Dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin, al-Ghazali memulai
pandangannya dengan nada provokatif tentang keutamaan bagi mereka yang memiliki
ilmu pengetahuan dengan mengutip al-Qur’an surat al-Mujadilah ayat 11, yang
artinya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (QS. Al-Mujadilah:11)
Provokasi ini kemudian dilanjutkannya dengan hadis Nabi yang bernada majaz metaforik yang dikemukakan oleh Ibnu Abbas tentang keutamaan ilmuwan atas orang awam, pernyataan tersebut adalah:
Li al-‘ulama’ darajah fauqo al-mu’minina bisab’i mi’ah darajah ma bayna al-darajataini masirah khamsah mi’ah ‘am.
Artinya: “Para orang-orang yang berilmu memiliki derajat diatas orang-orang mukmin sebanyak tujuh ratus derajat, jarak di antara dua derajat tersebut adalah perjalanan lima ratus tahun”.
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (QS. Al-Mujadilah:11)
Provokasi ini kemudian dilanjutkannya dengan hadis Nabi yang bernada majaz metaforik yang dikemukakan oleh Ibnu Abbas tentang keutamaan ilmuwan atas orang awam, pernyataan tersebut adalah:
Li al-‘ulama’ darajah fauqo al-mu’minina bisab’i mi’ah darajah ma bayna al-darajataini masirah khamsah mi’ah ‘am.
Artinya: “Para orang-orang yang berilmu memiliki derajat diatas orang-orang mukmin sebanyak tujuh ratus derajat, jarak di antara dua derajat tersebut adalah perjalanan lima ratus tahun”.
Konsep pemikiran al-Ghazali tentang pendidikan
lebih cenderung bersifat empirisme, hal ini disebabkan karena ia sangat
menekankan pada pengaruh pendidikan terhadap anak didik. Menurutnya, pendidikan
seorang anak sangat tergantung kepada orang tua yang mendidiknya. Lebih lanjut,
dapat dikatakan bahwa dalam peranannya, pendidikan sangat menentukan kehidupan
suatu bangsa dan pemikirannya.
Menurut Nizar al-Ghazali menjadikan
transinternalisasi ilmu dan proses pendidikan merupakan sarana utama
untuk menyiarkan ajaran islam, memelihara jiwa, dan taqarrub ila Allah. Lebih
lanjut dikatakan, bahwa pendidikan yang baik merupakan jalan untuk mendekatkan
diri kepada Allah dan mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat.[1]
Menurut Nata, pendidikan islam itu secara umum
mempunyai corak spesifik yaitu adanya cap agama dan etika yang terlihat nyata
pada sasaran-sasaran dan sarananya, tetapi tanpa mengabaikan masalah
keduniawian. Dan al-Ghazali pada prinsipnya sejalan dengan trend-trend
keagamaan semacam ini, namun disatu sisi ia tetap memberikan ruang yang cukup
dalam sistem pendidikan bagi perkembangan duniawi, dengan catatan bahwa
masalah-masalah dunia hanya dimaksudkan sebagai jalan untuk menuju kebahagiaan
hidup di alam akhirat yang lebih utama dan kekal.[2]
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tujuan
pendidikan dalam pandangan al-Ghazali adalah memanfaatkan pengetahuan yang
ditujukan untuk mendapatkan kemanfaatan dari pengetahuan itu sendiri yang
dengannya dapat menjaga keseimbangan alam semesta ini dengan melestarikan
kehidupan manusia dan alam sekitarnya, juga sekaligus sebagai sebuah aplikasi
dari tugas penciptaan manusia di muka bumi. Pemanfaatan pengetahuan itu
semata-mata adalah bertujuan untuk ta’abbud kepada Allah SWT, Tuhan semesta
alam.
1.
Kurikulum
Kurikulum, dalam pengertian sederhana berarti mata
pelajaran yang diberikan kepada anak didik untuk menanamkan sejumlah
pengetahuan agar mampu beradaptasi dengan lingkungannya.Pandangan al-Ghazali
tentang kurikulum dapat diketahui berdasarkan pandangannya dalam membagi ilmu
pengetahuan menjadi tiga kategori besar, yaitu:
o
Ilmu yang tercela yang tidak pantas dipelajari (al-mazmum),
seperti sihir, nujum, ramalan, dan lain sebagainya.
o
Ilmu yang terpuji yang pantas untuk dipelajari
(al-mahmud) yang meliputi ilmu yang fardlu ‘ain untuk dipelajari dan ilmu
yang hanya fardlu kifayah untuk dipelajari.
o
Ilmu terpuji dalam kadar tertentu atau sedikit, dan tercela
jika mempelajarinya secara mendalam, seperti ilmu logika, filsafat, ilahiyyat
dan lain-lain.[3]
2.
Metode
Menurut al-Ghazali metode perolehan ilmu dapat
dibagi berdasarkan jenis ilmu itu sendiri, yaitu ilmu kasbi dan ilmu ladunni.
o
Ilmu kasbi dapat diperoleh melalui metode atau cara berfikir
sistematik dan metodik yang dilakukan secara konsisten dan bertahap melalui
proses pengamatan, penelitian, percobaan dan penemuan, yang mana memperolehnya
dapat menggunakan pendekatan ta’lim insani.
o
Ilmu ladunni dapat diperoleh orang-orang tertentu dengan
tidak melalui proses perolehan ilmu pada umumnya tetapi melalui proses
pencerahan oleh hadirnya cahaya ilahi dalam qalbu, yang mana memperolehnya
adalah menggunakan pendekatan ta’lim rabbani.
Selain itu, al-Ghazali juga memakai pendekatan
behavioristik dalam pendidikan yang dijalankan. Hal ini terlihat dari
pernyataannya, jika seorang murid berprestasi hendaklah seorang guru
mengapresiasi murid tersebut, dan jika melanggar hendaklah diperingatkan,
bentuk apresiasi gaya al-Ghazali tentu berbeda dengan pendekatan behavioristik
dalam Eropa modern yang memberikan reward dan punishment-nya dalam bentuk
kebendaan dan simbol-simbol materi. Al- Ghazali menggunakan tsawab (pahala) dan
uqubah (dosa) sebagai reward and punishment-nya. Disamping itu, ia juga
mengelaborasi dengan pendekatan humanistik yang mengatakan bahwa para pendidik
harus memandang anak didik sebagai manusia secara holistik dan menghargai
mereka sebagai manusia. Bahasa al-Ghazali tentang hal ini adalah bagaimana
seorang guru harus bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang pada murid
selayaknya mereka adalah anak kandung sendiri. Dengan ungkapan seperti ini
tentu ia menginginkan sebuah pemanusiaan anak didik oleh guru. Lebih lanjut
dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah sebagai kerja yang memerlukan hubungan
yang erat antara dua pribadi, yaitu guru.[4]
Menurut al-Ghazali, pendidikan tidak semata-mata sebagai suatu proses yang dengannya guru menanamkan pengetahuan yang diserap oleh siswa, yang setelah proses itu masing-masing guru dan murid berjalan di jalan mereka yang berlainan. Lebih dari itu, ia adalah interaksi yang saling mempengaruhi dan menguntungkan antara guru dan murid dalam tataran sama, yang pertama mendapatkan jasa karena memberikan pendidikan dan yang terakhir dapat mengolah dirinya dengan tambahan pengetahuan yang didapatkannya.
Menurut al-Ghazali, pendidikan tidak semata-mata sebagai suatu proses yang dengannya guru menanamkan pengetahuan yang diserap oleh siswa, yang setelah proses itu masing-masing guru dan murid berjalan di jalan mereka yang berlainan. Lebih dari itu, ia adalah interaksi yang saling mempengaruhi dan menguntungkan antara guru dan murid dalam tataran sama, yang pertama mendapatkan jasa karena memberikan pendidikan dan yang terakhir dapat mengolah dirinya dengan tambahan pengetahuan yang didapatkannya.
3.
Pendidik
Dalam pandangan al-Ghazali, pendidik merupakan orang yang berusaha membimbing, meningkatkan, menyempurnakan dan mensucikan hati sehingga menjadi dekat dengan Khaliqnya. Ia juga memberikan perhatian yang sangat besar pada tugas dan kedudukan seorang pendidik.
“Sebaik-baik ikhwalnya adalah yang dikatakan berupa ilmu pengetahuan. Hal itulah yang dianggap keagungan dalam kerajaan langit. Tidak selayaknya ia menjadi seperti jarum yang memberi pakaian kepada orang lain sementara dirinya telanjang, atau seperti sumbu lampu yang menerangi yang lain sementara dirinya terbakar. Maka, barang siapa yang memikul beban pengajaran, maka sesungguhnya ia telah memikul perkara yang besar, sehingga haruslah ia menjaga etika dan tugasnya.”
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pendidik yang dapat diserahi tugas mengajar adalah seorang pendidik yang selain memiliki kompetensi dalam bidang yang diajarkan yang tercermin dalam kesempurnaan akalnya, juga haruslah yang berakhlak baik dan memiliki fisik yang kuat.
Dalam pandangan al-Ghazali, pendidik merupakan orang yang berusaha membimbing, meningkatkan, menyempurnakan dan mensucikan hati sehingga menjadi dekat dengan Khaliqnya. Ia juga memberikan perhatian yang sangat besar pada tugas dan kedudukan seorang pendidik.
“Sebaik-baik ikhwalnya adalah yang dikatakan berupa ilmu pengetahuan. Hal itulah yang dianggap keagungan dalam kerajaan langit. Tidak selayaknya ia menjadi seperti jarum yang memberi pakaian kepada orang lain sementara dirinya telanjang, atau seperti sumbu lampu yang menerangi yang lain sementara dirinya terbakar. Maka, barang siapa yang memikul beban pengajaran, maka sesungguhnya ia telah memikul perkara yang besar, sehingga haruslah ia menjaga etika dan tugasnya.”
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pendidik yang dapat diserahi tugas mengajar adalah seorang pendidik yang selain memiliki kompetensi dalam bidang yang diajarkan yang tercermin dalam kesempurnaan akalnya, juga haruslah yang berakhlak baik dan memiliki fisik yang kuat.
B.
Pemikiran Pendidikan Islam Menurut Ibnu Khaldun
Menurut Ibnu Khaldun ilmu pendidikan bukanlah suatu aktivitas yang
semata-semata bersifat pemikiran dan perenungan yang jauh dari aspek-aspek pragmatis
di dalam kehidupan, akan tetapi ilmu dan pendidikan tidak lain merupakan gejala
sosial yang menjadi ciri khas jenis insani.
Tradisi penyeledikan ilmiah yang dilakukan oleh ibnu khaldun
dimulai dengan menggunakan tradisi berfikir ilmiah dengan melakukan kritik atas
cara berfikir “model lama” dan karya-karya ilmuwan sebelumnya, dari hasil
penyelidikan mengenai karya-karya sebelumnya, telah memberikan kontribusi
akademik bagi pengembangan ilmu pengetahuan yang sahih, pengetahuan ilmia
memuat pengetahuan yang otentik.
Pendidikan bukan hanya merupakan proses belajar mengajar yang
dibatasi oleh ruang dan waktu, tetapi pendidikan adalah suatu proses, di mana
manusia secara sadar menangkap, menyerap, dan menghayati peristiwa-peristiwa
alam sepanjang zaman. .Menurut Ibnu Khaldun bahwa manusia itu secara esensial
bodoh (jahil) layaknya seperti binatang, manusia hanya berupa setetes sperma,
segumpal darah, sekerat daging dan masih ditentukan rupa mentalnya. Artinya
manusia itu adalah jenis hewan, namun Allah SWT telah membedakan manusia dan
hewan dengan memberi akal pikiran kepada manusia. Pada mulanya manusia
menggunakan akal pemilah, kemudian akal eksperimental dan akhirnya menggunakan
akal kritis. Melalui akal pikiran inilah, manusia mampu bertindak secara
teratur dan terencana.
1.
Materi
Adapun pandangannya mengenai materi pendidikan, karena materi
adalah merupakan salah satu komponen operasional pendidikan, maka dalam hal ini
Ibnu Khaldun telah mengklasifikasikan ilmu pengetahuan yang banyak dipelajari
manusia pada waktu itu menjadi dua macam yaitu:
·
Ilmu-ilmu
tradisional (Naqliyah)
Ilmu naqliyah adalah yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadits yang
dalam hal ini peran akal hanyalah menghubungkan cabang permasalahan dengan
cabang utama, karena informasi ilmu ini berdasarkan kepada otoritas syari’at
yang diambil dari al-Qur’an dan Hadits.
·
Adapun
yang termasuk ke dalam ilmu-ilmu naqliyah itu antara lain: ilmu tafsir, ilmu
qiraat, ilmu hadits, ilmu ushul fiqh, ilmu fiqh, ilmu kalam, ilmu bahasa Arab,
ilmu tasawuf, dan ilmu ta’bir mimpi.
·
Ilmu-ilmu
filsafat atau rasional (Aqliyah)
Ilmu ini bersifat alami bagi manusia, yang diperolehnya melalui
kemampuannya untuk berfikir. Ilmu ini dimiliki semua anggota masyarakat di
dunia, dan sudah ada sejak mula kehidupan peradaban umat manusia di dunia.
Menurut Ibnu Khaldun ilmu-ilmu filsafat (aqliyah) ini dibagi
menjadi empat macam ilmu yaitu:
o
Ilmu
logika,
o
Ilmu
fisika,
o
Ilmu
metafisika dan
o
Ilmu
matematika termasuk didalamnya ilmu, geografi, aritmatika dan al-jabar, ilmu
music, ilmu astromi, dan ilmu nujuum.
2.
Metode
Metode pendidikan adalah segala segi kegiatan yang terarah yang
dikerjakan oleh guru dalam rangka kemestian-kemestian mata pelajaran yang
diajarkannya. Ciri-ciri perkembangan peserta didik dan suasana alam di
sekitarnya dan tujuan membimbing peserta didik untuk mencapai proses belajar
yang diinginkan dan perubahan yang dikehendaki pada tingkah laku mereka.
Metode pendidikan sama halnya dengan metode pembelajaran
(pengajaran), yang mana pemikiran Ibnu Khaldun tentang metode pendidikan
terungkap lewat empat sikap reaktifnya terhadap gaya para pendidik (guru)
dimasanya dalam dasar empat dasar persoalan pendidikan.
Ibnu
Khaldun memberikan sedikitnya ada dua bentuk pembelajaran yaitu:
·
Tahapan
pembelajaran
Pembelajaran yang efektif dan efisien terhadap peserta
dpembelajaran yang efektif dan efisien terhadap peserta didik apabila dilakukan
secara berangsur-angsur, setapak-demi setapak dan apabila dilakukan secara
berangsur-angsur.
Dalam literatur yang lainnya lagi dengan metode pengajaran ini ibnu
khaldun menjelaskan bahwa tiap-tiap pemikiran dan ilmu akan mengembangkan pada
akal yang cerdas, lebih lnjut beliau menjelaskan ilmu berhitung tidak sama
dengan metode problem-problem kemasyarakatan dan falsafah atau sejarah, dari sini
seorang pendidik harus mampu mengklasifikasi mata pelajaran dan metode
pengajaran.
·
Concertie
method (metode pemusatan)
Dalam kaitan ini komponin pendidikan sama-sama dituntut untuk lebih
fokus pada satu atau dua pilihan bidang pendidikan saja, baik guru, para orang
tua dan siswa. Dalam beberapa referensi yang ada sepertinya sosok ibnu khaldun
adalah seorang yang menjunjung tinggi metode itu (specialisasi pelajaran) dan
telaten.
Ibnu Khaldun menyebutkan keutamaan metode diskusi, karena
dengan metode ini anak didik telah terlibat dalam mendidik dirinya sendiri dan
mengasah otak, melatih untuk berbicara, disamping mereka mempunyai kebebasan
berfikir dan percaya diri. Atau dengan kata lain metode ini dapat membuat anak
didik berfikir reflektif dan inovatif. Lain halnya dengan metode hafalan, yang
menurutnya metode ini membuat anak didik kurang mendapatkan pemahaman yang
benar.
Disamping metode diskusi Isbnu Khaldun juga
menganjurkan metode peragaan, karena dengan metode ini proses
pengajaran akan lebih efektif dan materi pelajaran akan lebih cepat ditangkap
anak didik. Satu hal yang menunjukkan kematangan berfikir Ibnu Khaldun, adalah
prinsipnya bahwa belajar bukan penghafalan di luar kepala, melainkan pemahaman,
pembahasan dan kemampuan berdiskusi. Karena menurutnya belajar dengan
berdiskusi akan menghidupkan kreativitas pikir anak, dapat memecahkan masalah
dan pandai menghargai pendapat orang lain, disamping dengan berdiskusi anak
akan benar-benar mengerti dan paham terhadap apa yang dipelajarinya.
3.
Pendidik
Seorang pendidik hendaknya memiliki pengetahuan yang memadai
tentang perkembangan psikologis peserta didik. Pengetahuan ini akan sangat
membantunya untuk mengenal setiap individu peserta didik dan mempermudah dalam
melaksanakan proses belajar mengajar. Para pendidik hendaknya mengetahui
kemampuan dan daya serap peserta didik.
Kemampuan ini akan bermanfaat bagi menetapkan materi pendidikan
yang sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik. Bila pendidik memaksakan
materi di luar kemampuan peserta didiknya, maka akan menyebabkan kelesuan
mental dan bahkan kebencian terhadap ilmu pengetahuan yang diajarkan. Bila ini
terjadi, maka akan menghambat proses pencapaian tujuan pendidikan. Oleh karena
itu, diperlukan keseimbangan antara materi pelajaran yang sulit dan mudah dalam
cakupan pendidikan.
Ibnu Kholdun menganjurkan agar para guru bersikap dan berperilaku
penuh kasih sayang kepada peserta didiknya, mengajar mereka dengan sikap lembut
dan saling pengertian, tidak menerapkan perilaku keras dan kasar, sebab sikap
demikian dapat membahayakan peserta didik, bahkan dapat merusak mental mereka,
peserta didik bisa menjadi berlaku bohong, malas dan bicara kotor, serta
berpura-pura, karena didorong rasa takut dimarahi guru atau takut dipukuli.
Dalam hal ini, keteladanan guru yang merupakan keniscayaan dalam
pendidikan, sebab para peserta didik menurut Ibnu Kholdun lebih mudah
dipengaruhi dengan cara peniruan dan peneladanan serta nilai-nilai luhur yang
mereka saksikan, dari pada yang dapat dipengaruhi oleh nasehat, pengajaran atau
perintah-perintah.
Dalam melaksanakan tugasnya, seorang pendidik hendaknya mampu
menggunakan smetode mengajar yang efektif dan efisien. Ibnu Khaldun
mengemukakan 6 (enam) prinsip utama yang perlu diperhatikan pendidik, yaitu:
·
Prinsip
pembiasaan
·
Prinsip
tadrij (berangsur-angsur)
·
Prinsip
pengenalan umum (generalistik)
·
Prinsip
kontinuitass
·
Memperhatikan
bakat dan kemampuan peserta didik
·
Menghindari
kekerasan dalam mengajar.
4.
Pesetra Didik
Peserta didik merupakan orang yang belum dewasa dan memiliki sejumlah
potensi (kemampuan) dasar yang masih perlu dikembangkan. Di sini peserta didik
merupakan makhluk Allah yang memiliki fitrah jasmani maupun rohani yang belum
mencapai taraf kematangan baik bentuk, ukuran, maupun perimbangan pada
bagian- bagian lainnya. Dari segi rohaniah, ia memiliki bakat, kehendak,
perasaan, dan pikiran yang dinamis dan perlu dikembangkan.
Pada
dasarnya peserta didik adalah:
a)
Peserta
didik bukan merupakan miniatur orang dewasa, akan tetapi memiliki dunianya
sendiri.
b)
Peserta
didik adalah manusia yang memiliki diferensiasi periodesasi perkembangan dan
pertumbuhan. Aktivitas kependidikan Islam disesuaikan dengan tingkat
pertumbuhan dan perkembangan yang pada umumnya dilalui oleh setiap peserta
didik. Karena kadar kemampuan peserta didik ditentukan oleh faktor-faktor usia
dan periode perkembangan atau pertumbuhan potensi yang dimilikinya.
c)
Peserta
didik adalah manusia yang memiliki kebutuhan, baik menyangkut kebutuhan jasmani
maupun kebutuhan rohani yang harus dipenuhi.
d)
Peserta
didik adalah makhluk Allah yang memiliki perbedaan individual (diferensiasi
individual), baik yang disebabkan oleh faktor pembawaan maupun lingkungan di
mana ia berada.
e)
Peserta
didik merupakan resultan dari dua unsur alam, yaitu jasmani dan rohani. Unsur
jasmani memiliki daya fisik yang menghendaki latihan dan pembiasaan yang
dilakukan melalui proses pendidikan. Sementara unsur rohani memiliki dua daya,
yaitu daya akal dan daya rasa. Untuk mempertajam daya akal maka proses
pendidikan hendaknya melalui ilmu-ilmu rasional. Adapun untuk mempertajam daya
rasa dapat dilakukan melalui pendidikan akhlak dan ibadah.
f)
Peserta
didik adalah manusia yang memiliki potensi (fitrah) yang dapat dikembangkan dan
berkembang secara dinamis.
C. Pemikiran
Muhammad Iqbal Tentang Pendidikan Islam
Pendidikan merupakan daya budaya yang mempengaruhi kehidupan
perorangan maupun kelompok masyarakat untuk membentuk manusia mukmin sejati
atau yang biasa disebut dengan Insan Kamil. Keseluruhan potensi manusia yang
mencangkup intelektual, fisik dan kemauan untuk maju. Dalam kaitanya dengan ini
Muhammad Iqbal menjelaskan beberapa pemikiranya tentang kehendak kreatif. Hidup
adalah kehendak kreatif yang oleh Muhammad Iqbal disebut
dengan Soz. Yaitu diri yang selalu bergerak kesatu arah. Aktivitas
kreatif, perjuangan tanpa henti dan partisipasi aktif dalam permaslahan dunia
harus menjadi tujuan hidup. Berkat kreativitas itulah manusia telah berhasil
mengubah dan menggubah yang belum tergarap dan belum terselesaikan dan
mengisinya dengan aturan dan keindahan.[5]
1.
Materi
·
Pertumbuhan
individualitas peserta didik
Pertumbuhan
dan perkembangan individu menuntut kegiatan yang intensif dan aneka ragam serta
tak kenal putus dalam pertautan individu yang bersangkutan dengan lingkungannya
yang berlangsung terus menerus dan timbale balik, mencekup segi material maupun
budayanya.
·
Nilai
sejarah dan budaya
Menurut
Muhammad Iqbal materi pembelajaran hendaknya tidak meninggalkan nilai-nilai
sejarah dan budaya . seperti ungkapan Iqbal berikut ini:
“Bila
ia mengabaikan sejarah masa lewat,
Kedalam
ketiadaanlah ia akan terjerat”
Karena
sejarah menjalin masa lalu dengan masa kini serta menciptakan suatu
kesinambungan pada kehidupan dan kebudayaan masyarakat.
Menurutnya,
berkat tradisi religious dan filosofisnya, mereka akan dapat menghargai dan
menyetujui ide-ide dan nilai-nilai yang bertautan dengannya.
·
Perpaduan
antara sisitem nilai ilmu pengetahuan dan agama.
Ilmu
pengetahuan saja tiadak akan mampu memberikan gambaran yang menyeluruh dan
memuaskan peserta didik mengenai dunia keyataan atau realita. Sedangkan system
nilai agama sumber yang sangat vital bagi idealism dan kasih saying kemanusiaan
sehingga berkat kehidupan yang religious itu manusia akan menggunakan segala
dayanya demi kebaikan bukan kejahatan. Oleh karena itu agama hendaknya
dipandang sebagai pelengkap yang mengimbangi pandangan yang didapat melalui
ilmu pengetahuan.[6]
2.
Metode
Metode pendidikan merupakan bagian dari alat-alat pendidikan dalam
upaya untuk mencapai tujuan pendidikan. Metode pendidikan didasarkan pada
tingkat usia anak didik berdasarkan pertimbangan periode perkembangan anak
didik. Adapun metode pendidikan yang sesuai menurut Muhammad Iqbal adalah
:
·
Self
activity: metode yang terbuka bebas bagi keaktifan sendiri. Metode ini di
gunakan untuk mencari potensi diri atau mengembangkan potensi diri peserta
didik dengan kebebasan mengembangkan kreativitas sesuai dengan yang di
kehendaki.
·
Learning
by doing. Jenis pengajaran yang di kehendakinya adalah menghadapkan siswa pada
situasi baru yang mengundang mereka untuk bekerja dengan penuh kesdaran akan
tujuan yang di galinya dari sumber yang tersedia dalam lingkungan mereka.
Metode eksperimen sangat di butuhkan dalam pengembangan ilmu pengetahuan,
sedangkan pengetahuan tidak hanya sekeder bersifat teoritis saja akan tetapi
perlu pembuktian dan aktualisasi.
·
Tanya
jawab: Menurut Muhamamad Iqbal pendidikan harus mampu untuk mencetak pribadi
yang kritis, yaitu terus bertanya dan tidak begitu saja menerima pandangan atas
dasar kepercayaan belaka.
·
Metode
proyek atau unit adalah cara penyajian pelajaran yang bertitik tolak dari
sesuatu dan bermakna. Penggunaan metode ini bertitik tolak dari anggapan bahwa
pemecahan masalah masalah, kemudian di bahas dari yang berhubungan
sehingga pemecahannya secara keseluruhan harus ditinjau dari berbagai macam
segi agar tuntas dalam melibatkan mata pelajaran yang ada kaitannya sebagai
sumber dari pemecahan masalah tersebut. Metode pengajaran seperti metode
proyek, sepanjang bertopang pada kegiatan yang tertuju kepada sasaran, lebih besar
kemungkannaya untuk mengembangkan sikap intelektual yang tepat daripada metode
tradisional yang lebih mengutakan ingatan serta cara belajar yang pasif.
·
Metode
pemecahan masalah atau problem solving . Bukan hanya sekedar metode
berfikir sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainya
yang di mulai dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.[7]
3.
Pendidik
Pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberi
bimbingan atau bantuan kepoada anak didik dalam perkembangan jasmani dan
rohaninya agar mencapai kedewasaannya, mampu melaksanakan tugasnya sebagai
makhluk Allah SWT. Muhammad Iqbal berpendapat bahwa tumbuh kembangnya
individualitas tidak mungkin terjadi tanpa kontak langsung dengan lingkungan
yang konkrit dan dinamis.
Sikap
pendidik yang baik menurut Muhammad Iqbal adalah dengan jalan membangkitkan
kesadaran yang sungguh pada anak didiknya berkenaan dengan aneka ragam relasi
dengan lingkungannya dan dengan jalan demikian merangsang pembentukan
sasaran-sasaran baru secara kreatif.
Pemikiran
pembaharuan Muhammad Iqbal secara garis besar terdiri dari 3 bidang:
·
Keagamaan,
Muhammad Iqbal memandang bahwa kemunduran umat Islam di sebabkan oleh kebekuan
umat Islam dalam pemikiran dan di tutupnya pintu ijtihad. Oleh karenanya ijtihad
di anggap sebagai prinsip yang dipakai dalam soal gerak dan perubahan dalam
hidup sosial manusia sehingga ijtihad mempunyai kedudukan penting dalam
pembaharuan Islam.
·
Pendidikan,
Muhammad Iqbal tidak menjadikan barat sebagai model pembaharuannya karena
menolak kapitalisme dan imperialisme yang dipengaruhi oleh materialisme dan
telah mulai meninggalkan agama. Yang harus diambil umat Islam dari barat
hanyalah ilmu ilmu pengetahuannya.
·
Politik,
Muhammad Iqbal memandang bahwa India pada hakikatnya tersusun dari dua bangsa
Islam dan Hindu. Umat Islam India harus menuju pada pembentukan negara
tersendiri, terpisah dari negara Hindu di India sehingga beliau di pandang
sebagai bapak Pakistan.
4.
Peserta didik
Peserta didik adalah anak yang sedang tumbuh dan berkembang, baik
fisik maupun psikis untuk mencapai tujuan pendidikannya melalui proses
pendidikann. Mereka memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten
menuju kearah titik optimal kemampuan fitrahnya. Pemikiran Muhammad Iqbal
tentang pendidikan khususnya pada peranan peserta didik adalah berpangkal pada
kebebasan manusia. Manusia merupakan ego yang memiliki kebebasan untuk
menentukan pilihan sendiri dengan segala konsekuensinya. Dengan kebebasannya
itu, peserta didik memungkinkan untuk diarahkan agar memiliki kreativitas
berfikir tinggi sehingga dapat memunculkan inovasi-inovasi baru yang dapat
dipergunakan untuk menjawab berbagai tantangan dimasa sekarang dan akan datang
yangmerupakan dampak negatif dari globalisasi dan industrialisasi. Muhammad
Iqbal sepenuhnya meyakini besarnya nilai kebudayaan suatu masyarakat terhadap
pendidikan serta terhadap hak pengembangan idividu. Muhammad Iqbal
mengharap agar sekolah dapat membina dan mengembangkan pribadipribadi yang
bebas, berani dan kreatif.[8]
D.
Pemikiran Pendidikan Menurut Fazlur Rahman
Pendidikan Islam menurut Fazlur Rahman bukan sekedar perlengkapan
dan peralatan fisik atau kuasi fisik pengajaran seperi buku-buku yang di
ajarkan ataupun struktur eksternal pendidikan, melainkan sebagai
intelektualisme Islam karena baginya hal inilah yang di maksud dengan esensi
pendidikan tinggi Islam. Hal ini merupakan pertumbuhan suatu pemikiran Islam
yang asli dan memadai, dan yang harus memberikan kriteria untuk menilai
keberhasilan atau kegagalan sebuah pendidikan Islam.
Pendidikan Islam dapat mencakup dua pengertian besar. Pertama,
pendidikan Islam dalam pengertian praktis, yaitu pendidikan yang dilaksanakan
di dunia Islam seperti yang dilaksanakan di Pakistan, Mesir, Sudan, Saudi,
Iran, Turki, Maroko, dan sebagainya, mulai dari pendidikan dasar sampai
perguruan tinggi. Untuk konteks Indonesia, meliputi pendidikan di pesantren, di
madrasah, (mulai dari ibtidaiyah sampai aliyah), dan di perguruan tinggi Islam,
bahkan bisa juga pendidikan agama Islam di sekolah (sejak dari dasar sampai
lanjutan atas) dan pendidikan agama Islam di perguruan tinggi umum. Kedua,
pendidikan tinggi Islam yang di sebut dengan intlektualisme Islam. Lebih
dari itu, pendidikan Islam menurut Fazlur Rahman dapat juga difahami sebagai
proses untuk menghasilkan mausia (Ilmuwan) integratif, dinamis, inovatif,
progresif, adil, jujur, dan sebagainya. Ilmuwan yang demikian itu diharapkan
dapat memberikan alternatif solusi atas problem-problem yang dihadapi oleh umat
manusia.
Pendidikan
Islam menurut Fazlur Rahman dapat dipahami sebagai proses untuk
menghasilkan manusia (ilmuwan) integrative, yang padanya terkumpul sifat-sifat
seperti kritis, kreatif, dinamis, inovatif, progresif, adil, jujur, dan
sebagainya.
1.
Kurikulum dan Materi Pendidikan Menurut Fazlur Rahman
Kemerosotan gradual standar-standar akademis dalam sejarah
pendidikan Islam disebabkan oleh sedikitnya literatur yang ada di perpustakaan
dan buku-buku yang tercantum dalam kurikulum. Selain itu, waktu yang ditempuh
dalam proses akademis terlalu singkat bagi para siswa/mahasiswa untuk menguasai
materi pelajaran yang “kenyal” dan terlalu banyak sehingga seringkali segi-segi
tinggi ilmu keagamaan yang diajarkan sulit dipahami pada usia yang relatif muda
dan belum matang.
Hal tersebut membawa konsekuensi pada proses belajar yang lebih
banyak bersifat studi tekstual buku-buku daripada memahaminya, sehingga
menjadikan proses belajar ialah untuk menghafal, bukan untuk mendapatkan
kepahaman. Untuk itu, pembenahan kurikulum dan sarana pendidikan untuk meningkatkan
pemahaman intelektualisme dan riset merupakan sesuatu yang urgen. Penambahan
kepustakaan dan perpustakaan serta perubahan kurikulum yang mengarah pada
kurikulum dialogis adalah hal yang harus dilakukan.
Rahman, melihat dengan penyempitan lapangan ilmu pengetahuan umum
melalui tiadanya pemikiran umum dan sain-sain kealaman, maka kurikulum dengan
sendirinya menjadi terbatas pada ilmu-ilmu keagamaan murni dengan gramatika dan
kesusasteraan sebagai alat-alatnya yang memang diperlukan. Mata pelajaran keagamaan
murni yang disebut Rahman adalah Hadits atau Tradisi, Fiqh atau Hukum (termasuk
'Ushul al-Fiqh atau Prinsip-prinsip Hukum), Kalam atau theologi, dan Tafsir
atau eksegesis al-Qur'an. Dibanyak madrasah sayap kanan Ahl al-Hadits, bahkan
theologi dicurigai, maka dengan sendirinya hanya tiga matapelajaran.
Menurut Rahman, kemerosotan gradual standar-standar akademik selama
berabad-abad terletak pada fakta bahwa, sangat sedikit buku-buku yang tercantum
dalam kurikulum, waktu yang diperlukan untuk belajar sangat singkat untuk bisa
menguasai bahan-bahan yang 'kenyal' dan seringkali sulit dipahami pelajaran
ilmu keagamaan yang tinggi pada usia yang relatif muda dan belum matang.
Akhirnya kondisi belajar lebih banyak bersifat stusi tekstual buku-buku
daripada memahami pelajaran yang bersangkutan. Selain itu juga pelajatan lebih
banyak bersifat hapalan dari pada pemahaman yang sebenarnya.
Kurikulum
dilaksanakan atas metode urutan mata pelajaran. Bahas Arab dan tatabahasa Arab,
kesusastraan, ilmu hitung, filsafat, hukum, yurisprudensi, theologi tafsir
al-Qur'an, dan Hadits. Si murid melewati kelas demi kelas dengan menyelesaikan
satu mata pelajaran dan memulai dengan mata pelajaran yang lain yang lebih
tinggi. Dengan demikian sistem ini tidak memberi banyak waktu untuk setiap mata
pelajaran. Tugas guru hanya mengajarkan komentar-komentar orang lain, di samping
teks aslinya, dan guru tanpa menyertai komentarnya sendiri dalam pelajaran
tersebut. Rahman juga mengatakan bahwa
persaingan pendapat tentang mata pelajaran mana yang lebih tinggi dari mata
pelajaran yang lain. Persaingan antara ilmu hukum dan theologi, dan banyak
orang menganggap Hadits yang paling tinggi atau besar di antara semua mata
pelajaran, karena hadits menjadi sumber bahan. Bahkan ada beberapa sekolah di
mana hampir-hampir satu-satunya mata pelajaran yang diajarkan adalah Hadits,
sangat ironis sekali. Rahman, membenarkan tesa sementara orang yang berbicara
tentang kekakuan disiplin-disiplin keagamaan dan orientasi umum pendidikan
madrasah terhadap kepentingan-kepentingan keagamaan, namun lapangan pendidikan
pada waktu itu, secara keseluruhannya adalah jauh dari kaku. Rahman, mengatakan
seorang pemikir abad kedelapanbelas, Syah Waliyullah (w.1174 H/1761 M) telah
meninggalkan warisan kurikulumnya sendiri dalam sketsa otobiografinya?
Kurikulum tersebut meliputi matematika, astronomi dan kedokteran. Karena itu,
sistem madrasah tidak mewakili keseluruhan pendidikan Islam. Karena Syah
Waliyullah tidak pernah belajar di madrasah, tetapi hanya belajar privat di
rumah dengan ayahnya.
Materi pendidikan menurut Fazlur Rahman meliputi mebaca dan
menulis, berhitung, Al-Qur’an, al-hadits, komentar dan superkomentar, fiqih,
Illahiyah, adab, thobi’iyah, dan astronomi. Rahman, melihat dengan
penyempitan lapangan ilmu pengetahuan umum melalui tiadanya pemikiran umum dan
sain-sain kealaman, maka kurikulum dengan sendirinya menjadi terbatas pada
ilmu-ilmu keagamaan murni dengan gramatika dan kesusasteraan sebagai
alat-alatnya yang memang diperlukan. Mata pelajaran keagamaan murni yang
disebut Rahman adalah Hadits atau Tradisi, Fiqh atau Hukum (termasuk ‘Ushul
al-Fiqh atau Prinsip-prinsip Hukum), Kalam atau theologi, dan Tafsir atau
eksegesis al-Qur’an. Dibanyak madrasah sayap kanan Ahl al-Hadits, bahkan
theologi dicurigai, maka dengan sendirinya hanya tiga matapelajaran.[9]
2.
Metode Pendidikan Fazlur Rahman
Metode
pembelajaran abad pertengahan:
Membaca
dan mengulang-ulang sampai hafal. Metode demikian ini menurut Fazlur Rahman
dikenal dengan metode belajar secara mekanis, pada saat itu sekolah tidak
melaksanakan ujian akhir tahun tetapi peserta didik bisa naik ke tingkat yang
lebih tinggi dengan rekomendasi guru-gurunya. Dalam berbagai bentuk menurut
Fazlur Rahman pendidikan Islam ketika zaman pertengahan menerapkan metode membaca
dan menulis, tetapi yang paling lazim adalah menghafal Al-Qur;an dan Al-hadits,
namun ada juga kelompok kecil yang berusaha mengembangkan kemampuan
intelektual. Secara mendasar pembaharuan pendidikan Islam menurut Fazlur
Rahman dapat dilakukan dengan menerima pendidikan, kemudian berusaha
memasukinya dengan konsep-konsep Islam. Menurut Fazlur Rahman, pembaharuan
dilakukan dengan cara:
·
Membangkitkan
ideologi umat Islam tentang pentingnya belajar dan mengembangkan ilmu
pengetahuan.
·
Berusaha
mengikis dualisme system pendidikan tradisional (agama), dan pada sisi lain ada
pendidikan modern (sekuler). Kedua sistem ini sama-sama tidak beres. Karena itu
perlu ada upaya mengintegrasikan keduanya.
·
Menyadari
betapa pentingnya bahasa dalam pendidikan dan sebgai alat untuk mengeluarkan
pendapat-pendapat yang orisinil. Menurut Rahman umat Islam adalah masyarakat
tanpa bahasa karena lemah di bidang bahasa.
·
Pembaharuan
di bidang metode pendidikan Islam yaitu dari metode mengulang-ulang dan
menghafal pelajaran ke metode memahami dan menganalisis.[10]
[1] Azyumardi
Azra, Esei-esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam (Jakarta: Logos Wacana
Ilmu, 1998), 3.
[2] Umar
Shihab, Kontekstualitas Al-Qur’an: Kajian Tematik Atas Ayat-ayat Hukum Dalam Al-Qur’an
(Jakarta: Penamadani, 2008), 152.
[7] A. Khudari
Soleh, Wacana Baru Filsafat Islam, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2012),
hlm. 300-302.
[8]
Ibid,
[9]
Anas
Salahudin, Filsafat Pendidikan (Bandung : CV Pustaka Setia, 2011),
hlm. 179.