan tempat berteduh. Dan, memang sebenarnyalah bumi adalah ibu kita, karena darinyalah manusia diciptakan.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dari bumi (tanah) itulah Kami menciptakan kamu.” (QS Thaha 20:55)
Bumi adalah kasur dan hamparan bagi yang masih hidup maupun telah meninggal dunia. Ia adalah tempat sujud bagi yang salat dan penyuci bagi yang ingin mengangkat hadas. Sesungguhnya manfaat bumi masih banyak dan tak terhitung jumlahnya.
(Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi, ‘Iqdul Yawâqîtul Jauhariyyah, Putera Riyadi)

Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern

  Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern Pendahuluan Ketika arus modernisasi menghujani dunia Islam, proses modern...