Rabu, 30 Mei 2018

SENI BUDAYA ISLAM NUSANTARA


Kesenian Islam Nusantara sebenarnya sangat minim bila dibandingkan dengan kesenian Islam di negara lain, sebut saja kerajaan mughal di India yang sampai sekarang memiliki simbol-simbol kebesaran arsitektur Islam seperti Taj Mahal. Umat Islam nusatara dalam hal seni islam memang hanya menjadi pengikut, tidak pernah jadi pemimpin.keseniannya sangat sederhana dan miskin. Kekuatan himmah seperti yang mendorong muslim dinegara lain untuk menciptakan pekerjaan besar, tidak muncul di Indonesia. Islam datang ke nusantara membawa tamaddun (kemajuan) dan kecerdasan.
Ada beberapa sebab mengapa hal tersebut terjadi pertama Islam yang datang ke Indonesia secara besar-besaran kira-kira abad ke 13 M, adalah akibat arus balik dampak kehancuran baghdad. Dengan demikian umat Islam yang datang pada hakikatnya adalah para pedagang atau elit bangsawan atau ulama-ulama penyebar agama Islam yang ingin mencari keselamatan dari kehancuran wilayah timur tengah karena adanya perang mongol pemimpin hulagu.
Kedua, di Indonesia terutama Jawa, ketika Islam datang sudah memiliki peradaban asli yang dipengaruhi Hindu-Budha yang sudah mengakat kuat terutama di pusat pemerintahan maka seni islam harus menyesuaikan diri.
 Ketiga umat Islam yang datang ke Indonesia mayoritas adalah pedagang orang sipil juga bukan pemerintah) yang tentu orientasinya adalah datang untuk sementara dan untuk mencari keuntungan untuk dibawa ke negerinya.
 Keempat ketika sudah ada umat Islam pribumi, kebanyakan keturunan pedagang atau sufi pengembara yang kemudian menjadi raja Islam di nusantara dan mulai membangun kebudayaan Islam, datang bangsa barat yang sejak awal kedatangannya sudah bersikap memusuhi umat Islam, (sisa-sisa dendam perang salib, sehingga raja-raja pribumi sempat membangun.[1]
Kelima, islam yang datang ke indonesia coraknya adalah islam tasawuf yang lebih mementingkan oleh rohani daripada masalah duniawi. Keenam, Nusantara adalah negeri yang merupakan jalur perdagangan internasional sehingga penduduknya lebih mementingkan masalah perdagangan daripada kesenian. Ketujuh, islam datang ke Indonesia dengan jalan damai. Maka terjadi asimilasi asal tidak melanggar aturan-aturan agama. Oleh sebab itu, tidak heran  jika aspek seni budaya islam nusantara tidak hebat seperti di negara islam yang lain.
Adapun kesenian-kesenian islam yang ada di indonesia adalah sebagai berikut;
1.      Batu Nisan
Kebudayaan Islam dalam bidang seni, mula-mula masuk ke Indonesia dalam bentuk Nisan. Di pasai masih dijumpai batu nisan milik sultan malik al- shaleh yang wafat tahun 1292. Batunya terdiri dari pualamm putih diukir denga tulisan arab yang sangat indah berisikan ayat al-qur’an dan keterangan tentang orang yang dimakamkan serta hari tahun wafatnya. Makam-makam yang serupa dijumpai pula di Jawa seperti makam maulana malik ibrahim di Gresik. Bentuk makam dari abad permulaan masuknya agama islam menjadi contoh model bagi makam islam kemudian. Hal ini disebabkan sebelum islam tidak ada makam. Orang hindu dan budha jenazahnya dibakar dan abunya dibuang ke laut, kalau dia seorang kaya maka abunya disimpan didalam guci atau kalau dia raja disimpan didalam candi.

Nisan itu umumnya didatangkan dari gujarat sebagai barang pesanan.bentuknya lunas (bentuk badan kapal terbalik) yang mengesankan pengaruh persia. Bentu-bentuk nisan kemudian hari tidak selalu demikian. Pengaruh kebudayaan setempat sering mempengaruhi, sehingga ada bentuk teratai,keris, atau bentuk gunungan seperti gunungan pewayangan . Namun, kebudayaan nisan ini tidak berkembang lebih lanjut. Yang termashur adalah makam Malik Al-Shaleh diperlak dan makam Maulana Malik Ibrahim, wali pertama Gresik.
2.      Arsitektur (Seni Bangunan)
Seni bangunan yang berjiwa islam nusantara amat miskin. Hampir tidak ada bangunan Islam yang menunjukan keagungan islam setaraf dengan bangunan bersejarah di negara islam lain. Disamping itu, Indonesia tidak memiliki satu corak tersendiri ottoman style, indie style, syro egyptostyle, meskipun agama Islam sudah lebih lima abad di Indonesia.

Dalam seni bangunan islam nusantara, pada garis besarnya mempunyai dua corak, yaitu asli dan baru. Pada abad ke 16 agama islam sudah tersebar luas di indonesia, terutama di Jawa dan Sumatra. Kegiatan keagamaan diadakan di masjid atau mushola. Model masjidnya berbeda dengan bentuk masjid negara islam lainnya. Mungkin berdekatan masa, bentuk masjid Indonesia pada mulanya banyak dipengaruhi oleh seni bangunan Indonesia-Hindu.
Masjid tertua yang memperlihatkan ragam seni bangun yaitu, misalnya Demak,Kudus, Cirebon, dan Ampel. Di Masjid itulah menurut sejarah para wali mengajarkan agama Islam. Bentuk masjid itu menjadi model bagi masjid-masjid yang lain. Ciri-ciri model seni bangunan agama yang merupakan peniruan dan seni Hindu-Budha itu adalah sebagai berikut:
a.       Atap tumpang, yaitu atap yang tersusun semakin keatas semakin kecil dan yang paling atas biasanya semacam mahkota.
b.      Tidak ada menara karena pemberitahuan waktu sholat dilakukan dengan memukul bedhug. Dari masjid yang tertua hanya Masjid kudus dan banten yang ada menaranya.
c.       Masjid-masjid tua bahkan masjid yang dibangun didekat istana raja yogya dan solo mempunyai letak yang tetap. Didepan istana sealalu ada lapangan besar dengan pohon beringin kembar, sedangkan masjid selalu terletak di tepi barat lapangan.
Disamping unsur zaman Hindu-Indonesia terdapat pula pengaruh daerah, meskipun tidak mengubah bentuk keseluruhan hanya menambah keindahan seperti masjid minang kabau yang mendapat pengaruh “Rumah Gadang” Masjid Kebun Jeruk (1786) yang memperlihatkan pengaruh Belanda, dan masjid Sgung Palembang (terutama menaranya dipengaruhi seni bangunan Tionghoa.
Setelah Indonesia merdeka dan dapat berhubungan dengan negara lain, maka unsur lama secara berangsur-angsur hilang.







3.      Seni Sastra
Bidang sastra Indonesia banyak pengaruhnya dari persia antara lain buku-buku yang kemudian disadur kedalam bahasa Indonesia Kalilah wa Dimnah, Bayam, Abu nawas dan kisah seribu satu malam. Hampir cerita salinan itu dinamakan hikayat dan dimulai dinamakan Allahdan sholawat nabi. Kebanayakan hikayat ini tidak diketahui penyalinannya. Selain itu kesustraan islam nusantara adalah syair sufi yang dikarang oleh Hamzah fansuri, syair perahu. Syair lama sama saja, tidak diketahuai siapa pengarangya. Kaligrafi arab merupakan bagian dari seni khath. Dibandingkan dengan negara islam lainnya, khat di Indonesia tidak begitu menonjol.

Pernah pada awal kedatangannya digunakan untuk mengukir  nama dan menulis Al-Qur’an di makam-makam terkenal, seperti makam wali Maulana Malik Ibrahim d Gresi dan makamraja pasai. Dimakam itu tertulis dengan huruf arab yang indah, seperti nama,hari dan tahun wafat serta ayat-ayat Al-Qur’an. Namun kelanjutan seni kaligrafi tidak berkembang karena penerapan kaligrafi arab sebagai hiasan sangat terbatas. Bangunan masa awal Cirebon, Demak dan Kudus menerapkan kaligrafi arab hanya sebagai pelengkap motif hias yang bersumber pada tradisi seni hias Indonesia-Hindu. Walaupun demikian senihias di kitab-kitab bacaan agak berkembang di Aceh dan kerajaan-kerajaan Islam lainnya yang ulama-ulamanya banyak menulis kitab-kitab agama. Ini bersamaan dengan berkembangnya seni sastra Islam berupa syair-syair dan penulisan kitab-kitab keagamaan.

4.      Seni Ukir
Dalam agama Islam, ada hadits yang melarang melukiskan makhluk yang hidup, apalagi manusia. Meskipun hal itu dipersia dan India tidak dihiraukan di Indonesia ternyata larangan itu diikuti. Dengan kata lain masalah itu masalah khalifiyah. Didalam Al-Qur’an sebenarnya tidak ada larangan, tetapi didalam hadits ada didapati sesuatu yang menyinggungsoal ini. Hadis tersebut artinya sebagai berikut.

Berkata Said ibn Hasan : ketika saya bersama bersama dengan Ibnu Abbas, datang seorang laki-laki, ia berkata:

“ Hai Ibn Abbas, aku hidup dari kerajinan tanganku membuat arca seperti ini .” Lalu Ibn Abbas menjawab,” tidak aku katakan kepadamu kecuali apa yang telah ku dengar dari rasulullah saw. Beliau bersabda, “Siapa yang telah melukis sebuah gambar maka dia akan disiksa tuhan sampai dia dapat memberi nyawa, tetapi selamanya dia tidak akan mungkin memberinya nyawa.

Menurut Mahfum hadits itu, menggambar ( seni lukis ) dibolehkan dalam agama Islam, dalam hal ini ulama sepakat. Akan tetapi mereka berbeda pendapat mengenai bentuk dari objek dan motif yang dilukis. Pendapat pertama mengatakan, hadits ini melarang orang membuat gambar atau pahatan yang objek atau motif suatu makhluk yang bernyawa manusia atau binatang. Siapa yang membuat gambar seperti itu maka diakhirat ia harus memberinya nyawa dan kalau tidak bisa maka ia akan menerima siksa. Pendapat kedua mengatakan boleh saja membuat gambar makhluk bernayawa dengan syarat bentuknya tidak boleh diraba. Pendapat ketiga mengatkan boleh membuat gambar makhluk bernyawa asal saja dalam rupa yang tidak mungkin makhluk itu hidup misalnya membuat arca orang hingga dada keatas membuat relief dan sebagainya. Pendapat keempat mengatakan melihat keadaan, suasana, tempat dan waktu memperhstikan hikmah dan larangan itu.laragan membuat lukisan yang berbentuk manusia bernyawa pada permulaan lahirnya islam dipandang dari sudut tauhid, memang penting karena pada waktu masih hidup di kota makkah masih banyak bekas reruntuhan arca yang dulunya disenbah oleh nenek moyang bahasa arab arca itu brupa tokoh-tokoh latta,Uzza dan Manat. Pada abad ke 20 ini untuk membuat foto arca orang batau binatang untuk keperluan ilmu pengetahuan atau sejarah, misalnya patung pahlawan.


Seketika Islam baru datang ke Indonesia terutama ke Jawa ada kehati-hatian penyiar agama. Banyak candi-candibesar termasuk candi borobudur yang semula ditimbun tanah( baru pada zaman Belanda ditemukan dan digalih kembali) supaya tidak mengganggu para mualaf. Membuat seni patung ukir di larang. Kalaupun timbul kembali kesenian itu harus disamarkan, sehingga seni ukir dan seni patung menjadi terbatas kepada seni ukir hias saja.


Menghias masjid pun ada larangan cukup tulisan-tulisan yang mengingatkan manusia kepada Allah swt dan nabi serta firman-firmannya. Hal ini di Indonesia di Patuhi. Oleh sebab itu seni hias seakan-akan tumpah dimakam-makam, sedangkan masjid hanya mimbar saja diperindah dengan ukiran-ukiran .



[1] M.Isom Yusqi, Mengenal konsep Islam Nusantara// pustaka STAINU Jakarta Jl. Taman Amir Hamzah , No 5 Jakarta Pusat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern

  Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern Pendahuluan Ketika arus modernisasi menghujani dunia Islam, proses modern...