Rabu, 28 Desember 2016

MAKALAH Dzikir dan Keutamaannya



MAKALAH
Dzikir dan Keutamaannya
Dosen pengampu : Abdul Qodir






 









DISUSUN OLEH : Irgi Nur Fadil




SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDATUL ULAMA
(STAINU) JAKARTA
2016







KATA PENGANTAR

            Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
            Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
            Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini. Semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi penulis dan umumnya pembaca.





Jakarta, 20 Desember 2016


                                                                                                          Penulis









DAFTAR ISI

Kata Pengantar  ..............................................................................................
Daftar Isi   ........................................................................................................
BAB I
Pendahuluan
      A. Latar Belakang   ..................................................................................
      B. Rumusan Masalah  ..............................................................................
BAB II
      A. Pengertian Dzikir..................................................................................
      B. Hukum Dzikir.......................................................................................
     C. Pendapat Ulama ...................................................................................
      D. Keutamaan Dzikir ……………………………………………………
BAB III
 Penutup
     A. Kesimpulan  ........................................................................................
    Daftar  Pustaka …………………………………………………………..














BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
       Peranan dzikir dalam kehidupan umat Islam sangat penting. Berdzikir dan berdo’a dimaksudkan sebagai sarana berkomunikasi dengan Allah SWT. Berdzikir tidaklah sekedar melafalkan wirid-wirid, demikian juga dengan berdo’a tidaklah sekedar mengaminkan do’a yang dibaca oleh imam. Karena esensi dzikir dan do’a adalah menghayati apa yang kita ucapkan dan apa yang kita hajati.
       Berdzikir  ialah segala ucapan yang disukai kita banyak membacanya untuk mengingat dan mengenang Allah SWT. Karena manusia hidup di dunia tidak lepas dari campur tangan Allah, dimana manusia itu sangat tergantung kepada Allah dan tidak mungkin bisa berbuat apa – apa tanpa mendapatkan izin dan Ridho-Nya, maka sangat penting kita mempunyai kendaraan yang bisa mengantarkan menghadap langsung kepada Allah, kendaraan itu adalah shalat, dzikir kepada Allah dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah.

B. Rumusan Masalah
a. Apa yang di maksud dzikir ?
b. Apa hukum nya bedzikir kepada allah ?
c. Bagaimana pendapat ulama tentang bedzikir ?
            d. Apa saja keutamaan berdzikir ?











BAB II
DZIKIR DAN FUNGSI DZIKIR

A. Pengertian Dzikir
       Dzikir secara bahasa berasal dari kata : ( Dzakaro-yadzkuru-dzikron ) Artinya : Menyebut,mengucapkan mengagungkan,mengingat-ingat, sedangkan
dzikir secara istilah adalah membasahi lidah dengan ucapan-ucapan pujian kepada
Allah.[1]
       Secara etimologi dzikir memiliki arti menyebut, mengingat, atau berdo’a. dzikir di definisikan  dengan menyebut atau mengingat Allah dengan lisan melalui kalimat-kalimat thayyibah.[2]
       Dzikir merupakan ibadah hati dan lisan yang tidak mengenal batasan
waktu. Bahkan Allah menyifati ulil albab, adalah mereka-mereka yang senantiasa
menyebut Rabbnya, baik dalam keadaan berdiri, duduk bahkan juga berbaring.
Oleh karenanya dzikir bukan hanya ibadah yang bersifat lisaniyah, namun juga
qalbiyah. Imam Nawawi menyatakan bahwa yang afdhal adalah dilakukan
bersamaan di lisan dan di hati. jika harus salah satunya, maka dzikir hatilah yang
lebih di utama. Meskipun demikian, menghadirkan maknanya dalam hati, memahami maksudnya merupakan suatu hal yang harus diupayakan dalam dzikir.[3]
       Dzikir adalah perintah Allah SWT yang harus kita laksanakan setiap saat, dimanapun dan kapanpun. Allah selalu mendengar apapun yang kita ucapkan oleh mulut atau hati kita. Dzikir merupakan salah satu sarana komunikasi antara makhluk dengan khaliqnya. Dengan berdzikir seseorang dapat meraih ketenangan, karena pada saat berdzikir ia telah menemukan tempat berlindung dan kepasrahan total kepada Allah SWT. Dzikir harus dilaksanakan dengan sepenuh hati, jiwa yang tulus, dan hati yang khusyu' penuh khidmat. Untuk bisa berdzikir dengan hati yang khusyu' itu diperlukan perjuangan yang tidak ringan, masing-masing orang memiliki cara tersendiri. Bisa jadi satu orang lebih khusyu' kalau berdzikir dengan cara duduk menghadap kiblat, sementara yang lain akan lebih khusyu' dan khidmat jika wirid dzikir dengan cara berdiri atau berjalan, ada pula dengan cara mengeraskan dzikir atau dengan cara dzikir pelan dan hampir tidak bersuara untuk mendatangkan konsentrasi dan ke-khusyu'-an. Maka cara dzikir yang lebih utama adalah melakukan dzikir pada suasana dan cara yang dapat medatangkan ke-khusyu’an.[4]

B. Hukum Berdzikir
       Di dalam al-Qur’an kata dzikir disebut sebanyak 267 kali dengan berbagai
bentuk kata. Diantaranya bermakna mengingat Allah dalam arti menghadirkan
dalam hati.
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي

Artinya: ‘’Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka   sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku.’’ (QS. Thaaha ayat 14).
Ayat lain menyebutkan bahwa orang-orang yang berdzikir akan
mendapatkan ketentraman dalam hati seperti dalam al-Qur’an surat ar- Ra’d ayat
28:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: ‘’ (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan           mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.’’        
       Kata tenang dalam ayat diatas bukan tidak memiliki arti apa-apa, namun
kata tenang tersebut memiliki dimensi yang sangat luas, yaitu mencakupkebahagiaan dunia dan akhirat, kebahagiaan sempurna yang di inginkan setiapmanusia. Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik, berdzikir dan yangmenginfakkan hartanya.
      




       Allah memuji orang yang selalu berdzikir dalam setiap keadaan. Bahkan
ketika kita mencari anugerah Allah, bekerja mencari nafkah. al-Qur’an
menyebutkan:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: ‘’Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.’’ (QS. Ali Imran: 191).

       Perintah Allah agar berdzikir sebanyak-banyaknya termaktub dalam al-
Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 41:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

Artinya: ‘’Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (Qs al-Ahzab, 41).21
Allah juga menjanjikan ampunan dan surga bagi orang-orang yang membiasakan berdzikir. Dalam al-Qur’an disebutkan:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

       Artinya: ‘’Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki- laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab, 35).
      Dalam surat An-Nisa di jelaskan bahwa setelah selai sholat di anjurkan untuk berdzikir kepada Allah SWT, dalam keadaan berdiri, berbaring maupun duduk.

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۚ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
Artinya: ‘’Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalatmu, ingatlah Allah diwaktu berdiri, diwaktu duduk dan waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu. Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.’’ (QS. An-Nisa’ Ayat 103).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dan Abu Said al-Khudri, mereka bersaksi bahwa:
وَعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ وَأَبِيْ سَعِيْدِ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنَّهُ قَالَ لاَ يَقعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهِ فِيْمَنْ عِنْدَهُ (رواه مسلم)

"Rasulullah Saw bersabda: Tidak ada sekelompok kaum pun yang berdzikir kepada Allah, kecuali malaikat akan mengelilingi mereka, rahmat akan menyelimuti mereka, ketenangan akan datang pada mereka,  dan Allah akan menyebutnya di dalam orang-orang dekatnya" (HR Muslim No 6954, Ahmad No 9771 dan 11307, al-Turmudzi No 3378 dan Ibnu Majah No 3791)

















C. Menurut Pendapat Para Ulama
       Hati manusia itu tak ubahnya seperti kolam yang didalamnya mengalir bermacam-macam air. Dzikir kepada Allah adalah sebuah hiasan bagi kaum sufi yang merupakan syarat utama bagi orang yang menempuh jalan Allah. Dzikir dapat menembus alam malakut, yakni dengan datangnya malaikat. Dzikir merupakan pembuka alam gaib, penarik kebaikan dan bermanfaat untuk membersihkan hati.[5]
       Imam Athaillah Al-Iskandary mengatakan bahwa dzikir menurut ajaran tarekat harus dilakukan menurut penglihatan hati atau batin dan timbul dari pemikiran yang paling dalam. Dan selanjutnya dikatakan tidak akan terjadi dzikir kecuali timbul dari pemikiran dan penglihatan batin.[6]
       Pendapat lain juga diungkapkan oleh Ibn Qadamah mengatakan bahwa tidak ada ibadah yang lebih utama bagi lidah setelah membaca al-Qur’an selain dari dzikrullah atau mengingat Allah dengan dzikir dan menyampaikan segala kebutuhan melalui doa yang tulus kepada Allah.[7]
       Dzikir bisa diklasifikasikan berdasarkan pada apa yang kita baca. dzikir dapat dikelompokkan menjadi dzikir yang berisi pujian kepada Allah SWT., misalnya, Subhanallah (maha suci Allah), alhamdulillah (segala puji bagi Allah), laa ilaaha illallah (tiada tuhan selain
Allah), tetapi ada juga dzikir yang berisi doa kepada Allah. Serta ada juga dzikir yang berisi percakapan kita dengan Allah. Dalam dzikir tersebut hanya terdapat ungkapan perasaan kita kepada Allah. Dzikir seperti itu disebut munajat, dan munajat biasanya dilakukan oleh seseorang yang telah mencapai maqam tertentu. Seseorang tidak akan berdzikir kepada Allah sehingga Allah menggerakkan tali kendali hatinya. Oleh karena itu, jika kamu tahu bahwa dzikirmu merupakan pertanda ingatnya Allah kepadamu, maka perbanyaklah dzikirmu kepada Allah.[8]
       Dzikir merupakan salah satu jalan seseorang menuju tasawuf. Jalaluddin Rahmat menyebutkan bahwa perjalanan tasawuf dilakukan atau dimulai dari pembersihan diri dari prilaku yang tercela. Pembersihan diri tersebut dalam tasawuf disebut sebagai praktik takhliyyah, yang artinya mengosongkan, membersihkan atau menyucikan diri. Seperti halnya seseorang yang ingin mengisi sebuah botol dengan air mineral yang bermanfaat, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah mengosongkan isi botol tersebut terlebih dahulu. Karena akan sia-sia jika memasukkan air bersih kedalam botol sementara botol tersebut dalam keadaan kotor. Salah satu cara seseorang membersihkan atau menyucikan diri adalah dengan berdzikir.[9]
       Jalaluddin Rahmat menceritakan sebuah cerita tentang dzikir. “Suatu ketika, Imam Ghazali ditanya oleh seseorang, ” katanya setan dapat tersingkir oleh dzikir kita, tapi mengapa saya selalu berdzikir, tetapi setan tidak pernah terusir? ”
Imam Ghazali menjawab, “ setan itu seperti anjing, jika kita hardik anjing itu akan menyingkir. Tapi jika disekitar kita masih terdapat makanan anjing, maka anjing tersebut akan datang kembali. Bahkan mungkin anjing tu akan mengincar diri kita, dan ketika kita lengah, ia menghampiri kita. begitu pula halnya dengan dzikir,
dzikir tidak akan bermanfaat jika di dalam hati kita masih disediakan makanan-makanan setan, setan tidak akan takut digebrak dengan dzikir manapun. Pada kenyataannya, bukan setan yang menggoda kita, melainkan kita yang menggoda setan dengan berbagai penyakit hati yang kita derita.”
Dari kisah diatas, dapat disimpulkan bahwa dzikir harus di mulai dengan
pembersihan hati kita dari berbagai macam penyakit hati, seperti iri hati, dengki,
egoisme dan perbuatan-perbuatan yang sifatnya tercela.[10]











D. Keutamaan Dzikir
Keutamaan-keutamaan bagi orang yang berdzikir kepada Allah SWT
Antara lain:
·           Dzikir sebagai penenang hati
·           Dzikir sebagai pengangkat derajat manusia
·           Dzikir sebagai pembaru iman
·           Dzikir sebagai sarana masuk surga
·           Dzikir sebagai sarana memperoleh Syafaat Rasulullah SAW
·         Mengusir, mengalahkan dan menghancurkan setan
·         Menghilangkan rasa susah dan kegelisahan hati
·         Membuat hati menjadi senang, gembira dan tenang.
·         Dapat menghapus dan menghilangkan dosa-dosa.
·         Dapat menyelamatkan seseorang dari kepayahan di hari kiamat
·         Dzikir merupakan tanaman di surga.[11]























BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
      
       Berdzikir merupakan tindakan yang terpuji dimana kita mengingat Allah memalui pujian-pujian kepada Allah Swt. Berdzikir kepada Allah Swt sangat dianjurkan karena selain mengingat Allah dan mendapat pahala keutamaannya sangat banyak bagi orang yang selalu berdzikir kepada Allah Swt. Dengan berdzikir kita tetap tersambung dengan sang pencipta dimana kita tidak selalu memikirkan kehidupan dunia. Berdzikir dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja kecuali tempat-tempat yang dilarang menyebut nama Allah dan hukumnya sunnah, lebih-lebih setelah shalat 5 waktu kita sangat dianjurkan untuk melanjutkan dengan berdzikir untuk kesempurnaan shalat kita.





























DAFTAR PUSTAKA

Nawawi, Ismail, Risalah Pembersih Jiwa, (Surabaya: Karya Agung Surabaya, 2008)
Khoirul, Ahmad, http://www.nu.or.id/post/read/11492/berdzikir-dengan-pengeras-suara           (diakses 20 Desember 2016)
Al-Makky, Abu Thalib, Ilmu Hati; Teknik Efektif Mencapai Kesadaran Sejati, (Erlangga,          2002)
Rahmat, Jalaluddin, Tahap-Tahap Perjalanan Ruhani Menuju Tuhan, (Mizan dan         Muthahhari Press Softcover, 2008)



[1] Ismail Nawawi, Risalah Pembersih Jiwa, (Surabaya: Karya Agung Surabaya, 2008), hal. 244.
[2] Ibid.
[3] Ibid., h. 246.
[4] Ahmad Khoirul, http://www.nu.or.id/post/read/11492/berdzikir-dengan-pengeras-suara (diakses 20 Desember 2016)

[5] Ismail Nawawi, Op. Cit,. h. 99.
[6] Ibid.
[7] Ibid,. h. 100.
[8] Abu Thalib Al-Makky, Ilmu Hati; Teknik Efektif Mencapai Kesadaran Sejati, (Erlangga, 2002), hal 18.
[9] Jalaluddin Rahmat, Tahap-Tahap Perjalanan Ruhani Menuju Tuhan, (Mizan dan Muthahhari Press Softcover,
2008), hal. 60.
[10] Ibid. hal. 70.
[11] Ibid.

Makalah : Mengenal Allah SWT dan Mengenal Manusia




 MAKALAH

ILMU ALAMIAH DASAR
Mengenal Allah SWT dan Mengenal Manusia
                                                       
Dosen pengampu : Sugeng Priyatno, S.E., M.E.I





 












DISUSUN OLEH :

Irgi Nur Fadil







SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDATUL ULAMA
(STAINU) JAKARTA
2016
KATA PENGANTAR



Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
         Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang yang mana atas rahmat dan kasih sayangnya penulis dapat menyelesaikan makalah ILMU ALAMIAH DASAR yang berjudul ‘ Mengenal Allah SWT dan Mengenal Manusia ‘’  Berdasarkan materi yang di peroleh penulis.

        Penulis mengucapkan terima kasih kepada;

1.  Bapak  Sugeng Priyono, S.E.,M.E.I  selaku dosen pengampu mata kuliah ILMU ALAMIAH DASAR, SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDLATUL ULAMA ( STAINU ) Jakarta.
2. Rekan-rekan yang selalu membantu memberi masukan dalam penyusunan ini;

       Akhir kata, kami sampaikan bahwa tiada makalah yang sempurna tanpa uluran tangan pemerhatinya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sangat penulis harapkan demi perbaikan yang akan datang. Semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi penulis dan umumnya pembaca.



                                                                                    





Jakarta, 14 November 2016


                                                                                                                Penulis










DAFTAR ISI

Kata Pengantar  ..............................................................................................
Daftar Isi   ........................................................................................................
BAB I
Pendahuluan
      A. Latar Belakang   ..................................................................................
      B. Rumusan Masalah  ..............................................................................
      C. Tujuan   ................................................................................................
BAB II
      A. Mengenal Allah SWT  ........................................................................
      B. Mengenal Manusia  ............................................................................
     C. Mengenal Ciptaan Lain nya ..............................................................
BAB III
 Penutup
     A. Kesimpulan  ........................................................................................
      B. Saran ...................................................................................................























BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
           Manusia adalah mahluk yang diberi akal yang sempurna, tatkala akal membawa kepada sesuatu yang diinginkan. Tetapi alangkah baiknya digunakan kepada sesuatu yang akan memberikan mamfaat. salah satunya untuk meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT. Manusia akan hidup lurus apabila dia mampu menggunakan akal nya untuk mengetahui siapa dirinya. Yang akhirnya akan sampai kepada zat yang menciptakannya yaitu Allah SWT. Inilah yang menjadi persoalan bahwa manusia kebanyakan lupa kepada dzat yang menciptakannya yaitu Allah SWT.
            Ada sebagian ulama yang mengatakan : “Duduk di sisi orang yang mengenali Allah akan mengajak kita kepada enam hal dan berpaling dari enam hal, yaitu : dari ragu menjadi yakin, dari riya menjadi ikhlash, dari ghaflah (lalai) menjadi ingat, dari cinta dunia menjadi cinta akhirat, dari sombong menjadi tawadhu’ (randah hati), dari buruk hati menjadi nasehat”
Maka dekatilah para  ulama agar kita mudah untuk menemukan jati diri kita dan mudah untuk mengenal Allah SWT.
B. Rumusan Masalah
            Permasalahan yang ada dalam makalah ini :
  1. Bagaimana Mengenal Allah SWT ?
  2. Bagaimana Mengenal Manusia ?
  3. Bagaimana Mengenal Ciptaan-Nya ?

C. Tujuan Penulisan
1. Menjelaskan cara mengenal Allah dan kekuasaan-Nya
2. Menjelaskan hakikat tugas manusia
3. Menjelaskan mengenali ciptaan Allah yang maha pencipta



BAB II
PEMBAHASAN

A. Mengenal Allah
        
             Mengenal Allah juga bisa disebut juga dengan Ma’rifatullah yaitu berasal dari kata ma’rifah dan Allah. Ma’rifah berarti mengetahui, mengenal. Mengenal Allah bukan melalui zat Allah tetapi mengenal-Nya lewat tanda-tanda kebesaranNya (ayat-ayatNya). Mengenal Allah merupakan tahapan penting perjalanan diri Manusia. Salah satu Hadis yang terkenal dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. adalah "Man 'Arofa nafsahu, Faqod Arofa Robbahu" Artinya "Barang siapa mengenal dirinya maka, ia akan mengenal Tuhannnya". Makna dari hadis ini, bersesuaian dengan ungkapan dalam Al-Qur'an "Wallaahu bi kulli Syai'in 'Aliima" Artinya "dan Allah mengetahui segala sesuatu". dari dua pernyataan ini, bisa kita pahami bahwa:
1. Manusia Hidup di dunia ini harus memiliki panduan kehidupan agar dirinya tidak mengalami kebingungan.
2. Panduan kehidupan yang harus dicari oleh manusia, terdapat dalam dirinya sendiri.
3. Panduan yang dimaksud dalam poin kedua adalah panduan fitrah dan Suara Hati manusia
4. Jika manusia mau mengerti dan memahami segala apa yang ada dalam dirinya adalah pemberian sang Maha Kuasa maka, seharusnya manusia harus berterima kasih pada sang pemberi itu (Allah SWT)
5. Membuktikan kebenaran ilmu dan pemahaman yang dimiliki tentang sang Pencipta agar manusia tidak merasa ragu dan bingung dalam memahami kehidupan.

 “AWALUDDIN MA’RIFATULLAH”

Artinya : Awal Agama mengenal Allah.
Sebelum mengenal Allah terlebih dahulu kita diwajibkan mengenal diri, setelah mengenal diri, terkenallah kepada Allah, bilamana sudah mengenal Allah, Fanalah diri kita atau tidak ada mempunyai diri lagi, pada hakikatnya hanya Allah.

Selanjutnya terlebih dahulu kita mengenal diri, bilamana tidak mengenal asalnya kejadian diri, maka tidaklah sempurna Ilmu yang kita pelajari. Seperti kata Abdullah Ibnu Abbas RA :
Ya Rasulullah, apakah yang pertama dijadikan Allah ?

Nabi SAW bersabda : “INNALLAHA KHALAKA KABLAL ASY YAA INNUR NABIYIKA MINNUIHI” artinya “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menjadikan terlebih dahulu ialah Nur Nabi Muhammad SAW yang dijadikan dari pada Zat Allah”.

Dikutip dari Kitab Kimyatusy Sya’adah – Al Ghazali
Mengenal diri itu adalah Anak Kunci  untuk Mengenal Alloh.  
sebagaimana sabda Nabi SAW ;

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ وَمَنْ عَرَفَ رَبَّهُ فَسَدَ جَسَدَهُ

Artinya: “Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya, dan barangsiapa yang mengenal Tuhannya maka binasalah (fana) dirinya.

Jika tidak kenal diri sendiri, bagaimana hendak tahu hal-hal yang lain. Yang di maksud  Mengenal Diri itu bukanlah mengenal bentuk lahir , tubuh, muka, kaki, tangan dan lain-lain. karena mengenal semua hal itu tidak akan membawa kita mengenal Alloh.  Dan bukan pula mengenal perilaku dalam diri yaitu bila lapar makan, bila dahaga minum, bila marah memukul dan sebagainya. 
Yang di maksud sebenarnya mengenal diri itu ialah:

Kita mengenali tentang apa yang diciptakan oleh Allah terlebih dahulu. Dari mengenali ciptaanNya itulah, lantas kita mengenali siapa yang menciptakannya. disitulah kita akan melihat kebesaran-kebesaran Allah SWT yang ditunjukkan kepada kita semua.
Setelah kita sudah mengenalnya, lalu kita tingkatkan lagi apa kewajiban kita sebagai seorang hamba sebagaimana seharusnya perilaku seorang hamba yang telah mengenal kepada Tuhannya, Setelah itu kita tingkatkan lagi ke atas. Kita ini sejatinya diundang oleh waktu. Maka kita harus menghormati waktu.
Begitu tingkat kesadarannya sudah tinggi, maka kalau waktu shalat sudah datang kenapa kita mesti menunda waktu untuk bergegas melakukannya. Seharusnya kita kan justru bersiap-siap untuk menunggu datangnya waktu tersebut, menghormat panggilan Allah SWT untuk shalat.
Setiap kali berkumandang adzan, itu merupakan panggilan yang telah memperingatkan kita. Sehingga ketika terdengar suara adzan, kita merasa senang dan gembira, lantas bersiap-siap untuk hormat akan datangnya panggilan Allah tersebut.

B. Mengenal Manusia

           Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang terdiri dari ruh dan tanah yang dilengkapi dengan potensi hati, akal dan jasad serta dimuliakan dengan tugas ibadah dan khalifah dimuka bumi. Di antara makhluk ciptaan Allah yang sekian banyak jumlahnya.
Manusia adalah makhluk yang terbebani dengan tugas yang amat berat, dimana tak satupun makhluk lain mendapatkan beban seberat itu.
Akibat amanah yang di embannya, logis jika manusia akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allah. Satu persatu perbuatannya akan dihisab, bagaimana pelaksanaan misi ibadah dan kekhilafahan itu ditegakkan. Untuk misi itu pulalah , maka manusia dilengkapi dengan indera yang memungkinkan ia melaksanakan tugas-tugas dengan sempurna.





Keistimewaan Manusia
Manusia diberi kelebihan atas makhluk Allah yang lain ,dalam berbagai segi. Ia memiliki karakter yang khusus dengan karunia Allah agar mampu mengemban amanah yang dibebankan kepadanya didunia. Kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lain adalah:

1. Dalam segi Penciptaan

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang dinyatakan Allah sebagai sebaik-baik penciptaan (Ahsanuttaqwim) sebagaimana firman-Nya :

لقد خلقنا الإنسان في أحسن تقويم
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalm bentuk sebaik-baiknya … ( At Tiin : 4)
Kita dapat membandingkan setiap organ tubuh manusia dengan makhluk lain, tentu lebih sempurna. Perhatikan organ dalam manusia seperti jantung, ginjal, paru-paru, semuanya memiliki peran yang lebih sempurna dibandingkan dengan binatang jenis apapun. Termasuk organ tubuh lainnya seperti tangan, kaki, mata, telinga dan lain sebagainya semua serba lebih sempurna .

2. Dalam segi Ilmu

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang dapat menyerap ilmu dan sekaligus mengembangkannya. Hal ini tak mungkin terjadi pada makhluk lain.
Allah yang Maha Berilmu telah menetapkan dan mengajarkan ilmu-ilmu kepada manusia, sebagaimana firman-Nya :
‘’ Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya “
(Al Baqarah :31)

Dalam ayat lain Allah berfirman :
“Dia mengajarkan kepada manusia apa-apa yang belum diketahuinya”
(Al ‘Alaq : 5).

3. Dalam segi Kehendak

Manusia adalah makhluk yang bebas berhendak. Ia dapat memilih jalan yang baik, dapat pula memilih jalan yang sesat. Sekedar ilmu, belum tentu bias mengarahkan orang kepada kebaikkan . yang bias menjadi baik hanya karena ilmunya, tanpa dibarengi kehendak yang kuat untuk menjadikan dirinya baik.
Allah berfirman:
“Sesunggunya Kami telah menunjukkannya (manusia ) jalan yang lurus, ada yang bersyukur ada pula yang kufur” (Al Insan : 73)
Manusia memiliki banyak kemungkinan dan peluang dalam menyelesaikan satu masalah tertentu, sebab ia memilki kehendak (iradah). Menentukan jalan hidup, manusia banyak pilihan, sehingga ada yang memilih jalan Islam, ada pula yang kufur.
Dalam segi Posisi/kedudukan
Allah memberikan kedudukan yang tinggi kepada manusia diantara makhluk lainnya di bumi, yakni ia sebagai pemimpin. Sehingga manusia dapat memanfaatkan alam semesta ini untuk keperluan hidupnya , sebagaimana firman Allah :
“ Tidak kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi “ (Luqman : 20)
Dalam ayat lain , Allah berfirman :
“Dialah (Allah) yang menjadikan segala apa yang ada di bumi untuk kamu “ (Al Baqarah : 9)
Segala yang di alam ini telah disediakan Allah untuk kepentingan manusia karena memang manusialah yang bertugas memakmurkan bumi. Firman Allah :

“ Dia telah menciptakan kamu dari bumi(tanah) dan menjadikan sebagai pemakmurnya ( Hud : 61)
Dengan ilmu yang dimilikinya, manusia dapat memanfaatkan segala sesuatu di alam ini sehingga bermanfaat untuk kemakmuran bersama.

4. Dalam segi Kemampuan Akal, Pengamatan, Intuisi dan Imajinasi

Hanya manusia yang memilki kemampuan akal , dengannya dapat berfikir, melakukan pengamatan dan menyimpulkan . Manusia juga berkembang daya intuisi dan imajinasinya . Ia bisa mengkhayalkan sesuatu yang belum pernah terjadi.
Akalnya berkembang menjadi sarana berkembangnya ilmu dan teknologi.
Begitu pula kemampuan imajinasinya akan berkembang sehingga mengembangkan kreatifitas dalam berkarya. Hal ini semua tidak terjadi pada binatang.

5. Dalam segi tendensi moral

Manusia memiliki peluang untuk dibentuk menjadi baik ataupun buruk. Bahkan dapat juga berperan ganda sebagaimana orang munafiq di satu sisi ia kelihatan baik namun ternyata ia adalah orang yang berniat jahat.
Berbagai macam sifat dan sikap dapat ia miliki sekaligus . Tampak betul dalam segi ini manusia memang berbeda dengan binatang . Binatang sulit atau bahkan tidak dapat dibentuk dengan sifat dan karakter yang bermacam-macam padanya. Sebab ia tidak memilki kelengkapan tendensi yang memungkinkan untuk dapat bersifat menjadi seperti baik atau menjadi buruk.














C. Mengenal Ciptaan Lainnya

Allah menciptakan segala-galanya yang ada di dunia maupun di akhirat.
Setiap ciptaan Allah berguna dan bermanfaat semua.
Ciptaan allah sangat lah banyak seperti bulan langit makhluk, jin , malaikat dan masih banyak lagi, karna allah adalah Al-Kholiq (Maha Pencipta).
Firman ALLAH Taala :

Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: Jadilah. Lalu jadilah ia. Al-baqarah : 117.

Niscaya hanya bagi Allah ciptaan yang kekal lagi abadi, sedang ciptaan Allah itu meliputi luasnya langit dan bumi beserta apa-apa yang ada diantara keduanya.


















BAB III
                                                                    PENUTUP           
A. Kesimpulan
            Ma’rifatullah yaitu berasal dari kata ma’rifah dan Allah. Ma’rifah berarti mengetahui, mengenal. Mengenal Allah bukan melalui zat Allah tetapi mengenal-Nya lewat mengenal dirinya. Mengenal Allah merupakan tahapan penting perjalanan diri Manusia. Salah satu Hadis yang terkenal dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. adalah "Man 'Arofa nafsahu, Faqod Arofa Robbahu" Artinya "Barang siapa mengenal dirinya maka, ia akan mengenal Tuhannnya".
            Beberapa langkah praktis yang bisa kita lakukan untuk dapat mengenal Allah Adalah:
1. Menyadari bahwa diri kita adalah yang diciptakan
2. Kalau kita (manusia) diciptakan berarti ada yang menciptakan (Allah)
3. Kalau kita (manusia) diatur berarti ada yang mengatur (Allah)
4. Kalau kita diberi berarti ada yang memberi
5. karena kita diberi maka kita harus berteima kasih.
6. cara paling mudah dalam berterima kasih adalah selalu mengingat yang memberi
            kita bisa pilih semua cara diatas atau pilih salah satu cara dan lakukan dengan rutin dan teratur, insya Allah semua akan menjadi lebih baik. Dapat menjalankan ibadah dengan khusu dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

B. Saran
            Melalui Makalah ini semoga dapat membantu memberikan Informasi kepada semua pembaca mengenai Mengenal Allah, dan supaya kita menjadi Manusia yang lebih baik dalam menjalankan roda kehidupan. Dan dalam pembuatan makalah ini mungkin masih jauh dari kesempurnaan, Kritik dan saran yang membangun saya sangat harapkan dari segenap pembaca Makalah ini.

Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern

  Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern Pendahuluan Ketika arus modernisasi menghujani dunia Islam, proses modern...