Jumat, 23 Juli 2021

Makalah Pengertian Evaluasi Pendidikan

 


BAB I
PENDAHULUAN

 

A.     Latar Belakang

Dalam pendidikan, tujuan merupakan sasaran ideal yang hendak dicapai. Dengan demikian kurikulum telah di rancang, di susun dan di proses dengan maksimal, hal ini pendidikan mempunyai tugas yang berat. Di antara tugas itu adalah mengembangkan potensi belajar peserta didik dengan cara mengevaluasi hasil pembelajaran mereka.

Evaluasi yang baik haruslah didasarkan atas tujuan pengajaran yang ditetapkan dan kemudian benar-benar diusahakan oleh guru untuk peserta didik. Betapapun baiknya, evaluasi apabila tidak didasarkan atas tujuan pengajaran yang diberikan, tidak akan tercapai sasarannya.

Kegiatan evaluasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari upaya apa pun yang terprogam, tak terkecuali bagi progam pembelajaran sebagai bagian dari progam pendidikan dalam arti mikro. Melaksanakan evaluasi progam pembelajaran merupakan tugas pokok seorang evaluator dalam manajemen sekolah, namun tidak berarti hanya evaluator saja yang harus memahami model-model evaluasi progam pembelajaran tetapi para pendidik dan calon pendidik serta praktisi lain yang berkaitan dalam bidang pendidikan juga perlu memahaminya.

 

B.    Rumusan Masalah

1.     Apa yang dimaksud evaluasi pendidikan?

2.     Apa saja jenis alat evaluasi pendidikan?

3.     Definisi evaluasi dan pengukuran?

C.    Tujuan Masalah

1.     Untuk mengetahui dan memahami prinsip-prinsip evaluasi pendidikan.

2.     Untuk mengetahui dan memahami alat-alat evaluasi pendidikan.

3.     Untuk mengetahui jenis dan pengukuran evaluasi pendidikan.

 

 

BAB II
PEMBAHASAN

 

1.     Pengertian Evaluasi

Kata evaluasi sering digunakan dalam pendidikan. Dalam konteks ini, evaluasi berarti penilaian atau pengukuran. Namun, banyak dari kita yang belum memahami secara tepat arti kata evaluasi, pengukuran, dan penilaian. Bahkan, banyak orang mengartikan ketiganya dengan satu pengertian yang sama. Hal ini karena orang hanya mengidentikkan kegiatan evaluasi sama dengan menilai. Karena biasanya, aktivitas mengukur sudah termasuk di dalamnya. Pengukuran, penilaian, dan evaluasi merupakan kegiatan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain,dan dalam pelaksanaannya harus dilakukan secara berurutan.

 

2.     Prinsip-Prinsip Evaluasi.

 

Prinsip tidak lain adalah pernyataan yang mengandung kebenaran hampir sebagian besar, jika tidak dikatakan benar untuk semua kasus.

 

Keberadaan prinsip bagi seorang guru mempunyai arti penting, karena dengan memahami prinsip evaluasi dapat menjadi petunjuk atau keyakinan bagi dirinya atau guru lain guna merealisasi evaluasi dengan cara benar.Dalam bidang pendidikan, beberapa prinsip-prinsip evaluasi dapat dilihat seperti berikut ini:

 

a. Evaluasi harus masih dalam kisi-kisi kerja tujuan yang telah ditentukan.

b. Evaluasi sebaiknya dilaksanakan secara komprehensif.

c. Evaluasi diselenggarakan dalam proses yang kooperatif antara guru dan peserta didik.

d. Evaluasi dilaksanakan dalam proses kontinu.

e. Evaluasi harus peduli dan mempertimbangkan nilai-nilai yang berlaku.

 

 

Selanjutnya, tentang istilah evaluasi. Secara harfiah, evaluasi berasal dari Bahasa Inggris, yaitu “evaluation”Sedangkan dalam Bahasa Arab yakni “at- taqdir”yang berarti penilaian atau penaksiran . Berikut ini beberapa pengertianevaluasi dari para ahli:

a.      Menurut Cross, evaluasi meruapakan proses yang menentukan kondisi, dimana suatu tujuan telah dapat dicapai. Definisi ini menerangkan secara langsung hubungan evaluasi dengan tujuan suatu kegiatan mengukur derajat, di mana suatu tujuan dapat dicapai. Sebenarnya, evaluasi juga merupakan proses memahami, memberi arti, mendapatkan, dan mengkomunikasikan suatu informasi bagi keperluan mengambil keputusan.[1]

 

b.     Stufflebeam, mendefinisikan evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk merumuskan suatu alternatif keputusan.[2]

 

c.      Menurut Bloom, evaluasi adalah pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam kenyataannya terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam pribadi siswa atau tidak.[3]

 

Sedangkan menurut Anas Sudijono, evaluasi dapat dikatakan terlaksana dengan baik apabila dalam pelaksanaannya senantiasa berpegang pada tiga prinsip dasar berikut ini:

 

a.      Prinsip Keseluruhan

Prinsip ini juga dikenal dengan istilah prinsip komprehensif. Dengan ini dimaksudkan di sini bahwa evaluasi dapat dikatakan terlaksana dengan baik apabila evaluasi tersebut dilaksanakan

secara bulat, utuh atau menyeluruh.

 

b.      Prinsip Kesinambungan

Prinsip ini dikenal dengan istilah prinsip kontinuitas. Dengan prinsip ini dimaksudkan bahwa evaluasi yang baik adalah evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan secara teratur dan sambung menyambung dari waktu ke waktu.

c.      Prinsip Obyektivitas

Prinsip ini mengandung makna bahwa evaluasi dapat dinyatakan sebagai evaluasi yang baik apabila dapat terlepas dari factor-faktor yang sifatnya subyektif.[4]

 

3.     Jenis Alat Evaluasi

Dalam pengertian umum, alat adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk mempermudah seseorang untuk melakssanakan tugas atau mencapai tujuan agar secara efektif dan efisien. kata “Alat” biasa disebut juga denga istilah “instrumen”. Dengan demikian, maka alat evaluasi juga dikenal dengan instrumen evaluasi.

Untuk memperjelas pengertian pengertian “alat” atau “instrumen”, terapkan pada dua cara mengupas kelapa, yang satu menggunakan pisau parang, yang satu lagi tidak. tentu saja hasilnya akan lebih baik dan pekerjaannya berakhir lebih cepat dibanding dengan cara yang pertama. dalam kegiatan evaluasi, fungsi alat juga untuk memperoleh hasil yang lebih baik sesuai dengan kenyataan yang dievaluasi. Contoh, jika yang dievaluasi seberapa siswa mampu mengingat nama kota atau sungai, hasil evaluasinya berupa berapa banyak siswa dapat menyebutkan nama kota dan sungai yang diingat. Dengan pengertian tersebut, maka alat evaluasi dikatakan baik apabila mampu mengevaluasi sesuatu yang dievaluasi dengan hasil seperti keadaan yang dievaluasi. Pada umumnya alat evaluasi dibedakan menjadi dua jenis, yakni tes dan non tes.

Kedua jenis ini dapat digunakan untuk menilai ketiga sasaran penilaian yang dikemukakan diatas. Agar para guru mengetahui dan trampil dalam mengadakan penilaian, dibawah ini dibahas secara umum mengenai kedua jenis alat penilaian. Dilihat dari faktor validitas dan reliabilitasnya.

 

 

1. Tess

Amir Daien Indra Kususma (1998: 27), menegaskan bahwa: Tes adalah suatu alat

atau prosedur yang sistematis dan objektif untuk memperoleh data-data atau keterangan-keterangan yang

diingikna tentang seseorang, dengan cara yang boleh dikatakan tepat dan cepat.

Tes juga dapat diartikan sebagai berikut:

 

a. Tes adalah suatu alat pengumpul data yang bersifat resmi karena penuh dengan batasan-batasan.

b. Tes pada umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar siswa, terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran. Namun tes juga dapat digunakan untuk menilai hasil belajar bidang afektif dan psikomotoris.

 Dilihat dari segi bentuknya, tes ini ada yang diberikan:

a. Tes secara lisan (menuntut jawaban secara lisan),

b. Tes tulisan (menuntut jawaban secara tulisan),

c. Tes tindakan (menuntut jawaban dalam bentuk perbuatan).

d. Soal-soal tes ada yang disusun dalam bentuk objektif, ada juga yang dalam bentuk esai atau uraian. Jenis tes tersebut biasanya digunakan untuk menilai isi pendidikan, misalnya aspek pengetahuan, kecakapan, ketrampilan, dan pemahaman pelajaran yang telah diberikan oleh guru.[5]

 

2.Non-Tes

Alat evaluasi jenis non-tes ini antara lain :

a. Observasi.

b. Wawancara.

c. Studi kasus.

d. Rating scale (skala penilaian).

e. Check list.

f. Inventory.

 

 

Syarat menyusun alat penilaian membuat pertanyaan tes (alat evaluasi) tidak mudah, sebab tes atau pertanyaan merupakan alat untuk melihat perubahan kemampuan dan tingkah laku siswa setelah ia menerima pengajaran dari guru atau pengajaran disekolah. Alat evaluasi yang salah, akan menggambarkan kemampuan dan tingkah laku yang salah pula. Oleh karena itu teknik penyusunan alat evaluasi penting

dipertimbangkan agar memperoleh hasil, yang objektif.Beberapa syarat dan petunjuk yang perlu diperhatikan dalam menyusun alat evaluasi, ialah :

a) Harus menetapkan dulu segi-segi apa yang dilakukan dinilai, sehingga betul-betul terbatas serta      dapat member petunjuk bagaimana dan dengan alat apa segi tersebut dapat kita nilai.

b) Herus menetapkan alat evaluasi yang betul-betul valid dan relaibel, artinya taraf

ketepatan dan ketatapan tes sesuai dengan aspek yang akan dinilai.

c) Penilaian harus objektif, artinya menilai prestasi siswa sebagaimana adanya.

d) Hasil penilaian tersebut harus betul-betul diolah dengan teliti sehingga dapat ditafsirkan berdasarkan criteria yang berlaku.

e) Alat evaluasi yang dibuat hendaknya mengandung unsure diagnosis, artinya dapat dijadikan bahan untuk mencari kelemahan siswa belajar dan guru mengajar.

 

Beberapa hal yang ha

penilaian, antara lain:

1) Pcara berlanjut, artinya setiap saat diadakan penilaian sehingga diperoleh suatu gambaran yang objektif mengenai kemajuan siswa.

2) Dalam proses mengajar dan belajar penilaian dapat dilaksankan.

3) Penilaian dilaksanakan bukan hanya didalam kelas tetapi juga diluar kelas, bukanhanya pada waktu proses belajar tapi juga diluar proses belajar, lebih-lebih aspek tingkah laku.

4) Untuk memperoleh gambaran objektif, penilaian jangan hanya tes tetapi perlu digunakan jenis non-tes.Dalam menggunakan alat tersbut, evaluator menggunakan cara atau teknik, dan oleh karena itu dikenal dengan tekhnik evaluasi.[6]

 

 

4.     Sumber data untuk pengukuran

 

Sumber data untuk pengukuran hasil pembelajaran yaitu:

a. Berasal dari catatan guru/pendidik yang selalu mengamati;

b. Perkembangan belajar siswa/peserta didik selama proses belajar mengajar;

c. Sikap dari peserta didik tersebut selama belajar di sekolah. Maka dari itu Guru diwajibkan untuk mengetahui perkembangan siswanya agar kegiatan belajar mengajar berjalan dengan lancar. Karena dengan mengetahui kemampuan setiap siswa, maka guru dapat menentukan cara pembeljaran yang efektif sesuai dengan tingkat kemampuan siswa/peserta didik.

 

a. Penilaian dan Motivasi Belajar Siswa

Motivasi tingkat individu, terdapat komponen penting dari belajar dan penting bagi para guru untuk memahami motivasi para murid yang terkait dengan penilaian, harga diri dan umpan balik.

Black, (1998), mengutip penelitian Sylva (1994), bahwa anak-anak pada dasarnya tergolong ke dalam dua kategori, yaitu: Anak yang cakap, dan Anak yang kurang cakap;

 

1) Karakteristik anak yang cakap, yaitu:

(a) Termotivasi oleh keinginan untuk belajar

(b) Menghadapi tugas yang sulit dengan cara yang fleksibel dan reflektif

(c) Percaya akan berhasil, percaya bahwa mereka dapat melakukannya jika mereka berusaha

(d) Percaya bahwa kecerdasan dapat ditingkatkan

(e) Jika melihat anak lain bekerja keras, mereka tertarik.

 

2) Karakteristik anak yang kurang cakap yaitu:

(b) Memiliki motivasi yang biasa-biasa saja

(c) Tampaknya menerima bahwa mereka akan gagal karena mereka tidak cukup cerdas

(d) Percaya bahwa jika sesuatu akan terlalu sulit, tak ada yang bias mereka lakukan

(e) Cenderung menghindari tantangan

(f) Tidak percaya mereka dapat meningkatkan kecerdasan mereka. Sedangkan pendapat yang menguatkan hasil pendapat Sylva tersebut.

Namun kontek yang berbeda adalah muncul dari Collin Rogers (1994), menyatakan, bahwa para pelajar dapat digolongkan dalam tiga jenis motivasi, yaitu:

1) Murid yang berorientasi “penguasaan” secara intrinsik tertarik untuk “tahu” akan termotivasi untuk belajar dan akan mengembangkan strategi-strategi yang membantu mereka untuk melakukan hal tersebut.

2) Murid yang berorientasi “kinerja” Murid yang berorientasi kinerja peduli dengan tugas dan lebih peduli dengan tampak baik-baik saja, jadi meningkatkan harga diri mereka. Hal ini dapat mengurangi motivasi mereka dalam keadaan tertentu dan karena itulah mereka tidak ingin terlihat gagal.Keputusan yang dipelajari.

3) Karakteristik siswa adalah aspek-aspek atau kualitas perseorangan siswa seperti bakat, motivasi dan hasil belajar yang telah dimiliki. Karakter siswa yang bermacam-macam menuntut guru untuk membuat strategi dalam pembelajaran dan pengelolaan pembelajaran. Bagaimanapun juga, pada tingkat tertentu, mungkin sekali suatu variable kondisi akan mempengaruhi setiap variable metode, disamping pengaruh utamanya pada strategi pengelolaan pembelajaran.[7]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

1.     Pengertian Evaluasi

Kata evaluasi sering digunakan dalam pendidikan. Dalam konteks ini, evaluasi berarti penilaian atau pengukuran.

2.     Prinsip-Prinsip Evaluasi.

Prinsip tidak lain adalah pernyataan yang mengandung kebenaran hampir sebagian besar, jika tidak dikatakan benar untuk semua kasus.

3.     Jenis alat evaluasi

-        Tes

-        Non-tes

4.     Sumber data pengukuran

-        Berasal dari guru/pendidik

-        Perkembangan belajar siswa/pendidik

-        Sikap dari peserta didik

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Sofan Amri, Pengembangan dan Model Pembelajaran dalam Kurikulum 2013, ( Jakarta: PT Prestasi Pustakarya,2013)

 

Sitiatava Rizema Putra, Desain Evaluasi Belajar Berbasis Kinerja, (Yogyakarta: Diva Press, 2013)

Farida Yusuf Tayibnapis, Evaluasi Program dan Instrumen Evaluasi untuk Program Pendidikan dan Penelitian(Cet. I; Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2008)

Elis ratna wulan dan A. Rusdiana, Evaluasi Pembelajaran



[1] Sofan Amri, Pengembangan dan Model Pembelajaran dalam Kurikulum 2013, ( Jakarta: PT Prestasi Pustakarya,2013), h. 207.

 

[2] Sitiatava Rizema Putra, Desain Evaluasi Belajar Berbasis Kinerja, (Yogyakarta: Diva Press, 2013), h. 73.

 

[3] Ibid.

 

[4] Farida Yusuf Tayibnapis, Evaluasi Program dan Instrumen Evaluasi untuk Program Pendidikan dan Penelitian(Cet. I; Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2008), h.3.

 

[5] Elis ratna wulan dan A. Rusdiana, Evaluasi Pembelajaran, hlm160.

[6] Ibid. Hlm. 170

[7] Ibid. Hlm. 170

Makalah Pengertian Populasi

 


BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Penelitian merupakan proses kreatif untuk mengungkapkan suatu gejala melalui cara tersendiri sehingga diperoleh suatu informasi. Pada dasarnya, informasi tersebut merupakan jawaban atas masalah-masalah yang dipertanyakan sebelumnya. Oleh karena itu, penelitian juga dapat dipandang sebagai usaha mencari tahu tentang berbagai masalah yang dapat merangsang pikiran atau kesadaran seseorang.

Sebagian dari kualitas hasil suatu penelitian bergantung pada teknik pengumpulan data yang digunakan. Pengumpulan data dalam penelitian ilmiah dimaksudkan untuk memperoleh bahan-bahan yang relevan, akurat, dan reliable. Untuk memperoleh data seperti itu, peneliti dapat menggunakan metode, teknik, prosedur, dan alat-alat yang dapat diandalkan. Ketidaktepatan dalam penggunaan intrumen penelitian tersebut dapat menyebabkan rendahnya kualitas penelitian.

Penelitian bertujuan menemukan jawaban atas pertanyaan melalui aplikasi prosedur ilmiah. Prosedur ini dikembangkan untuk meningkatkan taraf kemungkinan yang paling relevan. Sebab, penelitian ilmiah pada dasarnya merupakan usaha memperkecil interval dugaan peneliti melalui pengumpulan dan penganalisaan data atau informasi yang diperolehnya

Dalam penelitian, salah satu bagian dalam langkah-langkah penelitian adalah menentukan populasi dan sampel penelitian. Seorang peneliti dapat menganalisa data keseluruhan objek yang diteliti sebagai kumpulan atau komunitas tertentu. Seorang peneliti juga dapat mengidentifikasi sifat-sifat suatu kumpulan yang menjadi objek penelitian hanya dengan mengamati dan mempelajari sebagian dari kumpulan tersebut. Kemudian, peneliti akan mendapatkan metode atau langkah yang tepat untuk memperoleh keakuratan penelitian dan penganalisaan data terhadap objek. Untuk  itu kami akan mengkaji lebih dalam mengenai populasi dan sampel.

B.    Rumusan Masalah

1.    Apa pengertian populasi?

2.    Apa saja jenis-jenis populasi?

3.    Apa pengertian sampel?

4.    Bagaimana ciri-ciri sampel yang baik?

5.    Apa alasan menggunakan sampling?

6.    Apa keuntungan penggunaan sampel?

7.    Bagaimana cara mengambil sampel?

C.    Tujuan Penulisan

1.    Untuk mengetahui pengertian populasi

2.    Untuk mengetahui jenis-jenis populasi

3.    Untuk mengetahui pengertian sampel

4.    Untuk mengetahui ciri-ciri sampel yang baik

5.    Untuk mengetahui alasan penggunaan sampling

6.    Untuk mengetahui keuntungan penggunaan sampel

7.    Untuk mengetahui  bagaimana cara mengambil sampel

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Populasi

1.    Pengertian Populasi

Populasi berasal dari kata bahasa inggris population, yang berarti jumlah penduduk. Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2013: 117). 

Menurut Nazir (1983:327) mengatakan bahwa popuasi adalah berkenaan dengan data bukan barang atau bendanya. Pengertian lainnya, diungkapkan oleh Nawawi yang menyebutkan bahwa populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai tes, atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber[1]

data yang memiliki karaktersitik tertentu di dalam suatu penelitian. Sedangkan Ridwan (2002: 3) mengatakan bahwa populasi adalah keseluruhan dari karakteristik atau unit hasil pengukuran menjadi objek penelitian.

Menurut Margono (2010:118) populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan.

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya dalam Sugiyono (2006:117)

Menurut Muri (2007:182) secara umum dapat dikatakan beberapa karakteristik populasi adalah:

a.      Merupakan keseluruhan dari unit analisis sesuai dengan informasi yang akan diinginkan.

b.     Dapat berupa manusia/individu, hewan, tumbuh-tumbuhan, benda-benda atau objek maupun kejadian-kejadian yang terdapat dalam suatu area/ daerah tertentu yang telah ditetapkan.

c.      Merupakan batas-batas (boundary) yang mempunyai sifa-sifat tertentu yang memungkinkan peneliti menarik kesimpulan dari keadaan itu.

d.     Memberikan pedoman kepada apa atau siapa hasil penelitian itu dapat digeneralisasikan.

2.    Jenis-Jenis Populasi

Menurut Muri (2007:183) Populasi digolongkan menjadi dua jenis, yaitu:

a.    Populasi terbatas (definite) yaitu objek penelitiannya dapat dihitung, seperti luas sawah, jumlah ternak, jumlah murid, dan jumlah mahasiswa.

b.    Populasi tak terbatas (infinite) yaitu objek penelitian yang mempunyai jumlah yang tak terbatas, atau sulit dihitung jumlahnya; seperti pasir di pantai.

Disamping itu persoalan populasi bagi suatu penelitian harus dibedakan ke dalam sifat berikut ini:

a.    Populasi yang bersifat homogen, yakni populasi yang unsur-unsurnya memiliki sifat yang sama, sehingga tidak perlu dipersoalkan jumlahnya secara kuantitatif. Misalnya seorang dokter yang akan melihat golongan darah seseorang, maka ia cukup mengambil setetes darah saja.

b.    Populasi yang bersifat heterogen, yakni populasi uang unsur-unsurnya memiliki sifat atau keadaan yang bervariasi, sehingga perlu ditetapkan batas-batasnya, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

B.    Sampel

1.    Pengertian Sampel

Menurut Muri (2007:186) secara sederhana dapat dikatakan bahwa sampel adalah sebagian dari populasi yang terpilih dan mewakili populasi tersebut. Sedangkan menurut Suharsimi (2002:109), sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.

Beberapa pendapat ahli tentang pengertian sampel adalah sebagai berikut:

a.    Sax (1979: 181) mengemukakan bahwa sampel adalah suatu jumlah yang terbatas dari unsur-unsur yang terpilih dari suatu populasi, unsur-unsur tersebut hendaklah mewakili populasi.

b.    Warwick (1975:69) mengemukakan pula bahwa sampel adalah sebagian dari suatu hal yang luas, yang khusus dipilih untuk mewakili keseluruhan.

c.    Kerlinger (1973:118) menyatakan: Sampling is taking any portion of a population or universe as representative of that population or universe.

d.    Leedy (1980:111) mengemukakan bahwa sampel dipilih dengan hati-hati sehingga dengan melalui cara sedemikian peneliti akan dapat melihat karakteristik total populasi.

Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi betul-betul representatif (mewakili).[2]

2.    Ciri-Ciri Sampel yang Baik

Berangkat dari berbagi pendapat yang telah diutarakan di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri sampel yang baik adalah:

a.    Sampel dipilih dengan cara hati-hati; dengan menggunakan cara tertentu dan benar.

b.    Sampel harus mewakili populasi, sehingga gambaran yang diberikan mewakili keseluruhan karakteristik yang terdapat pada populasi.

c.    Besarnya ukuran sampel hendaknya mempertimbangkan tingkat kesalahan sampel yang dapat ditolerir dan tingkat kepercayaan yang dapat diterima secara statistik.

3.    Alasan Sampling

Adapun alasan-alasan penelitian dilakukan dengan mempergunakan sampel menurut Sudjana (2002:161) adalah :

a.    Ukuran populasi

Dalam hal populasi tak terbatas (tak terhingga) berupa parameter yang jumlahnya tidak diketahui dengan pasti, pada dasarnya bersifat konseptual. Karena itu  sama sekali tidak mungkin mengumpulkan data dari populasi seperti itu. Demikian juga dalam populasi terbatas (terhingga) yang jumlahnya sangat besar, tidak praktis untuk mengumpulkan data dari populasi 50 juta murid sekolah dasar yang tersebar diseluruh pelosok Indonesia misalnya.

 

b.    Masalah biaya

Besar-kecilnya biaya tergantung juga dari banyak sedikitnya objek yang diselidiki. Semakin besar jumlah objek, maka semakin besar biaya yang diperlukan, lebih–lebih bila objek itu tersebar diwilayah yang cukup luas. Oleh karena itu, sampling ialah satu cara untuk mengurangi biaya.

c.    Masalah waktu

Penelitian sampel selalu memerlukan waktu yang lebih sedikit daripada penelitian populasi. Sehubungan dengan hal itu, apabila waktu yang tersedia terbatas, dan kesimpulan diinginkan dengan segera, maka penelitian sampel, dalam hal ini, lebih cepat.

d.    Percobaan yang sifatnya merusak

Banyak penelitian yang tidak dapat dilakukan pada seluruh populasi karena dapat merusak atau merugikan. Misalnya, tidak mungkin mengeluarkan semua darah dari tubuh seseorang pasien yang akan dianalisis keadaan darahnya, juga tidak mungkin mencoba seluruh neon untuk diuji kekuatannya. Karena itu penelitian harus dilakukan hanya pada sampel.

e.    Masalah ketelitian

Adalah salah satu segi yang diperlukan agar kesimpulan cukup dapat  dipertanggung jawabkan. Ketelitian ,dalam hal ini, meliputi pengumpulan, pencatatan, dan analisis data. Penelitian terhadap populasi belum tentu ketelitian terselengar. Boleh jadi peneliti akan menjadi bosan dlam melaksanakan tugasnya. Untuk menghindarkan itu semua, penelitian terhadap sampel memungkinkan ketelitian dalam suatu penelitian.

f.    Masalah ekonomis

Pertanyaan yang harus selalu diajukan oleh seseorang penelitian; apakah kegunaan dari hasil penelitian sepadan dengan biaya ,waktu, dan tenaga yang telah dikeluarkan? Jika tidak, mengapa harus dilakukan penelitian? Dengan kata lain penelitian  sampel pada dasarnya akan lebih ekonomis daripada penelitian populasi

4.    Keuntungan Penggunaan Sampel

Ada beberapa keuntungan jika kita menggunakan sampel, yaitu

a)     Biaya menjadi berkurang

b)     Lebih cepat dalam pengumpulan dan pengolahan data

c)     Lebih akurat

d)     Lebih luas ruang cakupan penelitian

5.    Cara Pengambilan Sampel atau Teknik Sampling

Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel. Teknik sampling pada dasarnya dikelompokan menjadi dua yaitu Probability Sampling dan Non Probability sampling. Probability sampling meliputi, simple random, proportionate stratified random, disproportionate stratified random, dan area random. Non Probability sampling meliputi sampling sistematis, sampling kuota, sampling aksidental, purposive sampling, sampling jenuh dan snowball sampling (Sugiyono, 2012:81).

a.    Probability Sampling

Probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi dipilih untuk menjadi anggota sampel. Teknik ini meliputi:

1)    Simple Random Sampling

Dikatan simple (sederhana) karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada salam populasi itu. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen.

2)    Proportionate Stratified random sampling

Teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional.

3)    Disproportionate Stratified Random Sampling

Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi berstrata tetapi kurang proporsional.

4)    Cluster Sampling (Area Sampling)

Sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila objek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, missal penduduk suatu negara, propinsi atau kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikan sumber data, maka pengambilan sampelnya berdasarkan daerah populasi yang telah ditetapkan.

Tempat sampling daerah ini sering digunakan melalui dua tahap, yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah, tahap berikutnya menentukan orang-orang yang ada pada daerah itu secra sampling juga.

b.    Nonprobability Sampling

Nonprobability Sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberikan peluang atau kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik sampel ini meliputi:

1)    Sampling Sistematis

Sampling sistematis adalah teknik pengambilan sambil berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya anggota populasi yang terdiri dari 100 orang, dari semua anggota itu diberi nomot urut yaitu nomor 1 sampai dengan nomor 100. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor ganjil saja, genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya kelipatan dari bilangan lima.

2)    Sampling Kuota

Sampling kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan. Sebagai contoh, akan melakukan penelitian tentang pendapat masyarakat terhadap pelayanan masyarakat dalam urusan izin mendirikan bangunan. Jumlah sampel yang ditentukan 500 orang. Lalu pengumpulan data belum didasarkan pada 500 orang tersebut, maka penelitian dipandang belum selesai, karena belum memenuhi kuota yang ditentukan.

3)    Sampling Insidental

Sampling insidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan/incidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.

4)    Sampling Purposive

Sampling purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Misalnya akan melakukan penelitian tentang kualitas makanan, maka sampel sumber datanya adalah orang yang ahli makanan. Sampel ini lebih cocok digunakan pada penelitian kualitatif.

5)    Sampling Jenuh

Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila populasi yang relative kecil, kurang dari 30 orang, atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil. Istilah lain sampel jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel.

6)    Snowball Sampling

Snowball sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian membesar. Ibarat bola salju yang menggelinding yang lama-lama menjadi besar. Dalam penentuan sampel, pertama-tama dipilih satu atau dua orang tetapi dengan dua  orang ini belim merasa lengkap terhadap data yang diberikan maka peneliti mencari orang yang lebih tahu dan dapat melengkapi data yang diberikan oleh dua orang sebelumnya. Penelitian kualitatif banyak menggunakan purposive dan snowball.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan pada bab II, dapat ditarik kesimpulan bahwa:

1.    Populasi seluruh data yang menjadi perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan.

2.    Jenis-jenis populasi adalah populasi terbatas dan populasi tidak terbatas.

3.    Sampel adalah sebagian dari populasi yang terpilih dan mewakili populasi tersebut atau sebagai wakil dari populasi yang diteliti.

4.    Ciri-ciri sampel yang baik adalah sampel dipilih dengan cara hati-hati, harus mewakili populasi dan besarnya ukuran sampel dapat diterima secara statistik.

5.    Alasan penggunaan sampling adalah ukuran populasi, masalah biaya, masalah waktu, percobaan yang sifatnya merusak, masalah ketelitian dan masalah ekonomis.

6.    Keuntungan penggunaan sampel adalah biaya menjadi berkurang, lebih cepat dalam pengumpulan dan pengolahan data, lebih akurat dan lebih luas ruang cakupan penelitian.

7.    Cara mengambil sampel atau teknik sampling pada dasarnya dikelompokan menjadi dua yaitu Probability Sampling dan Non Probability sampling.

B.    SARAN

       Besar harapan kami pembaca dapat merasakan manfaat dari hasil kerja kami dan kritik pembaca yang bersifat membangun dapat menjadi pelajaran berharga untuk kami menjadi lebih baik lagi mambuat suatu makalah selanjutnya.

       Dan kami berharap dalam melakukan penelitian, mahasiswa diharuskan mengikuti aturan-aturan dan juga prosedur-prosedur, agar penelitian yang dilakukan diharapkan jawaban  jawaban yang akurat terhadap suatu permasalahan.


 

DAFTAR PUSTAKA

Sugiyono,metode penelitian,bandung,Alfabeta,2018



[1] Sugiyono,metode penelitian,bandung,Alfabeta,2018,hal.80,.

[2] Ibid., hal 81

Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern

  Makalah Neo-Sufisme: Konsep dan Prospeknya di Dunia Islam Modern Pendahuluan Ketika arus modernisasi menghujani dunia Islam, proses modern...