Kesenian Islam Nusantara sebenarnya sangat minim bila dibandingkan
dengan kesenian Islam di negara lain, sebut saja kerajaan mughal di India yang
sampai sekarang memiliki simbol-simbol kebesaran arsitektur Islam seperti Taj
Mahal. Umat Islam nusatara dalam hal seni islam memang hanya menjadi pengikut,
tidak pernah jadi pemimpin.keseniannya sangat sederhana dan miskin. Kekuatan
himmah seperti yang mendorong muslim dinegara lain untuk menciptakan pekerjaan
besar, tidak muncul di Indonesia. Islam datang ke nusantara membawa tamaddun
(kemajuan) dan kecerdasan.
Ada beberapa sebab mengapa hal tersebut terjadi pertama Islam yang
datang ke Indonesia secara besar-besaran kira-kira abad ke 13 M, adalah akibat
arus balik dampak kehancuran baghdad. Dengan demikian umat Islam yang datang
pada hakikatnya adalah para pedagang atau elit bangsawan atau ulama-ulama
penyebar agama Islam yang ingin mencari keselamatan dari kehancuran wilayah
timur tengah karena adanya perang mongol pemimpin hulagu.
Kedua, di Indonesia terutama Jawa, ketika Islam datang sudah
memiliki peradaban asli yang dipengaruhi Hindu-Budha yang sudah mengakat kuat
terutama di pusat pemerintahan maka seni islam harus menyesuaikan diri.
Ketiga umat Islam yang datang
ke Indonesia mayoritas adalah pedagang orang sipil juga bukan pemerintah) yang
tentu orientasinya adalah datang untuk sementara dan untuk mencari keuntungan
untuk dibawa ke negerinya.
Keempat ketika sudah ada
umat Islam pribumi, kebanyakan keturunan pedagang atau sufi pengembara yang
kemudian menjadi raja Islam di nusantara dan mulai membangun kebudayaan Islam,
datang bangsa barat yang sejak awal kedatangannya sudah bersikap memusuhi umat
Islam, (sisa-sisa dendam perang salib, sehingga raja-raja pribumi sempat
membangun.[1]
Kelima, islam yang datang ke indonesia coraknya adalah islam
tasawuf yang lebih mementingkan oleh rohani daripada masalah duniawi. Keenam,
Nusantara adalah negeri yang merupakan jalur perdagangan internasional sehingga
penduduknya lebih mementingkan masalah perdagangan daripada kesenian. Ketujuh,
islam datang ke Indonesia dengan jalan damai. Maka terjadi asimilasi asal tidak
melanggar aturan-aturan agama. Oleh sebab itu, tidak heran jika aspek seni budaya islam nusantara tidak
hebat seperti di negara islam yang lain.
Adapun kesenian-kesenian islam yang ada di indonesia adalah sebagai
berikut;
1.
Batu Nisan
Kebudayaan Islam dalam bidang seni,
mula-mula masuk ke Indonesia dalam bentuk Nisan. Di pasai masih dijumpai batu
nisan milik sultan malik al- shaleh yang wafat tahun 1292. Batunya terdiri dari
pualamm putih diukir denga tulisan arab yang sangat indah berisikan ayat
al-qur’an dan keterangan tentang orang yang dimakamkan serta hari tahun
wafatnya. Makam-makam yang serupa dijumpai pula di Jawa seperti makam maulana
malik ibrahim di Gresik. Bentuk makam dari abad permulaan masuknya agama islam
menjadi contoh model bagi makam islam kemudian. Hal ini disebabkan sebelum
islam tidak ada makam. Orang hindu dan budha jenazahnya dibakar dan abunya
dibuang ke laut, kalau dia seorang kaya maka abunya disimpan didalam guci atau
kalau dia raja disimpan didalam candi.
Nisan itu umumnya didatangkan dari
gujarat sebagai barang pesanan.bentuknya lunas (bentuk badan kapal terbalik)
yang mengesankan pengaruh persia. Bentu-bentuk nisan kemudian hari tidak selalu
demikian. Pengaruh kebudayaan setempat sering mempengaruhi, sehingga ada bentuk
teratai,keris, atau bentuk gunungan seperti gunungan pewayangan . Namun,
kebudayaan nisan ini tidak berkembang lebih lanjut. Yang termashur adalah makam
Malik Al-Shaleh diperlak dan makam Maulana Malik Ibrahim, wali pertama Gresik.
2.
Arsitektur (Seni Bangunan)
Seni bangunan yang berjiwa islam
nusantara amat miskin. Hampir tidak ada bangunan Islam yang menunjukan
keagungan islam setaraf dengan bangunan bersejarah di negara islam lain.
Disamping itu, Indonesia tidak memiliki satu corak tersendiri ottoman style,
indie style, syro egyptostyle, meskipun agama Islam sudah lebih lima abad di
Indonesia.
Dalam seni bangunan islam nusantara,
pada garis besarnya mempunyai dua corak, yaitu asli dan baru. Pada abad ke 16
agama islam sudah tersebar luas di indonesia, terutama di Jawa dan Sumatra.
Kegiatan keagamaan diadakan di masjid atau mushola. Model masjidnya berbeda
dengan bentuk masjid negara islam lainnya. Mungkin berdekatan masa, bentuk
masjid Indonesia pada mulanya banyak dipengaruhi oleh seni bangunan
Indonesia-Hindu.
Masjid tertua yang memperlihatkan
ragam seni bangun yaitu, misalnya Demak,Kudus, Cirebon, dan Ampel. Di Masjid
itulah menurut sejarah para wali mengajarkan agama Islam. Bentuk masjid itu
menjadi model bagi masjid-masjid yang lain. Ciri-ciri model seni bangunan agama
yang merupakan peniruan dan seni Hindu-Budha itu adalah sebagai berikut:
a.
Atap
tumpang, yaitu atap yang tersusun semakin keatas semakin kecil dan yang paling
atas biasanya semacam mahkota.
b.
Tidak
ada menara karena pemberitahuan waktu sholat dilakukan dengan memukul bedhug.
Dari masjid yang tertua hanya Masjid kudus dan banten yang ada menaranya.
c.
Masjid-masjid
tua bahkan masjid yang dibangun didekat istana raja yogya dan solo mempunyai
letak yang tetap. Didepan istana sealalu ada lapangan besar dengan pohon
beringin kembar, sedangkan masjid selalu terletak di tepi barat lapangan.
Disamping unsur zaman Hindu-Indonesia terdapat pula pengaruh
daerah, meskipun tidak mengubah bentuk keseluruhan hanya menambah keindahan
seperti masjid minang kabau yang mendapat pengaruh “Rumah Gadang” Masjid Kebun
Jeruk (1786) yang memperlihatkan pengaruh Belanda, dan masjid Sgung Palembang
(terutama menaranya dipengaruhi seni bangunan Tionghoa.
Setelah
Indonesia merdeka dan dapat berhubungan dengan negara lain, maka unsur lama
secara berangsur-angsur hilang.
3.
Seni Sastra
Bidang sastra Indonesia banyak
pengaruhnya dari persia antara lain buku-buku yang kemudian disadur kedalam
bahasa Indonesia Kalilah wa Dimnah, Bayam, Abu nawas dan kisah seribu satu
malam. Hampir cerita salinan itu dinamakan hikayat dan dimulai dinamakan
Allahdan sholawat nabi. Kebanayakan hikayat ini tidak diketahui penyalinannya.
Selain itu kesustraan islam nusantara adalah syair sufi yang dikarang oleh
Hamzah fansuri, syair perahu. Syair lama sama saja, tidak diketahuai siapa
pengarangya. Kaligrafi arab merupakan bagian dari seni khath. Dibandingkan
dengan negara islam lainnya, khat di Indonesia tidak begitu menonjol.
Pernah pada awal kedatangannya
digunakan untuk mengukir nama dan
menulis Al-Qur’an di makam-makam terkenal, seperti makam wali Maulana Malik
Ibrahim d Gresi dan makamraja pasai. Dimakam itu tertulis dengan huruf arab
yang indah, seperti nama,hari dan tahun wafat serta ayat-ayat Al-Qur’an. Namun
kelanjutan seni kaligrafi tidak berkembang karena penerapan kaligrafi arab
sebagai hiasan sangat terbatas. Bangunan masa awal Cirebon, Demak dan Kudus
menerapkan kaligrafi arab hanya sebagai pelengkap motif hias yang bersumber
pada tradisi seni hias Indonesia-Hindu. Walaupun demikian senihias di
kitab-kitab bacaan agak berkembang di Aceh dan kerajaan-kerajaan Islam lainnya
yang ulama-ulamanya banyak menulis kitab-kitab agama. Ini bersamaan dengan
berkembangnya seni sastra Islam berupa syair-syair dan penulisan kitab-kitab keagamaan.
4.
Seni Ukir
Dalam
agama Islam, ada hadits yang melarang melukiskan makhluk yang hidup, apalagi
manusia. Meskipun hal itu dipersia dan India tidak dihiraukan di Indonesia
ternyata larangan itu diikuti. Dengan kata lain masalah itu masalah khalifiyah.
Didalam Al-Qur’an sebenarnya tidak ada larangan, tetapi didalam hadits ada
didapati sesuatu yang menyinggungsoal ini. Hadis tersebut artinya sebagai
berikut.
Berkata Said ibn Hasan : ketika saya
bersama bersama dengan Ibnu Abbas, datang seorang laki-laki, ia berkata:
“ Hai Ibn Abbas, aku hidup dari kerajinan tanganku membuat arca seperti
ini .” Lalu Ibn Abbas menjawab,” tidak aku katakan kepadamu kecuali apa yang telah ku dengar dari rasulullah saw.
Beliau bersabda, “Siapa yang telah melukis sebuah gambar maka dia akan disiksa
tuhan sampai dia dapat memberi nyawa, tetapi selamanya dia tidak akan mungkin
memberinya nyawa.
Menurut Mahfum hadits itu, menggambar ( seni lukis ) dibolehkan dalam
agama Islam, dalam hal ini ulama sepakat. Akan tetapi mereka berbeda pendapat
mengenai bentuk dari objek dan motif yang dilukis. Pendapat pertama mengatakan,
hadits ini melarang orang membuat gambar atau pahatan yang objek atau motif
suatu makhluk yang bernyawa manusia atau binatang. Siapa yang membuat gambar
seperti itu maka diakhirat ia harus memberinya nyawa dan kalau tidak bisa maka
ia akan menerima siksa. Pendapat kedua mengatakan boleh saja membuat gambar
makhluk bernayawa dengan syarat bentuknya tidak boleh diraba. Pendapat ketiga
mengatkan boleh membuat gambar makhluk bernyawa asal saja dalam rupa yang tidak
mungkin makhluk itu hidup misalnya membuat arca orang hingga dada keatas
membuat relief dan sebagainya. Pendapat keempat mengatakan melihat keadaan,
suasana, tempat dan waktu memperhstikan hikmah dan larangan itu.laragan membuat
lukisan yang berbentuk manusia bernyawa pada permulaan lahirnya islam dipandang
dari sudut tauhid, memang penting karena pada waktu masih hidup di kota makkah masih
banyak bekas reruntuhan arca yang dulunya disenbah oleh nenek moyang bahasa
arab arca itu brupa tokoh-tokoh latta,Uzza dan Manat. Pada abad ke 20 ini untuk
membuat foto arca orang batau binatang untuk keperluan ilmu pengetahuan atau
sejarah, misalnya patung pahlawan.
Seketika Islam baru datang ke Indonesia terutama ke Jawa ada
kehati-hatian penyiar agama. Banyak candi-candibesar termasuk candi borobudur
yang semula ditimbun tanah( baru pada zaman Belanda ditemukan dan digalih
kembali) supaya tidak mengganggu para mualaf. Membuat seni patung ukir di
larang. Kalaupun timbul kembali kesenian itu harus disamarkan, sehingga seni
ukir dan seni patung menjadi terbatas kepada seni ukir hias saja.
Menghias masjid pun ada larangan cukup tulisan-tulisan yang mengingatkan
manusia kepada Allah swt dan nabi serta firman-firmannya. Hal ini di Indonesia
di Patuhi. Oleh sebab itu seni hias seakan-akan tumpah dimakam-makam, sedangkan
masjid hanya mimbar saja diperindah dengan ukiran-ukiran .
[1] M.Isom
Yusqi, Mengenal konsep Islam Nusantara// pustaka STAINU Jakarta Jl. Taman Amir
Hamzah , No 5 Jakarta Pusat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar