BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Seiring dalam perkembangan zaman, manusia sering mengabaikan logika
dalam berfikir dan membuat aturan. Kebanyakan orang-orang tersebut menganggap
remeh tentang logika dan berfikir seenaknya saja, mereka menginginkan hal yang
mudah dan praktis. Sehingga yang terjadi adalah kejanggalan-kejanggalan dalam
komunitas masyarakat banyak.
Dibalik itu semua, diantara hubungan logika dengan ilmu-ilmu lain,
terutama hubungan logika dengan bahasa sangat berpengaruh dalam kehidupan.
Sekaligus untuk eksistensi masa depan yang lebih terpapar dan terencana. Yang
prosesnya memang tidak mudah sebagaimana keinginan masyarakat saat ini yang
berbeda jauh. Logika dan bahasa adalah dua kesatuan yang saling berhubungan
erat.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa yang Dimaksud dengan Logika?
2. Apa hubungan logika dengan ilmu-ilmu
lain?
C.
Tujuan Penulisan
1. Mengetahui Pengertian Logika.
2. Mengetahui hubungan logika dengan
ilmu-ilmu lain.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Logika
Logika adalah Ilmu tentang berfikir secara rasional untuk mencari
kebenaran. Bagian dari filsafat yang objek penyelidikannya adalah budi atau
akal.
Budi adalah salah satu sifat yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa
kepada manusia yang juga disebut sebagai hati nurani atau budi nurani. Budi
nurani adalah pencerminan terbatas dari Tuhan Yang Maha Esa , maka dalam logika
yang namanya Budi itu tidak hanya diselidiki tetapi juga sebagai alat.
ü Pengertian Logika Menurut Para
Pakar:
Drs. Hasbullah. Bakry Menyatakan di dalam bukunya “Sistematika
Filsafat” Logika adalah ilmu yang mengatur penelitian hukum-hukum akal manusia
sehingga menyebabkan pikiran dapat mencapai kebenaran.
Logika ilmu yang mempelajari pekerjaan akal yang dipandang dari
jurusan benar dan salah.
Logika adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari aturan-aturan dan
cara berfikir yang dapat menyampaikan manusia kepada kebenaran
Predjowiyatna, Yang dimaksud logika adalah Filsafat Budi yang
mempelajari teknik berfikir untuk mengetahui bagaimana manusia berfikir dengan semestinya
atau dengan seharusnya.
Fungsi budi disini salah satu sifat yang diberikan Tuhan YME untuk
mencari kebenaran, Budi teknik berfikir, hati kecil.
ü Drs. Soemardi Soeryabrata
Logika adalah salah satu cabang filsafat, kata logika menunjukkan
berbagai arti dalam filsafat dapat dibagi menjadi 6 arti pokok :
Logika sebagai ajaran berfikir;
Logika sebagai ajaran tentang pernyataan yang tertib dan jelas;
Logika sebagai ajaran ilmu pengetahuan;
Logika sebagai teknik ilmu pengetahuan;
Logika sebagai teori pengetahuan;
Logika sebagai metafisika akal;[1]
B.
Hubungan logika dengan ilmu-ilmu lainnya
1.
Hubungan logika dengan Bahasa
Bahasa
Dalam Logika
Bahasa adalah alat untuk menyampaikan isi hati atau pikiran
seseorang sehingga dengan bahasa, orang lain dapat mengerti tentang isi hati
atau pikiran yang disampaikan, misalnya melalui bahasa isyarat , tertulis atau
lisan. Jadi bahasa adalah alat komunikasi. Komunikasi dapat lancar apabila
permasalahannya disusun dalam bentuk kaidah bahasa yang baik dan benar. Ini dipelajari
dalam ilmu bahasa (gramatika). Ilmu bahasa menyajikan kaidah penyusunan bahasa
yang baik dan benar.
Dan logika meyajikan tata cata kaidah berpikir secara lurus dan
benar / bisa disebut sebagai jembatan berfikir. Oleh karena itu, keduanya
saling mengisi. Bahasa yang baik dan benar dalam praktik kehidupan sehari-hari
hanya dapat tercipta apabila ada kebiasaan atau kemampuan dasar setiap orang
untuk berpikir logis. Sebaliknya, suatu kemampuan berpikir logis tanpa memiliki
pengetahuan bahasa yang baik maka ia tidak akan dapat menyampaikan isi pikiran
itu kepada orang lain. Oleh sebab itu, logika sangat berhubungan erat dengan
bahasa.[2]
2.
Hubungan dengan Ilmu Psikologi
Dalam Psikologi membicarakan perkembangan pikiran tentang
pengalaman melalui proses subjektif di dalam jiwa. Dengan demikian, Psikologi
memberikan keterangan mengenai sejarah perkembangan berfikir. Logika sebagai
cabang filsafat bertujuan membimbing akal untuk berfikir (bagaimana
seharusnya). Untuk dapat berfikir bagaimana seharusnya, kita terlebih dahulu
harus mengetahui tentang bagaimana manusia itu berfikir. Di sinilah letak
hubungan antara Psikologi dan Logika.[3]
Logika berfungsi memikirkan segala sesuatu tentang jiwa manusia.
Maka fungsi logika adalah untuk membahas proses yang berfikir dengan kejiwaan
manusia.
· Psikologi memberikan keterangan
mengenai sejarah perkembangan berpikir.
· Psikologi memberikan gambaran
bagaimana manusia berpikir.
· Sementara logika adalah cabang
filsafat yang bertujuan membimbing akal untuk berpikir (bagaimana seharusnya).
Contoh Kasus: Anggota DPR adalah manusia
Koruptor kebanyakan anggota DPR
Hukuman bagi koruptor sangatlah ringan
Jadi: Anggota DPR melakukan korupsi karena hukumannya ringan.
3.
Hubungan dengan Ilmu Metafisika
Metafisika adalah cabang filsafat
yang mempelajari hakikat realitas. Hakikat realitas dapat dicari dan ditemukan
di balik sesuatu yang tampak atau nyata. Oleh sebab itu, metafisika selalu
mencari kebenaran/hakikat realitas di balik yang tampak dan nyata. Sikap
seperti itu adalah kritis, yaitu sikap yang selalu ingin tahu dan membuktikan
segala sesuatu yang sudah atau selalu dianggap benar. Teori dalm metafisika
bahwa kenyataan kebenaran/hakikat realitas bukanlah apa yang tampak, tetapi apa
yang berada di balik yang tampak.[4]
Dalil-dalil, hukum dalam logika bagi
metafisika buka apa yang telah dirumuskan yang menjadi hakikat kebenaran,
tetapi apa yang ada di balik rumusan tersebut. Dengan demikian bagi logika,
metafisika merupakan kritik terhadap dalil dan hukum-hukumnya. Semakin erat
hubungan metafisika dengan logika, kebanran logis semakin dapat
dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, kebenaran lois mendekati pada hakikat
realitas, semakin mampu berpikir logis, orang tidak mudah tertipu oleh kebenaran
yang tampak (Iriyanto widisuseno, 1995).
4.
Hubungan dengan Epistemologi (Dasar Pengetahuan)
Epistemologi (filsafat ilmu) adalah pengetahuan sistematik mengenai
pengetahuan. Ia merupakan cabang filsafat yang membahas tentang terjadinya
pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, sarana, metode atau
cara memperoleh pengetahuan, validitas dan kebenaran pengetahuan. Perbedaan
landasan ontologik menyebabkan perbedaan dalam menentukan metode yang dipilih
dalam upaya memperoleh pengetahuan yang benar. Akal, akal budi, pengalaman,
atau kombinasi akal dan pengalaman, intuisi, merupakan sarana mencari
pengetahuan yang dimaksud dalam epistemologik, sehingga dikenal model‑model
epistemologik seperti rasionalisme, empirisme, rasionalisme kritis,
positivisme, fenomenologi dan sebagainya.[5]
Jika seseorang ingin membuktikan kebenaran suatu pengetahuan maka
cara, sikap, dan sarana yang digunakan untuk membangun pengetahuan tersebut
harus benar. Apa yang diyakini atas dasar pemikiran mungkin saja tidak benar
karena ada sesuatu di dalam nalar kita yang salah. Demikian pula apa yang kita
yakini karena kita amati belum tentu benar karena penglihatan kita mungkin saja
mengalami penyimpangan. Itulah sebabnya ilmu pengetahan selalu berubah-ubah dan
berkembang. hubungan logika dengan epistemology adalah sama-sama dari cabang
besar filsafat, yaitu teori pengetahuan. Epistemologi merupakan pengetahuan
dari segi isinya, sedangkan logika merupakan kebenaran ditinjau dari segi
bentuknya. Ini tertuang dalam cabang besar filsafat yaitu :
a)
Persoalan keberadaan atau eksistensi, yaitu metafisika.
b)
Persoalan pengetahuan atau
kebenaran, yaitu epistemology dan logika.
c)
Persoalan nilai, yaitu etika
dan estetika.
5.
Hubungan Logika Dan Ilmu Agama
“Logika memberikan kepada kita cara berfikir yang benar dan logika
juga memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan,
sedangkan agama memberikan cinta, harapan dan kehangatan, agama juga mebawa
pada revolusi spritual.[6]
Setidaknya ada beberapa hubungan logika dan ilmu agama yaitu :
a)
Unsur yang Baik
Hubungan logika dan ilmu agama dari
segi yang baik dalam arti logika memberikan dukungan terhadap permasalahan agama, ini
berkaitan dengan beberapa permasalahan diantaranya;
· logika dapat berperan dalam proses
pembentukan hukum ini berkaitan dengan ilmu ushul fiqh,
· logika dapat membantu dalam proses
perkembangan ilmu agama dalam memberikan pembaharuan dalam soal tafsir.
logika dapat berperan dalam proses
pembentukan hukum ini berkaitan dengan ilmu ushul fiqh.Sebagaimana yang kita
ketahui logika adalah alat analisis dalam proses berpikir, lantas pertanyannya
adalah apa kegunaan logika dalam ilmu agama? Logika memiliki peran yang penting
dalam penarikan kesimpulan yang dilaku oleh para ahli agama dari premis-premis
atau kesimpulan yang ada dalam al-qur’an yang merupakan sumber dasar dari ahli
agama,
contohnya; dalam al-qur’an terdapat keterangan
bahwa “khomer dan anggur itu haram”. Kata “khomer dan anggur itu haram” kata
ini dalam logika ini namanya kesimpulan, kalau kata “khomer dan anggur itu
haram” adalah kesimpulan, lalu premis mayor dan premis minornya kata apa? Ya
tetunya kita buat premis manyor dan premis minornya. Karena alasan atau asbab
al-nujul di haramkan khamer dan anggur itu memabukkan, jadi premis mayornya
adalah “semuah yang memabukkan itu haram” dan premis minornya adalah “khamer
dan anggur itu memabukkan”.
Premis Mayor : Semuah Yang Memabukkan Itu Haram
Premis Minornya : Khamer Dan Anggur Itu Memabukkan
Kesimpulanya : Khomer Dan Anggur Itu Haram
Ini merupakan contoh yang sederhana, yang menggambarkan pentingnya
logika dalam hubungannya dengan ilmu agama dan masih sangat banyak peran logika
dalam menganalisa kajian keagamaan. Keterangan-keterangan di atas merupakan
contoh kecil dari kegunaan logika, masih banyak contoh-contoh yang lain,
seperti dalam ilmu usul fiqh, ilmu hadis, kalam dan lain sebagainya.[7]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan dari pembahasan materi diatas, dapat diambil kesimpulan
bahwa logika adalah landasan utama utk menguasai filsafat & ilmu pengetahuan
serta sarana penghubung antara filsafat & ilmu. Logika menyelidiki,
menyeleksi, dan menilai pemikiran dengan cara seriusdan terpelajar serta
bertujuan untuk mendapatkan kebenaran, terlepas dari segala kepentingan dan
keinginan perorangan. Logika merumuskan serta menerapkanhukum -hukum dan
patokan - patokan yang harus ditaati agar seseorang dapatberpikir benar,
efisien, sistematis, dan teratur.
Diantara hubungan logika dengan ilmu-ilmu lain, terutama hubungan
logika dengan bahasa sangat berpengaruh dalam kehidupan. Sekaligus untuk
eksistensi masa depan yang lebih terpapar dan terencana. Yang prosesnya memang
tidak mudah sebagaimana keinginan masyarakat saat ini yang berbeda jauh. Logika
dan bahasa adalah dua kesatuan yang saling berhubungan erat.
B.
Saran
Dengan membaca makalah ini penulis berharap semoga pembaca
dapatberfikir tepat dan benar sehingga terhindar dari kesimpulan yang salah dan
kabur.Setidaknya dengan makalah ini, ada semacam pencerahan intelektual dalam
menyuguhkan motivasi yang intrinsik untuk segera mempelajari ilmu
logikasehingga kita dapat meminimalisasi kesalahan dalam berfikir.
Tentunya, dalam makalah ini akan ditemukan kelemahan-kelemahan
ataubahkan kekeliruan. Dengan itu, penulis sangat berharap adanya masukan
dari pembaca dan kritik sebagai upaya
pembangunan mental guna penyelesaian.
DAFTAR PUSTAKA
Dr.
W. POESPOPRODJO, L.ph.,S.S., LOGIKA SCIENTIFIKA,(Bandung:pt remaja
rosdakarya.1991).
Rs. Surajiyo, Drs. Sugeng Astanto, M.Si., Dra. Sri Andiani, Hubungan Logika Dengan Psikologi,
Bahasa, Dan Metafisika, Dasar-dasar Logika (Jakarta: BA printing, 2007)
ttps://ludiyana.files.wordpress.com/2017/12/logika.pdf
http://mynewscandraalfian23.blogspot.com
[1] https://ludiyana.files.wordpress.com/2017/12/logika.pdf
(diakses 20.30wib)
[2] rs. Surajiyo, Drs. Sugeng Astanto, M.Si., Dra. Sri Andiani, Hubungan
Logika Dengan Psikologi, Bahasa, Dan Metafisika, Dasar-dasar Logika
(Jakarta: BA printing, 2007) h.16-17
[3] Ibid.,
[4] Dr. W. POESPOPRODJO, L.ph.,S.S., LOGIKA SCIENTIFIKA, (Bandung:pt
remaja rosdakarya.1991). Hal 67
[5] Ibid.,
[6] http://mynewscandraalfian23.blogspot.com/(diakses
pukul 20.00wib)
[7] Ibid.,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar